Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Suparmanto
"Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tergolong tinggi (373 per 100.000 kelahiran hidup, SKRT 1995). Setelah melalui penelusuran oleh WHO melalui Prevention of Maternal Mortality Network diketahui ada 3 keterlambatan yang terjadi. Pertama terlambat membuat keputusan di tempat tinggal pasien, kedua terlambat merujuk ketempat yang lebih mampu untuk menangani dan ketiga terlambat memberi pertolongan setelah berada di rumah sakit.
Dalam sebuah penelitian di Afrika didapati waktu tunggu penanganan kasus gawat darurat berkisar antara 2,6 jam hingga 15,5 jam. Untuk mengetahui keadaan di Pontianak dibuat sebuah penelitian mengenai waktu tunggu kasus gawat darurat kebidanan yang dirujuk atau datang sendiri ke rumah sakit. Penelitian dilangsungkan selama 8 minggu sejak 15 September hingga 15 Nopember 2000. Sampel diambil secara purposif sejumlah 35 kasus. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi waktu tunggu persiapan operasi kasus gawat darurat kebidanan diteliti antara lain karakteristik pasien (pendidikan pasien, kadar Hb pasien, pendidikan suami, kehadiran suami, penghasilan keluarga) karakteristik sumber daya rumah sakit (kesibukan dokter jaga, bidan, dokter operator, staf kamar operasi) karakteristik fasilitas (kesibukan kamar operasi, waktu persiapan alat operasi) karakteristik administrasi (mendapatkan ijin operasi) dan karakteristik penunjang (tersedianya darah).
Hasil penelitian memperlihatkan rerata waktu tunggu 8 jam 16 menit dengan nilai median 5 jam 45 menit. Waktu terpendek 30 menit dan terpanjang 25 jam 36 menit. Panjangnya waktu tunggu disebabkan oleh kondisi pasien. Sebagian variabel yang diteliti tidak ada hubungan bermakna kecuali kadar Hb dan waktu persiapan kamar operasi. Variabel waktu persiapan kamar operasi ternyata merupakan faktor paling dominan.
Disarankan untuk meningkatkan mutu pelayanan secara keseluruhan dan memperpendek waktu tunggu agar menempatkan bank darah didalam rumah sakit dan persiapan kamar operasi lebih baik lagi. Bagi pasien yang akan dirujuk diupayakan agar tetap berada dalam kondisi terbaiknya. Selain itu juga dianjurkan membuat dan membina jaringan kerjasama antara rumah sakit dan Puskesmas serta mencoba mendapatkan cut off point waktu tunggu melalui organisasi profesi (POGI).

Waiting Time Analysis of Preparation Operation for Obstetric Emergency Cases in Hospitals in Pontianak in the Year 2000The Maternal Mortality Rate in Indonesia is still high with 373 deaths per 100.000 live birth(SK.RT 1995). WHO through Prevention of Maternal Mortality Network had found that there were 3 categories of late in helping the patients. The first is "late to decide" by the family, second is "late to refer" to the hospital and the third is "late to take care the patient inside the hospital by the health personnel".
Former study in Africa for waiting time was found that it need between 2,6 to 15,5 hours for a patient to wait until she got a help. This study was trying to know the waiting time for an emergency case in obstetric begins when she arrived until she got medical interventions such as cesarean section or laparotomy. The study was carried out for about 8 weeks, from 15th of September until 15th of November 2000. The samples were taken by purposive method and a total of 35 cases were achieved during this study period. Many factors were correlated to the waiting time such as characteristics of the patients (education, hemoglobin value, education of her husband, husband present in the hospital) characteristics of personnel of the hospital (level of occupancy of the doctor in charge, the midwife, the obgyn and the staff of the operation room)characteristics of the facility of the operation room (readiness of the operation room, readiness of the equipment) characteristic of getting the letter of inform consent (time to get the agreement) characteristic of the other (readiness of the blood).
The result of this study found that the waiting time's mean was 8 hours 16 minutes. The median was 5 hours 45 minutes and the range was 30 minutes to 25 hours 36 minutes. The causes of the length of the waiting time were patients? condition. There were no significant variables except hemoglobin value and preparation of the operation room's time. With the backward method of linear regression the time for preparation of the operation room was the most dominant variable.
To improve the quality in health services and make the waiting time shorter, it is suggested to make preparation time faster, organized a blood bank inside the hospital and referred patient in her best condition. Also suggested to build and maintain good networking between hospital and health center and try to find the cut off point of waiting time through the Indonesian Society of Obstetric and Gynecologist (ISOG).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T8441
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nanang Achadijat Parwoto
"ABSTRAK
Diantara masalah yang timbul di Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang khususnya didalam bidang keuangan terjadinya piutang yang makin lama makin bertambah banyak sehingga mengakibatkan kurangnya penerimaan pendapatan rumah sakit.
Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mempelajari karakteristik pasien yang menunggak.. Sampel penelitian adalah pasien penunggak hutang tahun 1996 sampai dengan Juni 1997. Untuk kontrol sampel diambil pasien yang membayar lunas biaya perawatan dari waktu yang sama yang diambil secara acak sejumlah sama yaitu 360 pasien. Dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa umur dan jenis kelamin antara kedua kelompok tidak berbeda.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa karakteristik pasien yaitu lamanya hari rawat, kelas rawat yang dipilih, pendidikan pasien dan pekerjaan pasien berhubungan dengan terjadinya tunggakan rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang. Sedangkan karakteristik tempat tinggal pasien tidak berhubungan bermakna dengan terjadinya tunggakan biaya rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang.
Saran yang diajukan adalah penataan di dalam administrasi rawat inap, meningkatkan kemampuan tenaga-tenaga yang berhubungan dengan penerimaan pasien dengan melihat faktor karakteristik pasien dan dibuat kebijakan tertulis tentang penanganan terjadinya tunggakan di Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang.
Hasi1 kesimpulan ini diharapkan dapat bermanfaat di dalam mempertimbangkan mengurangi kemungkinan terjadinya tunggakan di Rumah Sakit Jiwa Pusat Semarang.
Daftar bacaan = 33 (1970 - 1997)
Characteristic of Patients With Unpaid Hospital Bills for Inpatient Care at the Central Mental Hospital SemarangUnpaid Bill is one of the problems faced by Central Mental Hospital Semarang, As the amount becomes larger annually, hospital income is reduced.
This study was done to understand some of the reasons. The objective was to identify patient characteristics, which contribute to unpaid hospital bills.
The sample consisted of patients with unpaid bills from 1996 until June 1997. As a control group, we use patients who had already paid their bills from the same period who are picked up randomly with a total equal number of 360 patients.
The study found that the length of stay, the choice of class, patients education and occupation were associated with the occurrence of unpaid hospital bills at the Central Mental Hospital Semarang.
The study concluded some recommendation, i.e. reorganization of the administration of inpatient care, and enhancement of personnel skills who are involved with inpatient administration an construction of a written policy about the management of unpaid hospital bills at the Central Mental Hospital Semarang.
We hope that these measures will benefit in reducing the risk of unpaid hospital bills at the the Central Mental Hospital Semarang.
"
1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hedriani Selina
"Sumber daya manusia dalam rumah sakit merupakan faktor yang sangat penting, karena produk yang dihasilkan berupa jasa pelayanan yang kualitasnya sangat tergantung dari individu yang melayani. Karyawan akan dapat produktif, apabila karyawan memiliki kemampuan, motivasi serta kepuasan kerja yang tinggi. Maka rumah sakit perlu untuk mengetahui kondisi motivasi dan kepuasan kerja karyawannya, khususnya di Instalasi Radiodiagnostik mengingat Instalasi Radiodiagnostik sebagai penunjang ketiga pelayanan dasar rumah sakit, pelayanannya menggunakan peralatan radiologi dan masih adanya masalah yang berkaitan dengan sumber daya manusia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi motivasi dan kepuasan kerja karyawan di Instalasi Radiodiagnostik serta mengetahui sasaran dan nilai khusus yang diinginkan karyawan, iklim organisasi yang dibutuhkan karyawan serta alat motivasi yang bagaimana yang dibutuhkan karyawan.
Penelitian ini adalah "cross sectional", dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan di Instalasi Radiodiagnostik RSVP Dr. Kariadi Semarang. Subyek penelitian adalah seluruh karyawan yang telah bekerja tebih 1,5 tahun, sedangkan metodenya adalah senses.
Hasil penelitian menunjukkan skor motivasi terdapat hubungan yang berrnakna dengan skor kepuasan kerja ( p < 0,05) serta mempunyai hubungan yang cukup erat (r : 0,7428 ), dengan garis persamaannya adalah Y = 9,57 + 0,74 x artinya kondisi motivasi dan kepuasan kerja karyawan di Instalasi Radiodiagnostik rendah. Kemudian adanya hubungan yang paling erat antara variabel motivasi dengan variabel kepuasan kerja adalah variabel kebutuhan akan prestasi dengan penghargaan atas prestasi.
