Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dwiana Ocviyanti
"ABSTRAK
Pendahuluan : Penggunaan pemeriksaan triase seperti tes HPV, tes Pap serta servikografi diharapkan akan dapat membantu upaya menurunkan angka kejadian positif palsu dari tes IVA (Inspeksi Visual dengan Aplikasi Asam Asetat) sebelum dilakukan rujukan untuk pemeriksaan kolposkopi. Keuntungan dari pemeriksaan triase dibandingkan dengan mjukan langsung untuk pemeriksaan kolposkopi adalah bahwa pada tahap awal tidak perlu pasien yang dirujuk tetapi cukup sediaan atau foto hasil pemeriksaan yang dikirimkan untuk dilakukan evaluasi diagnostik lebih lanjut. Untuk negara berkembang yang mempunyai fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas seperti Indonesia harus diupayakan agar rujukan pasien hanya dilakukan pada kasus-kasus yang berisiko Tujuan penelitian ini adalah untuk mernperoleh informasi tentang efektifitas pemeriksaan dalam bentuk Nilai Prediksi Positif dan Analisis Efektititas Biaya tes Pap, tes HPV, servikografi dan gabungan dari dua atau tiga pemeriksaan tersbut sebagai pemeriksaan triase pada tes IVA positif dalam upaya mendeteksi lesi prakanker serviks.
Metode : Selama kurun waktu penelitian yaitu antara bulan Januari 2005 hingga Januari 2006 poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakartamenerima 130 orang perempuan dengan hasil tes IVA positif dan 1 orang dengan dugaan kanker serviks yang dirujuk dari 8 Puskesmas dan Klinik Bersalin di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Empat belas orang bidan dari Puskesmas dan Klinik selama kurun waktu tersebut telah melakukan pemeriksaan terhadap 1250 perempuan sesuai kriteria inklusi yaitu berusia antara 25 hjngga 45 tahun. Terhadap seluruh kasus yang dirujuk peneliti melakukan berturut-turut pengambilan sampel tes Pap, sampel tes HPV untuk pemeriksaan dengan metode Hybride Capture 2, permeriksaan servikografi dan dilanjutkan dengan kolposkopi. Bila didapatkan lesi epitel putih dilakukan biopsihistopatologi. Data hasil pemeriksaan dianalisis untuk uji diagnostik dengan komputer menggunakan program Stata 7.0. Analisis efektivitas biaya dilakukan dengan menggunakan program Treeage@.
Telitian: Pada penelitian ini didapatkan hasil tes IVA positif pada 130 perempuan (10,4%) dari 1250 perempuan usia 25-45 tahun yang diperiksa. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan hasil positif lesi prakanker pada 67 perempuan (persentasenya sekaligus menggambarkan Nilai Prediksi Positif dari pemeriksaan kolposkopi+biopsi pada kasus dengan tes IVA positif, yaitu: 51,5%). Prevalensi lesi prakanker serviks pada penelitian ini adalah 5.4% dengan prevalensi lesi derajat tinggi 0.2% yaitu sekitar 2% dari seluruh kasus IVA positif yang dirujuk. Satu kasus yang dirujuk dengan kanker serviks teryata memang positif menderita kanker serviks stadium 3B. Seluruh kasus lesi derajat tinggi (3 kasus) adalah NIS2. Hasil Nilai Prdiksi Positif yang sekaligus menggambarkan efektifitas masing-masing pemeriksaan sebagai triase pada tes tes IVA positif : tes Pap 82% (CI 95% 75%;88%) , tes HPV 58% (CI 95% 49%; 66%), servikografi 94% (CI 95% 90%;98%), tes Pap+HPV 73% (CI 95% 64%;79%), tes Pap+servikografi 86% (CI 95% 8l%;90%), tes HPV+servikografi 78% (CI 95% 72%;84%), tes Pap+HPV+servikografi 77% (CI 95% 72%;82%). Pemeriksaan triase yang lebih efektif biaya dibandingkan rujukan langsung tes IVA positif untuk kolposkopi apabila diasumsikan bahwa pasien dari dalam kota adalah servikografi, tes Pap dan gabungan tes Pap+servikografi, sedangkan bila diasumsikan pasien dari luar kota maka selumh pemeriksaan triase yang diteliti terbukti lebih efektif biaya.
