Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 45119 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dian Wahyuni
"Pubertas merupakan salah satu peristiwa penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Pemahaman yang benar tentang pubertas dapat membantu remaja untuk melalui masa transisinya dari anak-anak menjadi dewasa dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang tingkat pengetahuan anak sekoluh usia 11-12 tahun tentang pubertas yang dikategorikan menjadi tingkat pengetahuan tinggi, sedang dan rendah. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif sederhana dengan jumlah responden 34 orang, terdiri dari 18 responden laki-laki dan 16 responden perempuan.
Hasil penelitian yang didapat menyatakan bahwa dua responden perempuan (12.5%) sudah mengalami menstruasi, dan 14 orang (87,5%) belum mengalami menstruasi. Pada responden laki-laki, seluruhnya (100%)belum mengalami mimpi basah. Tingkat pengetahuan rata-rata untuk semua responden berada pada tingkat sedang (35, 4). Sumber infonnasi yang digunakan responden untuk mencari tahu tentang pubertas berturut-turut dari yang paling banyak sampai ke yang paling sedikit adalah: guru. orangtua, televisi, teman, majalah, radio, dan yang terakhir adalah kakak atau saudara lainnya seperti sepupu, paman dan bibi."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5086
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Raras Ambar Rukmi
"Pubertas adalah perubahan yang lazim dialami oleh remaja meliputi perubahan fisik, psikologis dan sosial (Davis & Youngkin, 1998). Informasi tentang pubertas pada remaja putri jauh lebih kita perhatikan dibandingkan remaja putra, karena ini dapat terlihat dari penelitian atau pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan pubertas remaja putra hampir tidak ada (Mahati, 2001). Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan tingkat pengetahuan remaja putra dan remaja putri tentang pubertas.
Desain penelitian ini menggunakan deskriptif perbandingan dngan jumlah sampel masing-masing 68 orang. Pengambilan sampel untuk kelompok responden remaja pulra diambil di SMPN 236 Jakarta Timur dan untuk kelompok responden remaja putri diambil di SDN Pulogebang O1 dan 02 Jakarta Timur. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner sebanyak 23 pertanyaan.
Hasil penelitian menunjukkan 97,05 % responden remaja putra mempunyai pengetahuan yang tinggi dan 95,58 % responden remaja putri mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang pubenas. Untuk menguji apakah terdapat perbedaan yang berrnakna yaitu dengan mengguuakan uji Chi Square dan dilakukan perbandingan p value dengan derajat kemaknaan atau α = 0,05. Hasil p value yang didapatkan yaitu 0,479S, sehingga. p value > nilai α. Hal ini menunjukkan Ho gagal ditolak, yang berarti tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari tingkat pengetahuan antara remaja putra dan remaja puiri tentang pubertas. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2004
TA5429
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Islah Akhlaqunnissa Jihadi
"Masa pubertas dialami oleh semua remaja. Pengetahuan dan sikap remaja memengaruhi perilaku remaja menghadapi masa pubertas. Penelitian ini dibuat dengan tujuan memberikan gambaran tingkat pengetahuan dan sikap remaja mengenai perubahan fisik dan psikososial pada masa pubertas di SMP Taruna Bhakti Depok. Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif sederhana dengan metode penelitian analisis univariat. Jumlah sampel 96 orang dengan teknik pengambilan sampel secara Cluster. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki pengetahuan dan sikap baik terhadap perubahan fisik dan psikososial pada masa pubertas. Peneliti merekomendasikan untuk memfasilitasi remaja melakukan aktifitas yang dapat membantu remaja berperilaku sesuai dengan pengetahuan dan sikap baik yang telah dimiliki.

