Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 122 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Athisya Putri Nadifa
"Instagram adalah salah satu platform media social paling popular dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Tidak hanya memiliki pengguna yang sangat banyak, Instagram sudah menjadi tempat untuk periklanan. Instagram sendiri mempunyai algoritma yang unik, mendukung merek untuk menyebarkan konten terbaik mereka untuk menarik perhatian audiens. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjawab bagaimana karakteristik konten Instagram yang paling menarik bagi penggunanya. Penelitian ini berjalan berdasarkan tiga konsep teori, termasuk pemasaran konten, keterkaitan merek, dan konten Instagram. Untuk mencapai tujuan, penelitian ini menggunakan metodologi studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Wawancara dengan 4 informan serta observasi posting Instagram juga dilakukan untuk melengkapi penelitian ini. Sebagai akhir, penelitian ini menemukan elemen-elemen penting yang menarik perhatian lebih tinggi bagi merek untuk menaikan engagement.
Instagram has become one of the most popular social media platform over the last five years. Not only it has one of the largest social media users, it also has transformed itself as an advertising platform. Instagram itself has a unique algorithm which encourages brands to deliver the best content that can attract the most attention from the audience. Thus, this research aims to answer the question of what is the best characteristics of content that interest Instagram users the most. This research is based on three theoretical concepts, which includes content marketing, brand engagement, and Instagram content. To achieve the objective, this research uses study case methodology with qualitative approach. Interviews with 4 informants and the study of the platform itself are conducted to complete the research. As a result, there are detailed elements of characteristic that have high engagement."
2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Audrie Ghaissani
"Tulisan ini ditujukan untuk menilai apakah iklan yang menonjolkan pesan nostalgia dalam narasinya telah memenuhi prinsip rasionalitas naratif dan memiliki elemen storytelling yang baik. Konsep yang digunakan dalam artikel adalah Teori Paradigma Naratif dari Walter Fisher dan tujuh pilar storytelling yang disusun oleh Ffion Lindsay. Dengan menggunakan metode studi evaluasi pada video iklan `LINE AADC 2014: Mini Drama` oleh LINE INDONESIA, penelitian memperlihatkan komponen naratif dan storytelling yang digunakan dalam menyampaikan pesan. Storytelling digunakan untuk membangkitkan perasaan nostalgia masyarakat terhadap iklan dan membentuk persepsi positif atas produk. Hasil penelitian menemukan bahwa LINE telah berhasil menerapkan seluruh komponen naratif dan storytelling dengan baik dan konsisten.

This paper is intended to assess whether nostalgia accentuated advertisement in its narrative has qualified to meet the principles of narrative rationality and possesses good storytelling elements. The concept used in this article are The Narrative Paradigm by Walter Fisher and Seven Pillar of Storytelling from Ffion Lindsay. By using evaluation study as research method to video ad `LINE AADC 2014: Mini Drama` from LINE INDONESIA, the result of this paper showed narrative components and storytelling applied in delivering message. The use of storytelling in advertising aims to evoke the feelings of nostalgia among the audience and forms the positive perception about product. The result of this paper find that LINE INDONESIA has successfully applied all narrative component and implements storytelling with good consistency."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Savindraputra Muksan
"Makalah ini menganalisis fungsi dan aktivitas petisi online. Fungsi dan aktivitas ini dianalisis berdasarkan dua petisi Change.org yang sukses di Indonesia, yaitu `# TolakRUUPermusikan` sebagai Studi Kasus 1 dan `Presiden Jokowi, Jangan Setuju RKUHP di Sesi Paripurna DPR` sebagai Studi Kasus 2. Kedua studi kasus dijelaskan terlebih dahulu, dan ini dilakukan secara deskriptif. Setelah itu, makalah ini menggunakan studi kasus berganda dan embedded. Unit analisis embedded pertama dimulai dari tingkat individu, tingkat organisasi sampai tingkat sistem, sedangkan, unit analisis embedded kedua dikategorikan oleh aktivitas online dan offline. Makalah ini menemukan bahwa fungsi dan kegiatan studi kasus memiliki kesamaan dan perbedaan. Terlepas dari kesamaan dan perbedaan ini, penelitian ini menyimpulkan bahwa petisi online tetap menjadi alat penting untuk advokasi kebijakan, meskipun mereka digolongkan sebagai taktik gerakan sosial berbasis internet dengan ambang batas rendah.
