Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 153 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Maria Tiffany Candra
"Tulisan ini membahas mengenai utilisasi tari Waacking di Korea Selatan dan Indonesia. Waacking merupakan genre tari modern yang mulai berkembang pada tahun 1970-an. Lahir dari komunitas klub gay di Los Angeles, Waacking menjadi salah satu media ekspresi diri bagi kaum homoseksual pada masa itu. Para penari menggunakan Waacking untuk mengungkapkan perasaannya melalui gerakan-gerakan yang juga berarti sebagai simbol identitas diri mereka. Melalui gerakan ini, penari menyampaikan makna-makna subjektif mereka kepada para penonton. Seiring berjalannya waktu, Waacking mulai dikenal masyarakat di berbagai negara, tidak terkecuali di Korea Selatan dan di Indonesia. Meski teknik yang digunakan masih sama, terdapat perkembangan fungsi Waacking di kedua negara tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penggunaan Waacking sebagai media pengenalan budaya nasional oleh waackers Korea Selatan dan Indonesia. Adapun metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik studi pustaka. Tulisan ini mengacu pada teori tari sebagai sistem simbol dan tari sebagai sarana komunikasi lalu hasil temuan dianalisis dengan sudut pandang artikulasi budaya. Melalui tulisan ini dapat disimpulkan bahwa meski awalnya Waacking digunakan sebagai sarana ekspresi diri dari penindasan, kini Waacking digunakan sebagai sarana pengenalan identitas budaya nasional.

This paper discusses the utilization of Waacking dance in South Korea and Indonesia. Waacking is a modern dance genre that began to develop in the 1970s. Born from the gay club community in Los Angeles, Waacking became one of the media of selfexpression for homosexuals at that time. Dancers use Waacking to express their feelings through movements that also symbolize their self-identity. Through these movements, dancers conveyed their subjective meanings to the audience. Over time, Waacking began to be recognized by people in various countries, including South Korea and Indonesia. Although the techniques used are still the same, there are developments in the function of Waacking in both countries. The purpose of this study is to analyze the use of Waacking as a medium for introducing national culture by South Korean and Indonesian waackers. The method used is descriptive qualitative method with literature study technique. This paper refers to the theory of dance as a symbol system and dance as a means of communication and then the findings are analyzed from the point of view of cultural articulation. Through this paper, it can be concluded that although initially Waacking was used as a means of self-expression from oppression, now Waacking is used as a means of recognizing national cultural identity."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Widari
"Korea Selatan pada tahun 1968 di bawah kepemimpinan Jenderal Park Chung-hee masih berada dalam bayang-bayang pemerintahan militer yang diktator. Penyair Korea Selatan bernama Shin Dong-yup menuliskan puisi prosais berjudul Sanmunsi 1 sebagai media  tidak langsung untuk mengkritisi pemerintahan. Ia menuliskannya dengan menggambarkan situasi sosial-politik yang berkebalikan dari situasi di Korea Selatan pada masa itu. Penelitian ini menganalisis puisi prosais berjudul Samunsi 1 karya Shin Dong-yup dengan menggunakan teori egalitarianisme dan kritik sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif analisis. Prosedur penelitian yang digunakan untuk menganalisis karya puisi prosais ini adalah pendekatan sosiologi sastra dengan teori strukturalisme genetik. Metode dan prosedur ini diikuti dengan data-data referensi untuk mengelaborasi kritik sosial yang terwujud melalui hadirnya paham egalitarianisme dalam puisi prosais yang memiliki keterkaitan sosial-histori Korea Selatan pada tahun 1968. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa puisi prosais Sanmunsi 1 adalah sebuah bentuk kritik terhadap Park Chung-hee dengan menggunakan penggambaran egalitarianisme yang hadir sebagai ironi atas realitas sosial Korea Selatan pada masa itu. 