Simpulan : Pemeriksaan triase dengan tes Pap, tes HPV dan servikografi maupun gabungannya dapat meningkatkan efelctivitas pemeriksaan dan efektifitas biaya tes IVA dalam mendeteksi lesi prakanker serviks.

ABSTRACT
Introduction: It was expected that the use of triage examination such as HPV test, Pap test, and cervicography could help reduce the false positive rates of VIA (Visual Inspection with Acetic Acid application) prior to making any referral for colposcopic examinations. The advantage of triage examination, in comparison with direct referral, for colposcopic examination was that at early stages patient referral was not necessary, and it was sufficient to send specimens or photos of the examination results for further diagnostic evaluations. In developing countries that possessed health facilities with limited resources, such as Indonesia, efforts must be made to ensure that patient referral was made only for high-risk cases. The aim of this study was to gather information on the effectiveness of examinations in the form of Positive Predictive Value and Cost Effectiveness Analysis of Pap test, I-[PV test, cervicography, and a combination of two or three of the above-mentioned examinations as a triage examination in positive VIA test in the effort to detect cervical precancerous lesions.
Methods: During the period of January 2005 to January 2006, Obstetrics and Gynecology clinic of Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital admitted 130 females with positive VIA test, and one female with suspected cervical cancer referred from eight Community Health Centers (Puskesmas) and Maternity Clinics in Central Jakarta and East Jakarta During that period, 14 midwives of those Community Health Centers and Maternity Clinics performed examinations in 1,250 women in accordance with inclusion criteria, i.e., ages between 25 and 45 years. In all cases that were referred, the author consecutively performed the taking of Pap test samples, HPV test samples for examinations with Hybride Capture 2 method, cervicographic examination, which was followed by colposcopy. Histopathological biopsy was performed when white epithelial lesions were found. Data of the examination results were analyzed using a computer-based diagnostic test with Stata 7_0 Stata Analysis of cost effectiveness analysis was performed using Treeage@ software.
Results: In this study, positive VIA test results were found in 130 women (10.4%) of 1,250 women undergoing examinations with ages ranging from 25 to 45 years- The results of histopathological examinations showed the positive results of precancerous lesion in 67 women (its percentage also described Positive Prediction Value of colposcopy+biopsy examinations in the cases with positive VIA tests, i.e., 5l.S%). Prevalence rate of cervical precancerous lesions in the present study was 5.4%, with a 0.2% high grade lesion prevalence of approximately 2% of the overall positive IVA cases that were referred. One case referred with cervical cancer proved to have a positive cervical cancer of 3B stage. All cases of high grade lesions (3 cases) were CIN 2. The results of Positive Predictive Value which also described effectiveness of each...
"
Depok: Universitas Indonesia, 2006
D610
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Anita Suryandari
"Ruang Lingkup dan Cara Penelitian :
Respon wanita usia reproduktif yang mengikuti program reproduksi berbantuan sangat benrariasi mulai dari tidak ada respon, respon Iemah sampai menyebabkan sindrom hiperstimuiasi. Hiperstimulasi dapat menyebabkan kompiikasi serius seperti terjadinya pembesaran ovarium, ekstravasasi cairan pada rongga perut sehingga teriadi ascites, hypovolemia dan hemoconcentration. Saat ini diketahui ada dua polimorfisme pada gen FSHR posisi 307 (Alanin atau Threonin) dan posisi 680 (Serin atau Asparagin). Studi pada wanita Jerman yang mengikuti program fertilisasi in vitro memperlihatkan bahwa polimorfisme gen FSHR membentuk 2 alel yaitu Threonin-Asparagin (TN) dan Alanin Serin (AS) sehingga membentuk 3 variasi alel FSHR. Studi tersebut juga memperlihatkan bahwa genotip FSHR merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan respon ovarium wanita Jerman terhadap stimulasi FSH. Tuiuan peneiitian ini adalah untuk mengetahui : a). distribusi variasi alel FSHR pada wanita indonesia dan wanita dan populasi Arab, Suriname, Beianda, dan Asia Tenggara kecuali Indonesia b). perbedaan distribusi genotip FSHR pada wanita normal dengan wanita anovulasi normogonadotropik (WHO tipe-2), c). distribusi genotip dan frekuensi alel FSHR pada wanita Indonesia yang mengikuti program ICSI, d). hubungan antara genotip FSHR dengan kadar basal FSH dan dosis FSH eksogen yang dibutuhkan untuk memicu superovulasi pada wanita Indonesia dan e). perbedaan aktivitas cAMP secara in vitro pada sel granulosa dengan genotip FSHR (posisi 680) yang berbeda setelah distimulasi FSH eksogen. Penelitian dilakukan di Institute of Reproductive of Muenster University, Germany. di Departemen Biologi Kedokteran FKUI dan di NAMRU-2 Jakarta. Analisis gen FSHR dilakukan dengan teknik PCR-RFLP dan PCR-SSCP.