Puberty is experienced by all adolescents. Knowledge and attitudes affect the behavior of adolescent facing puberty. This research aimed to provide an overview of the level of knowledge and attitudes of adolescents regarding physical and psychosocial changes at puberty in Taruna Bhakti Middle School. This research design used simple descriptive with univariate analysis research methods. The total sample was 96 chosen by Cluster sampling. The results showed that majority of the respondents have good knowledge and attitudes towards physical and psychosocial changes at puberty. Researcher recommended to facilitate adolescents perform activities that help teens behave in line with good knowledge and attitudes that have been owned."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
S46527
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prihadi Elta
"Usia remaja adalah masa transisi anak-anak menjadi dewasa. Pada masa tersebut seorang remaja mengalami perubahan yang pesat secara fisik, psikologis dan sosial. Peningkatan ukuran rangka, perubahan berat badan, masalah-masalah fisik yang terkait dengan perubahan hormonal remaja mempengaruhi gambaran citra tubuh remaja menjadi masalah tersendiri bagi remaja yang digambarkan salah satunya dengan respon kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari ada tidaknya hubungan antara gambaran citra tubuh pada remaja dengan tingkat kecemasannya. Penelitian ini dilakukan terhadap 42 responden remaja laki-laki dan perempuan di SLTP. Muhammadiyah HI Jakarta Pusat. Analisa data dilakukan dalam dua tahap yaitu analisa univariat mencari tendensi sentral untuk distribusi data karakteristik responden dan analisa bivariat chi-square untuk mencari hubungan antara gambaran citra tubuh dengan tingkat kecemasan. Kesimpulan hasil penelitian menunjukan rata-rata remaja mempunyai gambaran citra tubuh yang negatif dengan mean 29,43 dan standar deviasi 2,11 serta mengalami kecemasan sedang dengan nilai mean 48,13 dan standar deviasi 2,66, ada hubungan bermakna antara gambaran citra tubuh dengan tingkat kecemasan ditunjukkan oleh nilai X^2 5,61 dengan nilai kemaknaan 0,05 nilai kritis 5,99, ada hubungan bermakna antara gambaran citra tubuh dengan jenis kelamin ditunjukkan oleh nilai X^2 1,14 dengan nilai kemaknaan 0,05 nilai kritis 3,84 dan ada hubungan bermakna antara tingkat kecemasan dengan jenis kelamin, nilai kemaknaan ditetapkan 0,05 nilai kritis 5,99.
Kata kunci : Pubertas, citra tubuh, kecemasan."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5229
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Retno Purbani Widya Mahati
"Masa remaja suatu tahap dalam perkembangan manusia, merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yang diawali dengan pubertas. Pubertas ditandai dengan perubahan besar pada biologis yang menjadikan remaja makhluk seksual dan mampu bereproduksi. Pada remaja pria, perubahan yang terjadi adalah peristiwa ejakulasi pertama (spermarche) dan juga perubahan seks sekunder, seperti kumis, suara yang menjadi lebih besar dan dalam, rambut di kemaluan, wajah, dan ketiak, kulit berminyak, dan sebagainya.
Pubertas merupakan periode yang singkat, namun bagi sebagian orang dianggap sebagai periode yang sulit bagi remaja dan mempengaruhi keadaan fisik dan psikologis remaja di masa selanjutnya. Sehingga membutuhkan penyesuaian diri yang baik. Di Indonesia, pentingnya pemberian pendidikan seks pada remaja masih dipengaruhi mitos tradisional yaitu dapat meningkatkan perilaku seksual. Sedangkan Kuther (2000), menyatakan persiapan secara psikologis yang diberikan pada remaja sebelum mereka memasuki masa pubertas menentukan sikap dan perasaan mereka terhadap peristiwa yang teijadi pada masa tersebut. Selain itu, ketika kita membicarakan pubertas, anak perempuan cenderung untuk memperoleh perhatian yang lebih besar. Ini terlihat dari penelitian ataupun pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan pubertas remaja pria yang hampir tidak ada tidak ada.
Oleh karena itu, agar dapat memberikan informasi sebagai persiapan memasuki pubertas yang tepat dan sesuai kebutuhan remaja, perlu diketahui perasaan dan harapan yang timbul pada mereka saat memasuki pubertas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perasaan dan harapan remaja pria yang timbul saat mereka memasuki pubertas. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode wawancara. Subyek penelitian adalah remaja pria yang telah memasuki usia pubertas dalam kurun waktu hingga dua tahun, sehingga diharapkan mereka telah mengalami spermarche dan perubahan seks sekunder. Selain itu subyek mendapat pendidikan seks, sebelum ataupun setelah memasuki pubertas. Pada umumnya, selain terjadi perubahan biologis dan fisik, terjadi juga perubahan psikologis, yaitu sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mereka (Sprinthall, 1995). Selain itu perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh perasaan yang timbul dalam diri mereka mengenai peristiwa yang dialami saat memasuki pubertas, seperti perasaan yang positif, negatif, ataupun gabungan dari kedua perasaan tersebut. Setelah memasuki pubertas, dalam diri mereka juga timbul harapan, yang merupakan keinginan untuk mencapai tujuan atau keadaan tertentu.
