Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 40 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sarumaha, Aloma
"Penelitian ini membahas tentang pemahaman kaum muda tentang gereja di Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta Barat. Pemahaman yang dimaksud dalam penelitian ini adalah (sebuah) akumulasi pengetahuan, penghayatan, dan interpretasi kaum muda tentang gereja. Pemahaman itulah yang akan menjadi alat untuk memperlakukan gereja. Kaum muda yang dimaksud dalam studi ini adalah sejumlah orang, baik laki-laki maupun perempuan, yang umurnya antara 15 s.d. 35 tahun dan belum menikah, yang selalu datang dan aktif di gereja.
Pendekatan yang dipergunakan untuk mendeskripsi pemahaman tersebut adalah pendekatan kualitatif, dengan tekanan pada pemahaman informan. Maksudnya dengan pendekatan ini, peneliti berusaha memahami orang-orang secara personal dan memandang mereka sebagaimana mereka sendiri mengungkapkan pandangannya tentang gereja. Untuk mendapatkan pemahaman tersebut, saya melakukan field work dan kajian pustaka. Field work untuk mendapatkan data primer dan kajian pustaka untuk data-data sekunder. Data-data primer diperoleh dengan menggunakan teknik pengamatan, wawancara, diskusi terfokus. Informan penelitian ini adalah anak-anak muda, umat, tokoh umat, pimpinan Paroki. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan teori.
Dari penelitian ini, ditemukan bahwa pemahaman kaum muda tentang gereja cenderung tidak dilihat (semata-mata) sebagai tempat sakral, berdoa; tetapi sebagai sebuah arena sosial, tempat berkumpul dan berbuat sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Gereja dipandang sebagai arena sosial, dalam mana potensi-potensi yang dimiliki dapat diakomodir dan dikembangkan. Dengan hasil studi ini, peneliti menduga bahwa apa yang dilakukan oleh informan atau kaum muda yang tercakup dalam pemahaman tersebut, dapat direfleksi bahwa di dalam kaum muda ada kebudayaan yang berkembang sesuai dengan pemahamannya.
Gereja bermakna sebagai sebuah arena untuk menjawab kebutuhan sosial kaum muda. Misalnya, ketika tidak mempunyai pekerjaan, mengalami masalah dalam keluarga, maka solusinya adalah kembali ke gereja, dimana ia dapat bertemu dengan orang-orang yang dapat menolongnya (yang awalnya berupa informasi bagaimana seseorang dihubungkan dengan sumber informasi). Ketika mau belajar untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki, maka gereja dipandang sebagai tempat yang aman untuk berlatih, karena diberi peluang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki; hal ini operasional dalam munculnya kelompok kegiatan kaum muda di gereja."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2000
T7059
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mukh Doyin
"Tesis ini bertujuan untuk mencari alasan mengapa dosen dan mahasiswa di UNNES menggunakan anekdot sebagai simbol ekspresifnya dalam merespons kejadian dan keadaan di sekelilingnya dan untuk mengungkapkan makna yang ada di balik penggunaan anekdot tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam tesis ini digunakan pendekatan holistik dengan metode wawancara mendalam dan pengamatan terlibat, serta prinsip intertekstualitas dalam analisis datanya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anekdot yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa di UNNES cukup bervariasi, baik dilihat dari sasaran-anekdot dengan sasaran tokoh dalam karnpus dan anekdot dengan sasaran tokoh luar kampus; topik-- anekdot sosial, anekdot politik, anekdot agama, dan anekdot akademik; asal-anekdot dari dalam, anekdot hasil adaptasi, dan anekdot dari luar; maupun tempat berlakunya--anekdot yang bersifat esoteris dan eksoteris. Ada dua fungsi anekdot yang ditemukan dalam penelitian ini, yaitu fungsi primer-sebagai sarana pelampiasan perasaan yang berhubungan dengan ketidaksukaan, ketidakpuasan, kejengkelan, kebencian, kemarahan, dan perasaan-perasaan semacamnya-dan fungsi sekunder--sebagai bahan hiburan (pengisi waktu luang, untuk selingan, untuk memunculkan suasana ceria, dan untuk memunculkan suasana keakraban), sebagai analogi dalam menjelaskan sesuatu, sebagai contoh dalam menjelaskan sesuatu, sebagai penarik perhatian, dan sebagai alat untuk menilai orang lain.