Hasil :
Penelitian memperlihatkan bahwa pada wanita Indonesia dan wanita dari populasi lain (Arab, suriname, Belanda dan Asia Tenggara kecuali Indonesia), gen FSHR membentuk 4 alel FSHR yaitu TN, AS, TS dan AN sehingga terbentuk 9 kombinasi alel gen FSHR. Terdapat perbedaan kadar basal FSH dengan polimorlisme gen FSHR pada wanita anovulasi (posisi 680) namun tidak ditemukan perbedaan dosis FSH eksogen yang diperlukan untuk induksi ovulasi pada wanita anovulasi tersebut. Pada populasi wanita Indonesia yang mengikuti program ICSI tidak ditemukan adanya perbedaan kadar FSH basal dan dosis FSH eksogen yang diperlukan untuk memicu superovulasi bila wanita tersebut dikelompokkan berdasarkan genotip FSHR pada posisi 307 (p> 0,05 Kruskal Wallis test). Terdapat perbedaan kadar FSH basal dan dosis FSH eksogen yang diperlukan untuk memicu superovulasi bila wanita tersebut dikelompokkan berdasarkan genotip FSHR pada posisi 680 (p< 0,05, Kruskal Wallis test). Dengan demikian genotip FSHR pada posisi 680 dapat dijadikan sebagai faktor prediksi yang dapat dipertimbangkan dalam menentukan dosis FSH eksogen untuk superovulasi selain faktor umur dan kadar FSH basal. Terdapat perbedaan aktivitas CAMP pada sei granulosa dengan genotip'FSHR (posisi 680) yang berbeda setelah distimulasi dengan FSH eksogen. Hal ini diperlihatkan dengan adanya nilai absorban cAMP yang lebih rendah pada genotip SS dibandingkan pada genotip SN dan NN.
Kesimpulan :
a). Polimorlisme gen FSHR pada populasi wanita Indonesia dan populasi Arab, Suriname, Belanda dan Asia Tenggara kecuali Indonesia membentuk 9 kombinasi alel gen FSHR. b).terdapat perbedaan distribusi genotip FSHR pada wanita normal (kontrol) dan wanita anovulasi normogonadotropik. c). terdapat hubungan antara genotip FSHR (680) dengan kadar FSH basal dan dosis FSH eksogen yang diperlukan untuk induksi superovulasi pada wanita Indonesia yang mengikuti program lCSl. d) terdapat perbedaan aktivitas cAMP secara in vitro pada sel granulosa dengan genotip FSHR (posisi 680) yang berbeda setelah distimulasi dengan FSH eksogen.

Back Ground and Method :
It has been known that the response to FSH stimulation varies broadly among women undergoing assisted reproduction. The variations of response range from no response! extremely low response to one leading to hyperstimulation syndrome. Hyperstimulation may lead to serious complication manifested in ovarian enlargment and extravasation of fluid to the abdominal cavity resulting in ascites, hypovolemia and hemoconcentration. Recently, two polymorphism of the FSH receptor gene have been identified in position 307 (Alanin or Threonin) and position 680 (Serin or Asparagin). The polymorphisms of FSHR have been known so far where the sensitivity of FSHR is determined by the allelic combination involved. Previous study indicated that the FSHR genotype is one of the critical factors for ovarian response to FSH stimulation. ln this study, we analysed a). frequency distribution of the two FSHR polymorphism in women of different ethnic origin (Arabian, Suriname and Netherland and South of Asia except Indonesian), b). frequency distribution of the two FSH receptor polymorphism in normoovulatory controls and normogonadotropik anovulatory women, c). correlation between the observe FSHR genotype and the response to exogenous FSH for superovulasi inducbon in women undergoing assisted reproduction, d) differences mediated cAMP in granulose cells that stimulated exogenous FSH. Analysed of FSHR gene polymorphism by PCR-RFLP and PCR-SSCP in institute of Reproductive of Muenster University, German, Department of Medical Bioiogy, University of indonesia and Naval Medical Research Unit.
