Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 112 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Mubaher Sidiq
"Suatu industri pengolahan biasanya tidak terlepag dari permasalahan limbah yang berkaitan dengan kualitas lingkungan hidup. Masalah iingkungan rnerupakan hal yang mutlak harus diperhatikan oleh sebuah industri pengolahan, dikarenakan tuntutan standar baku mutu lingkungan yang harus dipenuhi oleh sebuah industri. Salah satu jenis limbah yang menjadi sorotan masyarakat adalah limbah logam berat yang beracun dan berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Limbah logam berat yang beracun dapat bempa Cr(VI), Pb dan Hg Serta limbah logam berat yang rnempunyai nilai strategis dan ekonomis yang tinggi seperti platina (Pt), emas (Au), Rh, Ag, dan Pd.
Dalam penelitian ini dilakukan preparasi katalis TiO2-SiO; dan PUTiO2 yang digunakan untuk melakukan uji reduksi Cr(\/I) menjadi Cr(Ill). Beberapa parameter yang diuji dan diteliti meliputi variasi jenis katalis, sistem fotoreaktor, efek penambahan metanol. Kemudian dilakukan pula reduksi Cr(VI) dari berbagai jenis limbah antara lain; limbah sintetis, limbah praktikum dan limbah industri elektroplating.
Dari hasil penelitian didapat bahwa katalis serbuk TiO2 Degussa P25 memiliki aktivitas tertinggi dalam mereduksi Cr(Vl) dibandingkan dengan katalis hasil preparasi (TiO2-SiO2_ CuO/Ti02 dan Pt/TiO2). Pcnambahan dua reaktor yang disusun secara seri dengan penggunaan konsenirasi katalis 3 g/lt tiap reaktor dapat meningkatkan nilai konversi dari 25% menjadi 98%.
Untuk penggunaan konsentrasi katalis lg/It tiap reaktor dengan jumlah reaktor 3 buah didapat nilai konversi sebesar 36% dan penambahan metanol sebesar 10% dapat memberikan efck positif terhadap proses reduksi Cr(VI) sehingga diperoleh konversi sebesar 99%. Limbah elelctroplating dengan konsentrasi Cr(VI) 40 ppm dapat tereduksi hingga dibawah ambang batas maksimum (0,05 ppm) dalam waktu 5 jam dan bila konsentvasi Cr(VI) dibawah 5 ppm maka dalam waktu kurang dari 30 menit ambang batas tersebut dapat dicapai."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
S49357
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ziad
"Kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan yang esensial, sehingga diperlukan proses pengolahan air menjadi air bersih yang bebas dari kandungan bahan-bahan kimia yang berbahaya, partikel-partikel padat, dan mikroba yang terkandung dalam air sehingga aman bagi tubuh manusia.
Dalam pengolahan air teknologi membran menjadi salah satu teknologi yang berkembang pesat saat ini. Salah satu membran yang biasa digunakan dalam proses pengolahan air adalah membran mikrofiltrasi. Namun membran yang digunakan pada proses ini sangat rentan terhadap fouling, sehingga air umpan yang akan diolah harus diberi proses pralakuan, dalam hal ini adalah koagulasi.
Suhu dan derajat keasaman (pH) merupakan faktor yang berpengaruh dalam proses koagulasi. Dalam penelitian ini, koagulan yang digunakan adalah koagulan berbasis ferrum, yaitu FeSO4.7H2O, dengan variasi suhu dan derajat keasaman ( pH ).
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa, suhu 50°C merupakan suhu terbaik dalam rentang kondisi operasi penelitian untuk proses pralakuan koagulasi dengan persentase keefektifan koagulasi mencapai 73.68 % untuk penyisihan TDS (Total Dissolve Solid) dan 51.22 % untuk penyisihan COD (Chemical Oxygen Demand). Untuk pengaruh derajat keasaman, pH 5 merupakau pH terbaik dalam rentang kondisi operasi penelitian untuk proses pralakuan koagulasi dengan persentase keefektifan koagulasi mencapai 27.65 % untuk penyisihan TDS dan 34.38 % untuk penyisihan COD.
