Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Pramono Sigit
"Latar Belakang: Kadar Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (sVCAM-1) dan Soluble Intercellular Adhesion Molecule-1 (sICAM-1) diketahui meningkat pada pasien dengan stenosis mitral (SM). Namun, apakah kenaikan tersebut disebabkan oleh proses reumatik yang aktif ataukah karena pengaruh hemodinamik SM masih belum diketahui dengan jelas.
Tujuan: Meneliti pengaruh tingkat keparahan SM pada kadar sVCAM-1 dan sICAM-1
Metode: Penelitian ini berdesain potong lintang. Subjek penelitian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol normal, kelompok pasien yang akan menjalani Komisurotomi Mitral Transvena Perkutan (kelompok pre KMTP), dan kelompok pasca KMTP ≥ 1 tahun. Dilakukan pemeriksaan kadar sVCAM-1 dan sICAM-1 pada ketiga kelompok tersebut, dan pemeriksaan ekokardiografi untuk menilai tingkat keparahan katup mitral (Mitral Valve Area (MVA) mean Mitral Valve Gradient (mMVG), Tricuspid Valve Gradient (TVG), mean Pulmonary Artery Pressure (mPAP) dan Left Atrial Volume Index (LAVI)) pada kelompok pre KMTP dan kelompok pasca KMTP ≥ 1 tahun.
Hasil: Didapatkan 23 orang kontrol normal, 26 pasien kelompok pre KMTP, dan 27 pasien kelompok pasca KMTP ≥ 1 tahun.. Kadar sVCAM-1 dan sICAM-1 pada kelompok pasien dengan SM (kelompok pre dan pasca KMTP ≥ 1 tahun) lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol normal (536,87 ± 251,68 ng/ml vs 536,87 ± 149,22 ng/ml; p<0,001 dan 270,04 ± 111,67 ng/ml vs 216,43 ± 50,60 ng/ml; p=0,006). Namun tidak didapatkan perbedaan kadar sVCAM-1 dan sICAM-1 antara kelompok pre KMTP dengan kelompok pasca KMTP ≥ 1 tahun (854,67 ± 227,26 ng/ml vs 809,22 ± 275,63 ng/ml; p=0,515 dan 279,98 ± 114,39 ng/ml vs 260,49 ± 110,38 ng/ml; p=0,539) . Tidak didapatkan hubungan antara tingkat keparahan katup mitral (MVA, mMVG, TVG, mPAP dan LAVI) dengan kadar sVCAM-1 dan sICAM-1 (p>0,05).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antar tingkat keparahan katup mitral dengan kadar kadar sVCAM-1 dan sICAM-1

Background: Blood Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (sVCAM-1) and Soluble Intercellular Adhesion Molecule-1 (sICAM-1) levels are increased in Mitral Stenosis (MS) patients, but whether this phenomenon is due to chronic rheumatic inflammation process or because of hemodynamic effect of mitral stenosis severity is not clear yet.
Objective: This research aims to study the effect of mitral stenosis severity on blood sVCAM-1 and sICAM-1 levels.
Method: This study is a cross sectional study. Research subjects were divided into 3 groups: control patients, pre BMV (Baloon Mitral Valvulotomy) group, and post BMV group (patients who have already undergone BMV for ≥ 1year). Blood sVCAM-1 and sICAM-1 were measured using quantitative sandwich immunoassay method in all groups, and echocardiographic study to evaluate MS severity (MVA (Mitral Valve Area), mMVG (mean Mitral Valve gradient), TVG (Tricuspid Valve Gradient), mPAP (mean Pulmonary Artery Pressure), and LAVI (Left Atrial Volume Index) measurements were performed to pre BMV and post BMV group at the same day with the blood sample collections.
Results: There were 23 normal subjects, 26 patients in pre BMV group, and 27 patients in post BMV group. The sVCAM-1 and sICAM-1 levels in patients with MS (pre BMV and post BMV group) were higher than normal control subjects (536,87 ± 251,68 ng/ml vs 536,87 ± 149,22 ng/ml; p<0,001 and 270,04 ± 111,67 ng/ml vs 216,43 ± 50,60 ng/ml; p=0,006), meanwhile there were no differences of sVCAM-1 and sICAM-1 levels between pre BMV and post BMV group (854,67 ± 227,26 ng/ml vs 809,22 ± 275,63 ng/ml; p=0,515 dan 279,98 ± 114,39 ng/ml vs 260,49 ± 110,38 ng/ml; p=0,539). There were also no significant correlation between mitral stenosis severity (MVA, mMVG, TVG, mPAP dan LAVI) with sVCAM-1 and sICAM-1 levels (p>0,05).
Conclusion: There were no correlation between mitral stenosis severity with blood sVCAM-1 and sICAM-1 levels.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Rahayu Ningrum
"Latar belakang
Contrast media induced nephropathy (CIN) adalah komplikasi klinis akibat pemakaian media kontras. CIN menjadi semakin penting dengan makin banyaknya pemakaian media kontras pada prosedur diagnostik atau terapi intervensi, khususnya di bagian kardiologi. Penelitian tentang CIN yang sudah ada dilakukan di Eropa dan Amerika. Sedangkan di Indonesia data CIN belum ada dan faktor risiko untuk terjadinya CIN dijumpai pada pasien di bagian diagnostik invasif dan intervensi non bedah.