Results :
Polymorphism the FSHR gene in Indonesian women and different population origin (Arabian, Suriname, Netherland and South of Asia except Indonesian) given 9 variation of FSH receptor alel. There were statistically significant differences among patients with different subtypes of FSHR variants for the polymorphism at position 307 and 680 in the FSH basal levels and there were no statistically significant differences among patients with different subtypes of FSHR variants for the polymorphism at position 307 and 680 in the temt of FSH doses to stimulate ovulation. There were no statistically significant differences among patients with different subtypes of FSHR variants for the polymorphism at position 307 in the FSH basal levels and FSH doses to stimulate superovulation in Indonesian women that undergoing assisted reproduction (p> 0,05, Kruskal-Wallis test). There were statistically significant differences among patients with different subtypes of FSHR variants for the polymorphism at position 680 in the FSH basal levels and FSH doses to stimulated superovulation in Indonesian women that undergoing assisted reproduction (p< 0,05, Kruskal-Wallis test). This study indicated that the polymorphism of FSHR gene in position 680 can determinated FSH doses to stimulate superovulation beside age and FSH basal levels. There were differences activity of the cAMP in different FSH genotype in granulosa cells after stimulation of FSH exogenous. The SS genotype has cAMP less than SN and NN genotypes.
Conclutions :
a) FSHR gene polymorphism in Indonesian, Caucasian, Arabian, Suriname and South of Asian women except Indonesian giving rise nine FSHR alel. b) The distribution of both polymorphisms differed significantly between anovulatory patients and nomio-ovulatory controls. c). The distribution of FSHR polymorphisms in position 30? and 680 differed significantly in Indonesian women undergoing ICSI programme in Bunda Hospital, Jakarta. d). The FSH receptor polymorphisms combination SS was associated with higher basal FSH levels and the amount of exogenous FSH needed to induce super ovulation compared SN and NN variants. e). There were differences activity of the CAMP in different FSH genotype in granulose cells after stimulation of FSH exogenous. The SS genotype has cAMP less than SN and NN genotypes.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
D614
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Florentina Sustini
"Demam nifas adalah peningkatan suhu badan yang terjadi paling sedikit dua hari berturut-turut atau lebih pada waktu nifas (42 hari pascapersalinan), kecuali 24 jam pertama pascapersalinan. Demam nifas merupakan manifestasi adanya infeksi nifas dan sering digunakan untuk memperkirakan besarnya angka infeksi nifas. Infeksi nifas merupakan bagian dari infeksi maternal. Infeksi maternal menempati urutan kedua sebagai penyebab obstetri langsung dari kematian maternal. Demam nifas diperkirakan menyebabkan 5%-10% kematian maternal. Jika demam nifas sebagai manifestasi dari infeksi nifas tidak teridentifikasi secara dire dan diobati secara tepat maka dapat berkembang menjadi sepsis nifas dan dapat berakibat fatal. Sebagai masukan, untuk mencegah terjadinya demam nifas dan infeksi nifas, perlu diketahui faktor risiko terjadinya demam nifas tersebut.
Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kebiasaan ibu sewaktu dan pascapersalinan terhadap kejadian demam nifas.
Penelitian dilakukan di Kecamatan Keruak, Kabuapten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat, dengan alasan angka kelahirannya tinggi, merupakan daerah kritis jika dilihat dari segi geografis, dan keadaan sosial ekonomi masyarakatnya. Selain itu, terdapat kebiasaan yang unik, yaitu sewaktu melahirkan ibu dalam posisi jongkok, pengasapan ibu pascapersalinan, dan kompres panas pada vagina ibu pascapersalinan, yang diduga sebagai faktor risiko kejadian demam nifas, di samping faktor risiko yang lain.
Hipotesis yang diajukan adalah kejadian demam nifas dipengaruhi oleh posisi ibu sewaktu melahirkan, pengasapan ibu, dan kompres panas pada vagina; serta dipengaruhi pula aleh variabel-variabel kontrol. Variabel-variabel kontrol yang dimaksud adalah umur ibu, parilas, pendidikan ibu, status ekanami, periksa kehamilan, imunisasi tetanus loksaid, anemia ibu sewaktu hamil, gangguan kehamilan, penggunaan aba! pencegah demam sewaktu handl, keluban pecah secara dim, periksa dalam, jenis parsalinear, lama persalinan, tennbrrni terlinggal, luka jalan lahir, perdarahan sewaktu dan pascapersalinan, penggunaan abat pencegah demam sewaktu dan pascapersalinan, jenis penolong persalinan, kebersihan alai penolong persalinan, penolong persalinan mencuci atau tidak tangannyanya dengan sabun sebelum menolong persalinan, mobilisasi ibu, kebersihan diri ibu, jenis tempest persalinan, jenis lantai tempest persalinan, dan alas untuk persalinan.
