Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 298 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rusli Nurdin
"ABSTRAK
Pengelasan logam yang berbeda atau dikenal dengan istilah dissimilar metal welding adalah pengelasan antara dua logam yang mempunyai komposisi kimia dan sifat mekanik yang berbeda. Pengelasan antara baja karbon dengan baja duplex stainless steel seringkali dilakukan di berbagai industri. Pengelasan ini menjadi proses yang kompleks karena kedua logam yang dilas mempunyai perbedaan komposisi kimia, sifat mekanik, dan sifat termal sehingga selama proses pengelasan menghasilkan sifat mekanis dan perubahan struktur mikro yang mempengaruhi performa sambungan. Dan juga terjadi perubahan struktur mikro di daerah lasan dimana karbon di heat affected zone (HAZ) baja karbon bermigrasi ke melt zone di perbatasan antara base metal dengan logam lasan membentuk chromium carbide yang merupakan daerah keras (hard zone) dalam matriks martensite. Tujuan penelitian ini adalah mengamati pengelasan jenis butt dan fillet serta perubahan struktur mikro dan pengaruhnya terhadap distribusi kekerasan pada pengelasan logam antara baja berkekuatan tinggi HY80 dengan baja tahan karat dupleks 2205. Metode pengelasan menggunakan las busur listrik Shield Metal Arc welding (SMAW) dengan variabel masukan panas dan jenis kawat las E2209. Struktur mikro diobservasi menggunakan mikroskop optik (MO), Scanning Electro Microscope (SEM) dan pengujian sifat mekanik meliputi distribusi kekerasan di daerah base metal (BM), heat affected zone (HAZ) dan weld metal (WM).

ABSTRACT
Dissimilar metal welding is welding joint between two metals that have different chemical compositions and mechanical properties. Welding between carbon steel and duplex stainless steel is often done in various industries. This welding is a complex process because the two welded metals have different chemical compositions, mechanical properties, and thermal properties so that during the welding process they produce mechanical properties and microstructure changes that affect the performance of the joints. And there is also a change in microstructure in the weld area where carbon in the carbon steel heat affected zone (HAZ) migrates to the melt zone forming chromium carbide which is the hard zone in the martensite matrix. The purpose of this study was to observe the welding of butt and fillet types and microstructure changes and their effect on the hardness distribution of metal welding differs between HY80 high strength steel and 2205 stainless steel duplex. The welding method uses Shield Metal Arc welding (SMAW) electric arc welding with variable heat input and type of welding wire E2209. Microstructure was observed using optical microscopy, Scanning Electro Microscope and mechanical properties testing including hardness distribution in base metal, heat affected zone, and weld metal regions. "
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syarah Azmi Kariza
"Kemampuan inhibitor triazine dalam menginhibisi baja karbon API 5L X60 dalam lingkungan NaCl 3.5% diinvestigasi dengan menggunakan metode Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) dalam berbagai variasi konsentrasi. Konsentrasi yang digunakan pada pada penelitian kali ini adalah 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketika melewati konsentrasi optimum (150 ppm), nilai Rct dan efisiensi inhibitor akan berada pada nilai yang konstan, yang masing-masing nilainya adalah 581 Ω dan 68.6 %. Plot impedansi vs frekuensi yang ditunjukkan oleh kurva Bode Modulus mendukung hasil analisis data sebelumnya yang menunjukkan nilai ketahanan pada konstrasi 150 ppm memiliki ketahanan yang paling besar pada frekuensi rendah maupun tinggi.

