Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 123 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yurika Lanimarta
"Kurkumin merupakan komponen bahan alam yang berasal dari kunyit dan memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antitumor. Akan tetapi, kurkumin memiliki kelarutan yang buruk dalam air dan bioavaibilitas yang rendah. Untuk meningkatkan bioavaibilitasnya, kurkumin dibuat kedalam bentuk nanopartikel menggunakan Dendrimer PAMAM G-4 dengan berbagai perbandingan molar ditiap formula, yaitu formula I dengan perrbandingan molar kurkumin : dendrimer PAMAM G4 (1 : 0,2), formula II (1 : 0,02), dan formula III ( 1: 0,002). Tujuan dari penelitian ini adalah membuat dan mengkarakterisasi nanopartikel kurkumin-dendrimer PAMAM G4 dan melakukan uji penetrasi nanopartikel dalam sediaan gel. Formula 1 (1 : 0,2) memiliki ukuran partikel 10.91 ± 3,02 nm dengan efisiensi penjerapan 100 % merupakan formula dengan karakteristik paling baik. Formula 1 kemudian diformulasikan ke dalam sediaan gel menggunakan Karbopol 940 1%. Uji penetrasi in vitro dengan alat sel difusi Franz menggunakan membrane abdomen kulit tikus dari gel nanopartikel kurkumin dibandingkan dengan gel kurkumin. Gel nanopartikel kurkumin menunjukkan presentase penetrasi kurkumin lebih besar dari gel kurkumin. Gel nanopartikel memiliki jumlah kumulatif kurkumin terpenetrasi sebesar 19,58 ± 1,44 μg/cm2 dan presentase kumuliatif terpenetrasi sebesear 57,26 ± 4,22 %.

Curcumin is a natural compound found in turmeric and possesses antioxidant, anti-inflammatory and anti-tumor ability. But Curcumin is poorly soluable in water and has lower bioavaibility. In other to improve the bioavaibility of curcumin, Curcumin formed into nanoparticle used dendrimer PAMAM G4 in various molar rasio, which is formula I with molar ratio (1 : 0,2) of curcumin : dendrimer PAMAM G4, formula II (1:0,02), and formula III (1 : 0,002). The aim of this study is to prepare and to characterize nanoparticle curcumin-dendrimer PAMAM G4 and to know skin permeation of curcumin. Formula 1 showed the best characteristic with particle size 10.91 ± 3,02 nm and 100% entrapment efficiency. Formula 1 then formulated into a gel dosage form with Carbopol 940 1%. In vitro penetration study of Nanoparticle curcumin gel compared with curcumin gel was determined with Franz diffusion cell using rat abdominal membrane. Nanoparticle curcumin gel showed greater permeation of curcumin through rat skin as compared to curcumin. Nanoparticle curcumin gel had its cumulative total 19,58 ± 1,44 μg/cm2 and its cumulative percentage 57,26 ± 4,22 %."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2012
S43353
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fathia Ayuningtyas
"ABSTRAK
Pektin, Guar gum, Xanthan gum dan Alginat merupakan polimer alam yang
bersifat anionik, biodegradabel, dan biokompatibel yang berpotensi sebagai
sediaan lepas terkendali. Tujuan penelitian ini adalah membuat beads yang
mengandung pupuk sebagai media tanam. Beads dibuat menggunakan metode
gelasi ionik dan dikarakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscope
(SEM) dan ayakan bertingkat serta Uji kandungan obat, efisiensi penjerapan
pupuk dalam beads dan pelepasan pupuk ditetapkan menggunakan
Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa
beads yang dihasilkan berbentuk bulat berwarna biru muda dengan ukuran ratarata
2,5-3 mm. Kandungan pupuk magnesium dalam beads alginat pektin dan
poliakrilamid adalah 0,035%; 0,038%; dan 0,036%. Efisiensi penjerapan pupuk
dalam beads alginat, pektin dan poliakrilamid adalah 71,09%; 77,58% dan
77,56%. Pada uji pelepasan menunjukkan bahwa pupuk terlepas hampir
seluruhnya pada menit ke 240. Hasil menunjukkan bahwa polimer alginat dan
pektin dapat digunakan untuk pembentukan beads.

