Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 25 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mochamad Ariefianto
"Penelitian mengenai ragam hias perunggu prasejarah koleksi Museum Nasional Jakarta, bertujuan untuk mengetahui persebaran berbagai macam ragam hias dan keterat_uran-keteraturan yang ada pada benda-benda perunggu tersebut, serta hubungan antara suatu jenis ragam hias dengan benda-benda perunggu itu sendiri. Pengumpulan data dilakukan terbatas terhadap benda perunggu prasejarah ber_hias koleksi Museum Nasional Jakarta. Kemudian masing-masing hiasan tersebut dikumpulkan dan dikelompokkan ke dalam kelas-kelas tertentu, yang untuk selanjutnya dilihat persebaran serta gejala-gejala yang muncul di dalamnya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ragam hias geometris terdapat pada setiap jenis benda perunggu prasejarah, sedangkan teknik hias yang banyak dipergunakan pada hampir disetiap jenis benda perunggu prasejarah adalah teknik hias cetak."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1994
S11952
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tarida Diami
"Menunjkan bahwa ada 6 kelompok tanda, 2 teknik pembuatan tanda, 2 letak tanda. Tanda-tanda tersebut berupa bentuk geometris, tanaman, hewan, manusia, bangunan dan peralatan. bentuk tanda yang paling banyak digambarkan adalah bentuk geometris. Teknik yang digunakn untuk membuat tanda pada bata adalah teknik gore sdan teknik tekan. Teknik yang paling banyak adalah teknik gores. Ada tanda yang terletak di bagian permukaan bata dan ada pula tanda yang terletak di bagian samping. bagian yang paling banyak diberi tanda adalah bagian permukaan tanda."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
S12049
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Stevy Maradona
"Bekal kubur adalah benda-benda atau hal-hal lain (yang dapat berupa orang/hewan) yang dikubur bersama dengan mayat; dianggap berfungsi sebagai bekal untuk roh orang yang meninggal dalam perjalanan ke alam baka/digunakan (dimanfaatkan) oleh roh di dunia arwah. Dari berbagai jenis bekal kubur yang d temukan, tembikar adalah jenis bekal kubur yang paling dominan dan umum ditemui. Di Indonesia, kehadiran bekal kubur dalain konteks penguburan prasejarah diperkirakan baru muncul pada masa perundagian. Ada beberapa situs penguburan yang teretak di daerah pesisir, yang sekilas memiliki temuan bekal kubur yang hampir sama seperti tembikar, manik-manik, dan benda-benda yang terbuat dari logam, yaitu situs Anyer, Plawangan, dan Gilimanuk. Tembikar yang digunakan sebagai bekal kubur di situs Anyer, Plawangan dan Gilimanuk setelah diidentifikasi terdiri dari jenis- jenis periuk, cawan, lempayan, kendi dan piring serta benda-benda terakota lainnya. Tembikar yang paling umum digunakan sebagai bekal kubur adalah periuk. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa tembikar-tembikar yang digunakan sebagai bekal kubur di ketiga situs memiliki beberapa persamaan-persamaan seperti dari bentuk, ukuran, teknik buat, teknik penyelesaian, tenik khas, motif dan pola hias serta dari konteksnya dalarn ruang kubur. Dari bentuknya tembikar-tembikar bekal kubur diketiga situs dapat digolongkan ke dalam 2 bentuk umum, yaitu tembikar bulat dan tembikar berkarinasi. Muncul variasi-variasi bentuk pada masing-masing tipe tembikar, dan umumnya variasi yang muncul adalah bagian leher dan kaki. Dari ukuran diketahui bahwa rata-rata ukuran tinggi periuk adalah 10,9 cm, cawan 5,8 cm, kendi 21 cm, piring 2,4 cm, tempayan 32,8 cm. Dari ukuran diameter diketahui bahwa rata-rata diameter periuk adalah 12,9 cm, cawan 15,6 cm, kendi 19,5 cm, tempayan 40,3 cm, piring 13,3 cm. Teknik buat tembikar memiliki ciri yang berbeda tiap situsnya. Tembikar situs Anyer umurnnya dibuat dengan teknik pijit walaupun ada juga yang dibuat dengan teknik roda putar dan pijit, tembikar situs Piawangan seluruhnya dibuat dengan teknik roda putar tatap landas, dan tembikar Gilimanuk. semuanya dibuat dengan teknik roda putar pijit. Teknik penyelesaian permukaan tembikar bervariasi antara diupam dan tidak diupam, serta ada yang dislip. hiasan pada pada tembikar bekal kubur_ umumnya motif-motif geometris yang dibuat dengan teknik gores, tera, dan tempel. Pengecualian terdapat pada situs Gilimanuk yang memiliki hiasan dengan motif wajah manusia dan situs Piawangan yang memiliki hiasan yang dibuat dengan teknik lukis. Jumlah bekal kubur yang disertakan terbagi ke dalam kelas-kelas. Sedikitnya ada 8 kelas yang muncul, mulai dari