Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 85 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Siregar, Sahala David
"Pada proses flotasi terdapat 3 sub-proses penting, yaitu penipisan interverensi dari lapisan fluida menjadi ketebalan kritis, pecahnya lapisan liquid terinterverensi dan pembentukan formasi kontak tiga fasa, serta ekspansi garis kontak tiga fasa mencapai kestabilan agregat. Kestabilan agregat menentukan keberhasilan proses separasi. Kestabilan agregat ditentukan oleh beberapa faktor yaitu reagent, geometri dan ukuran partikel.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh geometri dan ukuran partikel terhadap stabilitas agregat. Eksperimental setup terdiri dari kolom flotasi dengan ukuran 9x9x26 cm dilengkapi dengan bubble generator, particle feeding system, dan video kamera berkecepatan tinggi (high speed video camera). Bubble generator berupa single nozzle berdiamater 0,3 mm yang dihubungkan ke programmable syringe pump. Particle feeding system terbuat dari pipet. Partikel yang digunakan dalam penelitian ini adalah partikel hasil tambang tembaga dengan bentuk sub-angular dengan ukuran antara 38-300 μm. Hasil rekaman high speed video camera diolah dan dianalisa dengan menggunakan image processing software. Hasil penelitian diharapkan akan menambah pemahaman pengaruh geometri dan ukuran partikel pada interaksi bubble-particle khususnya stabilitas agregat.
Hasil eksperimen menunjukkan stabilitas agrgegat bubble-partikel dan waktu induksi (waktu partikel melekat pada bubble) dipengaruhi oleh ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin besar probabilitas terbentuk agregat yang stabil dan semakin panjang waktu induki. Partikel berukuran 38 𝜇m, 45 μm, 75 μm, 106 μm mamapu membentuk agregat stabil sehingga melekat pada gelembung. Sedangkan, partikel berukuran 150 μm dan 300 μm tidak mampu membentuk agregat stabil sehingga tidak melekat pada gelembung.

There are three sub-proces on flotation. These processes are intervening liquid film intu critical thickness, rupture of liquid film forming three phase contact line, and expansion three phase contact line forming agregate stability. Agregate stability determines flotation efficiency. Agregate stability has some important factors such as reagent and particle geometry.
This research focus on understanding effect of particle geometry to agregate stability. Experimental setup consists of 9x9x26 cm flotation coloumn made of glass, bubble generator, particle feeding system, and high speed video camera. Bubble generator made from single nozzle with 0,3 mm diameter attached to programmable syringe pump. Particle feeding system made of pipette. Particle used in this research is taken from open pit Grasberg in timika, Papua. Parcile has sub-angular size and varies between 38-300 μm. Recordings from high speed video camera analyzed using image processing software.
Experiment result shows thet agregate particle-bubble and induction time depends on particle size. The smaller particle size, the higher probability attachment, agregate stability, and iduction time. Particle with size 38 𝜇m, 45 μm, 75 μm, 106 μm able to form stable agregate. While, particle with size 150 μm and 300 μm unable to form stable agregate.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
T44600
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yasmin Nabila Ratna
"ABSTRACT
Additive manufacturing AM or formerly known as rapid prototyping RP has been evolving and improving in the past few decades. Industries have been slowly trying to implement AM as a mean to improve their business. The materials commercially used and the technology itself however are not as many and mature as expected. This project helps to develop an understanding of AM processes and the materials that could potentially use in the industry. The main focus of the project was to investigate the effect of thermal history during the AM process on the microstructure and mechanical properties of the sample. The approach to this project was to produce samples with different number of layers, and investigate the microstructure and hardness on the same layer for all samples. Before the commencing of the main project, the printing parameters of LENS 450 system were optimised first hand. The optimised printing parameters were of powder feed rate of 6rpm, laser scanning rate of 14ipm, and laser power of 300W. Using these optimised printing parameters, high quality samples were produced for the main project. It was concluded that there was a significant change on the hardness of the samples at different layer number. This indicates that there was different phases present in the microstructure of the samples, which are martensite and austenite.

