Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 120 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Waraouw, Maria Maud Magdalena Theresia
"Kekerasan di sekolah yang dapat dikategorikan sebagai bentuk bullying (Rigby, 1996; Olweus, 1993) sering terjadi terutama di sekolah setingkat SMA (Kompas, 2002; Pikiran Rakyat, 2003; Suara Pembaruan, 2003; Media Indonesia, 2006). Kejadian kejadian seperti perilaku pemalakan, "gencet-gencetan", "senioritas", mewarnai kehidupan interaksi sosial remaja di SMA, dan hal ini dapat terjadi di antara para murid, maupun antara guru dan murid.
Untuk mengatasi persoalan sosial seperti bullying, perlu penanganan menyeluruh dan sistematis menyentuh akarnya agar efektif dalam mengurangi bullying. Artinya dalam intervensi bullying maka baik pihak murid, orang tua maupun guru harus sama-sama dilibatkan dalam upaya menurunkan tingkat bullying di institusi tsb. Intervensi di SMA XS dilakukan dengan melibatkan ke tiga pihak tsb, dan yang menjadi laporan tugas akhir ini adalah intervensi yang melibatkan pihak guru.
Untuk mendapatkan data obyektif tentang gambaran bullying di SMA XS dilakukan studi base-line menggunakan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif yaitu melalui kuesioner, focus group discussion, wawancara dan observasi. Hasil yang didapatkan adalah antara lain konfirnnasi tentang beberapa perilaku guru yang dicirikan sebagai bullying (McEvoy, 2005) Ciri-ciri perilakunya dapat dikategorikan sebagai bullying (Olweus, 1993; Rigby, 1996) karena seringkali memiliki niat untuk menyakiti, dilakukan oleh mereka yang secara struktural lebih berkuasa terhadap mereka yang lebih lemah. Aksi yang dilakukan untuk mendapat kepuasan atau kesenangan ini dipersepsi korban akan berulang.
Sebagai upaya intervensi mula-mula dilakukan strategi persuasi untuk membawa sekelompok guru ke dalam diskusi kelompok. Tujuannya agar guru bisa merasakan sendiri apa yang akan dilakukan dalam pelatihan khusus guru tentang pengurangan aksi bullying melalui "membangun komunitas berdasarkan program SAHABAT di sekolah XS". Mengajar orang dewasa membutuhkan strategi yang berbeda.
Untuk itu digunakan experiential learning (Kolb, 1984) sebagai bagian dari modul. Namun ternyata teknik ini memancing perilaku yang defensif dari pihak guru sehingga diputuskan untuk menggunakan pendekatan appreciative inquiry (Cooperrider &Whitney, 1999, Whitney & Trosten Bloom, 2003, Bushe, 2001). Teknik ini dilandasi oleh pendekatan psikologi positif, di mana guru di ajak untuk meletakkan masalah di luar dirinya, dalam membahas penyelesaian yang diinginkan. Appreciative Inqury juga dipilih karena singkat, mudah, dan menyenangkan sehingga pada saat teknik ini digunakan untuk membahas masalah tidak nampak rasa capai yang tergambar dalam raut peserta diskusi kelompok.
Hasil dari intervensi ini adalah perubahan pemahaman dan pihak guru, dan perubahan sikap dari defensif menjadi kornitmen untuk ikut serta dalam upaya mengurangi bullying di SMA XS.

Violence in schools that can be categorized as bullying (Rigby, 1996; Olweus, 1993) is more frequent in high school nowadays (Kompas, 2002; Pikiran Rakyat, 2003; Suara Pembaruan, 2003; Media Indonesia, 2006). This could be any forms of aggression such as teasing, oppressing, act of social exclusion and seniority were part of student's life at school, specifically high school students. Bullying act was practiced between peers and there also teachers bully students (McEvoy, 2005).
In an attempt toward developing school intervention to curb bullying, it is believed that a holistic and systemic approach will be more effective as an approach. That means all of the school community members will take their part to contribute actively in reducing bullying. Intervention in reducing bullying act in the high school SMA XS will be studied, and intervention in an effort to enhance teacher's awareness on the impact of bullying toward the victim, teacher's part will be specifically presented on this report.
