Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 50 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Inasya Nur Qamarani
"ABSTRAK
Stereotipe adalah asumsi palsu yang nyatanya menjadi masalah di dalam masyarakat. Dari banyak jenis stereotipe, artikel ini secara khusus membahas stereotipe etnik, yaitu pada etnik Latin, yang terdapat dalam film The Back-up Plan (2010) dengan menganalisis karakter serta beberapa elemen teknis film tersebut. Meskipun karakteristik dari Zoe dibuat untuk menghilangkan stereotip Latina, pada saat bersamaan, upaya tersebut menciptakan masalah baru yang sama rumitnya dimana ia mencoba untuk mengikuti budaya kaum dominan melalui penampilan dan kehidupan sosialnya.

ABSTRACT
Stereotype is a false assumption that turns out to be a problematic issue in the society. From many types of stereotype, this article specifically discusses ethnic stereotype, Latina, that found in the movie The Back-up Plan (2010) using character analysis and some of the movie s technical elements. Even though the character of Zoe is constructed to disembody the stereotypes of Latina, at the same time such attempt provides another complex problem as she appropriates the dominant culture through her appearance and social life."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Dini Yulianti
"Dua bidang ilmu yang berkaitan erat dengan bahasa, yakni ilmu linguistik dan ilmu susastra, seringkali dipandang sebagai dua disiplin yang bertolak belakang dan tidak dapat disatukan. Ilmu linguistik dengan pendekatan ilmiahnya terkesan lebih sistematis dan objektif, sementara ilmu susastra dianggap lebih bersandar pada penilaian dan interpretasi subyektif. Kemudian, berkembanglah ilmu stilistika yang menjembatani perbedaan di antara kedua bidang tersebut, dengan cara menggabungkan pendekatan ilmu linguistik dan ilmu susastra untuk meneliti style atau gaya bahasa yang digunakan dalam karya sastra. Kritik terhadap karya sastra dalam analisis stilistika menjadi kuat karena didasarkan pada metode penelitian linguistik yang sistematis.
Analisis stilistika dapat difokuskan pada aspek tertentu dalam karya sastra, seperti alur cerita, tema atau penokohan. Dalam analisis penokohan, salah satu unsur yang menarik untuk dilihat lebih dalam adalah relasi kuasa antarjender yang seringkali bersifat tidak seimbang, terutama dalam karya-karya sastra berbahasa Inggris tradisional.
Dalam penelitian ini, yang ditelaah adalah relasi kuasa antara tokoh pria dan wanita dalam novel The Awakening (1899) karya Kate Chopin, yang berkisah mengenai seorang wanita yang ingin membebaskan diri dari kungkungan tradisi dan konvensi masyarakat. Edna Pontellier, tokoh utama wanita dalam novel ini, menjalin hubungan dengan tiga tokoh pria, yaitu Leonce Pontellier, Robert Lebrun dan Alcee A-robin.
Penelitian ini bertujuan membandingkan relasi kuasa di antara Edna dan ketiga tokoh pria di atas, serta mengungkap penyebab di batik bentuk relasi kuasa tersebut. Relasi kuasa di antara tokoh wanita dan tokoh-tokoh pria diteliti melalui data narasi dan dialog yang menggambarkan interaksi antartokoh. Untuk meneliti narasi digunakan teori transitivitas Halliday, sedangkan untuk meneliti dialog digunakan teori pragmatik, yaitu teori analisis percakapan dan teori FTA atau tindakan mengancam muka yang dikemukakan Brown dan Levinson.
Hasil analisis narasi dan dialog menunjukkan bahwa relasi kuasa yang ada bersifat tidak setara. Dalam relasinya dengan Robert Lebrun, Edna Pontellier memegang kuasa yang lebih besar karena posisinya yang lebih tinggi daripada Robert berdasarkan usia dan status. Akan tetapi, ia menjadi pihak yang lemah dan terdominasi dalam relasinya dengan dua tokoh, yaitu Leonce Pontellier yang unggul dalam hal usia, harta dan peran dalam keluarga, serta Alcee Arobin yang lebih aktif dalam tindakan dan ucapan. Dengan demikian, penelitian stilistika ini mengungkap bahwa ketidakseimbangan dalam relasi kuasa antara tokoh utama wanita dan tokoh-tokoh pria dalam novel The Awakening yang disebabkan oleh faktor-faktor tersebut di atas."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2006
S14051
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riani Jelita V. Lesar
"Skripsi ini membahas bagaimana sikap bahasa pelajar SN/IA di Depok, Jawa Barat. terhadap teen/it Indonesia yang menggunakan judul Berbahasa Inggris. Sebelum simpulan terhadap topik dipaparkan, tcrlebih dahulu dibahas mengenai latar belakang yang berkaitan Brat mempengaruhi sikap bahasa para pelajar tcrsebut dibahas. Metode yang digunakan pada penyusunan penelitian ini adalah mctode penelitian lapangan langsung sederhana dengan cara menycbarkan angket kepada S6 pelajar SMA di Depok sebagai data primer yang kemudian diolah dan dikaitkan dengan teori-teori yang berkaitan. Responden pada penclitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ,.kelompok dengan latar belakang pendidikan berbasis standar intlernasional dan kelompok dengan latar belakang pendidikan bet-basis standar nasional. Pernilihan dua macam kelompok responden ini bertujuan untuk mclihat apakah ada perbedaan hasil yang didapatkan pada kcdua kelompok tcrsebut. Sikap bahasa yang didapatkan dari para responden merupakan sebuah hasil dari pengalaman dan proses pembelajaran yang kemudian membentuk sebuah sikap terhadap suatu bahasa, dalam hat mi bahasa Inggris. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang diharapkan, latar belakang responden dalam proses pembelajaran bahasa Inggris banyak ditanyakan melalui angkct yang mereka isi dan dijabarkan pada skripsi ini sebagai dasar perolehan sikap bahasa mereka. I.atar belakang ini kemudian dikaitkan terhadap topik yang disampaikan sebagai salah satu contoh kasus bagaimana bentuk sikap bahasa para responden. Sebagai hasil akhir penelitian ini diperolch kecendenmgan responden untuk memilih teen/it Indonesia dcngan judul bcrbahasa Inggris dibandingkan dengan yang menggunakan judul Berbahasa Indonesia.