ABSTRAK
Manufaktur aditif atau yang sebelumnya lebih banyak dikenal dengan rapid prototype RP telah berkembang dan meningkat kualitasnya dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai macam indsutri perlahan menerapkan manufaktur aditif sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas bisnis mereka. Manufaktur aditif menggunakan bahan baku yang secara komersial dapat dengan mudah dicari dan teknologi yang cukup mudah untuk digunakan. Tujuan dari proyek ini adalah untuk membantu mengembangkan pemahaman proses manufaktur aditif dan pengolahan bahan baku yang berpotensi untuk digunakan di industry banyak. Fokus utama dari proyek ini adalah menyelidiki pengaruh sejarah termal selama proses manufaktur aditif pada struktur mikro dan kekerasan pada lapisan material yang sama di semua sampel. Parameter manufaktur aditif menggunakan system LENS 450 dioptimalkan pada tahap awal proyek. Parameter optimal untuk proses manufaktur aditif menggunakan bubuk baja H13 adalah 6pm untuk laju bahan baku, 14ipm untuk laju pemindaian laser, dan 300W untuk daya laser. Menggunakan parameter yang telah dioptimisasikan, sampel dengan kualitas yang tinggi diproduksi. Disimpulkan bahwa terjadi perubahan signifikan pada kekerasan sampel pada lapisan material yang berbeda di badan sampel. Perubahan signifikan dan nilai yang diperoleh untuk kekerasan sampel mengindikasikan bahwa struktur mikro didominasi oleh martensit dan austenit."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rafael Sinema Hia
"Penelitian ini secara eksperimental mengkaji pengaruh viskositas terhadap dinamika droplet pada permukaan datar dengan memvariasikan jenis fluida, ketinggian jatuh (25, 50, dan 75 cm), serta debit (0,2–1,0 mL/min). Lima fluida— metanol, aquadest, minyak kelapa sawit, minyak zaitun, dan gliserol—digunakan untuk mewakili rentang viskositas 0,54 hingga 945 mPa·s. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa diameter penyebaran maksimum droplet berkisar dari 5,3 mm (gliserol) hingga 17,6 mm (aquadest pada 75 cm). Kenaikan ketinggian dari 25 cm ke 75 cm meningkatkan diameter penyebaran hingga 30% pada fluida viskositas rendah, namun hampir tidak berdampak pada fluida viskositas tinggi. Variasi debit tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap penyebaran droplet. Analisis bilangan tak berdimensi menunjukkan bahwa penyebaran luas terjadi pada bilangan Weber > 1000 dan bilangan Ohnesorge < 0,01. Secara keseluruhan, viskositas terbukti sebagai parameter paling dominan dalam membatasi deformasi dan penyebaran droplet pada permukaan datar.

This experimental study examines the effect of viscosity on droplet dynamics on a flat surface by varying fluid type, drop height (25, 50, and 75 cm), and flow rate (0.2–1.0 mL/min). Five fluids—methanol, aquadest, palm cooking oil, olive oil, and glycerol—were used, representing a viscosity range from 0.54 to 945 mPa·s. The results showed that the maximum spreading diameter ranged from 5.3 mm (glycerol) to 17.6 mm (distilled water at 75 cm). Increasing the drop height from 25 cm to 75 cm enhanced the spreading diameter by up to 30% in low-viscosity fluids, but had negligible effect in high-viscosity cases. Flow rate variation had no significant impact on spreading. Dimensionless analysis revealed that extensive spreading occurred for Weber numbers > 1000 and Ohnesorge numbers < 0.01. Overall, viscosity was identified as the most dominant parameter limiting droplet deformation and spreading on a flat surface. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Kevin Akbar Aurelio
"Pemahaman terhadap perilaku penyebaran tetesan (droplet) pada permukaan padat sangat penting dalam berbagai aplikasi, seperti pencetakan tinta, pendinginan mikro, dan semprotan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi ketinggian jatuh, debit aliran, dan diameter jarum suntik terhadap karakteristik penyebaran tetesan air pada permukaan datar. Eksperimen dilakukan dengan ketinggian 495 – 895 mm, debit 0,5 – 0,9 mL/menit, dan diameter jarum 0,45 mm, 0,6 mm, dan 0,7 mm. Parameter utama yang diamati adalah βₘₐₓ, yaitu rasio antara diameter sebar maksimum (Dₘₐₓ) dan diameter awal tetesan (D₀). Hasil menunjukkan bahwa peningkatan ketiga variabel tersebut berkontribusi terhadap kenaikan nilai βₘₐₓ. Selain itu, βₘₐₓ berkorelasi positif terhadap bilangan Reynolds dan Weber, serta berkorelasi negatif terhadap bilangan Ohnesorge. Sebagai pelengkap, analisis menggunakan Teorema Buckingham Pi dilakukan untuk membentuk hubungan tak berdimensi antara debit, diameter jarum suntik, dan ketinggian terhadap βₘₐₓ. Hasilnya mampu memprediksi βₘₐₓ secara akurat dan sebanding dengan data eksperimen.