The performance of Triazine based commercial corrosion inhibitor on carbon steel API 5L X60 on NaCl 3.5% solutions was investigated using Electrochemical Impedance Spectroscopy methods. Inhibitor concentration which used in these experiments was 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, and 250 ppm. Experimental results showed that when the concentration is above the optimum?s one (150 ppm), Rct and inihibitor efficiency value would be on a constant value, which each value is 581 Ω and 68.6 %. Plot of impedance vs frequency which showed by Bode Modulus curve support the previous data analysis, that the impedance value on 150 ppm had the highest impedance, at the low and high frequency."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S65234
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shafrian Adi Rahmanto
"Baja SM570-TMC merupakan baja berkekuatan tinggi, kerap disambung dengan menggunakan pengelasan fusi yang memiliki pegaruh panas dan akan berdampak kepada sifat penyambungan sehingga akan mempengaruhi performa hasil pengelasan. Oleh karena itu, pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masukan panas terhadap kemampuan las baja berkekuatan tinggi. Proses pengelasan pada penelitian ini menggunakan material baja SM570-TMC dengan ukuran dimensi 370mm x 300mm x 16mm yang sebelumnya telah dilakukan pengujian komposisi kimia untuk memastikan baja SM570-TMC sesuai dengan standar. Desain sambungan yang digunakan adalah Butt Weld, dengan metode proses pengelasan Flux Cored Arc Welding (FCAW), pada posisi las 1G (datar) serta menggunakan gas pelindung 100% CO2 dan kawat las E81 T1-N1 MJH. Selanjutnya hasil pengelasan dilakukan pengujian mekanik dan pengamatan struktur mikro pada daerah HAZ yang akan berpengaruh pada sifat mekanik hasil pengelasan. Pengujian mekanik yang dilakukan diantaranya adalah pengujian impak dengan standard ASTM E23, pengujian kekerasan vickers dengan standar ASTM E92, pengujian tarik dengan standar ASTM E8. Pengamatan struktur mikro pada HAZ dan kampuh las menggunakan Mikroskop Optik standar ASTM E3-11, dan Scanning Electron Microscope (SEM) memberikan informasi berupa unsur dari fasa pada bagian kampuh las dalam material uji serta Optical Emission Spectroscopy (OES) untuk mengetahui penyebaran Ni sebagai pembentuk ferit asikular pada daerah kampuh las. Pengelasan baja SM570-TMC dengan menggunakan metode FCAW dan kawat las E81N1yang mengandung 1% Ni pada masukan panas 1 kj/mm dan 2 kj/mm cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengujian X-ray radiografi yang tidak menunjukan cacat las, hasil pengujian tarik yang menunjukan kekuatan pada kampuh las cukup baik sehingga terjadi perpatahan pada logam induk, hasil pengamatan struktur makro menunjukan logam pengisi dan logam fusi dengan baik. Terdapat ferit asikular akan meningkatkan kemampuan las pada baja SM570-TMC.

SM570-TMC is high strength steel, often connected using fusion welding which has a heat effect and will have an impact on the nature of the connection so that it will affect the performance of the welding results. Therefore, this study aims to determine the effect of heat input on high strength steel weld ability. The welding process in this study uses steel material SM570-TMC with dimensions of 370mm x 300mm x 16mm which have been tested for chemical composition to ensure the SM570-TMC steel is in accordance with the standards. The connection design used is Butt Weld, with the welding process method of Flux Cored Arc Welding (FCAW), in 1G (flat) welding position and using 100% CO2 shielding gas and MJH E81 T1-N1 welding wire. Furthermore, the welding results were subjected to mechanical testing and observation of microstructure in the HAZ region which would affect the mechanical properties of the welding results. Mechanical tests include the impact testing with the ASTM E23 standard, testing Vickers hardness with the ASTM E92 standard, tensile testing with the ASTM E8 standard. Microstructure observations on HAZ and weld metal using the ASTM E3-11 standard Optical Microscope, and scanning electron microscope (SEM) provide information in the form of phase elements in the Weld Metal section in the test material and optical emission spectroscopy (OES) to determine Ni propagation as forming Acicular Ferrite in the Weld Metal section. Welding steel SM570-TMC using the FCAW method and E81N1 welding wire containing 1% Ni in the 1kj / mm heat input and 2kj / mm is good enough. This is evidenced by the results of X-ray radiographic testing that does not show defects, the tensile test results that show strength in the weld metal are good enough so that fracture occurs on the base metal, observations of macro structures show fusion fillers and base metals well. The presence of acicular ferrite will increase the weldability of the SM570-TMC steel."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aji Wicaksono
"Aluminum magnesium seri 5083 H112 banyak diaplikasikan untuk industri perkapalan. Hal tersebut dikarenakan aluminum memiliki kekuatan spesifik yang tinggi serta ketahanan korosi yang baik. Namun pada proses penyambungan berupa pengelasan banyak terjadi permasalahan berupa porositas serta menurunnya sifat mekanis terutama daerah terpengaruh panas. Mengacu kepada pengecoran, pemberian getaran pun diaplikasikan pada penelitian pengelasan dengan menggunakan kawat las ER 4043 ini. Sumber getaran berasal dari sebuah meja getar dan diatur getarannya sebesar 30 Hz. Pengujian yang dilakukan yakni pengujian tarik, metalografi, kekerasan mikro, radiografi-visual, dan image analysis. Dari hasil penggetaran nilai kekerasan daerah las dan juga kekuatan tarik meningkat dengan butir dari lasan yang halus pada tiap kecepatan las, 300 mm/menit dan 400 mm/menit. Jumlah porositas pun berkurang dengan dilakukannya penggetaran sebesar 30 Hz.