Janis desain penelitian ini adalah observasional analitik kohor prospektif dan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan secara wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Populasi adalah ibu yang melahirkan di Kecamatan Keruak, yang terpajan dan tidak terpajan dengan pajanan posisi ibu melahirkan berbaring, pengasapan ibu, dan kompres panas pada vagina. Sampel diambil dari ibu melahirkan yang dapat diobservasi dan bertempat di Kecamatan Keruak daratan. Observasi dimulai dan ibu hamil 7 bulan sampai dengan masa nifas (42 hari pascapersalinan). Observasi dilakukan minimal satu kali sewaktu hamil trimerter ketiga oleh bidan. Setelah ibu melahirkan, observasi suhu badannya dilakukan setiap hari oleh kader sampai dengan 10 hari pertama pascapersalinan, kemudian dilanjutkan oleh anggota keluarga yang ditunjuk sampai dengan 42 hari pascapersalinan. Petugas kesehatan supervisi dua kali selama masa nifas, pada hari ke 11 dan hari ke 43 pascapersalinan. Sampel untuk penelitian kuantitatif adalah ibu nifas, ibu atau ibu mertua dari ibu nifas diambil secara random. Sampel untuk tokoh agama, dan dukun bayi diambil secara purposive.
Penelitian di lakukan selama satu tahun, pengumpulan data selama 6 bulan, Variabel dependennya adalah demam nifas, yang dibagi menjadi 3 kategori yaitu (1) ibu sehat, (2) menderita demam nifas yang onsetnya dalam waktu 10 hari pertama pascapersalinan, dan (3) menderita dernam nifas yang onsetnya dalam kurun waktu hari ke-11--42 pascapersalinan,Variabel independennya adalah posisi ibu sewaktu melahirkan, pengasapan ibu, kompres panas pada vagina, dan variabel lain seperti yang dinyatakan pada hipotesis. Analisis data dilakukan dengan regresi logistik politomus ganda dengan batas kemaknaan uji statistik sebesar 0.05.
Dari pengumpulan data didapatkan 1.077 persalinan, yang dapat diobservasi secara lengkap adalah 1.004 orang ibu. Risiko insiden demam nifas sebesar 22.7%, yang 46% diantaranya secara klinis merupakan infeksi nifas. Pada analisis regresi ganda politomus dan analisis hubungan kausal didapatkan bahwa kejadian demam nifas, yang onsetnya dalam waktu 10 hari pertama pascapersalinan dipengaruhi oleh (1) ibu melahirkan dengan posisi berbaring, risiko relatifnya (RR) sebesar 1.90 dan population attributable risk (PAR) sebesar 12%, (2) ibu meaakukan pengasapan sewaktu nifas, RR sebesar 2.17 and PAR sebesar, (3) gangguan kehamilan sehari sebelum persalinan, RR sebesar 3.57 dan PAR sebesar 4%, (4) anemia selama keha. nilan, RR sebesar 1.78 dan PAR sebesar 33%, (5) lama persalinan lebih dari 24 jam, RR sebesar 5.61 dan PAR sebesar 4%, (6) penolong persalinan tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum menolong persalinan, kR sebesar 3.62 dan PAR sebesar 68%, (7) ibu tidak menggunakan obat pencegah demam selama persalinan dan nifas, RR sebesar 2,78 dan PAR sebesar 56%, dan (8) lantai tempat persalinan terbuat dari tanah, RR sebesar 1.87 dan PAR sebesar 39%.
Demam nifas yang onsetnya dalam waktu 11 sampai dengan 42 hari pascapersalinan dipengaruhi oleh (1) ibu melahirakan dengan posisi berbaring, RR sebesar 2.67 dan PAR sebesar 19%, (2) ibu tidak melakukan kompres panas pada vagina, RR sebesar 2.82 dan PAR sebesar 58%, (3) anemia selama kehamilan, RR sebesar L86 dan PAR sebesar 34%, (4) penolong persalinan tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum menolong persalinan, RR sebesar 9.27 dan PAR sebesar 87%, (5) ibu tidak menggunakan obat pencegah demam selama persalinan dan nifas, sebesar 2.78 dan PAR sebesar 57%.
