Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Akun
"Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan politisasi wacana superioritas perempuan, membongkar ideologi pembawahan posisi perempuan dan memerikan secara rinci kontestasi antara propaganda superioritas perempuan dengan ideologi pembawahan posisi perempuan dalam film Woman on Top.
Dengan menerapkan pendekatan kajian budaya, dalam perspektif kajian budaya feminis, tulisan ini mendekonstruksi film Woman on Top yang secara sepintas seolah-olah berusaha mengangkat posisi perempuan dan menempatkannya pada posisi "di atas" laki-laki.
Pada level propaganda, film ini berhasil mempolitisasi wacana superioritas perempuan untuk menyindir dan mengkritik dominasi patriarki dengan penampilan tokoh Isabella yang berposisi "di atas" laki-laki. Dalam konteks ini, perempuan ditampilkan sebagai pribadi yang otonom, potensial, tegas, mengendalikan, menjadi subjek seksual, bebas, dan dewasa. Perempuan juga diperikan berposisi superior dengan tetap melekat pada atribut keperempuanannya. Namun, pada level ideologi, film ini secara tak sadar tetap merepresentasikan perempuan sebagai objek seksual dan objek yang tergantung pada laki-laki dan dewa-dewi. Tubuh perempuan telah dieksploitasi sesuai dengan harapan patriarki. Bersamaan dengan itu, secara hegemonik - tak langsung, terdapat pula penonjolan superioritas rayuan dan cinta patriarki dan perendahan kesetiaan perempuan. Perempuan, lebih jauh, bahkan dimarjinalisasi secara ganda: secara seksual dan secara rasial dalam film ini.
Akhirnya, disimpulkan bahwa film Woman on Top ini adalah salah satu karya budaya yang menjadi tempat berkontestasinya dua kekuatan makna, antara propaganda wacana superioritas perempuan yang berusaha diangkat oleh sutradara dan penulis cerita dan ideologi pembawahan posisi perempuan yang mensubversi propaganda tersebut.

The objectives of this research are to explain the politisation of woman's superiority discourse, to reveal the ideology of woman's marginalization and to describe in detail the contestation between the propaganda of woman's superiority and the ideology of woman's marginalization in Woman on Top film.
Applying cultural studies approach, in feminist cultural studies perspective, this writing deconstructs Woman on Top which seems to try to raise woman's position and place it in the position "on top" of man.
On propaganda level, the film has succeeded in politising woman's superiority discourse to satirize and criticize male domination by presenting a character (Isabella) who has a position "on top" of man. In this context, woman is presented as a (an) autonomous, potential, determined, controlling, sxual subject, free and mature person. Woman is also described as having a superior position without leaving her feminity attributes. However, on ideology level, the film has unconsciously and indirectly represented woman as sexual object and dependent object who is dependent on man and god or goddess. Woman's body has been exploited in accordance with man's wishes. At the same time, hegemonically and indirectly, there is an emphasis on the superiority of male flattery and love, and the trivialization of female loyalty. Further, woman is even doubly marginalized in this film: sexually and racially.
Finally, it is concluded that the film is a cultural product in which two powers of meaning are contestating, between the propaganda of woman's superiority raised by the director and script writer and the ideology of woman's marginalization that subverts the propaganda.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2003
T824
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ruth Sih Kinanti
"Representation of homosexuality constructed by heterosexuality through various discourses has placed homosexuals as the other and the outsider in social life. Heterosexuality (as the dominant) constructs homosexuality (as the subordinate) based on their sexual behavior that is considered abnormal, immoral and not human. Therefore, they belong to no sexual category in heterosexual society.
The above mentioned situation has moved homosexuals to make resistance by constructing alternative homosexuality representation in any field, including literature. Through literature, homosexuals in the United States of America struggle for their identity in any discourses in 1980s in articles in newspapers, journals published by gay or anti gay organizations. And later representation of homosexuality constructed by heterosexuality was internalized by three plays: As Is, Safe Sex and The Way We Live Now but then deconstructed by Angels in America.
