Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 49 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Wawan Yogaswara
"Prasasti merupakan sumber tertulis yang paling otentik, yang dapat digunakan untuk merekonstruksi sejarah kuna. Prasasti memiliki isi yang dapat memberikan gambaran tentang berbagai hal yang berkenaan dengan kehidupan sosial, birokrasi, perekonomian, religi dan politik dari berbagai masyarakat yang sezaman dengan prasasti itu. Sebagian besar prasasti dari masa Jawa Kuna dibuat untuk memperingati penetapan sima. Sima berarti ?batas? atau batas desa dan pada mulanya pranata sima berasal dari India. Prasasti sima memiliki formulasi yang tetap, salah satu unsur dalam prasasti sima adalah sapatha. Sapatha berarti kutuk, sumpah atau janji, dan dapat juga diartikan sebagai pernyataan dengan sumpah. Sapatha memiliki pola yang tetap sepanjang masa Jawa Kuna, yaitu: (1) seruan kepada para dewata sebagai saksi dan pemberi hukuman; (2) larangan untuk mennggu ketetapan sima; dan (3) sanksi-sanksi yang berupa acaman-ancaman.
Sapatha pada masa Majapahit memiliki hubungan fungsional dengan berbagai aspek dalam kehidupan masyarakatnya, yaitu aspek religi. hukum, politik, sosial dan ekonomi. Sapatha merupakan bagian dari subsistem hukum, yaitu sebagai salah satu perangkat hukum yang belum dikodifikasi. Dalam kehidupan masyarakat Majapahit, sapatha dapat berfungsi sebagai kaidah sosial yang berupa kesusilaan dan hukum adat. Sapatha merupakan cerminan dari sistem keyakinan, merupakan perpaduan antara sistem kepercayaan agama Hindu Saiwa dengan kepercayaan asli setempat, yaitu seruan kepada dewa-dewa dan arwah nenek moyang. Pola sapatha. dari masa Majapahit yang memiliki kesamaan dengan pola sapatha dari masa Jawa Kuna umumnya, menunjukkan bahwa pola sapatha dalam Prasasti sima dari masa Majapahit tidak mendapat pengaruh yang besar dari berbagai gejala keagamaan yang muncul sepanjang masa Majapahit.
Secara sosial, sanksi-sanksi dalam sapatha berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat. Penetapan suatu wilayah sima dapat menggambarkan pemberian legitmasi oleh raja kepada pejabat desa, sehingga dia mendapat pengakuan dari masyarakat desanya. Penetapan suatu wilayah sima juga memberikan keuntungan ekonomis bagi kerajaan Majapahit, karena kerajaan tidak dibebani pemeliharaan bangunan suci atau fasilitas lain yang ada di wilayah sima, kewajiban tersebut berpindah kepada masyarakat di wilayah sima, sehingga menambah pendapatan kerajaan Majapahit. Rakyat Majapahit yang daerahnya dijadikan wilayah sima secara ekonomis juga memperoleh pertambahan pendapatan dari penyusutan pajak atas semua usaha mereka di bidang pertukangan, perdagangan dan kerajnan. Sapatha berfungsi untuk menjaga kelestarian suatu ketetapan wilayah sima tesebut."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
T15367
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kuntayamah
"Skripsi ini membahas tentang pendirian sīma di desa Munduoan dan Haji Huma oleh Rakai Patapan Pu Manuku kepada wakilnya yang bernama Sang Patoran. Tujuan pemberian anugerah sīma ini adalah untuk menggembalakan kambing milik raja. Berdasarkan kritik ekstern yang dilakukan, Prasasti Munduoan terbukti secara otentik dibuat pada masanya. Sedangkan kritik intern menunjukkan bahwa prasasti ini sangat kredibel Prasasti Mundu'an merupakan prasasti tembaga tertua yang berisi mengenai penetapan sebuah sīma. Pada awal mulanya, penangugerahan sebuah sima merupakan wewenang seorang penguasa wilayah turun temurun, namun sejak akhir abab ke-9 M penganugerahan sīma menjadi wewenang raja seutuhnya.

