Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 30 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rizqi Faradillah
"Penelitian ini melihat feminisme Islam dalam film 10 (2002) karya Abbas Kiarostami dan film Persepolis (2008) karya Marjane Satrapi mengenai perempuan Muslim yang independen yang hidup di tengah masyarakat Iran. Pendekatan feminisme Islam tentang hijab dari Qassim Amin dan Fatima Mernissi, beserta contoh kasus yang berkenaan dengan feminisme dan fundamentalisme Islam dari Haideh Moghissi di negara-negara Muslim, digunakan untuk mengamati bagaimana gagasan feminisme dimunculkan menghadapi dominasi laki-laki, dan bagaimana citra perempuan sebagai korban atau perempuan yang berpotensi memperjuangkan kesetaraan ditampilkan dalam kedua film, 10 dan Persepolis. Penelitian feminisme Islam didesain dengan analitis-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan feminisme Islam dalam kedua film tersebut mampu membangun citra perempuan yang mengemukakan potensi diri dan berhak untuk setara dengan laki-laki.

The focus of this study is an Islamic Feminism in Abbas Kiarostami?s movie 10 (2002) and Marjane Satrapi?s Persepolis (2008), concerning independent Moslem women who live in Iranian society. The approach of Islamic feminism, Qassim Amin and Fatima Mernissi?s concepts of hijab along with cases of study from Haideh Moghissi relating to feminism and Islamic fundamentalism in Moslem countries, are used to view how the ideas of feminism emerge facing male domination and how women?s portrayal pointed out as victims or the opposite, as an image that potentially struggling for equality, showing in these pictures. The research of Islamic feminism is designed to descriptive analytical method. The result indicates that Islamic feminism in these two movies are women who have been able to built a portrayal of women who put forward their potential and have the right to be equal with men."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S13344
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ratih Andita Prafitri
"Khitan perempuan merupakan warisan budaya Afrika kuno yang telah menyebar luas di seluruh dunia. Pada faktanya ini adalah sebuah 'penindasan' terhadap perempuan, karena khitan perempuan menyebabkan banyak perempuan yang menderita baik secara fisik maupun secara mental. Walaupun ternyata tidak ada efek positif yang ditimbulkan, praktik khitan perempuan tetap dilaksanakan. Hal tersebut dikarenakan khitan perempuan adalah suatu tradisi turun temurun yang bila tidak dilaksanakan akan dikucilkan oleh komunitasnya. Terlebih lagi budaya khitan menggandeng agama untuk lebih membenarkan praktik ini, walaupun dalam agama sendiri tidak ada sumber hukum yang sahih dalam menjelaskan khitan perempuan ini.Khitan perempuan juga terjadi di Indonesia. Fatayat NU sebagai satu-satunya organisasi perempuan Islam yang memperhatikan masalah ini sudah me-mubah-kan praktik ini. Namun masih banyak pihak yang menganggap bahwa khitan perempuan adalah sebuah keharusan di beberapa daerah di Indonesia. Oleh karena itu Fatayat NU terus berusaha untuk mengubah pola pikir masyarakat tersebut dengan mengadakan pelatihan dan penyuluhan diharapkan akan diterima masyarakat dan merubah cara pandang masyarakat terhadap praktik khitan perempuan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S13350
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fadhillah Khan