Hasil penelitian ini secara umum, meskipun subyek telah mendapat pendidikan seks, pengetahuan mereka tentang seksualitas remaja kurang. Subyek juga merasa kurang dipersiapkan sebelum memasuki pubertas. Perasaan yang timbul terhadap spermarche pada setengah jumlah subyek adalah perasaan negatif berupa perasaan takut, bingung, dan cemas. Sedangkan pada sebagian subyek lainnya adalah perasaan positif, karena tanda mulai dewasa. Subyek merasakan adanya perubahan sikap dan perilaku setelah memasuki pubertas. Pada umumnya perubahan sikap dan perilaku yang terjadi timbul karena dipengaruhi oleh perubahan perlakuan yang diterima subyek dari lingkungan sekitar mereka. Subyek juga tidak merasa terganggu dengan keadaan mereka yang early atau late maturers, seperti yang dikemukakan dalam beberapa literatur, berdasarkan penelitian yang dilakukan pada remaja pria di luar Indonesia. Harapan yang dikemukakan oleh sebagian besar subyek lebih berorientasi pada diri sendiri dan lingkungan terdekat mereka seperti keluarga, teman dan sekolah.
Dari penelitian yang dilakukan, penulis menyarankan untuk memberikan pendidikan seks pada remaja pria, sebelum mereka memasuki pubertas sesuai dengan tingkat perkembangannya. Pemberian penyuluhan pada orangtua dan pendidik dalam memberikan pendidikan seks pada remaja pria juga disarankan agar mereka mengetahui pentingnya pendidikan seks dan dapat memberikan informasi sesuai yang dibutuhkan remaja. Untuk penelitian lebih lanjut disarankan untuk melihat perasaan dan harapan orangtua saat anak memasuki pubertas dan persiapan mereka menghadapi pubertas anak. Penelitian juga dapat diperluas dengan membandingkan remaja pria dari tingkat sosial ekonomi yang berbeda, serta meneliti cara remaja pria mengatasi dorongan seks yang timbul dan perilaku seksnya."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2001
S3071
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Triyanto
"Penelitian ini menggali pengalaman remaja dalam mendapatkan tugas perkembangan keluarga selama pubertas. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi. Peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap remaja pubertas di Purwokerto. Analisis data menggunanan metode Colaizzi. Tema penelitian pertama adalah perubahan pubertas (fisik, psikoseksual, sosial, emosi, sikap, kognitif dan perasaan berubah). Tema kedua masalah remaja yaitu gangguan gambaran diri dan putus harapan. Tema ketiga peran keluarga yang dirasakan berupa dukungan, sikap negatif dan cara menegakkan aturan. Tema keempat perilaku keluarga yang diharapkan yaitu diperhatikan, dipahami, dicukupi, diberikan hak berpendapat, frekuensi komunikasi ditingkatkan, diijinkan bermain, diarahkan dan dikontrol. Remaja merasakan perilaku keluarga masih kurang. Peneliti menyarankan pembentukan peer counselor remaka, klinik konsultasi remaja dan promosi tugas perkembangan keluarga."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2010
T28465
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Supriadi
"Penelitian im bertujuan untuk mengetahui kontribusi dukungan keluarga terhadap respons remaja menghadapi masa pubertas di Cinanjung Tanjungsari Sumedang dengan disain cross sectional. Jumlah sampel 223 orang dengan kriteria telah berusia 11-15 tahun untuk perempuan, 12-16 tahun untuk laki-laki serta telah terjadi perkembangan seks primer, sampel ditentukan melalui simple random sampling dengan lottery technique. Instrumen yang digunakan berupa angket untuk mengetahui karakteristik responden, respons responden dan dukungan keluarga terhadap remaja pubertas.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dukungan keluarga dalam membantu perkembangan emosi, hubungan sosial, bakat khusus dan kemandirian berkontribusi terhadap respons remaja menghadapi masa pubertas, sedangkan dukungan keluarga dalam membantu pertumbnhan fisik dan perkembangan kognitif tidak berkontribusi, basil penelitian juga menunjukan bahwa dukungan keluarga yang paling dominan berkontribusi adalah dukungan keluarga dalam perkembangan emosi. Implikasi dari basil penelitian tersebut, maka perawat komunitas dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga dengan remaja pubertas lebih memfokuskan pada aspek perkembangan emosi.