The focus of this study is about establishment of sīma in village of Mundu'an and Haji Huma by Rakai Patapan Pu Manuku to his representative named Sang Patoran. The aim of his giving is to look after king's goat. According to extern critics prasasti Mundu'an is an authentic document from 9 century A.D. Meanwhile it is indicate a credible data according to the intern critics. Prasasti Mundu'an is the oldest copper inscription contained establishment of a sīma. In the beginning of 9 century A. D sīma was granted by a local leader; yet in the end of that century, sīma's establishment was whole granted by the king."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S11738
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Maharani Dewi Susanto
"Skripsi ini membahas tentang isi dan penyajian prasasti Tempuran 1388 Úaka agar layak dijadikan sebagai data sejarah. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan sejarah untuk menganalisis unsur fisik dan unsur isi prasasti. Dari hasil analisis diketahui bahwa : 1. Prasasti Tempuran merupakan prasasti yang dikeluarkan oleh 'seorang murid' dari lingkungan keraton, mungkin sekali seorang murid pujangga besar, atau abdi dalam raja, yang tergolong sebagai kawi-taruna. 2. Prasasti Tempuran menjadi bukti adanya kegiatan berolah sastra pada bidang batu dengan menggunakan kaidah keindahan (arthâlamkara). Bahwa prasasti batu (upala-prasasti) tidak hanya berfungsi sebagai prasarana pemberitahuan berupa maklumat, putusan, maupun pengetahuan moral, tetapi juga kegiatan berolah sastra; 3. Berdasarkan analisa unsur fisik dan isi, prasasti Tempuran merupakan prasasti yang dikeluarkan sesuai dengan angka tahun yang tertera yaitu 1388 Úaka (1466 M).

This skripsi studied about presentation and content of Tempuran inscription 1388 year of Úaka in order to made as history data. This research used history approach method to analyse physical and subject inscription element . From result analyse known that : 1. Tempuran inscription maybe was released by "a student" from kingdom environment, likely enough a smart student of pujangga, or serve in king, as kawi-taruna; 2. Tempuran inscription also becomed 'art-activity' on stone that used arthâlamkara. The stone inscription ( upala-prasasti) not only have function as declaration announcement, as decision, as moral knowledge, but also as art-activity; 3. Based on physical and subject element, Tempuran inscription was represented inscription that was released by during 1388 Úaka (1466 A.D).
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S11790
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Tres Sekar Prinanjani
"Skripsi ini membahas prasasti Wukiran 784 Ś yang dikeluarkan oleh Rakai Pu Kumbhayoni. Prasasti ini menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. Pembahasan meliputi terjemahan dan aspek-aspek yang terdapat pada prasasti. Bahasa Sansekerta yang diterjemahkan berdasarkan aturan tata bahasanya, begitu juga dengan bahasa Jawa Kuno. Selain itu, terdapat pembahasan tentang identifikasi tokoh, peristiwa, kronologi, tempat, dan juga fungsi dari penggunaan dua bahasa dalam prasasti Wukiran. Hasil dari penelitian tentang prasasti Wukiran dikaitkan dengan situs Ratu Baka dan prasasti-prasasti Ratu Baka lainnya.

This study tells about Wukiran inscription 784 Ś that made at Rakai Pu Kumbhayoni rules. Wukiran inscription have two languages, Sanskrit and Old Javanese. The focus of this study is not only about translation from Sanskrit and Old Javanese to Indonesian but all aspects that found in this inscription. The method to translate Sanskrit to Indonesian based on Sanskrit Grammar. There are explanation about figure (person and God), event, chronology, place, and language function. The result of this study connected with Ratu Baka Site and other Ratu Baka inscriptions."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S12051
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Vernika Hapri Witasari
"Skripsi ini merupakan pembahasan prasasti Pucangan Sanskerta yang meliputi analisa tata bahasa Sanskerta untuk melihat pemahaman sang citralekha terhadap tata bahasa Sanskerta di zamannya. Kemudian akan di interpretasikan, baik interpretasi tokoh, peristiwa, waktu, dan geografi dengan Prasasti Pucangan Jawa Kuna. Prasasti Pucangan telah alihaksarakan dan diterjemahkan oleh Prof.H.Kern dan diterbitkan pada Verspreid Geschriften VII. Karena terdapat kesalahan pembacaan dan penafsiran oleh para ahli terdahulu, maka prasasti Pucangan Sanskerta di kaji ulang pada skripsi ini.

