Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 58 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2002
297.56 ABO
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1978
305.4 PER
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI, 1986
499.25 MOR (1);499.25 MOR (2)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Ridza Aziz
Jakarta: Multi Donor Fund UNDP, 2009
361.8 RID k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Arif Djunaidy
"Dalam makalah ini dibahas hasil desain dan implementasi perangkat lunak pencarian ciri-ciri wajah dengan masukan berupa citra wajah yang memiliki ukuran tertentu, dengan menggunakan gabungan metode model distribusi titik dan algoritma genetika. Perangkat lunak dibagi menjadi dua sub-sistem, yaitu sub-sistem pelatihan, data pelatihan diproses dengan menggunakan metode model distribusi titik untuk mendapatkan serangkaian parameter yang berguna pada proses pencarian. Selanjutnya dalam sub-sistem pencarian, parameter-parameter tersebut dimodifikasi dan dikombinasi dengan menggunakan metode algoritma genetika untuk mendapatkan ciri-ciri wajah yang dimiliki oleh citra.
Uji coba perangkat lunak dilakkukan terhadap 30 citra wajah yang berbeda, dian setiap citra diuji coba dengan 24 parameter algortitma genetika yang berbeda. Hasil uji coba menunjukkan bahwa tingkat kesalahan yang merepresentasikan perbedaan koordinat titik-titik dari citra uji coba terhadap citra pelatihan berada pada interval 2% - 17% dengan tingkat kesalahan minimum, maksimum dan rata-rata berturut-turut sebesar 2.5%, 16.18% dan 5.92%. "
2002
JIKT-2-2-Nov2002-8
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Setiawan, 1987-
Malang: UB Press, 2015
321 AND p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Andina Munawar
"Latar Belakang. Pada pasien gagal jantung refrakter yang disertai gangguan konduksi intraventrikular, Terapi Resinkronisasi Jantung (Cardiac resynchroni-zation therapy,CRT) diketahui merupakan cara yang efektif dalam memperbaiki kelas fungsional, fraksi ejeksi ventrikel kiri, uji jalan 6 menit, kualitas hidup, dan mengurangi angka hospitalisasi gagal jantung, serta angka mortalitas karena berkurangnya progresivitas penyakit tersebut. Namun demikian persoalan non-responder pasca-CRT masih merupakan masalah yang belum terselesaikan. Tujuan studi ini adalah untuk mengevaluasi ada atau tidaknya reverse remodeling yang ditunjukkan dengan disinkroni mekanis pasca-CRT dihubungkan dengan kapasitas fungsional pasien.
Metodologi. Merupakan studi kroseksional dan retrospektif yang dilakukan di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta. Semua pasien yang dilakukan pemasangan dari Januari 2008-Oktober 2012 dimasukkan dalam penelitian ini. Data pasien diambil dari data base rumahsakit, termasuk data klinis, EKG, ekokardiografi pra-pemasangan, dan data prosedur pemasangan. Disinkroni intraventrikular, interventrikular, dan atrioventrikular diukur melalui pemeriksaan ekokardiografi dengan Tissue Doppler Imaging (TDI). Kapasitas fungsional diukur melalui kelas fungsional NYHA serta uji jalan 6 menit. Pemeriksaan TDI, penilaian kelas fungsional NYHA dan uji jalan 6 menit dilakukan sedikitnya 6 bulan setelah pemasangan CRT.
Hasil. Selama periode penelitian, sebanyak 32 pasien ikut dalam penelitian ini. Tidak ada komplikasi pemasangan. Rerata umur subjek adalah 60,3 + 13,5 tahun. Proporsi disinkroni yang masih terjadi pada subjek adalah 24 orang (75%) untuk disinkroni intraventrikular, 25 orang (78,1%) untuk disinkroni interventrikular, serta 11 orang (34,4%) pada disinkroni atrioventrikular. Rerata nilai Indeks Yu yang menggambarkan disinkroni intraventrikular berdasarkan kapasitas fungsional baik dan buruk secara berurutan adalah 39,04 + 10,69 vs 59,17 + 8,01 (p=0,001). Sedangkan untuk disinkroni interventrikular dan atrioventrikular sebesar 26,07 + 16,17 mdet vs 32,83 + 45,45 mdet (p=0,631) dan 42,76 + 8,65 vs 44,98 + 12,34 (p=0,485). Grafik korelasi linier menunjukkan bahwa adanya peningkatan disinkroni intraventrikular, berkorelasi kuat dengan penurunan kemampuan kapasitas fungsional yang ditunjukkan dalam uji jalan 6 menit (r=0,56;p=0,001).
