Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 71 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Intan Dian Astari
"Latar belakang. Bidang kerja sosial merupakan salah satu pekerjaan yang rentan terhadap stres kerja. Hal ini karena tugas pekerja sosial adalah untuk membantu orang lain dalam mengatasi masalah ataupun pemberdayaan individu untuk meningkatkan kesejahteraan diri. Dalam menjalankan pekerjaannya, terkadang kesejahteraan pribadi mereka terlupakan sehingga muncul stres kerja. Stres kerja dapat berdampak pada banyak hal, misalnya kesalahan pada pekerjaan, tingginya tingkat absensi, terganggunya hubungan sosial, dan bahkan depresi. Untuk mencegah hal tersebut perlu dilakukan intervensi manajemen stres terhadap pekerja sosial tersebut.
Metode. Penelitian ini menggunakan desain before-after dengan jenis penelitian kualitatif yang ditunjang dengan kuantitatif. Intervensi didasarkan pada modul manajemen stres kerja dari Davis, Eshelman dan M?Kay (2008) yang diadaptasi sehingga sesuai bagi partisipan penelitian. Partisipan penelitian ini adalah pekerja sosial yang berasal dari staf pengasuhan Yayasan Kampus Diakonea Modern (KDM). Manajemen stres dilakukan dengan intervensi kelompok karena diharapkan tiap individu dapat berbagi informasi maupun rasa empati satu sama lain. Penelitian ini dijalani oleh tiga orang partisipan dengan rangkaian intervensi sebanyak empat pertemuan.
Hasil. Berdasarkan wawancara dan hasil alat ukur, diketahui bahwa intervensi manajemen stres ini dapat menurunkan tingkat stres dua dari tiga partisipan yang mengikuti program. Terdapat beberapa perubahan positif yang muncul, misalnya mulai digunakannya komunikasi asertif dengan anak-anak penghuni KDM, digunakannya skala prioritas untuk menyelesaikan masalah, atau munculnya kemampuan mengatasi kecemasan ketika menghadapi atasan. Akan tetapi satu partisipan mengalami peningkatan stres setelah mengikuti rangkaian program ini.

Background. Social work is a field that is vulnerable to occupational stress. The social work profession promotes social change, problem solving in human relationships and the empowerment of people to enhance well-being, while their own well being is sometimes left behind and creates occupational stress There are some effects from occupationnal stress: mistakes when doing tasks, abseenteism, high alcohol consumtion, disruption of social relationship, and it can lead to depression. Stress management is considered as an effective way to defeat occupational stress.
Method. The research design is before-after with qualitative - quantitative approach. This intervention is based on occupational stress management invented by Davis, Eshelman and M?Kay (2008) that was modified and added with materials that suits the demand of participants. The study involved 3 parenting staffs from Yayasan Kampus Diakonea Modern (KDM) and will be done with group intervention. Participants underwent 1 pre assessment meeting, 4 group intervention sessions, and 1 post assessment meeting along the program.
Result. Measurement using observation and interview shows that stress management intervention (assertive communication, priority scale as one way to solving problems, or handling anxiety provoking thoughts) gives additional information and behavior changes in 2 participants, Unfortunately, 1 participant report a raise in occupational stress after the intervention.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
T30584
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muhlisa
"Di dunia ini setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan keharnilan dan persalinannya. Menurut hasil herbagai survci, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini berkisar antam 300 dan 400 kcmatian ibu per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKI di negara maju hanya sekitar I0 per l00.000 kelahiran hidup. AKI yang tinggi di Indonesia menunjukkan masih buruknya tingkat kesehatan ibu dan bayi baru lahir (WHO,2005). Pada waktu kesehatan didekatkan ke masyarakat, belum tentu masyarakat memanfhatkannya kanena berbagai alasan, termasuk ketidak-tahuan, dan hambatan ekonomis.