Pada proses mikrofiltrasi dengan pralakuan koagulasi yang menggunakan suhu 50 °C dan pH 5, diperoleh persentase penyisihan TDS maksimum sebesar 90.54 %, dengan fluks permeat maksimum yang dihasilkan sebesar 0.05683 m3/m2 jam.
Dari hasil penelitian ini juga didapatkan bahwa, suhu 50 °C merupakan suhu terbaik dalam rentang variasi untuk proses pralakuan koagulasi menggunakan koagulan FeSO4.7H2O, namun suhu ini kurang mengguntungkan bila Iangsung dilanjutkan dengan proses memtran karena ketahanan membran polypropylene yang kurang baik terhadap suhu tinggi (maks 45 °C), sehingga diperlukan proses pendinginan tambahan untuk mencapai suhu < 40 °C, agar bisa dilanjutkan ke proses membran."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
S49437
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Syaifuddin Al-Anshari
"Batcrai Li-ion (Lithium-ion) merupakan salah satu jenis baterai yang dapat diisi ulng, baterai jenis ini mengandung berbagai macam mineral antara lain kobalt dan alumunium. Proses daur ulang limbah baterai Li-ion selain dapat mencegah terjadinya pencemaran. juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan Iogam kobalt memiliki harga yang rclatif cukup tinggi apabila dibandingkan beberapa logam lain, seperti besi dam _tembaga.
Metode leaching dan ekslraksi cair-cair dapat diterapkan dalam pengambilan kembali Iogam kobalt yang berasal dari Iimbah elektroda baterai Li-ion. Ekstraktan yang digunakan dalam proses ckstraksi adalah Cyanex@302 yang dilarutkan dalam kerosin. Percobaan yang dilakukan dalam penelitian adalah proses leaching limbah elektroda baterai dan proses ekstraksi kobalt. Setelah dilakukan serangkaian proses tersebut diharapkan akan diperoleh larutan yang kaya akan logam koablt. Dalam penelitian ini variabel-variabel yang diperhatikan terhadap proses leaching limbah padatan yaitu konsentrasi leaching agent, waktu kontak, Perbandingan solid/liquid (S:L), dan suhu leaching Dalam proses ekstraksi, dilakukan analisis terhadap variabel-variabcl pH, konsentrasi ekslraktan dan waktu kontak, sehingga dapat dinilai sclektivitas ckstraktan Cyanex‘°302 terhadap kobalt dan persen ckstraktsi kobalr yang diperoleh dcngan mencari nilai optimum untuk masing-masing variabel proses yang diuji.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses leaching elektroda baterai Li-ion dengan menggunakan HCI mcncapai optimal pada konsentrasi HC] sebesar 4 M, waktu kontak selama 150 menit, perbandingan S:L l:l0O, dan suhu 80°C. Dengan kondisi tersebut persentase feaching kobalt sebesar 9I,55% berat dan 99,99% untuk aluminium.
Proses ekstraksi yang diiakukan menunjukkan bnhwa Cyanex®302 tidak selektif untuk memisahkan kobalt dari alumunium. Akan tetapi, dalam proses ini kita bisa mendapatkan kobalt sebesar 243.32 ppm dan aluminium sebesar 93,73 ppm, aacapai pada kondisi pH hasil |eaSi\`ang_ e,s, konsenmmsi Cyanex®302 0,169 M, dan waktu kontak seiama 60 menit."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S49512
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wulan Erna Komariah