This research paper analyses the functions and activities of online petitions. These functions and activities are analysed based on two successful Indonesian Change.org petitions, namely `#TolakRUUPermusikan` as Case Study 1 and `Presiden Jokowi, Jangan Setujui RKUHP di Sidang Paripurna DPR` as Case Study 2. Both case studies are examined individually first, and this is done in a descriptive manner. An embedded, multiple case study research is then utilised. The first embedded unit of analysis starts from the individual-level, the organisational-level to the system-level, while the second embedded unit of analysis are categorised by online and offline activities. The research paper finds that both case studies` functions and activities possess similarities and differences. Despite these similarities and differences, the research concludes that online petitions remain an important tool for policy advocacy, even though they are classified as a low threshold internet-based social movement tactic."
2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Raditya Bagas Syaputra
"Ketatnya persaingan industri perfilman Indonesia menuntut pembuat film untuk melakukan promosi yang lebih gencar terhadap filmnya. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mempromosikan film adalah melalui social media marketing. Media sosial seperti Twitter dapat memberikan sarana bagi para pembuat film untuk mengundang perhatian serta minat khalayak luas untuk menyaksikan film yang mereka buat. Penelitian ini menganalisis pemasaran melalui media sosial yang dilakukan oleh film Mencuri Raden Saleh pada akun Twitter resmi @mrs_film. Analisis tersebut dilakukan berdasarkan empat elemen pemasaran di media sosial yang digagas oleh Susan Gunelius, yaitu: (1) Content creation; (2) Content sharing; (3) Connections; dan (3) Community Building. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode case study dengan rancangan single case study. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur. Hasil analisis mengungkapkan bahwa penggunaan Twitter oleh film Mencuri Raden Saleh sebagai salah satu bentuk strategi social media marketing merupakan sarana yang efektif dalam mempromosikan film tersebut. Studi selanjutnya direkomendasikan untuk meneliti penggunaan empat elemen kesuksesan strategi social media marketing oleh Susan Gunelius melalui media sosial yang berbeda-beda di setiap elemennya, sebab dampak masing-masing media sosial terhadap pemasaran film bersifat unik dan tergantung dari media sosial yang digunakan.

The tight competition in the Indonesian film industry requires filmmakers to carry out more vigorous promotion of their films. One strategy that can be done to promote films is through social media marketing. Social media such as Twitter can provide a means for filmmakers to attract the attention and interest of a wide audience to watch the films that they produced. This study analyses marketing through social media carried out by the film Mencuri Raden Saleh on the official Twitter account @mrs_film. The analysis was conducted based on four elements of marketing on social media initiated by Susan Gunelius, namely: (1) Content creation; (2) Content sharing; (3) Connection; and (3) Community Development. The method used in this research is a case study method with a single case study design. The data collection technique used is literature study. The results of the analysis reveal that the use of Twitter by the film Mencuri Raden Saleh as a form of social media marketing strategy is an effective means of promoting the film. Further studies are recommended to examine the use of the four elements of successful social media marketing strategy by Susan Gunelius through different social media in each element,"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Azizah
"Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk retorika visual dan persuasi politik yang dilakukan Prabowo-Gibran dengan memanfaatkan artificial intelligence dalam pembuatan kontennya. Retorika visual dianalisis melalui pendekatan analisis wacana kritis yang terdiri dari analisis struktur naratif, analisis makna interaktif, dan analisis komposisi. Sementara persuasi politik dianalisis melalui pendekatan fungsional sistemik multimodal yang mencakup metafungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual. Temuan penelitian memperlihatkan gambar yang dibuat dengan artificial intelligence dalam konten kampanye Prabowo-Gibran memberikan persuasi politik terkait citra pemimpin yang dekat dengan rakyat, sehat dan energik, mudah diakses, dan muda serta modern yang terlihat melalui pemilihan aktivitas berlari dan berjalan santai serta pemilihan warna latar biru muda dan kata-kata pendukung di sekitar foto utama figur Prabowo seperti tagar #DekatPrabowoGibran, “foto ber2”, dan “lewat foto ber2.ai kamu bisa langsung dapat foto ber2 Pak Prabowo sambil jalan santai atau lari pagi”. Penggunaan AI dalam konten kampanye bisa menjadi alat yang mempermudah pembuatan konten sekaligus menjadi sarana persuasi politik.
