Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 22 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lagiman
"Pengambilan bahan skripsi dari Kitab Wedhatama ini tiada lain hanyalah ingin memperdalam ajaran filsafat yang ada dalam kebudayaan Indonesia sendiri, khususnya kebudayaan Jawa. Kitab Wedhatama dapat ditinjau dari berbagai segi dan disiplin ilmu; seperti sejarah, kesusastraan, filologi dan sebagainya. Skripsi ini membatasi diri pada pembahasan ajaran moralnya saja dengan pendekatan filsafat. Wedhatama adalah sebuah karya sastra yang berbentuk syair dalam tembang Macapat. Menurut buku terjemahan Wedhatama terbitan Yayasan Mangadeg Surakarta, bentuk wedhatama itu ada dua naskah yang berbeda jumlah bait-baitnya..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1983
S16190
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siagian, M. Odjak E.
"Tulisan ini secara khusus ingin mengutarakan pandangan Erik H. Erikson mengenani identitas dan krisisnya dalam proses perkembangan manusia. Banyak ahli berpendapat, bahwa pandangannya tentang proses pembentukan identitas pada masa remaja merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi ilmu psikologi modern pada umumnya dan teori psikologi dari seorang ibu Denmark yang diceraikan ayahnya sebelum Erikson lahir. Sang ibu yanga mengandung tua segera meninggalkan negerinya Denmark menuju negeri Jerman. Erikson dilahirkan pada tahun 1902 di Frankfurt. Ibunya kawin lagi dengan seorang dokter anak bernama Theodor Homburger yang mengasuh dan membesarkannya hingga ia lulus dari Gymnasium jurusan sejarah kuno dan seni. Ayah angkatnya menghendaki agar Erikson melanjutkan sekolahnya ke Fakultas kedokteran, namun ia lebih tertarik pada jurusan seni dan mengikuti kuliah di Akademi Dunst..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1983
S16130
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yugianti S. Soelaiman
"Skripsi ini adalah pemikiran Albert Camus mengenai pembrontakan sebagai suatu sikap hidup. Secara sepintas, pada umumnya semua kita tahu apa itu pemberontakan. Tetapi pemberontakan yang bagaimanakah yang dipikirkan Camus itu? Dan mengapa ia sampai kepada ajuran untuk mengambil pemberontakan sebagai sikap hidup manusia dalam menghadapi kehidupan dunia ini?. Tentu saja itu ada alasannya. Pada mulanya Camus merasa bahwa ada sesuatu yang tidak memuaskan perasaannya, yang menekan kebebasannya sebagai manusia, dan ini perlu diberontaki agar kebebasannya bisa dimilikinya kembali. Kemudian, jalan untuk memulihkan kebebasan yang terenggut tadi adalah lewat pembrontakan. Manusia harus mampu mengatakan 'tidak' kepada hal-hal, peristiwa-peristiwa, situasi-situasi, atau apa saja yang menurut dia cenderung memerosotkan martabat manusia..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1983
S16071
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Achmad Dardiri
"Thesis ini dilatar belakangi oleh adanya pandangan yang pro dan kontra terhadap pragmatisme, di samping adanya daya tarik terhadap pandangan pragmatisme Richard Rorty, yang terang-terangan mendekonstruksi epistemologi, dan pandangannya yang menyentuh isu postmodernisme. Thesis ini ingin menjawab permasalahan: Bagaimanakah pandangan Richard Rorty tentang pragmatisme, sehingga ia dianggap sebagai penerus tradisi pragmatisme Amerika bahkan sebagai pendiri neopragmatisme?; Bagaimanakah kritiknya terhadap epistemologi? Apakah benar pragmatismenya menyentuh issu postmodernisme?
Thesis ini penting dan diharapkan bermanfaat bagi dunia akademis, umumnya dalam bidang filsafat, juga bagi masyarakat luas, karena Richard Rorty mengajak kita untuk selalu membuka diri dan memperbaharui diri lewat dialog secara terus menerus daripada mempertahankan status quo dan merasa puas terhadap hasil-hasil yang telah dicapai.
Tujuan yang ingin dicapai dalam thesis ini adalah mengungkapkan pokok-pokok pikiran Richard Rorty tentang pragmatisme dan kritiknya terhadap epistemologi; juga ingin mengetahui sejauh mana pragmatismenya menyentuh issu postmodernisme. Metode yang digunakan adalah: metode hernrneneutik; metode analisis-sintesis; metode historis, dan metode kids.