In order to have a perspective about bullying in SMA XS baseline study had been conducted. Quantitative and qualitative method had been developed in the questionnaires and employed through survey on students' perspectives. To have a thorough and deep understanding of the essence of the problem, the other tools for qualitative research e.g. focus group discussion, interviewing and observation had been exercised.
Results shown and confirmed that some forms of bullying that had impact on the student-teacher relationships were practiced by teachers (McEvoy, 2005). The characteristics of the acts categorized as bullying (O1weus,1993; Rigby, 1996) includes an initial desire to hurt which is done so by the one who has power or structurally in a high position toward those that weak, physically, psychologically. The act which perceived by the victim threatening had been done so for enjoyment of the bully.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
T17655
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ferrasta Soebardi
"Secara umum, Angka Kematian Ibu (AKI) di seluruh dunia tidak akan terlepas dari masalah pengetahuan dan kemampuan individunya dalam menangani masalah kesehatan reproduksinya.
Penyebab tingginya AKI oleh WHO, UNICEF, dan UNFPA dianalisa derigan pendekatan model tiger terlambat dan empat terlalu, yang secara sederhana bisa diuraikan sebagai (1) terlambat mengenali tanda bahayalmengambil keputusan untuk mencari pertolongan, (2) terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan, dan (3) terlambat menerima pelayanan kesehatan. Sedangkan konsep empat terlalu, terdiri dari: terlalu muda menikah, terlalu sering hamil, terlalu banyak melahirkan, dan terlalu tua hamil (KPP, 2004).
Beranjak dan koiisep-konsep tersebut, kami 11 orang mahasiswa Pascasarjana Psikologi-UI meran.cang program yang meliputi 4 pengelompnkan besar--untuk memperkecil AKI--yaitu ekonomi, kesehatan, pendidikan dan kepemimpinan ditambah satu program penunjang, pembuatan alat intervensi Radio Siaran Komunitas Sumurugul.
Tugas Akhir ini adalah laporan yang kami susun sejak awal pengumpulan data sampai teriaksananya pembuatan Radio Siaran Komunitas Sumurugul, yang kami beri nama Radio Siaran Komunitas YESS FM-88, Sumurugul.
Radio dirancang untuk mencapai target meningkatkan partisipasi warga untuk mendukung GSI sebagai gerakan yang dibuat untuk memperkecil AKI. Atau visi tunggal dari tim kami yaitu: "Partisipasi Total Warga dalam Mewujudkan Desa Sayang Ibu"

In general Maternity Death Rate (AKI - Angka Kematian Thu) in the world will not stand apart from and closely related to individual knowledge and ability of women in handling their reproduction healthiness.
WHO, UNICEF and UNFPA analyzed high Maternity Death Rate by using three Iafes and four toos models approach - that in a more simple way they explain (1) late is identifying hazardable symptoms/decide to look for help for handling, (2) late in reaching a health service facility and (3) late in taking examination. While the jour toos model consists of : too young to be married, too often being pregnant, too often in giving birth and pregnancies in too old age (KPP, 2004).
Based on that concepts - we, 11 students of Post-graduate Program in Psychology - have designed a program includes 4 groupings to reduce Maternity Death Rate. The groupings are economy, health, education and leadeiship supported by an intervension program tool in the shape of a radio-broadcast, Sumurugul Community-based Broadcasting Radio.
This paper consists of our report in establishing the the Sumurugul Community-based Broadcasting Radio - starting from data collecting to its establishment. We named it YESS FM-88, Sumurugul Community-based Broadcasting Radio.
The radio was designed to achieve target in increasing society participation in supporting GSI program as an action to reduce Maternity Death Rate. And in turn supporting our team's vision: "Society Total Participation in Making Mother-Caring Village".
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T17998
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuswinarni Darmawati
"Cibalung adalah sebuah desa di sebelah selatan Bogor yang berdasarkan data Jaringan Pengaman Sosial (JPS), 72,2% penduduknya tergolong miskin. Satu-satunya peluang industri yang berkembang adalah industri besek. Kerajinan membuat besek ini mulai memasuki Cibalung sekitar 15 tahun yang lalu, dan ditekuni oleh masyarakat. Penghasilan yang diperoleh dari kerajinan besek ini adalah Rp4.000,00 untuk 100 besek yang dihasilkan.
