Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 65 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nova Anita
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian laboratorium untuk mengetahui pengaruh pencekokan jus daun lidah buaya (Aloe vera L.) terhadap spermatogenesis mencit (Mus musculus L.) jantan galur Swiss. Tiga puluh ekor mencit dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yaitu satu kelompok kontrol yang dicekok akuabides, dan empat kelompok perlakuan yang dicekok jus daun lidah buaya (Aloe vera L.) dengan konsentrasi pengenceran (jus daun lidah buaya murni: akuabides) (1:3), (1:2), (1:1) dan (1:0). Pencekokan dilakukan selama I siklus spermatogenesis (36 hari) berturut-turut dan pada hari ke-37 seluruh mencit percobaan dikorbankan dengan cara dislokasi vertebrae servikalis, lalu dilakukan pembuatan sediaan histologi testis dengan metode parafin. Hasil uji statistik ANAVA (cc= 0,05) tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna yaitu pada jumlah sel spermatogonia A, sel spermatogonia B, spermatosit pakiten, diameter tubulus seminiferus, dan berat testis antara ke-5 kelompok perlakuan."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1998
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Linggar Asfaningdyah
"ABSTRAK
Penelitian tentang pengaruh pemberian jus lidah buaya (Aloe vera Linn.) terhadap motilitas, viabilitas, jumlah spermatozoa dan keabnormalitasan spermatozoa mencit (Mus musculus L.) jantan galur Swiss telah dilakukan di Laboratorium Reproduksi Jurusan Biologi FMIPA-UI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus Aloe vera secara oral terhadap motilitas, viabilitas, jumlah spermatozoa serta jumlah spermatozoa abnormal. Pencekokan dilakukan selama 36 hari berturut-turut. Mencit jantan berumur 2-3 bulan sebanyak 30 ekor dibagi menjadi 5 kelompok yaitu: 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok eksperimen. Dosis pengenceran yang diberikan pada kelompok eksperimen adalah berturut-turut: (jus murni: akuabides) 1:0; 1:1; 1:2 dan 1: 3. Sampel spermatozoa diambil dari kauda epididimis sampai vas deferens, kemudian dilakukan uji motilitas, viabilitas, jumlah dan keabnormalitasan. Uji statistik Kruskal Wallis diteruskan dengan uji perbandingan berganda secara bermakna pada a 0,05 menunjukkan bahwa pemberian jus Aloe vera menurunkan motilitas dan meningkatkan jumlah spermatozoa abnormal terutama cytoplasmic droplet, sedangkan viabilitas dan jumlah spermatozoa tidak berbeda diantara keempat perlakuan tersebut."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1998
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anna Yoce Yosida
"ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh ekstrak terong KB (Solarium khasianum Clark.) terhadap persentase spermatozoa motil, spermatozoa abnormal, dan jumlah total spermatozoa mencit (Mus inusculus L.) jantan galur Swiss derived selama fase epididimis. Sebanyak 25 ekor mencit jantan umur 3--4 bulan dibagi ke dalam 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol tanpa perlakuan (K 1 ) dan kelompok kontrol yang dicekok suspensi tween (K 2 ), kelompok perlakuan dengan dosis 0,5g/kg bb/hari (E 1 ), dosis 1 9/kg bb/hari (E 2 ), dan dosis 2 9/kg bb/hari (E 3 ). Perlakuan diberikan dengan cara dicekok, Yang diberikan selama 8 hari berturut-turut. Berdasarkan hasil uji Kruskal-Wallis (a = 0,05) terhadap persentase spermatozoa motil menunjukkan adanya perbedaan antara kelompok. Perbedaan tersebut terjadi antara kelompok kontrol 1 (K 1 ) dengan kelompok perlakuan 1 (E 1 ), kelompok perlakuan 2 (E 2 ), dan kelompok perlakuan 3 (E 3 ), sedangkan K 1 dan K 2 tidak ada perbedaan. Demikian pula dengan kelompok perlakuan E 1 tidak ada perbedaan dengan kelompok perlakuan E 2 , dan E3. Hasil uji Kruskal-Wallis (a 0,05) terhadap persentase spermatozoa abnormal menunjukkan ada beda antar perlakuan. Perbedaari tersebut terjadi antara kelompok kontrol 1 (K 1 ) dengan kelompok kontrol 2 (K 2 ) dan kelompok eksperimen E 1 dengan E 2 , dan E3. Uji Kruskal-Wallis (a 0,05) terhadap persentase jumlah total spermatozoa menunjukkan tidak ada perbedaan antara kelompok kontrol (K 1 , K 2 ) dengan kelompok perlakuari (E 1 , E2 , dan E3). Dari hasil penelitjan mi disimpulkan bahwa pembenian ekstrak terong KB pada dosis 0,5; 1; 2 g/kg bb/hani mempengaruhi motilitas dan abnormaljtas spermatozoa mencit jantan galur swiss derived, tetapi tidak berpengaruh terhadap j umlah total spermatozoa mencit."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1996
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asteria
"Telah dilakukan pengamatan mengenai interaksi sosial dalam kelompok gorila (Gorilla gorilla gorilla, Savage & Wyman 1847) jantan di Pusat Primata Schmutzer (PPS), Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta.