Pragmatismenya merupakan reaksi terhadap pandangan Descartes, Locke, dan Kant. Pemikirannya dipengaruhi oleh Wittgenstein, Heidegger, dan Dewey. Pemikirannya juga berkaitan dengan para filsuf pragmatis sebelumnya, utamanya Dewey, sekaligus sebagai penerus ide-ide Dewey. Meskipun demikian, pragmatismenya memiliki kekhasan.
Bagi Rorty, kesadaran bukanlah entitas yang menilai status ontologis di mana proses mental berlangsung. Oleh sebab itu, epistemologi yang berdasarkan pemikiran demikian tidak diperlukan. Pragamatisme atau neopragmatismenya nampak dari cara memperlakukan kesadaran dan epistemologi.
Setelah kematian epistemologi, hernmeneutikalah yang berperan. Filsafat yang diperlukan sekarang bukan filsafat sistematis, melainkan filsafat edifikasi. Dari pandangannya tentang epistemologi dan filsafat, ternyata ia juga seorang postmodernis."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Slamet Widodo
"Ringkasan
Tesis ini merupakan hasil penelitian tentang peranserta masyarakat dalam Pelaksanaan Program Kebersihan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Tujuan penelitian adalah identifikasi tingkat peranserta masyarakat terhadap pelaksanaan program Kebersihan dan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat peranserta itu, adanya perbedaan tingkat peranserta antara warga masyarakat di lingkungan wilayah Kotamadya Surakarta.
Peranserta masyarakat dalam Pelaksanaan Program Kebersihan kegiatan-kegiatan kebersihan. Untuk mengukur tingkat peranserta masyarakat terhadap program kebersihan ditetapkan indikator-indikator berikut menghadiri rapat/pertemuan, memberikan gagasan, memberikan dukungan, memberikan sumbangan barang, uang, melaksanakan pengangkutan sampah, melaksanakan perbaikan saluran air dan melaksanakan instruksi Walikotamadya. Sedang faktor-faktor yang mempengaruhi peranserta adalah bantuan fasilitas kerja, bimbingan/penyuluhan, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, keadaan lingkungan pemukiman, koordinasi pemerintah daerah, serta pandangan dan sikap masyarakat.
Penelitian ini dilakukan pada 10 kelurahan, dipilih secara acak di lima wilayah kecamatan di Kotamadya Dati II Surakarta Jawa Tengah. Dari masing-masing kecamatan diambil 15 responden sehingga keseluruhan responden ada 75 orang.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 65,33 persen tingkat peranserta masyarakat tinggi, sedang 34,6 persen lainnya rendah/sangat rendah. Hal ini tentunya ada hubungannya dengan kesempatan, kemampuan dan kemauan masyarakat untuk berperanserta.
Penelitian ini diarahkan untuk mendeteksi sejumlah faktor yang memberi peluang bagi terciptanya kesempatan, kemampuan serta kemauan masyarakat untuk berperanserta. Faktor yang ada hubungannya dengan kesempatan masyarakat untuk berperanserta adalah bantuan fasilitas kerja, sedangkan faktor-faktor kemampuan adalah bimbingan/penyuluhan, pendidikan dan pendapatan. Adapun faktor-faktor yang ada hubungannya dengan kemauan masyarakat untuk berperanserta adalah keadaan lingkungan pemukiman, koordinasi pemerintah daerah, pandangan dan sikap masyarakat terhadap program kebersihan.
Faktor yang ada hubungan dengan kesempatan masyarakat untuk berperanserta, seperti Bantuan fasilitas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara yang mendapat bantuan fasilitas kerja, banyak sekali, banyak, kurang dan kurang sekali terhadap tingkat peranserta masyarakat dalam program kebersihan. Hal ini mungkin disebabkan karena warga masyarakat yang kurang/kurang sekali mendapat bantuan fasilitas kerja tidak mempunyai kesempatan yang sama dengan warga masyarakat yang banyak mendapat bantuan fasilitas kerja dalam mengikuti kegiatan kebersihan terutama kegiatan yang membutuhkan fasilitas kerja yang dibebankan kepada warga masyarakat.