Langkah pertama program intervensi dimulai dari segi ekonomi masyarakat, dengan mencoba masuk melalui industri besek. Keterampilan ini merupakan satu dasar yang balk bagi masyarakat untuk berkembang. Dalam cakupan pengerjaan intervensi individual, masalah yang diidentifikasikan dan dikerjakan oleh penulis adalah bagaimana cara mendorong masyarakat RW 04 Desa Cibalung untuk mencoba membuat kreasi bambu baru.
Secara keseluruhan, pendekatan intervensi yang dilakukan dilandaskan pada Asset-Based Community Development yang mengutamakan pemberdayaan komunitas dengan memaksimalkan fungsi aset yang dimiliki oleh komunitas (Kretzmann & McKnight, 1993). Untuk program kreasi bambu sendiri, digunakan teori motivasi dari McClelland, yang menitikberatkan pada kebutuhan berprestasi (Need of Achievement) dan indikasi adanya proses pembelajaran dilandaskan pada pendeka tan Observational Learning dari Bandura.
Program kreasi bambu yang terdiri dua bagian. Bagian pertama berfokus pada rneningkatkan motivasi partisipan untuk melakukan diversifikasi produk kerajinan bambu. Bagian kedua berfokus pada pembentukan kelompok kerja kreasi bambu yang menjadi bagian dari organisasi paguyuban untuk mempertahankan motivasi dan menjaga kelangsungan kegiatan ini.
Secara umum, program intervensi ini menunjukkan adanya perubahan sikap ke arah yang positif, yaitu tumbuhnya ketertarikan untuk belajar, bertambahnya pengetahuan, serta munculnya tingkah laku baru; dan terbentuk kelompok kerja kreasi bambu. Sampai tahap ini, program intervensi dapat dikatakan berhasil."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T18755
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gultom, Junifrius
"Upaya menanamkan pemahaman dan kesadaran (awareness) di antara guru-guru merupakan sebuah alternatif intervensi dini guna pemecahan masalah bullying di sekolah. Bagaimanapun peran guru sangat strategis sebagai agen perubahan yang memiliki kapital sosial dan kognisi.
Dalam TA ini, intervensi khusus ditujukan kepada para guru-guru di mana dengan cara sharing informasi dan usaha-usaha. lainnya diharapkan guru mempunyai pemahaman dan juga pada gilirannya adanya kesadaran tentang kasus bullying di sekolah tempat mereka mengajar. Kesediaan guru-guru untuk terlibat dalam usaha pengurangan-idealnya penghentian-kasus bullying dapat menjadi suatu penggerak utama bagi kemajuan suatu sekolah yang pada gilirannya akan mendatangkan efek domino pada yang lainnya, seperti orang tua, masyarakat dan pemerintah. Dalam konteks sekolah setempat, guru-guru dapai menjadi titik acuan dari suatu hubungan sosial yang sehat bagi siswa-siswi.
Baseline study tugas akhir ini dilakukan melalui pengamatan, sharing, survey (angket) dan diskusi. Adapun teori yang dipakai dalam intervensi adalah teori kognisi dan reducative strategy.
Hasil yang diperoleh dari usaha intervensi ini adalah dengan adanya komitmen nyata dari sekolah untuk lebih memperhatikan hubungan yang sehat antar siswa dan kesadaran guru akan pentingnya peran serta nyata dari mereka dalam menciptakan kondisi yang kondusif yaitu lingkungan sekolah tanpa bullying (no bullying School).
Keunikan pendekatan ini adalah di mana guru-guru yang sebelumnya punya pemahaman-pemahaman lama (belief) dan sikap terhadap indikator kasus bullying mengalami perubahan setelah mengikuti proses intervensi yang dilakukan. Sikap positif ditunjukkan melalui kesediaan untuk memberikan masukan-masukan konstruktif untuk bersama-sama mengatasi masaiah bullying.
Sebagaimana disebutkan di awal, bahwa intervensi ini hanyalah merupakan usaha rintisan yang sangat awal maka sudah barang tentu pada tahapan selanjutiiya, penulis menyarankan untuk merealisasikan secara lebih atas keterlibatan banyak aspek untuk mengatasi persoalan bullying di sekolah tersebut, misalnya menyediakan layanan media yang memberi akses ke semua pihak, termasuk orang tua siswa, guna memantau hat yang terkait dengan pergaulan antar siswa, dan juga terbentuknya kelembagaan yang khusus dimaksudkan untuk meminimalisasi bullying dan tentunya pada tingkat yang lebih makro, adanya kemauan Yayasan untuk membuat kebijakan bersama untuk bullying.