Tujuan penelitian
Mengetahui insidens CIN pada pasien yang dilakukan koroner-angiografi danlatau intervensi koroner perkutan, dan mengetahui faktor risiko yang berperanan.
Hipotesis dan manfaat penelitian
Pemakaian media kontras berhubungan dengan insidens CIN dan faktor risiko umur, jenis kelamin, DM, hipertensi, disfungsi ginjal, gagal jantung, anemia, status hidrasi yang kurang, infark miokard, media kontras, jenis tindakan berhubungan dengan terjadinya CIN.
Metodologi
Penelitian ini berupa quasi experimental (pre and post study), yang dilakukan pada 312 pasien di bagian invasif dan intervensi non bedah (laboratorium kateterisasi) RS Jantung dan PembuIuh darah Harapan Kita/Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK.UI yang menjalani koroner angiografi dan/atau intervensi koroner perkutan. Hasil yang dinilai adalah terjadinya kenaikan kreatinin serum sama dengan atau lebih dari 0,5 mg/dl pada hari ketiga setelah terpapar media kontras.
Hasil
Insidens CIN adalah 25% (79/312 orang) dengan insidens pada kelompok dengan faktor risiko 33% (51/156 orang) dan insidens pada kelompok tanpa faktor risiko 18% (28/156 orang). Hasil analisa univariat menunjukkan umur lanjut, hipertensi,lama hipertensi, DM, lama DM, anemia, status hidrasi, disfungsi ginjal, jenis kontras menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) dan hasil analisa multivariat menunjukkan umur lebih dari 60 tahun, hipertensi yang sudah berlangsung 5,5 tahun dan DM yang sudah terjadi 4,5 tahun bermakna untuk terjadinya CIN
Simpulan
Insidens CIN cukup tinggi di bagian invasif dan intervensi non bedah RSJPDHKIDepartemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular dengan faktor risiko yang paling berperanan adalah DM yang sudah terjadi 4,5 tahun, hipertensi yang sudah berlangsung 5,5 tahun dan usia lanjut lebih dari 60 tahun. Makin banyak faktor risiko yang dimiliki seseorang makin besar prediksi untuk terjadinya CIN.

Background
Contrast media induced nephropathy (CIN) is a clinical complication due to the use of contrast media. With the increasing role of contrast media in diagnostic and intervention procedures, especially in the field of cardiology, CIN has become more important. Most studies a CIN were performed in Europe and US; currently in Indonesia data on this matter is limited while patients who undergo procedures in the Department of invasive diagnostic and non-surgical intervention are constantly at risk for this complication.
Aim of study
To investigate the incidence of CIN in patients who undergo coronary angiography and/or percutaneous coronary intervention, and to know the contributing risk factors.
Hypothesis and benefit of the study
The use of contrast media is related to the incidence of CIN. Age, sex, diabetes mellitus, hypertension, kidney dysfunction, heart failure, anemia, insufficient hydration level, myocardial infarction, the type of contrast media and the type of the procedure are the risk factors contributing to the incidence of CIN
Methods
This is a longitudinal prospective Cohort study on 312 patients in the Department of invasive diagnostic and non-surgical intervention of National Cardiovascular Center Harapan Kita/Department of Cardiology and Vascular Medicine, Faculty of Medicine University of Indonesia, March-May 2006 who undergo coronary angiography and/or percutaneous coronary intervention. We define CIN as an increase of plasma creatinine level of 0.5 mg/dl or more on the first three days after exposure to contrast media.
Results
Incidence of CIN was 25% (79 of 312 patients), with the incidence in the risk factor group was 33% (51 of 156 patients) and in the non risk factor group was 18% (28 of 156 patients). Uni variate analysis showed that advanced age, hypertension, duration of hypertension, diabetes mellitus, duration of diabetes mellitus, anemia, hydration status, underlying kidney dysfunction, and type of contrast media are significant risk factors for CIN While in the multivariate analysis the significant risk factors are advanced age (more than 60 years), 5.5 years hypertension, and diabetes mellitus that last 4, 5 years.
Conclusion
Incidence of CIN is relatively high in the Department of invasive diagnostic and non-surgical intervention of National Cardiovascular Center Harapan Kita/Department of Cardiology and Vascular Medicine, University of Indonesia. The contributing risk factors are advanced age more than 60 yearse,4.5 years hypertension, and diabetes mellitus that last 4.5 years. CIN is more likely to occur with an increasing number of risk factors.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18172
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Dian Andina Munawar
"Latar Belakang. Pada pasien gagal jantung refrakter yang disertai gangguan konduksi intraventrikular, Terapi Resinkronisasi Jantung (Cardiac resynchroni-zation therapy,CRT) diketahui merupakan cara yang efektif dalam memperbaiki kelas fungsional, fraksi ejeksi ventrikel kiri, uji jalan 6 menit, kualitas hidup, dan mengurangi angka hospitalisasi gagal jantung, serta angka mortalitas karena berkurangnya progresivitas penyakit tersebut. Namun demikian persoalan non-responder pasca-CRT masih merupakan masalah yang belum terselesaikan. Tujuan studi ini adalah untuk mengevaluasi ada atau tidaknya reverse remodeling yang ditunjukkan dengan disinkroni mekanis pasca-CRT dihubungkan dengan kapasitas fungsional pasien.