This thesis is discussion about the Sanskrit Inscription of Pucangan that is include the analysis of Sanskrit grammar in the inscription to found how far the citralekha had to understanding of Sanskrit grammar in that time. Afterwards, it would be interpretation to the figure, even, time and geography with Old Javaness Inscription of Pucangan. This inscription had been transcription and translation by Prof.H.Kern and publish in VG VII. But, because there is some mistake in transliteration and interpretation also from the other epigraf, so this inscription must be re-analysis in this thesis."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S12034
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yessy Meilanie Abast
"Prasasti merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia masa lampau, berupa tulisan kuna yang dipahatkan pada suatu benda. Dari prasasti inilah kita memperoleh infomasi tentang struktur kerajaan, struktur birokrasi, struktur kemasyarakatan, struktur perekonomian, agama, kepercayaan dan adat istiadat di dalam masyarakat Indonesia kuna (Boechari,1977c;22). Prasasti Padlegan II merupakan salah satu prasasti dari masa raja Sarweswwara yang belum diteliti lebih dalam. Dalam ROC tahun 1908 prasasti Padlegan II diketahui berada di daerah Pinggir Sari, distrik Tulung Agung. Selanjutnya L. Ch. Damais dalam EEI IV, melakukan pembacaan sebanyak lima baris pertama untuk melakukan penghitungan tarikh masehi. Sejarah mengenai masa Kadiri terutama masa raja SarweSwwara masih sangat kurang. Oleh karena itu penelitian terhadap prasasti Padlegan 11 dirasakan sangat perlu untuk memberikan infomasi data historis kepada kita dan lebih banyak lagi data kemasyarakatan, perekonomian dan keagamaan. Penelitian terhadap prasasti hampir sama tahapan kerja yang dilakukan dalam penelitian sejarah. Tahap-tahap kerja yang dilakukan ada empat yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Setelah melalui tahap kritik, dapat diambil kesimpulan bahwa benar prasasti Padlegan II adalah prasasti dari masa Kadiri. Setelah itu dilanjutkan dengan identifikasi tokoh, tempat, waktu, dan peristiwa. Dalam identifikasi tokoh, ditemukan satu jabatan yang disebut Mapanji Ingitajna yaitu suatu jabatan yang mengerti tanda-tanda. Jabatan ini tidak ditemukan pada prasasti-prasasti Kadiri lainnya, tetapi ditemukan pada prasasti Singhasari. la disebut sebagai naya widingitajna yaitu suatu jabatan yang ahli dalam politik dan bijaksana akan isyarat (Sedyawati,1985a;328).Kemudian dalam identifikasi tempat, ditemukan satu kata yang sering muncul pada daftar nama-nama pejabat yang menerima anugerah raja. Kata itu ialah pagemangala. Kata pagemangala tidak diketahui artinya dalam bahasa Indonesia dan tidak ditemukan pula dalam prasasti-prasasti Kadiri lainnya. Dalam mengidentifikasi peristiwa diketahui bahwa prasasti Padlegan II merupakan prasasti yang dikeluarkan dalam rangka pemberian anugerah pamuwuh (anugerah tambahan). Hal itu ditunjukkan dengan adanya prasasti lain dari masa raja Bameswara yaitu prasasti Padlegan I (1038 S). Dalam prasasti Padlegan I menyebutkan nama-nama daerah sama dengan prasasti Padlegan II (1081 S)."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
S11900
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Masintan Karo Sekali