Afford of cultivating knowledge and awareness about bullying among teachers is the very early initial alternative of intervention to prevent and to reduce bullying case in schools. Teacher, as an agent of change, has a unique and strategic role that brings about social change since he/she has social capital and cognitive aspect as well.
In this TA (Final Assignment), the intervention especially goes to the teachers by sharing of information on bullying and another methods in order teachers to have knowledge and as consequently they are aware of their school's situation and students and get themselves involved to be persons who are main mover that bring about revolving effect for wider spectrum of communities such as parents, society and government. For this context, teacher could also be a point of reference for students in creating a healthy social relationship.
Baseline study was done by tracing, observation, sharing, survey and discussion. The foundational theories of intervention are cognitive theory and reductive strategy by Kurt Lewin (quoted by Zaltmant).
The results of intervention are such as getting knowledge, awareness and commitment to be no-bullying school.
The uniqueness of this intervention is refreezing the new values and paradigm of teacher about bullying and in turn, developing positive behavior by giving some strategic, integrated and concrete input in order to reduce bullying.
As stated above, this project is only a beginning and early intervention, it is my hope and suggestion to follow up this intervention by further and vivid works namely integrated program which involve many aspect such as wider communities (parent, society and government) and policy on bullying.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T18791
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hirayanti
"Desa Cibalung adalah suatu desa di Kabupaten Bogor yang terletak di kaki gunung Salak di kecamatan Cijeruk. Desa ini sangat unik. letaknya cukup strategis, namun sulit berkembang. Untuk mencapai desa ini dapat melalui dua arah yaitu :
1. Dari arah kota Bogor melalui jalan raya Sukabumi, namun jalan ini sangat macet karena kepadatan lalu lintas di persimpangan Ciawi yang sekaligus dijadikan pasar. Titik rawan kemacetan selanjutnya terjadi di pasar Cikereteg dan Cimande. Selain itu, dengan banyaknya pabrik di sepanjang jalan raya dari Ciawi ke arah Sukabumi turut menycbabkan kemacetan di sepanjang jalan tersebut. Dengan kondisi tersebut, untuk mencapai desa Cibalung dibutuhkan waktu lebih dari 2 jam, padahal jarak untuk mencapai desa tersebut hanva sekitar 30 km dari tol ke Ciawi (Pam Bensin Sentul).
2. Dari arah kota Bogor melalui jalan raya Cipaku melewati desa Pamoyanan ke arah Cihideung. Walaupun jalannya sempit dan berkelok-kelok, namun cukup lancar meskipun jarak tempuhnya Iebih jauh ± 10 km dibandingkan dengan jalan melalui jalan raya Sukabumi seperti di atas. Dengan demikian, waktu tempuh yang diperlukan lebih cepat, yaitu sekitar 1 jam dari tol Pom Bensin Sentul arah Bogor.
Udara di desa Cibalung cukup segar dan dingin di malam hari karena masih banyak pepohonan besar. Batas satu desa ke desa lainnya cukup jauh dan harus melalui jalan yang masih berbatu. Jalan masuk ke desa Cibalung masih berbatu dan sempit. Sebenarnya pembangunan jalan aspal mulai dari pintu masuk jalan raya Cihideung sampai ke arah Caringin baru selesai dibangun sebelum pemilu tanggal 20 September 2004. Pembangunan jalan ini dibiayai oleh pemerintah kecamatan Cijeruk namun belum sampai masuk ke dalam desa Cibalung. Untuk pembangunan jalan aspal di desa Cibalung harus diupayakan dari usaha swadaya masyarakat desa, karena jalan itu bukan jalan utama lalu lintas kecamatan (masih merupaka jalan desa)."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T18778
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rias Tanti
"Pidana penjara merupakan pidana perampasan atau pembatasan kemerdekaan seseorang. Menjalani kehidupan dalam penjara adalah sebuah konsekuensi bagi seseorang yang setelah melalui proses peradilan terbukti secara sah melakukan tindakan yang salah atau bertentangan dengan hukum yang berlaku dalam suatu negara. (Bawengan, 1979)
Di Indonesia, sistem pemidanaan yang berlaku adalah sistem pemasyarakatan. Istilah pemasyarakatan secara resmi menggantikan istilah kepenjaraan sejak tanggal 27 April 1964. Tujuan akhir pemidanaan menurut Sistem Pemasyarakatan adalah mengembalikan warga binaan pemasyarakatan ke tengah masyarakat dan berperan aktif dalam pembangunan. Sedangkan visi pemasyarakatan adalah memulihkan kesatuan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan warga binaan pemasyarakatan sebagai individu, anggota masyarakat dan mahluk Tuhan Yang Maha Esa. Visi Pemasyarakatan tersebut secara ringkas dirumuskan sebagai "Membangun Manusia Mandiri". (Sujatno, 2004).
