Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 50 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nurul Aulia Rahmawati
"

TikTok awalnya dirilis sebagai jaringan untuk konten video musik, tetapi kini telah berkembang sebagai tempat untuk konten-konten bermuatan promosi, informasi hingga anjuran opini tertentu. Dengan durasi video yang terbatas, para kreator konten berlomba-lomba membuat konten yang tentu saja harus mengkonsiderasi efisiensi waktu. Oleh karenanya, banyak konten yang tersebar dan didukung oleh mudahnya pengunduhan, pengunggahan, serta pengaksesan konten-konten yang ada di TikTok. Melalui tulisan ini, kemudahan serta kemasifan akses terhadap TikTok akan dielaborasi dengan analisis institusional Noam Chomsky dan Edward S. Herman, yakni Model Propaganda, untuk menunjukkan peluangnya sebagai suatu media propaganda. Model Propaganda menunjukkan keterlibatan media massa dalam manufakturisasi konsen masyarakat. Di era buku Manufacturing Consent, media massa yang dimaksudkan adalah televisi, radio, serta media cetak. Namun sekarang ini, kita mengenal internet sebagai salah satu sarana media massa yang memungkinkan interaksi sosial dan artifisial yang muncul pada jaringan media sosial. Propaganda konvensional kini telah menjadi propaganda komputasional. Dibanding dengan media sosial lain, TikTok memiliki potensi menjanjikan untuk menjadi media propaganda masa kini sebagai propaganda komputasional mendapatkan ruangnya seiring dengan kepopuleran dan fitur-fitur yang mendukung di dalamnya.


TikTok was originally released for music video content’s platform, but currently has grown to become the plate for various promotions, informations and certain opinion’s triggers’ content. By its duration’s limitation, content creators compete to create content(s) with time efficiency’s consideration. Thus, a lot of shortcut content(s) spreaded and supported by the ease of content’s downloading, uploading and accessing on TikTok. This paper will elaborate TikTok’s ease and massiveness with Noam Chomsky and Edwarrd S. Herman’s institutional analysis, the Propaganda Model, to show its opportunities as a propaganda media. The Propaganda Model shows the involvement of mass media in the manufacturing consent. In the Manufacturing Consent’s book era, the mass media were television, radio, and printed media(s). Nowadays, internet is one of leading mass media that also allows social and artificial interaction on social media’s platform. The conventional propaganda now has become the computational propaganda. Compared to other’s social media(s), TikTok has promising potential to become a nowadays propaganda media which accommodates computational propaganda during its popularity and its supportive feature

"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Filla Nazillah
"Meskipun telah ada undang-undang yang menjamin kelangsungan hidup warga negara, sebagaimana tercantum dalam UU no. 8 tahun 2016, ancaman kekerasan seksual terhadap individu dengan disabilitas masih terus terjadi. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana kepastian perlindungan terhadap kelompok penyandang disabilitas dapat tercapai. Dalam konteks ini, tantangan utama melibatkan ketidakmampuan anak-anak dengan disabilitas dalam melindungi diri serta menjunjung hak-hak mereka. Ketidaksetaraan yang terjadi dapat mengakibatkan diskriminasi ganda terhadap anak-anak disabilitas, di mana hak-hak mereka terkait tubuh, pikiran, suara, pendidikan, dan lainnya diabaikan. Ketidaksetaraan ini menggambarkan bahwa anak-anak dengan disabilitas tidak memiliki ruang yang memadai untuk mengakui martabat mereka sebagai sesama manusia. Oleh karena itu, kasus ini menyoroti perlunya anak-anak dengan disabilitas mendapatkan peluang yang setara dalam hal hak-hak dan keadilan di bawah perlindungan negara. Dalam kajian ini, pendekatan teori keadilan John Rawls serta capabilities approach dari Martha Nussbaum dan Amartya Sen digunakan bersama dengan metode analisis konseptual dan refleksi kritis. Tujuan utamanya adalah merumuskan langkah-langkah preventif bagi negara Indonesia, sebagai suatu perspektif baru dalam memahami pengaruh fundamental kuasa negara sebagai landasan sentral untuk mencapai hak-hak dan keadilan yang merata dan bebas, terutama bagi individu dengan disabilitas.