This study aims to analyze the forms of visual rhetoric and political persuasion employed by Prabowo-Gibran using artificial intelligence in creating their campaign content. Visual rhetoric is analyzed through a critical discourse analysis approach, comprising narrative structure analysis, interactive meaning analysis, and compositional analysis. Meanwhile, political persuasion is analyzed using the systemic functional multimodal approach, encompassing the ideational, interpersonal, and textual metafunctions. The research findings show that the images created using artificial intelligence in Prabowo-Gibran's campaign content exert political persuasion related to the leader's image as close to the people, healthy and energetic, easily accessible, young, and modern. This is evident through the choice of running and walking activities, the selection of a light blue background color, and the supporting words surrounding the main figure of Prabowo in the photo, such as the hashtag #DekatPrabowoGibran, "foto ber2" (photo with two people), and "through foto ber2.ai you can get a photo with Pak Prabowo while walking or jogging." The use of AI in campaign content can be a tool that facilitates content creation and serves as a means of political persuasion."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Lintang Gayatri Nur Maharani
"Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat social media engagement dan faktor-faktor penyebab tingkat social media engagement yang berbeda pada konten cross-posting Indomie Ramen Series yang diunggah di Tiktok, Instagram, dan Facebook. Faktor-faktor perbedaan social media engagement dianalisis berdasarkan jenis konten, jenis media konten, waktu posting, dan karakteristik platform. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus dengan desain penelitian studi kasus tunggal. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa konten cross-posting pada Tiktok, Instagram, dan Facebook menghasilkan tingkat social media engagement yang berbeda-beda. Ditemukan terdapat perbedaan pada faktor interaktivitas, di mana admin Instagram aktif membalas komentar pengguna, sedangkan di Tiktok dan Facebook admin tidak terlihat menanggapi. Selain itu, ditemukan pula faktor karakteristik platform menjadi faktor signifikan dalam perbedaan social media engagement. Indomie perlu menciptakan konten yang relevan dengan karakteristik platform Instagram dan Facebook untuk memaksimalkan social media engagement.
The purpose of this study is to analyze social media engagement rates and the factors that influence various levels of social media engagement rates on cross-posted content from the Indomie Ramen Series uploaded on Tiktok, Instagram, and Facebook. The various levels of social media engagement are analyzed based on content type, interactivity, posting time, and platform characteristics. The research method is used is a case study with a single case study design. The findings reveal that crossposted content on Tiktok, Instagram, and Facebook achieves different levels of social media engagement. There are differences in interactivity, on Instagram admin actively responds to user comments, while on Tiktok and Facebook are not. Furthermore, platform characteristics factors are found to be significant in the differences in social media engagement. Indomie needs to create content that is relevant to the characteristics of Instagram and Facebook to maximize social media engagement."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Abdurahman Isfiuno
"ABSTRAK
Fenomena LGBT di dunia sudah kental terasa, banyak dari Negara besar sudah membebaskan warganya untuk menikah dengan sesama jenis. Indonesia sendiri berada diperingkat 3 terendah sebagai Negara yang toleran terhadap kaum LGBT, banyak kaum LGBT di Indonesia yang akhirnya terpaksa menikah dengan lawan jenis, hal tersebut mereka lakukan karena faktor lingkungan dan stereotipe yang ada di Indonesia akan LGBT, banyak masyarakat yang melihat dari kacamata agama dan mengatakan bahwa mereka adalah pendosa. Beberapa dari mereka ada yang takut untuk mengungkapkan namun beberapa berani atau yang biasa disebut fase coming out, dimana mereka telah jujur terhadap orientasi seksualnya dan telah membeberkannya ke publik, salah satunya adalah Dena Rachman yang merupakan seorang transgender. Dena dianggap berhasil dalam mem-branding dirinya sehingga membuat komentar negatif yang berada di kolom komen menjadi berkurang serta meningkatkan komen positif, bahkan beberapa dari netizen membela Dena saat banyak komen negatif di kolom komentarnya. Tulisan ini akan melihat fenomena yang dialami Dena Rachman sebagai salah satu kaum LGBT dalam sudut pandang ilmu komunikasi, khususnya teori personal branding dengan menggunakan konten-konten yang diunggah Dena Rachman pada media sosialnya sebagai medium acuan.