5083 series aluminum magnesium is widely used for marine industrial. It is caused aluminum has high spesific strength and good corrosion resistance. However, at process of welding many of porosity occured in the aluminum and it decrease the mechanical properties especially in HAZ (Heat Affected Zone). At casting process of aluminum, there is one method that can reduce the porosity by giving vibration while casting is performed. So this method is tried to be aplicated at this research which is using ER 4043 as welding wire. Vibration that used is around 30 Hz. Tensile test, metallography, micro hardness, radiography-visual test, and image analysis was used for characterize mechanical properties and porosity content at weldment. The higher average result of tensile test and microhardness for ER 4043 filler weldment for vibrated specimen and porosity content decreased for specimen with welding speed 300 mm/minute and 400 mm/minute. And finer grain has found at microstructure of weldment after welded with vibration."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S56409
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anatasya Novritas Putri
"Aplikasi pengelasan dengan material yang berbeda mendapatkan keuntungan dari segi ekonomis. Pada penelitian ini digunakan material antara baja tahan karat austenitik dan baja karbon rendah SS 400 dengan jenis kawat las yang berbeda yaitu ER 309 dan ER 316 dengan metode GMAW. Hal ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari sifat mekanis material. Untuk mengidentifikasi fase penyusun pada sambungan las tak sejenis dilakukan melalui mikroskop optik (OM), dan untuk menguji kekerasan dilakukan menggunakan micro Vickers untuk mendapatkan sifat mekanik lasan yang terdiri dari logam dasar (BM), daerah terpengaruh panas (HAZ), dan logam las (WM). Dari hasil percobaan didapatkan bahwa nilai kekerasan tertinggi ada pada daerah WM dan HAZ sebab memiliki butir yang lebih halus dibandingkan dengan logam induk. Butir yang halus ini akan membuat semakin banyak batas butir sehingga memiliki kekerasan yang lebih tinggi. Struktur mikro yang didapat pada BM dan HAZ SS 316 memiliki fasa austenit sedangkan BM dan HAZ SS 400 memiliki fasa ferit dan perlit. Pada daerah logam las (WM) dengan kawat las ER 309 memiliki kekerasan tertinggi sebesar 258 Hv dibandingkan dengan nilai kekerasan logam las menggunakan kawat las ER 316, 253 Hv, hal ini disebabkan karena adanya kandungan Cr yang lebih tinggi pada ER 309 (23,5%), dibandingkan dengan menggunakan kawat las ER 316 (19,25%).

Welding applications with different materials have an economic advantage. In this study, materials between austenitic stainless steel and SS 400 low carbon steel were used with different types of welding wire, namely ER 309 and ER 316 with the GTAW method. It aims to see the effect on the mechanical properties of the welded joints. To identify the constituent phases of dissimilar welded joints, an optical microscope (OM) was carried out, and the hardness testing, micro Vickers was used to obtaining the mechanical properties of the weldment, which consists of base metal (BM), heat affected zone (HAZ), and weld metal (WM). The experimental results show that the highest hardness values are in the WM and HAZ regions because they have finer grains than the parent metal. These fine grains will create more grain boundaries so that they have higher hardness. The microstructure obtained in BM and HAZ SS 316 has an austenite phase, while BM and HAZ SS 400 have ferrite and pearlite phases. In the weld metal (WM) area with ER 309, the highest hardness is 258 Hv compared to the hardness value of welding metal using ER 316, 253 Hv. This is due to the higher Cr content in ER 309 (23.5 %) than ER 316 (19.25%)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Panca Hadi Wiratama
"Aluminium AC4B merupakan aluminium paduan yang banyak diaplikasikan untuk komponen kendaraan bermotor salah satunya adalah torak. Torak merupakan komponen yang penting dalam kendaraan bermotor dengan fungsi sebagai penekan udara masuk dan penerima tekanan hasil pembakaran pada ruang bakar yang tersambung ke bagian poros engkol. Namun sering ditemui adanya masalah-masalah seperti keausan dan penggunaan pelumas yang boros yang harus diatasi dengan melapisi cylinder liner dan cincin torak menggunakan nanokomposit dengan memvariasikan komposisi penguat CNT (0%, 2%, dan 4%) dan dengan metode penyemprotan dingin. Prosedur perlakuan pendispersian planetary ball mill juga memegang peranan penting sebelum proses pelapisan dilakukan. Pengujian yang dilakukan yakni pengujian kekerasan mikro, metalografi-SEM, EDS (pemetaan unsur), kekasaran permukaan, ketahanan aus, dan FTIR. Dari hasil pengujian didapatkan data bahwa penambahan CNT hingga 2% akan meningkatkan kekerasan, ketahanan aus, dan juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pelumas.

