Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Abdil Mughis M.
"Tesis ini membahas mengenai perebutan klaim kebenaran dalam memandang semburan lumpur Lapindo yang berimplikasi terhadap bagaimana aktor-aktor mengkonstruksi tata lingkungan dan sosial akibat semburan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain pemahaman (etnografi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap aktor dalam kasus Lapindo mengkonstruksi pengetahuan dalam memaknai fenomena semburan. Dengan menginspirasi teori kekuasaan Foucault, negara merupakan aktor dominan yang berkepentingan agar seluruh penyelesaian kasus mengacu pada skema Perpres. Sementara pada ranah relasi kekuasaan, Lapindo dan aktivis merupakan aktor dominan yang berkepentingan membentuk korban sebagai governable subject. Tesis ini menganalisa kasus Lapindo tanpa berpretensi berpihak pada salah satu pandangan, yang dengan itu mungkin dapat menghadirkan pandangan dalam melihat persoalan secara lebih kritis.
The focus of the study is how some actors claiming the truth in looking at Lapindo mud which implicate how some actors construct environmental and social order. This research is qualitative understanding interpretive. This thesis explores how some actors construct knowledge to look at the mud flow phenomena. Inspired by Foucauldian theory of power, state is a dominant actor concern to impose the governmental rule through the case. In the light of power relation, Lapindo and activist are dominant actor concern to construct the victim as governable subject. By analyzing Lapindo case without any pretention in one of the scientist overview, this study provides critical understanding for this environmental and social problem."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2008
T 25195
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rina Mardiana
"Pemerintah merupakan pihak yang paling berkuasa di dalam memutuskan suatu kebijakan pembangunan. Akan tetapi proses penerbitan kebijakan tidak semata-mata berdasarkan kekuasaan birokrasi pemerintah, sebab terbitnya sebuah kebijakan banyak dipengaruhi oleh berbagai hal di dalam komunitas kebijakan. Relasi sosial, kekuasaan dan uang merupakan hal-hal yang dipandang panting dan memberi pengaruh besar terhadap proses terbitnya kebijakan. Tesis ini akan menganalisiskasus kebijakan pelepasan pengembangan tanaman kapas transgenik di Sulawesi Selatan.
Kajian ini menggunakan pendekatan antropologi kebijakan, yakni memandang keterkaitan antara norma dan institusi, ideologi dan kesadaran, pengetahuan dan kekuasaan, retorika dan wacana, serta makna dan interpretasi, dimana semua itu dipengaruhi oleh konteks lokal, nasional hingga global. Dalam kajian ini banyak menampilkan inspirasi dari pemikiran Foucault tentang kekuasaan yang berkaitan dengan pemberdayaan dan kebijakan.
Relasi sosial dibangun oleh para pihak berkepentingan atas dasar adanya kesamaan mulai dari pemikiran, ideologi, tujuan dan kepentingan. Selanjutnya pihak berkepentingan dalam relasi sosial itu membentuk komunitas kebijakan, yakni para pihak yang membuat dan menjalankan kebijakan. Pada dasamya para pihak berkepentingan dalam komunitas kebijakan berperan sebagai aktor yang mendistribusikan kekuasaan. Diantara relasi sosial dan kekuasaan terdapat imbalan yang saling dipertukarkan oleh pihak-pihak dalam komunitas tersebut. Pertukaran atas jasa yang dikeluarkan oleh salah satu pihak, akan dikembalikan
oleh pihak yang lainnya dalam bentuk uang. Dengan demikian uang menjadi alat yang diakumulasikan oleh para pihak berkepentingan terhadap suatu kebijakan.
Pihak berkepentingan terhadap kebijakan produk transgenik terdiri dari pemerintah, perusahaan, akademisi/ilmuwan, LSM dan petani. Pihak berkepentingan ini terpolarisasi kedalam dua kutub, yakni kelompok pendukung kebijakan produk transgenik, dimana kelompok ini sekaligus sebagai pihak yang tergabung dalam komunitas kebijakan. Sementara di kutub yang berseberangan adalah kelompok yang mendukung prinsip kehati-hatian terhadap kebijakan produk transgenik. Kelompok yang terakhir disebutkan ini, tidak tergabung ke dalam komunitas kebijakan. Kelompok ini, justru memberikan reaksi terhadap aspek sosial-budaya kebijakan sebagai sebuah arena kontestasi kekuasan.