Understanding droplet spreading behavior on solid surfaces is crucial in various applications such as inkjet printing, micro-cooling, and agricultural spraying. This study aims to evaluate the influence of falling height, flow rate, and syringe needle diameter on the spreading characteristics of water droplets on a flat surface. Experiments were carried out with heights ranging from 495 to 895 mm, flow rates from 0.5 to 0.9 mL/min, and needle diameters of 0.45 mm, 0.6 mm, and 0.7 mm. The main observed parameter was βₘₐₓ, defined as the ratio between the maximum spread diameter (Dₘₐₓ) and the initial droplet diameter (D₀). The results show that increases in all three parameters contribute to higher βₘₐₓ values. Furthermore, βₘₐₓ is positively correlated with Reynolds and Weber numbers, and negatively correlated with the Ohnesorge number. As a complement, the Buckingham Pi Theorem was applied to develop a dimensionless relationship between flow rate, needle diameter, height, and βₘₐₓ. The result accurately predicted βₘₐₓ and aligned well with experimental data."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pohan, Jericho Christian Marsangap
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik penyebaran (spreading) dan percikan (splashing) tetesan cairan yang jatuh pada permukaan padat miring melalui pendekatan eksperimental. Variabel bebas yang digunakan adalah sudut kemiringan permukaan (50°, 60°, 90°, 110°, dan 120°), debit aliran dari syringe pump (0,2–1,0 mL/min), dan diameter jarum suntik (0,45 mm, 0,6 mm, dan 0,7 mm). Droplet air dijatuhkan dari ketinggian 50 cm ke permukaan aluminium, dan proses tumbukan direkam menggunakan kamera high-speed. Data citra kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak ImageJ untuk mengukur diameter awal (D₀), diameter maksimum penyebaran (Dmax), dan parameter visual lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sudut 90° menghasilkan rasio penyebaran (βmax) paling tinggi dan distribusi lamella paling simetris, sedangkan sudut ekstrem cenderung menghasilkan pola penyebaran asimetris dan indikasi sliding. Variasi debit aliran tidak menunjukkan pengaruh signifikan atau tren linier terhadap penyebaran tetesan. Selain itu, perhitungan Weber Number (We), Reynolds Number (Re), dan Ohnesorge Number (Oh) tidak memperlihatkan korelasi kuat terhadap βmax karena densitas, viskositas, dan tegangan permukaan cairan yang tetap konstan sepanjang eksperimen. Dengan demikian, sudut kemiringan permukaan terbukti menjadi parameter paling dominan yang memengaruhi pola penyebaran tetesan cairan, sedangkan variasi debit aliran dan diameter jarum hanya berperan sebagai faktor pendukung. Penelitian ini memberikan pemahaman eksperimental yang penting untuk aplikasi semprotan presisi, pelapisan permukaan, dan pengendalian percikan cairan dalam proses industri.