"Limbah cangkang kepiting dapat menimbulkan polusi udara serta menyebabkaa pencemaran tanah yaitu meningkatnya BOD dan COD. Padahal limbah yang berasal dari rumah makan seafood ini merupakan sumber potensial pembuatan kitosan yang diperoleh dengan mendeasetilasi kitin dari cangkang kepiting menggunakan NaOH. Kitin diperoleh melalui demineralisasi dengan asam kuat (HCl) dan deproteinasi dengan basa kuat (NaOH). Pada proses demineralisasi dan deproteinasi dilakukan variasi pengaruh konsentrasi larutan 0,5; 0,75; 1,0; 1,25; 1,5 M dan waktu reaksi selama 30; 60; 90; 120; 150 menit, dengan agitasi 500 rpm. Untuk mengetahui kandungan mineral dan protein yang masih tersisa pada kitin dilakukan uji kadar abu dan protein menggunakan metoda Kjehdahl. Kondisi optimum demineralisasi diperoleh dengan menggunakan larutan HC1 1 M selama 60 menit pada suhu 60°C, dan deproteinasi diperoleh dengan menggunakan larutan NaOH 1 M selama 120 menit pada suhu 70°C. Setelah itu dilakukan deasetilasi dengan pengaruh konsentrasi NaOH 30; 40; 50; 60; 70 % berat dan waktu kontak selama 15; 45; 75; 105; 135 menit. Untuk mengetahui derajat deasetilasi optimum dilakukan analisis FTIR. Optimasi proses deasetilasi diperoleh dengan menggunakan larutan NaOH 50 % selama 45 menit pada suhu 100°C dan agitasi 500 rpm, hasil derajat deasetilasi sebesar 52,95. Kitosan memiliki reaktifitas yang tinggi, dan bersifat sebagai bahan pengemuisi koagulasi serta polielektrolit kation sehingga mampu berperan sebagai adsorben terhadap logam berat. Oleh karena itu, kitosan dari limbah cangkang kepiting ini dapat digunakan sebagai adsorben logam Cd (II) pada air limbah. Kadmium sering digunakan pada pigmen keramik, penyepuhan listrik, pembuatan alloy dan baterai alkali (Marganof, 2003). Efek keracunan yang dapat ditimbulkan kadmium berupa penyakit paru-paru, hati, tekanan darah tinggi, gangguan pada sistem ginjal dan kelenjar pencemaan. Kitosan dengan hasil derajat deasetilasi tertinggi sebesar 52,95 digunakan untuk mengadsorpsi ion logam kadmium dengan pengaruh pH dan waktu kontak. Dari hasil penelitian terbukti bahwa kitosan dari limbah cangkang kepiting mampu mengadsorp ion logam kadmium. Kondisi terbaik penyerapan kadmium oleh kitosan diperoleh pada pH 5 selama 5 jam."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S49546
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andenko Utama
"Grease lithium merupakan salah satu jenis conventional grease yang memiliki kualitas dan kinerja yang sangat baik , dan saat ini merupakan jenis grease yang paling banyak digunakan, namun lithium memiliki beberapa kelemahan. Penambahan alkali tertentu dapat menjadi solusi untuk menutupi kelemahankelemahan tersebut, dengan menambahkan atau menggabungkannya dengan alkali yang dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang dimiliki, akan didapatkan jenis grease baru yang lebih baik. Calcium merupakan salah satu jenis alkali yang dapat digunakan untuk menutupi kekurangannya. grease.
Pada penelitian telah dilakukan pembuatan grease Li-Ca dimana tahapan pembuatan grease Li-Ca diawali dengan memasukkan lithium terlebih dahulu kedalam campuran base oil dan asam lemak, lalu dilanjutkan dengan penambahan calcium, dan dilakukan pengujian parameter mutu terhadap grease Li-Ca yang diperoleh yaitu, dropping point, penetrasi, oil separation, dan water washout.