"Setelah kemenangan PKC (Partai Komunis Cina) atau terhadap PNC (Partai Nasionalis Cina atau Guomindang) pada tahun 1949, dengan didukung penuh oleh rakyat dan partai, Mao Ze-dong memegang tampuk kekuasaan tertinggi di Republik Rakyat Cina (selanjutnya akan disebut Cina). Dan untuk mempersatukan seluruh rakyat demi tercapainya masyarakat sosialis, Mao menggunakan filsafat komunisme yang berbeda dengan komunisme Rusia. Seperti halnya negara-negara komunis lainnya, politik Luar negeri Cina juga berkiblat pada ajaran Marxisme Leninisme yang membagi dunia menjadi dua bagian, yaitu masyarakat kapitalis dan masyarakat komunis. Namun disamping itu, dalam prakteknya Cina juga menerapkan pemikiran Mao. Menurut ajaran Mao, pertentangan antara komunis dan kapitalis hanya dapat dimenangkan oleh komunis melalui suatu revolusi bersenjata. Di dalam proses pertentangan klas ini selain melalu revolusi bersenjata, Cina juga mengenal yang disebut Strategi Koeksisensi Daman. Perubahan sikap ini terjadi karena pengakuan atas kenyataan bahwa kapitalisme ternyata masih kuat dan memerlukan pendekatan lain. Strategi koeksistensi damai ini menganut prinsip. Prinsip ini dijaiankan dengan Cara :Saling menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah masing-masing Negara, Saling tidak menyerang, ditambah lagi dengan prinsip..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sony Heru Prasetyo
"Sudah sekian lama, pemikiran Islam berada dalam kondisi ketertutupan dan stagnasi. Sampai dengan era modern kini, pemikiran Islam masih saja berdaulat pada berbagai episteme dan piranti kebudayaan yang dihasilkan oleh para pembuat peradaban Islam zaman lampau. Pemikiran Islam bahkan sering dinarasikan dengan berbagai ungkapan yang negatif. Mohammed Arkoun adalah seorang pemikir yang senantiasa gelisah melihat kondisi ketertutupan nalar Islam. Tafsir tradisional-ortodoks terhadap teks kitab suci-yang masih terus digunakan hingga kini-menurut Arkoun memiliki andil besar terhadap ketertutupan nalar Islam. Menurut Arkoun, teks kitab suci harus ditafsirkan secara baru mengikuti struktur nalar yang berkembang pada setiap periode zaman. Dalam konteks tersebut, penggunaan hermeneutika modern terhadap teks kitab suci (al-Quran) menjadi suatu keniscayaan dalam pandangan Arkoun. Apresiasi Arkoun yang besar terhadap hermeneutika dapat dimengerti sebagai akibat dari pergumulan Arkoun dengan teori-teori sejarah dan filsafat Bahasa yang tumbuh subur di Barat, utamanya di Perancis dan Jerman. Para filsuf seperti: Hans-Georg Gadamer, Paul Ricoeur, Ferdinand de Saussure, dan Jacques Derrida_di samping juga para filsuf lainnya-sering menjadi rujukan Arkoun dalam usahanya mengembangkan metode hermeneutika. Metode hermeneutika yang dipelajari dan dikembangkannya ini pun secara signifikan telah ikut berperan membentuk format dan visi intelektualitasnya dalam memahami Islam. Hermeneutika terhadap teks kitab suci (al-Quran) yang ditawarkan Arkoun tidak lagi bertujuan mencari prinsip-prinsip pengetahuan metafisik ansich atau sekadar menempatkan suatu metadiscourse seperti yang pernah dihasilkan pemikir Islam skolastik semisal al-Farabi, ibn Sina, dan ibn Rusyd. Hermeneutika Arkoun terlebih ingin mendialogkan teks al-Quran dengan sejarah, pemikiran, serta dengan persoalan-persoalan konkret kemanusiaan, sekarang dan di sini. Dengan kata lain, melalui hermeneutika, Arkoun ingin memeras teks al-Quran sehingga mampu menghasilkan metode-metode baru, pemikiran-pemikiran baru yang relevan dengan konteks kekinian. Hermeneutika yang ditawarkan Arkoun juga sama sekali tidak berpretensi mengejar tujuan-tujuan ekstra Qurani atau sekadar bersifat apologetis seperti yang nampak pada gerakan pemikir Islam abad ke-19. Hermeneutika Arkoun justru didasarkan pada instrumen-instrumen metodologis yang kokoh. Dengan menggunakan instrumen metodologis yang kokoh, penafsiran al-Quran diharapkan mampu merasionalisasikan doktrin yang ditemukan dalam atau dirujukkan kepada al-Quran, dan pada saat yang sama mampu mendemitologisasi berbagai pemahaman mitis dan metafisik di sekitar penafsiran al-Quran. Upaya hermeneutika yang ditujukan untuk membangun kembali pemikiran Islam tidak akan berpengaruh signifikan apabila tidak didahului dengan penggunaan analisis historis dan strategi dekonstruksi. Kedua hal tersebut akan menjadi perangkat pengungkap nalar ortodoki Islam yang telah menyelimuti seluruh dimensi pemikiran Islam. Semua langkah dan upaya Arkoun tersebut dijelmakan dalam proyek ambisiusnya: kritik nalar Islam."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
