Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 50 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Farahdila Virta Fauziah
"Kesadaran menjadi salah satu indikator suatu makhluk hidup. Tidak hanya itu, kesadaran memiliki jangkauan ruang yang luas dan kompleks dalam proses memahaminya. Hal ini membuat sulitnya akses kita sebagai manusia dalam memahami dan mendefinisikan bagaimana kesadaran ini bekerja. Permasalahan ini dibuktikan dengan hadirnya berbagai disiplin yang mulai menjajaki permasalahan kesadaran, yang sejatinya ini merupakan permasalahan mendasar dari filsafat tradisional. Begitu pula dengan pasangan filsuf asal Amerika ini, yaitu Patricia Churchland dan Paul Churchland. Mereka melahirkan disiplin baru dengan menggunakan pendekatan interdisiplin antara neuron dan filsafat, yaitu neurofilosofi. Neurofilosofi ini akan menjelaskan konsepsi kesadaran secara lebih kompleks dan komprehensif, melihat pendekatannya yang cukup luas dan berani. Namun, dalam hal ini neurofilosofi tidak dapat menjelaskan kesadaran sebagai qualia. Kesadaran disini hanya mengandalkan saraf aktif dalam membentuk sistematika kesadaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis komparatif antara disiplin ilmu saraf dan filsafat. Keeksistensian ilmu ini akan menjadi pertanyaan yang membuka cakrawala baru, karena pada dasarnya pendekatan interdisiplin yang digunakan pada ilmu ini sudah membuka ruang dan celah diskusi yang lebih kompleks. Ilmu ini nantinya akan memberikan celah dalam upayanya memaknai manusia pada masa mendatang.

Consciousness is an indicator of a living creature. Not only that, consciousness has a wide and complex spatial reach in the process of understanding it. This makes it difficult for us as humans to understand and define how this consciousness works. This problem is proven by the presence of various disciplines that are starting to explore the problem of consciousness, which is actually a fundamental problem of traditional philosophy. Likewise with this pair of philosophers from America, namely Patricia Churchland and Paul Churchland. They gave birth to a new discipline using an interdisciplinary approach between neurons and philosophy, namely neurophilosophy. This neurophilosophy will explain the concept of consciousness in a more complex and comprehensive way, considering its approach is quite broad and bold. However, in this case neurophilosophy cannot explain consciousness as qualia. Consciousness here only relies on active nerves in forming systematic consciousness. This research uses a qualitative approach with comparative analysis methods between the disciplines of neuroscience and philosophy. The existence of this science will be a question that opens new horizons, because basically the interdisciplinary approach used in this science has opened up space and gaps for more complex discussions. This knowledge will provide a gap in efforts to understand humans in the future."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Batubara, Yohanna Monica H.
"Soren Aabye Kierkegaard sebagai bapak eksistensialisme, menekankan manusia sebagai inti dari pemikiran eksistensialismenya. Pemikiran atas pemahaman eksistensi individu yang berdasarkan pada gairah atas pilihan_pilihan hidup, yang berjuang, bergulat, dan mengalami hasrat. Tegangan_tegangan eksistensial yang dirasakan oleh setiap individu menjadi landasan bagi subjek untuk memilih setiap pilihan yang ada di hidupnya. Ketidakpastian dalam hal ini merupakan salah satu hal yang pasti akan hadir pada setiap pilihan yang akan membuat setiap subjek merasakan kecemasan dan ketakutan. Semua pilihan yang mengandung ketidakpastian tersebut memerlukan adanya suatu keyakinan yang membuat individu lepas dari rasa cemas, sehingga keputusan yang telah dibuatnya membawa dia kepada keotentikan dan eksistensi dirinya. Isabella Swan dalam film Twilight merupakan sebuah contoh atas pemahaman eksistensialisme Soren Kierkegaard.Isabella Swan berhadapan dengan pilihan atas eksistensinya yang membutuhkan pertimbangan etis pada dirinya.