This research aims to analyze the spreading and splashing characteristics of liquid droplets impacting inclined solid surfaces using an experimental approach. The independent variables considered include the surface inclination angle (50°, 60°, 90°, 110°, and 120°), the syringe pump flow rate (0.2–1.0 mL/min), and the syringe needle diameter (0.45 mm, 0.6 mm, and 0.7 mm). Water droplets were released from a height of 50 cm onto an aluminum plate, and the impact process was recorded using a high-speed camera. Image analysis was performed with ImageJ software to measure the initial droplet diameter (D₀), the maximum spreading diameter (Dmax), and other visual parameters. The results show that the 90° angle produced the highest spreading ratio (βmax) and the most symmetric lamella distribution, while extreme angles tended to cause asymmetric spreading patterns and sliding effects. Variations in flow rate did not exhibit a significant or linear influence on droplet spreading. Furthermore, the calculated Weber Number (We), Reynolds Number (Re), and Ohnesorge Number (Oh) did not demonstrate a strong correlation with βmax, as the liquid’s density, viscosity, and surface tension remained constant throughout the experiments. Therefore, the surface inclination angle was confirmed to be the most dominant parameter influencing droplet spreading behavior, whereas variations in flow rate and needle diameter acted only as secondary factors. This study provides valuable experimental insights for applications such as precision spraying, surface coating, and splash control in industrial processes."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Bintang Herdian
"Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, dengan prevalensi hingga 20,4 juta penderita pada tahun 2024 menurut International Diabetes Federation (IDF). Deteksi dini gula darah terhambat oleh alat diagnostik yang mahal dan sulit dijangkau. Microfluidic paper-based analytical device (μPAD) merupakan solusi potensial karena murah, portabel, dan ramah lingkungan, sesuai dengan standar WHO ASSURED. Penelitian ini bertujuan mengembangkan μPAD yang terintegrasi dengan sistem deteksi portabel untuk kuantifikasi konsentrasi glukosa secara kolorimetri menggunakan reagen Glucose Oxidase–Peroxidase Aminoantipyrine (GOD-PAP), yang menghasilkan perubahan warna sebanding dengan konsentrasi glukosa. Tahap awal pengujian dilakukan pada larutan phosphate-buffered saline (PBS) dan D-glucose sebagai bahan uji dalam penelitian konsentrasi glukosa. Bahan uji akan divalidasi menggunakan metode spektrofotometri. Selanjutnya, bahan uji akan diterapkan pada μPAD untuk diamati secara kolorimetri menggunakan sensor RGB pada perangkat portabel. Hasil kuantifikasi menunjukkan bahwa rasio red pada menit ke-10 dari metode kolorimetri memiliki linearitas yang sangat baik (R² = 0,96). Validasi presisi pada metode kolorimetri menghasilkan nilai RSD kurang dari 5%. Uji paired t-test menghasilkan nilai p-value sebesar 0,42 dengan tingkat kepercayaan 95%, sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil kuantifikasi konsentrasi glukosa melalui metode kolorimetri dan metode spektrofotometri.

Diabetes mellitus is a major health issue in Indonesia, with a prevalence of up to 20.4 million people in 2024, according to the International Diabetes Federation (IDF). Early detection of blood glucose is often limited by expensive and hard-to-access diagnostic tools. Microfluidic paper-based analytical device (μPAD) is a potential solution, offering low cost, portability, and environmental friendliness, aligning with the WHO ASSURED standards. This study aims to develop a μPAD integrated with a portable detection system to quantify glucose concentration colorimetrically using Glucose Oxidase–Peroxidase Aminoantipyrine (GOD-PAP) reagents. These reagents produce a color change proportional to the glucose concentration. Initial testing was conducted using phosphate-buffered saline (PBS) and D-glucose as test solutions. The samples were first validated using spectrophotometry. Then, the same samples were applied to the μPAD and analyzed colorimetrically using an RGB sensor on a portable device. The results showed that the red ratio at the 10th minute demonstrated excellent linearity (R² = 0,96). Precision validation showed an RSD below 5%. A paired t-test produced a p-value of 0,42 at a 95% confidence level, indicating no significant difference between glucose quantification using the colorimetric method and the spectrophotometric method."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Aufadhia Athallah
