UI - Skripsi (Membership) :: Kembali

UI - Skripsi (Membership) :: Kembali

Perbandingan kesetiaan dua terjemahan sajak Le Pont Mirabeau

Nomor Panggil S14406
Pengarang
Pengarang lain/Kontributor
Subjek
Penerbitan Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1997
Program Studi
 Abstrak
ABSTRAK
Sajak Le Pont Mirabeau karya Guillaume Apollinaire telah diterjemahkan oleh dua orang sastrawan Indonesia, Mahmud Taslim Ali dan Wing Kardjo. Skripsi ini mencoba membandingkan kedua terjemahan tersebut dart segi kesetiaannya masing-masing kepada karya aslinya.

Teori yang digunakan terdiri atas teori yang berkaitan dengan sajak (hakikatnya dan sifat-sifatnya sebagai karya puitik) dan teori yang berkaitan dengan penerjemahan. Salah satu pedoman utama teori penerjemahan ialah bahwa pesan linguistik adalah kesatuan yang terdiri atas bentuk sebagai struktur luar dan makna sebagai struktur dalamnya. Sifat sajak sebagai karya puitik, adalah bahwa sajak memiliki kekhasan baik dalam hal bentuk (dengan rima, irama, enjambemen dsb.) maupun dalam hal makna (bahasanya yang penuh dengan konotasi). Bentuk dan makna sajak berkaitan erat dan saling mengisi, sebab makna suatu sajak juga tersalurkan melalui bentuknya. Oleh karena itu, penerjemah sajak harus dapat menampilkan kembali efek yang ditimbulkan dari keterpaduan bentuk dan makna suatu sajak ke dalam terjemahannya.

Dengan berpedoman pada prinsip itulah analisis terjemahan dalam skripsi ini dibagi atas analisis dari segi bentuk dan analisis dari segi makna. Analisis itu pun dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama adalah pemerian pengalihan-pengalihan dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama adalah pemerian pengalihan-pengalihan bentuk dan makna yang dilakukan MTA dan WK secara terpisah dan tahap kedua adalah pembandingan kedua terjemahan itu.

Ditemukan bahwa di antara kedua terjemahan itu, terjemahan WK lebih setia baik kepada bentuk maupun kepada makna sajak LPM. Dengan perkataan lain, terjemahan WK menggunakan kesejajaran bentuk dan kesejajaran makna. Terjemahan MTA tidak memperlihatkan kesejajaran seperti terjemahan WK, tetapi terjemahannya itu masih menggunakan kesepadanan dinamis. Juga ditemukan bahwa subjektivitas dan jarak waktu memegang peranan penting dalam perbedaan kedua terjemahan sajak LPM itu.
 File Digital: 1
Shelf
 S 9700334_Perbandingan Kesetiaan Dua.pdf ::

Akses untuk anggota Perpustakaan Universitas Indonesia, silahkan

 Info Lainnya
Naskah Ringkas
Kode Bahasa ind
Sumber Pengatalogan 315106
Tipe Konten text
Tipe Media unmediated ; computer
Tipe Carrier volume ; online resource
Deskripsi Fisik xiv, 89 pages : illustration ; 28 cm + appendix
Catatan Bibliografi pages 83-86
Lembaga Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi Perpustakaan UI, Lantai 3
  • Ketersediaan
  • Ulasan
  • Sampul
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
S14406 14-19-812906977 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20158311
ABSTRAK
Sajak Le Pont Mirabeau karya Guillaume Apollinaire telah diterjemahkan oleh dua orang sastrawan Indonesia, Mahmud Taslim Ali dan Wing Kardjo. Skripsi ini mencoba membandingkan kedua terjemahan tersebut dart segi kesetiaannya masing-masing kepada karya aslinya.

Teori yang digunakan terdiri atas teori yang berkaitan dengan sajak (hakikatnya dan sifat-sifatnya sebagai karya puitik) dan teori yang berkaitan dengan penerjemahan. Salah satu pedoman utama teori penerjemahan ialah bahwa pesan linguistik adalah kesatuan yang terdiri atas bentuk sebagai struktur luar dan makna sebagai struktur dalamnya. Sifat sajak sebagai karya puitik, adalah bahwa sajak memiliki kekhasan baik dalam hal bentuk (dengan rima, irama, enjambemen dsb.) maupun dalam hal makna (bahasanya yang penuh dengan konotasi). Bentuk dan makna sajak berkaitan erat dan saling mengisi, sebab makna suatu sajak juga tersalurkan melalui bentuknya. Oleh karena itu, penerjemah sajak harus dapat menampilkan kembali efek yang ditimbulkan dari keterpaduan bentuk dan makna suatu sajak ke dalam terjemahannya.

Dengan berpedoman pada prinsip itulah analisis terjemahan dalam skripsi ini dibagi atas analisis dari segi bentuk dan analisis dari segi makna. Analisis itu pun dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama adalah pemerian pengalihan-pengalihan dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama adalah pemerian pengalihan-pengalihan bentuk dan makna yang dilakukan MTA dan WK secara terpisah dan tahap kedua adalah pembandingan kedua terjemahan itu.

Ditemukan bahwa di antara kedua terjemahan itu, terjemahan WK lebih setia baik kepada bentuk maupun kepada makna sajak LPM. Dengan perkataan lain, terjemahan WK menggunakan kesejajaran bentuk dan kesejajaran makna. Terjemahan MTA tidak memperlihatkan kesejajaran seperti terjemahan WK, tetapi terjemahannya itu masih menggunakan kesepadanan dinamis. Juga ditemukan bahwa subjektivitas dan jarak waktu memegang peranan penting dalam perbedaan kedua terjemahan sajak LPM itu.