Just as the other plays in 1980s, As Is, Safe Sex and The Way We Live Now arise empathy and sympathy of the readers or the audience since they show the suffering of homosexuals having AIDS disease and representation of homosexuality as the Other, the Sinner and the Polluting person. Whereas Angels in America which was written in the same decade as the three mentioned plays, differ in presenting life, attitude, and courage of homosexuals towards Queer Culture era, an era that was begun in 1990 when homosexuals wanted to show homosexuality as a sexual identity.
Angels in America tries to make a new representation of homosexuality by using religion and AIDS, as also used by heterosexuality, as a political means to deconstruct and show homosexuality as a sexual identity, a third sexual category, as the honored man and Savior.
Homosexuality in Angels in America is regarded as sexual identity, just like male or female. It is not considered as a dirty and dangerous sexual behavior even one of the characters, a homosexual with AIDS, is elected as a prophet after having sexual intercourse with an angel. Instead of polluting the social life with their sexual behavior, homosexuality, and AIDS, has an important role as a prophet to bring human being towards a better life.

Representasi homoseksualitas yang dibuat oleh heteroseksualitas melalui berbagai bentuk wacana menempatkan mereka pada tempat tersisih dan di luar kehidupan masyarakat. Heteroseksualitas (sebagai pihak yang menguasai) membuat konstruksi homoseksualitas (yang dikuasai) berdasarkan perilaku seksual yang tidak umum, tidak normal, berdosa, dan tidak masuk aka!. Oleh karena itu, mereka menempatkan homoseksual pada tempat tersisih dan tidak dapat digolongkan pada kategori seksual yang dibuat oleh masyarakat.
Keadaan tersebut telah mendorong para homoseksual untuk membuat resistensi dengan membuat representasi homoseksualitas tandingan, misalnya lewat bidang sastra. ltulah yang diperjuangkan oleh para homoseksual di Amerika Serikat. Perjuangan mereka muncul dalam wacana-wacana pada tahun 1980-an dalam artikel di surat kabar, di jurnal baik yang dikeluarkan oleh organisasi gay atau anti gay dan kemudian diinternalisasi oleh tiga drama pendek As 1s, Safe Sex, dan The Way We Live Now dan dibongkar oleh Angels in America.
Seperti drama-drama gay pada umumnya pada waktu itu, As 1s, Safe Sex dan The Way We Live Now menimbulkan empati dan simpati pembaca atau penontonnya karena menampilkan representasi homoseksual sebagai Yang Lain, Yang Berdosa dan yang Mencemari seperti yang dibuat oleh heteroseksualitas. Sedangkan drama Angels in America yang berada pada dekade yang sama dengan ketiga drama di atas, mempunyai perbedaan dalam menampilkan kehidupan, sikap, dan kemauan para homoseksual yang lebih berani menuju era Queer Culture, suatu era yang dimulai tahun 1990 ketika para homoseksual menampilkan homoseksualitas sebagai identitas seksual.
Sama seperti heteroseksualitas yang menggunakan agama dan AIDS sebagai alat politik untuk membuat representasi homoseksualitas, Angels in America membuat representasi homoseksualitas yang baru yaitu sebagai identitas seksual, Yang mulia dan Penyelamat.
Homoseksualitas dalam Angels in America dipandang sebagai identitas seksual, sama seperti laki-laki atau perempuan dan tidak dipandang kotor bahkan diangkat menjadi nabi. Oleh karena itu, tidak mencemari kehidupan masyarakat dengan perilaku seksual dan AIDS, yang identik dengan homoseksual, tetapi menyelamatkan kehidupan manusia dengan menyadarkan mereka untuk segera bertindak untuk kehidupan yang lebih baik."