Even though there are laws that guarantee the survival of citizens, as stated in Law no. 8 of 2016, the threat of sexual violence against individuals with disabilities still continues to occur. This phenomenon raises questions about the extent to which guaranteed protection for groups of people with disabilities can be achieved. In this context, the main challenge involves the inability of children with disabilities to protect themselves and uphold their rights. The inequality that occurs can result in double discrimination against children with disabilities, where their rights regarding body, mind, voice, education, and others are ignored. This inequality illustrates that children with disabilities do not have adequate space to recognize their dignity as fellow human beings. Therefore, this case highlights the need for children with disabilities to have equal opportunities in terms of rights and justice under state protection. In this study, John Rawls' justice theory approach and the capabilities approach of Martha Nussbaum and Amartya Sen are used together with conceptual analysis and critical reflection methods. The main objective is to formulate preventive measures for the Indonesian state, as a new perspective in understanding the fundamental influence of state power as a central foundation for achieving equal and free rights and justice, especially for individuals with disabilities."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
David Christian Senewe
"Hadirnya media sosial di era digital saat ini telah memberikan kita berbagai kecanggihan dan kemudahan. Namun, itu tidak memberi kita ruang untuk menyadari bahwa aktivitas yang dilakukan di era digital ini merupakan banalitas keseharian yang inotentik. Oleh karena itu, penulis bertujuan untuk menyingkap banalitas keseharian yang ditunjukkan dalam penggunaan media sosial, yang dianalisis menggunakan perspektif filosofis dari Martin Heidegger. Perspektif Heidegger terkait Dasein dalam pembacaanya sebagai Digi-sein di dunia digital menunjukkan adanya permasalahan eksistensial dalam bentuk modus keberadaan inotentik manusia yang ditunjukkan oleh kelupaan akan eksistensi diri, larut dalam cara berada orang-orang lain, dikontrol oleh waktu objektif, dan mengobjekkan juga diobjekkan oleh teknologi. Untuk membebaskan diri dari hal tersebut, Heidegger menawarkan sikap otentik dan kesadaran reflektif yang ditunjukkan oleh pengambilan jarak, mencandra keseharian, dan sikap merelakan dengan tetap fokus pada eksistensi diri dan tetap waspada akan banalitas keseharian serta sifat destruktif teknologi.

The presence of social media in the current digital era has given us various sophistications and conveniences. However, this does not give us space to realize that the activities carried out in this digital era are an inauthentic everyday banality. Therefore, the author aims to reveal the everyday banality shown in the use of social media, which is analyzed using the philosophical perspective of Martin Heidegger. Heidegger's perspective regarding Dasein in its reading as Digi-sein in the digital world shows the existential problems in the form of humans' inauthentic mode of existence which is shown by forgetting one's own existence, being dissolved in other people's ways of being, being controlled by objective time, and objectifying also being objectified by technology. To free oneself from this, Heidegger offers an authentic attitude and reflective awareness which is shown by taking distance, taking everyday life into account, and an attitude of letting go by remaining focused on self-existence and remaining alert to the banality of everyday life and the destructive nature of technology."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Frisca Cindy Az-Zahra
"Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pembedahan terhadap fenomena yang terjadi dari hadirnya inkonsistensi praktik pidana hukum yang timpang terhadap kaum elitis dan rakyat sipil. Penelitian ini menemukan bahwa inkonsistensi praktik pidana hukum yang terjadi di Indonesia kepada kaum elitis dan rakyat sipil menghasilkan persoalan ketimpangan vonis hukuman antar suatu kaum, ketidakadilan para aparat hukum dalam memvonis pidana hukum, hingga termarjinalnya rakyat sipil yang tidak memiliki hak istimewa dalam membela dirinya. Dalam kajian ini, pendekatan teori Kontrak Sosial Jean Jacques Rousseau digunakan bersama dengan metode kualitatif dengan teknik analisis konseptual dan refleksi kritis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa disparitas yang terjadi tidak sesuai dengan kontrak sosial yang telah disepakati.

