Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 209861 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ignatius Irwan
1989
S2494
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maritzka Tedja
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara need to belong dan materialisme pada mahasiswa konsumen luxury fashion brand atau produk fesyen mewah bermerek. Need to belong merupakan sebuah kebutuhan untuk membentuk dan mempertahankan sebuah hubungan interpersonal yang mendasar dan dimiliki oleh semua manusia (Baumeister & Leary, 1995). Materialisme merupakan sebuah keyakinan yang dianut seseorang tentang seberapa pentingnya kepemilikan di dalam kehidupan mereka (Richins & Dawson, 1992). Responden penelitian ini adalah mahasiswa konsumen luxury fashion brand di wilayah Jabodetabek yang berjumlah 207 orang. Need to belong diukur menggunakan alat ukur Need to belong Scale (Leary, Kelly, Cottrell, & Schreindorfer, 2007). Materialisme diukur dengan alat ukur MVS short form (Richins, 2004) yang merupakan versi modifikasi singkat dari alat ukur MVS (Material Value Scale) yang disusun oleh Richins dan Dawson (1992). Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara need to belong dan materialisme ( r(205) = .255, p < .01. ) Selain itu ditemukan pula bahwa need to belong memiliki korelasi positif yang signifikan dengan seluruh dimensi materialisme, yaitu pursuit of happiness, acquisition centrality, dan possession define success yang memiliki korelasi tertinggi. Hasil penelitian ini menunjukan pentingnya peranan orangtua terhadap pengeluaran anak, adanya intervensi kepada mereka yang membutuhkan dari kalangan psikolog dan pendidik, serta strategi marketing LFB yang tidak terfokus pada mahasiswa.

This research aims to find relationship between need to belong and materialism in college student luxury fashion brand consumer. Need to belong can be defined as a need to form and maintain at least a minimum quantity of interpersonal relationships, is innately prepared and hence nearly universal among human beings (Baumeister & Leary, 1995). Materialism is a value about the importance of possessions in one's life (Richins & Dawson, 1992). Participants of this research were undergraduate college students in Jabodetabek area, with amounts 207 people. Need to belong was measured by Need to Belong Scale (Leary, Kelly, Cottrell, & Schreindorfer, 2007). MVS Short Form made by Richins (2004) was used to measure materialism, as a short modified version of Material Value Scale (Richins & Dawson, 1992). The result indicates there are positive and significant correlation between need to belong and materialism ( r(205) = .255, p < .01. ) Beside that, the result of the research also found that need to belong have positive and significant relation with all of materialism dimensions, which are acquisition centrality, pursuit of happiness, and possession define success as the strongest correlation. The results shown that the importance of parents guidance of their chindren expenses, intervention for whom needed the most by psychologist or educators, and marketing strategy that doesn’t focused on college students."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S47477
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Indah Qomarijah
"Perselingkuhan melibatkan kedekatan emosional dan atau kegiatan seksual yang dilakukan oleh salah satu pasangan yang telah maupun belum menikah dengan orang lain yang bukan pasangan resmi. Menurut beberapa penelitian perselingkuhan dapat terjadi akibat hubungan yang intens di tempat kerja. Penelitian ini mempermasalahkan "Peranan Cinta dan Doa terhadap Sikap Mengenai Perselingkuhan". Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus, yang mengambil subyek wanita karir di suatu Bank. Cinta yang dimaksudkan di sini adalah "kondisi emosi yang mendekatkan individu pada individu yang lain karena didorong oleh suatu rangsangan seksual atau rasa romantis, sehingga keduanya bersepakat untuk tetap bersatu." Cinta mengandung tiga komponen utama, yaitu keintiman (intimacy), gairah (passion) dan komitmen (commitment). Sedangkan doa adalah "permohonan suci sang hamba kepada Sang Khaliq, agar dijauhkan-Nya dari segala penyebab yang memisahkan atau memalingkan cinta suami-istri pada orang lain. Doa juga memberi harapan seseorang untuk memelihara dan merawat keluarganya, agar tercapai keluarga yang damai, aman dan sejahtera di dunia dan akhirat.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa satu dari tiga kasus yang diteliti bersikap negatif terhadap perselingkuhan dalam arti tidak setuju, menjauhi perselingkuhan, sedangkan dua kasus yang lainnya menunjukkan sikap positif terhadap perselingkuhan, artinya setuju, mendekati atau menganggap biasa perselingkuhan. Hal ini berkaitan dengan makna doa. Pada kasus yang besikap negatif terhadap perselingkuhan beranggapan adanya dapat menjauhkan dirinya terhadap perselingkuhan, sebaliknya pada dua kasus lainnya tidak mengetahui dan meragukan terkabulkan doanya sehingga sikapnya menunjukkan positif terhadap perselingkuhan. Studi ini membuktikan bahwa cinta dengan segala komponennya secara bersama-sama merniliki peranan positif terhadap sikap mengenai perselingkuhan, dalam arti selama ketiga subyek mencintai pasangan (diukur dengan mematuhi semua komponen-komponennya) dan benar-benar berdoa dengan menjalankan semua prosedur yang ditetapkan oleh syariah maka sikapnya akan menjauhi perselingkuhan.
Hasil penelitian yang lain ditemukan bahwa pada subyek yang pada masa berpacaran telah berselingkuh, maka setelah menikahpun juga akan melakukan perilaku yang sama untuk berselingkuh. Hal itu membuktikan teori bahwa perilaku yang dianut seseorang pada masa berpacaran maka bisa dilakukan kembali Iagi hingga pada masa perkawinan.

