Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 45 dokumen yang sesuai dengan query
cover
KGS. M. Ismail
"Mikrofluidik merupakan ilmu yang mengacu pada bidang sains dan teknologi untuk memanipulasi fluida dalam suatu jaringan di dalam channel yang dimensinya antara 5 - 500 μm. Tahapan proses yang dilakukan pada teknologi microfabrication yaitu desain, microstucturing dan back-end processes. Desain adalah bentuk dari channel yang diinginkan. Microstucturing adalah metode teknologi yang digunakan untuk pembentukan mikrofluidik, sedangkan back-end processes merupakan proses untuk joining material yang telah dilakukan pembentukan channel.
Dalam penelitian ini, proses desain channel menggunakan software autodesk inventor. Untuk proses microstucturing menggunakan laser CO2 daya rendah. Penggunaan laser CO2 sebagai alat pemotong untuk pembentukan mikrofluidik pada material acrylic menggunakan beberapa parameter yang dapat mempengaruhi hasil pemotongan, yaitu daya laser, kecepatan pemotongan dan pengulangan pemotongan (pass), kemudian dilakukan pengamatan terhadap hasil pemotongan tersebut yaitu kekasaran permukaan (surface roughness) microchannels.
Tahapan terakhir dari microfabrication adalah back-end processes, proses joining dengan menggunakan metode thermal bonding untuk membuat mikrofluidik yang dibentuk dapat berfungsi dengan baik. Dari hasil penelitian pembentukan perangkat mikrofluidik dan percobaan pengaliran cairan pada channel yang merupakan bagian dari perangkat mikrofluidik telah berhasil dilakukan.

Microfluidics is the science which refers to the analysis and technology for manipulating fluid inside the microchannels that dimensions 5 ? 500 μm. There are three process steps of microfabriaction technology for microfluidics device which are design, microstructuring and back-end processes. Design is the process to produce shape of microchannels. while back-end processes is joining process for material have been fabricated of channel. Microstructuring is a method that used for microfludics device fabrication.
In this research, a low power CO2 laser is applied for microstructuring process. CO2 laser cutting for micrluidics device fabricated on acrylic was applicated by three parameters: power of laser, cutting speed and cutting repeatition (number of pass). In the result of cutting is observed surface roughness of microchannels.
The last teps is back-end processes, to joining materials by thermal bonding method. The result of this research, microfluidics device was successfully fabricated and the fluid could flow in the microchannels of the microfluidics device.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
T31767
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Stefanus Manuel
"Robot Inverted Pendulum merupakan penelitian robot klasik yang menjadi banyak perhatian. Inverted Pendulum atau pendulum terbalik bekerja menggunakan prinsip kesetimbangan. Robot diasumsikan sebagai pendulum yang harus bisa melawan gaya gravitasi sehingga tetap stabil tanpa terjatuh. Banyak teori kontrol yang sudah dikembangkan dalam mengontrol robot ini, salah satunya yaitu Model Predictive Control. Model Predictive Control dapat memprediksi perilaku sistem ke depannya sehingga dapat mengantisipasi robot terjatuh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merealisasikan robot inverted pendulum menggunakan Model Predictive Control. Robot dirancang dengan ukuran tinggi sekitar 50 cm dan lebar sekitar 30 cm. Robot memiliki lengan untuk membawa benda dengan luas penampang berukuran 8 x 8 cm dan massa 1 kg. Robot memiliki sudut kemiringan maksimum 30o. Robot ini dapat menahan beban 1 kg dengan safety factor minimum 3. Robot ini dikontrol dengan mikrokontroler ESP32. Sensor sudut MPU6050 dan sensor posisi Encoder 600PPR digunakan sebagai input untuk motor BLDC JGB37-3650 dan motor Dsservo DS 3225 yang dikendalikan.