This research aims to dissect the phenomenon that occurs due to the presence of inconsistent legal criminal practices that are unequal towards elitists and civilians. This research found that the inconsistency of legal criminal practices that occur in Indonesia for elitists and civilians results in problems of inequality in sentences between groups, injustice of legal officials in passing criminal sentences, and the marginalization of civilians who do not have the privilege of defending themselves. In this study, Jean Jacques Rousseau's Social Contract theory approach is used together with qualitative methods with conceptual analysis and critical reflection techniques. The results of this research show that the disparities that occur are not in accordance with the agreed social contract."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
M. Musfi Romdoni
"ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan untuk membantah pembagian adanya dua Wittgenstein karena TLP dan PI sama- sama menggunakan bahasa fenomenalis. Menurut John W. Cook, Ludwig Wittgenstein adalah filsuf yang paling banyak disalahpahami di abad ke-20 karena tidak dipahaminya neutral monism yang menjadi asumsi fundamental dalam seluruh pekerjaannya yang membuatnya menerapkan bahasa fenomenalis. Tractatus Logico-Philosophicus (TLP) dan Philosophical Investigation (PI) adalah karya yang paling monumental dari Ludwig Wittgenstein. TLP disebut Wittgenstein I karena berisi prosedur logika simbolik yang ketat, yang disebut picture theory ; dan PI sebagai Wittgenstein II karena berisi cara kerja bahasa, yang disebut language game atau permainan bahasa. Keduanya kemudian dipahami sebagai karya yang bertentangan. Untuk sampai ke tujuan tersebut, terlebih dahulu dipaparkan mengenai 2 kesalahan utama dalam membaca TLP : (1) memahami picture theory menyalin realitas secara denotatif, dan (2) memahami TLP berusaha untuk mengganti bahasa sehari-hari dengan logika ; dan 2 kesalahan utama dalam membaca PI : (1) memahami tidak lagi terdapat pembahasan logika di PI, dan (2) memahami PI sebagai legitimasi relativitas bahasa dan budaya. Penulis menemukan bahwa TLP dan PI tidak dapat dipertentangkan karena keduanya memiliki asumsi filosofis yang sama yaitu penggunaan bahasa fenomenalis. Menggunakan metode analisis kritis, teks TLP dan PI dianalisis secara kritis dan rinci untuk memperlihatkan bagaimana keduanya memiliki cara kerja yang sama. Elaborasi kritis juga dilakukan untuk memperlihatkan relasi temuan penulis dengan temuan dalam penelitian-penelitian sebelumnya mengenai Wittgenstein.

ABSTRACT
This paper aims to refute the division of the two Wittgenstein because TLP and PI are both using phenomenal language. According to John W. Cook, Ludwig Wittgenstein was the most misunderstood philosopher of the 20th century because neutral monism which was a fundamental assumption in all his work that made him apply phenomenal language is can not be understood. Tractatus Logico-Philosophicus (TLP) and Philosophical Investigation (PI) are the most monumental works of Ludwig Wittgenstein. TLP is called Wittgenstein I because it contains strict symbolic logic procedures, called picture theory ; and PI as Wittgenstein II because it contains the workings of language, which is called a language game. Both of them are then understood as contradictory works. To reach aim of this paper,first it is explained about two main errors in reading TLP : (1) understanding picture theory copying reality denotatively, and (2) understanding TLP trying to replace daily language with logic ; and 2 main errors in reading PI : (1) understanding there is no longer any discussion of logic in PI, and (2) understanding PI as the legitimacy of language and cultural relativity. The author finds that TLP and PI cannot be disputed because both have the same philosophical assumption, namely the use of phenomenal language. Using the critical analysis method, TLP and PI texts are analyzed critically and specifically to show how both have the same way of working. Critical elaboration was also carried out to show the relationship of the writers invention with the invention in previous studies concerning about Wittgenstein."
2019
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Dianali Pitasari
"Anak menjadi pembahasan utama dalam penulisan skripsi ini, dengan mengangkat kekerasan terhadap anak sebagai bentuk nyata dari permasalahan yang terjadi dalam relasi antara anak dengan orang dewasa/orang tua, terutama di dalam relasi yang bersifat paternalistik. Konsep anak yang diusung oleh Locke akan dijadikan sebagai fondasi utama dalam memahami anak sebagai subyek yang masih berkembang dan bagaimana peran orang tua di dalam masa perkembangannya dengan menjadikan akal sebagai acuan dari kedewasaan.