Hasil uji analisis menunjukkan bahwa, dropping point grease Li-Ca yang berada diantara grease-Li dan grease-Ca, nilai penetrasi serta water washout yang memiliki karakteristik mutu yang mendekati grease-Li, serta menghasilkan grease yang karakteristik mutu oil separation yang mendekati grease-Ca."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S49730
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hans Wijaya
"Aditif bensin seperti TEL atau MTBE digunakan untuk menaikkan angka oktan agar pembakaran menjadi lebih baik. Aditif tersebut mulai dihindari karena memiliki efek yang berbahaya bagi lingkungan dan juga kesehatan manusia. Maka dari itu, pada penelitian ini aditif dibuat menggunakan bahan baku minyak sawit melalui tahap reaksi transesterifikasi. Kemudian dilakukan proses perengkahan menggunakan katalis H-zeolit dan reaksi nitrasi. Sehingga diharapkan terjadi produk sintesa yang memiliki angka oktan yang tinggi karena memiliki cabang nitrat. Pada penelitian ini proses pembuatan produk perengkahan dilakukan menggunakan alat berreaktor PFR yang berisi katalis H-zeolit dengan tujuan agar kontak antar katalis dengan umpan metil ester dapat terjadi dengan merata. Tujuan dari perancangan alat perengkahan secara semi-kontinyu adalah untuk dapat menghasilkan produk perengkahan yang seefisien mungkin sehingga dapat dikembangkan untuk skala masal (skala pabrik). Berdasarkan hasil penelitian, reaksi perengkahan terjadi pada suhu 320 _C yang ditandai dengan penambahan gugus C-H pada spektrum dengan nomor gelombang antara 3000-2840 cm-1 yang dibandingkan terhadap spektum antara 1750-1735 cm-1 yaitu gugus ester C=O. Kemudian pada uji densitas dan viskositas menunjukkan penurunan yang merupakan indikasi terjadinya perengkahan. Pada aditif bensin terjadi proses nitrasi yang ditandai dengan adanya spektrum FTIR antara 1661 sampai 1499 cm-1. Hasil harga O.N. dari pencampuran 5 % aditif terhadap bensin premium menyebabkan kenaikan angka oktan sebesar 4 poin yaitu dari 85 untuk bensin premium menjadi 89 setelah pencampuran aditif dimana hasil ini didapatkan dari percobaan menggunakan mesin uji CFR-F1 dengan metode uji ASTM D 2699 pada LEMIGAS Jakarta. Harga angka oktan aditif adalah 165 bila menggunakan perhitungan persamaan linier. Sedangkan dengan persamaan yang dikembangkan oleh Nasikin. M. adalah sebesar 123.83 O.N.-nya.

Gasoline additive such as TEL or MTBE is used to increase octane number so that the combustion become better. The additive began to be avoided because it have dangerous effects for environment and human being. Therefore, in this research the additive was produced using palm oil as its raw material through transesterification reaction. Then the cracking process used H-zeolit as catalyst and nitration reaction. So that it may has prospect to produce synthesized product which has high octane number because of the nitrate branch. In this research, the process to produce cracking products was using machine with PFR reactor which contain H-zeolit catalyst in order to reach a comprehensive contact between catalyst and methyl ester. The aim of designing semi continued cracking machine is for producing cracking products as efficient as possible so it can be developed for mass production. According to the result of this research, the cracking reaction occurred at 320 _C of temperature which marked by addition of C-H group at spectrum with wave number approximately 3000-2840 cm-1 compared with ester C=O group which spectrum?s wave number approximately 1750-1735 cm-1. Afterwards, a decrease was showed at density and viscosity test, indicating cracking process was happenned. In gasoline additive, occured nitration process which is marked by FTIR spectrum approximately 1661-1499 cm-1. O.N. value from mixing 5% additive to premium gasoline increasing octane number 4 points, from 85 for premium gasoline to 89 after the mixing of additive and premium gasoline. This result obtained from a test using CFR-F1 testing machine with ASTM D 2699 test method at LEMIGAS Jakarta. The additive octane number value was 165 if it is calculated with linear equation, while with the equation developed by Nasikin. M. the octane number is 123.83."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S49838
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Etika Rahayu Trias Asih
"Biometanol merupakan metanol yang berasal dari biomassa. Adanya gugus OH menjadikan kimia pembakaran metanol sebagai variasi yang menarik untuk diteliti seperti pembakaran hidrokarbon parrafin. Proses oksidasi dan pembakaran metanol menghasilkan produk intermediet maupun produk akhir yang melewati berbagai proses reaksi elementer.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan suatu model kinetika kimia untuk oksidasi dan pembakaran metanol, mendapatkan profil konsentrasi dan waktu tunda ignisi, serta mengetahui kondisi optimum dalam sistem pembakaran metanol. Selain itu, karena reaksi oksidasi dan pembakaran melibatkan banyak reaksi elementer maka perlu dilakukan identifikasi tahapan reaksi-reaksi penting malalui analisis sensitivitas dan analisis laju produksi. Mekanisme kinetika kimia untuk oksidasi dan pembakaran metanol telah dikembangkan.
Validasi hasil pemodelan dengan berbagai data percobaan dilakukan dengan menggunakan software Chemkin 3.7.1. Data tersebut berasal dari percobaan yang menggunakan reaktor alir dan shock tube dengan rentang suhu dari 781-2128 K, tekanan dari 1-15 atm serta rasio ekivalen ( _) dari 0,42-2,59. Secara umum, hasil validasi mekanisme menunjukkan bahwa model kinetika telah mereproduksi hasil percobaan dengan baik.