2001
T3600
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Scarletina Vidyayani Eka
2010
T28550
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Naura Nazifah
"ABSTRAK
Snow White atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Putri Salju adalah salah satu karakter fiksi yang pertama kali muncul dalam kumpulan dongeng milik Grimm Bersaudara. Penggambaran mengenai karakteristik seorang putri yang melekat pada karakter Snow White dalam dongeng membuat masyarakat memiliki konsep atau imaji seorang putri. Namun seiring perkembangan zaman, banyak dongeng yang menjadi acuan adaptasi untuk berbagai film, salah satunya film Snow White and the Huntsman produksi Hollywood sebagai hasil adaptasi dari dongeng Schneewittchen dalam kumpulan dongeng karya Grimm Bersaudara. Namun berbeda dengan karakter Snow White yang sudah dikenal masyarakat melalui dongeng, karakter Snow White dalam film mengalami perluasan yang cukup terlihat. Secara khusus, penelitian ini akan membahas mengenai perluasan karakter yang dialami oleh tokoh Snow White dalam film versi Hollywood serta bagaimana peran Hollywood dalam industri perfilman nasional dan internasional. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan teori representasi Stuart Hall, dan mitos dari Roland Barthes serta teori Gender."
2019
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Sadya Prihatin
"ABSTRAK
Tujuannya adalah ingin membuktikan dengan teori Georg Lukacs bahwa sikap Wolfgang Borchart yang anti perang secara implisit tercermin dalam empat cerita pendeknya. Teori yang digunakan untuk meneliti keempat cerita pendek tersebut adalah teori pencerminan kenyataan dari Georg Lukacs. Dari hasil penelitian terhadap keempat cerpen Wolfgang Borchart yang berjudul Dia Kuchenchr. Der Kaffes Ist Undefinierbar, Dis Kegelbahn, den Lhesbuchgeschichten yang dilandasi dengan teori tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keempat cerpen tersebut secara implisit mencerminkan sikap pengarang dan kenyataan pada masa dan akhir perang dunia kedua.

"
1996
S16210
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sipahutar, Yudith G.N.H.
"ABSTRAK
Lukacs mengatakan bahwa sastrawan terpengaruh oleh kenyataan sosial di sekelilingnva. Kenyataan tentang kehidupan yang penuh penderitaan mendorong pengarang untuk mengekspresikan pendapat dan perasaannya dalam karya sastra. Jadi karya itu merupakan sarana pengarang untuk mengkritik masyarakat. Karya yang berhasil mempengaruhi dan mengubah masyarakat berarti mempunyai sifat emansipatoris dan daya transformasi.
Dalam masyarakat Jerman abad kedelapan belas, rakyat tertindas akibat pemerintahan feodal absolut yang bertindak sewenang-wenang. Sastrawan di Taman itu, terutama zaman Sturm and Drang (1767-1785) sangat mementingkan faktor perasaan dalam penulisan karya mereka. Mereka menuliskan perasaan tidak puas mereka akan keadaan sosial yang buruk itu ke dalam karya mereka. Schiller, salah satu sastrawan Sturm and Drang yang turut mengalami penderitaan akibat pemerintahan di abad 18 juga menuangkan perasaannya ke dalam karya pertamanya, Die Raurber.
Die Rauber memuat berbagai masalah yang juga terdapat di dalam keadaan sosial masyarakat Jerman abad kedelapan belas, yaitu masalah pemerintahan yang sewenang-wenang dan tirani, pemberontakan yang dilakukan sebagian masyarakat, keberadaan selir di kalangan bangsawan dan juga kolusi yang terdapat antara bangsawan dan gereja,
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa dalam Die Rauber terdapat banyak kritik terhadap keadaan sosial masyarakat Jerman abad kedelapan belas. Penciptaan karya ini juga dipengaruhi oleh kesadaran Schiller akan lingkungan sosialnya. Walaupun karya ini tidak berhasil mengubah masyarakat, namun hal ini tidak menggugurkan kesimpulan bahwa Die Rauber mempunyai hubungan dengan keadaan sosial masyarakat Jerman abad kedelapan belas.