Tujuan penelitian adalah mengetahui perilaku sosial kelompok gorila jantan (Gorilla gorilla gorilla) tanpa keberadaan betina di Pusat Primata Schmutzer.
Subjek penelitian adalah 3 (tiga) ekor gorila jantan, yang terdiri dari 1 (satu) silverback dan 2 (dua) blackback dengan usia 11--13 tahun. Interaksi sosial yang diamati adalah interaksi yang terjadi antara 3 pasangan interaksi (PI), yaitu antara silverback terhadap blackback 1 (PI1), silverback terhadap blackback 2 (PI2), dan blackback 1 terhadap blackback 2 (PI3). Pengamatan dilakukan dengan data yang diperoleh berasal dari 18 hari observasi.
Metode yang digunakan yaitu gabungan metode scan sampling dan ad libitum dengan interval pengambilan sampel selama 5 menit tanpa jeda.
Perilaku sosial yang dicatat meliputi perilaku afiliatif dan perilaku agonistik. Perilaku afiliatif yang dicatat adalah vokalisasi, mendekat (approach), mengikuti (follow), kontak (contact), dan saling menelisik (allo-grooming).
Jenis vokalisasi yang berhasil dicatat adalah cutting, contact call, soft panthoot, pant-hoot, dan growl. Berdasarkan hasil observasi, perilaku afiliatif pada ketiga pasangan tampak berbeda. Persentase perilaku afiliatif terbesar terdapat pada PI2 dan terkecil pada PI3. Perilaku agonistik yang dijumpai adalah perilaku mendorong, menarik, memukul, memukul objek, menggigit, mengusir, mengejar, meluncur, stare, memukul dada (chest beating), dan vokalisasi agonistik. Perilaku agonistik dengan level agresi tertinggi terlihat pada PI3. Perilaku menggigit hanya ditemukan pada PI3. Selama pengamatan, tidak terlihat jelas adanya peranan silverback sebagai pemimpin di dalam kelompoknya."
Jakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2008
S31480
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Herlina
"ABSTRAK
Pengukuran kadar komplemen C3c dalam seminal plasma pria pasangan infertil dilakukan dengan Nephelometer Iaser . Pengukuran dilakukan untuk nengetahui kadar kompIenen C3c dan apakah terdapat perbedaan kadar komplenen C3c yang nyata antara ketiga kelonpok sampel. Juga diteliti peranan antibodi antisperma IgG yang menempel pada permukaan spermatozoa dan komplemen C3c dalan pengrusakan membran dan imobilisasi spermalozoa. Adanya IgG pada permukaan spermatozoa diperiksa dengan uii - IgG Mixed Antiglobulin Reaction. Keadaan membran spermatozoa diperiksa dengan uji Hypoosmotic Swelling, SampeI-sampel digolongkan kedalarn tiga kelompok, yaitu: kelompok 1 (hasiI uji-IgG MAR = 0%' spermaLozoa yang membrannya rusak < 40%), kelompok 2 (hasil uji-IgG MAR > 0%, spermatozoa yang membrannya rusak < 4O%), dan kelompok 3 (hasil uii - IgG MAR > O%, spermatozoa yang membrannya rusak >,, 40%) . Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kadar rata - rata komplemen C3c di dalam seminal plasma Pria Pasangan infertil adalah sebesar 0 ' 6185 mg/100 ml . Tidak terdapat perbedaan kadar komplemen C3c yang nyata antara ketiga kelompok sampel. Antibodi antisperma IgG dan komplemen C3c berperanan dalam pengrusakan membran spermatozoa tetapi tidak berperanan dalam imobilisasi spermatozoa.