Kesimpulan. Disinkroni intraventrikular yang menetap pasca-pemasangan CRT berhubungan dengan kapasitas fungsional yang lebih buruk.

Background. Cardiac resynchronization therapy (CRT) is an effective method in management of refractory heart failure with intra-ventricular conduction delay. It will increase functional class, left ventricular ejection fraction (LVEF), six minute walk test, and quality of life, and also decrease hospitalization and mortality rate due to heart failure, and prevent the progression of the disease. However, non-responder after CRT implantation is still a big problem. Aim of this study is to evaluate reverse remodeling after CRT implantation and the correlation with functional capacity of the patients.
Method. This is a cross-sectional and retrospective study which was held in National Cardiovascular Center Harapan Kita, Jakarta. The subject are patients with diagnosis of refractory heart failure who performed CRT implantation between January 2008-October 2012. The data was recorded from medical record, include clinical data, electrocardiography, echocardiography pre-implantation, and implantation procedure. Intra-ventricular, inter-ventricular, and atrio-ventricular dyssynchrony was assessed by tissue Doppler imaging (TDI) echocardiography. Functional capacity was evaluated with New York Heart Association (NYHA) functional class and six minute walk test which performed at least 6 months after implantation.
Results. A total of 32 patients were included in this study, with mean age of 60,3 + 13,5 years. Intra-ventricular dyssynchrony were persisted on 24 subjects (75%), meanwhile interventricular and atrioventricular dyssyncrony was 25 subjects and 11 subjects (78,1% and 34,4%). We found a significant correlation of intraventricular dyssynchrony, which was showed by Indeks Yu, in group with good and poor functional capacity with mean of 39,04 + 10,69 and 59,17 + 8,01, respectively (p=0,001). Meanwhile, mean inter-ventricular dyssynchrony in good functional capacity group and poor functional capacity were 26,07 + 16,17 mdet vs 32,83 + 45,45 mdet (p=0,631), and atrio-ventricular dyssynchrony were 42,76 + 8,65 vs 44,98 + 12,34 (p=0,485). Linear correlation graph showed increasing of intraventricular dyssynchrony will decrease the functional capacity assessed by six minute walk test.
Conclusion. The presence of intraventricular dyssynchrony after CRT implantation correlates with poor functional capacity.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Heru Sulastomo
"Latar Belakang. Disfungsi endotel dan aterosklerosis merupakan kondisi yang terjadi secara sistemik. Bila ada aterosklerosis di aorta, maka kemungkinan juga terjadi aterosklerosis di arteri koroner. Kekakuan aorta akibat aterosklerosis tersebut dapat diketahui dari pulse wave velocity (PWV) aorta. Penelitian ini akan menilai hubungan antara PWV aorta dengan keberadaan penyakit arteri koroner (PAK) berdasarkan skor SYNTAX (Synergy between percutaneous coronary intervention with Taxus and cardiac surgery) angiografi koroner.
Metode. Penelitian ini merupakan suatu penelitian observasional potong lintang. Evaluasi dilakukan pada 83 pasien yang menjalani angiografi koroner elektif di Pusat Jantung Nasional harapan Kita dan memenuhi kriteria inklusi sejak September hingga November 2013. Hubungan nilai PWV aorta dengan keberadaan PAK berdasarkan skor SYNTAX dinilai dengan analisis regresi logistik.
Hasil. Setelah disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, penghambat enzim konverting angiotensin, penyekat reseptor angiotensin, penyekat kanal kalsium, diuretik, dan pasca infark miokard, tidak ditemukan hubungan antara PWV aorta dengan keberadaan PAK (Odds ratio 2,126; IK 95%: 0,744 – 6,072; p= 0,159). Pada kelompok PAK tidak ditemukan korelasi antara nilai PWV aorta dengan skor SYNTAX (r= -0,082; p= 0,539). Uji regresi logistik multinomial antara PWV aorta dengan skor pembuluh juga tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Kesimpulan. PWV aorta tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan keberadaan dan beratnya stenosis PAK, tetapi pada kelompok PAK ada kecenderungan terjadi PWV aorta lebih tinggi.