Dari studi kualitatif didapatkan perbedaan kepercayaan dan persepsi antara petugas kesehatan dengan masyarakat tentang penyebab kesakitan maternal termasuk demam nifas. Masyarakat percaya bahwa penyebab kesakitan maternal adalah penyebab supranatural (seperi roh jahat, guna-guna), makanan tertentu (berlemak, pisang, apel, ikan), kebiasaan yang salah, bibit penyakit, dan fisik (jatuh). Makanan `pangs' (jahe, bawang) berpengaruh baik terhadap kesehatan. Alasan mereka melahirkan dengan posisi berjongkok karena dapat mempercepat persalinan, kompres panas pada vagina untuk mengurangi rasa saldt dan pembengkakan pada vagina, pengasapan ibu waktu nifas dapat menghilangkan bau ands, mempercepat berhentinya perdarahan dan pemulihan kesehatan ibu.
Kesimpulannya adalah (1) insiden demam nifas masih tinggi (22.7%), (2) sekitar 46% demam nifas secara klinis diidentifikasi sebagai infeksi nifas, (3) diantara 28 variabel indeperiden hanya 9 variabel yang terbukti berpengaruh pada kejadian demam nifas, (4) ibu melahirkan dengan posisi berjongkok dan kompres panas pada vagina waktu pascapersalinan bermanfaat bagi kesehatan ibu, (5) ibu melakukan pengasapan waktu nifas berpengaruh tidak baik terhadap kesehatan ibu, (6) adanya perbedaan kepercayaan dan persepsi tentang penyebab demam nifas antara petugas kesehatan dan masyarakat merupakan informasi penting untuk masukan intervensi di masa yang akan datang.
Saran sesuai urutan prioritas intervensi adalah (1) peningkatan perawatan persalinan melalui pendidikan kesehatan kepada masyarakat dan kursus penyegar bagi petugas kesehatan, (2) memperhatikan sosiobudaya melalui diskusi dengan tokoh masyarakat dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat, (3) peningkatan perawatan kehamilan melalui pendidikan kesehatan kepada masyarakat dan kursus penyegar bagi petugas kesehatan, dan (4) pengembangan ekonomi keluarga melalui kerjasama dengan instansi lain dan lembaga swadaya masyarakat terkait dalam peiatihan ketrampilan dan pinjaman modal kerja bergulir untuk meningkatkan daya beli masyarakat dalam meniiih dan membayar tempat persalinan yang memadai.

Puerperal fever is the increase of the bodily temperature at least two or more consecutive days during puerperal period, except the first 24 hours postpartum. Puerperal fever is the manifestation of puerperal infection and usually is used to predict the puerperal infection rate. It is a part of maternal infection. The maternal infection is the second cause of direct obstetrics on maternal mortality. Approximately 5%--10% of maternal mortality is caused by puerperal fever. If puerperal fever as an infection manifestation could not be identified and treated early, the infection would develop into sepsis and fatality.
The objective of this study is to identify the influence of the behavior of women during deliveries and postpartum on Puerperal Fever.
This study was conducted in Keruak Subdistrict, East Lombok District, West Nusa Tengara Province, where the birth rate was high. This sub district is a critical area, viewed from the aspects of geography and socioeconomic. Beside, there were unique community behaviors as for instance mothers' deliveries were carried out in squatting position, postpartum mothers conducted `smoking' themselves, and hot compress for their vaginas, all of which were predicted as the risks of puerperal fever.
- The proposed hypothesis is that puerperal fever incidence was influenced by the mother's position during delivery, `smoking', and hot compress for vagina in the puerperal period, and other variables as age, parity, education, economic status, antenatal care, tetanus toxoid immunization, anemia during pregnancy, pregnancy disorders, drug using for fever prevention in pregnancy, premature rupture membrane, vaginal touche, the kind of delivery process, duration of delivery, retentio placentae, birth canal injury, excessive bleeding during and postpartum, drug using for fever prevention in delivery and postpartum period, the kind of birth attendant, the hygiene of delivery instruments, birth attendant's hand wash with soap or none of it before attending delivery, postpartum mobilization, postpartum personal hygiene, the kind place of delivery, the kind of the floor of the place of delivery , and the mats for delivery.