Anekdot-anekdot digunakan dengan berbagai alasan. Alasan-alasan tersebut adalah karena anekdot sesuai dengan prinsip ketidaklangsungan masyarakat Jawa, pemakai dapat melimpahkan tanggung jawab pada sifat anekdot-anonim dan milik kolektif, anekdot bersifat lucu, dan karena anekdot mudah ditemukan, bahkan dapat dibuat sendiri. Dalam penggunaan anekdot tersebut ditemukan juga kendala-kendala, baik yang berasal dari pencerita maupun dari pendengar; namun selalu ada cara untuk menanggulanginya.
Dengan adanya berbagai macam jenis, fungsi, dan penggunaan anekdot seperti tersebut di atas, terlihatlah bahwa anekdot merupakan kebutuhan integratif bagi dosen dan mahasiswa. Dalam anekdot yang disampaikan tersebut terkandung makna-makna tertentu. Oleh karena itu, anekdot dalam kasus ini dapat juga dikatakan mempunyai makna sebagai simbol ekspresif, dalam arti menjadi sarana pengungkapan perasaan penggunanya.
Ungkapan perasaan yang dapat berupa ketidaksukaan, ketidaksenangan, ketidaksetujuan, ketidakpuasan, kemarahan, atau perasaan-perasaan semacamnya akan menjadikan penggunanya merasa lega, bebas dari himpitan yang ada dalam batinnya. Lepasnya ketegangan emosi yang kemudian memunculkan kepuasan itu disaranai oleh anekdot. Oleh karena itu, anekdot juga mempunyai makna penting sebagai katarsis jiwa bagi penggunanya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
T1603
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
C. Dewi Hartati
"Tesis ini pada dasarnya mengkaji bagaimana perubahan identitas orang Tionghoa di Jakarta dilihat dari penggunaan nama marga. Dalam hal ini fokus penelitian penulis adalah penggunaan nama marga di kalangan masyarakat Tionghoa di Jakarta sebagai suatu identitas , perubahannya yang disebabkan oleh peraturan pemerintah, fungsinya bagi masyarakat Tionghoa dan jenis jenis identitas yang terdapat dalam masyarakat Tionghoa di Jakarta berdasarkan penggunaan nama marga.
Dalam mengkaji masalah ini penulis menggunakan teori interaksionis yang menitikberatkan pada pandangan bahwa manusia adalah produk dari proses interaksi sosial. Pemilihan pada teori ini adalah didasarkan pada asumsi bahwa dalam teori interaksionis ini terdapat simbol-simbol dalam identitas kesukubangsaan yang salah satu di antaranya adalah nama marga. Di dunia saat ini nama marga digunakan sebagai salah satu simbol dari identitas kesukubangsaan.
Pengkajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode etnografi, yang memusatkan perhatian pada penggunaan nama marga di kalangan masyarakat Tionghoa sebagai suatu identitas. Metode pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, wawancara mendalam, dan penggunaan literatur yang relevan.
Hasil penelitian yang penulis lakukan pada orang Tionghoa di Jakarta dari berbagai macam marga memperlihatkan bahwa mereka tetap menggunakan nama marga sebagai suatu identitas karena nama marga merupakan warisan leluhur yang digunakan dalam lingkup terbatas dan juga dalam interaksinya dengan sesama orang Tionghoa meskipun pada masa Orde Baru penggunaan nama marga. dan juga nama Tionghoa dilarang oleh pemerintah. Dalam mempertahankan penggunaan nama marga Tionghoa, orang Tionghoa juga tidak menolak untuk mengubah nama Tionghoanya menjadi nama Indonesia karena peraturan pemerintah.
