Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Cosphiadi Irawan
"Latar Belakang: Belum ada kesepakatan global penanda deteksi dini kejadian metastasis tulang pada pasien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan ekspresi tinggi penanda biologi CXCR4, IL11-RA, TFF1 dan MLF1P, klinikopatologi dan profil ekspresi genetik mRNA sebagai penanda peningkatan kejadian metastasis tulang pada pasien kanker payudara stadium lanjut.
Metode: Metode penelitian adalah potong lintang komparatif. Analisis dilakukan pada, total 92 pasien kanker payudara, terdiri atas 46 pasien metastasis tulang dan 46 pasien dengan metastasis nontulang. Analisis microarray, dilakukan pada 81 sampel FFPE dari 81 pasien yang didapat. Data dikumpulkan melalui rekam medis, pemeriksaan imunohistokimia, dan microarray dengan nanoString nCounterTM.
Hasil: Diperoleh IL11-RA dengan cut-off ≥ 103,5 menunjukkan peningkatan kejadian metastasis tulang, dengan OR 3,803 (95 % interval kepercayaan [IK], 1,375-10,581), p = 0,010, dan MLF1P dengan cut-off ≥ 83,0 menunjukkan peningkatan kejadian metastasis tulang, dengan OR 2,784 (95% IK, 1,009-7,681), p = 0,048. Status ER+ menunjukkan peningkatan kejadian metastasis tulang, dengan OR 7,640 (95 % IK, 2,599-22,459), p < 0,000. AUC gabungan IL-11RA, MLF1P dan ER+, mempunyai ketepatan hampir 80%, (meningkat dibandingkan AUC masing-masing secara terpisah), untuk membedakan dan menjelaskan kejadian metastasis tulang, pada kanker payudara stadium lanjut.  Pada kanker payudara metastasis tulang dengan organ lain (MT+), diperoleh panel 22-gen, dengan 13 gen: upregulated dan 9 gen downregulated ; pada metastasis hanya tulang (MT) diperoleh panel 17-gen dengan 13 ekspresi gen upregulated dan 4 ekspresi gen downregulated . Kedua panel memberikan hasil berbeda bermakna pengelompokan unsupervised, terhadap metastasis nontulang. Analisis berdasarkan diagnosis dua kelompok metastasis tulang, ekspresi ESR1 merupakan gen dengan perubahan ekspresi tertinggi, dan berdasarkan proporsinya, didapatkan 3 gen pada MT+, dan 8 gen pada MT, termasuk di antaranya ESR1, GATA3 dan MLPH/ ANXA9, yang meningkatkan kemungkinan kejadian metastasis tulang.
Simpulan: IL11-RA, MLF1P dan ER+, merupakan variabel yang berhubungan dengan peningkatan kejadian metastasis tulang pasien kanker payudara stadium lanjut. Diperoleh panel 22 ekspresi gen pada MT+, dan panel 17 ekspresi gen untuk MT yang berekspresi berbeda bermakna dibanding metastasis nontulang. Analisis berdasarkan diagnosis dua kelompok metastasis tulang, diperoleh 3 gen pada MT+, dan 8 gen pada MT, yang diusulkan menjadi kandidat training set selanjutnya.

Background: The aim of this research was to analyze the correlation between high expression of biomarkers CXCR4, IL11-RA, TFF1 and MLF1P, clinicopathology and genetic expression profiles (mRNA) in advanced breast cancer patients with bone metastatic.
Methods: The methods used were comparative cross-sectional. Analysis was done against a total of 92 breast cancer patients, including 46 bone metastatic patients and 46 non-bone metastatic patients. In microarray test, a total of 81 FFPE samples from 81 patients were used.