ABSTRACT
LGBT is one of phenomenon that has lots of controversials. Few countries have legalized same sex mariage. One of the greatest researcher in this world said that Indonesia is in the bottom three for tolerance of LGBT, there is a few negative stereotipe of LGBT in Indonesia, people seems very judgemental when they are talking about LGBT, they think that LGBT are the worst sin that history ever made. Some of LGBT in Indonesia are scared for telling the truth about their sexual orientation, but some of them are brave enough to tell to the public the truth about their sexual orientation, one of part of LGBT is Dena Rachman as known as a successful transgender. Dena Rachman considered as a succesful public figure in his social media, he has 216k followers on Instagram, he makes people who writes negative comments decreasing and increasing positive comments on his Instagram. This paper analyze the phenomenon experienced by Dena Rachman in communication theory point of view, personal branding theory in particular, using the uploaded content by Dena Rachman himself on his social media as the medium of reference."
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila Khansa
"ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai apakah iklan yang digunakan untuk membangun
kembali reputasi perusahaan setelah mengalami krisis apakah sudah memenuhi prinsip dan
unsur storytelling dengan baik. Konsep yang dipakai adalah rasionalitas naratif dari Walter
Fisher dan unsur storytelling dari Ffion Lindsay. Rasionalitas naratif terdiri dari dua prinsi
yaitu koherensi (coherence) dan keterapan (fidelity). Sedangkan unsur storytelling terdiri dari
tujuh poin yakni emosi (emotion), alur (plot), struktur (structure), suara (voice), hero, villain,
dan konflik (conflict). Metode penelitian yang digunakan yaitu riset evaluasi. Iklan yang
dievaluasi yakni iklan Blue Bird Berbenah untuk Berubah milik PT. Blue Bird Tbk. Hasil
penelitian memperlihatkan secara keseluruhan iklan Blue Bird Berbenah untuk Berubah
telah memenuhi prinsip dan unsur storytelling dengan baik.

ABSTRACT
The purpose of this study is to assess whether the advertisement used to rebuild the company s
reputation after experiencing a crisis has met the principles and elements of storytelling well.
The concept used is narrative rationality from Walter Fisher and storytelling elements from
Ffion Lindsay. Narrative rationality consists of two principles, namely coherence and fidelity.
While the storytelling element consists of seven points namely emotion, plot, structure, sound,
hero, villain, and conflict. The research method used is evaluation research. The evaluated ad
is the advertisement called Blue Bird Berbenah untuk Berubah owned by PT. Blue Bird Tbk.
The results showed that overall the advertisement Blue Bird Berbenah untuk Berubah had
met the principles and elements of storytelling well."