Aluminum AC4B widely applied to vehicle components, one of the application is piston. Piston is an important component in the vehicle which acts in order to pressing the air and receiving the results of the combustion pressure in the combustion chamber which is connected to the crankshaft. However, there are problems such as wear and wasteful use of lubricants that must be overcome by the idea of coating the piston ring and also cylinder liner using nanocomposite by varying the composition of CNT reinforcement (0%, 2%, and 4%) and for the coating method using cold spraying. Dispersing treatment procedures and planetary ball mill also plays an important role before the coating process is done. Tests were carried out which micro hardness testing, metallography-SEM, EDS (mapping element), surface roughness, wear resistance, and FTIR. Data obtained from the test results that the addition of up to 2% CNT will increase hardness, wear resistance, and also can improve the efficiency of the use of lubricants."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
S61592
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimah Stevi Dianasari
"ABSTRAK
Alumunium mempunyai ketahanan korosi yang tinggi dan sifat konduktifitas yang baik. Tembaga juga merupakan logam yang mempunyai ketahanan korosi yang tinggi serta daya hantar yang baik, banyak digunakan pada komponen listrik. Karena sifat mekanik dari kedua logam tersebut baik maka digabungkanlah material tersebut dengan proses pengelesan friction stir welding, dimana FSW merupakan proses welding yang sangat ramah lingkungan, dan tidak memerlukan banyak energi panas. Untuk melihat hasil ketahan korosi pada kedua logam dilakukan pengujian polarisasi yang menghasilkan diagram tafel. Dan untuk melihat bagaimana struktur mikro pada hasil pengelasan dilakukan pengujian metalografi pada spesimen alumunium, tembaga, dan hasil lasan. Pada hasil laju korosi spesimen pengelasan didapatkan nilai laju korosi yang lebih tinggi daripada tembaga dan lebih rendah daripada nilai laju korosi alumunium.

ABSTRACT
Aluminum also has a high corrosion resistance and high conductivity. Copper is also a metal that has high corrosion resistance and good conductivity, cooper used in electrical components . Because of the mechanical properties of both metals are good then materials are joinning with friction stir welding methode, FSW is a welding process that eco-friendly and does not require a lot of heat energy . To view the resilience of corrosion in both metal testing Tafel polarization which generates diagrams . And to see how the microstructure at the weld Metallographic testing on specimens of aluminum , copper , and the welding part. On the results, corrosion rate on welding specimen has the corrosion rate values higher than the copper and lower than aluminum.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
S62547
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aisyah Nur Kumalasari
"ABSTRAK
Aluminium dan tembaga telah umum digunakan di industri, terutama industri elektronik. Namun biasanya penyambungan aluminium dan tembaga masih dilakukan dengan brazing ataupun cladding. Friction stir welding (FSW) menawarkan proses penyambungan dengan hasil yang lebih baik karena tidak terjadi perubahan mikrostruktur akibat panas dari pengelasan. Perbedaan geometri pin tool disinyalir akan memberikan perbedaan pada mikrostruktur dan sifat mekaniknya, maka Al 5052 dan pure wrought Cu disambung dengan FSW menggunakan geometri pin tool tapered cylindrical dan threaded cylindrical. Kemudian makro dan mikrostrukturnya diamati dengan mikroskop optik dan SEM, serta sifat mekaniknya diuji dengan pengujian tarik dan keras. Pada kedua hasil sambungan, di struktur mikronya terbentuk senyawa intermetalik Al-Cu dan struktur komposit. Berdasarkan sifat mekaniknya, secara umum dengan menggunakan pin tool tapered cylindrical akan menghasilkan sambungan yang lebih baik.