Kemiskinan dan rendahnya status sosial ekonomi perempuan mempunyai andil. Terbatasnya kesempatan memperoleh informasi dan pengetahuan baru, hambatan membuat keputusan, terbatasnya akses memperoleh pendidikan memadai, dan kelangkaan pelayanan kesehatan yang peka terhadap kebutuhan perempuan juga berperan terhadap situasi ini (Sak Motherhood: A Matter of Human Rights and Social Justice, 1998). Mengingat pentingnya kesehatan ibu hamil dan hubungannya dengan penggunaan pelayanan kesehatan yang masih di bawah standar maka perlu untuk melakukan kajian mengenai health belief ibu hamil itu sendiri terhadap pelayanan kesehatan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapat gambaran lebih jelas dan mendalam tentang health beltéf Ibu hamil dalam mcmiiih pelayanan kesehatan. Infomaan dalam penelitian ini adalah ibu dengan bayi (usia di bawah l tahun), yang memanfaatkan pclayanan kcsehatan, di Deea Muara Kecamatan Teluk Naga Kabupaten Tangerang.
Hasil yang didapatkan dari penelitian antara lain, ibu hamil memandang kehamilannya adalah sesuatu yang biasa saja dan sudah merupakan kodrat setiap perempuan, bersifat alamiah dan harus bisa mcnjalaninya dengan baik. Penilaian terhadap tcnaga keschatan juga membuat seseorang a.l
Ibu hamil yang mempersepsikan kehamilannya sebagai kondisi yang biasa saja dan tidak mempunyai risiko akan masalah yang dapat terjadi pada saat hamil, dan mempertimbangkan manfaat dan hambatan, dimana lebih besar manfaatnya akan melakukan pemeriksaan secara rutin dan mcndapat informasi yang cukup dan sesuai kcbutuhan dari orang yang mempunyai pengaruh, begitu juga sebaliknya."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T34174
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dhany Yudianto
2008
T38306
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rani Fitriyani
"Bergesernya usia penderita penyakit tidak menular seperti jantung, stroke dan lain-lain ke individu usia dewasa muda menjadi perhatian. Dewasa muda yang berusia 18-29 tahun memiliki beragam tugas perkembangan rentan melakukan kebiasaan tidak sehat yang berujung pada timbulnya penyakit. Perilaku mempromosikan kesehatan penting dilakukan untuk dapat meningkatkan kesehatan. Perilaku mempromosikan kesehatan dapat dipengaruhi oleh beragam faktor salah satunya health locus of control.
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara perilaku mempromosikan kesehatan dan health locus of control pada dewasa muda. Penelitian dilakukan kepada 800 orang responden berusia 18-29 tahun. Perilaku mempromosikan kesehatan diukur menggunakan Health Promoting Lifestyle Profile II HPLP II dan health locus of control diukur menggunakan Multidimensional Health Locus of Control MHLC.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara perilaku mempromosikan kesehatan dimensi tanggung jawab kesehatan dengan health locus of control dimensi powerful others, dimensi perkembangan spiritual dengan health locus of control dimensi internal, dan dimensi manajemen stress dengan health locus of control dimensi internal. Terdapat hubungan yang negatif dan signifikan pada perilaku mempromosikan kesehatan dimensi tanggung jawab kesehatan dengan health locus of control dimensi internal dan dimensi manajemen stress dengan health locus of control dimensi powerful others. Selain dari dimensi yang telah disebutkan, tidak terdapat hubungan antara perilaku mempromosikan kesehatan dengan health locus of control.

Shifting age of people with non communicable diseases such as heart disease, stroke and others into young adulthood are of concern. Emerging adults in the age range aged 18 29 years have various developmental tasks vulnerable to unhealthy habits that led to the onset of disease. Health promoting behavior is important to improve health. Health promoting behavior can be influenced by various factors such as health locus of control.
This study aims to investigate the relationship between health promoting behavior and health locus of control in young adults. The study was conducted to 800 respondents aged 18 29 years. Health promoting behavior was measured using Health Promoting Lifestyle Profile II HPLP II and health locus of control measured using Multidimensional Health Locus of Control MHLC.