Dari hasil ini maka dipandang perlu untuk meningkatkan kondisi motivasi dan kepuasan kerja karyawan dengan mempertimbangkan pemberian jasa pelayanan yang sesuai bobot kerja, tanggung jawab serta resiko pekerjaannya. Selain itu juga pengusulan peralatan radiodiagnostik baru khususnya untuk pelayanan emergensi. Hasil penelitian ini diharapakan dapat bermanfaat sebagai pertimbangan dalam memanaj ketenagaan di Instalasi Radiodiagnostik.

Role of hospital human resources being and it's relation to their hospital product is hospital services, play the most important key for their hospital product. The quality of the hospital service depends on the quality of individual. service. The staffs can be productive if they have ability, motivation and job satisfaction. The hospital need to know their staffs motivation condition and their job satisfaction, specially in Radiodiagnosa Unit because the unit supports three basic service in hospital. The service used radiology equipment and they have some problem that relation to human resources.
Purpose of the study are investigating to know the staffs motivation condition and job satisfaction in Radiodiagnosa Unit and to know value and need of staffs which the staffs wanted, organization climate expected by staffs needed and motivation tools which the staffs needed.
Design of study is cross sectional with quantitative and qualitative approached. Study has been held in Radiodiagnosa Unit in Dr. Kariadi Hospital Semarang. Subject of study were all staff who have had worked more than 1,5 years with census method.
Result of this study indicated that motivation score has significant relationship with job satisfaction score (p < 0,05 and strength relationship with r = 0,7428 ). Relationship between motivation score variable is significant ( p 0,05 with line regression Y = 9,57 + 0,74 x ). It's means at this time being condition of staffs motivation score in Radiodiagnosa Unit is low (36,54 %) while job satisfaction score is also low as well (45,94 %). The most solid relationship between motivation variable with job satisfaction variable of the need for performance with the award for their performance.
From this result of the study, it is necessary to rise motivation condition and job satisfaction staffs, and consider to give award which some with the staff job weight, responsibility and the job risk. Beside that, proposed new radiology equipment especially for emergency services. The result of this study expect to be benefit for consideration in managing the staffs in Radiodiagnosa Unit.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Santoso Soeroso
"Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral pelayanan kesehatan di rumah sakit. Peranannya dalam penyelenggaraan dan pengembangan program-program di rumah sakit adalah strategis. Di Indonesia perilaku organisasi yang terkait dengan struktur organisasi dalam pelayanan kesehatan belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan ilmiah tentang bagaimanakah hubungan antara kepuasan kerja dengan dimensi struktural organisasi: kompleksitas, sentralisasi dan formalisasi di bidang kcperawatan RSUP Dr. Kariadi.
Hasil penelitian menunjukkan Kepuasan kerja karyawan keperawatan RSVP Dr Kariadi adalah tinggi dan diantara 5 dimensi yang membangun kepuasan kerja, hanya 1 dimensi yaitu kepuasan terhadap terhadap pembayaran upah yang merniliki derajat sedang dan memilila sejumlah responden yang sangat rendah tingkat kepuasannya. Di antara variabel-variabel yang mewakili ciri-ciri desain organisasi yaitu kompleksitas, sentralisasi dan formalisasi, maka kompleksitas merupakan variabel yang paling besar perngaruhnya terhadap kepuasan kerja.
Sesuai dengan tradisi keperawatan yang umumnya memiiliki ciri-ciri formalisasi tinggi, dalam penelitian ini organisasi keperawatan RSUP Dr Kariadi terbukti memiliki formalisasi yang tinggi pula. Tiga hipotesis yang diajukan ternyata hanya satu yang terbukti yaitu semakin besar kompleksitas semakin tinggi kepuasan kerja. Dua hipotesis lainnya ditolak dan menunjukkan hasil yang tidak konsisten dengan teori-teori yang telah dikemukakan antara lain dengan teori aksiomatik Hage. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh berbagai hal yang berada diluar lingkup penelitian ini.

Nursing care is an integrated part of health care in a hospital. It has strategic position in the operasionalization and development of hospital care programmes. In Indonesia, organizational behaviour in connection with the organizational structure of health care organization has not yet been widely studied. The purpose of this study is to scrutinize and to answer the scientific question concerning how is the influence of structural dimension on job satisfaction of Dr. Kariadi Hospital Nursing personnel.
The study showed that Job Satisfaction of Dr. Kariadi Nursing personnel is high and among 5 facets of Job Satisfaction only one facet e.g. satisfaction to pay showed a moderate degree and has some respondents who are dissatisfied. Among variables represented organizational design such as complexity, centralization and formalization, the complexity proven to be the most influential variable on the job satisfaction.