Hal yang sangat penting untuk menunjang kemandirian seseorang adalah bekerja. Oleh karena itu, pembinaan di lembaga pemasyarakatan (selanjutnya disebut Lapas) dan rumah tahanan negara (selanjutnya disebut Rutan) pun menempatkan pembinaan kerja atau pembinaan kemandirian sebagai hal yang utama. (Sujatno, 2003)
Selain itu, dalam kehidupan manusia, bekerja mempunyai makna eksistensial, berhasil atau gagal, dan tinggi rendahnya kualitas hidup manusia ditentukan oleh pekerjaannya. Tidak ada kesuksesan, kebaikan, manfaat atau perubahan dari keadaan buruk menjadi baik kecuali dengan kerja menurut bidangnya musing-musing. (Asifudin, 2004)
Karena pentingnya keberadaan kerja dalum hidup manusia maka usaha memberikan bekal keterampilan kepada narapidana pun menjadi penting. Pemberian bekal keterampilan dimaksudkan agar narapidana dapat bekerja dan mampu bertahan dalam persaingan memperebutkan kerja di tengah persaingan yang makin kompetitif.
Ubaidillah dalam sebuah artikelnya di situs e-psikologi.com menyatakan bahwa umumnya lapangan pekerjaan apapun menuntut penguasaan dua keahlian yang bisa dikategorikan dalam keahlian kerja dan keahlian mental. Keahlian mental merupakan kondisi yang ada di dalam pikiran seseorang (happens in the mind) tetapi akibatnya berupa apa yang akan diterima di dalam hidup (exists in your life). Secara fisik eksternal, mulanya tidak berbeda antara orang mengatakan "Saya bisa" dan yang mengatakan "Saya tidak bisa. Tetapi pada akhirnya akan menghasilkan akibat yang sangat membedakan.
Keahlian mental sendiri kalau dirujukkan pada pendapat Gandhi tentang sikap orang terhadap pekerjaan dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu: orang yang bermentalitas mengambil kredit (to take in order to get), minimalistis, dan orang yang menciptakan pemenuhan tanggung jawab hidup (to create in order to get).
Keahlian kerja seperti yang dimaksud oleh Ubaidillah diatas, dalam tugas akhir ini selanjutnya disebut sebagai keterampilan teknis (technical skills) dan keahlian mental disebut sebagai keterampilan mental, yang dalam kelompok kecakapan hidup (life skills)."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2005
T18783
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nugroho
"Kekerasan kolektif merupakan gejala sosial dalam masyarakat yang acap kali dicetuskan oleh konflik antar pribadi. Demikian halnya yang terjadi dalam Lembaga Pemasyarakatan, pada awalnya konflik terjadi antar individu, kemudian berkembang menjadi konflik antar kelompok sampai dalam bentuk kekerasan kolektif.
Konflik dan kekerasan ini terjadi karena masing-masing atau salah satu narapidana membawa identitas kelompoknya, seperti kelompok kamar atau blok, etnis, kelompok narapidana atau kelompok tahanan.
Kekerasan kolektif antar narapidana cenderung menimbulkan orang terluka, cidera, kehilangan nyawa, dan kerusakan benda atau barang; suasana tidak aman dan tidak nyaman, sehingga menghambat pelaksanaan pembinaan.