Dari hasil tersebut, maka disarankan ; perlu peningkatan pengetahuan dan pemahaman keluarga serta remaja pubertas berkaitan dengan dukungan keluarga dan respons remaja menghadapi masa pubertas, khususnya berkaitan dengan perkembangan emosi dengan mengembangkan pelayanan kesehatan remaja pubertas melalui klinik remaja maupun program UKS atau mengembangkan kemitraan dengan sektor-sektor yang memiliki kepedulian terhadap remaja pubertas.

This study has been made with the aim to obtain knowledge about how the family support contributes to the youngsters responses in dealing with the problems of their puberty age, as studied in the Cinanjung Tanjungsari Sumedang using the cross sectional design. The sample covered consisted of 223 youngsters, meeting the such criteria as : aged 11 to 15 years for girls, 12 to 16 years for boys, and already having their primer), sexual development. The sampling methode comprised the simple random sampling and the lottery technique. This instrument applied included questioners to find out the respondents characteristics, their responses and the support from their respective families in overcoming their puberty related problems.
Results of the study have shown that the support of families in helping youngsters with the development of their emotions, social interaction, specific talent and self reliance has indeed contributed to the youngsters responses to the ways in which they cope with their puberty age, while the support of families in their physical growth and cognitive development has not contributed to such responses. The study results have also revealed that the family support in the emotional development in the most significant contributory factor. Its implication, therefore would be that in giving nursing care to a family with puberty aged children, the nurse community should put their focus on the emotional development aspect.
Consequently the proper suggestion would be : the nurse community should increase their knowledge and understanding about the family and the puberty aged yaoungsters as regards the family support and the youngsters responses to focing his/her puberty problems, specifically those linked with his/her emotional development by youngsters clinic as well as the UKS programe, or through contracting partnerships with sectors they are concerned about the puberty youngsters.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2006
T18382
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Usia remaja adalah fase saat terjadi perubahan-perubahan fisik yang signifikan dari keadaan
tubuh seperti anak-anak menuju keadaan lubuh seperti orang dewasa. Dalam fase perubahan
tersebut tak lepas dari bagaimana persepsi remaja terhadap perubahan-perubahan fisiknya,
yang akan mempengaruhi perkembangannya sclama fase tersebut dan perkembangan pada
fuse selanjutnya. Dalam penelitian ini, diteliti bagainmna pcrsepsi rcrnaja terhadap
perubahan-perubahan fisiknya. Desain penelitian ini adalah desain deskriptif sederhana.
Populasi yang diambil remaja usia 12-IS tahun dan pengambilan sampel menggunakan cara
sampel acak sederhana dengan jumlah sampcl scbanyak 30 orang. Data diperoleh melalui
pengisian kuesioner atas persetujuan responden. Dari data tersebut, dihitung kecenderungan
persepsi remaja dengan menggunakan rumus tendensi sentral rata-rata dan distribusi
frekuensi. Dari perhitungan, didapatkan sebanyak 90 % responden mempunyai persepsi yang
positif. Kesimpulan dari penelitian ini udalah remaja memiliki persepsi yang positif terhadap
perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada usia remaja."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2001
TA5024
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Anna Sri Mariana
"Pubertas merupakan suatu perubahan yang normal terjadi pada remaja putri. Perubahan yang terjadi meliputi aspek fisik, psikososial, emosional dan seksual. Perubahan dapat menjadi stressor yang dapat mencetuskan kecemasan bila tidak dipersiapkan dengan baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perubahan pada pubertas dari tingkat kecemasan menghadapi pubertas pada remaja putri. Penelitian ini dilalcukan pada 85 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Penelitian ini menggunakan desain deksriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Data yang terkumpul dianalisis dengan rumus Chi-Square dengan α=0.05 CI=95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perubahan pada pubertas dan tingkat kecemasan menghadapi pubertas pada remaja putri (p=0.044 ; α=0.05). Penelitian ini merekomendasikan perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan pengklasifikasian responden yang lebih spesifik menjadi pre-puberty, early puberty, dan post-puberty untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan tiap fase tersebut.