Hasil analisis sensitivitas memperlihatkan bahwa reaksi yang paling sensitif adalah reaksi percabangan rantai, H+O2-->OH+O, untuk tekanan rendah dan reaksi dekomposisi termal hidrogen peroksida, H2O2(+M)=OH+OH(+M), untuk tekanan tinggi. Hasil simulasi reaktor alir menunjukkan bahwa pembakaran tidak sempurna terjadi pada tekanan dan temperatur awal yang tinggi, serta campuran stoikiometri. Kemudian, hasil simulasi shock tube menunjukkan bahwa ignisi tercapai dengan cepat pada tekanan dan temperatur awal yang tinggi.

Biomethanol is methanol which comes from biomass. The existence of the OH group makes methanol combustion chemistry an interesting variation to study such as parrafin hydrocarbon combustion. Methanol oxidation produces many intermediate and final products through elementary reaction processes.
This study aims to get the kinetic model for methanol oxidation and combustion, to get concentration and ignition delay time profile, and also to know the optimum condition in methanol combustion system. In addition, oxidation and combustion reaction involve of many elementary reactions, so we have to identify the stages of important reactions by sensitivity and rate of production analysis. Chemical kinetic mechanism for methanol oxidation and combustion has been developed.
The validation of model results with multiple experimental data has been done by using Chemkin 3.7.1 software. The data are from flow reactor and shock tube experiments with range of temperature from 781-2128 K, pressure from 1-15 atm and equivalence ratio ( &oslach;) from 0,42-2,59. In general, mechanism validation results show that kinetic model has reproduced experimental results well.
Sensitivity analysis results show that the most sensitive reaction is chain branching reaction, H+O2-->OH+O, for low pressure and thermal decomposition reaction of hydrogen peroxide, H2O2(+M)=OH+OH(+M), for high pressure. Flow reactor simulation results show that parsial combustion happens at high initial pressure and temperature, and stoikiometric mixture. Then, shock tube simulation results show that ignition is reached fast at high initial pressure and temperature.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S49840
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Septi Murti
"Pemanfaatan tumbuhan-tumbuhan di Indonesia sementara ini hanya pada buah, biji, umbi, daun, kulit, dan bunga. Bagian tumbuhan yang lain seperti tongkol, batang, tangkai, sekam, dan jerami umumnya belum banyak dimanfaatkan. Bagian-bagian tumbuhan tersebut merupakan limbah hasil pertanian yang diantaranya banyak mengandung selulosa, yang dapat dimanfaatkan sebagai karbon aktif. Karbon aktif yang ada di pasaran harganya cukup mahal. Oleh karena itu, salah satu sumber alternatif yang dapat dijadikan karbon aktif adalah tongkol jagung yang berasal dari limbah pertanian. Hal ini sangat memungkinkan karena dilihat dari bahan yang dikandungnya tongkol jagung banyak mengandung selulosa yaitu sebesar 40 %.
Di Indonesia tongkol jagung diperkirakan akan terus meningkat jumlahnya, mengingat jagung menempati urutan kedua sebagai makanan pokok setelah beras. Karbon aktif yang diperoleh dari tongkol jagung ini, dikarakterisasi dengan menggunakan larutan iod untuk mengetahui penyerapannya terhadap molekulmolekul berdiameter kecil serta larutan metilen biru untuk mengetahui penyerapannya terhadap molekul-molekul berdiameter besar. Selain itu, juga dilakukan karakterisasi BET untuk mengetahui luas permukaan dan ukuran pori karbon aktif, karakterisasi kadar air, dan karakterisasi FT-IR. Aplikasinya dilakukan proses adsorpsi terhadap limbah uap amonia dan limbah cair krom. Pada penelitian ini dilakukan variasi ukuran karbon dan karbon aktif untuk karakterisasi dan aplikasinya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh karakterisasi optimum untuk karbon aktif ukuran 125 _m sebagai berikut : daya serap terhadap iodium 668,06 mg/g; daya serap terhadap metilen biru 71,38 mg/g; kadar air 5,64 %; luas permukaan BET 496,0789 m2/g dan ukuran pori BET 21,0932 _; karakterisasi FT-IR memperlihatkan bahwa masih terkotori oleh gugus fungsi lain dibandingkan dengan karbon aktif Merck. Untuk aplikasinya terhadap limbah uap amonia dan limbah cair krom diperoleh hasil daya serap terhadap limbah uap amonia dan limbah cair krom masing-masing sebagai berikut : 504,52 mg/g dan 6,68 mg/g.