Monsanto merupakan perusahaan pemilik paten produk transgenik, sehingga Monsanto sangat berkepentingan untuk menjalankan bisnis produk transgenik. Dengan demikian Monsanto membangun relasi sosial dengan birokrat pemerintah agar pemerintah bersedia membuatkan perangkat peraturan perundang-undangan yang mempu mendorong dilancarkannya kebijakan komersialisasi produk transgenik. `Suap' adalah Cara yang dijalankan perusahaan untuk mendorong beroperasinya kekuasaan pemerintah di dalam memutuskan kebijakan pembangunan. Disisi lain, pihak perusahaan juga membangun relasi sosial dengan pihak akademisi/ilmuwan pendukung inovasi teknologi transgenik. Kepentingan akademisi/ilmuwan mencakup penemuan inovasi teknologi, sistem paten, dan pengetahuan terhadap keilmiahan teknologi itu sendiri.
Pada kenyataannya kemampuan finansial perusahaan mampu menembus birokrasi pemerintahan yang menganut paradigma pembangunan kapitalisme, sekaligus berperan sebagai pejabat birokrat yang bermental korup. Dalam implementasi di lapangan sangat nampak, birokrat pemerintah turun tangan dalam mengkampanyekan janji janji keunggulan pertanian transgenik, sehingga petani bersedia beralih menanam kepada benih jenis transgenik. Argumen yang diajukan pemerintah adalah bahwa kebijakan pertanian transgenik bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat petani. Disisi lain, kalangan akademisi/ilmuwan juga memainkan peranan sebagai pihak yang mengusung nilai-nilai kebenaran ilmiah. Melalui berbagai pernyataan kalangan akademisi/ilmuwan, pihak perusahaan berharap dapat meningkatkan opini publik mengenai citra positif produk transgenik. Guna mengantungi citra positif ini, pihak perusahaan tak segan-segan mengulirkan dana ratusan juta kepada kalangan ilmuwan baik di perguruan tinggi maupun di instansi pemerintahan, guna melakukan riset, seminar, ataupun lokakarya yang pada intinya mendukung kebijakan produk transgenik. Dalam relasi sosial dan kekuasaan yang bekerja pada masing-masing pihak berkepentingan tersebut, ada sebuah mekanisme pertukaran imbalan yang berjalan sebagai sesuatu pemberian yang wajib dibalas dengan pemberian pula. Uang adalah sebuah kata kuncinya. Perusahaan melakukan penyuapan kepada sejumlah birokrat pemerintah agar dibuatkan kebijakan yang bisa membuat dijalankannya bisnis perusahaan. Perusaliaan juga membiayai berbagai riset akademisi ilmuwan guna membeli kekuasaan yang bekerja pada pihak akademisi/ilmuwan sebagai penghasil pengetahuan dan nilai-nilai kebenaran. Akan tetapi disini, baik pihak akademisi/ilmuwan maupun pemerintah tidak serta merta tunduk pada kekuasaan kapital perusahaan. Karena birokrat pemerintah dan akademisililmuwan jugs membalas pemberian uang tersebut dengan uang pula. Keberhasilan adopsi kebijakan di tingkat petani akan memberikan keuntungan bisnis kepada perusahaan dengan jumlah yang jauh berlipat-lipat. Jadi, saya melihat bahwa para pihak dalam komunitas kebijakan pada dasarnya melakukan akumulasi kapital bagi dirinya sendiri, atas beroperasinya kekuasaan yang mereka jalankan.
Melihat fenomena proses penerbitan kebijakan pembangunan yang seperti ini, lantas bagaimana dengan tujuan pembangunan itu sendiri ? apakah tujuan meningkatkan kesejahteraan petani bisa terwujud ?. dalam hal ini, saya memandang bahwa kebijakan pembangunan yang lahir atas kepentingan kapitalisme global, pada akhirnya hanya akan membuat petani berada sebagai pihak yang semakin terpuruk. Petani melulu hanya dijadikan objek pembangunan. Alasan atas nama kesejahteraan rakyat, hanyalah retorika belaka. Dengan demikian, keberadaan kelompok yang menekankan prinsip kehati-hatian terhadap kebijakan produk transgenik menjadi panting keberadaannya. Kelompok yang menekankan prinsip kehati-hatian melakukan kontestasi terhadap kebijakan produk transgenik, dan menekan pemerintah agar tidak meletakkan perkembangan inovasi teknologi transgenik yang disinyalir memiliki potensi besar dalam mengatasi masalah krisis pangan, sebagai inovasi teknologi yang semata-mata bergerak atas kepentingan kapitalis. Bagaiamanapun juga, teknologi ini menyimpan potensi untuk kebaikan. Untuk itu, peraturan perundang-undangan yang ketat dalam mengatur regulasi produk transgenik serta keterbukaan dan keterlibatan publik dalam berpartisipasi terhadap kebijakan produk transgenik, tentunya diharapkan dapat lebih membuat kebijakan yang adil dan berpihak kepada kaum tani dan kelompok minoritas lainnya.