Child become the main discussion in this thesis, by raising issue about violence against children as a tangible form of the problem that occur in relations between children and adults/parents, especially in relation that are paternalistic. The concept of the child that Locke propose will be the foundation in understanding child as a subject who is still developing and becoming and the important role of parent in the process of development by making reason as a reference to maturity. "
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andri Septian
"Pro-kontra mengenai implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) telah menjadi diskursus sejak lama. Pemasalahannya adalah, bahwa pereduksian CSR secara total ke dalam asumsi yang murni ekonomi oleh korporasi modern sangat bermasalah karena penyelenggaraan CSR tidak bisa serta merta dilepaskan dari asumsi etisnya. Skripsi ini merupakan penyelidikan konseptual mengenai rasionalitas ekonomi dalam hubungannya dengan etika, sebagai usaha untuk memberikan garis demarkasi pada konsep CSR yang etis. Penulis menggunakan kerangka pemikiran Amartya Sen mengenai komitmen untuk menjustifikasi CSR sebagai perilaku ekonomi yang etis, lepas dari perilaku ekonomi yang self-interested.

The implementation of Corporate Social Responsibility has become a polemic over the years. The case is that CSR can not be totally reduced into a single economic assumtion, like what modern corporation does, for it’s also included an assumtion about ethic. Thus, this thesis is a conceptual inquiry about the rationality of economy in relation with the concept of ethic, as an attempt to give a demarcation line to the ethical dimension of CSR. The author uses Amartya Sen’s concept of commitment to analyze which the concept of CSR could be justified as the ethical economic-behaviour, so that regardless of the self-interested economic-behaviour."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S47061
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shelli Rachel Mei Gloria
"Skripsi ini membahas mengenai konsep komitmen sebagai kritik terhadap konsep simpati dalam melihat motif ekonomi. Teori ekonomi menempatkan self-interest sebagai satu-satunya motif atas tindakan yang dilakukan. Konsep simpati kemudian mengembangkan asumsi ini dengan memasukkan kesejahteraan orang lain sebagai motif. Namun, simpati masih jatuh pada asumsi egoism karena kesejahteraan orang lain hanya implikasi dari tindakan yang dilakukan demi pemaksimalam self-interest. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain argumentatif terhadap keterbatasan konsep yang dipakai untuk menganalisa motif ekonomi. Hasil penelitian membuktikan bahwa konsep komitmen lebih relevan dari pada konsep simpati untuk menjelaskan bahwa ada tindakan yang dilakukan terlepas dari pemaksimalan self-interest.