ABSTRACT
Pectin, Alginate, Guar gom, Xanthan gom is a natural polymer with polyanionic,
biodegradable and biocompatible characteristics, has the potential as controlled
release delivery. The purpose of this research is to produce beads containing
fertilizer as plant media. Beads prepared by ionic gelation method and
characterization using a Scanning Electron Microscope (SEM), sieveing grade and
drug content, encapsulation efficiency of fertilizers in beads and drug release
decided by Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Characterization result
shows that beads which produced have a spherical form and have soft blue color
with average size 2,5-3 mm. Content of fertilizer in alginate beads, pectin beads
and poliacrilamide beads is 0,055%; 0,038%; and 0,036%. Encapsulation
efficiency of fertilizer in alginate beads; pectin beads; and poliacrilamide is
71,09%; 77,58%; and 77,56%. On the test release, it can be seen that almost
fertilizer were released in 240 minutes. The result showed that the polymer
alginate and pectin can be used made to make the beads.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S43809
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aflaha Ashari
"ABSTRAK
Apotek merupakan tempat dilakukannya praktik kefarmasian oleh Apoteker yang menjadi salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Apotek juga sebagai salah satu tempat pengabdian dan praktik profesi apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian, serta merupakan suatu tempat bisnis, sehingga apoteker juga dituntut untuk memiliki keahlian dalam hal manajerial dan kemampuan dalam mengembangkan bisnis. Pelayanan kefarmasian di Apotek meliputi pengelolaam sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai serta pelayanan farmasi klinik. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai terdiri dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian, pencatatan dan pelaporan. Pelayanan farmasi klinik meliputi pengkajian resep, dispensing, pelayanan informasi obat PIO , konseling, pelayanan kefarmasian di rumah home pharmacy care , pemantauan terapi obat PTO , dan monitoring efek samping obat MESO . Pelayanan kefarmasian di Apotek Kimia Farma no. 202 Depok sudah berjalan secara optimal, namun pelayanan farmasi klinik berupa konseling, home pharmacy care, PTO dan MESO belum dilakukan secara rutin.

ABSTRACT
Pharmacy is where the practice of pharmacy by pharmacists who became one means of health services in helping realize the optimal health status for the community. Pharmacy are also one of the places of dedication and practice of the pharmacist profession in doing pharmaceutical work, and a place of business, so the pharmacist is also required to have managerial skills and ability in developing the business. Pharmaceutical care in Pharmacy include pharmaceutical management, medical equipment and medical consumables and clinical pharmacy services. Management of pharmaceutical preparations, medical devices and medical consumables consists of planning, procurement, receipt, storage, destruction, controlling, recording and reporting. Clinical pharmacy services include prescription assessment, dispensing, drug information service PIO , counseling, home pharmacy care, monitoring drug therapy PTO , and monitoring of drug side effects MESO . Pharmaceutical care in Kimia Farma Pharmacy no. 202 Depok has been running optimally, but the clinical pharmacy services in the form of counseling, home pharmacy care, PTO and MESO has not been done routinely."
2017
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Vany Priskila
"Sejak dahulu, bonggol pisang telah dikenal secara empiris dapat memicu pertumbuhan rambut, namun belum ada suatu penelitian yang membuktikan pernyataan tersebut. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui stabilitas fisik dan aktivitas pertumbuhan rambut sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak air bonggol pisang dengan variasi konsentrasi 2%, 4%, dan 8%. Sediaan hair tonic dibuat dengan bahan tambahan etanol 96%, propilen glikol, menthol, propil paraben, metil paraben, dan natrium metabisulfit. Uji stabilitas fisik dilakukan pada suhu rendah, suhu kamar, dan suhu tinggi. Hair tonic diaplikasikan ke kulit punggung tikus yang telah dicukur untuk menguji aktivitas sediaan. Aktivitas ditentukan melalui perhitungan panjang rambut dan bobot rambut tikus. Hasil uji stabilitas fisik menunjukkan ketiga formulasi stabil pada penyimpanan suhu rendah, suhu kamar, dan suhu tinggi. Formula yang memberi hasil paling potensial terhadap pertumbuhan rambut tikus adalah hair tonic dengan konsentrasi ekstrak bonggol pisang 4%.