The Inverted Pendulum Robot is a classic topic of robotic research that has garnered significant attention. The inverted pendulum operates on the principle of equilibrium. The robot is conceptualized as a pendulum that must counteract gravitational forces to remain stable without falling. Numerous control theories have been developed to manage this robot, one of which is Model Predictive Control (MPC). MPC predicts the future behavior of the system, enabling it to prevent the robot from falling. Thus, this research aims to implement an inverted pendulum robot using Model Predictive Control. The robot is designed with a height of approximately 50 cm and a width of about 30 cm. It features an arm capable of carrying objects with a cross-sectional area of 8 x 8 cm and a mass of 1 kg. The robot can maintain a maximum tilt angle of 30 degrees. It is designed to support a load of 1 kg with a minimum safety factor of 3. The robot is controlled using an ESP32 microcontroller. The MPU6050 angle sensor and the 600PPR Encoder position sensor are employed as inputs for the JGB37-3650 BLDC motor and the Dsservo DS 3225 motor."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nida Hanifah Nasir
"Skripsi ini membahas evaluasi kesesuaian antara sistem proteksi kebakaran aktif (sprinkler, alarm, detektor asap dan panas, APAR, pompa kebakaran dan hidran), pasif (konstruksi bangunan dan komaprtemen), sarana penyelamatan jiwa (sarana jalan keluar, Koridor, Tangga darurat, Tanda petunjuk arah, Pintu darurat dan Pencahayaan Darurat ) dan Manajemen Keselamatan Kebakaran Gendung (MKKG) dengan acuan peraturan di Indonesia berupa PERMEN PU No. 26/PRT/M/2008, PERWAL DEPOK No. 14 Tahun 2012, KEPMENAKER No.KEP.186/MEN/1999 serta beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan komparatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sistem Proteksi Kebakaran Aktif, Pasif, Sarana Penyelamatan Jiwa dan Manajemen Keselamatan Kebakaran Gedung (MKKG) yang tersedia belum sesuai dengan acuan yang digunakan.

This study discussed about suitability evaluation of active fire protection system (sprinkler, alaram, heat and smoke detektor, APAR/minor fire extinguisher, fire pump and hydrant), passive fire protection system (building construction and compartment), life saving equipment (exit way, corridor, emergency stairs, direction sign, emergency doors and emergency lighting) and building?s fire safety management with regulatory reference of Indonesia PERMEN PU No. 26/PRT/M/2008, PERWAL DEPOK No. 14 Tahun 2012, KEPMENAKER No.KEP.186/MEN/1999 and some of standar Nasional Indonesia (SNI). This research used analytic descriptive research with comparative approach.
The result showed that evaluation of active and passive fire protection system, life saving equipment and building?s fire safety management which is available is not suitable with regulatory reference.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2015
S60149
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raihan Nurrasyid Aryunata
"Sampah elektronik atau E-Waste sendiri didefinisikan sebagai EEE yang dibuang oleh pemiliknya sebagai limbah tanpa tujuan untuk digunakan kembali (Step Initiative, 2014). Dalam pengolahan sampah elektronik, menurut Meskers (2009) terdapat tiga tahap dalam proses daur ulang sampah elektronik yaitu collection, preprocessing, dan processing. Eddy Current Separator (ECS) merupakan alat separasi metal non-ferrous dari sampah elektronik padat. Bagian utama dari ECS adalah drum magnetik yang memiliki susunan kutub magnet yang berbeda yang mana akan menghasilkan Eddy Current Force (EFC) (Jujun, 2014). Hubungan antara variabel p (bentuk cacahan) dengan jarak defleksi juga secara langsung diujikan oleh Zhang (1998). Dengan cacahan PCB dan melakukan pendekatan berdasarkan hasil cacahan, Zhang mengidentifikasi empat bentuk cacahan yaitu bentuk strip-like (kategori 1), plate-like (kategori 2), ball-like (kategori 3), dan irregular (kategori 4). Untuk mengetahui bentuk sampah, image processing atau computer vision merupakan salah satu cara yang dapat digunakan. Hasilnya plate-like memiliki jarak lontar yang lebih jauh dibadingkan bentuk lainnya. Semakin luas permukaan, semakin jauh jarak lontarnya. Strip-like memiliki luas permukaan yang relatif kecil dan ball-like memiliki volume yang berdampak pada massa yang terlalu dominan. Pada pengujian shape recognition, pengujian satu objek memiliki akurasi 100% untuk bentuk strip-like dan plate-like. Akurasi pengujian tiga benda untuk ball-like hanya 33% sedangkan yang lain (strip-like dan plate-like 100%). Untuk pengujian objek acak, dari empat objek terdeteksi tiga (75%), dan 32 objek terdeteksi 17 objek.