"Asap telah menjadi musuh utama ketika kebakaran terjadi terutama di terowongan bawah tanah. Asap yang tidak terkontrol merupakan bahaya besar di terowongan bawah tanah terutama bagi manusia. Seringkali kegagalan evakuasi yang mengakibatkan kematian penumpang disebabkan oleh asap yang dihasilkan. Sistem kontrol asap tidak dapat menangani asap dan menjaganya tetap pada batas aman. Bahkan dengan sistem berjalan dengan sempurna, terkadang sistem itu sendiri gagal memenuhi harapan terutama ketika ada kegagalan dalam sistem misalnya kipas rusak. Pengembangan berkelanjutan harus diimplementasikan ketika kami merancang sistem kontrol asap. Solusi masalah harus ditentukan untuk mencegah kegagalan yang sama terjadi di masa depan. Percobaan akan menggunakan sensor opacity untuk menghitung tingkat visibilitas di berbagai posisi di terowongan. Jika tingkat visibilitas dapat dipertahankan pada tingkat normal pada ketinggian tertentu dari dasar terowongan bawah tanah sampai semua orang dievakuasi, maka sistem pengendalian asap menggunakan ventilasi alami dapat dikatakan berhasil. Pendekatan kedua adalah menggunakan perangkat lunak Fire Dynamics Simulator untuk memodelkan fenomena kebakaran. Kami akan merancang pemodelan ini dengan kondisi dan karakteristik yang telah ditentukan sebelumnya. Harapannya adalah bahwa pemodelan ini dapat menunjukkan kepada kami hasil yang tidak dapat ditawarkan oleh eksperimen langsung. Diperlukan dua pendekatan untuk mengkonfirmasi hasil masing-masing metode sehingga kami dapat membandingkan dan mengulangi proses jika ada anomali dalam hasil yang diperoleh.

Smoke has become the main enemy when fires occur especially in underground tunnels. Uncontrolled smoke is a great danger in underground tunnels especially for humans. Often evacuation failures that result in passenger deaths are caused by smoke produced. The smoke control system cannot handle the smoke and keep it at safety limit. Even with the system running perfectly, sometimes the system itself failed to fulfilled the expectations especially when there are failure in the system for example the fan is broken. Continuous development must be implemented when we design the smoke control system. The solutions of the problem must be define to prevent the same failure happen in the future. The experiment will use opacity sensor to calculate visibility level at various position in the tunnel. If the visibility level can be maintained at normal level at a certain height from the bottom of the underground tunnel until everyone is evacuated, then the smoke control system using natural ventilation can be said to be successful. The second approaches is using Fire Dynamics Simulator software to model the fire phenomenon. We will design this modelling with the conditions and characteristic that have been determined before. The hope is that this modelling can show us results that cannot be offerd by direct experiments. Two approaches needed to confirm the result of each method so we can compare and repeat the process if there is an anomaly in the results obtained."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christianus Gerry Wijaya
"Williams FW42 adalah mobil balap Formula Satu yang dirancang oleh Paddy Lowe untuk tim ROKiT Williams Racing, untuk bersaing di Kejuaraan Dunia Formula Satu FIA 2019. Mobil tersebut memulai debutnya di Grand Prix Australia 2019, dikemudikan oleh Juara Formula 2 FIA 2018 George Russell yang melakukan debutnya di Formula Satu; dan Robert Kubica, dengan desain mobil yang mengalami banyak kemunduran, studi sayap depan dan hubungannya dengan gaya traksi dapat dilihat dengan menerapkan dinamika fluida komputasi dan menggunakan beberapa rumus. Dengan CFD, pengujian dilakukan menggunakan model CAD skala penuh dari mobil yang dibuat di Solidwork, disambungkan ke 7 juta sel menggunakan STAR CCM. Sementara simulasinya sendiri menggunakan pemecah model turbulensi K-Ɛ untuk menemukan nilai lift dan drag. Performa mobil diperkirakan menggunakan rekaman video telemetri, dari mana rasio roda gigi dan torsi yang tersedia diperoleh. Mobil ini dimodelkan untuk berjalan di Autodromo Jose Carlos Pace. Sirkuit yang terletak di Brasil. Terakhir, dari studi tersebut, terlihat bahwa sayap depan memberikan kontribusi sebesar 19,5% dari total downforce yang dihasilkan, 20,7% peningkatan kecepatan sudut pembatas, dan 12% dari gaya drag. Semua ini menghasilkan waktu lap lebih cepat setidaknya 3,756 detik untuk mobil yang dilengkapi sayap depan.