Since the first, banana weevil has been known empirically can trigger hair growth, but there is no research that proves the statement. The purpose of this study was to determine the physical stability and activity of hair growth hair tonic preparations containing extracts of banana weevil water by varying the concentration of 2%, 4% and 8%. Hair tonic preparations made with 96% ethanol, propylene glycol, menthol, propyl paraben, methyl paraben, and sodium metabisulfite. Physical stability test performed at low temperature, room temperature, and high temperatures. Hair tonic is applied to the back skin of mice that had been sheared to test preparation activities. Activity is determined by calculating the weight of long hair and rat hair. Physical stability of the test results showed all three formulations is stable at low temperature storage, room temperature, and high temperatures. Formula that gives the most potent against the rat hair growth hair tonic with banana weevil extract concentration of 4%."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2012
S42650
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Delly Ramadon
"Salah satu tanaman yang sudah sering digunakan untuk mengobati rasa nyeri (analgesik) adalah cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Aktivitas analgesik cabai rawit dihasilkan oleh kandungan kimianya, yaitu kapsaisin dan dihidrokapsaisin yang merupakan senyawa kapsaisinoid. Kapsaisinoid dapat diabsorpsi dengan baik melalui kulit sehingga dapat dibuat sediaan topikal. Untuk mendapatkan efek optimal dari sediaan topikal, kapsaisinoid harus terpenetrasi melalui lapisan kulit.
Pada penelitian ini dibuat dua sediaan, yaitu gel dan emulgel untuk mengetahui profil jumlah kapsaisinoid yang terpenetrasi dari kedua sediaan tersebut. Kedua sediaan diuji stabilitas fisik dan daya penetrasinya secara in vitro dengan alat sel difusi Franz menggunakan membran abdomen tikus galur Spraque-Dawley.
Jumlah kumulatif kapsaisinoid yang terpenetrasi dari sediaan gel dan emulgel secara berturut-turut adalah 153,11 ± 2,42 μg/cm² dan 321,22 ± 4,67μg/cm². Persentase jumlah kapsaisinoid terpenetrasi dari sediaan gel dan emulgel secara berturut-turut adalah 19,39 ± 0,31 % dan 40,69 ± 0,59 %. Fluks dari sediaan gel dan emulgel berturut-turut adalah 11,26 ± 0,20 μg cm-2 jam-1 dan 24,28 ± 0,52 μg cm-2 jam-1.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa daya penetrasi sediaan emulgel lebih tinggi daripada gel, dan kedua sediaan yang dibuat menunjukkan kestabilan fisik.
One of plant which has been used for healing the pain (analgesic) was chilli (Capsicum frutescens L.). The chili's analgesic acitivity was produced by its chemical compounds, i.e capsaicin and dyhidrocapsaicin which called capsaicinoids. Capsaicinoids was well absorbed from skin, therefore it could be made into topical dosage form. To get the optimum effect from topical dosage form, capsaicinoids should be penetrated through skin layer.
Therefore, two kinds of dosage forms were made to measure the total cumulative penetration of capsaicinoids, i.e. gel and emulgel. The two dosage forms was examined their physical stability and penetration ability by in vitro Franz diffusion cell test using Spraque-Dawley rat abdomen skin as diffusion membrane.
Total cumulative penetration of capsaicinoid from gel and emulgel dosage forms were 153.11 ± 2.42 μg/cm² and 321.22 ± 4.67 μg/cm², respectively. The percentage of penetrated capsaicinoid from gel and emulgel dosage forms were 19.39 ± 0.31 % and 40.69 ± 0.59 %, respectively. Flux of capsaicinoid from gel and emulgel dosage forms were 11.26 ± 0.20 μg cm-2 hour-1 and 24.28 ± 0.52 μg cm-2 hour-1, respectively.