Soren Aabye Kierkegaard as the father of existentialism, emphasizes people as the core of the idea of existentialism. Thoughts on the understanding that the existence of individuals based on the passion for life choices, struggling, and experiencing desires. Existential tensions felt by every individual as a baseline for the subject to select any options in life. The uncertainty in this respect is one thing for sure will be present at every option that would make any subject feel the anxiety and fear. All the options that contain these uncertainties requires a belief that makes the individual free from anxiety, so the decision has been made to bring the subject to the authenticity and existence itself. Isabella Swan in the Twilight movie is an example of existentialism, Soren Kierkegaard's understanding. Isabella Swan faced with the option of requiring the existence of ethical considerations in her."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S16019
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Keisar Natanael
"Tulisan ini mengangkat tentang bagaimana musik dapat menjadi medium untuk menyingkap eksistensi subjek dengan menggunakan sudut pandang teori fenomenologi ontologi dari Martin Heidegger. Musik sendiri bukan hanya dikenal sebagai objek seni yang mampu menghibur, namun juga berkontribusi dalam sejarah. Musik berperan sebagai penanda waktu dan kultur di seluruh dunia sejak dahulu kala hingga saat ini, dan signifikansinya terhadap peradaban manusia sudah diakui oleh banyak budaya. Penulis menggunakan metode fenomenologi dengan mengkaji analisis dengan menggunakan sudut pandang fenomenologi Heidegger untuk mencari relevansi antara musik dan juga dampaknya untuk menjadi medium bagi seorang individu menyingkap eksistensinya. Dengan mengacu pada karya-karya Heidegger, penulis berusaha melihat bagaimana Heidegger melihat seni dan juga bagaimana ia menjelaskan eksistensi manusia dan bagaimana melalui teori Dasein, Heidegger menjabarkan cara untuk seorang individu menghidupi dirinya secara sepenuhnya. Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan bahwa dengan menerapkan konsep fenomenologi ontologis Heidegger dalam konteks musik, musik dapat menyediakan pengalaman eksistensial yang mendalam dan menghubungkan manusia dengan realitas ontologis.
This paper examines how music can be a medium to reveal the existence of a subject by using Martin Heidegger's ontological phenomenological point of view. Music itself is not only known as an art object that can entertain, but also contributes to history. Music has served as a marker of time and culture from the dawn of time to now, all around the world, and its significance to human civilization has been recognized by many cultures. The author uses a phenomenology method by examining the analysis using Heidegger's phenomenological viewpoint to discover the connection between music and also its path to become a medium for an individual to reveal his existence. By referring to Heidegger's works, the writer tries to see how Heidegger sees art and also how he explains human existence and how, through Dasein's theory, Heidegger describes how an individual can fully support himself. Through this paper, the writer would like to convey that by applying Heidegger's ontological phenomenological concept in the context of music, music can provide a deep existential experience and connect humans with ontological reality."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Frisca Cindy Az-Zahra
"Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pembedahan terhadap fenomena yang terjadi dari hadirnya inkonsistensi praktik pidana hukum yang timpang terhadap kaum elitis dan rakyat sipil. Penelitian ini menemukan bahwa inkonsistensi praktik pidana hukum yang terjadi di Indonesia kepada kaum elitis dan rakyat sipil menghasilkan persoalan ketimpangan vonis hukuman antar suatu kaum, ketidakadilan para aparat hukum dalam memvonis pidana hukum, hingga termarjinalnya rakyat sipil yang tidak memiliki hak istimewa dalam membela dirinya. Dalam kajian ini, pendekatan teori Kontrak Sosial Jean Jacques Rousseau digunakan bersama dengan metode kualitatif dengan teknik analisis konseptual dan refleksi kritis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa disparitas yang terjadi tidak sesuai dengan kontrak sosial yang telah disepakati.

This research aims to dissect the phenomenon that occurs due to the presence of inconsistent legal criminal practices that are unequal towards elitists and civilians. This research found that the inconsistency of legal criminal practices that occur in Indonesia for elitists and civilians results in problems of inequality in sentences between groups, injustice of legal officials in passing criminal sentences, and the marginalization of civilians who do not have the privilege of defending themselves. In this study, Jean Jacques Rousseau's Social Contract theory approach is used together with qualitative methods with conceptual analysis and critical reflection techniques. The results of this research show that the disparities that occur are not in accordance with the agreed social contract."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Krisna Budiman
"Skripsi ini membahas mengenai Hegemoni Dolar yang dibedah melalui pemikiran Hegemoni Antonio Gramsci. Tulisan ini mengantarkan pembaca ke dalam sebuah pemahaman bahwa Dolar menjadi elemen hegemoni yang mengantarkan Amerika Serikat sebagai negara hegemon dalam kancah ekonomi politik global. Skripsi ini menjelaskan tentang berkembangnya fungsi mata uang yang melampaui fungsi asasinya. Dolar bukan lagi sekedar alat tukar, melainkan menjadi sebuah alat dan simbol bagi proses Hegemoni Amerika Serikat. Dolar kini menjadi sebuah hiperealitas murni yang abstrak dan menjadi elemen vital dalam dinamika ekonomi politik global. Skripsi ini menyimpulkan bahwa Dolar menjadi alat hegemoni karena persetujuan yang diberikan negara-negara lain kepada Amerika Serikat atas penetapan Dolar sebagai mata uang hegemon dalam kesepakatan Bretton Woods 1944.