In 1968, South Korean under Park Chunghee regime still live under dictatorship and military government. Shin Dong-yup, one of South Korean writer who is contrived a prose poetry entitled Sanmunsi 1 as a criticism platform by describing an ideal social-politic condition which contradictive with South Korea’s condition at that time. This research aim to analyzed prose poetry by require take of egalitarianism theory and social criticism theory. Methode that applied in this research is descriptive analysis. Procedure that applied for analyzing Shin Dong-yup’s Sanmunsi 1 prose poetry is sociology of literature with theeory of genetic structuralism. This methode and procedure are followed by data and variant reference to elaborate the emerge of egalitarianism which related to South Korea’s social-historical aspect in 1968 to prove the form of social criticism in it. Through this research it found that Sanmunsi 1 prose poetry is a form of social criticism to Park Chung-hee regime by emerging egalitarianism as an irony of South Korea reality."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jovian Hansel
"Invansi Jepang ke wilayah Joseon pada tahun 1592-1598 menyebabkan perubahan gejolak sosio- politik yang kuat di kawasan Asia Timur. Invansi Jepang pada masa itu dikenal dalam sejarah Korea sebagai peristiwa Perang Imjin. Perang Imjin dilatarbelakangi dari keinginan Hideyoshi untuk menjadi penguasa di Asia Timur dan menggantikan posisi Tiongkok sebagai pusat tatanan dunia. Dalam Invansi ke wilayah Joseon, Hideyoshi menerjunkan sebesar ±300.000 pasukan prajurit dan Jepang dengan mudah berhasil menembus pertahanan Joseon sehingga berhasil mencapai ke ibu kota dalam jangka waktu 19 hari saja. Walaupun usaha Jepang untuk menyerang Joseon begitu kuat, pada akhirnya Jepang harus menerima kekalahan. Kemenangan Joseon dalam Perang Imjin dalam penulisan sejarah umumnya dikatakan sebagai keberhasilan Joseon dalam menggunakan seni perang. Namun, fakta memperlihatkan dalam Perang Imjin, Joseon mendapat bantuan 133.000 pasukan secaran bertahap dari Dinasti Ming Selain itu dikatakan Joseon mengadopsi seni perang dari Cina yang dikenal sebagai Sun Tzu. Adanya bantuan tersebut menjadi alasan dalam penelitian ini untuk menginterpretasikan kembali faktor yang mendukung kemenangan Joseon dalam Perang Imjin. Dengan menggunakan metode deskriptif analitis dan pendekatan historis, penelitian ini menyimpulkan bahwa kemenangan Joseon dalam Perang Imjin tidak murni disebabkan adanya bantuan dari Cina sehingga hal itu menjadi alasan penting mengapa Perang Imjin menjadi kebanggaan bersejarah bagi Korea. Terkait dengan seni perang Sun Tzu, terbukti bahwa Joseon secara adaptif mengadopsi Seni Perang Sun Tzu karena materi Seni Perang Sun Tzu diujikan dalam ujian kenegaraan bagi calon perwira Joseon. Seni perang menjadi sumbangan untuk membentuk pola pikir militer Joseon yang lebih efektif dalam menentukkan strategi perang.

The Japanese invasion of the Joseon region in 1592-1598 caused strong socio-political turmoil in the East Asia region. The Japanese invasion at that time is known in Korean history as an event of the Imjin War. The Imjin War was motivated by Hideyoshi's desire to become ruler in East Asia and replace China as the center of world order. During the invasion of the Joseon region, Hideyoshi fielded ± 300,000 soldiers and the Japanese easily managed to penetrate the Joseon defenses and reach the capital in just 19 days. Even though the Japanese attempt to attack Joseon was so strong, in the end Japan had to accept defeat. Joseon's victory in the Imjin Wars in writing history is generally said to be the success of Joseon in using the art of war. However, the facts show that in the Imjin War, Joseon received the help of 133,000 troops gradually from the Ming Dynasty. In addition, it is said that Joseon adopted the art of war from China known as Sun Tzu. The existence of this assistance becomes the reason in this study to reinterpret the factors that support the victory of Joseon in the Imjin War. By using descriptive analytical methods and historical approaches, this study concludes that the victory of Joseon in the Imjin War was not purely due to assistance from China so that it is an important reason why the Imjin War became a historical pride for Korea. Regarding Sun Tzu's art of warfare, it is evident that Joseon adaptively adopted Sun Tzu's Art of War because Sun Tzu's Art of War material was tested in state exams for prospective Joseon officers. The art of war has contributed to shaping the mindset of the Joseon military which is more effective in determining war strategies"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Ulinnuha Gunawan
"Gender kerap disalahartikan sebagai jenis kelamin, padahal keduanya merupakan hal yang berbeda. Pada tahun 2023, Korea Selatan meluncurkan film berjudul Kill Boksoon yang mencoba mengangkat isu dekonstruksi gender. Penulis tertarik untuk mengetahui gambaran perempuan yang bekerja sebagai pembunuh bayaran melalui produk budaya populer Korea Selatan tersebut. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana perempuan yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran digambarkan menjalankan perannya sebagai pencari nafkah dan ibu dalam film Kill Boksoon. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik simak catat untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian ini menunjukkan penggambaran perempuan dengan sifat maskulin saat bekerja dan sifat feminin ketika memenuhi peran seorang ibu.
Gender is often confused with sex, even though they are different things. In 2023, South Korea released a movie titled Kill Boksoon which tries to raise the issue of gender deconstruction. The author wants to explore the representation of women working as hitman through South Korea's popular culture product. The issue discussed in this research is how women working as hitmen are portrayed in carrying out their roles as breadwinners and mother in the movie Kill Boksoon. The method used in this research is descriptive qualitative with note-taking techniques to collect data. The result of this research shows the representation of women who exhibit masculine characteristics when working and feminine characteristics when fulfilling the role of a mother."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Kartika Qolbina
"Skripsi ini membahas mengenai budaya SNS Social Network Service di kalangan masyarakat Korea Di Korea SNS banyak digunakan oleh masyarakat Korea Meski banyak SNS buatan luar negeri yang masuk ke Korea SNS buatan Korea lebih banyak digunakan oleh pengguna SNS di Korea Dalam penulisan ini penulis membatasi pembahasan masalah pada jenis dan karakter SNS yang populer di kalangan masyarakat Korea dalam rentan periode tahun 2001 hingga 2011 Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dapat disimpulkan bahwa masyarakat Korea pengguna SNS lebih memilih SNS SNS buatan Korea sehingga SNS buatan Korea yang sangat populer dibandingkan SNS buatan luar negeri Adapun alasan pemilihan jenis SNS buatan Korea tersebut adalah terdapat konsep nilai budaya tradisional di dalam SNS SNS buatan Korea yang populer di Korea.