Results: IL11-RA with cut-off ≥ 103.5 showed OR 3.803 (95 % confidence interval [CI], 1.375-10.581), p = 0.010, MLF1P with cut-off ≥ 83.0 OR 2.784 (95% CI, 1.009-7.681), p = 0.048, and ER+ OR 7.640 (95 % CI, 2.599-22.459), p < 0.000, were associated with bone metastastic incidences in advanced breast cancer, and were statistically significantly different. A combination of IL-11RA, MLF1P and ER+, showed an accuracy of approaching 80 % to discriminate between bone metastatic and non bone metastatic in advanced breast cancer patients. The results of genetic expression profiles showed that the 22 genes expressions were significantly different between bone metastatic with other organs patients (MT+), and non bone metastatic patients, which consisted of 13 genes expression upregulated and 9 genes expression downregulated, while subject with only bone metastasis (MT), showed that 17 genes expressions were significantly different, consisting of 13 genes expression upregulated and 4 genes expressions downregulated. Based on diagnosis both types of bone metastasis, the ESR1 gene was the highest expressed, and base on proportion distribution there were 3 genes in MT+, and 8 genes in MT, including ESR1, GATA3, and MLPH/ ANXA9, associated with increasing bone metastasis incidences, which can be the next candidate for the training set.
Conclusion: IL11-RA, MLF1P, and ER+ were the variables that were associated with increasing bone metastasis incidence. There was a panel of 22 genes expression in bone metastasis and a panel of 17 genes expression for only bone metastasis that had significantly different expressions, compared to non-bone metastastasis. Based on diagnosis both types of bone metastasis, there is 3 genes in MT+, and 8 genes in MT, that can be the next candidate of training set."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2015
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Dwi Restuti
"Menurut Survei Depkes tahun 1993-1996 prevalens OMSK di Indonesia sebesar 3,1%. Di RS. Dr. Cipto Mangunkusumo dilaporkan 64 kasus OMSK dengan kolesteatoma pertahun pada periode 1998-2002. Angka kejadian kolesteatoma residu dan rekuren pascaoperasi masih cukup tinggi. Peran respons inflamasi pada pertumbuhan kolesteatoma telah dibuktikan, antara Iain interleukin-1α (IL-Iα) dan tumor necrosis factor-α (TNF-α). Efek hambatan kortikosteroid terhadap kolesteatoma pada hewan coba tetah diteliti. Mekanisme molekular hambatan pertumbuhan kolesteatoma mungkin terjadi melalui kematian sel (apoptosis) yang terlihat sebagai penurunan proliferasi sel, produksi IL-1α, dan TNF-α. Penelitian ini ingin mengetahui efek kerja kortikosteroid, dalam hal ini deksametason terhadap pertumbuhan kolesteatoma, serta pengaruhnya terhadap produksi IL-1α dan TNF-α oleh sel keratinosit kolesteatoma.
Penelitian dilakukan secara in vitro pada biakan keratinosit jaringan kolesteatoma, yang diperoleh dari pasien OMSK dengan kolesteatoma. Proliferasi sel dihitung dengan cara biakan sel keratinosit yang terdiri atas kontrol dan kelompok perlakuan. Pada biakan 24 jam, kelompok pertakuan diberikan deksametason dengan berbagai dosis, yaitu dosis 1 μg/mL, 10 μg/mL, 40 μg/mL, 80 μg,/mL, dan 100 μg/mL. Pemanenan sel diiakukan 24 jam kemudian dan dihitung jumlah sel, tingkat reduksi sel, serta vialibitas kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Untuk pengukuran kadar IL-lα dan TNF-α bahan yang diperiksa adalah supernatan biakan sel keratinosit kolesteatoma 48 dan 60 jam setelah perlakuan. Pengukuran kadar IL-1α dan TNF-α dilakukan secara ELISA, dengan menggunakan kit dari R & D Systems dengan nomor katalog DLA 50 untuk IL-1α dan HSTAOOC untuk TNF-α.