yang paling sedikit, yaitu 1 bekal kubur hingga yang paling banyak yaitu 8 bekal kubur. Penyertaan bekal kubur dengan kuantitas tertentu dipercaya melambangkan status sosial tertentu Pula, Semakin banyak barang bawaannya ke alam kubur maka semakin tinggi status sosial si mati. Selain itu dipercaya juga bahwa barang-barang yang, dibawa sebagai bekal kubur nantinya akan digunakan sebagai harta kekayaan si mati di kehidupan di alam roh. Apabila tembikar yang dikuburkan hanya berjumlah 1 atau 2 saja maka ia biasa diletakkan di dekat kepala, sekitar badan, dan di daerah kaki. Tetapi bila tembikar bekal kubur yang disertakan dalam jumlah banyak, biasa diletakkan berjejer di samping rangka atau diletakkan tersebar di sekelilingnya. Variasi bekal kubur di ketiga situs ini umumnya terdiri dari bekal kubur sejenis, bekal kubur dengan 2 jenis, bekal kubur dengan 3 jenis, dan bekal kubur dengan 4 jenis. Bekal kubur yang hanya terdiri dari satu jenis banyak ditemukan, dan umumnya seperti yang telah dikatakan di atas adalah tembikar jenis periuk. Bekal kubur dengan 2 jenis biasanya terdiri dari periuk dan cawan atau periuk dan piring tetapi yang paling sering muncul adalah periuk dan cawan. Bekal kubur dengan 3 jenis umumnya terdiri dari periuk, cawan dan kendi."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2003
S11999
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Somad
"Perkataan nisan berasal atau maesan jika dilihat dari segi-segi etimologi telah diuraikan oleh beberapa ahli. L.Ch. Damais berpendapat bahwa nisan/ maesan berasal dari kata mahisa yang artinya Kerbau, pada jaman pra Hindu terdapat tradisi untuk memasak atau menegakkan batu semacam menhir dengan disertai upacara pemotongan Kerbau. Bentuk nisan beraneka ragam demikian pula dengan ragam hiasnya mulai dari yang sederhana hingga nisan yang memiliki hiasan yang raya. Penelitian tentang nisan telah banyak dilakukan diantaranya oleh Hasan Muarif Ambary (1984) meneliti tipologi nisan di Indonesia, dan Halina Budi Santosa (1976) yang meneliti nisan Banten. Penelitian ini didasari anggapan bahwa artefak merupakan refleksi dari ide dan gagasan manusia dalam bentuk materi dan juga merupakan refleksi dari tingkah laku yang berpola yang diterima dan disepakati oleh masyarakat. Permasalahan yang ingin diketahui adalah mengenai bentuk dan perkembangan dan persebaran nisan di sekitar masjid tua di Jakarta abad XVII-XVIII M. Hasil yang diperoleh adalah bentuk -bentuk pilar dan papan persegi, bentuk - bentuk nisan ini tidak terlepas dari unsur-unsur yang terdapat dalam nisan seperti bentuk dasar (A), bentuk badan (B), bentuk kepala (C), bentuk puncak kepala (D), bentuk kaki (E), sayap (F), dan ragam bias (F) diperoleh tipe sebanyak 20 tipe nisan utama, dan 31 tipe dengan variannya. Sedangkan hasil metode seriasi tipe III, IV, VI,VII, dan XIII, merupakan nisan yang menunjukan perkembangan popularitas , ini terlihat pada penggunaan, dan persebaran antar situs di Jakarta berdasar kronologisnya. Sedang untuk popularitas suatu tipe pada suatu situs, tertinggi ada pada tipe III pada masjid Kebon Jeruk (1786 M) dan tipe XIII (1761 M) yang mencapai tingkat 100%"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2003
S11998
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ananda Dewi Trisna
"Tulisan ilmiah ini berisi tentang hasil penelitian terhadap artefak tembikar prasejarah dari Situs Pasir Angin, Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini atas ijin dan menggunakan data tembikar Pasir Angin yang terdapat dan tersimpan di Pusat Arkeologi Nasional. Jakarta. Hal-hal yang menjadi pokok penelitian adalah bentuk, ragam hias, dan teknologi yang tertuang dalam artefak tembikar prasejarah tersebut. Pada penjelasan akhir dari hasil penelitian yang telah dilakukan, ketiga pokok penelitian tersebut saling dihubungkan, sehingga akan menghasilkan kesimpulan yang saling berkaitan antara bentuk-bentuk artefak tembikar dengan ragam hias yang menyertainya. Selain itu, penelitian ini juga menghasilkan kesimpulan yang berkaitan dengan teknik-teknik yang digunakan dalam menghasilkan bentuk-bentuk dari artefak tembikar prasejarah dari Situs Pasir Angin"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2003
S11512
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Santoso Wibowo
