Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 61 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Haidar Asyraffauzan Wachid
"Perkembangan wisata laut di dunia, khususnya Indonesia telah berkembang dengan sangat pesat beberapa tahun belakangan ini. Salah satu daerah yang memiliki potensi sebagai daerah ekowisata dan konservasi hiu paus di Indonesia adalah di Kaimana. Data pada penelitian ini menggunakan data kemunculan hiu paus di Kaimana pada tahun 2018-2019 dan digunakan juga data satelit berupa data suhu dan data klorofil-a di perairan Papua Barat serta data lokasi bagan yang beroperasi di perairan Kaimana. Selanjutnya data dianalisis untuk melihat hubungan antara kemunculan hiu paus di Kaimana dan faktor suhu dan kadar klorofil-a di perairan, serta dilihat juga faktor kemunculan bagan sebagai tempat biasanya hiu paus muncul akibat banyaknya ikan puri (Stolephorus sp.) sebagai makanan dari hiu paus. Data suhu dan klorofil-a ini kemudian diuji secara statistik menggunakan uji-t sebagai uji hipotesis dan dihasilkan nilai t hitung (13442.43) lebih besar daripada t tabel (1.96324). Dari hasil ini kemudian dilihat peak season untuk wisata hiu paus di perairan Kaimana. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa suhu dan klorofil-a memiliki pengaruh secara parsial terhadap kemunculan hiu paus di Kaimana. Dtunjukkan juga bahwa kemunculan hiu paus di Kaimana memiliki tingkat tertinggi pada bulan Maret hingga April yang diduga akibat peningkatan suhu dan klorofil-a di perairan Kaimana.

The development of marine tourism in the world, especially Indonesia, has grown fast in the last decade. One of the places that have potential for whale shark conservation and ecotourism in Indonesia is Kaimana. This study uses whale shark sighting data in 2018-2019 and uses satellite data of sea surface temperature and chlorophyll-a in Kaimana waters and location of bagan that operate in Kaimana. Furthermore, the data is analyzed to see the relation of whale shark sighting and sea surface temperature and chlorophyll-a, after that we also see the factor of bagan as a place that usually whale shark found because of the amount of puri fish (Stolephorus sp.). This sea surface temperature and chlorophyll-a data is statistically tested with t-test to verify the hypothesis and we found that t table (13442.43) is higher than t critical (1.9632). From the result, we can find that sea surface temperature and chlorophyll-a have impact for whale shark sighting in Kaimana and we found that whale shark sighting in Kaimana have peak season in March to April which is thought to be due to an increase in temperature and chlorophyll-a in Kaimana waters."
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fanny Rahmalia
"Penelitian mengenai studi populasi Anadara antiquata Linn. 1758 telah dilakukan di Teluk Sungai Pisang, Kota Padang, Sumatera Barat pada bulan Juni 2010. Penelitian bersifat deskriptif dan bertujuan untuk mengetahui kepadatan, distribusi, dan beberapa aspek ekologis dari Anadara antiquata. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode kuadrat di 3 Stasiun, yang berbeda ekosistem (lokasi di depan ekosistem mangrove, lokasi di depan kebun kelapa, dan lokasi di depan pemukiman penduduk). Kepadatan populasi dan frekuensi kehadiran Anadara antiquata tertinggi terdapat pada lokasi di depan kebun kelapa (2,67 individu/m2 dan 100 %). Secara umum, pola distribusi dari Anadara antiquata di ketiga stasiun adalah mengelompok."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S31649
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ranti Ayunda
"Telah dilakukan penelitian mengenai komunitas Gastropoda pada ekosistem mangrove di Gugus Pulau Pari, Kepulauan Seribu pada bulan Juli 2010. Penelitian bersifat deskriptif-analitik dan bertujuan untuk mengetahui komposisi, kepadatan, keanekaragaman, kemerataan, dominansi, penyebaran, kesamaan, dan korelasinya dengan parameter abiotik. Penelitian dilakukan dengan purposive sampling dan menggunakan metode transek kuadrat di tiga pulau, yaitu Pulau Pari, Pulau Tengah, dan Pulau Burung. Parameter abiotik yang diukur meliputi, suhu, salinitas, kedalaman, dan kandungan bahan organik. Sebanyak 33 spesies Gastropoda ditemukan di ekosistem mangrove Gugus Pulau Pari. Gastropoda yang ditemukan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu 6 jenis diantaranya merupakan moluska asli mangrove, 2 jenis diantaranya moluska fakultatif, dan 25 jenis sisanya merupakan moluska pengunjung. Kepadatan Gastropoda tertinggi terdapat di Pulau Tengah (112,48 ind/m2) dan terendah di Pulau Burung (66,19 ind/m2). Terebralia sulcata merupakan Gastropoda dengan kepadatan tertinggi, yaitu 31,6 ind/m2. Indeks keanekaragaman jenis tertinggi terdapat di Pulau Burung (1,978) dan terendah di Pulau Pari (1,497). Gastropoda di ekosistem mangrove Gugus Pulau Pari cukup merata dengan pola sebaran mengelompok dan tidak ada spesies yang mendominasi. Indeks kesamaan terbesar terdapat pada substasiun P1 dan T1 (92,74%), sedangkan terendah terdapat pada T3 dan B8 (14,65%). Kandungan lumpur dan bahan organik memiliki korelasi positif terhadap kepadatan Gastropoda.