Dengan cara yang tidak berbenturan langsung dengan pemerintah ataupun dengan orang-orang non-Tionghoa, orang Tionghoa berupaya mempertahankan nama marga dengan melakukan. resistensi pasif. Yang dimaksud dengan resistensi pasif adalah suatu penolakan untuk menyerah pada lingkungan yang berubah, kekuasaan, pemaksaan atau kekerasan tanpa memperlihatkan perlawanan (secara lisan atau lainnya) terhadap orang yang melakukan pemaksaan tersebut atau lingkungan yang berubah. (Horace B & English, 1958 : 460). Orang Tionghoa menolak untuk menyerah pada suatu keadaan yang berubah dan juga berbagai peraturan yang bersifat diskriminatif yang diterapkan pemerintah kepada golongan ini. Mereka tetap berupaya untuk mempertahankan nama marga karena nama marga merupakan suatu warisan dari leluhur yang harus dipertahankan. Namun juga tidak memperlihatkan perlawanan baik secara lisan atau lainnya.
Dengan seperangkat pengetahuan atau set of knowledge yang dimiliki orang Tionghoa akan konsep datong yang berarti satu dunia atau universal harmony dan juga konsep chuantong yang berarti tradisi sangat membantu orang-orangTionghoa berkompromi dan menggunakan kebijaksanaan yang praktis dalam memecahkan kesulitan yang mereka hadapi. Hal ini juga merupakan strategi adaptasi yang dilakukan oleh orang Tionghoa untuk mempertahankan budayanya dalam hal ini nama marganya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T12245
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Frida Deliana
"ABSTRAK
Karya tulis ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan fungsi gendang guro-guro aron sebagai akibat perubahan kebudayaan masyarakat pendukungnya (Karo). Tulisan ini tidak hanya mendeskripsikan bagian perubahan fungsi gendang guro-guro aron saja, tetapi juga melihat bagian fungsi gendang guro-guro aron dan juga melihat perubahan kebudayaan masyarakat Karo.
Perubahan fungsi gendang guro-guro aron terjadi adalah akibat terjadinya perubahan kebudayaan masyarakat Karo sebagai masyarakat pendukung. Demikian pula terjadinya perubahan kebudayaan masyarakat Karo adalah disebabkan faktor-faktor perkembangan sumber mata pencaharian, adanya alat musik yang Baru, dengan masuk dan berkembangannya agama, kemajuan teknologi pengeras suara, dan pengaruh perkembangan repertoar yang ditampilkan. Dengan demikian pelaksanaan gendang guro-guro aron di Desa Tengah terjadi perubahan yang tentunya akan mengakibatkan terjadinya perubahan fungsi gendang guro-guro aron.
Perubahan fungsi gendang guro-guro aron akibat perubahan kebudayaan masyarakat Karo, bukan berarti membuat gendang guro-guro aron tersebut tidak lagi diminati oleh masyarakatt Karo; akan tetapi secara kuantitas, pertunjukan gendang guro guro aron dapat dikatakan terjadi peningkatan bahkan pelaksanaan gendang guro-guro aron semakin menjamur di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Akan tetapi bila ditinjau secara kualitas fungsi gendang guro-guro aron itu sendiri sangat menurun bahkan memprihatinkan. Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk mendapat perhatian, agar fungsi gendang guro-guro aron tersebut tidak hilang begitu saja. "
1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Hapsari
"ABSTRAK
Di dalam proses sosialisasi, ada beberapa metode penerapan disiplin yang dipergunakan orang tua, untuk menanamkan sejumlah nilai-nilai dan norma sosial kepada anak-anaknya. Banyak ahli psikologi, sosiologi dan antropologi yang berpendapat bahwa ada hubungan antara metode penerapan disiplin tertentu yang dapat mengakibatkan terbentuknya perilaku menyimpang.
Metode penerapan disiplin yang terdapat pada proses sosialisasi terdiri dari tiga macam yaitu, penerepan disiplin yang otoriter, serba membolehkan dan demokralis.
Setiap metode penerapan disiplin mempunyai sejumlah ciri-ciri tertentu dan sangat mudah dijumpai di dalam setiap masyarakat. Tesis ini mencoba untuk membuktikan adanya hubungan dari penerapan disiplin yang Worker terhadap terbentuknya perilaku menyimpang. Penyimpangan pcrilaku yang dimaksud adalah sejumlah tindakan yang tidak sesuai dengan aturan-aturan atau lain tertib pada institusi sekolah.