Selama ini Lembaga Pemasyarakatan telah menempuh upaya untuk mengatasi konflik dart kekerasan, yaitu : memberikan pengarahan, peringatan dan teguran, melakukan tindakan fisik, "tutupan sunyi", atau meniadakan dan menunda hak-hak tertentu, serta melakukan pemindahan dan proses hukum bagi yang terlibat.
Namun demikian kekerasan masih terus berlangsung. Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya preventif dan promotif yang lebih efektif dan menyentuh akar permasalahannya.
Penulis mencoba mengajukan program intervensi untuk kalangan narapidana dalam bentuk permainan peran atau sirriulasi, dan untuk petugas serta beberapa narapidana tertentu dengan program pelatihan negotiating dan mediating skill.
Diketahui bahwa jumlah Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia cukup besar, sedangkan persediaan dana dan waktu sangat terbatas. Oleh karena itu, penyelenggaraan program intervensi ini akan dilaksanakan secara bertahap berdasarkan prioritas. Program ini diajukan dengan alasan : pertama, memungkinkan terjadinya kontak, kerja sama, dan komunikasi pada semua pihak, sehingga diharapkan dapat terjalin hubungan yang sating percaya dan saling bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama; kedua, dengan alasan yang pertama tersebut, diharapkan akan tumbuh orientasi komunitas pergbuni Lembaga Pemasyarakatan bukan orientasi grouping yang cenderung menimbulkan sikap dan prasangka in-group/out-group, ordinat sub ordinat, superior dan inferior pada kelompok-kelompok narapidana."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T18836
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Surta S. Duma
"Salah satu potensi bangsa Indonesia yang merupakan modal dasar pembangunan nasional adalah penduduk sebagai sumber daya manusia yang berjumlah besar dan produktif. Dengan kata lain keberhasilan dari pembangunan nasional ditentukan oleh manusia sebagai pelaku dari pembangunan itu sendiri. Pembangunan dapat terselenggara dengan baik apabila dilaksanakan oleh manusia yang bermental dan berkualitas baik.
Dalam hubungan inilah Pemasyarakatan memiliki peranan yang sangat strategis dalam rangka pelaksanaan pembinaan terhadap narapidana yang juga merupakan sumber daya manusia produktif yang sementara berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan yang untuk selanjutnya disingkat Lapas.
Institusi Lapas sangat berperan panting dalam mempersiapkan narapidana yang berkualitas sehingga kelak setelah keluar dari Lapas mereka dapat bersaing dengan masyarakat pencari kerja lainnya dalam rangka mencari pekerjaan atau juga dalam menciptakan lapangan pekerjaan sendiri (wirausaha).
Sistem Pemasyarakatan yang selama ini dijadikan dasar dari berbagai program pembinaan terhadap narapidana diharapkan dapat menjawab tantangan di atas, karena dengan sistem ini upaya pemulihan hubungan."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T18853
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Habibi
"Penelitian ini berfokus pada bagaimana kepemimpinan top leader bisnis multi level marketing yang berhasil. Kriteria keberhasilan top leader dalam bisnis multi level marketing yang diteliti berdasarkan peringkat atau level tertinggi yang mereka raih, yaitu Crown Ambassador. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh informasi mendalam dan menganalisis kepemimpinan top leader yang berhasil dalam mengembangkan jaringan bisnis multi level marketing. Kepemimpinan yang diteliti meliputi praktik kepemimpinan dari teori Kouzes dan Posner (2004) dan model kepemimpinan dari teori kontingensi, dan leader member exchange. Desain penelitian menggunakan penelitian kualitatif menggunakan metode arsip melalui pendekatan dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan content analysis dan arsip tentang success story yang terdiri dari lima orang yang memiliki peringkat Crown Ambassador, sedangkan analisis dilakukan melalui kajian terhadap kaset berisi success story para top leader yang diteliti. Dari hasil analisis yang dilakukan oleh peneliti, disimpulkan bahwa I) Model Kepemimpinan lop leader yang dalam bisnis multi level marketing adalah a. Seorang upline yang berhasil harus memiliki hubungan dan komunikasi erat antara pemimpin (upline) dengan bawahan (downline), b. Seorang upline yang berhasil harus memiliki sikap saling percaya baik kepada perusahaan, sistem yang ada pada perusahaan, dan yang paling penting percaya terhadap jaringan di bisnisnya yaitu kepada para downline-nya, dan c. Menggunakan cara leadership by example dalam membantu para downline mereka untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. 2) Berdasarkan praktik kepemimpinan top leader yang berhasil dalam bisnis multi level marketing terdapat lima praktik kepemimpinan yang digunakan dalam bisnis ini, yaitu : a. mencontohkan caranya, b. menginspirasikan visi bersama, c. menantang proses, d. memungkinkan orang lain bertindak, dan e. menyemangati jiwa."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
T24967
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Agus Gatot Purwanto
"Tesis ini membahas tentang Identifikasi Perubahan Perilaku Residen Di Upt Tr Bnn Melalui Observable Behavioral Check List (OBCL). Dalam upaya untuk mengevaluasi efektifitas organisasi salah satunya adalah dengan membuat instrumen yang dapat dipergunakan untuk mengukur keberhasilan program. Upaya itu adalah dengan menyusun aspek-aspek perilaku residen ke dalam bentuk instrumen yang memenuhi kriteria SMART. Bentuk baku yang akan disusun itu dinamakan OBCL (Observable Behavior Check List).