The Williams FW42 is a Formula One racing car designed by Paddy Lowe for the ROKiT Williams Racing team, to compete in the 2019 FIA Formula One World Championship. The car made its debut at the 2019 Australian Grand Prix, driven by 2018 FIA Formula 2 Champion George Russell who made his Formula One début; and Robert Kubica, with the design of the car set to many setbacks, the study of Front wing and its relation to traction force can be seen by implementing computational fluid dynamics and using some formula. With CFD, testing was conducted using a full scale CAD model of the car created in Solidwork, meshed to 7 million cells using STAR CCM. While The simulation itself is using K-Ɛ turbulence model solver to find the lift and drag values. The car’s performance was approximated using telemetry video footage, from which gear ratios and available torque was derived. The car is modeled to run on the Autodromo Jose Carlos Pace. A circuit located in Brazil. Finally,from the study, it can be seen that the front wing contributes to 19.5% of the total downforce generated, 20.7% increase in limiting corner velocity, and 12% of the drag force. All of this results in at least 3.756 seconds faster lap times for the car equipped with the front wing.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Victor Chai
"Pengembangan sayap pesawat terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi aerodinamik dan bahan bakar pesawat. Salah satu masalah yang dihadapi pada sayap pesawat adalah nilai induced drag yang meningkat ketika menggunakan high lift device (flap) untuk melakukan maneuver ataupun menaikan gaya angkat ketika sedang lepas landas. Pada skripsi ini dilakukan desain dan analisis terhadap suatu mekanisme high lift device (flap) yang menggunakan aktuator piezoelektrik sehingga kontur chamber sayap menjadi smooth serta berat dari sayap karena aktuator flap berkurang perubahan ini bertujuan untuk mengurangi induced drag dari penggunaan flap dan menaikan efisiensi bahan bakar karena beban pada sayap berkurang. Konsep dari sistem ini dianalisis dengan menggunakan finite element analysis. Ada tiga analisis yang dilakukan, analisis modal untuk mencari frekuensi natural dari geometri sayap, hal ini bertujuan untuk menemukan frekuensi gelombang listrik yang akan memberikan defleksi terbesar, besar defleksi nantinya akan dianalisis menggunakan metode analisis harmonik, dan analisis CFD untuk mengetahui performa flap dengan piezoelektrik. Hasil analisis menunjukan bahwa sebuah morphing wing dengan aktuator piezoelektrik pada frekuensi 95,2 Hz akan memberikan defleksi 5,7 mm (6,57°) pada 50 V dan defleksi maksimal 40 mm (53,4°) pada voltase maksimal dari piezoelektrik (400 V). Dari hasil CFD menunjukan kalo performa flap pieoelektrik memiliki performa aerodinamik yang lebih baik daripada sayap tanpa flap dan diasumsikan akan lebih baik dari flap konvensional karena tidak ada separasi aliran akibat slot dari aktuasi flap.