Dipilihnya remaja sebagai obyek penelitian adalah sebagai respon terhadap munculnya fenomena-fenomena permasalahan sosial yang timbul akibat dari adanya penyimpangan perilaku. Memang bukan hal yang mudah untuk memberi batasan terhadap perilaku menyimpang, karena di dalam melakukan pengukuran terhadap perilaku menyimpang sangat tergantung kepada norma-norma sosial yang merupakan bagian yang terintegrasi di dalam masyarakat. Sehingga dalam tesis ini seperti telah disebut di atas membatasi bahasan tentang perilaku menyimpang yang ada dalam komuniti sekolah.
Tujuan penelitian adalah mencari hubungan antara penerapan disiplin yang otoriter dengan terbentuknya perilaku yang menyimpang. Konsep-konsep pemikiran yang dipergunakan sebagai bahan acuan adalah konsep-konsep dari sejumlah ahli psikologi, sosiologi dan antropologi.
Hasil penelilian menunjukkan adanya korelasi antara penerapan disiplin yang otoriter pada proses sosialisasi dengan terbentuknya perilaku menyimpang pada anak."
1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ruslan
"Penelitian ini berangkat dart persoalan yang terjadi pada masyarakat nelayan Siantan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Dalam beberpa tahun terakhir ini. sejak tahun 1988 sampai tahun 2003 mengalami ketegangan dengan kapal-kapal nelayan Thailand yang masuk di wilayah perairan mereka. Ketegangan-ketegangan tersebut akhirnya menjadi konflik yang berkepanjangan, Sebagaimana diketahui bahwa daerah ini terdapat banyak pulau dan teluk serta berdekatan dengan laut Cina Selatan yang merupakan salah satu laut terdalam di dunia. Daerah ini menyimpan kehidupan beragam ikan yang sangat besar. Kekayaan ini bukan hanya telah menghidupi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat nelayan Siantan saja. telapi juga telah menamhah pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.
Konflik berkepanjangan ini menimbulkan implikasi kekerasan yang dilakukan nelayan tradisional Siantan terhadap kapal Thailand. dengan berbagai aksi, baik itu dalam bentuk pembakaran kapal, penutupan kantor-kantor kapal Thailand, aksi-aksi unjuk rasa pada pererintahan sipil dan militer (angkatan laut).
Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka penelitian ini terfokus pada konflik yang terjadi antara nelayan tradisional Siantan, dengan kapal-kapal nelayan Thailand yang hadir dan menangkap ikan di wilayah mereka. Kajian ini diuraikan dengan mengkaji Bagaimana nilai-nilai prilaku yang terdapat dalam masyarakat nelayan Siantan, dalam interaksinya dengan linkungan sekitarnva. Termasuk nilai-nilai apa yang masih berlaku dan telah berubah dalam kehidupan sosial masyarakat nelayan Siantan.
Selain itu. motivasi apa yang melatar belakangi nelayan Siantan melakukan perlawanan terhadap awak kapal Thailand dalam berbagai bentuk aksi dan penentangan. Dan apakah motivasi-motivasi yang dimiliki oleh para nelayan itu kemudian menjadi salah satu pemicu munculnya prilaku keras yang diekspresikan dalam bentuk pembakaran kapal dan tindakan kekerasan lainnya. Juga bagaimana para nelayan melihat tindakan dan perilaku yang mereka ekspresikan dalam konflik ini berdasarkan pandangan mereka sendiri. Dan apa yang menjadi tuntutan mereka dalam konflik yang terjadi ini.
Penelitian yang dilakukan dalam kajian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini, adalah wawancara mendalam dan metode pengamatan terlibat. Wawancara mendalam dilakukan pada sejumlah informan kunci yang terpilih berdasarkan kriteria tokoh atau refresentasi dari masing-masing desa nelayan di wilayah Siantan.