ABSTRACT
Aluminium and copper has been widely used in industry, especially in electronic industry. But mostly, the joining of Al-Cu is produced by brazing and cladding. Friction stir welding offer a newer and better joint because it doesn?t change the microstructure due to welding process heat. The difference of tool pin geometry will provide a differences in microstructure and mechanical properties of the joint, so 5052 series of Al and pure wrought Cu are joined by FSW process with tapered cylindrical and threaded cylindrical tool pin. Then its microstructure was observed with an optical microscope and SEM, as well as its mechanical properties are tested by tensile test and hardness test. The microstructure formed Al-Cu intermetallic compounds and composite structures. Based on its mechanical properties, generally the joint by using tapered cylindrical tool pin produces a better result.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S61918
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adita Evalina Fitria Utami
"Carbon nanotube (CNT) Alumina + 13%TiO2 nanokomposit dengan fraksi volume CNT berbeda untuk mengetahui pengaruh distribusi CNT dalam matriks keramik. Perilaku self-lubrication pada pelapisan permukaan di cylinder liner yang diamati. Alumina 13% TiO2 + CNT nanokomposit dengan kandungan CNT Maksimum 4 % yang dilakukan dengan metode cold spraying pada pelapisan permukaan cylinder liner. Nanokomposit dibuat dengan komposisi berbeda dengan metode pencampuran planetary ball mill. Pengaruh ketahanan aus, friction dan self lubrication akan di analisa dengan Vickers microhardness, surface roughness, pengujian keausan ogoshi sebelum lubrikasi dan setelah lubrikasi, dan fourir transform infrared spectrometer.
Hasil yang didapatkan ketahanan aus meningkat seiring penambahan CNT. Ketahanan aus dan mikrohardness berdasarkan penambahan CNT dihitung dalam penelitian ini. SEM - EDX digunakan untuk mengamati permukaan yang dilapisi CNT ? Alumina 13% TiO2 nanokomposit. Semua hasil menunjukkan metode cold spraying dan planetary ball mill secara signifikan meningkatkan distribusi CNT pada matriks alumina 13% TiO2 sehingga meningkatkan ketahanan aus dan memberikan efek self lubricant pada nanokomposit.

Carbon nanotubes (CNTs) Alumina + 13% TiO2 nanocomposite with a different volume fraction of CNT?s to determine the effect of CNT distribution in the ceramic matrix. The behavior of self-lubrication on the surface coating on the cylinder liner was observed. Alumina 13% TiO2 + CNT nanocomposite containing CNTs Maximum 4% which was conducted by cold spraying on the surface of the cylinder liner coating. Nanocomposite prepared with different compositions with a planetary ball mill mixing method. Effect of wear resistance, friction and self lubrication will be analyzed with a Vickers microhardness, surface roughness, ogoshi wear testing was used before and after lubrication lubrication, and fourir transform infrared spectrometer.
The results obtained wear resistance increases with the addition of CNTs. Wear resistance and mikrohardness by the addition of CNTs calculated in this study. SEM - EDX was used to observe the surface of the coated CNT - Alumina 13% TiO2 nanocomposite. All results show the method of spraying cold and planetary ball mill significantly improve the distribution of CNTs in the alumina matrix 13% TiO2 thereby increasing wear resistance and self-lubricant effect on the nanocomposite.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S64725
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Fitriani
"Pada era ini, Aluminum AC4B telah banyak diaplikasikan untuk komponen kendaraan salah satunya adalah torak. Torak berperan sebagai penekan udara masuk dan penerima tekanan hasil pembakaran pada ruang bakar dan tersambung ke bagian poros engkol. Namun terdapat masalah-masalah seperti keausan dan penggunaan pelumas yang boros yang harus diatasi dengan ide melapisi cylinder liner dan cincin torak menggunakan nanokomposit dengan memvariasikan komposisi penguat CNT (0%, 2%, dan 4%) dengan metode pelapisan penyemprotan dingin. Prosedur perlakuan pendispersian dan planetary ball mill juga memegang peranan penting sebelum proses pelapisan dilakukan. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian kekerasan mikro, metalografi-SEM, EDS (pemetaan unsur), kekasaran permukaan, ketahanan aus, dan FTIR. Dari hasil pengujian didapatkan data bahwa penambahan CNT hingga 2% akan meningkatkan kekerasan, ketahanan aus, dan juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pelumas.

In this era, Aluminum AC4B has widely applied to vehicle components, one of the application is piston. Piston acts in order to pressing the air and receiving the results of the combustion pressure in the combustion chamber which is connected to the crankshaft. However, there are problems such as wear and wasteful use of lubricants that must be overcome by the idea of ​​coating the piston ring and also cylinder liner using nanocomposite by varying the composition of CNT reinforcement (0%, 2%, and 4) by using cold spraying for the coating method. Dispersing treatment procedures and planetary ball mill also plays an important role before the coating process is done. Tests were carried out which micro hardness testing, metallography-SEM, EDS (mapping element), surface roughness, wear resistance, and FTIR. Data obtained from the test results that the addition of up to 2% CNT will increase hardness, wear resistance, and also can improve the efficiency of the use of lubricants."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S64727
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>