Electronic waste or E-Waste itself is defined as EEE that is disposed of by its owner as waste without a purpose for reuse (Step Initiative, 2014). In the processing of electronic waste, according to Meskers (2009) there are three stages in the electronic waste recycling process, namely collection, preprocessing, and processing. Eddy Current Separator (ECS) is a non-ferrous metal separation device from solid electronic waste. The main part of the ECS is a magnetic drum which has a different arrangement of magnetic poles which will produce Eddy Current Force (EFC) (Jujun, 2014). The relationship between the variable p (count shape) and the deflection distance was also directly tested by Zhang (1998). By chopping PCBs and using an approach based on the results of the chopping, Zhang identified four chopping shapes, namely strip-like (category 1), plate-like (category 2), ball-like (category 3), and irregular (category 4). To find out the form of waste, image processing or computer vision is one way that can be used. The result is that plate-like has a longer ejection distance than other forms. The more surface area, the farther the ejection distance. Strip-like has a relatively small surface area and ball-like has a volume that has an impact on mass that is too dominant. In shape recognition testing, one object test has 100% accuracy for strip-like and plate-like shapes. The accuracy of testing three objects for ball-like is only 33% while for the others (strip-like and plate-like 100%). For random object testing, from four objects, three (75%), and 32 objects were detected, 17 objects were detected."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abraham Mahendiartha Putra
"Sampah elektronik semakin meningkat jumlah nya di masyarakat akibat intensifnya penggunaan alat elektronik individual seperti perangkat pintar serta peralatan elektronik penunjang lainnya. Dalam perakitannya, hampir seluruh perangkat elektronik ini memiliki tiga material utama yaitu logam ferrous, logam non ferrous, serta material non logam. Dikarenakan adanya bahaya, serta manfaat dari setiap material ini, maka dibuatlah sebuah rancang bangun alat eddy current separator skala kecil yang dapat memisahkan tiga material utama tersebut. Eddy Current Separator (ECS) meruapakan alat separasi yang dapat memisahkan material logam ferrous, logam non ferrous, dan non logam dengan cara menggunakan susunan magnet yang akan menghasilkan gaya eddy current. Berdasarkan gaya eddy current yang dapat memisahkan ini, maka dibuatlah sebuah rancang bangun dari alat eddy current separator dengan mengintegrasikan dua komponen utama yaitu drum magnet dan juga komponen sabuk konveyor. Sistem yang terintegrasi atas dua komponen ini akan melakukan feeding sampah elektronik yang telah dicacah dan akan membagi sampah yang tercampur menjadi tiga jenis sampah utama. Kemudian dilakukan pengujian atas alat yang telah dirancang dan dibangun dan didapatkan hasil percobaan bahwa alat dapat memisahkan material logam ferrous yang diwakilkan serbuk besi secara 100% dalam pengetesan individu, alat dapat memisahkan material logam non ferrous yang diwakilkan alumunium dan tembaga secara 100% dalam pengetesan individu, serta alat juga memisahkan material non logam yang diwakilkan oleh papan pcb secara 100% dalam pengetesan individu. Namun alat yang telah dibentuk ini masih diperlukan penyempurnaan lanjutan, dikarenakan alat hanya memiliki tingkat separasi sebesar 83,3% dalam pengetesan secara bersamaan atau pengetesan simultaneous dengan pemberian delapan buah sampel material.