Dari fakta yang penulis temukan, .bahwa motivasi nelayan melakukan perlawanan terhadap kapal Thailand didasari beberapa hal. Pertama, untuk memperoleh rasa aman dalam melakukan aklifitas kenelayanan. Kedua. untuk memperoleh pengakuan atau penghargaan akan eksistensi mereka, bahwa dengan perlawanan tersebut makan kapal-kapal Thailand akan berpikir ulang untuk melakukan penangkapan ikan di Siantan. Ketiga, untuk memperoleh tanggapan atas aksi-aksi tuntutan yang mereka lakukan dan memperoleh pengalaman dibalik aksi-aksi tersebut, terutama efek dari perlawanan yang dilakukakan. Kelima hai ini eras kaitannya dengan teori yang dikemukan William I. Thomas (Berelson, 1961:161)
Semua motivasi yang dilakukan para nelayan bermuara pada sikap pembakaran kapal, penutupan kantor-kantor kapal Thailand. Semua ini mereka yakini bahwa kapal-kapal Thailand menyalahi ketenluan hukum laut Indonesia. temasuk di dalamnya penggunaan pukat harimau (trawl) dan penggunaan bom-bom potassium. Nelayan tradisional Siantan juga meyakini bahwa kapal-kapal Thailand menggunakan mesin modern dengan jaring trawl yang merusak biota laut, dan masa depan ikan-ikan di wilayah Indonesia.
Para nelayan meyakini bahwa karena kepastian dan penegakan hukum tak jalan. Maka dengan bentuk-bentuk aksi tersebut para kapal-kapal Thailand itu akan takut untuk masuk wilayah nelayan tradisional mereka. Termasuk juga para nelayan yang menggunakan bom. Para nelayan Siantan juga percaya bahwa aparat keamanan laut (LAVAL) lemah. tak bisa dipercaya, bahkan dituding ikut memback up masuknya kapal-kapal Thailand dan para nelayan pengebom ke wilayah-wailayah mereka. Akhirnya atas dasar inilah aksi-aksi perlawanan ilu tak dapat dihindari.
Faktor kehadiran kapal Thailand yang menggunakan trawl dan masuk ke wilayah tradisional Siantan, melahirkan nilai prilaku baru bagi masyarakat nelayan setempat. Maka tak mengherankan kalau pada akhirnya kemudian muncul ungkapan "Rantau Kita Sial, Rantau Thailand Bertuah"."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T13990
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Magnon Rosauro Wilson Moeljono Adikoesoemo
"ABSTRACT
Willa Cather wrote 12 novels, more than 60 short stories, several poems, and a good number of critical essays. Her writings showed characters from all walks of life, and her settings were in quite different backgrounds and of quite different periods. Her works have never been noisy or self-assertive and yet Willa Cather, as Mildred Bennet said, has not needed a revival in the sense that there has been a Fitzgerald revival, a Sherwood Anderson revival, and a Nathanael West revival. (See Bennet, 1961: vii)
In The World of Willa Cather, Mildred Bennet writes that when Charles Poore reviewed her book in 1951, he wrote that there was no need for a Willa Cather revival "the world has never lost its taste for her excellent writing." She believes that the same assertion can be made quite as confidently today: from the response of a new generation of readers it is evident that the taste has been inherited; the flow of critical writing which began shortly after Miss Cather's death shows no sign of slacking off; and in colleges and universities interest in her life and work is decidedly on the increase . . ." (Bennet, 1961: vii).
Elizabeth Shepley Sergeant, on her first encounter with the works of Willa Cather said that she had "discovered a genuine, first-class work of American fiction, in which a young woman of prairie background had conceived her world with new eyes and had made of it a work of art . . . ." (Sergeant, 1953: 11)
Willa Cather's other biographers have written with much admiration for her works and most of her critics have been generous with their reviews. Even critics who have not seen eye to eye with her have treated her with respect. These critics who have written for and against her have such formidable names like H. L. Mencken, Carl Van Doren, Edmund Wilson, Sinclair Lewis, T. K. Whipple, Joseph Wood Krutch, Rebecca West, E. K. Brown, David Daiches, Elizabeth Moorhead, Louise Bogan, Granville Hicks, Lionel Trilling, Alfred Kazin, Maxwell Geismar, George Schloss, Henry Steele Commager, Morton D. Zabel, Howard Mumford H. Jones, Leon Edel, James Schroeter, and many others. (See Schroeter, 1968).