Metodologi. Merupakan studi kroseksional dan retrospektif yang dilakukan di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta. Semua pasien yang dilakukan pemasangan dari Januari 2008-Oktober 2012 dimasukkan dalam penelitian ini. Data pasien diambil dari data base rumahsakit, termasuk data klinis, EKG, ekokardiografi pra-pemasangan, dan data prosedur pemasangan. Disinkroni intraventrikular, interventrikular, dan atrioventrikular diukur melalui pemeriksaan ekokardiografi dengan Tissue Doppler Imaging (TDI). Kapasitas fungsional diukur melalui kelas fungsional NYHA serta uji jalan 6 menit. Pemeriksaan TDI, penilaian kelas fungsional NYHA dan uji jalan 6 menit dilakukan sedikitnya 6 bulan setelah pemasangan CRT.
Hasil. Selama periode penelitian, sebanyak 32 pasien ikut dalam penelitian ini. Tidak ada komplikasi pemasangan. Rerata umur subjek adalah 60,3 + 13,5 tahun. Proporsi disinkroni yang masih terjadi pada subjek adalah 24 orang (75%) untuk disinkroni intraventrikular, 25 orang (78,1%) untuk disinkroni interventrikular, serta 11 orang (34,4%) pada disinkroni atrioventrikular. Rerata nilai Indeks Yu yang menggambarkan disinkroni intraventrikular berdasarkan kapasitas fungsional baik dan buruk secara berurutan adalah 39,04 + 10,69 vs 59,17 + 8,01 (p=0,001). Sedangkan untuk disinkroni interventrikular dan atrioventrikular sebesar 26,07 + 16,17 mdet vs 32,83 + 45,45 mdet (p=0,631) dan 42,76 + 8,65 vs 44,98 + 12,34 (p=0,485). Grafik korelasi linier menunjukkan bahwa adanya peningkatan disinkroni intraventrikular, berkorelasi kuat dengan penurunan kemampuan kapasitas fungsional yang ditunjukkan dalam uji jalan 6 menit (r=0,56;p=0,001).
Kesimpulan. Disinkroni intraventrikular yang menetap pasca-pemasangan CRT berhubungan dengan kapasitas fungsional yang lebih buruk.

Background. Cardiac resynchronization therapy (CRT) is an effective method in management of refractory heart failure with intra-ventricular conduction delay. It will increase functional class, left ventricular ejection fraction (LVEF), six minute walk test, and quality of life, and also decrease hospitalization and mortality rate due to heart failure, and prevent the progression of the disease. However, non-responder after CRT implantation is still a big problem. Aim of this study is to evaluate reverse remodeling after CRT implantation and the correlation with functional capacity of the patients.
Method. This is a cross-sectional and retrospective study which was held in National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta. The subject are patients with diagnosis of refractory heart failure who performed CRT implantation between January 2008-October 2012. The data was recorded from medical record, include clinical data, electrocardiography, echocardiography pre-implantation, and implantation procedure. Intra-ventricular, inter-ventricular, and atrio-ventricular dyssynchrony was assessed by tissue Doppler imaging (TDI) echocardiography. Functional capacity was evaluated with New York Heart Association (NYHA) functional class and six minute walk test which performed at least 6 months after implantation.
Results. A total of 32 patients were included in this study, with mean age of 60,3 + 13,5 years. Intra-ventricular dyssynchrony were persisted on 24 subjects (75%), meanwhile interventricular and atrioventricular dyssyncrony was 25 subjects and 11 subjects (78,1% and 34,4%). We found a significant correlation of intraventricular dyssynchrony, which was showed by Indeks Yu, in group with good and poor functional capacity with mean of 39,04 + 10,69 and 59,17 + 8,01, respectively (p=0,001). Meanwhile, mean inter-ventricular dyssynchrony in good functional capacity group and poor functional capacity were 26,07 + 16,17 mdet vs 32,83 + 45,45 mdet (p=0,631), and atrio-ventricular dyssynchrony were 42,76 + 8,65 vs 44,98 + 12,34 (p=0,485). Linear correlation graph showed increasing of intraventricular dyssynchrony will decrease the functional capacity assessed by six minute walk test.
Conclusion. The presence of intraventricular dyssynchrony after CRT implantation correlates with poor functional capacity.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Haryanto
"Latar Belakang. Takikardia dengan kompleks QRS lebar adalah gambaran EKG yang cukup sering kita temukan. Secara umum ada 3 aritmia yang dapat menyebabkan gambaran takikardia dengan kompleks QRS lebar yaitu: takikardia ventrikel, takikardia supraventrikel dengan aberansi dan takikardia supraventrikel dengan preksitasi. Ketiga aritmia ini penting untuk dibedakan karena memiliki kemaknaan klinis yang sangat berbeda. Berbagai cara sudah diteliti untuk membedakan ke tiga aritmia ini, cara yang sampai saat ini paling sering dipakai adalah dengan menggunakan algoritme ekektrokardiografi. Ada berbagai algoritme yang dapat digunakan, namun sampai sekarang hanya sedikit penelitian yang membandingkan akurasi dari algoritme-algortime tersebut. Penelitian ini akan membandingkan akurasi tiap algoritme-algoritme tersebut dan apabila memungkinkan menyusun suatu algortime baru yang akurat dan mudah digunakan.