ABSTRACT
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1991
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christina Purnami Wulan
"Masyarakat beberapa negara seperti India, Pakistan dan Yunani menggunakan bunga teratai (Nelumbo nucifera Gaertn.) untuk mengobati penyakit jantung secara tradisional. Diduga bagian tanaman ini berkhasiat sebagai kardiotonik. Penggunaan obat tradisional umumnya didasarkan pada pengalaman empirik walaupun belum dibuktikan secara ilmiah. Ekstrak daun mahkota teratai telah diuji pengaruhnya terhadap gelombang T EKG dan frekuensi denyut jantung tikus putih jantan strain LMR, turunan Wistar. Pengujian ekstrak tersebut, dilakukan dengan cara menyuntikkan 1 ml larutan ekstrak tersebut secara intravena pada tikus. Kemudian efeknya dideteksi dengan elektrokardiograf, setelah 5 menit penyuntikan. Penelitian ini memberikan hasil sebagai berikut; ekstrak daun mahkota teratai meningkatkan amplitudo gelombang T EKG tikus serta meningkatkan frekuensi denyut jantungnya."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1991
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Nyoman Darma Adi
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh penyuntikan ekstrak daun Catharanthus roseus G. Don. terhadap aktivitas ventrikel dan frekuensi denyut jantung tikus. Ekstraksi menggunakan etanol 70%, dan sebagai pelarut ekstrak digunakan larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%). Hewan yang digunakan dalam penelitian adalah tikus putih strain LMR Wistar derived. Dalam penelitian dibuat empat kelolmpok perlakuan yaitu: kelompok kontrol jaurni, kontrol pelarut, disuntik ekstrak daun C. roseus yang berbunga putih, dan disuntik ekstrak daun C. roseus yang berbunga merah. Ekstrak disuntikkan secara intravena. Dosis yang disuntikkan setara dengan 0,1067 g daun C. roseus kering/100 g berat hewan. Aktivitas ventrikel dan frekuensi denyut jantung dicatat dengan elektrokardiograf. Hasil yang diperoleh untuk kelompok kontrol murni dan kelompok kontrol pelarut, aktivitas ventrikel dan frekuensi denyut jantung tidak mengalami perubahan yang nyata sampai akhir pengukuran. Pada kelompok yang disuntik ekstrak daun C. roseus yang berbunga putih maupun yang berbunga merah terjadi perpanjangan waktu depolarisasi dan repolarisasi ventrikel serta penurunan frekuensi denyut jantung yang nyata.
ABSTRACT
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1992
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Satyabayu Kurniawan
"ABSTRAK
Penyuntikan secara intramuskular dua dosis kombinasi northisteron enanthat (NE) dan testosteron enanthat (TE) dosis tunggal (long-acting), bertujuan untuk menurunkan kesuburan mencit (Kus musculus L.) jantan strain CER tanpa menurunkan libido dan potensi seks. Parameter kesuburan yang diukur adalah jumlah spermatozoa total, persentase spermatozoa motil, dan jumlah fetus. Jumlah korpus luteum, perubahan berat badan, dan perbandingan jenis kelamin fetus merupakan data tambahan.
Mencit kelompok Eksperimen 1 (E1 ) disuntik dengan kombinasi 0,004 mg/0,01 ml NE per gram berat badan (BB) mencit dan 0,005 mg/0,01 ml TE per gram BB mencit, E2 disuntik dengan 0,008 mg/0,01 ml NE per gram BB mencit dan 0,005 mg/0,01 ml TE per gram BB mencit. Kontrol 1 (K1) disuntik dengan kombinasi pelarut NE dan pelarut TE, sedangkan K2 tidak diberi perlakuan apapun.
Hasil uji ANAVA menunjukkan tidak ada pengaruh perlakuan terhadap jumlah spermatozoa total, persentase spermatozoa motil, jumlah fetus, dan perubahan berat badan. Hasil uji Chi-kuadrat menunjukkan tidak ada pengaruh perlakuan terhadap perbandingan jenis kelamin fetus.