What is it that pulls so many to Willa Cather? Why has "the world never lost its taste for her excellent writing"? What did Willa Cather "conceive" about her world so much so that she "made of it a work of art"? Upon reading and examining Willa Cather's works, I strongly suggest that the element which attracts most readers to her writing is the "American Dream."
This is the topic I aim to write about in this thesis--Willa Cather and the American Dream. I will show that the works of Willa Cather reflect the American dream, especially the dreams of freedom, success, and the pastoral vision.
"
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1987
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marbun, Rismaya
"Walaupun para pendatang dari Inggris tidak pernah membayangkan akan mendirikan institusi perbudakan terhadap orang-orang Negro, tak sampai seabad setelah kedatangan mereka di koloni, dasar-dasar dari suatu institusi yang ganjil telah dibentuk (Jordan,1968: 44).
Orang-orang Selatan menyebut institusi perbudakan sebagai suatu institusi yang ganjil dalam pengertian bahwa institusi itu unik dalam kehidupan orang-orang Selatan. Alam serta iklim selatan cocok untuk pertanian, sementara orang-orang Negro dapat memenuhi tenaga kerja yang diperlukan. Jadi seolah dijumpai keadaan yang saling mengisi, di mana kedua belah pihak sama-sama mendapat keuntungan.
Keadaan alam serta iklim daerah selatan memungkinkan untuk diusahakannya perkebunan dalam skala besar dan pendatang-pendatang tersebut segera mengusahakan pertanian, seperti; tembakau, padi dan indigo. Segera setelah mereka mengusahakan pertanian yang lebih intensif, para petani itu dihadapkan pada suatu masalah serius, yaitu kurangnya tenaga kerja. Pengusahaan perkebunan ternyata memerlukan tenaga kerja yang banyak; mulai dari pembersihan hutan; pengurusan dan pemetikan memerlukan tenaga kerja yang tidak sedikit, sementara teknologi belum maju sehingga semua pekerjaan harus dikerjakan dengan tenaga manusia.
Kedua keadaan ini, yaitu keadaan alam yang cocok untuk pertanian perkebunan dan tersedianya orang-orang Negro untuk di pekerjakan telah mengakibatkan semakin berkembangnya usaha pertanian besar yang telah menghasilkan cash crop di daerah selatan, dan telah mendorong orang-orang untuk melakukan usaha pertanian secara besar-besaran. Maka muncullah apa yang kemudian kita kenal dengan perkebunan. Dan akibatnya ialah orang-orang Negro harus didatangkan dalam jumlah yang lebih besar.
Ketika jumlah orang-orang Negro di koloni semakin banyak, orang-orang putih mulai merasakan kecemasan kalau-kalau kehadiran orang-orang Negro ini akan mengaburkan kebudayaan mereka.
Dengan masuknya suatu suku bangsa yang baru, biasanya cara hidup dan kebudayaan suku bangsa tersebut akan terbawa dan berbaur dengan cara hidup dan kebudayaan masyarakat yang didapatnya, sehingga seringkali akan mengaburkan keaslian budaya masyarakat terdahulu tersebut. Orang-orang putih di Selatan tidak menginginkan hal seperti itu terjadi. Mereka menginginkan agar daerah Selatan tetap sebagai daerah orang putih, baik dalam cara hidup maupun kebudayaannya. Hal ini telah menimbulkan niat dalam pikiran orang-orang putih untuk membuat undangundang khusus untuk mengatur kehidupan orang-orang Negro berbeda dari orang putih. Keinginan ini ditunjang pula oleh kenyataan bahwa orang-orang Negro adalah dari ras yang berbeda; bahwa mereka telah dibeli dengan status yang tidak bebas; dan bahwa mereka bukan orang orang kristen. Pada masa itu ada anggapan bahwa memperbudak orang-orang yang tidak beragama bukanlah suatu kejahatan atau dosa."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1986
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Kusumawati
"Tesis ini pada dasamya mengkaji bagaimana cara orang Tionghoa penganut agama Khonghucu di Cimanggis mempertahankan tradisi pemujaan leluhur.Dalam hal ini fokus penelitian penulis adalah upaya penyesuaian yang dilakukan pada makanan sesaji yang dipersembahkan oleh orang Tionghoa penganut agama Khonghucu di Cimanggis dalam upacara pemujaan leluhur. Dalam mengkaji masalah ini penulis menggunakan pendekatan strukturalisme yang diperkenalkan oleh Levi Strauss untuk mengetahui sejauh mana penyesuaian itu terjadi dan pada tingkat apakah terjadi perubahan itu.