The results showed that there was a positive and significant correlation between health responsibility dimension of health promoting behavior with powerful others health locus of control, spiritual growth with internal health locus of control, and stress management with internal health locus of control. There is a negative and significant relationship between health responsibility with internal health locus of control and stress management dimensions with powerful others health locus of control. Apart from the mentioned dimensions, there is no relationship between health promoting behavior and health locus of control.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Inti Nusaida Awaningrum
"Kematian pasangan hidup merupakan peristiwa yang paling dapat menyebabkan stress (Papalia dkk, 2002). Pada lanjut usia, rasa duka yang mendalam lebih tampak karena hubungan dalam pernikahan yang telah terjalin lama dan lebih sulit untuk beradaptasi hidup tanpa pasangan (Archer, 1998). Menariknya, pada perempuan, tekanan akibat rasa kehilangan dapat menjadi media untuk instropeksi dan perkembangan, melalui aspek-aspek dari diri mereka serta belajar untuk berdiri sendiri (Lieberman, 1996 dalam Papalia, 2007). Hal tersebut berkaitan dengan psychological well-being yang dikemukakan oleh Ryff (1995), dimana individu dengan psychological-well being berarti tidak hanya terbebas dari hal-hal yang menjadi indikator mental negatif (bebas dari cemas atau depresi, merasa bahagia), akan tetapi juga mengetahui potensi-potensi positif yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mendapatkan gambaran psychological well-being perempuan lanjut usia yang mengalami grief karena kematian suami. Untuk tahapan grief yang dialami, akan ditelaah menggunakan tahapan yang dikemukakan oleh Kubler-Ross. Penelitian ini dilakukan pada 3 orang subyek lanjut usia. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan observasi dengan harapan dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa ketiga subyek memiliki enam dimensi psychological well-being yaitu dimensi penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Faktor-faktor yang paling mempengaruhi.

Death of spouse is a very stressful event (Papalia et al., 2002). In late adulthood, the deep anguish had shown more vivid because of the marital relationship that has occurred for a long time and would be more difficult to adapt without the spouse (Archer, 1998). The interesting thing is that in women, the pressure from the lost could be a media for them to look back and to stimulate growth and learn to stand by her self. (Lieberman, 1996 in Papalia, 2007). That matter is related with psychological well-being (Ryff, 1995), someone with psychological well-being is not only liberated from negative affect (liberated from anxiety or depression, feel happy), but also knows his or her positive affect. Because of that, researcher wants to have description of psychological well-being of late adulthood woman who deal with grief because of the death of spouse. The grief process will be reviewed with Kubler-Ross? grief process. This research is conducted to 3 late adult women. The method used to collect data is interview and observation. With interview and observation, researcher will have a full description. This research found that all of the participants have all of the dimensions of psychological well-being, which are self acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, personal growth. The factors that influence them the most after the death of their spouse are social support and religious factor. Meanwhile the grief processes that all of 3 participants deal with are shock and disbelief, preoccupation with the memory of the dead person, resolution."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lina Martina Sari
"Efektivitas kerja tim merupakan kunci utama kinerja kelompok, kohesi kelompok, efikasi kolektif dan kepuasan anggota. Kerja tim yang tidak efektif dalam kelompok salah satunya disebabkan oleh anggota kurang mampu berkomunikasi secara efektif. Permasalahan kerja tim yang tidak efektif karena anggota kurang kemampuan berkomunikasi secara efektif dialami oleh salah satu kelompok kader Posyandu di Jakarta Timur. Studi Intervensi yang akan dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan komunikasi kerja tim pada kelompok kader Posyandu melalui pelatihan komunikasi intepersonal. Metode penelitian secara kuantitatif dan kualitatif serta desain studi adalah field experiment after and before with control design. Sampel dipilih secara non-probablity purposive sampling. Pengukuran hasil intervensi keterampilan komunikasi interpersonal menggunakan Interpersonal Communication Competency Scale dan pengukuran keterampilan komunikasi kerja tim menggunakan Teamwork competency Test.