An affair involves an emotional closeness and sexual activities conducted by one of a married couple with other person who is not a lawful couple. According to several researches an affair may happen due to an intensive relationship in the workplace. For this purpose, this research is highlighting "The Role of Love and Prayer with respect to Altitudes towards Affair." This research is using a qualitative approach with a case study which takes a subject of a career female in a Bank. The love specified herein is "an emotional condition which makes an individual closer to another individual due to being .stimulated by sexual desire or romantic feeling, so that both individuals agree to remain united." Love contains three (3) main components, namely intimacy, passion and commitment. While prayer is "a holy request of a servant of God to the Creator, so that He will keep those individuals away from all the causes which separate or divert the love of a married couple to other individuals. Prayer also gives hope to someone to look after and take care of its family in order to result in a peaceful, safe and prosperous family both in the world and in the beyond.
The research results show that one of three cases which was observed show negative attitude towards the affairs that's mean disagree, avoid the affairs, while the two other cases show positive attitude towards the affairs, that's mean agree, to be close or to recognize as an usual thing. This is correlated with the meaning of prayer. In the negative attitude of the case toward the affairs recognize that it is able to avoid from the affairs, but for the two other cases do not understand and hesitate for prayer response, and then their attitude show positive to the affairs. This study approved that love with all of it's component has positive role on hands towards the affairs attitude, in the meaning that the more the three of subject love the couple (measured by the obey able of the component) and pray concentrate and follow all the procedure that allowed by syari'ah the more of them avoid the affair.
Other results of the research find that during the period of engagement between boy and girl has ever made an affair. And then after getting married, also does the same thing of affair as ever before. This proves the theory that a behavior possessed by someone during the period of engagement between opposite sex may be performed again later in a marriage life.
"
2006
T18138
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shafira Hasna Lathifa
"Imitation of influencers merupakan salah satu motivasi konsumen dalam membeli produk yang direkomendasikan oleh influencer. Namun, belum banyak penelitian yang membahas imitation of influencers terutama memfokuskan pada salah satu influencer di sebuah platform. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh imitation of influencers Tasya Farasya sebagai beauty influencer terhadap purchase decision pengikutnya pada produk kosmetik merek Luxcrime melalui materialisme sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling pada pengikut akun Instagram Tasya Farasya. Melalui metode survei, sampel pada penelitian ini berjumlah 150 dengan ketentuan pengikut tersebut pernah membeli produk Luxcrime. Hipotesis di uji dengan menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM) dengan software SmartPLS 3.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imitation of influencer memiliki pengaruh signifikan terhadap materialisme dan purchase decision. Kemudian, materialisme berpengaruh signifikan terhadap purchase decision. Serta imitation of influencer berpengaruh secara tidak langsung terhadap purchase decision melalui materialisme.