Ada tiga faktor yang diteliti dalam hubungannya dengan kemampuan masyarakat yaitu Bimbingan/penyuluhan, pendidikan dan pendapatan. Terdapat korelasi positip antara warga masyarakat yang memperoleh bimbingan/penyuluhan sangat intensif, intensif dan kurang intensif terhadap tingkat peranserta masyarakat dalam kegiatan kebersihan. Adanya pemahaman akan manfaat program kebersihan mengakibatkan peranserta yang tinggi, sebaliknya kurang intensifnya bimbingan/penyuluhan akan sulit bagi warga masyarakat memahami dan menganalisa tujuan kegiatan kebersihan, sehingga ia akan bertindak ragu-ragu dalam berperanserta terhadap kegiatan kebersihan.
Faktor Pendidikan dan pendapatan tidak nyata pengaruhnya terhadap tingkat peranserta masyarakat dalam uji statistik korelasi Spearman. Hal ini mungkin dikarenakan adanya kesamaan latar belakang sosial budaya, sehingga power atau kekuasaan resmi yang berasal dari pemerintah akan sangat berpengaruh sekali terhadap setiap warganya.
Faktor yang mempengaruhi kemauan masyarakat berperanserta adalah keadaan lingkungan pemukiman, koordinasi pemerintah daerah, tanggapan dan sikap masyarakat terhadap program kebersihan.
Keadaan lingkungan pemukiman yang diduga berpengaruh terhadap tingkat peranserta masyarakat, tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara keadaan lingkungan pemukiman baik, cukup, kurang. Hal ini mungkin disebabkan warga masyarakat berorientasi pada kepentingan pribadi dan status seseorang yang pada kenyataan mereka ini kurang berperanan dalam kegiatan kebersihan.
Terdapat korelasi positif antara koordinasi pemerintah daerah dengan tingkat peranserta masyarakat dalam program kebersihan, hal ini dikarenakan power atau kekuasaan resmi yang berasal dari pemerintah akan sangat berpengaruh sekali terhadap kegiatan masyarakat, nilai hormat dan rukun dalam kehidupan sehari-hari yang memungkinkan mereka mau bertenggang rasa terhadap pendapat, anjuran maupun ajakan pemerintah Daerah untuk melaksanakan kegiatan kebersihan.
Demikian juga pada pandangan dan sikap masyarakat terdapat hubungan yang positif dengan tingkat peranserta masyarakat. Terdapat perbedaan yang nyata antara warga masyarakat yang bersikap sangat membantu, membantu dan acuh tak acuh terhadap peranserta dalam program kebersihan.
Tingkat peranserta masyarakat dalam kegiatan kebersihan dipengaruhi secara nyata oleh faktor-faktor Bantuan fasilitas kerja yang diberikan oleh pemerintah, koordinasi dari pemerintah daerah, pandangan dan sikap masyarakat terhadap program kebersihan dan bimbingan/penyuluhan yang diberikan oleh pemerintah terutama oleh pejabat dan petugas yang berhubungan langsung dengan pengelolaan kebersihan, sedangkan tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan keadaan lingkungan pemukiman tidak terdapat hubungan dengan tingkat peranserta masyarakat terhadap pelaksanaan program kebersihan, namun masih banyak faktor-faktor lain diluar tingkat peranserta yang berpengaruh terhadap keberhasilan program kebersihan di Kotamadya Surakarta.

Summary
This thesis is a result of research about community participation in the implementation of cleanliness program and factors that affect it.
The objectives of this research are to identify level of community participation in the implementation of the cleanliness program and to identify factors that affect level of that participation and difference of participation level among community in the Regency of Surakarta.
Community participation in the implementation of cleanliness program means community involvement in 'the cleanliness activity. These are indicators used to measure level of participation among the members of community in the implementation of the cleanliness program: giving ideas, giving supports, giving material and financial supports, doing sanitary renovation, and obeying the government's instructions. Factors that affect participation are support for working facilities, coordination?s among the government's organ, perception and attitude of members of community, guidance / counseling, level of income, level of education and human settlement environment.
This research is conducted in 10 kelurahan (villages); samples are collected by randomness in five districts (kecamatan) in the Surakarta Regency, Central Java. There is ten villages (kelurahan) chosen among five districts (kecamatan). Fifteen samples are put in each district. Totally, there are 75 samples.