Puberty is a change transition period from childhood to become adolescent and this is normally happened. Changes in this period involve physical, psychosocial, emotional, and sexual aspect. This change will become a stressor that can trigger a anxiety, if not well prepared.
This research had purpose to analyze the relation between level of knowledge about puberty and level of anxiety to face puberty in adolescent. Amount of respondents are 85 students base on inclusion characteristics with a random sampling method. Questionnaire was used as a instrument to measure knowledge level and anxiety level. This research used descriptive correlative design, and cross sectional approximation method. The processing of data used chi-square with α=0.05 and CI =95%.
The result from this research is any Correlation between level of knowledge about puberty and anxiety level to face puberty in adolescent. This research recommend to give specific classification respondent to become pre-puberty, early puberty, and post puberty to know the differences anxiety level for each phase.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2010
TA5932
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nilam
"ABSTRACT
Latarbelakang. Terapi yang adekuat pada penderita HAK diharapkan dapat mengoptimalkan perkembangan pubertas dan pertumbuhan linear penderita HAK. Saat ini belum ada data mengenai profil pubertas dan pertumbuhan linear penderita HAK di Indonesia yang menjalani terapi.
Tujuan. Mengetahui profil pubertas dan pertumbuhan linear penderita HAK di Indonesia yang menjalani terapi.
Metode.Studideskriptifserial kasusterhadap14 kasus HAK yang memasukimasapubertas di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo selama bulan November 2012 hingga April 2013. Pada subjek dilakukan pencatatan data, berupa anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan laboratorium dan radiologibone age.
Hasil penelitian. Hasil penelitian ini merupakanriset pendahuluan (preliminary research) terhadap 14 kasus HAK. Mayoritas penderita HAK di Jakarta yang menjalani terapi adalah perempuan, berusia di atas 8 tahun, HAK tipeSalt-Wasting (SW) dan terdiagnosis< 1 tahun. Tujuh dari 14 subjek mengalami obesitas. Penderita HAK yang menjalani terapi mengalami under treatment ditunjukkan dengan 11/14 subjek memiliki bone age accelerated dengan perhitungan tinggi badan dewasa yang pendek. Tiga belas subjek sudah pubertas dan 10/14 subjek mengalami pubertas prekoks. Dosis glukokortikoid yang diberikan pada subjek HAK masih dalam rentang dosis yang direkomendasikan (median 18,12 mg/m2/hari) dengan median durasiterapi 8,1 tahun. Kontrol metabolik penderita HAK dengan menggunakan parameter 17-OHP bervariasi dengan rentang 0,2-876 nmol/L (rerata 166,9 nmol/L).
Simpulan. Under treatment menyebabkan gangguan tumbuhkembang penderita HAK pada penelitian ini. Under treatment disebabkan karena ketidakteraturan terapi dan pemantauan terapi yang buruk. Edukasi berkala pada pasien HAK diperlukan untuk meningkatkan keteraturan terapi.

ABSTRACT
Background. Adequacy treatment can optimalize the puberty and linear growth in patient with congenital adrenal hyperplasia (CAH). Puberty and linear growth profile of CAH children in Indonesia is unknown.
Objective.To study the profile of puberty and linear growth in Indonesian children with CAH on therapy.
Methods. Descriptive study of 14 cases of CAH at Department of Child Health CiptoMangunkusumo Hospital during November 2012 to April 2013. Study included anamnesis, physical, laboratory, and bone age examination.
Results. This is preliminary research of 14 cases of CAH. Most of CAH subjects were girls, age more than 8 years old, salt wasting type, and diagnosed less than 1 years of age. Seven subjects were obesity. The CAH patients were undertreatment which 11/14 subjects have bone age accelerated and 10/14 subjects were precocious puberty. Dose of glucocorticoid based on recommendation (median dose of glucocorticoid was 18,12 mg/m2/day,duration of therapy was 8,1 years). Metabolic control of 17-OHP parameter showed variable level with range 0,2-876 nmol/L(mean 166,9 nmol/L).
Conclusions. Undertreatment can interfere linear growth and development (precocious puberty and short stature) of CAH patients in this study. Worst compliance and monitoring therapy will lead to undertreatment so that frequent education to CAH patients is needed for longterm treatment."
2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>