Background. Endothelial dysfunction and atherosclerosis are conditions that occurs systemically. If atherosclerosis occurred in the aorta, it may also occurred atherosclerosis in coronary artery. Aortic stiffness as a result of atherosclerosis can be known from the pulse wave velocity (PWV) of the aorta. This study will assess the relationship between aortic PWV with the presence of coronary artery disease (CAD) by SYNTAX (Synergy between percutaneous coronary intervention with TAXUS and cardiac surgery) score from coronary angiography.
Method. This study is a cross-sectional observational study. The evaluation was done on 83 patients who undergoing elective coronary angiography at the Harapan Kita National Heart Centre and met the inclusion criteria since September to November 2013. The relationship between aortic PWV values with the presence of CAD by SYNTAX score was assessed by logistic regression analysis.
Results. After adjusting for age, sex, body mass index, hypertension, diabetes mellitus, dyslipidemia, angiotensin converting enzym inhibitor, angiotensin reseptor blocker, calcium channel blocker, diuretic, and post myocardial infarction, analyses revealed there is no associated between aortic PWV with the presence of CAD (Odds ratio 2,126; IK 95%: 0,744 – 6,072; p= 0,159). In CAD group, there was no associated between aortic PWV value with SYNTAX score. After multinomial logistic regression between aortic PWV with vessel score, there is also no significantly associated.
Conclusion. Aortic PWV has no relation with the presence and severity of CAD, but there is a trend toward high aortic PWV in CAD group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Agustino Crisna
"Dispensasi perkawinan dini dapat artikan sebagai izin kawin yang diputuskan oleh pengadilan kepada pemohon kedua belah pihak yang belum menginjak usia Sembilan belas tahun melangsungkan pernikahan. Wewenang untuk pengadilan memberi dispensasi ada didalam pasal 7 angka 2 Undang-Undang No. 1/1974 tentang Perkawinan. Studi kualitatif ini bertujuan menemukan dan menganalisis rasionalitas pemberian dispensasi perkawinan usia anak serta efektivitas pengendalian sosial guna pencegahan perkawinan usia anak. Penelitian ini melibatkan 1 informan perempuan yang mengajukan dispensasi perkawinan 1 narasumber dari orang tua yang mengajukan dispensasi perkawinan, dan 2 narasumber terkait dari lembaga pemerintah (Pengadilan Agama Kab. Ponorogo dan Pemda Kab. Ponorogo). Yang dilakukan ialah wawancara langsung yang selanjutnya dianalisis melalui teori kriminologi. Kedua teori kriminologi tersebut memandang perkawinan usia anak menjadi akibat dari gejala perilaku menyimpang yang timbul di masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak tepatnya rasionalitas dalam pemberian dispensasi serta minimnya pengendalian sosial di pedesaan, peneliti memprioritaskan terlaksananya transformasi pembelajaran dari tingkat usia paling rendah dan sosialisasi secara merata mengenai regulasi serta penyuluhan di berbagai level kebijakan.

Early marriage dispensation can be defined as marriage permission, ruled by Court to be given to applicants on both parties, not having reached the age of 19 years when they get married. The Court Authority for this dispensation is in accordance with Law Number 1 of 1974 concerning marriages Article 7 (2). The qualitative study aimed to find and analyse the rationality in giving early marriage dispensation and the effectiveness of social control in order to prevent early marriage. The research involved a girl proposing marriage dispensation, source person from the girl’ s parent, and two source persons from government agencies (The Islamic Court of Ponorogo Regency and The Local Government of Ponorogo Regency). It covered direct interview, which then was analysed by criminology theory. Both theories considered that early marriage gave impacts on deviant behaviour in the society. The research results showed inappropriate rationality in early marriage dispensation and minimal social control as well in rural areas. The researcher prioritized the implementation of learning transformation from the lowest level of age, socialization evenly about regulation, and counselling at various policy levels."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1986
305.4 PER
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>