Hasil analisis statistik menunjukkan adanya peningkatan komunikasi kerja tim kelompok kader posyandu namun belum cukup signifikan karena intervensi dilaksanakan dalam waktu yang singkat. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara individu setelah pemberian intervensi diketahui bahwa, ketua kelompok dan beberapa anggota kader mulai menerapkan keterampilan komunikasi dalam kerja tim seperti, lebih terbuka dan suportif saat berdiskusi, memahami komunikasi non verbal antara anggota kelompok, lebih banyak mendengar dan memberi respon positif terhadap pendapat anggota kelompok yang lain, hampir semua melakukan tegur sapa dan perbincangan ringan. Selain itu, kelompok sudah membuat jaringan komunikasi dengan whatsapp group.

The effectiveness of teamwork is the key to group performance, group cohesion, collective efficacy and member satisfaction. Ineffective teamwork in groups is caused by members being unable to communicate effectively. The problem of ineffective team work because members lack the ability to communicate effectively is experienced by one Posyandu cadre group in East Jakarta. The Intervention Study that will be carried out in this study aims to improve communication of team work for Posyandu cadre groups through training in personal communication. Quantitative and qualitative research methods and study designs are field experiments after and before with control design. Samples were selected by non-probablity purposive sampling. Measurement of the results of interpersonal communication skills interventions using Interpersonal Communication Competency Scale and measurement of team work communication skills using Teamwork competency Test.
The results of the statistical analysis showed that there was an increase in the communication of work of the Posyandu cadre team team, but it was not significant enough because the intervention was carried out in a short time. Based on the results of observations and individual interviews after the intervention, it was found that the group leader and several cadre members began to apply communication skills in teamwork such as being more open and supportive when discussing, understanding non verbal communication between group members, listening more and giving positive responses to the opinions of the other group members, almost all of them did greetings and small talk. In addition, the group has created a communication network with whatsapp group.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
T52141
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shaskia Yasmin Susthira
"ABSTRAK
Penelitian ini berfokus pada ada atau tidaknya peranan trait kepribadian dalam preferensi tujuan wisata pada wisatawan. Penelitian ini menggunakan Big Five Model (McCrae & Costa, 1962) untuk melihat trait kepribadian wisatawan yang kemudian dihubungkan dengan preferensi tujuan wisata mereka yang terbagi menjadi tujuan wisata alam dan tujuan wisata budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimental. Analisis data menggunakan statistika deskriptif, korelasi chi-square, t-test dan logistic regression. Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 147 wisatawan yang berada pada usia dewasa muda, yaitu 20-40 tahun (Papalia, 2007) Dari analisis data, disimpulkan bahwa terdapat peranan dari trait kepribadian, terutama pada faktor agreableness. Selain itu juga terdapat hasil penemuan lain yang menunjukan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan preferensi tujuan wisata, peranan usia dalam preferensi tujuan wisata dan skor rata-rata wisatawan yang memilih ke wisata alam lebih tinggi dibanding yang memilih wisata budaya pada faktor agreableness.

ABSTRACT
The focus of this study is to find the role of personality traits in tourist destination preference. This study is using the Big Five Model (McCrae & Costa, 1962) for tourist personality to correlate with tourist destination wich divided into two types, nature tourist destination and culture tourist destination. This study is using quantitative approach with non-experimental design. Descriptive statistics, chisquare, t-test and logiztic regression will be used to analyze the information gathered. The sample of this study involved of 147 young adulthood tourists, between 20-40 years old (Papalia, 2007). The results of this study is there is a role from personality trait in tourist destination preference, especially for agrableness factor. Beside, the result of this study also found there is a correlation between education and tourist destination preference, the role of age in tourist destination preference and there is a different mean score in agreableness factor between tourist who chosed nature destination and culture destination."
2009
S3608
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratih Larasati
"ABSTRAK
Skripsi ini meneliti hubungan frekuensi kunjungan, perasaan keputusasaan, dan perilaku bunuh diri pada narapidana wanita di rumah tahanan Pondok Bambu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, dengan menggunakan tiga skala pengukuran utama yaitu Beck Hopelessness Scale, Suicidal Behavior Scale, dan Frequency ofVisits Scale. Subyek penelitian adalah 130 narapidana wanita di rumah tahanan Pondok Bambu. Hasil penelitian menemukan bahwa, ada hubungan yang signifikan antara frekuensi kunjungan sebagai bentuk dukungan sosial dengan perasaan keputusasaan, dan perilaku bunuh diri. Selain itu juga ditemukan hubungan yang signifikan antara perasaan keputusasaan dengan perilaku bunuh diri. Akan tetapi, tidak ditemukan pengaruh yang signifikan dari frekuensi kunjungan pada hubungan antara perasaan keputusasaan dan perilaku bunuh diri.