Metode. Seluruh sampel EKG takikardia dengan kompleks QRS lebar dari bulan Juni 2009 sampai Juni 2013 yang telah menjalani studi elektrofisiologi di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, yaitu sebanyak 62 sampel di analisis oleh 2 orang dengan menggunakan algoritme Brugada, Vereckei, aVR dan R II Wave Peak Time (RIIPWT). Dilakukan analisis tes diagnostik, bivariat dan multivariat untuk tiap-tiap karakteristik EKG dari ke 4 algoritme tersebut. Dari analisa tersebut dibentuklah suatu algoritme baru yang terstruktur dan kemudian dilakukan validasi ulang dengan 56 EKG takikardia dengan kompleks QRS lebar yang berbeda.
Hasil. Dalam penelitian ini, hasil tes diagnostik algoritme Brugada memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup baik (85.42%; 85.71%), sementara algortime Vereckei memiliki sensitivitas yang paling tinggi (93.73%). Untuk analisis pada tiap-tiap karakteristik EKG didapatkan 4 kriteria EKG memiliki spesifisitas sampai 100%. Pada analisis multivariat didapatkan kriteria EKG adanya gelombang r/q > 40ms pada sadapan aVR dan rasio vi/vt bermakna secara statistik. Kemudian berdasarkan hasil analisis tes diagnostik, multivariat, dan kappa inter dan intra observer dibuatlah algortime baru. Hasil validasi tes diagnostik mendapatkan sensitivitas, akurasi dan Likelihood Ratio algortime baru lebih tinggi dari algoritme-algoritme sebelumnya.
Kesimpulan. Karakteristik EKG yang paling bermakna secara statistik untuk membedakan VT dan SVT dengan aberansi pada takikardia dengan kompleks QRS lebar adalah adanya gelombang r/q > 40 ms di sadapan aVR dan rasio vi/vt. Algoritme baru yang dibuat berdasarkan keempat algoritme lainnya memiliki sensitivitas, akurasi, dan likelihood ratio yang lebih tinggi dari keempat algortime lainnya.

Background. Wide complex tachycardia is a quite common rhythm that we could find in ECG. Generally there are three arrhytmia that could cause such rhythm in ECG which are: ventricular tachycardia, supraventricular tachycardia with abberancy, supraventricular tachycardia with preexcitation. It is of the utmost importance to be able to differentiate this rhythms for they hold a very different clinical value. Many methods was used to differ this three arrhytmia, among all of them the electrocardiography algorthytm was one of the most commonly used. This study will compared all the accuracy of the previous algorhythms and if possible to developed a new accurate and simple algorhythm based on the previous algorhythm.
Method. All wide QRS complex tachycardia electrocardiography spanning from June 2009 up until June 2013 whose diagnosis confirmed by electrophysiology study at National Heart Center Harapan Kita with the sum of 62 samples were analyzed by 2 researcher using the Brugada, Vereckei, aVR, and R II Peak Wave Time. Diagnosis test was then performed with bivariat and multivariat analysis for every ECG criteria from the four previous algorhythm. From the previous analysis a new and structured algorhythm was formed and validity test was performed afterward using a different set of 56 wide QRS complex tachycardia.
Result. From the diagnostic analysis, the Brugada algorhythm come out with a formidable sensitivity dan specificity (85.42%; 85.71%), while the Vereckei algorhythm has the highest sensitivity (93.73%). There are four ECG criteria with 100% specificity. The multivariat analysis reveal two statistically significant ECG criteria which are the existence of r or q wave > 40 ms in the aVR lead and the vi/vt ratio. Based on the multivariat analysis, and kappa inter and intra observer, new algorhythm was formed. The Validity test afterward reveal the sensitivity, accuracy and likelihood ratio of the new algorhythm were superior compared with the previous algorhythm.
Conclusion. The most statitiscally significant ECG characteristic for differentiating VT and SVT with abberancy in wide QRS complex tachycardia were are the existence of r or q wave > 40 ms in the aVR lead and the vi/vt ratio. The new algorhythm build based on the four previous algorhythm has superior sensitivity, accuracy, and likelihood ratio compared with the previous algorhythms.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T58583
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elen
"Latar belakang. Hubungan antara inflamasi dan koagulasi telah banyak dijelaskan, dimana molekul adhesi memiliki peranan penting dalam inflamasi. Soluble intercellular adhesion molecule-1 (sICAM-1) dan soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) tampak berkaitan dengan trombosis pada beberapa penelitian sebelumnya. Molekul-molekul tersebut meningkat pada stenosis mitral (SM) namun bagaimana hubungannya dengan derajat trombosis atrium kiri belum diketahui.