This study discuss about the hegemony of the dollar which is described by Antonio Gramsci Hegemony thoughts. This paper bring readers into an understanding that the dollar became a hegemony element which deliver the United States as a hegemon country in the global political economy arena. This study explain about the development of the currency function beyond its basic function. The dollar is no longer just a medium of exchange, but became a tool and symbol of the United States Hegemony. Dollar has became a pure abstract hyper reality and became a vital element in the dynamics of the global political economy. This study concluded that the dollar became the instrument of hegemony because of the approval given by other countries to the United States for the determination of Dollar as a hegemon currency in the Bretton Woods Agreement in 1944."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S16173
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Petrus Filio Garth Wiguna
"Skripsi ini membahas tentang epistemologi kaitannya dengan etika. Epistemologi sebagai landasan berpikir mempunyai masalah utama, yaitu arogansi epistemik. Arogansi epistemik ini tidaklah realistis, mengingat epistemologi tidak lepas dari latar belakang budaya, konteks wacana, dan pluralitas potensi kognitif manusia. Maka dari itu, etika sebagai salah satu cabang filsafat, berperan dalam mengembangkan toleransi epistemik. Toleransi epistemik inilah yang membawa potensialitas kognitif, ke arah pluralitas kognisi berbasis humanitarian.

This Scription discusses the epistemological relation to ethics. Epistemology as the foundation of thinking has a major problem, namely epistemic arrogance. Epistemic arrogance is not realistic, considering that epistemology can not be separated from cultural background, context of iscourse, and plurality of human cognitive potential. Therefore, ethics as a branch of philosophy, plays its role in developing epistemic tolerance. These epistemic tolerance brought cognitive potential, in the direction toward the plurality of cognition based humanitarian."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S16154
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Otto Trengginas Setiawan
"Skripsi ini membahas ruang lingkup paradigma holisme-ekologis yang digagas oleh Fritjof Capra. Berangkat dari latar belakang permasalahan yaitu krisis lingkungan yang sedang melanda dunia saat ini, ternyata krisis lingkungan tersebut bermuara pada kesalahan cara pandang manusia modern pada umumnya yang masih digunakan untuk melihat realitas alam sampai saat ini. Manusia modern pada umumnya masih menganut cara pandang paradigma Cartesian-Newtonian yang bersifat mekanistik dan reduksionistik. Implikasinya, alam sebagai objek yang selalu diekspolitasi secara berlebih, melahirkan masalah_masalah lingkungan yang mendesak untuk dicarikan jalan keluarnya. Oleh karena itu, pandangan manusia modern pada umumnya harus diubah menuju paradigma yang holistik dan ekologis. Konsep ekoliterasi yang digagas oleh Fritjof Capra setidaknya dapat menjadi panduan dalam setiap tindakan manusia terhadap alam.