Instrumen ini digunakan untuk memotret sejauh mana perubahan perilaku itu terjadi selama residen dalam fase Detoksifikasi, Entry Unit dan Primary. Penyusunan aspek-aspek ini berdasarkan pada teori perubahan perilaku pecandu narkoba dari Dadang Hawari dan George de Leon dikombinasikan dengan hasil pengamatan sehari-hari oleh para profesional yang bekerja di Unit Pelaksana Tehnis Terapi & Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional.
Penelitian ini menggunakan metode eksploratif yaitu dengan melakukan pengamatan langsung kepada obyek di lapangan untuk menyusun aspek-aspek perilakunya. Diawali dengan penyusunan aspek-aspek perilaku oleh beberapa kelompok diskusi yang terdiri dari kelompok diskusi medis, kelompok diskusi psikologi dan kelompok diskusi sosial. Selanjutnya semua kelompok diskusi bergabung membentuk kelompok yang lebih besar untuk menghasilkan rumusan aspek perilaku. Dari rumusan aspek-aspek tersebut dilakukan uji coba dengan melakukan pengamatan dan penilaian selama lebih kurang tujuh hari terhadap 18 (delapan belas) residen yang sedang menjalani program terapi rehabilitasi di fase Detoksifikasi, Entry Unit dan Primary.
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa OBCL telah dapat mengidentifikasi perubahan perilaku residen selama menjalani terapi rehabilitasi di UPT TR BNN. Disarankan kepada pimpinan BNN untuk menyebarluaskan OBCL ke BNP dan BNK, selanjutnya diadakan pelatihan kepada petugas dalam rangka operasionalisasi OBCL.

The focus of this study is Identification of Residen?s Behavioral Change by OBCL in The Therapy And Rehabilitation Unit National Narcotics Board Republic of Indonesia. One of the effort to evaluate the effectiveness of the organization is by making an instrument which can be use for quantify the success of the program This effort first by forming the resident behaviors indicators further for the instrument named by OBCL (Observable Behavior Check List).
The instrument use for description of the behavioural progression from the resident since detoxification, entry unit until primary phase. Forming of the indicators is based on theory of changing behavior among drugs abuser from Dadang Hawari and from George de Leon also combination with the daily observation from profesionals in UPT T&R .
This research is using the exploratif methode which is by observe the object directly in the field. First by forming the behavioral indicators from group discussion consist grouf of medical, psychological and social group. than all the group merge and formed in to bigger group to formulized the behavior indicators. After that the indicators being try out by 7 days direct observation to 18 resident in detoxification, entry unit and primary phase and then made the behavioural values of each indicators.
From the observation result the research gain the behavioral files from the resident in each phase to describe the tren of the behavioural score in each phase . The statictical counting this research values for each indicators into 4 (four) category for the useful of the OBCL instrument so that can be evaluate the resident behavioural progression in the therapy and rehabilitation prosess.
The reseach suggest to use the instrument for quantify the organizational effectiveness in UPT TR BNN for knowing the effectiveness of the porgram that had been held."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2008
T25575
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>