The focus of this study is examines the concept of commitment as a critic of the concept of sympathy as an economic motive. Economic theory places self-interest as the only motive in any economic action. The concept of sympathy develops this assumption by adding the motive to care for other persons welfare. However, because the motive to care for other peoples welfare is actually only an implication of actions taken to maximize the gains dictated by self-interest, concept of sympathy still falls under the assumption of egoism. This research, in which is of a qualitative manner, argues against the limitations of the concept used in the analysis of economic motives. It concludes that the concept of commitment is more relevant than the concept of sympathy in explaining the actions of which are done outside the motivations of self-interest.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
S56925
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kevin Maoza
"Antifragile merupakan pendekatan yang dirumuskan Nassim Nicholas Taleb untuk merespons peristiwa dengan probabilitas kecil yang memiliki dampak signifikan. Peristiwa yang disebutnya sebagai black swan ini memiliki properti yang menjadikan metode konvensional tidak dapat memprediksi kemunculan nya, sehingga Taleb menghadirkan Antifragile sebagai alternatif. Antifragile merupakan pendekatan berbasis kualitas yang mencoba menilai kerentanan suatu sistem dengan me determinasi apakah ia memiliki kualitas fragile, robust atau antifragile sebagai kualitas. Tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan pendekatan antifragile melalui konsep nonlinear. Artikulasi lebih lanjut terhadap pendekatan ini diharapkan menunjukkan dua kekurangan yang dimiliki pendekatan bersangkutan. kekurangan pertama berupa kesulitan dalam me determinasi kualitas berkaitan dengan jenis black swan yang di persepsi. kekurangan kedua ditunjukkan dengan memperlihatkan kontradiksi antara gagasan antifragile dengan konsep black swan dalam tulisan Taleb yang sebelumnya

Antifragile is an approach formulated by Nassim Nicholas Taleb as a response to an event that has small probabilities with significant impact. This event, known as the black swan, has characteristics that make it impossible for traditional methods to predict its emergence. As an alternative, Taleb presenting antifragile as a replacement. Antifragile is a quality-based approach that tries to assess system vulnerability to determinate if the system concerned had a fragile, robust, or antifragile as quality. The purpose of this article is to introduce the concept of antifragile as a respond to the black swan using asymmetry and non-linearity. Further elaboration of this view is expected to show that there are two shortcomings within the said approach. First shortfall concerned with a difficulty to determinate the quality of system related to the type of black swan perceived. The second shortfall is showed by point a contradiction between antifragile idea and concept of black swan within Taleb previous discourse."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Novian Tiffany Puspa Arum Dhini
"[Pengalaman estetis akan musik tidak selalu mengenai musik yang indah. Luigi Russolo sebagai seorang komposer Futuris abad ke 19 telah membuktikannya dengan berbagai karya noise music dan manifesto berjudul The Art of Noise. Noise music pada abad Kontemporer tumbuh menjadi aliran musik tersendiri yang banyak menuai polemik mengenai status estetisnya. Metafor di sini kemudian dijadikan wahana mensiasati pengalaman estetis intersubjektif dari noise music tersebut. Mengapa metafor dan pengalaman estetis seperti apa yang dimaksudkan? Analisis konseptual terhadap noise serta refleksi filosofis dari pengalaman estetis itu sendiri yang dilakukan dalam penulisan ini, berusaha membuka pemahaman baru mengenai musik serta estetika secara keseluruhan.;Aesthetic experience of music is not only about beautiful music. Luigi
Russolo as a Futurist composer in 19th century has proved it with many pieces of
noise music and manifesto titled The Art of Noise. In this postmodern era, noise
music then grows become a polemic genre on its aesthetic status. Here then,
metaphor being mode of inter subjective aesthetic experience from that noise
music. Why metaphor and which aesthetic experience means? The conceptual
analysis to noise with philosophical reflection from that aesthetic experience
itself, due in this writing to try to open a new perception about music also
aesthetic as a whole., Aesthetic experience of music is not only about beautiful music. Luigi
Russolo as a Futurist composer in 19th century has proved it with many pieces of
noise music and manifesto titled The Art of Noise. In this postmodern era, noise
music then grows become a polemic genre on its aesthetic status. Here then,
metaphor being mode of inter subjective aesthetic experience from that noise
music. Why metaphor and which aesthetic experience means? The conceptual
analysis to noise with philosophical reflection from that aesthetic experience
itself, due in this writing to try to open a new perception about music also
aesthetic as a whole.]"
[, Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia], 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>