The study design was an observational analytic prospective cohort study and a qualitative study. The qualitative study was conducted by in-depth interview and focus group discussion. The populations were mothers, who delivered in the Keruak Subdistrict and that were exposed and unexposed by lying delivery position, which `smoked' themselves, and used hot compress on their vaginas. The samples were derived from a part of the population, who agreed to be observed, and lived in Keruak Subdistrict, excluding the small island areas. Women in their seventh month pregnancy were observed until childbirth period (42 days postpartum). Midwife observed the pregnant women, at least once during the third trimester of pregnancy. After delivery, the mothers? bodily temperature were examined by cadre every day until 10 days, and then continued by the family member until 42 days postpartum, the health providers supervised the cadre and the member of family on the 11" and 42' days postpartum. The samples of qualitative study were postpartum mothers, mothers or mother in law of postpartum mothers that were selected at random. The samples of religious leaders and traditional birth attendants were selected purposively.
This study was conducted in one year; the data collection was in six months. The dependent variable was puerperal fever that was categorized into 3, they were (1) healthy mother, (2) puerperal fever of which the onset was in the first ten days postpartum, and (3) puerperal fever, which the onset was in the 11'' until 42°° days postpartum. The independent variables were mother's position during delivery, `smoking' and hot compress for vagina, and others as stated in the hypothesis. The data analysis was conducted by multiple polytomous logistic regression. The limit of the significance of the test was 0.05.
During the six month study, 1.077 deliveries data was collected, but just 1.004 postpartum mothers were observed completely. The incidence risk of puerperal fever was 22.7%, of which about 46% was identified as clinical puerperal infection. The multiple polytomous logistic regression analysis and the causal relationship revealed that the puerperal fever of which the onset was in the first ten days postpartum was influenced by (1) delivery in lying position with relative risk (RR) of 1.90 and population attributable risk (PAR) of 12%, (2) postpartum smoking for vagina with RR of 2.17 and PAR of 44%, (3) pregnancy disorder in one day before delivery with RR of 3.57 and PAR of 4%, (4) anemia during pregnancy with RR of 1.78 and PAR of 33%, (5) duration of delivery longer than 24 hours with RR of 5.61 and PAR of 4%, (6) birth attendant's negligence to hand wash with soap before attending the delivery with RR of 3.62 and PAR of 68%, (7) no drugs used by mothers to prevent fever during delivery and postpartum period with RR of 2.78 and PAR of 56%, and (8) the floor of place of delivery made of soil, with RR of 1.87 and PAR of 39%.
The puerperal fever of which the onset in the 11 a, until 42 "a days postpartum was influenced by (1) delivery in lying position with RR of 2.67 and PAR of 19%, (2) without hot compress for vagina with RR of 2.82 and PAR of 58%, (3) anemia during pregnancy with RR of 1.86 and PAR of 34%, (4) birth attendant's negligence to hand wash with soap before attending the delivery with RR of 9.27 and PAR of 87%, (5) no drugs used by mothers to prevent fever during delivery and postpartum period with RR of 2.78 and PAR of 57%.
The result of the qualitative study showed the difference in trust and perception between the health providers and the community about the cause of maternal morbidity, including puerperal fever. The people believe that the causes of maternal morbidity were supernatural being (as demon, curses), certain food (fatty food, banana, pineapple, or fish), and physical accident. The hot food (ginger or onion) promotes good health.
We conclude that (1) the incidence of puerperal fever was still high (22.7%), (2) about 46% of puerperal fever could be identified as an infection, (3) among 28 independent variables just nine of them significantly influenced the puerperal incidence, (4) mother's lying position during delivery and postpartum mother's hot compress for vagina were beneficial for mother's health, (5) the smoke for vagina habit of postpartum mother gave bad influence on mother's health, (6) the difference in trust and perception on the cause of maternal morbidity between health provider and the community was an important information as input for future intervention.
The suggestions for intervention according to priorities are (1) increasing the delivery care through health education for community and refreshing course for health providers, (2) paying attention on socioculture through discussion with community leaders and health education for community, (3) increasing antenatal care through health education for community and refreshing course for health providers, and (4) developing the family economy through cooperation with other institution and NGC?s in skill training and rotatory small business capital loan to enhance the community capability to pay and choose the adequate place of delivery.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2000
D539
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library