Kesimpulan, penyuntikan dua dosis kombinasi northisteron enanthat dan testosteron enanthat dosis tunggal, untuk jangka waktu 45 hari tidak menurunkan kesuburari mencit (Mus musculus L.) strain CBR.
ABSTRACT
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1992
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hana Sumiati Widjaja
"ABSTRAK
Penyuntikan kombinasi northisteron enanthat (NE) dan
testosteron enanthat (TE) dosis tunggal, bertujuan untuk
menghambat spermatogenesis mencit (Mus nusculus) jantan
galur CBR, tanpa mempengaruhi libido dan potensi seks.
Mencit dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok E1
yang disuntik dengan NE 0,004 mg/ gram berat badan (BB)
dan TE 0,005 mg/ gram BB (dosis I), kelompok yang
disuntik dengan NE 0,008 mg/ gram BB dan TE 0,005 mg/ gram
BB (dosis II), kelompok yang disuntik dengan kombinasi
Pelarut NE dan TE, sedangkan kelompok K2 tidak diberi
perlakuan apapun.
Dari sayatan histologi testis yang dibuat pada hari
ke-45 setelah penyuntikan, ditenukan adanya penurunan
jumlah beberapa sel-sel spematogenlk. yaltu npernatogonia
A, spermatogonia B, leptoten, pakhlten, dan spermatld.
serta pengecilan diameter tubulus semlniferns. Pengujian
statistik terhadap berat teatls, berat vesikula seminalia
dan perubahan berat badan tidak menunjukkan adanya
perbedaan antara ke-4 kelompok.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyuntikan
kombinaai HE dan TE doaia I dan II menghambat
spermatogenesis mencit iMus Busoulus) jantan galur CBR
tanpa mempengaruhi potensi seks.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1992
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saraswati
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui gambaran
parameter semen pada penderita leukospermia yang
memeriksakan diri ke Bagian Biologi FKUI dan Klinik YPK
Gereja Theresia. Sampel di ambil dari 20 orang pasien
dengan leukospermia, dan sebagai kontrol di ambil dari 20
orang yang normozoospermia. Metode yang digunakan sesuai
dengan standar WHO yang lazim digunakan di Bagian Biologi
FKUI. Parameter yang diukur adalah:
volume semen, pH semen, jumlah spermatozoa total/ml semen,
jumlah spermatozoa motil/ml semen, kategori motilitas,
rata-rata motilitas, water test (uji air), morfologi
spermatozoa, jumlah leukosit/ml semen. Basil uji
statistik nonparametrik jumlah jenjang Wilcoxon
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada semua parameter
semen yang diukur, kecuali pH dan volume. Rata-rata
volume semen pada kelompok leukospermia lebih rendah
(2,92 ml) daripada kelompok nonleukospermia
(3,16 ml). Rata-rata pH semen kelompok leukospermia
lebih tinggi (7,8) daripada kelompok nonleukospermia
(7,62). Rata-rata jumlah spermatozoa total/ml pada
kelompok leukospermia (28,56 juta/ml) lebih rendah
daripada kelompok nonleukospermia (69,09 juta/ml). Ratarata
jumlah spermatozoa motil/ml pada kelompok
leukospermia lebih rendah (15,58 juta/ml) daripada
kelompok nonleukospermia (38,74 juta/ml). Rata-rata
kategori motilitas spermatozoa kelompok leukopsermia
lebih rendah (36,25%) daripada kelompok nonleukospermia
(52,75%). Rata-rata motilitas spermatozoa kelompok
leukospermia (0,0338 mm/detik) lebih rendah daripada kelompok
nonleukospermia (0,0436 mm/detik). Rata-rata jumlah
leukosit/ml pada kelompok leukospermia lebih tinggi (2,83
juta/ml) daripada kelompok nonleukospermia (0,15 juta/ml).
Rata-rata uji air pada kelompok leukospermia lebih rendah
(41,25%) daripada kelompok nonleukospermia (56,15%).
Rata-rata morfologi spermatozoa normal kelompok
leukospermia lebih rendah (37,2%) daripada kelompok
nonleukospermia (59%).
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1993
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>