This thesis discusses about SNS (Social Network Service) culture in Korea. SNS is quite used widely by Koreans. Eventhough there are several global SNS entered into Korea, Korean-made SNS is more widely used by SNS users in Korea. This research focuses on type and characters of Korean popular SNS among Korean SNS users in Korea during the period of 2001-2011. Through descriptive qualitative research, the result of this research shows that Korean SNS users prefer choice and use Korean SNS than other countires’s SNS because of the concept of traditional cultural values found in some popular Korean SNS."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S47090
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Budhi Pratiwi
"Skripsi ini menganalisis tentang budaya kerajaaan Joseon yang direpresentasikan di dalam drama televisi Dae Jang geum. Namun, penulis membatasi masalah ini pada budaya yang berkembang di dalam lingkungan istana kerajaan, yaitu budaya kuliner dan budaya berbusana khas istana kerajaan Joseon yang direpresentasikan dalam drama tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif studi kepustakaan. Adapun teori yang digunakan untuk menganalisis objek penelitian adalah teori representasi dari Stuart Hall yang dipadukan dengan metode analisis signifying order dari Danesi.
Dari hasil analisis disimpulkan bahwa representasi budaya Joseon yang ada di dalam drama televisi Dae Jang Geum lebih mendekati sistem representasi refleksi dan rekonstruksi. Dari representasi budaya Joseon dalam drama Dae Jang Geum dapat diketahui bahwa nilai-nilai budaya masa Joseon memiliki hubungan yang sangat erat dengan stratifikasi sosial yang berlaku pada masa itu.

This thesis analyzed the kingdom of Joseon royal culture that represented in the TV drama Dae Jang Geum. This research focuses on culinary and clothing culture of Joseon royal palace representated at drama. Research approach is qualitative study of reference. Research theory is the representation theory of Stuart Hall which is combined with analytical methods signifying order from Danesi.
The result of the research shows that existing Joseon cultural representation at TV drama Dae Jang Geum is representation of reflection and reconstruction system. Through the result of this research can be known that representation of Joseon culinary and clothing culture in Dae Jang Geum drama shows us the strong influence of the social stratification at Joseon dynasty.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S46831
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuni Annisah
"Skripsi ini membahas mengenai Peristiwa Pertempuran Pohang 1950 serta bagaimana representasinya dalam film Pohwasokeuro. Pertempuran Pohang adalah salah satu bagian peristiwa Perang Korea. Meski tokoh-tokoh dalam film ini merupakan tokoh fiktif, beberapa bagian dari film ini menunjukkan keselarasan antara jalan cerita dengan peristiwa sejarah yang sesungguhnya. Dalam penulisan ini, penulis membatasi pembahasan masalah pada representasi Pertempuran Pohang dalam film Pohwasokeuro, serta nilai-nilai sosial dan politik yang terdapat dalam film ini sehubungan dengan perjuangan diplomasi masyarakat Korea dalam Perang Korea menurut catatan sejarah dan skenario film. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, dapat disimpulkan bahwa film Pohwasokeuro telah menggambarkan peristiwa Pertempuran Pohang sesuai dengan informasi sejarah yang sebenarnya. Pertempuran Pohang juga telah menunjukkan peran yang amat penting dalam perjuangan diplomasi Korea Selatan pada saat Perang Korea berlangsung.