Metode. Pasien SM derajat sedang-berat (tanpa adanya regurgitasi mitral signifikan) yang menjalani pemeriksan ekokardiografi transesofageal diikutsertakan secara konsekutif sejak September-Oktober 2013. Penilaian gradasi trombosis atrium kiri dilakukan untuk mengkategorikan mereka menjadi kelompok non-trombus dengan left atrial spontaneous echo contrast (LASEC) tebal, dan kelompok non-trombus tanpa LASEC tebal, dan kelompok trombus. Kadar sICAM-1 dan sVCAM-1 dari vena perifer diukur dengan teknik enzymelinked immunosorbent assay.
Hasil. Sebanyak 39 subyek penelitian dengan rerata usia 40,97±9,61 tahun, 71,8% berjenis kelamin perempuan, dan 67,7% memiliki irama fibrilasi atrium. Evaluasi terhadap gradasi trombosis atrium kiri (kelompok non-trombus tanpa LASEC tebal, kelompok non-trombus dengan LASEC tebal, dan kelompok trombus) menunjukkan kadar sICAM-1 sebesar 284,74 (218,79-321) ng/mL, 346,86 (125,68-698,12) ng/mL, dan 395,93 (171,44-1021,53) ng/mL secara berurutan (p=0,280). Kadar sVCAM-1 pada 3 kelompok tersebut sebesar 729,01 (543,93-967,8) ng/mL, 1066 (581,36-2470,6) ng/mL, dan 1158 (668,66-2498,3) ng/mL secara berurutan (p=0,016). Analisis multivariat menunjukkan fibrilasi atrium dan area katup mitral yang mempengaruhi gradasi trombosis.
Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar sVCAM-1 pada kelompok menurut gradasi trombosis atrium kiri pada SM, namun pengaruh sVCAM-1 terhadap gradasi trombosis atrium kiri dipengaruhi oleh fibrilasi atrium dan area katup mitral.

Background. The relationship between inflammation and coagulation has been widely described while adhesion molecules takes important role in inflammation. Soluble intercellular adhesion molecule-1 (sICAM-1) and soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) seemed to be related to thrombosis in previous studies. Those molecules increase in mitral stenosis (MS) but their relationship with left atrial thrombosis gradation is still unknown.
Methods. Patients with moderate-severe MS (without any significant mitral regurgitation) who underwent transesophageal echocardiography were recruited consecutively in September-October 2013. They were divided into three categories of left atrial thrombosis gradation: non-thrombus without dense LASEC group, non-thrombus with dense LASEC group, and thrombus group. sICAM-1 and sVCAM-1 levels in peripheral vein were determined by enzymelinked immunosorbent assay technique.
Results. A total of 39 subjects were enrolled in this study with a mean age of 40,97±9,61 year, 71,8% of them were female, and 67,7% of them had atrial fibrillation. Evaluation on left atrial thrombosis gradation (non-thrombus with dense LASEC group, non-thrombus without dense LASEC group, and thrombus group) showed that sICAM-1 levels were 284,74 (218,79-321) ng/mL, 346,86 (125,68-698,12) ng/mL, and 395,93 (171,44-1021,53) ng/mL, cosecutively (p=0,280). sVCAM-1 levels were 729,01(543,93-967,8) ng/mL, 1066 (581,36-2470,6) ng/mL, and 1158 (668,66-2498,3) ng/mL, consecutively (p=0,016). Multivariate analysis showed that AF and MVA influence thrombosis gradation.
Conclusion. Difference in sVCAM-1 levels was found among left atrial thrombosis gradation groups in mitral stenosis, but its effect on thrombosis gradation was influenced by atrial fibrillation and mitral valve area.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Olfi Lelya
"Latar belakang. Timbulnya stasis darah dan pembesaran atrium kiri menyebabkan peningkatan angka kejadian trombus di atrium kiri dan apendiks atrium kiri (Left Atrial Appendage-LAA) pada SM. Diameter atrium kiri yang membesar disebutkan sebagai faktor terjadinya pembentukan LASEC dan meningkatkan angka kejadian tromboemboli. Selain itu adanya stasis darah yang dibuktikan dengan penurunan ejeksi fraksi LAA dan kecepatan aliran darah LAA dapat mencetuskan timbulnya trombus. Perubahan moluker adhesi sICAM-1 dan sVCAM-1 berhubungan dengan kejadian tromboemboli. Tetapi apakah terdapat hubungan antara peran hemodinamik, terutama terhadap diameter, fraksi ejeksi dan kecepatan aliran darah pada LAA dengan kadar molekul adhesi seperti sICAM-1 dan sVCAM-1 belum terjawab.
Metode. Pasien SM derajat sedang-berat (tanpa adanya regurgitasi mitral signifikan) yang menjalani pemeriksan ekokardiografi transesofageal diikutsertakan secara konsekutif sejak Januari-April 2014. Penilaian fungsi apendiks atrium kiri dilakukan dengan pemeriksaan transesofageal ekokardiografi. Kadar sICAM-1 dan sVCAM-1 dari vena perifer diukur dengan teknik enzyme-linked immunosorbent assay.