Pengkajian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode etnografi, yang memusatkan perhatian pada upaya yang dilakukan penganut Khonghucu di Cimanggis dalam makanan sesaji pada upacara pemujaan leluhur. Metode pengumpulan data dilakukan dengan pengarnatan, wawancara mendalam dan penggunaan literatur yang relevan.
Hasil penelitian yang penulis lakukan pada orang Tionghoa penganut agama Khonghucu di Cimanggis memperlihatkan bahwa salah satu cam yang dipilih dan diinginkan oleh mereka untuk mempertahankan tradisi pemujaan leluhur adalah dengan melakukan resistensi pasif Yang dimaksud dengan resistensi pasif adalah suatu penolakan untuk menyerah pada keadaan lingkungan yang berubah, kekuasaan, pemaksaan atau kekerasan tanpa memperlihatkan perlawanan (secara lisan atau lainnya) terhadap orang yang melakukan pemaksaan tersebut atau lingkungan yang berubah. (Horace B & English, 1958: 460). Orang Tionghoa penganut agama Khonghucu di Cimanggis menolak untuk menyerah pada keadaan lingkungan yang berubah atau beberapa peraturan diskriminatif terhadap masyarakat Tionghoa yang diterapkan oleh pemerintah Orde Baru. Namun mereka juga tidak memperlihatkan perlawanan (secara lisan atau lainnya). Untuk tetap mempertahankan kebudayaan Tionghoa ini, mereka lalu melakukan beberapa penyesuaian.
Dengan menggunakan pendekalan strukturalisme yang diperkenalkan oleh Levi Strauss, penulis melihat bahwa dalam hal makanan sesaji, penyesuaian yang dlakukan oleh orang Tionghoa penganut agama Khonghucu di Cimanggis sebetulnya hanya terjadi pada struktur permukaan dari set of knowledge orang Tionghoa penganut agama Khonghucu di Cimanggis. Struktur dalamnya sama sekali tidak berubah. Selain itu konsep ?sudah menjadi takdir Tuhan? , konsep ?habis bagaimana lagi?, konsep da-tong yang berarti satu dunia atau universal harmony dan konsep chuantong yang berarti tradisi sangat membantu orang-orang Tionghoa berkompromi dan menggunakan kebijaksanaan yang praktis dalam memecahkan kesulitan yang mereka hadapi."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T3493
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Limbeng, Julianus
"Karo adalah salah satu sub-suku bangsa yang banyak anggota masyarakatnya melakukan migrasi ke Pulau Jawa, khususnya ke Jakarta dan sekitarnya. Perpindahan ini hingga saat ini terus berlangsung sehingga diperkirakan populasi orang Karo di Jakarta lebih kurang 20.000 orang. Hal ini bisa kita lihat dari data anggota Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) saja di Jakarta lebih kurang 12.000 orang, dan ditambah pemelukpemeluk agama lain seperti Katholik, Islam, Kristen Protestan dan lainnya. Namun sampai saat ini angka yang pasti tentang jumlah orang Karo di Jakarta belum ada.
Melakukan migrasi pada masyarakat Karo bukanlah prilaku yang acak, karena itu orang-orang yang memutuskan untuk bermigrasi dapat dianggap sebagai orang-orang pilihan dari antara populasi (Guillet et at, 1976: 10), walaupun mungkin ada unsur-unsur atau faktor kemungkinan yang mendorong untuk bermigrasi. Keadaan-keadaan biografi personal mungkin merupakan faktor-faktor selektif yang menentukan individu-individu yang mana cenderung bermigrasi (Pally, 1994 : 8).