In accord with the nursing tradition which usually has a high formalization, the study revealed also a high formalization in the nursing department. Only one hypothesis is accepted e.g. the higher the complexity the higher the job satisfaction. The other two hypotheses were not proven and inconsistent with Hage's axiomatic theory. These may be due to the influential factors out of the studied frame work.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aidul Fitriciada Azhari
"Penafsiran konstitusi adalah salah satu cara untuk mengubah UUD yang dimanfaatkan sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan demokrasi di Indonesia. Penafsiran tersebut dilakukan dengan memaknai gagasan demokrasi dalam UUD 1945. Namun demikian, selama berlakunya UUD 1945 ternyata penafsiran konstitusi tidak hanya melahirkan sistem yang demokratis, tetapi juga berimplikasi pada terbentuknya sistem yang otokratis.
Dalam penelitian ini, munculnya Sistem ketatanegaraan yang berbeda-beda tersebut disebabkan oleh perbedaan perspektif penafsiran atas UUD 1945, yakni perspektif internal dan eksternal. Perspektif internal adalah 'penafsiran dari sudut pandang yang terkandung dalam teks UUD, sedangkan perspektif eksternal adalah penafsiran dari sudut pandang yang berkembang di luar teks. Semakin kuat perspektif internal bekerja dalam penafsiran atas UUD 1945, maka semakin kuat kecenderungan untuk berimplikasi pada terbentuknya, sistem otokrasi. Sebaliknya, semakin kuat pengaruh perspektif ekstemalterhadap belmrjanya penafairan atas UUD 1945, maka semakin kuat kecenderungan untuk berimplikasi padaterbentuknya sistem demokrasi.
Berdasarkan perspektif penafsiran tersebut berkembang pola~poIa penafsiran orisinalisme, kontekstualisasi nilai dasar, dan' proseduralisme yang bekerja berdasarkan perspektif internal dengan pengaruh perspektif ekstemal pada dua pola terakhir. Sementam dari perspektifekternal berkenibang pola dekonstruksi. Dengan ruang lingkup penelitian yang dihatasi pada tiga masalah, yakni dasar negara, struktur ketatanegaraan, dan HAM, penelitian yang bersifat deskriptif-analitis ini menggunakan V pendekatan normatif, hitoris, dan komparatif serta teknik pengumpulan data kualitatif.
Dari hasil penelitian diperoleh simpulan, bahwa sejak awal kemerdekaan penafsiran konstitusi telah dilakukan untuk mendorong proses demokrasi dengan menggunakan pola penaffsiran yang bekerja berdasarkan pengaruh perspcktif ckternal, baik pola kontekstualisasi nilai dasar, proseduralisme, maupun dekonstruksi. Pola penafsiran yang sama digunakan pula pada selepas Orde Baru yang di antaranya mendorong terjadinya amandemen UUD 1945. Penggunaan pola orisinalisme berdasarkan perspektif intemal selama masa Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru terbukti berimplikasi pada terbentuknya sistem otokrasi.

Constitutional interpretation is one of ways to change the constitution that used as an effort to promote democracy in Indonesia. The interpretation is implemented by interpreting the meaning of the idea of freedom in the 1945 Constitution. Nevertheless, during the implementation of the 1945 Constitution periods apparently the interpretation of constitution has not only yield the democratic system, but also implicatin g to the establishment ofthe autocratic system.
In this research, the emerging of those different constitutional systems is caused by difference of the interpretation perspective, i.e. internal and external perspective. Internal perspective means interpretation from internal of the text of the constitution (self referential), while external perspective means interpretation from outside of the text of the constitution. The stronger internal perspective used in implementing ofthe 1945 Constitution interpretation, the stronger its tendency to establish the autocracy system will be. On the other hand, the .stronger external perspective used, the stronger its tendency to the democracy system will be.
Based on those interpretation perspectives have been developed originalism, contextualizatlon of fundamental values, and proceduralism as modes of constitutional interpretation that operated based on the internal perspective with external perspective influence in two latest modes. While based on external perspective has been developed deconstruction.
By the scope of research on three problems, that is the State principle, structure on the State, and human rights, this descriptive-analytical research use normative, historicaI,'ancl comparative approach and qualitative data collection procedure. This research get the conclusion, that since the first independence period the constitutional interpretation has been worked to promote democracy by using interpretation modes that operated based on external perspective influence, both contextualization of fundamental values, proceduralism, and deconstruction. The same interpretation modes were used after New Order regime, among others to stimulate the amendment of the 1945 Constitution. The use of originalism based on internal perspective during Guided Democracy and New Order periods proved that the interpretation was implicated on the establishment ofthe autocracy system.
"
2005
D1078
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library