Metode penelitian yang diterapkan dalam tesis ini adalah metode kualitatif. Teknik penelitian antropologi yang digunakan meliputi wawancara mendalam, analisis kasus, dan pengamatan terlibat. Selain itu juga dikumpulkan dokumen kebijakan dan pernyataan wacana yang tertuang dalam media massa ataupun makalah publikasi. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis secara mendetail, holistik dan komprehensif."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T21512
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Popy Dwi Patrojani
"ABSTRAK
Skripsi ini menyajikan dinamika perlawanan yang dilakukan oleh petani terhadap pembangun Daerah Irigasi Batang Sinamar di Nagari Pangian. Perlawanan ini terjadi karena petani tidak dapat mengolah sawah sehingga mengalami kerugian semenjak akhir tahun 2015 akibat timbunan dari galian pembangunan irigasi di daerah tersebut. Perlawanan ini sebenarnya telah ditanggapi pihak pemerintah nagari dan kontraktor, namun tidak ditangani dengan baik sehingga membuat sawah petani terbengkalai hingga tahun 2018. Akibatnya petani pun bekerjasama dengan para aktivis dan media untuk menemani masyarakat menyampaikan protes terkait kerugian yang mereka alami. Tindakan ini ternyata membuat petani semakin mengalami tekanan terutama dari pihak pemerintah nagari dan kontraktor yang menggunakan kekuasaan niniak mamak untuk menghambat protes yang dilakukan petani. Tekanan dari niniak mamak tersebut tidak dapat dihindari oleh petani sebab antara petani dengan petinggi adat memiliki hubungan patron-klien yang saling mempengaruhi antara satu sama lain. Adanya relasi patron-client ini membuat petani terpaksa sulit menuntut karena harus menjaga hubungan baik dengan petinggi adat dan mengikuti setiap saran dan arahan yang diberikan oleh petinggi adat tersebut termasuk saran terkait tindakan perlawanan yang tengah mereka lakukan. Dengan menggunakan observasi terlibat dalam penelitian ini ditemukan bahwa bentuk relasi kekerabatan yang biasanya dianggap sebagai agen yang mampu menjadi identitas perlawanan ternyata juga mampu menghambat tindakan perlawanan itu sendiri.

ABSTRACT
This thesis presents the dynamics of resistance carried out by farmers towards Batang Sinamar Irrigation construction in Nagari Pangian. This resistance occurred because farmers were unable to cultivate rice fields so that they suffered losses since the end of 2015 due to heaps from the excavation of irrigation construction in the area. This resistance has actually been responded by the nagari government and contractors, but it has not been handled properly so that farmers' fields have been abandoned until 2018. As a result, the farmers have collaborated with activists and the media to accompany the community to protest their losses. This action turned out to make farmers increasingly under pressure, especially from the nagari government and contractors who used the niniak mamak's power to inhibit protests by farmers. The pressure from niniak mamak cannot be avoided by farmers because between farmers and niniak mamak as traditional leaders have patron-client relations that influence each other. The presence of patron-client relations has made it difficult for farmers because they have to maintain good relations with traditional leaders and follow every suggestion and direction given by the traditional leaders including suggestions regarding the acts of resistance that they are carrying out. By using the participation observation in this study it was found that the form of kinship relations which are usually considered as capable agents of making a successful resistance action was also able to inhibit the act of resistance itself."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sundjaya
"Tesis ini adalah hasil penelitian antropologis tentang proses pembentukan identitas sosial oleh orang Bajo dalam program konservasi alam. Studi dilakukan terhadap kasus pelaksanaan kegiatan pengembangan Daerah Perlindungan Laut (DPL) oleh sebuah LSM dan orang-orang Bajo di Kepulauan Togean.
Penelitian ini menunjukkan bahwa konservasi alam telah digunakan beberapa orang Bajo untuk membentuk identitas sosial mereka yang membedakannya dari "perusak terumbu karang". Tesis ini memahami proses pembentukan identitas sosial bersifat kontinyu, tidak permanen, dan kontekstual. Identitas di(re)produksi lewat proses sosial di mana "artikulasi" dan "pemosisian" guna membangun batas-batas antara "perusak karang" dan "konservasionis" dalam berbagai konteks interaksi sosial.

This thesis is from anthropological research on social identity construction process by the Bajonese people engaging in nature conservation project. The study based on case of implementation of Community-based Marine Protected Area project by an NGO and a group of Bajonese people in Togean Islands.
The study concludes that nature conservation project have been used by some of Bajonese people to articulate their new social identity distinguishing them from being labelled as the "coral reef destroyers". This thesis comprehends construction of social identity is contingent, not permanent, and contextual. Identity is (re)produced by social process where the "articulation" as well as "positioning" occure in making of social boundary between "coral reef destroyer" and "conservationist" in various context of social interaction."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
T25097
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rusli Cahyadi
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2007
T22719
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mahbib Khoiron
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
T52511
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library