Pada penelitian ini selelah 48 jam biakan dan setelah 24 jam ditambahkan deksametason, tampak bahwa rerata jumlah sel pada kelompok perlakuan menurun dibandingkan dengan kelompok kontrol Dosis 1 μg /mL tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol, tetapi mulai dosis 10 μg/mL hingga dosis 100 μg/mL perbedaan tersebut bemakna. Pemberian dosis tertinggi, yaitu 100 μg/mL menyebabkan kelompok dosis tersebut berbeda bermakna dengan semua kelompok Iainnya. Pada penelilian ini pemberian deksametason dengan berbagai dosis menyebabkan peningkatan rerata kadar IL-1α yang sangat kecil, yaitu antara 0,04-0,37 pg/mL, secara statistik peningkatan tersebut tidak bermakna. Rerata kadar TNF-α kelompok kontrol dibandingkan dengan kelompok perlakuan pada biakan 48 jam tidak berbeda berrnakna, sedangkan pada biakan 60 jam berbeda bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Kemaknaan tersebut terjadi pada dosis 100 μg/mL.
Sebagai kesimpulan dapat dituliskan bahwa deksametason dapat menghambat proleferasi sel pada biakan keratinosit kolesteatoma dengan dosis minimal 10 μg/mL. Penambahan dosis deksametason hingga dosis 100 μg/mL akan meningkatan efek hambatan. Deksametason tidak terbukti menurunkan kadar lL-1α. Kadar TNF-α menurun setelah ditambahkan deksametason, yang terjadi pada biakan 60 jam dengan dosis 100 μg/mL (p=0,036).

According to the Survey by the Department of Health, Republic of Indonesia, in 1993-1996, the prevalence of chronic suppurative otitis media in indonesia was 3.1%. ln Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, there are 64 cases of chronic suppurative otitis media (CSOM) with cholesteatoma per year during 1998-2002. Post-operative residual and recurrence rate of cholesteatoma is high. It has been proven that inflammatory response, such as interleukin-1α (lL-lα) and tumor necrosis factor-α (TNF-α), play a role in the development of cholesteatoma. The inhibition effect of corticosteroid on cholesteatoma in animal model has been shown. Molecular mechanism of cholesteatoma growth inhibition is probably through apoptosis which may lead to decrease in cell proliferation as well as lL-α and TNF-α production. This study was conducted to find out corticosteroid (dexamethasone) effect on cholesteatoma growth, and its effect on IL-1α and TNF-α production by cholesteatoma keratinocyte cells.
The study was conducted in vitro on cholesteatoma keratinocyte culture obtained from patients suffering from CSDM with cholesteatoma. Cell proliferation was measured by counting keratinocyte culture cells in both control and dexamethasone experimental groups. Dexamethasone was given to the 24-hour culture tissue in several doses: 1 μg/mL, 10 μg/mL, 40 μg/mL, 80 μg/mL, 100 μg/mL. Cell harvesting was carried out in the next 24 hours. Cells were counted and cell reduction level and viability were analyzed in both control and experimental groups. The level of IL-1α and TNF-α in the supematant of the 48 and 60 hours cholesteatoma keratinocyte culture cells, were measured by ELISA methods, using R&D System kit catalog DLA 50 for lL-α and HSTAOOC for TNF-α.
This study found that the mean cell count in the experimental group was less than that of the control group after 48-hour culture and 24-hour dexamethasone treated. There was no significant difference in the cell count between the group of 1 μg/mL dexamethasone and the control group, but starting from 10 μg/mL to 100 μg/mL, significant difference was shown. In addition, the highest doses of dexamethasone 100 μg/mL gave significant difference of cell count compared to the other close groups. Several doses of dexamethasone given in this study caused minimal or non significant increase of IL-1α level, 0.04-0.37 pg/mL. There was no significant difference of the mean level of TNF-α between the control and the study groups in the 48 hours culture. However, there is significant difference in the 60 hours culture between these two groups at the dose of 100 μg/mL dexamethasone.
The conclusions of this study are that dexamethasone will inhibit cell proliferation in keratinocyte cholesteatoma culture with minimal inhibitory dose of 10 μg/mL. Increase of the dexamethasone dose to 100 μg/mL will increase this inhibitory effect. It was not proven that dexamethasone can decrease IL-1α production. Dexamethasone 100 μg/mL can decrease TNF-α production in the 60 hours culture."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
D615
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library