The result of the research shows that 65,33 percent of the respondents have high level of participation, while 34,6 percent of them shows law level of participation. This is certainly related to opportunity, ability, and the will of the community to participate.
This research is intended to identity factors that give probability for creating opportunity, ability and also the will of the members of the community to participate. Factor related to opportunity for participation is supports for work facilities, while the factors related to ability are guidance / counseling, education and income. The factors that have relation to the will of community to participate are the settlement environment, coordination among the organs of the government, the perception and attitude of community of, and toward, the cleanliness program. Factor that has relation to people's opportunity to participate, like supports for work facilities shows that there are significant differences among the people in getting work facilities. The greater the facilities they get, the higher the level of participation they have in the cleanliness program.
There are three factors studied here that are related to community ability, namely guidance / counseling, education and income. There is a positive correlation between the people who get very intensive, intensive and less intensive in guidance / counseling to level of community participation in the cleanliness program activities.
Understanding of cleanliness program utilities causes high participation, on the other hand the lack of guidance / counseling causes to the difficulty in understanding and in analyzing the aims of the cleanliness activity, so they will act doubly in participating in the cleanliness activity.
Education and income factors don't have significant effect on level of community participation, according to statistical evaluation in Spearman Correlation. This is, maybe, caused by the similarity in socio-cultural backgrounds, 50 the power or legal authority of the government will have very significant affect on every people.
The factors that affect the will of the community to participate are human settlement environment, coordination among the government's organs, perception and attitude of community of, and toward, the cleanliness program.
Human settlement environment which is predicted has an effect on level of community participation doesn't show a significant effect between good, enough and less in human settlement environments. Probably this is caused by orientation among individuals in the community to their own interests and statuses. Accordingly, they show less attention to the cleanliness program.
There is a positive correlation between coordination among the government's organs and the level of community participation in cleanliness program. Consequently, the power or legal authority of the government has very significant effect on community activity, appreciation to values and friendship in daily life style, which enable them to be ready to appreciate public opinions, advice and instructions from the Regency government to do cleanliness activity.
Similarly, there is positive correlation between perception and attitude of the community of, and toward, cleanliness and their level of participation. In other words, those with positive perception and attitude show more participation in the cleanliness program.
Level of community participation in the cleanliness activity is significantly affected by such factors as supports for working facilities, which are given by the government, and coordination among the government?s organs, perception and attitude of community to the cleanliness program, and guidance / counseling which are given by the government, especially by bureaucrats and officials who have direct relation with cleanliness management. On the other hand, level of income, level of education and human settlement environment don't have relation to level of community participation in the implementation of the cleanliness program, but there are still other factors out of level of participation that influence the success of the cleanliness program in the Surakarta Regency.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1988
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Darsono Prawironegoro
"Dunia sekarang ini dikoyak-koyak dan sekaligus dibangun oleh kapitalisme. Negara-negara bekas jajahan ekonomi dan po_litik yang sekarang ini diaebut negara sedang berkembang men_derita dan sengsara karena kerakusan kapitalisme. Sedang nega_ra-negara kapitalis sedang sibuk membangun kehidupan yang ser_ba mewah dari hasil penghiaapan dan penindasan terhadap Negara-_negara jajahan ekonomi dan politiknya. Pada tahun 1867, di mana sedang tumbuh dan berkembangnya kapitalisme, Karl Marx menulia sebuah karya ilmiah mengenai kritik terhadap kapitalisme, yang dibukukan dalam Das Kapital. Karya Karl Marx itulah yang mengilhami gerakan dan kebangkitan kaum buruh, sehingga kaum buruh memandang perlu ajaran Karl Marx tersebut dijadikan senjata moril dan senjata politik untuk