Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sander Sasmita
"Cahaya dinyatakan pada penglihatan manusia melalui interaksi dengan material, ketika material itu sendiri hanya hadir secara visual dengan kehadiran cahaya. Cahaya mengacu pada kualitas yang secara dikotomi hadir dalam wujud materiil atau yang dapat terbentuk dalam interioritas subyek, kondisi imateriilnya. Dekonstruksi pemahaman cahaya adalah untuk membongkar konstruksi konsep cahaya yang telah dimaknai dari basis scientific, dengan melihat pemaknaannya berdasarkan sifat atau dampaknya.
Ruang yang terdefinisi dengan konsep kecahayaan, mengisyaratkan bahwa dimensi ketiga pembentuknya merupakan dampak dari representasi cahaya terhadap suatu medium. Mengangkat istilah 'kecahayaan' berupaya untuk mengungkap konsepsi alternatif yang terlebih bersumber pada sifat-sifat cahayanya, agar tidak terjebak pada batas kebendaan (noun) dari kata 'cahaya'. Dialog mutual antara ruang dan cahaya, memposisikan kehadiran arsitektur sebagai ruang perantara yang menghadirkan permutasi cahaya, ketika arsitektur itu pun hanya hadir dan bertransformasi dengan kehadiran cahaya.
Perancangan arsitektur di sini mengungkap keterhubungan antara sifat materiil dan imateriil cahaya, yaitu bagaimana pencerapan pengalaman subyek yang bersumber dari sifat imateriil cahaya sebagai konsep dapat diterjemahkan menyentuh kondisi materialitasnya sebagai kehadiran.

Light, revealed as visions through interaction with materials, as materials themselves are revealed visually in the presence of light. It may appear as a divine phenomenon in its materiality, as well as something that may be formed in the interiority of a human mind, its immaterial state. Deconstructing the understanding of light was to reconsider its definition that has much been explained through scientific means, by reviewing its meaning qualitatively according to its characteristics.
Space that has now been framed in the concept of light, indicates that the third-dimension of its forming relates to the effects of light's representations on the face of a medium. A mutual dialogue between space and light situates the presence of architecture as an intermediary, of which accomodates the permutations of light, while architecture itself would be revealed and be transformed in the play of light.
The design process uncovers the interconnections between material and immaterial qualities of light, that is to say, how a subject's perceptual experience that emerged from the immaterial state of light as a concept could be rendered into its material form as a presence.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
T43442
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Coriesta Dian Sulistiani
"ABSTRAK
Ruang terbentuk tak hanya dipengaruhi oleh suatu geometri yang teraga semata, tetapi terdapat dimensi lain yang mempengaruhi. Dimensi lain ini berkaitan dengan Kendali. Formalisasi ruang merupakan bentuk menanamkan citra kendali pada ruang yang dilakukan dengan memberikan simbol-simbol batas kuasa. Akan tetapi ketertutupan dari batas kuasa ini justru menegaskan keberadaan the Other yang merupakan ancaman bagi the Body. Ancaman ini hadir di dalam realita keseharian the Body berupa dualitas kendali antara the Body dan the Other yang menyebabkan terjadinya intellectual uncertainty. Intellectual uncertainty inilah penanda adanya guncangan yang dilakukan dengan tujuan menciptakan intimidasi kendali atau rasa takut di dalam ruang. Dalam keseharian, dualitas yang terkandung pada formalitas ruang menjadi realita yang diulang berkali-kali, keberadaan kendali the Other di dalam ruang kendali the Body menghantui the Body sehingga berakibat rasa takut yang berlipat-lipat. Dengan kata lain, menghadirkan kendali the Other dalam formalisasi ruang keseharian merupakan penciptaan Ruang Teror. Labirin merangkum Ruang Teror dalam bentuk sebuah perjalanan melalui ruang dan waktu yang menghadirkan the Body dan the Other secara bersamaan.

ABSTRACT
The creation of space is not only influenced by merely the tangible geometry, but also by the dimension of power. This dimension is related to the control. The formalization of space is like embeding an image of power in space by giving the symbols of control limits. However, the closure of this limit confirms the existence of the Other which is a kind of threat for the Body rsquo s existence. This threat presents in the Body rsquo s everyday reality by becoming a duality of control between the Body and the Other which leads the Body rsquo s mind to intellectual uncertainty. This intellectuals uncertainty marks the existence of the trembles which is purposedly created to stimulate some intimidations or just some fear to appear in space. In everyday life, the duality in the formality of space becomes reality which is repeated, the existence of the power of the Other in the Body's space haunts the Body to cause fear greater. In other words, to present the power of the Other in the formalization of everyday space is equal to create the Space of Terror. Labyrinth brings the concept of the Space of Terror into reality as a passage through space and time which the Body and the Other could present in one time."
2015
T48920
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library