Imitation of Influencers is currently one of the main motivation of customers when purchasing products recommended by Influencers. However, studies that discuss Imitation of Influencers especially focused on one of influencers at specific social media platform are limited. The purpose of this study was analyze the effect of Tasya Farasya’s imitation of influencer as a beauty influencer on the purchase decision of Luxcrime cosmetic products by her followers on Instagram through materialism as a mediating variable. Through the survey method, the sample in this study was 150 respondents who are Tasya Farasya's Instagram followers who had purchased Luxcrime's cosmetic products. The hypothesis was tested using the Structural Equation Modeling (SEM) method with SmartPLS 3.0 software. The results of the study showed that imitation of influencer has a significant influence on materialism and purchase decisions. Then, materialism has a significant effect on the purchase decision. As well as imitation of influencers indirectly influence the purchase decision through materialism."
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Faqih Fikri Fadholi
"Pada era teknologi, selain melalui pinjaman konvensional, individu juga dapat meminjam melalui pinjaman berbasis daring. Pinjaman berbasis daring membuat individu menjadi lebih banyak meminjam untuk memenuhi gaya hidup materialis. Penelitian terdahulu telah menemukan hubungan materialisme dan perilaku berutang. Perilaku finansial juga ditemukan berhubungan dengan materialisme serta perilaku berutang. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan materialisme dan perilaku berutang pada emerging adulthood pengguna pinjaman online serta ingin melihat peran perilaku finansial sebagai mediator pada hubungan tersebut. 110 pengguna pinjaman online yang berusia 18 – 29 tahun mengikuti penelitian ini. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materialisme tidak memiliki hubungan dengan perilaku berutang, akan tetapi perilaku finansial dapat menjadi mediator hubungan tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu menjelaskan peran perilaku finansial sebagai faktor protektif dalam membantu menurunkan materialisme dan perilaku berutang.

In the era of technology, apart from conventional loans, people can also borrow through online-based loans. Online-based loans encourage people to borrow more to fulfill materialistic lifestyles. Previous research has found a relationship between materialism and debt behavior. Financial behavior has also been found to be related to materialism and debt behavior. This study aims to determine the relationship between materialism and debt behavior in emerging adulthood users of online loans and to examine the role of financial behavior as a mediator in this relationship. 110 online loan users aged 18-29 participated in this study. The research was conducted by distributing online questionnaires. The results show that materialism does not have a direct relationship with debt behavior. however, financial behavior can act as a mediator in this relationship. The findings of this study are expected to help explain the role of financial behavior as a protective factor in reducing materialism and debt behavior"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Safira Khairunnisa
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran materialisme (nilai ekstrinsik) dan answered occupational calling (nilai intrinsik) sebagai prediktor dari kepuasan hidup. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode korelasional dan hierarchical multiple regression. Ketiga variabel diukur dengan alat ukur Aspiration Index domein financial success untuk mengukur materialisme, Answered Occupational Calling Scale untuk mengukur answered occupational calling, dan Satisfaction with Life Scale (SLWS) untuk mengukur kepuasan hidup secara keseluruhan. Partisipan pada penelitian berjumlah 113 karyawan dalam rentang usia 25-40 tahun dan sedang bekerja di perusahaan tempat bekerja selama minimal satu tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa materialism (β = 0,23, p = 0,02) dan answered occupational calling (β = 0,30, p = 0,00) memiliki hubungan positif dengan kepuasan hidup karyawan. Hasil juga mengindikasikan bahwa answered occupational calling (∆R2 = 0,09, F = 9,74, p < 0,01) merupakan prediktor yang lebih kuat dibandingkan materialisme (∆R2 = 0,05, F = 6,02, p < 0,05)."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ruly Sulis Handayani
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara materialisme dan selfregulation pada remaja. Materialisme didefinisikan sebagai keyakinan yang dianut seseorang tentang seberapa pentingnya kepemilikan barang di dalam hidupnya (Richins & Dawson, 1992). Self-regulation didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mengembangkan, mengimplementasikan, dan secara fleksibel memonitor perilaku yang sudah direncanakan untuk meraih tujuannya (Kanfer, 1970). Responden penelitian adalah 146 remaja di Jabodetabek. Materialisme diukur dengan menggunakan MVS Short Form oleh Richins (2004a). Self-regulation diukur dengan dengan menggunakan Short Form Self-Regulation Questionnaire (Carey, Neal, dan Collins, 2004). Hasil utama penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara materialisme dan self regulation (r= -.205, p<0.05). Nilai coefficient of determination (Rsquare) r2= 0.042 atau sebesar 4.2% sehingga dapat diinterpretasikan bahwa variasi skor materialisme 4.2% dapat dijelaskan dari skor self-regulation. Sedangkan 95.8% sisanya dapat dijelaskan oleh faktor-faktor individu selain faktor self-regulation.