Electronic waste is increasing in number in society due to the intensive use of individual electronic devices such as smart devices and other supporting electronic equipment. In its assembly, almost all of these electronic devices have three main materials, namely ferrous metal, non-ferrous metal, and non-metallic material. Due to the dangers and benefits of each of these materials, a small-scale eddy current separator was designed to separate the three main materials. Eddy Current Separator (ECS) is a separation device that can separate ferrous metal, non-ferrous metal, and non-metal materials by using a magnetic arrangement that will produce an eddy current force. Based on the eddy current that can separate this, a design is made of the eddy current separator by integrating two main components, namely the drum magnet and also the conveyor belt component. The integrated system of these two components will feed the chopped electronic waste and will divide the mixed waste into three main types of waste. Then testing was carried out on the tool that had been designed and built and the experimental results showed that the tool could separate ferrous metal material represented by iron powder 100% in individual testing, the tool could separate non-ferrous metal material represented 100% in aluminium and copper in individual tests. , and the tool also separates the non-metallic materials represented by the PCB board 100% in individual tests. However, this tool that has been formed still needs further refinement, because the tool only has a separation rate of 83.3% in simultaneous testing or simultaneous testing by giving eight material sample.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yeny Pusvyta
"Perancangan dan pengembangan mesin uji tarik prototip-3 dilakukan untuk menyempurnakan mesin uji tarik prototip-2 yang perancangannya masih belum sesuai standar. Berdasarkan studi literatur menurut standar ASTM E-8M tentang kecepatan pembebanan pengujian tarik dan ukuran spesimen dilakukan perubahan atau chuck dan sistem pembebanan pada mesin uji tarik prototip-2. Untuk memenuhi target desain industri, dilakukan survey mengenai kenyamanan penggunaan mesin uji tarik yang menjadi masukan perancangan penyempurnaan mesin. Performa mesin dilihat dari pengujian penarikan putusnya beberapa spesimen silindris dan lembaran di daerah gage length, serta bentuk grafik yang mirip dengan spesimen yang diuji dengan mesin uji tarik standar.

Design and develop tensile test machine prototype-3 held for perfecting tensile test machine prototype-2 not in accordance with the standard. According to ASTM E-8M about load speed of tensile testing by changing the specimen size or chuck and loading system in tensile machine prototype-2. Survey conducted in order to achieve industrial design target, focusing on the comfort in using the tensile machine which became consideration in re-dsign the tensile machine. The engine performance can be seen from frcture of some round tension and sheet specimen in gage length area and chart from similar from specimen which retested with standard tensile machine."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
T27597
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Reza Dirhamsyah
"Friction Stir Welding (FSW) yang ditemukan di The Welding institute (TWI), Inggris pada tahun 1991 merupakan teknik pengelasan pada kondisi padat (solid-state) sehingga memiliki keuntungan seperti tingkat deformasi yang rendah serta tidak ada material terbakar sehingga kadar asap yang dihasilkan rendah. Pada awalnya diaplikasikan pertama kali pada material aluminium. Konsep dasar pengelasan ini sangat sederhana, yaitu perkakas (tool) yang berputar yang memiliki probe dan shoulder yang dirancang khusus dimasukan diantara dua ujung plat atau benda kerja yang akan disambung, lalu secara teratur digerakan di sepanjang garis sambungan. Proses ini tergolong baru dan belum banyak diaplikasikan di indonesia.
Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh perubahan paramater pemesinan terhadap sifat mekanik material yang disambung dengan proses friction stir welding, dalam hal ini material AC4CH (JIS). Variasi parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk tool, sudut tool, dan kecepatan putar tool. Dimana hasil penelitian dan pengujian menunjuakan bahwa variasi parameter tersebut berpengaruh terhadap visual hasil pengelasan (kekasaran & flashing), kekuatan tarik material yang sudah di las, kekerasan pada setiap area pengelasan (weldzone) dan bentuk penampang potong dari pengelasan (Makrostruktur).

Friction stir welding (FSW) was invented at The Welding Institute (TWI) of United Kingdom in 1991 as solid-state joining technique so it has advantages such as low level deformation, low fume because no burned material. It was initially applied to alumunium alloys. The basic concept of FSW is remarkably simple, a nonconsumable rotating tool with a specially designed Probe and shoulder is inserted into the abuttting edges of sheets or plates to be joined and subsequently traversed along the joint line. This process is relatively new and not yet widely applied in Indonesia.