"
1999
S14798
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Silvester Sila Wedjo
"Patriotisme adalah perasaan cinta terhadap tanah air yang diidealisasikan dalam bentuk kesediaan secara sukarela untuk mengabdi dan mengorbankan diri. Dengan beberapa jargon seperti Kehormatan. Gugur demi tanah air, Gugur di altar tanah air membuat rakyat menjadi tidak kritis untuk membedakan, mina yang benar dan niana yang tidak benar. Patriotisme ini sering membuat rakyat tidak mengetahui bahwa mereka telah dimanfaatkan oleh negara untuk kekuasaan. Kenyataan inilah yang ingin dibahas dalan skripsi ini. Kata-kata dan jargon-jargon yang digunakan dalam dua cerita pendek ini akan dianalisis dalam skripsi ini dengan bantuan latar belakang sosial historis Jerman. Dalam skripsi ini ditunjukkan pula peranan dan pengaruh dari pilihan kata yang digunakan dalam dua cerita pendek ini. Sumber data skripsi ini diambil dari dua cerita pendek karya Leonhard Frank yang berjudul Der Vater dan Die Kriegswitwe yang pada tahun 1919 kemudian dibukukan dalam sebuah roman yang berjudul Der Mensch ist gut. Kesimpulan dari skripsi ini menunjukkan bahwa kadang-kadang semangat patriotisme digunakan ke arah yang salah dan untuk ambisi kekuasaan negara saja. Dengan beberapa jargon yang rnembangkitkan semangat cinta tanah air membuat rakyat menjadi tidak kritis. Karena semangat patriotisme rakyat membunuh yang lain sebelum mereka sendiri terbunuh tanpa mereka mengerti untuk apa mereka melakukan semua itu. Dengan dua cerita pendek ini Leonhard Frank ingin mengkritik rakyat Jerman untuk tetap berpikir kritis dengan sesuatu yang berhubungan dengan patriotisme."
2000
S14804
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mochamad Nasrul Chotib
"Kontak pertama bangsa Indian (Amerika dan Meksiko) dengan kulit putih (Amerika) adalah pertemuan dua budaya yang tidak saling memahami. Dari pertemuan tersebut timbul catatan sejarah penindasan dan perlawanan yang panjang. Berbagai kepentingan mulai dari ekonomi, politik, agama, hingga sastra berbaur dan menciptakan benturan ideologi antara dua bangsa tersebut.
Salah satu bentuk benturan ideologis tersebut terwujud melalui kehadiran tokoh-tokoh nativephilia dalam teks. Tokoh nativephilia adalah karakter kulit putih yang sengaja dihadirkan pengarang non-kulit putih dengan keberpihakan dalam bentuk komitmen yang tulus maupun dedikasi yang tinggi kepada pihak terjajah. Adalah fungsi ideologis tokoh ini yang diangkat sebagai masalah utama tesis.
Teori yang digunakan ialah teori Louis Afthusser yang menekankan dua hal : subjek dan aparat ideologis. Subjek ialah anggota masyarakat (pengarang dalam hal ini) yang berposisi tetap di hadapan ideologi sebagai hasil dan proses interpelasi dengan menginternalisasikan kesadaran semu kepada anggotanya. Aparat ideologi dibagi menjadi RSA (Repressive State Apparatus) dan ISA (Ideological State Apparatuses). Perbedaan pertama terletak pada konteks semantik-gramatik (apparatus=tunggal ; apparatuses=jamak) yang membuat kesatuan ISA tidak segera bisa terlihat. Kedua ialah wilayah kerja masingmasing : RSA pada wilayah publik dan 1SA perorangan (swasta). Perbedaan mendasar terletak pada cara kerja masing-masing. RSA pertama kali berfungsi secara represif meski ada kemungkinan menerapkan tindak represif seperti ISA, sementara ISA secara ideologis meski terbuka kemungkinan untuk menerapkan tindak represif seperti RSA.