Based on those result, it can be concluded that penetration ability of emulgel dosage form is higher than gel. Besides that, the two dosage forms showed physical stability.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2012
S42808
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Khesia Ghassani Nusmara
"Daun tanaman pare (Momordica charanthia L.) secara tradisional digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan rambut. Tujuan penelitian ini adalah membuat sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak etanol daun pare dan menguji aktivitasnya terhadap pertumbuhan rambut serta stabilitas fisik dari sediaan hair tonic. Hair tonic dibuat dengan kandungan ekstrak daun pare pada konsentrasi berbeda yaitu 1%, 2% dan 4%. Sediaan ini diaplikasikan pada kulit tikus secara topikal dan panjang rambut diukur pada hari ke-7, 14 dan 21 sedangkan bobot rambut diukur pada hari ke 21. Hair tonic minoksidil digunakan sebagai kontrol positif.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa formula terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan rambut adalah formula yang mengandung 4% ekstrak etanol daun pare. Aktivitas peningkatan pertumbuhan rambut pada formula ini tidak berbeda bermakna dengan kontrol positif minoksidil. Sediaan hair tonic yang mengandung ekstrak daun pare 1%, 2% dan 4% menunjukkan kestabilan fisik yang baik pada penyimpanan suhu kamar dan suhu tinggi. Pada penyimpanan suhu rendah terlihat adanya ketidakhomogenan hair tonic formula 3 yang mengandung ekstrak daun pare sebesar 4%.

Leaves of bitter melon (Momordica charanthia L.) are traditionally used to promote hair growth. This research was carried out to formulate hair tonic dosage form which contain ethanolic extract of bitter melon leaves and evaluate its hair growth-promoting activity and physical stability of hair tonic dosage forms. Hair tonics were made using bitter melon extract in various concentration, which are 1%, 2% and 4%. These dosage forms were applied topically on rats skin and the length of hairs were measured on 7th, 14th and 21th day while the weight of hairs were measured on 21th day. Minoxidil hair tonic used as positive control.
The results showed that the best formulation for promoting hair growth was given by the formulation which contains 4% ethanolic extract of bitter melon leaves. The hair growth-promoting activity of these formulation was not significantly different to minoxidil hair tonic. Hair tonic dosage forms which contain bitter melon leaves extract 1%, 2% and 4% showed a good physical stability at room temperature and high temperature storage. There was any irregularities in the hair tonic which contains extract of bitter melon leaves by 4% at low temperature (4 °C ± 2 °C ).
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S42966
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Setiawan
"ABSTRAK
Sediaan padat dapat menyebabkan resiko tersedak apabila digunakan secara oral pada lansia maupun balita. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan bentuk sediaan film. Karaginan merupakan polimer alam yang sering digunakan sebagai bahan pembawa obat dalam sediaan gel maupun film. Polimer karaginan sering kali terdegradasi dan sulit untuk membentuk gel karena sifatnya yang larut dalam air panas. Kehadiran ion divalen dapat membantu proses terbentuknya gel pada karaginanan dengan mekanisme tautan silang. Pengamatan terhadap pengaruh metode pembuatan gel karaginan dan kalsium klorida sebagai basis film dilakukan untuk mengetahui potensi dari film yang dihasilkan. Film dibuat dengan mencampurkan larutan karaginan dengan larutan kalsium klorida melalui tiga metode, yaitu metode tetes, metode tuang dan tanpa kalsium klorida. Film yang dibuat dengan penambahan kalsium klorida memiliki daya mengembang yang baik namun kekuatan mekanisnya lemah. Penggunaan kalsium klorida dalam konsentrasi tinggi mengurangi kekuatan mekanis dari film sehingga film ini lebih cocok bila digunakan sebagai sediaan film sublingual.

ABSTRACT
Solid dosage may cause choking risks when used orally in geriatric or pediatric. This can be resolved by using the film dosage forms. Carrageenan is a natural polymer that is often used as a drug carrier in the preparation of gels and films. Carrageenan polymers are often degraded and difficult to form a gel because it is soluble in hot water. The presence of divalent ions can help the process of gel formation in carrageenan with cross-link mechanism. Observation of the influence of manufacturing methods carrageenan gel and calcium chloride as a film base performed to determine the potential of the resulting film. The film is made by mixing a solution of calcium chloride solution carrageenan through three methods, namely drip method, cast method and without calcium chloride. The film made with the addition of calcium chloride has expanded good swelling property but weak mechanical strength. The use of calcium chloride in high concentration reduces the mechanical strength of the film so the film is more suitable when used as a sublingual film dosage form.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2012
S42945
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ayun Erwina Arifianti
"Stres pada tubuh manusia akan menghasilkan banyak radikal bebas yang dapat menyebabkan berbagai penyakit. Kondisi ini diperparah dengan adanya radikal bebas yang banyak dihasilkan dari luar tubuh. Walaupun tubuh memiliki beberapa mekanisme pertahanan diri terhadap radikal bebas, namun pertahanan tersebut belum cukup untuk melawan tingginya paparan radikal bebas yang ada sehingga dibutuhkan asupan antioksidan dari luar seperti nutrasetika. Oleh karena itu, dikembangkan nutrasetika dari minyak biji jinten hitam (Nigella sativa Linn.) dalam bentuk sediaan yang nanoemulsi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui stabilitas fisik dan aktivitas antioksidan dari nanoemulsi minyak biji jinten hitam. Uji kestabilan fisik dilakukan dengan pengamatan nanoemulsi yang disimpan pada tiga suhu yang berbeda, yaitu suhu rendah (4±2°C), suhu kamar (29±2°C), dan suhu tinggi (40±2°C); uji sentrifugasi; dan cycling test. Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode peredaman radikal DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil).