Therefore, the study was conducted to study the change of machining parameter can affect the mechanical properties of the material to be joined by friction stir welding process, in this case AC4CH (JIS) material. Variaton of parameters used in this research is a form of a tool, tool angle, and rotation speed of tool. Where the study and test result shown that the variation of these parameters will affect the visual welding result (roughness & flashing), tensile strength of welded material, hardness at each weldzone and cross-sectional shape of the welding material (macrostructure).
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1061
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Samsi Suardi
"Teknik pengelasan banyak diaplikasikan dalam proses penyambungan karena karakteristiknya yang lebih ringan dan prosesnya yang relatif sederhana, sehingga biaya yang diperlukan jadi relatif murah. Friction stir welding (FSW) merupakan metode pengelasan yang diciptakan dan dikembangkan oleh The Welding Institue (TWI) pada tahun 1991. Prinsip Kerja dari FSW adalah memanfaatkan gesekan dari tool yang berputar dan bergerak pada alur pengelasan dengan benda kerja yang diam. Parameter pengelasan meliputi kecepatan putar, kemiringan tool, kecepatan tempuh, penetrasi shoulder, penetrasi probe, bentuk dan dimensi probe, bentuk dan dimensi shoulder, material tool, dll. Parameter-parameter pengelasan biasanya dipublikasi untuk lingkungan yang terbatas dan sedikit dipublikasikan untuk umum.
Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan proses FSW pada material AC4CH dimana pengembangan difokuskan pada design tool, pemilihan mesin, persiapan material uji, perubahan parameter kecepatan putar, kemiringan tool dan bentuk dari probe tool serta sejauh mana korelasi antara parameter tersebut dengan visual hasil pengelasan (flashing dan kekasaran permukaan sambungan).
Dari penelitian ini bahwa pengembangan metode friction stir welding (FSW) untuk material AC4CH dapat menggunakan mesin milling universal Dahlih DL-GH950 dengan material tool SLD8 (58-63 HRC). Variasi parameter kecepatan putar, kemiringan tool dan bentuk dari probe mempunyai mean yang merata atau dengan kata lain variasi dari parameter tersebut tidak berpotensi merubah flashing dan kekasaran dari permukaan pengelasan.

Welding technique has widely applied in the process of joining because the process is relatively simple, so that the cost can be inexpensive. Friction stir welding (FSW) is a welding method that was created and developed by The Welding Institute (TWI) in 1991 which at the beginning of his research was applied to the alumunium. The principle of FSW is to use the friction of the rotating tool and moving the groove welding with a fixed workpiece. The welding parameters include the rotational speed, tool attitude (tool tilt), the travel speed, shoulder plunge, probe penetration, shape and dimensions of the probe, shape and dimensions of shoulder, tool material, etc. Welding parameters are usually published for a limited environment and rarely published for the public.
Therefore, the purpose of this research is to develop the process FSW for material AC4CH in which development is focused on changing the rotational speed parameter, tilt of the tool and shape of the probe and the extent of the correlation between these parameters with the visual results of welding (flashing and surface roughness of weld joint).
In this study that the development methods of friction stir welding (FSW) for the material AC4CH used a universal milling machine DL-GH950 Dahlih with SLD8 tool material (58-63 HRC). Parameter variation such as rotational speed, tilt of the tool and shape of the probe has a uniform mean or in other words, the variation of these parameters did not substantially change the flashing and the roughness weld joint surface of the welding.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1085
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Diandono Kuntjoro Yoga
"ABSTRAK
Pembuatan mikro kapsul untuk terapi kanker laju dosis rendah memerlukan kualitas yang baik agar tidak berdampak negatif terhadap pemakai. Pengelasan mikro kapsul menggunakan las laser Nd-YAG yang merupakan bagian dari proses pembuatan harus pula dilakukan secara baik. Penelitian ini menganalisis proses pengelasan mikro kapsul dari bahan Ti6Al4V untuk terapi kanker dosis rendah yang dilakukan Pusat Radioisotop dan Radiofarmaka Badan Tenaga Nuklir Nasional (PRR BATAN),untuk mendapatkan pengaturan parameter pengelasan yang optimal. Pengaturan parameter meliputi pengaturan frekuensi, kecepatan las, bentuk pulsa laser, aliran gas selubung dan perhitungan teoritis pelelehan yang terjadi. Berdasarkan analisis hasil penelitian, dengan mengubah bentuk pulsa laser dapat dilakukan pengelasan dengan energi yang lebih rendah 14,54% penurunan daya penuh 40% dan rata-rata daya turun 50,1%, serta penghematan gas argon sebesar 16,67% dan mendapat tembusan pengelasan yang lebih baik.