This research was conducted to find the correlation between self-regulation and materialism among adolescent. Materialism is defined as a centrally held belief about the importance of possessions in one?s life (Richins & Dawson, 1992). Selfregulation is defined as the ability to develop, implement, and flexibly maintain planned behaviour in order to achieve one?s goals (Kanfer, 1970). Participants of this research were adolescent in Jabodetabek area, with amounts 146 people. Materialism was measured using MVS Short Form by Richins (2004a). Selfregulation was measured using Short Form Self-Regulation Questionnaire (Carey, Neal, dan Collins, 2004). The main result of this research shows that there is significant relationship between materialism and self-regulation, (r= -.205, p<0.05). Coefficient of determination score (R square) r2= 0.042 or indicate that 4.2% materialism score variation can be explained by self-regulation score. Another 95.8% can be explained from another individual factors except selfregulation.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S53986
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sukarni Catur Utami Munandar
Jakarta: UI-Press, 2001
PGB 0517
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Lavinia Celina Rahmawati
"Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur perbedaan antara kelompok materialistik dan non-materialistik mengenai perilaku konsumen pasca-pembelian, seperti pembelian tak terkontrol, partisipasi dalam proses daur ulang, penyimpanan berorientasi nilai, dan perilaku sadar lingkungan hidup. Pentingnya pemahaman perilaku konsumen adalah salah satu kunci kesuksesan sebuah perusahaan, terutama kesuksesan strategi marketing. Objek penelitian adalah Indonesia sebagai salah satu negara dengan industri ritel pakaian yang sedang berkembang pesat. Teknik sampling judgemental dan snowball digunakan dalam penelitian ini dan sampel didistribusikan secara online. Pengujian hipotesis menggunakan teknik independent t-test di software Statistical Package for Social Science SPSS versi 22. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsumer materialisitk memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan konsumen non-materialistik untuk semua perilaku konsumen pasca-pembelian.

The purpose of this research is to assess the difference between materialistic and non materialistic consumers regarding their post purchase consumer behaviors, such as compulsive buying, participation in recycling, value oriented hoarding, and environmental attitude. The importance in understanding consumer behaviors is the key success of a company, specifically the success of its marketing strategy. The object of the research is Indonesia as one of the fast growing country in apparel retail industry. Judgemental and snowball sampling was used in this research and the sample were distributed online. The hypothesis testing uses the independent sample t test technique in the Statistical Package for Social Science SPSS version 22. The results shows that materialistic consumers score higher than non materialistic for all post purchase consumer behaviors.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2017
S67966
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raditya Brahmantyo Zoelkarnain
"ABSTRAK
Tingkah laku tidak jujur merupakan tingkah laku yang kerap ditemui dalam
kegiatan sehari-hari dan juga dalam situasi yang berbeda-beda. Tingkah laku
tidak jujur dapat menimbulkan berbagai kerugian yang cukup berarti, baik
kerugian yang berupa finansial ataupun kerugian yang bukan merupakan
kerugian finansial. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menyelidiki dampak
risiko eksplisit tertangkap terhadap tingkah laku tidak jujur dengan anticipated
shame, atau ekspektasi seseorang akan emosi shame yang akan ia rasakan
apabila melakukan tingkah laku tidak jujur, sebagai variabel moderator.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain 2 x 2 beetween-subjects
factorial design kepada 90 orang partisipan. Temuan yang diperoleh melalui
penelitian menunjukkan bahwa, risiko eksplisit tertangkap tidak secara
signifikan mempengaruhi tingkat tingkah laku tidak jujur F (1, 89) = 0,396, p =
0,531, anticipated shame tidak secara signifikan mempengaruhi tingkat tingkah
laku tidak jujur F (1, 89) = 0,396, p = 0,507, dan bahwa anticipated shame
tidak berperan sebagai moderating variable dalam hubungan antara risiko
eksplisit tertangkap dengan tingkah laku tidak jujur F (1, 89) = 0,02, p = 0,965.

ABSTRACT
Dishonest behaviors could be found in various situations in our daily lives and
could give rise to negative consequences, whether financially or not financially.
This study is conducted to explore the effect of explicit risk of getting caught
towards dishonest behaviors, with anticipated shame, someone?s expectation
about the shame they will experience should they decided to commit dishonest
behaviors, as moderating variable. This study uses 2 x 2 beetween-subjects
factorial research design, and is conducted with 90 participants. The results
shows that, explicit risk of getting caught does not significantly affect dishonest
behavior F (1, 89) = 0,396, p = 0,531, anticipated shame does not significantly
affect dishonest behavior F (1, 89) = 0,396, p = 0,507, and there are no
interaction effect of risk of getting caught and anticipated shame toward
dishonest behavior F (1, 89) = 0,02, p = 0,965."
2016
S62774
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>