This thesis discusses about the event of Battle of Pohang 1950 and how it was being represented in the film Pohwasokeuro. Battle of Pohang was a part of Korean War. Despite of the characters in this film being all fictional, some parts of this film show the synchronization between the storyline and the actual historical events. This research focuses on the representation of Battle of Pohang 1950 in the film Pohwasokeuro as well as the politic and social values in this film that related with the diplomatic struggle of South Korea during Korean War according to the historical records and film script. By using qualitative research method, the result of this research shows that Pohwasokeuro has portrayed the event of Battle of Pohang in accordance with the actual historical information. Battle of Pohang had also become a very crucial event for the diplomatic struggle of South Korea during Korean War."
Depok: Universitas Indonesia, 2014
S56294
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ridwan Suseno
"Skripsi ini membahas perkembangan pertanian dan industri, serta kondisi sosial di Korea pada masa penjajahan Jepang tahun 1910-1945. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deksriptif yang digunakan untuk menganalisa data sekunder, dapat disimpulkan bahwa pertanian di Korea berkembang pesat pada awal masa penjajahan hingga tahun 1930-an, sedangkan industri di Korea baru mulai dikembangkan sejak tahun 1930-an hingga 1945. Pengembangan di bidang industri yang dimulai sejak tahun 1930-an memunculkan dampak sosial berupa pergantian mata pencaharian sebagian masyarakat Korea yang semula petani menjadi buruh dan pekerja pabrik. Akan tetapi, sangat disayangkan pertambahan jumlah buruh dan pekerja pabrik di Korea tidak diiringi dengan bekal pendidikan dan keterampilan yang memadai sehingga upah yang mereka dapatkan pun relatif rendah.

This thesis discusses about Korean agriculture and industry development during Japanese imperialism 1910-1945. This thesis also discusses about Korean social condition in relation with the development of agriculture and industry. Through descriptive qualitative research used to analyse secondary data, this research shows that Korean agriculture development was started in early Japanese imperialism until 1930’s, meanwhile Korean industry development was started in 1930’s until 1945. The social condition shows that since industry had been developed since 1930's, the number of Korean farmers went down but Korean labors rised significantly. Unfortunately, they did not have enough academic qualification so that their monthly payment was relative low.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
S56231
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dyna Susanti
"Skripsi ini membahas mengenai fenomena yeongeo yeolphung yang direpresentasikan dalam film Narara Penggwuin. Dalam penelitian ini penulis membatasi pembahasan masalah pada representasi yeongeo yeolphung dalam film Narara Penggwuin dan pengaruh fenomena yeongeo yeolphung di Korea terhadap representasi yeongeo yeolphung dalam film Narara Penggwuin. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif melalui pendekatan representasi media dan kognisi sosial dapat disimpulkan bahwa film Narara Penggwuin dapat menggambarkan lima dari delapan wujud yeongeo yolphung. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa yeongeo yeolphung di Korea memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap pembuatan film Narara Penggwuin.

This thesis analyzes yeongeo yeolphung phenomenom which is represented in Narara Penggwuin film. The research is focused on yeongeo yeolphung representation in Narara Penggwuin film and the influence of yeongeo yeolphung phenomenom in Korea towards yeongeo yeolphung representation in Narara Penggwuin film. By using descriptive qualitative method and through representative media and social cognitive approach it can be concluded that Narara Penggwuin film represents five of eight kinds of yeongeo yeolphung. It can be stated based on this research that yeongeo yeolpung phenomenom in Korean society strongly influence Narara Pewnggwuin film.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
S55512
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ganik Pratiwi Roindaningtiyas
"ABSTRAK
Skripsi ini membahas tentang dampak peristiwa Samil Undong atau Gerakan
Kemerdekaan 1 Maret 1919 terhadap perubahan kehidupan masyarakat Korea
tahun 1919-1931. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dampak
peristiwa Samil Undong terhadap perubahan kehidupan masyarakat Korea tahun
1919-1931. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
sejarah dengan desain deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
meskipun peristiwa Samil Undong tidak berhasil membuat Jepang mencabut
kekuasaanya dari Korea, peristiwa ini berhasil memberikan dampak bagi
kehidupan masyarakat Korea pada tahun 1919 sampai dengan tahun 1931, yaitu
adanya kebangkitan dalam kehidupan politik, intelektual dan kesusastraan.

ABSTRACT
This Study discusses about the impact of Samil Undong (March First Movement)
toward the change of Korean people?s life during 1919-1931. This research aimed
to know the impact of Samil Undong toward the change of Korean people?s life
during 1919-1931. This research applies historical method with descriptive design.
The result shows that although Samil Undong did not succed to make Japan draw
out its domination from Korea, it can give the change of Korean people?s life
during 1919 until 1931, those are the rise of political, intellectual and Korean
literature."
2015
S61306
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>