Abstract
Manufacturing process of low dose rate micro-capsules for cancer therapy requires a good quality to avoid the negative impact for the user. Nd-YAG laser welding of the micro capsule, which is part of the manufacturing process, must also be done well. This study analyzes the process of laser welding the micro capsules of Ti6Al4V material for low-dose rate cancer therapy performed radioisotope and radiopharmaceutical Center National Nuclear Energy Agency (PRR BATAN) to obtain the optimal welding parameter settings. Parameter settings include setting the frequency, speed of welding, laser pulse shape, gas flow shield and the theoretical calculations of melting. Based on the analysis of research results, by changing the shape of the laser pulse, welding can be done with a lower energy 14.54% reduction in the full power 40% and an average power decrease 50,1%, and argon gas savings of 16.67% and get better welding penetration."
2012
T31439
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Deden Rahayu
"Friction Stir Welding (FSW) adalah suatu teknologi pengelasan yang merupakan proses solid-state joining yang bisa digunakan untuk menyambungkan material yang berbeda, karakter awal base material bisa dipertahankan dan juga tidak memerlukan bahan tambah (filler). Distorsi dari hasil proses FSW sangat rendah dikarenakan prosesnya dalam keadaan padat sehingga defleksi setelah pengelasan bisa diminimalisir dengan kekuatan sebanding dengan proses pengelasan lain dan juga dapat diaplikasikan pada material-material yang sulit dilas bila menggunakan metode konvensional atau teknik penyambungan lain seperti solder atau rivet.
Tipe sambungan pada FSW yang akan dilakukan adalah tipe Lap Welding dan Spot Welding. Adapun parameter yang akan digunakan adalah kecepatan putaran tool, kecepatan translasi tool (feeding), kemiringan tool saat proses pengelasan, dan desain mata pisau tool. Mesin yang digunakan pada proses ini yaitu mesin CNC tipe adjustable vertical milling machine sehingga hasil tiap langkah proses pengelasan akan seragam Untuk mengetahui kekuatan mekanik dari spesimen maka dilakukan uji kekasaran permukaan (surface rougness) dan uji tarik untuk setiap specimen yang berbeda tiap parameternya.
Hasil analisis data dengan menggunakan metode Grafik, Chi Square, dan Response Surfece Methodology (RSM) menunjukkan bahwa setiap parameter yang digunakan pada proses FSW mempengaruhi kekuatan mekanik dan kekasaran permukaan pada material hasil pengelasan.

Friction Stir Welding (FSW) is a welding technology which is a solid-state joining process that can be used to connect different materials. The initial character of the base material can be maintained and also does not require the added material (filler). Distortion of the FSW process is very low due to the process in the solid state so that the deflection after welding can be minimized with the strength compare to other welding processes, FSW can also be applied to materials that are difficult to weld when using conventional methods or other sewing techniques such as Solder or Rivet.
In this study, the type of connection with FSW method are Lap Welding and Spot Welding. The parameters were the tool rotation speed, translational speed of the tool (feeding), the slope of the tool when the welding process, and tool shape. Machine that used in this process was the adjustable CNC vertical milling machine so that the results of each step of the welding process will be uniform. To find the mechanical strength of the performed test specimens surface roughness and tensile test for each different specimens each parameter were investigated.
The results of data analysis using Graph Method, Chi Square, and Response Surface Methodology (RSM) showed that each parameter used in the FSW process influences to mechanical strength and surface roughness of welded materials.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42891
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>