"Obsidian merupakan bahan batuan yang khas dan memiliki kelebihan dari bahan lain, kelebihan ini seperti terdapat pada bentuknya yang ringan serta memiliki ketajaman yang lebih dari bahan lain, sehingga batuan obsidian oleh manusia pada masa lalu dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Sebuah batu dapat dikatakan sebagai alat apabila batu tersebut memiliki ciri-ciri alat batu yang berupa bentuk dan pola-pola peretusan akibat pembuatan ataupun akibat pemakaian. Salah satu tempat di Indonesia, dimana obsidian dimanfaatkan sebagai alat yaitu di daerah Leles, Garut Jawa Barat. Untuk mencapai tujuan penelitian dalam usaha rnenjelaskan Cara-cara pemakaian alat obsidian dari Leles, maka dilakukan beberapa tahapan. Pertama dilakukan pengamatan langsung terhadap obsidian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi data yang lebih detail. Pada tahap selanjutnya dilakukan analisis khusus terhadap obsidian yang hanya memiliki pangkasan tajamanan atau peretusan. Analisis peretusan meliputi variabel lokasi retus, sudut retus dan gambaran retus. Selanjutnya masing-masing variabel tersebut kemudian diintegrasikan sehingga dapat diketahui tipe-tipe dari alat obsidian Leles. Setelah mengetahui tipe-tipe alat tersebut selanjutnya menghubungkan dengan Cara pemakaian atau penggunaan alat sehingga dapat diketahui cara-cara pemakaian atau penggunaan alat yang terdapat pads tipe-tipe tersebut. Tujuan penelitian ini dapat dicapai dan kesimpulan yang dapat diambil yaitu bahwa alat-alat batu yang terbuat dari bahan obsidian terutama alat serut, mendominasi alat-alat kehidupan sehari-hari di Leles Garut. Selain itu pula situs Leles ini meneerminkan situs pemukiman dengan kegiatan hidup sehari-hari seperti bercocok tanam, memasak, membuat dan merawat alat dan lain sebagainya."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2002
S11997
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wolff, Laurisa Henriette
"Aturan dan tata cara hidup yang berciri tradisional diartikan sebagai suatu kehidupan masyarakat yang bersifat turun-temurun, berkembang dari generasi ke generasi melalui kesepakatan tertulis dan tidak tertulis (Ihromi, 1996: 24-26) Aturan dan tata cara hidup tersebut menjangkau beberapa aspek kehidupan, terutama terlihat pada aspek keagamaan atau aspek-aspek yang bersifat kepercayaan seperti upacara pemujaan, penataan kubur, penataan ruang upacara, dan perkawinan yang selalu mengandung ciri-ciri kontinuitas atau yang terjadi berulang-ulang. Ciri-ciri kontinuitas terjadi dari masa prasejarah dalam beberapa aspek kehidupan. Hal itu dapat terlihat dari gejala-gejala umum pada tinggalannya. Untuk melihat ciri-ciri yang sama dari peninggalan-peninggalan masa prasejarah diperlukan penggambaran secara detail dari setiap unsur yang mewakilkannya. Masyarakat prasejarah di Indonesia memiliki kepercayaan terhadap pendirian bangunan-bangunan batu besar yang dikenal dengan tradisi megalitik (mega berarti besar, lithos berarti batu). Tradisi megalitik selalu berdasarkan pada kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati terutama kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dan yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman (Soejono, 1993:205). Tradisi itu telah berlangsung dari masa bercocok-tanam sampai sekarang. Kebudayaan megalitik merupakan kebudayaan dari masa prasejarah yang diperkirakan dapat digunakan sebagai contoh kasus dari salah satu kebudayaan karena masih berlangsung sampai sekarang. Untuk dapat merekonstruksi kebudayaan megalitik dari suatu wilayah, diperlukan gambaran yang rinci dan menyeluruh dari tiap-tiap peninggalannya dari setiap situs yang terdapat di wilayah tersebut. Peninggalan megalitik, baik yang berasal dari masa prasejarah dan yang sudah tidak digunakan lagi (dead monuments) maupun dari daerah-daerah yang masih menggunakan benda-benda peninggalan megalitik dalam kegiatan keagamaan (living monuments), dapat memperkaya pemahaman kita tentang kebudayaan megalitik. Terdapat sejumlah ragam peninggalan megalitik yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, antara lain di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa Barat, Jawa dan Bali. Tradisi megalitik yang masih digunakan terdapat di beberapa daerah di Indonesia, yaitu Nias, Toraja, dan Sumba. Ada beraneka ragam bentuk bangunan megalitik dari masa prasejarah yang ditemukan. Bentuk-bentuk bangunannya dapat berdiri sendiri ataupun berkelompok. Maksud utama dari pendirian bangunan tersebut adalah untuk pemujaan terhadap arwah leluhur atau yang telah mati, dan pengharapan kesejahteraan bagi yang masih hidup, serta kesempurnaan bagi yang telah meninggal dunia (Soejono 1993:210). Bentuk-bentuk bangunan