Abstract
The research had been done for structure community of Gastropods at mangrove ecosystem in complex Pari's Island, Seribu Islands on July 2010. The purpose for this particular descriptive analysis research was to know the composition, density, diversity, evenness, domination, distribution, similarity and it?s correlation with abiotic parameters. Samples were taken by using purposive sampling and transect square method on three islands, namely Pari Island, Tengah Island and Burung Island. The abiotic parameters were measured (temperature, salinity, depth, and organic matter). We found 33 species of gastropods, which they were divided into three groups, namely native (6), facultative (2), and visitor (25) species molluscs of mangrove, respectively. The highest density was found in the Tengah island (112,48 ind/m2) and the lowest in the Burung Island (66,19 ind/m2). Terebrealia sulcata was Gastropod with the highest density (31,6 ind/m2). The highest diversity index occured at Burung Island (1,978) and the lowest at Pari Island (1,497). In general the distribution of Gastropods at mangrove ecosystem in complex Pari?s Island was clumped distribution pattern and no species domination. The highest similarity index found in substation P1 and T1 (92,74%), while the lowest found in T3 and B8 (14,65%). The mud and total organic matter (TOM) has a positive correlation to Gastropods density. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S193
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rusmawati
"ABSTRAK
Penelitian mengenai studi populasi dan persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan kerang Anadara granosa (Linn. 1758) telah dilakukan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi pada bulan Juli 2012 sampai Desember 2012. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kepadatan, distribusi dan pola pertumbuhan Anadara granosa. Penelitian dilakukan di 3 stasiun yang berbeda ekosistem (lokasi di Suaka Kerang, lokasi di depan ekosistem mangrove, dan lokasi di depan pemukiman penduduk) dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling. Kepadatan populasi Anadara granosa adalah 5,09 ind/m2 dengan kepadatan populasi tertinggi terdapat pada Stasiun 1 di Suaka Kerang. Pola distribusi kerang adalah seragam. Pertambahan panjang cangkang diikuti dengan penambahan berat. Terdapat perbedaan morfometri cangkang kerang darah antar stasiun. Ukuran morfometri kerang Anadara granosa adalah panjang rata-rata 3,36-3,94 cm, tinggi rata-rata 2,63-3,11cm, dan tebal rata-rata 2,41-2,91 cm. Terdapat korelasi antara panjang cangkang dengan biomassa dan antara kepadatan dengan pH dan salinitas. Penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan kerang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan lokal, pengelolaan dan pemanfaatan Anadara granosa. Penelitian dilakukan di 2 Desa yaitu Tungkal II dan Tungkal Harapan, menggunakan metode wawancara. Pemberian nama kerang berdasarkan lokasi dan cara penangkapan, pemanfaatan kerang untuk konsumsi, masyarakat masih belum mengetahui tentang konservasi dan budidaya kerang darah.
ABSTRACT
Research on population study of Anadara granosa (Linn. 1758) in West Tanjung Jabung, Jambi Province was done on July to September 2012. The objectives of the study are to determine the density, distribution, morphometry and growth patterns of Anadara granosa. Data were collected by using purposive random sampling method in three stations, that had different ecosystems (locations in Suaka Kerang, in front of the mangrove ecosystem, and villages). The population density of Anadara granosa is 5.09 ind/m2 and the highest population density in Station 1 at Suaka Kerang. Distribution pattern of shells is uniform. Shell length increasing, followed by weight gain. There are differences between the blood clam shell morphometry station. Length average is 3.36-3.94 cm, the high average is 2.63-3.11cm, and the thickness average is 2.41-2.91 cm. There is a correlation between the length of the shell with biomass and density with pH and salinity. The objective of the study of the research on public perception of the use of the blood clam Anadara granosa is to determine the local knowledge on the management and utilization of Anadara granosa shellfish in Kuala Tungkal. Location of the study include in two village, Tungkal II and Tungkal Harapan. The result is a local naming shells based on the location and type of fishing gear, the use of shells by the public as a consumer, the public do not know about the blood clam conservation and cultivation."