mem_bebaskan dirinya dari penghiaapan dan penindasan kaum kapitalis. Di samping itu karya Karl Marx di lain pihak juga digunakan o_leh kaum kapitalis untuk memperbaiki siatemnya dalam melang_gengkan atau melestarikan siatem penghiaapan dan penindasannya melalui siatem kerja upahan. Karl Marx dalam menyusun karyanya tidak berdiri sendiri, ia dibantu oleh Engels sahabat setianya dan ia juga dipengaruhi oleh Hegel dan Feuerbach. Dari Hegel, ia mengambil metode dialek_tikanya dan dari Feuerbach ia mengambil paham materialisnya, yang diterapkan dalam gej ala sosial. Maka ajaran Karl Marx tersebut terkenal dengan sebutan Materialisme Historic. Dalam materialisme historia Karl Marx menerangkan bahwa perubahan dan perkembangan masyarakat itu ditentukan oleh per_ubahan dan perkembangan alat-alat kerja atau alat-alat pro_duksi. Perubahan dan perkembangan alat-alat produksi selanjut_nya menentukan perubahan dan perkembangan siatem kerja. Kemu_dian sistem kerja itu menentukan siatem ekonomi masyarakat, dan sistem ekonomi masyarakat itulah yang menentukan ide dan alat pelaksana ide. Maka mekanisme perubahan dan perkembangan masya-rakat itu dimulai dari masyarakat komunal primitif, berubah dan berkembang menjadi masyarakat perbudakan, berubah dan berkem_bang menjadi masyarakat feodalisme, berubah dan berkembang men_jadi masyarakat kapitalisme, berubah dan berkembang mejadi ma_syarakat sosialisme, berubah dan berkembang menjadi masyarakat komunisme. Perubahan dan perkembangan masyarakat itu harus tun_duk kepada suatu hukum umum perkembangan masyarakat, basis dan bangunan atas, keadaan sosial menentukan kesadaran sosial, kelas dan perjuangan kelas, negara dan revolusi. Kemudian dalam masalah ekonomi Karl Marx mengkritik sistem ekonomi kapitalis, yang menurut pandangannya sistem tersebut te_lah membuat kaum buruh sengsara dan menderita. Maka dalam hal i_ni ia membahas mengenai peranan kapital, uang, barang dagangan, nilai dan harga, produksi kapitalis, penghisapan kapitalis, u_pah, moderniasasi industri kapitalis, organisasi kapitalisme, dan perkembangan kapitalisme."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S16128
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Made Sukada
"Karya tulis ilmiah ini ingin menelaah satu masalah pokok yaitu mengenai Tafsiran SarPepalli Radhakrishnan Tentang Etika Dalam Bhagavadgita. Sejak Samkara sampai pada jaman sekarang ihi banyak sudah ahli filsafat, agama dan ahli-ahli lain dari berbagai disiplin ilmu yang memberikan penafsiran terhadap Bhagavadgita. Menurut Radhakrishnan Gita diperkirakan disusun pada abad ke-5 S.M., yang disusun oleh Bhagavan Vyasa terdiri dari 18 Bab dan 700 Sloka. Bhismaparvan adalah bagian dari Mahabharata sedangkan Bhagavadgita adalah bagian dari Bhismaparvan yakni Bab III-XL. Gita merupakan intisari dari ajaran Veda -Veda. Gita berisi petunjuk bagaimana manusia harus menumbuhkan keyakinan yang bulat, mengabdikan semua aktivitas hidupnya dengan tujuan memperoleh kesempurnaan. Untuk menaklukkan kekuatan yang jahat yang ada dalam diri kite Gita mengajarkan supaya melaksanakan yoga. Ada tiga jenis yoga yaitu: jnana yoga (the way of knowledge = jalan melalui pengetahuan), karma yoga the way of action = jalan melalui tingkah laku) dan bhakti yoga (the way of devotion = jalan melalui kebaktian).Sebelum mencapai tahap kesempurnaan Gita menjelaskan sumber dari dua kekuatan yang ber-tentangan dengan alagori pohon asvata (pohon kehidupan) yang akarnya di atas; batang, cabang, ranting, dan pucuknya ke bawah. Pohon kehidupan ini melambangkan kosmos (prakrti) lahir dari akar asvata yaitu Brahman. Prakrti terdiri dari tiga komponen yaitu: sattva, rajas dan tamas, elemen - elemen inilah yang memegang peranan utama etika dalam Gita. Konflik moral dalam dialog antara Krisna dan Arjuna sangat menarik perhatian dalam Gita, di mana Aruna harus memilih salah aatu dari dua kemungkinan yakni bakti kepada tugas negara atau mempertahankan kepentingan pribadi. Penulis memilih judul skripsi Tafsiran Sarvepalli Radhakrishnan tentang Etika; dalam Bhagavadgita, dengan maksud untuk mengetahui lebih jauh pembahasan tafsiran Sarvepalli Radhakrishnan tentang etika dalam Bhagavadgita. Skripsi ini dianalisa secara filosofis dengan metode refleksi yang mempergunakan penelitian perpustakaan. Etika berfungsi sebagai tuntunan hidup dan syarat pokok untuk mencapai tujuan rohani. Tema ini menekankan pada pancaran kesadaran yang murni, pikiran yang seimbang sebagai penggerak aktivitas mental dan fisik, dimana semua bentuk aktivitas merupakan landasan penilaian obyektif. Sifat - sifat etis antara lain.: ahimsa, jujur, hormat pada guru dan penguasaan diri. Penulis membahas relevansi konsep kesempurnaan dalam Gita dengan konsep kesempurnaan dalam kebudayaan Barat jaman sekarang. Dalam hal ini penulis membahas pemikir David White. Menurut David White apa yang dijabarkan dalam Bhagavadgita dengan ketiga yoga tersebut di atas dapat pula dibandingkan dengan kehidupan manusia modern pada masa kini. Konsep kesempurnaan dalam Gita dapat dipakai untuk melengkapi konsep kesempurnaan manusia Barat."