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2018
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Putu Arindya Laksmidewi Marghaputra
"Pandemi Covid-19 yang memaksa kita untuk menjaga jarak menjadi tantangan bagi industri hiburan musik. Konser tur antar negara, temu penggemar dan kegiatan lainnya yang dilakukan oleh brand industri musik untuk membentuk pengalaman audiens terpaksa harus ditiadakan. Dalam menghadapi kondisi ini, para pemasar industri hiburan musik memanfaatkan teknologi dan membuat konser virtual sebagai bentuk strategi experiential marketing. Tulisan ini akan menganalisis apakah konser virtual telah memenuhi pilar keberhasilan strategi experiential marketing dibandingkan dengan konser offline. Terdapat sebelas pilar keberhasilan experiential marketing yakni remarkable, shareable, memorable, measurable, relatable, personal, targetable, connectable, flexible, engageable dan believable. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus komparatif dengan membandingkan satu variabel pada dua sampel yang berbeda atau waktu yang berbeda. Dalam pengaplikasiannya, konser virtual maupun konser offline memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Teknologi augmented reality dan grafis 3D dalam konser virtual menciptakan pengalaman unik melalui efek panggung seolah-olah visual tersebut nyata, sehingga tercipta pengalaman mendalam yang dimana secara psikologis audiens merasa menjadi bagian dari lingkungan virtual tersebut sehingga timbul perasaan nyata ‘berada disana’. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan pengalaman yang didapat melalui interaksi tatap muka. Teknologi justru menciptakan cara interaksi baru dan pengalaman unik yang berbeda dari interaksi langsung.

Covid-19 pandemic forces us to practice physical distancing. This condition leads to a new challenge, especially for the music entertainment industry. Many activities that build the audience's experience such as world tour concerts and fan meetings had to be eliminated. In facing this challenge, music industry marketers take advantage of technology and create virtual concerts as a form of experiential marketing strategy. This study aims to analyze whether virtual concerts have met the pillars of successful experiential marketing strategy compared to offline concerts. There are eleven pillars of experiential marketing such as remarkable, shareable, memorable, measurable, relatable, personal, targetable, connectable, flexible, engageable, and believable. The research method used is a comparative case study, comparing one variable in two different samples or at different times. Study results revealed that both virtual concerts and offline concerts have their respective advantages and disadvantages. Augmented reality technology and 3D graphics used in virtual concerts create a unique experience through stage effects as if the visuals are real, this visualization creating an immersive experience where the audience psychologically become one with the virtual environment and a sense of "being there" arises. However, technology cannot replace the experiences gained through face-to-face interactions. Instead, technology creates a new way of interacting and a unique audience experience. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Sitinjak, Maria Alga Palla
"Munculnya influencer media sosial yang membagikan berbagai aspek kehidupan pribadi mereka menunjukkan perubahan dalam mekanisme influencer endorsement di platform media sosial. Influencer memberikan pengikutnya banyak informasi tentang kehidupan pribadi mereka. Biasanya mereka merekomendasikan produk yang mereka pakai sehari-hari. Pola seperti ini digunakan influencer secara strategis agar bisa menyajikan realita pada pengikut mereka. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana online self-disclosure dalam konteks influencer endorsement berdasarkan lima dimensi self-disclosure, yaitu amount, valence, honesty, intent, dan depth. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus kualitatif dengan single case design atau studi kasus tunggal dengan menggunakan dokumen dan observasi konten influencer yang melakukan endorsement secara online atau non participant observation. Self-disclosure seorang influencer di Instagram memiliki peran penting dalam membangun intimasi dengan audiens dan menarik perhatian mereka terhadap pesan endorsement produk. Penting bagi para influencer dan pemasar untuk memperhatikan dimensi self-disclosure seperti amount, depth, honesty, intent, dan valence dalam strategi pemasaran mereka untuk mencapai hasil yang lebih efektif.

The emergence of social media influencers who share various aspects of their personal lives demonstrates a shift in the mechanism of influencer endorsement on social media platforms. Influencers provide their followers with a lot of information about their personal lives, often recommending products they use in their daily lives. This pattern is strategically used by influencers to present a sense of reality to their followers. The purpose of this study is to analyze online self-disclosure in the context of influencer endorsement based on five dimensions of self-disclosure: amount, valence, honesty, intent, and depth. The method employed in this study is a qualitative single case design approach, utilizing literature review and non-participant observation of influencer content endorsing products online. The self-disclosure of an influencer on Instagram plays a crucial role in building intimacy with the audience and capturing their attention towards product endorsement messages. It is important for influencers and marketers to consider dimensions of self-disclosure such as amount, depth, honesty, intent, and valence in their marketing strategies to achieve more effective results."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>