The Focus of this study is to emphasize what is paradigm of holistic and ecology according to Fritjof Capra. Start from the background of the environmental crisis while attack our world, it is believed come from a point of view has mistaken by the public of modern age. The public of modern age is consumed paradigm of Cartesian-Newtonian which characteristic is mechanistic and reductionistic. The impact of this paradigm of Cartesian-Newtonian were seen the nature always been objective and always been exploitated by public. And now we feel the problem of our environment is very urgent to be solved. The paradigm of modern age that we stiil used to be, must be changed to the holistic and ecology point of view. Ecoliteracy concept by means Fritjof Capra must become our ecological awareness and our method to appeared our action to go to holistic and ecology paradigm as point of view toward nature."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
S16069
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yulia A.
"Tidak pernah ada manusia yang merasa aman dalam hidupnya. Karena manusia tidak penah dapat memprediksikan apa yang akan terjadi. Kecemasan ini kemudian berdampak pada kecemasan sosial, karena orang-orang yang merasa cemas kemudian berkumpul menjadi majemuk. Akibatnya harus ditentukan prinsip-prinsip yang mengatur kerja sama yang adil agar kecemasan bisa di minimalisir dan sebisa mungkin memberi rasa keuntungan. John Rawls menyebut kerja sama ini sebagai teori distribusi. Tujuannya adalah pembagian barang atau nikmat sosial secara sama dengan menghapuskan ketimpangan yang tidak menguntungkan seseorang. Sehingga orang-orang yang sepertinya tidak mungkin mendapat kemungkinan terbaik, dimungkinkan disini, karena ada proses dimana yang memiliki kebahagiaan yang besar akan mentransfer kebahagiaan mereka. Salah satu alternatifnya pendistribusiannya melalui asuransi dengan sistem subsidi atau pembagian.

There is no human that always feel safety in his life. It is because the limited capacity of human to predict what will happen in the future. This worry will affect to the social worried, because each of the individual then unite in one plural community. This condition develops the needs of principes of fairness joint work regulation, so that the worry could be minimize and hopefully will bring fairness and luck. John Rawls called this joint work as a distribution theory. The objective of this theory is to make a fair things distribution or social satisfaction by erasing someone_s destructions. By this theory, hopefully each man that seems impossible to get the best opportunity, could achieve it, because there is a cross substitution from the one who gets the greatest happiness to the other. One of the alternative application of the distribution is by insurance with the subsidize or allocation."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S16134
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Windy Warna Irawan
"Skripsi ini membahas mengenai kelompok minoritas seksual LGBTIQ schagai subjek hak dan hubungannya dengan negara schagai institusi penjamin hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metodc analisis deskriptif dan studi kepustakaan. Hasil dari pcnclilian ini menyatakan bahwa ada keperluan untuk menguhah konsep 11AM schagai sesuatu yang terkonstruksi secant social agar kelompok minoritas seksual LG13'I IQ dapat diakui sebagai subjek hak dan mendapatkan penghormatan, pemenuhan, serta perlindungan atas hak dan kepentingan mereka dari negara. Sislem negara demokrasi menjadi wadah politik yang sesuai untuk memherikan emansipasi kepada kelompok minoritas seksual LGBTIQ.

This thesis discussed about sexual minority group LGBTIQ as the subject of rights and its relation with the state as the human rights guarantor institution. This research used analitical descriptive and bibliography study methods. The result of this research declares that there is a need to change the conception of human rights into something that construct socially so that the sexual minority group LGBTIQ can he recognized as the subject of rights and get hold of respect, fulfillment, along with protection for their rights and interests that come from the state. The democracy state system became an appropriate political institution to give the sexual minority group I.GBTIQ emancipations."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S16072
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dwizatmiko
"Pierre Bourdieu, dalam bukunya, Language and Symbolic Power, menunjukkan bahwa bahasa merupakan instrumen simbolik yang berhubungan dengan kekuasaan. Praktik bahasa dihasilkan oleh habitus dan selalu terjadi dalam arena berkesenjangan sosial. Bahasa sebagai praktik sosial berkaitan erat dengan kepentingan, dan pertarungan kekuasaan. Bahasa bukanlah medium yang bebas nilai dalam mengkonstruksi realitas. Bahasa sebagai satu bagian dari instrumen simbolik berperan bagi sarana praktik kekuasaan yang memungkinkan dominasi dan kuasa simbolik. Kuasa simbolik ialah kuasa yang tak nampak dengan mensyaratkan salah pengenalan (ketidaksadaran) pihak yang menjadi sasaran. Namun, kondisi kesadaran dan ketidaksadaran dapat terjadi bagi sang aktor dalam menjalankan praktik kekuasaan tersebut.

Pierre Bourdieu, in Language and Symbolic Power, argues that language is a symbolic instrument relate to power. Practice of language (utterence) produced by habitus and occurs in fields. Language as social practices relates to interests, and battle or struggle for power. Language is not value-free medium for constructing realities. Language as a part of symbolic instrumen roles as power_s main instrument to gain domination and symbolic power. Symbolic power is invisible power which can be exercised only with the complicity of those who misrecognition (unconsciousness) that they are subject to it. However, unconsciousness and consciousness both possible condition for actors.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S15987
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>