Exploiting of plants in Indonesia this temporary only at fruit, seed, corn, leaf, skin, and interest. Part of other plant like cob, bar, handle, chaff, and hay generally has not many exploited. Parts of the plant is agricultural produce waste between by it many containing cellulose, what can be exploited as activated carbon. The activated carbon in marketing the price enough expensive. Therefore, one of source of alternative which can be made activated carbon is cob coming from agriculture waste. This thing very enables because seen from material contained of cob many containing cellulose that is 40 %.
In cob Indonesia is estimated would continuously increase the numbers, remembers corn to occupy second sequence as staple food after rice. Activated carbon obtained from this cob, characterization by using adsorption of iod to know the adsorption to molecules is having diameter is small and adsorption of blue methylene to know the adsorption to molecules is having diameter big. Besides, also is done BET's characterization to know surface area and pore measure of activated carbon, characterization of water content, and characterization FTIR. The application of adsorption process to ammonia vapour waste and chrome liquid waste. At this research done various measure of carbon and activated carbon for characterization and the its application.
From research result done obtained optimum characterization for measure activated carbon 125 _m as follows : adsorption to iodium 668,06 mg/g; adsorption to blue methylene 71,38 mg/g; water content 5,64 %; BET surface area 496,0789 m2/g and pore measure BET 21,0932 _; characterization FTIR shows that still be defiled by other functional group compared to activated carbon Merck. For the application of its to ammonia vapour waste and chrome liquid waste is obtained result of adsorption to each ammonia vapour waste and chrome liquid waste as follows : 504,52 mg/g and 6,68 mg/g.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S49103
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ameria Eviany
"Limbah katalis dari proses steam reforming dimana menggunakan katalis berbasis nikel yaitu NiO/Al2O3 memiliki kandungan berbahaya karena dapat mencemarkan lingkungan dan juga bersifat karsinogenik. Oleh sebab itu, diperlukan solusi untuk menanggulangi limbah tersebut agar keberadaan kandungan nikel dalam katalis dapat diserap dan dipergunakan kembali dalam bentuk logam murni. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengambilan kembali logam nikel dari spent catalyst NiO/Al2O3 dengan menggunakan kitosan sebagai adsorben. Hasil penelitian menunjukkan kondisi optimum proses leaching diperoleh pada konsentrasi H2SO4 1M, waktu kontak 90 menit dan temperatur 80°C. Optimum dari proses adsorpsi dengan kitosan diperoleh pada pH 4,3, waktu adsorpsi 90 menit, dan perbandingan solid-liquid 1:100. Pada desorpsi penggunaan asam H2SO4 1,5 M sebagai stripping agent dalam waktu 90 menit mampu mengekstrak logam nikel dari kitosan secara optimum. Kondisi optimum proses electrowinning diperoleh pada rapat arus 140,8 mA dalam waktu 90 menit.

Catalyst wastes from steam reforming process which use catalyst with nickel base, NiO/Al2O3, has dangerous contents which are carcinogenic and could pollutes the environment. Thus, the environment needs solutions to overcome the problems which could turn the existing of nickel from wastes to be reused as a pure nickel metals. The purpose of this research is to recovery nickel from spent catalyst NiO/Al2O3 using chitosan as the adsorbent. The results show the optimum conditions of leaching process are at concentration of H2SO4 1M, operation time 90 minutes and temperature at 80°C. Meanwhile, the optimum of adsorption process using chitosan are at pH 4.3, adsorption time 90 minutes, and ratio of solid and liquid 1:100. For stripping process, the using of sulfate acid 1.5 M as the stripping agent could optimally extract nickel metal from chitosan. The electro winning optimum conditions are at 140.8 mA and in 90 minutes as the operation time."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S52231
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>