"Pemahaman terhadap perjalanan sejarah Indonesia Kuna dapat dilakukan dengan menelaah beberapa sumber data. Sumber data yang mempunyai kualitas tinggi dan dapat dipercaya adalah prasasti. Berbagai macam data dapat ditemukan dalam prasasti. Boleh dikatakan hampir semua aspek kehidupan dewasa ini, dapat ditemukan di dalamnya. Dengan ilmu bantu dan kemampuan analisis yang memadai maka kita dapat berbicara banyak berdasarkan data yang terdapat dalam prasasti. Tetapi pada kenyataannya masih banyak prasasti yang belum diteliti secara intensif. Sebagian besar prasasti diterbitkan dalam bentuk alih aksaranya saja, itupun tidak seluruhnya lengkap. Prasasti Galungun merupakan salah satu prasasti yang belum diteliti. Keberadaan prasasti ini pertama kali dilaporkan secara tertulis oleh Brandes dalam NBG tahun 1888. Laporan tersebut juga hanya sebatas angka tahun dan nama raja yang disebutkan dalam prasasti. L. Ch. Damais dalarn EEl IV hanya menyajikan alih aksara dari 4 bans pertama. Padahal keterangan sejarah mengenai masa Kadiri, terutama Kadiri akhir masih sangat terbatas. Sehubungan dengan hal tersebut maka dirasakan perlu melakukan penelitian yang lebih mendalam terhadap prasasti ini, yaitu mencaba rnengetahui isi dan latar sejarah sebab-sebab dikeluarkannya prasasti Galungun. Dalam hal ini digunakan data-data penunjang berupa prasasti sejaman dan naskah sastra yang berhubungan dengan masa Kadiri akhir. Penelitian ini menyangkut isi prasasti, yaitu pertulisan yang memberi keterangan tentang berbagai peri kehidupan masyarakat masa lalu. Oleh karena itu metode yang digunakan adalah metode penelitian sebagaimana yang diberlakukan terhadap data sejarah. Adapun tahapan kerja yang dilakukan meliputi:tahap heuristik, kritik teks, interpretasi dan historiografi. Sebuah lambang yang terpahat timbul di sisi depan prasasti merupakan sesuatu yang penting, karena lambang tersebut merupakan lanchana raja Krtajaya yaitu berupa Srnga atau tanduk. Adapun tanduk adalah lambang kekuatan dan kesuburan. Prasasti Galungun berisi tentang peneguhan sima. Sebelumnya telah pemah diturunkan anugrah sima oleh seorang yang disebut haji Panjalu. Siapa tepatnya yang disebut haji Panjalu ini tidak diketahui, tetapi yang pasti dia adalah seorang penguasa atau raja yang pemah memerintah. Duwan di Galurngui kemudian datang bersembah kepada raja yang sedang memerintah untuk memindahkan anugrah tersebut yang sebelumnya ditulis di atas ripta ke tugu batu. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk lebih melegitimasikan anugrah tersebut, selain tentu saja supaya lebih tahun lama. Raja kemudian mengabulkan dan menambah anugrah itu dengan hak-hak istimewa. Berlakunya denda disamping kutukan bagi pelanggar ketentuan, menunjukkan adanya hukum yang makin jelas dan pengaturan serta pengawasan yang makin ketat dari pemerintahan pusat pada masa Kadiri. Berdasarkan kritik ekstern dan intern yang dilakukan terhadap prasasti ini, dapat dipastikan bahwa prasasti ini adalah sesuai dengan angka tahun yang tertera di dalamnya dan bukan prasasti tinulad."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
S11928
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andriyati Rahayu
"Penelitian terhadap prasasti di Indonesia adalah hal yang penting karena tingginya kualitas prasasti sebagai sumber penulisan sejarah kuna Indonesia. Untuk menyusun suatu kisah sejarah dibutuhkan empat aspek pokok yaitu waktu, tempat, tokoh dan peristiwa. Namun keempat hal ini belum diperoleh dari prasasti Hayu, oleh karena itu dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam terhadap prasasti Hayu. Prasasti Hayu adalah temuan yang relatif baru dan belum ada penelitian terhadap prasasti ini. Berdasarkan penelitian awal diketahui bahwa pada prasasti Hayu tidak ditemukan adanya unsur penanggalan, namun dari pengamatan terhadap aksara yang digunakan, yaitu aksara tipe standar, diperkirakan prasasti Hayu berasal dari masa pemerintahan Rakai Kayuwangi-Rakai Watukura Dyah Balitung. Permasalahan dan tujuan penelitian ini ada dua, yang pertama adalah masalah isi prasasti Hayu. Analisis isi ini dapat dilakukan setelah diperoleh hasil bacaan dan terjemahan yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya sehingga akan diperoleh kejelasan tentang isi prasasti Hayu. Permasalahan yang kedua adalah masalah menempatkan