Untuk kepentingan analisis dihadirkan dua tokoh nativephifia, Father Arnold dalam novel Reservation Blues dan Professor Mate dalam Delia's Song. Masing-masing secara berurutan, mewakili institusi keagamaan dan pendidikan dalam wacana masyarakat kolonial. Selain keberpihakan, tokoh nativephilia dilengkapi pengarang dengan ciri ambivalensi sebagai senjata, yakni jembatan, tekstual untuk melontarkan pesan berupa kritik pada ideology. Pesan pengarang tersebut ditujukan untuk mengungkap wajah lain kolonialisme. Dalam kasus Father Arnold, pengarang memanipulasi ambivalensi dalam nada olok-olok melalui oposisi 'keluguan penjajahan,' sementara Profesor Mattie dalam oposisi 'dedikasi/ supremasi.'
Tampilan kolonialisme ini dapat disimpulkan dalam oposisi 'dominasi/ persuasi' untuk menunjukkan pengokohan ideologi yang berlangsung bukan hanya melalui kekerasan (represi), namun juga terselubung (hegemoni).
Namun, posisi pengarang sebagai subjek bukannya tidak mengandung arus ambivalensi. Arus ini dimanfaatkan kolonialisme untuk menghadirkan siasat dalam menghadapi kritik pengarang dengan menunggangi ambivalensi yang tercipta dari kritik pengarang. Hal ini menimbulkan ambivalensi fungsi dalam kritik pengarang, yakni sebagai kritik yang menyerang sekaligus mengokahkan keberadaan ideologi. Dalam kasus Father Arnold ambivalensi pesan pengarang dibuktikan melalui muatan 'penipu/ penyelamat,' sementara Profesor Mattie muatan 'penjajah/ pembebas.' Muatan ambivalensi tersebut menyiratkan sisi anglophilia pengarang yang secara tak sadar turut mempertahankan keberadaan kolonialisme di antara bangsanya sendiri. Dalam kasus pengarang Indian ialah pernyataan Indian yang terselamatkan adalah Indian yang telah terevangelisasi budaya kulit putih, dalam kasus pengarang Chicano ialah pernyataan chicano yang tidak inferior adalah chicano yang telah terdidik oleh budaya kulit putih.

The first contact between (American and Mexican) Indian and White (American) settlers was the encounter between two not-each-other-understand cultures. From this erupts long historical annals of continual oppression and challenges. Much interests, including economic, politic, religious, even literary, melt and seek way to create ideological collisions between the nations engaged.
One of those ideological collisions manifests through the presence of nativephilian characters within the text. Nativephilian characters are white textual figures which purposively characterized by their non-white writers with their withstanding, either through commitment or dedication, towards the colonized. It is the characters ideological function which becomes main problem of this thesis.
Theory used is Althusserian ideological notion which stresses two things: subject and ideological apparatuses. Subject is sociological member (i.e. writers) which has constitutive position before ideology as a result of interpellation process by internalizing false consciousness towards its member. Ideological apparatuses consist of RSA (Repressive State Apparatus) and ISA (Ideological State Apparatuses). The first difference lies on semantic-grammatical context (apparatus=singular; apparatuses=plural) which makes ISA's unity can not immediately be noticed. The second the domains that RSA is public and ISA private. The basic difference lies on their function that RSA firstly functions repressively, though there would always be possibility to be ideological as ISA; while ISA ideologically, though, as RSA, repressive acts also remains possible.
For analysis, two characters presented that are Father Arnold within Reservation Blues novel and Professor Mattie within Delia's Song. Each, respectively, represents religious and educational institutions within the discourse of colonial society. Besides their withstanding, nativephilian characters are polished with ambivalence as weapon, i.e. tool, to send message, that is criticism, towards ideology. The writers message is directed to disclose the other face of colonialism. As in Father Arnold's case, the writer manipulates ambivalence within mockery tone through 'innocence/invasion' opposition, while Professor Mattie through 'dedication/supremacy.' These colonial images, then can be concluded as 'domination/ persuasion' opposition to represent ideology's prevalence which not only takes places in violence (repressive), but also in concealment (hegemonic).