ABSTRACT
This study explores the relationship between frequency of visits, feelings of hopelessness, and suicida! behavior among female inmates in Pondok Bambu correctional facility. The study uses quantitative research method, with three main measurement scales: Beck Hopelessness Scale, Suicidal Behavior Scale, dan Frequency of Visits Scale. The subjects in this research are 130 female inmates in Pondok Bambu Correctional facility. This study found a significant correlation between frequency of visits as a form of social support and feelings of hopelessness, and also with suicidal behavior. Moreover, this study also found that feelings of hopelessness have a significant relationship with suicidal behavior. However, this study found no significant effect of frequency of visits on the relationship between feelings of hopelessness and suicidal behavior."
2010
S3686
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Hutahaean, Bona S.H.
"Latar Belakang: Mahasiswa yang memiliki self-esteem tinggi cenderung lebih mampu melakukan penyesuaian diri sehingga memiliki prestasi akademis yang lebih baik. Mereka juga akan lebih mampu mengatasi permasalahan dalam dunia perkuliahan sehingga secara otomatis menurunkan level distres psikologis.
Metode: Penelitian dilakukan secara quasi experimental. Delapan mahasiswa Universitas Indonesia berusia antara 18-23 tahun yang memiliki tingkat self-esteem di bawah 29 berdasarkan alat ukur Rosenberg Self-Esteem Scale dan memiliki level distres psikologis di atas 1.75 berdasarkan alat ukur HSCL-25 menjadi subyek penelitian. Kepada mereka diberikan intervensi pelatihan peningkatan self-esteem selama dua hari berturut-turut yang terdiri dari 5 sesi utama. Pelatihan dilakukan selama ± 6 jam per harinya. Empat minggu setelah pelatihan hari kedua, dilakukan wawancara dan pengukuran pasca intervensi menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale dan HSCL-25.
Hasil: Berdasarkan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi pelatihan, diketahui bahwa tujuh partisipan mengalami peningkatan self-esteem, satu partisipan mengalami penurunan self-esteem, tujuh partisipan mengalami penurunan level distres psikologis, dan satu partisipan mengalami peningkatan level distres psikologis.
Kesimpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa intervensi pelatihan dinilai berhasil dalam meningkatkan self-esteem dan menurunkan level distres psikologis mahasiswa Universitas Indonesia. Partisipan juga menyampaikan bahwa mereka memperoleh informasi baru mengenai self-esteem dan keterampilan baru berkomunikasi secara asertif dan berpikir positif.

Background: Undergraduate student with high self-esteem level tends to have a good adjustment to college world, therefore they can achieve greater academic performance. They will also have the ability to deal with college problems and automatically decreasing their psychological distress level.
Method: Quasi experimental research was conducted. Eight Universitas Indonesia?s undergraduate students aged 18-23 years who had self-esteem level below 29 as measured by Rosenberg Self-Esteem Scale and had psychological distress level above 1.75 as measured by HSCL-25 became the subject of this research. They were involved in self-esteem building training intervention within two days in a row (@ approximately 6 hours), consisted of 5 main sessions. Four weeks after the second day of training, the level of self-esteem and psychological distress were measured using Rosenberg Self-Esteem Scale and HSCL-25.
Result: The measurements before and after the training intervention found that seven participants had an increase in self-esteem level, one participant had a decrease in self-esteem level, seven participants had decreased psychological distress level, and one participant had increased psychological distress level.
Conclusion: This study proves that the training intervention is effective in increasing the level of self-esteem and decreasing the level of psychological distress for Universitas Indonesia?s undergraduate students. Participants also commented that they acquired new knowledge regarding selfesteem and new skills to communicate assertively and think positively.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
T30962
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8   >>