S16119
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arie Fakhrizal
"Ayatullah Khomeini Iran. Revolusi Iran, yang mencapai pucaknya pada bulan Februari 1979, lelah menghasilkan perubashan yang radikal dalam sistem politik dan bentuk pemerintahan di Iran. Sebelum revolusi tahun 1979, bentuk pemerintahan Iran adalah monarki absolut dengan Shah Pahlevi sebagai kepala negara dan juga kepala pemerintahan. Setelah revolusi tahun 1979, bentuk Republik Islam Iran pun secara resmi disetujui mayoritas (98, 2 %) rakyat Iran melalui referondum yang diadakan pada tanggal 1 April 1979."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2006
S13168
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fuad Latif
"Perkembangan geopolitik terutama dalam sistem pemerintahan merupakan dialektika yang tidak ada habis-habisnya. Masing-masing sistem pemerintahan berusaha mengklaim sebagai sistem pemerintahan yang tepat untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Demokrasi sebagai salah satu sistem pemerintahan menunjukkan dominasi di sebagian negara sebagai sistem pemerintahan yang mampu menyuarakan aspirasi warga negara. Dominasi demokrasi disebabkan oleh adanya prinsip kebenaran manusia di dalamnya. Hal ini menyebabkan ketertarikan banyak negara untuk mengadopsinya sebagai sistem pemerintahan. Dominasi demokrasi pun pada akhimya harus mendapat tantangan dari beberapa sistem pemerintahan, salah satunya adalah dari pemerintahan agama (terutama dari Islam). Tantangan ini menyebabkan adu klaim antara keduanya sebagai sistem pemerintahan yang paling tepat untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Perdebatan antara Barat dan Islam seolah-olah tidak pernah ada habisnya. Masing-masing mempunyai klaim kebenaran yang ingin dipertahankan dan disebarluaskan. Untuk dapat memperoleh pengaruh yang luas, baik pemerintahan agama maupun demokrasi sekular, keduanya berusaha melakukan apa yang menurut mereka benar. Namun hal ini justru membuat keduanya mengabaikan prinsip dasar masing-masing, sehingga menimbulkan kecacatan dalam pelaksanaannya sebagai sistem pemerintahan. Kecacatan inilah yang dinilai sebagai biang kegagalan keduanya dalam memberikan sebuah perlindungan kepada warga negara. Berdasarkan kondisi di atas, Abdul Karim Soroush melihat perlu adanya rekonsiliasi antara demokrasi sekuler dengan pemerintahan agama sebagai usaha untuk mereduksi konflik antara keduanya. Demokrasi agama dinilai mampu meredam gejolak konflik antara pemerintahan agama dengan demokrasi sekuler, karena demokrasi agarna dianggap mempunyai kemampuan untuk mengakomodasi keduanya sebagai sebuah sistem pemerintahan. Pertemuan antara Barat dengan Islam dalam demokrasi agama tidak seperti pada perdebatan-perdebatan sebelurnnya yang hanya menyentuh kulitnya saja, akan tetapi mengkaji lebih dalam tentang sebuah sistem pemerintahan dengan perangkat-perangkat substansinya."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2006
S16107
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Hanifah
"Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah cikal bakal perkembangan pergerakan Hizbut Tahrir di Indonesia. Pemikiran Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia sejak tahun 1982 dan telah berkembang ke kampus-kampus di luar Bogor melalui jaringan Lembaga Dakwah Kampus yang sekarang dikenal dengan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Aktivis kampus itulah yang menjadi tulang punggung pergerakan Hizbut Tahrir (kader). Mereka mensosialisasikan ide-ide Hizbut Tahrir kepada masyarakat luas di kemudian hari, hingga pada 28 Mei 2000 dibentuklah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang bercita-cita menegakkan Khil_fah Isl_miyah. Penelitian ini berusaha mengungkapkan aktivitas pergerakan HTI di IPB dalam upayanya menegakkan Khil_fah Isl_miyah. Dengan metode heuristik, data diperoleh dari sumber primer yang berupa wawancara dengan Juru Bicara HTI, Pengurus Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB, serta buku dan majalah terbitan HTI dan data sekunder yang diperoleh dari literatur umum yang membahas atau berkaitan dengan pergerakan HTI serta wawancara dengan dosen Agama Islam IPB dan pengurus Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM)/Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) IPB. Setelah pencarian sumber data dilakukan, sumber-sumber tersebut dikritik secara eksternal, yaitu apakah sumber tersebut dapat dipercaya dan secara internal, yaitu apakah sumber tersebut menghasilkan fakta (objektif). Ketika telah dipastikan bahwa sumber tersebut dapat dipercaya dan mengandung fakta-fakta, maka langkah selanjutnya adalah interpretasi, yaitu menganalisis sumber data dengan menggunakan teori. Setelah proses analisa tersebut, penulisan dilakukan dengan merekonstruksi data dan fakta yang disajikan dalam bentuk deskriptif analitis. Pergerakan HTI di IPB menggunakan sarana lembaga kemahasiswaan BKIM IPB dalam mensosialisasikan ide-ide mereka, yaitu dengan melakukan berbagai kegiatan keislaman di dalam maupun di luar kampus IPB. Selain itu, aktivis HTI di IPB juga menggunakan sarana sosial politik mahasiswa dengan mengikuti pencalonan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa IPB yang akan memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPB melalui Pemilihan Raya. IPB yang merupakan basis awal gerakan HTI hingga saat ini belum berhasil dalam counter hegemoninya di kampus tersebut karena pergerakan HTI di IPB baru sebatas pensosialisasian pemikiran, sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat mewujudkan cita-cita menegakkan Khil_fah Isl_miyah."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2007
S13329
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alia Prima Dewi
"Negara Islam Indonesia adalah gerakan yang dipimpin oleh S.M. Kartosoewirjo pada tahun 1949. Setelah Kartosoewirjo wafat, Imam NII dpegang oleh Adah Djaelani yang pada tahun 1996 mengangkat secara resmi Abu Toto sebagai penggantinya. Sebelum menjadi Imam, Abu Toto adalah Komando Komandemen Wilayah 9 yang meliputi Jakarta dan Banten. NII yang dipimpinnya lebih dikenal dengan nama NII KW-9. Dalam pergerakannya, NII KW-9 menjadikan Islam sebagai landasan hukumnya. Namun, seiring dengan berubahnya waktu NII mengalami perubahan dalam dasar-dasar akidahnya. Hal ini disebabkan karena konsep dasar NII KW-9 dicampur dengan aliran Lembaga Kerasulan dan Isa Bugis. Sejak tahun 2001, NII KW-9 mulai merekrut mahasiswa sebagai tambang emas untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk kegiatan NII KW-9. Salah satunya, NII KW-9 mulai merekrut mahasiswa Universitas Indonesia, khususnya mahasiswa Fakultas Ekonomi. Perekrutan dan aktivitas anggota NII KW-9 mulai meresahkan pihak dekanat di beberapa fakultas. Pada tahun 2005, FE mengadakan seminar Bahaya NII dan mulai dari tahun yang sama, baik dari pihak dekanat maupun mahasiswa lebih mengantisipasi gerakan NII KW-9 di dalam kampus. Gerakan NII KW-9 membuat resah karena mahasiswa yang sudah menjadi anggota NII KW-9 biasanya bermasalah dalam bidang akademis dan pergaulan di fakultasnya. Hal ini disebabkan oleh mereka sibuk bekerja untuk menutupi uang infaq yang hares disetorkan setiap