Depok: Universitas Indonesia, 1989
S16182
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Taty Sunarti
"Dari seluruh bahasan dapatlah ditampilkan pokok-pokok pikiran van Peursen sebagai berikut. Pokok pertama adalah bahwa kebudayaan itu bertahap tiga, yaitu tahap mitis, ontologis, dan fungsional, yang paralel, bukan vertikal. Maksudnya adalah bahwa tahap yang satu bukan berarti lebih tinggi dari pada tahap yang lain, melainkan samalah derajatnya, hanya bentuknya sajalah yang berbeda. Pokok pikiran kedua adalah bahwa dilihat dari segi fungsinya, kebudayaan itu mencari relasi-relasi. Sesuatu itu berarti dalam hubungannya dengan sesuatu yang lain. Kata gungsi selalu menunjukkan kepada pengaruh terhadap sesuatu yang lain. Apa yang kita namakan fungsional tidak berarti sendiri, tetapi justru dalam suatu hubungan tertentu ia memperoleh arti dan maknanya. Dengan demikian, pemikiran fungsional menyangkut hubungan pertautan, dan reIasi. Pokok pikiran ketiga adalah bahwa kebudayaan itu harus dipandang sebagai kata kerja, bukan kata benda. Bahwa kebudayaan itu adalah bukan barang-barang koleksi belaka, melainkan sebagai kegiatan dan tindakan manusia. Pokok pikiran keempat adalah bahwa apabila dipandang dari segi fungsi kebudayaan maka yang lebih penting adalah bukan apa-nya, melainkan bagaimananya. Bukan itu ada atau apa itu, melainkan bagaimana itu ada. Pokok pikiran kelima adalah bahwa kebudayaan itu merupakan suatu strategi atau masterplan, yaitu suatu rencana yang diarahkan ke masa depan, suatu posisi dan kondisi untuk menyelenggarakan kebudayaan yang baru. Pokok pikiran terakhir adalah bahwa kebudayaan mempunyai hubungan yang erat dengan ilmu, teknologi dan etika. Satu sama lain saling mempengaruhi dan menentukan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S16038
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muslichah Syukri
"Skripsi ini mengemukakan sebuah tema tentang teori evolusi khususnya mengenai teori evolusi menurut pandangan Teilhard de Chardin. Teori evolusi pada umumnya mengemukakan pandangan bahwa seluruh alam semesta dengan isinya termasuk didalamnya manusia, merupakan hasil perkembangan berangsur-angsur dari bentuk/benda yang sederhana menuju bentuk/benda yang makin komplek dan sempurna. Dengan demikian uraian tentang evolusi adalah uraian tentang hidup itu sendiri yang lebih mendalam, yang mencoba meninjau asal usul dan tujuan, menjejaki masa lampau, masa kini dan masa depan alam semesta dengan seluruh kehidupan yang ada didalamnya. Kenyataan menunjukkan bahwa pada abad ini perhatian dan minat terhadap evolusi meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan arus evolusi yang selalu bergerak maju. Teori evolusi menjadi menarik untuk diamati kalau kita melihat penilaian yang umum berlaku yang melatar belakangi munculnya serta reaksi yang timbul sesudah teori evolusi dekemukakan..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1981
S16171
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>