Orang Karo yang melakukan migrasi ini biasanya mempunyai kelompok-kelompok dan memilih tempat tinggal sementara dimana ada orang yang dikenalnya seperti satu kampung, hubungan kerabat dan sebagainya, karena orang Karo yang di Jakarta berlainan asal usul dari daerah asalnya (Petro, 1981 : 1-10). Walaupun jauh dari daerah asalnya, masyarakat Karo di `perantauan' di dalam kehidupan dan adaptasinya dengan budaya-budaya yang amat heterogen masih berusaha mempertahankan identitas etniknya dengan melakukan kegiatan-kegiatan budaya yang dijewantahkan di dalam upacara-upacara adat yang dilakukan yang disebut dengan adat nggeluh (Ginting, 1989 : 1-20) yang dibawa dari daerah asal walaupun perubahan-perubahan dapat saja terjadi dari beberapa sisi akibat banyak faktor.
Keberadaan instrumen musik dalam setiap upacara-upacara adat adalah merupakan hal yang sangat penting. Ensambel musik ini dikenal dengan nama gendang lima sedalanen yang terdiri dari 5 buah instrumen, yaitu sarune (aerofon, single-reed), gendang indung (membranofon, konikal), gendang anak (membranofon, konikal), gang (gong), dan penganak yaitu sejenis gong kecil (Sembiring, 1995 : 2). Ensambel musik ini dimainkan oleh lima orang. Namun, sekarang ini alat musik ini sudah jarang sekali digunakan di dalam kegiatan upacara-upacara yang ada dan digantikan oleh satu alat musik saja yaitu kibot, dan orang Karo menyebutnya dengan gendang kibot.
Gendang kibot adalah sebuah alat musik elektrik keyboard (organ). Kibot ini dapat diprogram sedemikian rupa untuk meniru bunyi yang hampir sama denga bunyi gendang lima sedalanen. Tidak semua kibot dapat diterima, hanya produksi dari perusahaan alat musik Jepang Technics dengan sari KN-2000. Namun demikian masyarakat Karo di Jakarta menerima kehadiran alat musik ini walaupun adanya perubahan-perubahan di dalam bentuk penyajian. Kehadirannya hampir selalu ada dalam upacara-upacara adat yang dilakukan baik yang bersifat kegembiraan dan kesedihan. Gendang kibot tidak saja sebagai pelengkap upacara, tetapi dia berubab hampir menjadi utama, karena orang cenderung menghadiri sebuah kegiatan apabila alat musik ini ada. Dia menjadi sebuah alat yang mempunyai makna yang sangat luas di dalam adaptasi masyarakatnya untuk membawa masyarakatnya kepada sebuah manifestasi dalam pola-pola hubungan sosial baik ke dalam maupun keluar demi kelangsungan hidup masyarakatnya.
Soal bagaimana gendang kibot berfungsi sebagai salah satu alat integrasi masyarakat Karo di Jakarta dapat dilihat dart kepentingan dan peranan-peranannya di dalam setiap konteks upacara-upacara yang dilakukan masyarakatnya. Hal ini sudah pasti menyangkut adanya suatu kebutuhan masyarakat untuk menggunakan perangkat alat tersebut. Untuk itu, maka beberapa konsep penting untuk mengkaji fenomena tersebut antara lain adalah kebutuhan, integrasi (Smith, 1987), pranata atau institusi (Uphoff, 1986), strategi adaptasi (Smith, 1987), struktur sosial (Foster, 1949; Merton, 1968) dan perubahan sosial budaya (Suparlan, 1986; Bungess, 1948; Inkeles, 1955; Etzioni and Etzioni, 1964).
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik pengamatan terlibat dan wawancara mendalam. Di dalam penelitian ini peneliti terlibat aktif di dalam kegiatan-kegiatan gendang kibot, tetapi wawancara tetap dilakukan kepada sejumlah informan untuk mengambil data primer. Pengamatan dilakukan terhadap kegiatan kehidupan masyarakat Karo di Jakarta dan sekitarnya. Pendekatan kualitatif diarahkan untuk menggali data etnografi masyarakat yang diteliti mengenai fungsi gendang kibot di dalam penintegrasian masyarakat Karo di Jakarta. Pengamatan dan wawancara dilakukan saling melengkapi, baik dalam arti saling mengisi kekurangan data dan menjauhkan penfsiran-penafsiran yang bersifat pribadi.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T10946
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>