2013
T35982
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Divo Ario Noercahyo
"Penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan metode Video Belt Transect (VBT) dan Line Intercept Transect (LIT) dalam survei terumbu karang di Desa Gondol, Bali. Perbandingan persen tutupan karang di dapatkan dari metode LIT dan VBT pada dua stasiun dengan dua kedalaman berbeda (3 dan 7 m). Sebanyak 90 frame video didapatkan dengan mengekstrak data video VBT per transek. Persen tutupan karang dari tiap frame video kemudian dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak Coral Point Count with Excel Extension (CPCe). Hasil analisis dari metode VBT lalu dibandingkan dengan hasil dari metode LIT yang digunakan sebagai standar. Hasil uji T berpasang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata (P > 0.05) antara hasil tutupan karang metode VBT dan LIT. Selama pengambilan data di lapangan, metode LIT membutuhkan waktu lebih lambat dibandingkan metode VBT. Pengolahan data di laboratorium, metode LIT membutuhkan waktu lebih cepat dibandingkan metode VBT. Keuntungan lain dari penggunaan metode VBT terletak pada jangkauan area survei yang lebih luas dan tersedianya rekaman data permanen yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa metode VBT dapat dipergunakan sebagai metode alternatif untuk memantau ekosistem terumbu karang.

This study evaluated the use of Video Belt Transects (VBT) and Line Intercept Transects (LIT) methods for surveying coral reefs in Gondol, Bali. Comparisons were made between coral coverage datasets obtained by the LIT and VBT on two nearby coral sites with different depth, 3 m and 7 m. Ninety regularly spaced frames were then taken from the videotape in each transect. Coral coverage (%) from video frames was then examined using Coral Point Count with Excel Extension (CPCe) software. The results from VBT were compared with the results from LIT as a standard. Pairwise T-tests revealed that there was no significant difference (P > 0.05) between the VBT and LIT coral coverage results. In the field, LIT was slower and VBT was faster; however, in the laboratory LIT was faster and VBT was slower. Other advantages of the VBT method lie in its wider survey areas and permanent records for subsequent studies. This implied that the VBT and LIT survey methods can be used interchangeably for monitoring coral reef ecosystem.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S58068
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azrul Fadjri
Depok: Universitas Indonesia, 2003
S31181
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mochamad Alief Farid
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2006
S31347
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erna Fristian
"Penelitian mengenai biologi makan dan bioprospek Dolabella auricularia di Indonesia, khususnya di Pulau Pramuka Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) Jakarta masih sangat terbatas. Penelitian biologi makan dilakukan dengan cara snorkeling di rataan terumbu Pulau Pramuka pada bulan April 2010. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Dolabella auricularia memakan Enteromorpha sp. (makroalga) dan Cymodocea rotundata (lamun). Uji kesamaan metabolit sekunder ekstrak Dolabella auricularia dan makanannya dilakukan dengan cara menggunakan TLC.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dolabella auricularia mengakumulasi metabolit sekunder dari makanan karena terlihat persamaan pemisahan senyawaan Dolabella auricularia dan makanannya. Potensi metabolit sekunder ekstrak Dolabella auricularia diuji dengan menggunakan uji toksisitas Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan analisis probit dan menghasilkan nilai LC50 yaitu 185,8 dan 530,5. Hal tersebut menunjukkan bahwa ekstrak Dolabella auricularia berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi obat anti kanker."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
S31629
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elsa Safrida
"Telah dilakukan penelitian mengenai studi populasi mimi juvenil Tachypleus gigas di Teluk Sungai Pisang. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 stasiun, yaitu Stasiun I di dekat ekosistem mangrove, Stasiun II di depan kebun kelapa, dan Stasiun III yang dekat dengan pemukiman penduduk. Setiap stasiun dibagi menjadi 4 substasiun. Setiap substasiun ditarik 3 belt transek 2 x 10 meter. Dilakukan pengukuran parameter abiotik yaitu suhu, salinitas, ukuran partikel substrat, kadar organik, dan kedalaman air pada setiap belt. Juvenil yang didapatkan diukur panjang prosoma, opistosoma, telson, lebar prosoma, dan berat tubuh. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 37 individu, terdiri dari 1 individu dari stasiun I, 25 individu dari stasiun II, dan 11 individu dari stasiun III. Suhu pada lokasi penelitian berkisar antara 29--31,5o C, salinitas berkisar antara 25--32 ppt, dan kadar organik berkisar antara 4,1 -- 9,2 %. Juvenil didapatkan dari kedalaman air yang bervariasi, yaitu 6 -- 33 cm. Substrat yang terdapat di lokasi penelitian adalah lumpur, pasir, lumpur berpasir, pasir berlumpur, kerikil berpasir, dan pasir berkerikil. Lebar prosoma mimi juvenil berkisar antara 33,25--68,01 mm, panjang prosoma 30,12--60,25 mm, panjang opistosoma 13,89 -- 41,30 mm, panjang telson 30,64 -- 70,22 mm, dan berat tubuh berkisar antara 3,16--25,5 gram. Korelasi positif terdapat pada hubungan antara panjang prosoma dengan lebar prosoma, panjang prosoma dengan berat tubuh, lebar prosoma dengan berat tubuh, lebar prosoma dengan kedalaman, dan lebar prosoma dengan telson. Jumlah individu dengan salinitas, suhu, dan kadar organik tidak memiliki korelasi. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S31650
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muh. Imran
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2005
T39472
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>