Development of aircraft wings are continuously done to improve its aerodynamic and fuel efficiency. One of the problem with current aircraft wings are the imcreased induced drag value during the usage of high lift device (flap) to do maneuver or to increase life force during take off. In this thesis, a proposed high lift device which uses piezoelectric as its actuator so that the wing chamber have a smooth countour and less weight, these changes intended to lessen the induced drag and fuel efficiency from the wing weight loss. This concept was analyzed using finite element analysis method. There were 2 analysis done, modal analysis to find the natural frequency of the morphing wing geometry, these were done to find the find the electric signal frequency that gives the biggest deflection, deflection angle amount will be analyzed using harmonic analysis, and lastly CFD analysis to find out flap with piezoelectric actuator performance. The analysis shows that a morphing wing with a piezoelectric actuator at a frequency of 95,2 Hz will give a deflection of 5,74 mm (6,57 °) at 50 V and a maximum deflection of 40 mm (53,4 °) at the maximum operational voltage of the piezoelectric (400 V). From the CFD analysis result shows that piezoelectric actuator flap have a better aerodynamic performance than a wing without flap and assumed it will perform better than conventional flap because there are no fluid flow separation because of slot from flap actuation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Giska Pramesti
"Kebakaran lahan gambut di Indonesia masih memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi untuk terjadi. Hal ini membuat Badan Restorasi Gambut membuat teknik pencegahan dan pengendalian bahaya kebakaran. Salah satunya adalah dengan memperhatikan penataan air dalam metode rewetting yang bertujuan untuk menjaga dan mengembalikan kelembapan lahan gambut. Metode rewetting ini menjadi dasar dari penerapan teknik canal blocking yang digunakan di beberapa lahan gambut, contohnya pada Kesatuan Hidrologi Gambut Sungai Buluh Besar. Studi kasus ini dilakukan guna menganalisis dampak dari lahan gambut yang mengalami kekeringan dan pengaruh gambut yang menggunakan metode rewetting dalam penyebaran titik api. Lahan gambut yang mengalami defisit air ternyata meningkatkan laju perambatan dari pembakaran membara dan berpotensi meningkatkan sifat hidrofobik yang dimiliki gambut. Hal ini harus dicegah dengan penjagaan tinggi muka air lahan gambut yang tidak boleh berada di bawah 0.4 m dari permukaan gambut sesuai dengan keputusan Kementerian Lingkungan Hidup KLHK No.16 Tahun 2017. Berdasarkan keputusan tersebut, maka Badan Restorasi Gambut bekerjasama dengan masyarakat setempat melakukan pengambilan data terkait penyekatan di KHG Sungai Buluh Besar. Setelah peneliti melakukan pengolahan data yang diambil dari dokumen Rencana Tindakan Tahunan Restorasi Gambut 2018 dan halaman situs sipalaga.brg.co.id, maka didapatkan nilai keandalan penjagaan tinggi muka air di lahan gambut dengan penyekatan adalah sebesar 95.83%. Ini membuat nilai neraca air per tahunnya mengalami surplus dengan asumsi kelebihan volume air di musim hujan ditampung pada kolam penampung. Fluktuasi nilai neraca air yang dihasilkan per tahunnya dikaitkan dengan penemuan hotspot di sekitar lahan gambut tersebut. Dari data data yang didapatkan menunjukkan bahwa semakin banyak neraca air yang dihasilkan maka semakin sedikit jumlah hotspot yang ditemukan.

Peatland fires in Indonesia still have a high level of vulnerability to occur. This incident made the Peat Restoration Institution make a fire prevention method. One of that is to pay attention to water arrangement in the rewetting method that aims to maintain and restore peatland moisture. This rewetting method forms the basis of the application of canal blocking technique used in several peatlands, such as in the Buluh Besar Peat Hydrology Unit. This case study was conducted to analyze the impact of peatlands experiencing drought and the effect of peat using rewetting methods in spreading hotspots. Peatlands that experience a water deficit increase the propagation rate of smoldering combustion and have the potential to improve the hydrophobic nature of peat. This fact must be prevented by maintaining the peatland water level that must not be below 0.4 m from peat surface based on the decision of the Ministry of Environment (KLHK) No.16 of 2017. Based on this decision, the Peat Restoration Agency, in collaboration with the local community, collected data related to the canal blocking in KHG Sungai Buluh Besar. After the researchers conducted data processing taken from the 2018 Peatland Restoration Annual Action Plan document and sipalaga.brg.co.id, the reliability value of water level guarding in peatlands with canal blocking is 95.83%. It makes the annual water balance value surplus with the assumption that the excess volume of water in the rainy season is accommodated in the reservoir. Fluctuations in the value of the water balance produced annually are associated with the discovery of hotspots around the peatlands. From the data obtained shows that the more water balance produced, the less number of hotspots found."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>