Hasil menunjukkan formula I memiliki stabilitas fisik terbaik dibandingkan dengan formula lainnya. Aktivitas antioksidan nanoemulsi minyak biji jinten hitam yang diformulasi lebih rendah daripada aktivitas minyak biji jinten hitam. Penyimpanan sediaan dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan.

Human stress produce a lot of free radical causing various illness. This condition is worsened by exogenous free radical. Although human body has several defense mechanisms to free radical, but it is not sufficient to overcome high exposure of existing free radical so that intake of nutraceutical is needed. Therefore, nutraceutical dosage form from Black Cumin seed oil (Nigella sativa Linn.) in nano emulsion is developed.
The objective of this research was to identify physical stability and antioxidant activity of nanoemulsion from Black Cumin seed oil. Physical stability test was conducted through nanoemulsion observation in three different temperature, which are low (4±2°C), ambience (29±2°C), and high temperature (40±2°C); centrifugation test; and cycling test. Antioxidant activity was determined by DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) radical method.
The result of the study showed that Formula I has the best physical stability among others. In conclusion, antioxidant activity nanoemulsion from Black Cumin seed oil is low compared to Black Cumin seed oil itself. Storage can influence antioxidant activity.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2012
S42151
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Septi Hanna Dwisari
"Minyak biji jinten hitam (Nigella sativa Linn.) berpotensi sebagai salah satu sumber zat aktif untuk nutrasetika, terutama antioksidannya, juga berbagai asam lemak, tokoferol, fenol, dan β-karoten. Minyak biji jinten hitam diformulasikan dalam emulsi ganda tipe W/O/W kemudian diamati stabilitas fisik, aktivitas antioksidan dalam sediaan, dan uji kesukaan. Dua formula dibuat dalam variasi penambahan NaCl 0,05M (formula 1 dan 3), tetapi tidak untuk dua formul lain (formula 2 dan 4) kemudian setiap formula divariasikan dengan konsentrasi tween 80 yang berbeda pada fase eksternal yaitu 1% (b/b) (formula 1 dan 2) dan 2% (b/b) (formula 3 dan 4). Stabilitas fisik diamati dari penyimpanan suhu rendah (4±2°C), kamar (27-30°C), dan tinggi (40±2°C), serta uji mekanik dan cycling test. Keseluruhan formula stabil dalam suhu kamar dan suhu rendah. Pada suhu tinggi dan cycling test, formula 3 (NaCl 0,05 M dan tween 80 2% (b/b)) memiliki kestabilan yang lebih baik daripada formula lainnya. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan peredaman DPPH. Aktivitas antioksidan dalam sediaan lebih baik dibandingkan minyak karena penambahan protein kedelai berpotensi sebagai antioksidan juga. Penyimpanan sediaan akan menurunkan aktivitas antioksidan sediaan akibat autooksidasi. Formula emulsi ganda tipe W/O/W tersebut telah dapat memperbaiki aroma dan rasa minyak biji jinten hitam, tetapi belum untuk penampilannya.