Yet, the writers' subjectical position is not without its own ambivalence. This other current is used by colonialism to present strategy vis-a-vis the writers criticism by manipulating the ambivalence created inside the writer own criticism. This, in turn, creates ambivalent function within the writers criticism, i.e. as criticism that attacks and, in like manner, intensifies the presence of ideology. Within Father Arnold's case, this is proven through the presence of 'deceiver/saver' opposition, while in Profesor Mattie 'conquer or freer opposition. This ambivalence implies anglophilian side of the writers who, subconsciously, support the presence of colonialism among their own people. In Indian writer's case is the inference that the saved Indian is the whitely-evangelized Indian, while in Chicano writer, the not-inferior chicane is the whitely-educated chicane."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2001
T2048
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syafri K.,
"Tujuan tesis ini adalah untuk menunjukkan bagaimana kedua novel merespon secara kritis sistem patriarki dan kondisi poskolonial melalui sikap dingin tokoh-tokoh perempuan. Tesis ini menunjukkan bagaimana teks merespons hubungan kekuasaan antara kelompok dominan kulit putih terhadap pendatang dan Dunia Ketiga yakni Haiti dan Chicano; serta gambaran permasalahan perempuan oleh kedua pengarang tersebut dalam Lucy dan Delia's Song.
Dengan prespektif feminis dan poskolonial, tesis menunjukkan bahwa keberadaan perempuan digambarkan dalam dua jenis penindasan yakni penindasan perempuan oleh kaum laki-laki dan penindasan perempuan kulit berwarna oleh kaum mayoritas kulit putih. Penindasan perempuan merupakan warisan sistem patriarki yang berasal dari negeri perempuan yang mengalami penindasan. Penindasan perempuan sebagai warisan patriarki sering digambarkan melalui hubungan ibu dan anak perempuan dalam proses yang unik. Penindasan kaum kulit berwarna yang berasal dari Dunia Ketiga digambarkan melalui hubungan antara kaum kulit putih dengan perempuan pendatang dad Chicano. Perempuan pendatang ini didiamkan oleh sistem patriarki dan kondisi poskolonial. Dalam hal ini posisi mereka sebagai objek. Akan tetapi, posisi itu berubah kemudian. Mereka mendiamkan diri sebagai wujud pemberontakan hati mereka dalam menentang sistem patriarki dan dominasi kekuasan kelompok masyarakat kulit putih. Jadi posisi mereka sebagai subjek. Sikap diam mereka sebagai resistensi terhadap "penjajahan" perempuan karena pada hakekatnya ada dua jenis "penjajahan" dalam kedua karya (Lucy dan Delia's Song) tersebut yakni penjajahan terhadap kaum perempuan oleh kaum laki-laki dan penjajahan oleh kelompok mayoritas kulit putih terhadap kaum pendatang dan Dunia Ketiga.
Ketidakmauan kaum laki-laki dalam memahami perasaan kaum perempuan sebagai permasalahan yang dominan dalam kedua karya tersebut pada hakekatnya disebabkam oleh kecenderungan kaum laki-laki dalam menguasai kaum perempuan karena kaum laki-laki sering merasa kedudukan mereka lebih tinggi dari kedudukan perempuan."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2001
T8997
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Djumala
"ABSTRAK
Kondisi sosial yang berubah dengan cepat berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan. Salah satu yang turut terpengaruh atas kondisi tersebut adalah institusi keluarga. Nilai, bentuk, dan komposisi keluarga kini bergeser. Konflik yang terjadi dalam sebuah keluarga pun semakin terbuka. Akibatnya, anak seringkali menjadi korban atas kondisi tersebut.