Hasil. Sebanyak 26 subyek penelitian dengan rerata usia 38,92±11,93 tahun, 65,3% berjenis kelamin perempuan, dan 46,1% memiliki irama fibrilasi atrium. Dengan sampel tersebut, didapatkan tidak ada hubungan antara komponen fungsi apendiks atrium kiri, baik diameter, ejeksi fraksi, dan kecepatan aliran darah LAA dengan kadar sICAM-1. Tidak terdapat hubungan antara fungsi LAA pada variabel diameter dengan kadar sVCAM-1. Terdapat hubungan terbalik antara ejeksi fraksi LAA dengan kadar sVCAM-1 (-0,21, p=0.038, 95%KI -0,41- -0,01) dan hubungan terbalik antara kecepatan aliran darah LAA dengan kadar sVCAM-1 (-0,29, p=0,048, 95%KI -0,59- -0,003).
Kesimpulan. Semakin rendah ejeksi fraksi dan kecepatan aliran darah LAA maka semakin tinggi kadar sVCAM-1.

Background: Blood stasis and left atrial enlargement increase the incidence of thrombus in the left atrium and left atrial appendage (LAA). Enlargement of left atrial diameter is a factor for LASEC formation and increase the incidence of thromboembolism. Blood stasis which evidenced by a decrease in ejection fraction and LAA blood flow velocity can trigger the presence of thrombus. Changes in soluble adhesion molecules sICAM-1 and sVCAM-1 associated with thromboembolic events. But relationship between the role of hemodynamics, especially the ejection fraction and blood flow velocity in the LAA with the levels of adhesion molecules such as sICAM-1 and sVCAM-1 is not well understood.
Methods: Patient with moderate-severe Mitral Stenosis (in the absence of significant mitral regurgitation) underwent transesophageal echocardiography from January to April 2014. Levels of sICAM-1 and sVCAM-1 from peripheral vein were measured by enzyme-linked immunosorbent technique assay.
Results: A total of 26 subjects with a mean age of 38.92 ± 11.93 years, 65.3% female, and 46.1% had atrial fibrillation. We found no association between components of left atrial appendage function: diameter, ejection fraction and blood flow velocity of LAA with sICAM-1 levels. There was no relationship between the LAA function in the variable diameter of LAA with sVCAM-1 levels. There is an inverse relationship between ejection fraction of LAA and levels of sVCAM-1 (-0.21, p = 0.038, 95% KI -0,41- -0,01) and an inverse association between LAA blood flow velocity and levels of sVCAM-1 (-0 , 29, p = 0.048, 95% KI -0.59 - 0.003).
Conclusion: Low ejection fraction of LAA is associated with higher the levels of sVCAM-1. Low LAA blood flow velocity is associated with higher the levels of sVCAM-1.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Murdiati
"ABSTRAK
Latar belakang. Mean Platelet Volume (MPV) adalah penanda ukuran aktivitas
platelet. MPV yang lebih besar menunjukkan platelet aktif dan lebih adhesif.
Peningkatan MPV berhubungan dengan peningkatan angka kematian akibat
arterosklerosis, termasuk IMA-EST. Intervensi koroner perkutan primer (IKPP)
merupakan standar terapi pada IMA-EST. Tetapi pada IKPP terdapat masalah
Obstruksi Mikrovaskular (OMV) yang signifikan. Penelitian ini bertujuan
mengetahui hubungan antara MPV dengan MB QuBE pada pasien IMA-EST
yang menjalani IKPP.
Metode dan Hasil. Tujuh puluh dua pasien (umur 30 sampai 80 tahun) dengan
IMA-EST dengan awitan kurang dari 12 jam diikutkan dalam studi ini. Setelah
dilakukan IKPP dilakukan pemeriksaan myocardial blush (MB) dengan QuBE
dan dilihat hubungannya dengan nilai MPV. Hasil penelitian ini didapatkan hasil
rerata MPV adalah 9,6 fl, rerata QuBE adalah 15,3. Analisa hubungan MPV
dengan MB QuBE memakai regresi Spearman didapatkan r= 0,03, P=0,78.
Kesimpulan. Pada populasi ini tidak terdapat hubungan antara MPV dengan nilai
QuBE dalam menilai MB pasca reperfusi.

ABSTRACT
Background. Mean Platelet Volume (MPV) is a marker of platelet activity. MPV
showed greater platelet and more active platelet and adhesive. Increased MPV is
associated with increased mortality due to atherosclerosis, including IMA-EST.
Primary percutaneous coronary intervention (PPCI) is a standard therapy in IMAEST.
But there is a problem on PPCI were microvascular obstruction (MVO)
became significant. This study aims to determine the relationship between MPV
with MB QuBE in patients undergoing PPCI.
Methods and Results. Seventy-two patients (aged 30 to 80 years) with IMAEST
with onset less than 12 hours were included in this study. After PPCI
examination myocardial blush (MB) with QuBE was done due to views related to
MPV value. The results of this research, the average of MPV was 9.6 fl, QuBE
average is 15.3. Statistic analysis using Spearman regression to look relationship
between MPV with MB QuBE obtained with result r = 0.03, P = 0.78.