Black cumin seed oil (Nigella sativa Linn.) is potential as one of active subtances for nutraceutical, especially antioxidant, it also contains various fatty acids, tocopherol, phenol, and β-carotene. Black cumin seed oil was formulated in W/O/W typed double emulsion to be observed physical stability, antioxidant activity, and hedonic test. Two formulas were made with the addition of NaCl 0,05M (formula 1 and 3) but not for the others (formula 2 and 4) then each formulas varied with different concentration of tween 80 in the external phase which is 1% (w/w) (formula 1 and 2) and 2% (w/w) (formula 3 and 4). Physical stability test including the storage in low (4±2°C), ambiance (27-30°C), and high temperature (40±2°C); mechanical test; and cycling test. All formulas were stable in ambiance and low temperature. Whereas, in high temperature and cycling test, formula 3 (NaCl 0,05 M with tween 80 2% (w/w)) had better stability than others. Antioxidant activity was determined by DPPH silencing methods. The entire formulas have better antioxidant activity than the oil itself because of soy protein which is potential as antioxidant. Storage would reduce antioxidant activity because of autooxidation in formulas. Formulation W/O/W typed double emulsion has been able to improve the odour and flavor of black cumin seed oil, but not for the appearance."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S42131
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimah
"ABSTRAK
Emas (Au) merupakan logam transisi yang telah banyak dikembangkan sebagai
agen terapi dan diagnosis kanker. Au valensi +3 memiliki aktivitas toksik
terhadap sel kanker dan valensi 0 dapat digunakan untuk deteksi kanker. Au
valensi +3 dan 0 diformulasikan menjadi bentuk nanopartikel dengan pembawa
dendrimer Poliamidoamin (PAMAM) generasi 4. Nanopartikel Au0 dan Au3+
dalam dendrimer PAMAM G4 dikarakterisasi meliputi spektrum serapan, ukuran
partikel, pH serta sitotoksisitasnya secara in vitro terhadap sel kanker payudara
MCF-7 menggunakan metode MTS. Spektrum nanopartikel Au?dendrimer
PAMAM G4 sebelum dan setelah penyimpanan selama 6 minggu memberikan
serapan yang sama. Nanopartikel Au?dendrimer PAMAM G4 yang dihasilkan
berukuran 2-30 nm. Nilai IC50 nanopartikel Au?dendrimer PAMAM G4 valensi
+3 dan 0 serta dendrimer PAMAM G4 berturut-turut adalah 73,79, 131,86 dan
114,82 μM menunjukkan bahwa nanopartikel Au3+-dendrimer PAMAM bersifat
sitotoksik sedangkan nanopartikel Au0?dendrimer PAMAM G4 dan dendrimer
PAMAM G4 tidak bersifat sitotoksik terhadap sel MCF-7. Dendrimer PAMAM
G4 merupakan sistem pembawa nanopartikel dengan toksisitas yang sangat
rendah, nanopartikel Au3+-dendrimer PAMAM G4 berpotensi sebagai agen
antikanker dan nanopartikel Au0?dendrimer PAMAM G4 bersifat nonsitotoksik
sehingga dapat dikembangkan untuk diagnosis kanker.

ABSTRACT
Gold (Au) is a metal transition element which has been widely used as therapeutic
and cancer diagnostic agent. Au3+ cation is known having toxic activity against
cancer cells, while Au0 element can be used as cancer diagnostic agent. Au3+ and
Au0 nanoparticles were prepared using Polyamidoamine (PAMAM) dendrimer
generation 4. Au3+ and Au0 were characterized by UV-Vis spectra, particle size,
pH and its cytotoxicity were analyzed against MCF-7 breast cancer cells by MTS
assay. The UV-Vis spectra of Au?PAMAM dendrimer G4 before and after 6
months storage had similarity absorbances. The sizes for Au-PAMAM dendrimer
G4 nanoparticles measured by TEM and DLS methods were 2-30 nm. For its
cytotoxicity assay, the IC50 value of Au3+-PAMAM dendrimer G4, Au0-PAMAM
dendrimer G4, and PAMAM dendrimer G4 were 73.79; 131.86 and 114.82 μM,
which showed that Au3+?PAMAM dendrimer G4 was toxic while Au0?PAMAM
dendrimer G4 and PAMAM dendrimer G4 were nontoxic in MCF-7 cells.
PAMAM dendrimer G4 is a low toxicity nanoparticles template, Au3+-PAMAM
dendrimer G4 can be potential anticancer agent and Au0?PAMAM dendrimer G4
is nontoxic that can be used for cancer detection.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S43844
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>