Dalam bacaan anak, cerita dengan tema keluarga telah lama ada. Namun demikian, seiring dengan semakin kompleksnya permasalahan yang ada dalam kehidupan sosial suatu masyarakat, maka tema mengenai keluarga dalam bacaan anak pun turut bergeser. Keluarga tidak lagi digambarkan sebagai tempat anak-anak menemukan kebahagiaan yang seutuhnya. Bacaan anak bertema keluarga kini mulai memunculkan kisah mengenai anak-anak yang menghadapi persoalan perceraian dan perpisahan kedua orangtuanya. Melalui bacaan tersebut anak-anak diajak untuk mengenal dan menghadapi realitas kehidupan yang sesunguhnya.
Belum ada penulis bacaan anak di Indonesia yang mengangkat persoalan dengan tema tersebut. Namun demikian kebutuhan akan tema seperti itu terpenuhi oleh hadirnya bacaan anak terjemahan. Anak Tanpa Rumah, Lizzie si Mulut Terkunci, dan Kisah Tracy Beaker merupakan tiga bacaan anak terjemahan karya Jacqueline Wilson yang mengangkat persoalan anak-anak dalam menghadapi perceraian dan perpecahan keluarga.
Dua masalah pokok yang dibahas dalam penelitian ini adalah (i) bagaimana gambaran mengenai keluarga dalam bacaaan anak terjemahan berjudul Anak Tanpa Rumah, Lizzie si Mulut Terkunci, dan Kisah Tracy Beaker, (2) bagaimana bacaan anak terjemahan bertema keluarga dalam ketiga karya Jacqueline Wilson tersebut dan bacaan anak terjemahan bertema sejenis dalam khazanah bacaan anak di Indonesia.
Dunia khayal yang diciptakan oleh sebuah karya sastra tak ubahnya merupakan cermin atas realitas yang ada pada masyarakatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengisahan mengenai konflik keluarga pada ketiga bacaan anak terjemahan karya Wilson merupakan upaya untuk memberikan gambaran atas kondisi keluarga yang mungkin ada pada saat ini. Penerbitan bacaan anak terjemahan dengan tema keluarga yang sarat dengan konflik dan kesedihan, juga merupakan sebuah aitematif bagi pembaca anak di Indonesia yang selama ini belum banyak dikenalkan dengan kisah-kisah realistik bertema kesedihan, kehilangan, dan ketidakbahagiaan, seining dengan kenyataan hidup yang mereka Iihat atau alami.

ABSTRAK
Social conditions that changed fastly brings about problems to many kinds of life's aspects, includes of family with its degradation of value, form, and composition. One of the family's problem is about children's rights and protection. Unhappines children often caused by a family. Divorce and single parents' phenomena that comes as main topic to our public lately are the problems that cause children to being unhappy. These unfortunate children get attentionfrom both the writer and publisher of children's books.
In children's literature, we can find a story with family's theme. But because of the social change, the story about family in children's books also getting change. On those books, family no longer describes as a place that children can find the real happiness. Lately, Children's books comes with the stories of children that having problems about divorcing and neglecting by the parents. From those kind of books, the children are brought to know about the reality of life.
In Indonesia, there is still no local writer of children's books that write about those themes. Eventhough, the need to that theme in children's books fulfilled by translation books. Anak Tanpa Rumah, Lizzie si Mulut Terkunci, and Kisah Tracy Beaker are written by Jacqueline Wilson that told about divorce and broken of family.
The two main focus of this theses are about (1) the family's portray in children's books of Anak Tanpa Rumah, Lizzie si Mulut Terkunci, and Kisah Tracy Beaker, (2) The potray of the Wilson's and childrens' translation books with family theme in Indonesian children's literature.
The result of the research shows that there is a similarity between the portray of family on the three of Wilson's books with the condition of family in reality that faced by the children in their own society. Decision to publish those books offered the alternative reading to Indonesian children about the real life that full of sad, lose, and unhappiness.
"
2007
T17223
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>