prasasti Hayu pada kronologi yang tepat sehingga dapat diketahui latar belakang sejarah isi prasasti Hayu. PeneIitian ini menggunakan metode yang lazim digunakan dalam ilmu sejarah, yaitu :1. Heuristik, yaitu tahap pengumpulan data. 2. Kritik, yaitu tahap pengolahan data 3. Interpretasi dan historiografi yang merupakan tahap penafsiran atas isi prasasti Hayu dan kemudian menempatkannya dalam kronologi sejarah Indonesia kuna.Data utama dalam penelitian ini adalah prasasti Hayu, yang merupakan koleksi BPPP Jawa Tengah. Data bantu dalam penelitian ini adalah semua prasati sejaman, sebagai bahan perbandingan serta bahan-bahan pustaka lain yang menunjang .Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah:1. Prasasti Hayu berisi tentang penetapan alam di desa Hayu oleh Sari Pamgat Wurutungal yang bernama Pu Wulat. Snrta ini diperuntukkan untuk membiayai prasada milik Sari Pamgat Biku yang terletak di Syakan, 2. Pada prasasti Hayu memang tidak ditemukan adanya unsur penanggalan. Berdasarkan perbandingan unsur-unsur pada prasasti Hayu dengan prasasti yang sejaman dapat dipastikan bahwa prasasti Hayu berasal dari masa pemerintahan Rakai Kayuwangi, 3. Pada masa Rakai Kayuwangi belum ada aturan yang baku mengenai penulisan prasasti soma. Hal ini berdasarkan atas pengamatan pada struktur dan susunan prasasti Hayu dan prasasti-prasasti lain dari masa Rakai Kayuwangi."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2004
S11514
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widi Widayanto
"Ilmu epigrafi sebagai ilmu yang mempelajari prasasti, memberikan banyak informasi yang amat penting dalam upaya merekonstruksi sejarah perkembangan masyarakat dan budaya di Indonesia, khususnya pada rnasa pengaruh Hindu-Buddha. Prasasti sebagai sumber data arkeologi memberikan banyak gambaran mengenai struktur kerajaan, keagamaan, kemasyarakatan, perekonomian, birokrasi, kepercayaan dan adat istiadat pada masa Indonesia kuno. Sebagai sumber utama penelitian ini adalah Prasasti Kusambyan yang terletak di dusun Grogol, desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur. Keadaan prasasti pada saat ini terdiri dari lapik yang berbentuk padmasana berikut tubuh prasasti hanya bersisa sebagian (75 %), jadi bagian atasnya patah dan terpecah belah menjadi 9 pecahan. Apabila prasasti ini utuh diperkirakan berbentuk blok berpuncak running, serepa dengan bentuk prasasti pada masa Airlangga Aksaranya dipahatkan pada ke empat sisinya dengan bahasa dan aksara Jawa Kuna, dengan aksara yang sejenis dengan aksara masa pemerintahan Airlangga memerintah pada abad 11 M. Penelitian Prasasti Kusambyan ini bertujuan untuk mengetahui isi prasasti, dalam hal ini, analisis isi prasasti dapat dilakukan setelah melalui beberapa tahapan analisis, yaitu pembuatan alih aksara dan catatan alih aksara berupa koreksi kesalahan penulisan, serta penerjemahan dalam bahasa Indonesia berikut catatan terjemahan yang selanjutnya dilakukan penafsiran untuk menguraikan peristiwa yang terjadi. Dari tahapan pertama dapat diketahui juga masalah historiografi, yaitu penempatan data yang ada di prasasti ini pada kerangka sejarah, khususnya masa pemerintahan Airlangga. Dari penelitian yang dilakukan, prasasti Kusambyan kurang lebih menyebutkan tentang karaman i kusambyan yang dijadikan sima sawah atas perintah Sri maharaja... terdapat sesuatu yang menarik pada prasasti Kusambyan ini yaitu dituliskannya tokoh rahyan iwak, siapa rahyan iwak ini belum diketahui asal usulnya dan belum pernah disebutkan dalam prasasti masa Airlangga lainnya, namun nampaknya tokoh rahyan iwak ini merupakan tokoh yang cukup penting dalam prasasti Kusambyan ini karena kata rahyan iwak tertulis berulang-ulang pada bagian depan prasasti. Dari kata sandang rahyan dapat kits lihat bahwa tokoh ini merupakan orang yang mempunyai