Conclusion. MPV values in this population on the initial entry no relationship
with QuBE in assessing the value of post-reperfusion MB."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Taka Mehi
"[ABSTRAK
Latar belakang : Pada masa sekarang, reperfusi miokardium dengan trombolitik
atau intervensi koroner perkutan primer ( IKPP) adalah terapi utama pada pasien
yang mengalami IMA EST. Tujuan utama IKPP untuk mengembalikan patensi
arteri epikardial yang mengalami infark dan mencapai reperfusi mikrovaskular
secepat mungkin. Namun keberhasilan mengembalikan patensi dari arteri koroner
epikardial setelah oklusi tidak selalu menjamin cukupnya reperfusi ke level
mikrovaskular, yang disebut sebagai fenomena no reflow atau microvascular
obstruction (MVO). Terdapat dua mekanisme yang berperan pada no reflow
yaitu disfungsi mikrovaskular dan kerusakan intergritas mikrostruktur endotel.
Kerusakan endotel dapat diakibatkan berbagai hal, diantara nya jejas reperfusi
yang akan mengaktivasi netrofil. Netrofil teraktivasi akan mengeluarkan radikal
bebas oksigen, enzim proteolitik dan mediator proinflamasi yang secara langsung
menyebabkan kerusakan jaringan dan endotel. Trimetazidine adalah obat
antiangina yang dapat menurunkan netrofil yang dimediasi oleh trauma jaringan
setelah jantung mengalami iskemia. Akan tetapi belum diketahui secara luas
pengaruh pemberian trimetazidine terhadap akumulasi netrofil pada kejadian IMA
EST yang dilakukan tindakan IKPP.
Metode : Sebanyak 68 pasien IMA EST yang menjalani IKPP dipilih secara
konsekutif sejak Januari 2015 sampai Juni 2015 diambil saat masuk UGD,
dilakukan pengambilan darah vena perifer untuk menghitung jumlah netrofil
sebelum IKPP, kemudian pasien menjalani IKPP. Setelah 6 jam paska IKPP
dilakukan pengambilan kembali darah vena perifer untuk menghitung kembali
jumlah netrofil paska IKPP. Hitung netrofil diperiksa dengan Sysmex 2000i.
Perhitungan statistik dinilai dengan SPSS 17.
Hasil : Dari 68 subyek, dibagi menjadi 28 subyek pada kelompok yang diberikan
trimetazidine dan 40 subyek yang diberikan plasebo. Tidak didapatkan perbedaan
jumlah netrofil pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol baik sebelum
maupun sesudah IKPP, netrofil pre IKPP pada trimetazidine vs plasebo 10.71 ±
3.263 vs 10.99 ± 3.083,nilai p:0,341. Nilai netrofil post IKPP pada trimetazidine
vs plasebo 9.49 ± 3.135 vs 9.92 ± 3.463,nilai p:0,664.
Kesimpulan : Tidak terdapat penurunan jumlah netrofil pasca pemberian
trimetazidine pada pasien IMA EST yang menjalani IKPP.

ABSTRACT
Background
Nowadays, reperfusion strategy, either with thrombolytic or Primary Percutaneous
Coronary Intervention (PPCI), is the core treatment for Acute ST-Segment
Elevation Myocardial Infarct (STEMI). The goal of PPCI is to restore the patency
of infarcted epicardial artery and establish microvascular reperfusion as soon as
possible so that necrotic myocardial area can be reduced. However, successful
restoration of infarcted epicardial artery is not always followed by enough
reperfusion to the microvascular part. Trimetazidine is an antianginal drug, can
reduce neutrophil which was mediated by tissue trauma during ischemic heart
condition. Trimetazidine is currently approved and widely known as antianginal
drug which affect metabolism. Unfortunately, its influence over neutrophil
accumulation in acute STEMI patients which undergo PPCI is not well
understood.
Method
There were 68 consecutive-selected acute STEMI patients which undergo PPCI
since January 2015 until Juni 2015. They were admitted in emergency department.
Peripheral vein blood sampling was taken to measure neutrophil before PPCI was
performed. Six hour after PPCI was conducted, another peripheral vein blood
sampling was taken for another neutrophil measurement. Neutrophil measurement
was performed with Sysmex 2000i. Statistical analysis was performed by using
SPSS 17.
Result
Among 68 patients, divided in two groups, trimetazidine 28 patients and plasebo
40 patients. There were no differences amount of neutrophils in trimetazidine or
plasebo group, before or after PPCI. Neutrophil pre PPCI in trimetazidine vs
plasebo group 10.71 ± 3.263 vs 10.99 ± 3.083, p:0,341. Neutrophil post PPCI in
trimetazidine vs plasebo group 9.49 ± 3.135 vs 9.92 ± 3.463, p:0,664.
Conclusion
There were no reducing amount of neutrophils after trimetazidine was given in
patients STEMI which underwent PPCI., Background
Nowadays, reperfusion strategy, either with thrombolytic or Primary Percutaneous
Coronary Intervention (PPCI), is the core treatment for Acute ST-Segment
Elevation Myocardial Infarct (STEMI). The goal of PPCI is to restore the patency
of infarcted epicardial artery and establish microvascular reperfusion as soon as
possible so that necrotic myocardial area can be reduced. However, successful
restoration of infarcted epicardial artery is not always followed by enough
reperfusion to the microvascular part. Trimetazidine is an antianginal drug, can
reduce neutrophil which was mediated by tissue trauma during ischemic heart
condition. Trimetazidine is currently approved and widely known as antianginal
drug which affect metabolism. Unfortunately, its influence over neutrophil
accumulation in acute STEMI patients which undergo PPCI is not well
understood.