bulan. Jika mereka tetap tidak dapat menutupi uang infaq tersebut, maka diperbolehkan untuk menipu atau mencuri. Peristiwa ini terjadi di salah satu fakultas di Ul dan jika hal ini dibiarkan berlanjut, maka dapat merusak nama baik Universitas Indonesia. Selain itu, penyimpangan akidah yang menjadi landasan gerakan tersebut juga membuat gerakan ini dianggap sesat. Dengan demikian, NII KW-9 dalam mencapai tujuannya, yaitu mendirikan negara Islam di Indonesia telah melakukan penyimpangan mulai dari konsep akidah hingga penerapannya di lapangan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2007
S13111
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zacky Khairul Umam
"Krisis kebudayaan Arab-Islam yang marak diperbincangkan pasca-Perang Enam Hari antara dunia Arab melawan Israel (1967) membuat para sarjana dan cendekiawan Arab semakin sibuk merevitalisasi makna tradisi. Kekalahan atas Israel yang didukung Barat bukan hanya dimaknai sebagai kekalahan politik, tetapi meluas menjadi persoalan kebudayaan. Bangsa Arab dirundung kekalahan dari modernitas Barat, dan saat itu mereka menjadi radar kembali atas ketertinggalan peradaban. Strategi dekonstruksi dan rekonstruksi tradisi menjadi polemik kebudayaan Arab."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2007
S13450
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yulianti Eka Sasmita
"Spiritualitas menjadi sebuah fenomena tersendiri di masyarakat. Di antara kehidupan yang serba materialistis, masyarakat seakan-akan kehausan akan nilai-nilai spiritualitas yang terlupakan sclama ini. Training ESQ merupakan pelatihan kepemimpinan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang diperkenalkan oleh Ary Ginanjar Agustian pada tahun 2001 dengan mcnerapkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat dengan ilmu-ilmu Islam. Training ESQ hadir melengkapi posisi yang cukup strategis dalam dakwah Islam di Indonesia. Sebagai metode Baru dalam berdakwah, training ESQ didukung oleh teknologi canggih, somber daya manusia yang profesional, scrta penyampaian materi yang menggunakan bahasa sehari-hari, sehingga pelatihan ini dapat diterima dengan balk oleh masyarakat modern. Training ESQ berhasil menjawab kekosongan spiritualitas masyarakat perkotaan yang sudah terbelenggu oleh kehidupan kapitalisme global. Hal ini ditunjukan dengan semakin banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan ESQ. Setelah dilaksanakan selama enam tahun, jumlah alumni training ESQ sebanyak 400.000 orang. Training ESQ menggunakan sudut pandang yang melihat bahwa manusia sebagai makhluk yang hams berjuang di muka bumi, schingga manusia haruslah bekerja sebagai ibadah dengan niat yang benar untuk memperoleh ridho Illahi. Training ESQ tidak memposisikan dirinya sebagai hentuk praktek tasawuf, namun matcri serta nilai-nilai yang diajarkan, disebarluaskan, dan diamalkan sarat akan nilai-nilai spiritualitas Islam. Nilai-nilai tersebut hadir dalam upaya memperbaiki diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SW]'. Cara atau metode yang ditcrapkan melalui training ESQ yaitu menjadikan Asmaul Ilusna sebagai sumber akhlak manusia. Bentuk amalan sufistik yang diamalkan dalam training ESQ berupa zikir Asmaul Hzzsnu. Zikir tersebut menjadi ruh training ESQ. Tujuh Nilai Dasar F,SQ yaitu; jujur, tanggung jawab, visioner, disiplun, kerjasama, add, dan peduli berasal dari pengamalan Asmaul Ilusna. Ketujuh nilai dasar tersebut diharapkan akan menjadi pensosialisasian peserta akan pentingnya Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari. Asmaul Husna merupakan sifat-sifat Allah SWT yang tidak hanya dihapal, melainkan diamalkan dalam prilaku hidup manusia."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2007
S13322
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>