derajat cukup tinggi di masyarakat pada masa itu. Alasan lain mengapa tokoh rahyan iwak merupakan seorang tokoh yang penting, karena nama tokoh rahyan iwak muncul kembali di dalam prasasti yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Jayanegara yang memerintah pada abad 14 M dan juga terdapat prasasti Tuhanaru, salah sate prasasti dari masa Jayanegara. Isi dari prasasti itu diantaranya menyebutkan mengenai turunnya perintah Sri Maharaja pada desa Tuhanaru dan Kusambyan, perintah raja dilaksanakan dan ditandai dengan prasasti berlencana ikan. Dari data ini dapat disimpulkan adanya kesinambungan tokoh yang sama dan nama daerah yang sama yang terpaut rentang waktu yang cukup lama kurang lebih 200 tahun."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2004
S12067
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Komaruzaman
"Prasasti sebagai sumber tertulis sebagai data utama yang bernilai tinggi (primary element) mempunyai peranan penting bagi penulisan sejarah kuna. Selain sebagai sumber penulisan sejarah, bila diteliti dengan seksama, isi prasasti dapat memberikan gambaran tentang struktur kerajaan, struktur birokrasi, kemasyarakatan, perekonomian, agama, kepercayaan, dan adat-istiadat dalam masyarakat Indonesia kuna. Pengkajian prasasti sebagai upaya untuk merekonstruksi sejarah kuna Indonesia sudah sejak lama dilakukan. Namun banyak prasasti yang belum diteliti secara tuntas dan hanya diterbitkan dalam bentuk alih aksaranya saja atau dengan terjemahannya, namun belum dilakukan suatu tinjauan kritis terhadap isinya. Prasasti Lawadan dikeluarkan oleh Sri Sarwweswara Triwikramawataranindita Spigalancana Digjayotungadewanama dan berangka tahun 1127 Saka. Merupakan salah satu prasasti yang belum diteliti secara tuntas. Prasasti Lawadan 1127 S itu merupakan prasasti terakhir yang diketemukan sebelum raja ini dikalahkan oleh Ken Angrok pada tahun 1144 S. Jika dilihat dari jumlah prasasti yang menyebut nama Krtajaya yaitu hanya 7 buah, sedangkan ia bertahta sekitar 30 tahun jumlah itu sangat sedikit sehingga keterangan sejarah yang diperoleh juga sangat minim. Penelitian yang dilakukan baik itu oleh Brandes ataupun Damais hanya sebatas alih aksaranya saja. Untuk itu suatu pembacaan ulang dengan disertai suatu telaah isinya berupa tinjauan kritis dirasakan perlu untuk dilakukan. Pembacaan ulang yang telah dilakukan menghasilkan beberapa hal diantaranya bahwa ada beberapa kesalahan pembacaan yang telah dilakukan oleh Brandes dan citralekha. Selain itu pembacaan ulang ini dapat mengisi atau melengkapi beberapa bagian kosong pembacaan Brandes. Beberapa keistimewaan Prasasti Lawadan diantaranya pada bagian lancana dibubuhkan nama raja yang mengeluarkan prasasti ini yaitu Krtajaya. Selain itu prasasti ini diawali dengan mantra pujian terhadap dewa dan hal ini tidak terdapat pada prasasti Krtajaya lainnya. Prasasti Lawadan memberikan keterangan bahwa penduduk desa Lawadan beserta daerah sewilayahnya telah menerima anugerah raja yang berupa pembebasan pajak dan penerimaan sejumlah hak-hak istimewa. Hak-hak istimewa itu meliputi berbagai hal, seperti melakukan kegiatan-kegiatan tertentu di depan umum, mengenakan jenis-jenis pakaian dan perhiasan tertentu, memakan makanan istimewa, memiliki rumah dengan ciri-ciri tertentu serta memiliki pula tempat duduk, balai-balai, payung, serta tanaman di rumah mereka. Setelah melalui suatu tinjauan kritis yang dilakukan terhadap unsur-unsur ekstern meliputi bentuk prasasti, paleografi, dan kronologis serta unsur-unsur intern yang meliputi bahasa dan isi prasasti dapat disimpulkan bahwa Prasasti Lawadan ditulis sesuai dengan angka tahun yang dimuatnya, bukan merupakan prasasti yang palsu atau tiruan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
S11527
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>