megalitik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai tempat penguburan dan sebagai pelengkap pemujaan terhadap yang telah mati. Bentuk-bentuk tempat penguburan dapat berupa dolmen, peti kubur batu, bilik batu, sarkofagus, kalamba atau bejana batu, waruga, batu kandang, dan bate temugelang. Benda megalitik yang merupakan pelengkap pemujaan terhadap arwah leluhur seperti menhir, patung batu, batu saji, batu lumpang, batu lesung, batu dakon, pelinggih batu, tembok batu atau jalan berlapis batu. Di Jawa Barat ditemukan beranekaragam peninggalan dari masa prasejarah yang menunjukkan ciri-ciri tradisi megalitik seperti menhir, bangunan berundak, area menhir batu dater, batu pelor, bejana batu, susunan batu berbentuk persegi panjang dan bulat, dan batu dakon. Daerah temuan-temuan kebudayaan megalitik tersebut di Jawa Barat antara lain adalah di Bogor, Pandeglang, Cianjur, Garet, Cirebon, Ciamis dan Sukabumi."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2002
S11780
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Iqbal Johansyah
"Skripsi ini membahas mengenai kaitan tipe nisan dengan status sosial. Penelitian ini dilakukan di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati Halaman 1,2, dan 3. Bentuk penelitian dilakukan untuk mengungkap keterkaitan antara tipe nisan dengan tingkatan halaman dan gelar kebangsawanan. Hasil analisis menunjukan bahwa tidak terdapat kaitan antara tipe nisan dengan tingkatan halaman maupun antara tipe nisan dengan gelar kebangsawanan, tetapi terdapat kaitan antara gelar kebangsawanan dengan tingkatan halaman.

This undergraduate thesis is focused on the relation between the type of gravestone with social status. This research is executed in The Grave Complex of Sunan Gunung Jati. From this research uncovering correlation among type of gravestone with yard levels and title of nobility. The result from the analysis shows that there_s no relation between type of gravestone with the title of nobility. Hence, there is relation between the title of nobility with the yard levels."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S11929
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Afriono
"Kepurbakalaan Situs Gunung Argopuro memiliki peninggalan bangunan berundak. Penelitian komponen-komponen bangunan berundak pada kedua bangunan belum pernah dilakukan secara detail. Oleh karena itu. dalam skripsi ini dicoba mendata ulang, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan setiap komponen yang ada. Penelitian ini menunjukan bahwa Situs Gunung Argopuro adalah sebuah bangunan keagamaan Hindu, yang dijadikan karsyan. Dilihat dari komponen fitur, artefak, bentuk bahan, orientasi dan pondasi, bangunan berundak Situs Gunung Argopuro dapat dikatakan sama dengan bangunan berundak yang ada pada Situs Gunung Lawu dan Situs Gunung Wilis.

Argopuro Archaeological site have the building terraces relics. Meanwhile, the site still absent from the comprehension research to explain detail stories about what happened in the past. This thesis is initial effort to re-encoding and identified every component remains. This thesis explains that Argopuro site is the Hinduism heritance which related to the rituals and become Karsyan. From the architectural component, ornaments, materials, orientation and foundation, building terraces Argopuro Mount Site can be said similar with the building terraces of Gunung Lawu and Gunung Wilis sites."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S141
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Juniawan Dahlan
"Skripsi ini membahas tentang bentuk penggambaran figurin berbentuk manusia yang terbuat dari bahan terakota yang banyak ditemukan di daerah Trowulan. Data penelitian melalui studi lapangan diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung terhadap figurin yang terkumpul dan menjadi koleksi Pusat Informasi Majapahit, Trowulan. Selain itu, data lainnya berupa foto relief pada candi-candi masa Singasari dan Majapahit digunakan sebagai pembanding bentuk dengan figurin yang ada.
This paper discusses the depiction of human-shaped terracotta figurins which are found in Trowulan area. The research data were obtained through field observation in Majapahit Information Center, Trowulan. In addition, other data such as relief photographs on the temples of Singasari and Majapahit period were used to be compared with the existing form of the figurins."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S495
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>