Method
There were 68 consecutive-selected acute STEMI patients which undergo PPCI
since January 2015 until Juni 2015. They were admitted in emergency department.
Peripheral vein blood sampling was taken to measure neutrophil before PPCI was
performed. Six hour after PPCI was conducted, another peripheral vein blood
sampling was taken for another neutrophil measurement. Neutrophil measurement
was performed with Sysmex 2000i. Statistical analysis was performed by using
SPSS 17.
Result
Among 68 patients, divided in two groups, trimetazidine 28 patients and plasebo
40 patients. There were no differences amount of neutrophils in trimetazidine or
plasebo group, before or after PPCI. Neutrophil pre PPCI in trimetazidine vs
plasebo group 10.71 ± 3.263 vs 10.99 ± 3.083, p:0,341. Neutrophil post PPCI in
trimetazidine vs plasebo group 9.49 ± 3.135 vs 9.92 ± 3.463, p:0,664.
Conclusion
There were no reducing amount of neutrophils after trimetazidine was given in
patients STEMI which underwent PPCI.]"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rusydi
"Latar Belakang : Deteksi adanya penyakit jantung koroner PJK pada pasien bradikardi simptomatik yang memerlukan pemasangan pacu jantung permanen perlu diketahui secara dini. Saat ini penggunaan modalitas canggih seperti kateterisasi jantung dan CT kardiak menjadi pilihan utama dalam deteksi adanya PJK pada pasien blok nodus atrioventrikular AV total namun dengan risiko dan biaya yang masih relatif mahal. Gambaran fragmentasi kompleks QRS fQRS pada elektrokardiografi berkaitan dengan adanya jaringan parut atau iskemia pada miokard, namun belum ada studi sebelumnya yang menghubungkan fQRS dengan PJK pada pasien blok nodus AV total yang akan dilakukan pemasangan pacu jantung permanen. Tujuan : Mengetahui hubungan antara fragmentasi kompleks QRS dengan penyakit jantung koroner pada pasien dengan blok nodus AV total yang memerlukan pemasangan pacu jantung permanen. Metode : Penelitian ini merupakan studi analitik kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder rekam medis pasien blok nodus AV total yang sudah dilakukan tindakan pemasangan pacu jantung permanen dan angiografi koroner di Rumah Sakit PJN Harapan Kita. Penelitian dilakukan pada bulan April-Agustus 2017. Dilakukan pencatatan karakteristik pasien, faktor-faktor yang diketahui mempengaruhi kejadian PJK serta hasil pemeriksaan ekokardiografi dan angiografi koroner. Pembacaan ekg dilakukan oleh dua orang spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan di divisi aritmia. Hasil : Total sampel penelitian ini adalah 46 sampel yang terdiri atas 23 kasus dan 23 kontrol. Gambaran fQRS pada pasien blok nodus AV total menunjukkan kecenderungan 2,4 kali mengalami PJK dibandingkan dengan yang tanpa fQRS, walaupun secara statistik memperlihatkan hasil yang tidak bermakna OR = 2,4; p = 0,236 . Hasil uji Kappa menunjukkan kesepakatan yang baik kedua observer dengan nilai Kappa inter-observer 0,487 serta intra-observer 0,737 dan 0,783. Kesimpulan : Fragmentasi kompleks QRS pada pasien blok nodus AV total memiliki kecenderungan 2,4 kali untuk prediksi PJK namun tidak bermakna secara statistik.Kata Kunci : Fragmentasi kompleks QRS, penyakit jantung koroner, blok nodus AV total, pacu jantung permanen

Background Detection of coronary artery disease CAD in symptomatic bradycardia patients requiring permanent pacemaker implantation should be known early. Currently the use of advanced modalities such as cardiac catheterization and cardiac CT are the primary choice in detection of CAD in total atrioventricular blok patients with relatively high cost and risk. The description of fragmented QRS complex fQRS in electrocardiography associated with the presence of ischemia or scar in the myocardium that can be an alternative detection of CAD in patients with total AV block requiring permanent pacemaker implantation. Objectives To determine the relationship between fragmented QRS complex and coronary artery disease in patients with complete atrioventricular AV nodal block requiring permanent pacemaker implantion. Methods This study is an analytic study of case control using secondary data of medical record of complete AV block patients who have performed permanent pacemaker and coronary angiography at PJN Harapan Kita hospital. The study was conducted in April Agustus 2017. Recorded patient characteristics, factors known to influence CAD events as well as results of echocardiography and coronary angiography. The EKG readings were performed by two cardiologist consultants in the arrhythmia division. Results The total sample of this study was 46 consisting of 23 case and 23 control. The description of Fqrs in patients with total AV nodal block showed a trend of 2.4 times for CAD prediction compared with those without Fqrs, although statistically showed a non significant OR 2.4 p 0.236 . Kappa test results showed good agrreement both observers with Kappa inter observer value 0.487 and intra observer 0.737 and 0.783. Conclusion Fragmented QRS complex in patients with complete AV nodal block had a tendency of 2.4 times for CAD prediction but statistically not significant. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>