This research shows on how language attitudes of SMA's student in Uepok. West Java, are toward Indonesian teenlit which uses the English titles. Prior to the conclusion, the respondent's background that influence the student's language attitudes will be depicted and then analyzed. The method used in this research is the field study by giving the questionnaire to 86 SMA students in L)epok as the primary data source to he analyzed and then connected to the relevant theories. the respondents in this research arc divided into two groups: the group with the international education standard background and the one with national education standard background. The purpose to choose these two groups is to know whether there is any different result. The language attitudes of the respondents are the result of experiences and learning process'. In order to get the expected result, the respondents' backgrounds in the process of learning English are frequently asked in the questionnaire. The respondents' background is then connected to the topic as the case study on how the language attitudes arc shown. As a result of this research, there arc more respondents who prefer to choose Indonesian teenlit with English titles than the ones with use the Indonesian titles."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S13980
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yessika Ayurisna
"Skripsi ini membahas representasi maskulinitas dari segi fisik dan mental dalam majalah "Men's Health" USA. Obyek penelitian ini adalah empat artikel dalam majalah "Men's Health," yang terdiri dari dua artikel mengenai fisik dan dua artikel mengenai mental. Kemudian, penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis wacana kritis Norman Fairclough. Selain teori analisis wacana kritis, dalam penelitian ini juga digunakan teori representasi, teori ideologi dan teori maskulinitas.
Hasil penelitian ini adalah dari segi fisik pria harus mengikuti "standar" maskulinitas yang ada, yaitu memiliki tubuh ramping, berotot, memiliki perut kotak-kotak ("six-packs"). Sedangkan dari segi mental, pria harus bisa menerima dirinya apa adanya dengan segala kelemahan dan pria juga dituntut untuk memiliki sisi "nurture" agar bisa pengurus anak-anaknya tanpa bergantung pada wanita. Dengan demikian, pada masa kini telah terjadi perubahan pemikiran masyarakat Amerika mengenai "standar" pria ideal.

This thesis deals with the representation of masculinity from a physical and mental perspective in the American magazine "Men's Health." The main topic of this thesis concerns four articles published in "Men's Health", consisting of two articles about the human physique and two articles about the human mentality. Furthermore, the method used in this research is based on the critical discourse analysis by Norman Fairclough. Besides the framework of critical discourse analysis, this thesis applies multiple other theories as well, like the theories of representation, ideology and masculinity.
The conclusion that can be drawn from this research is that from the physical perspective, men have to follow the current 'masculinity standard', meaning a slim, yet muscled body. But, however, from the mentality perspective men have to accept their own shortcomings or weaknesses and are required to be in touch with their 'nurture-side' in order to take care of their children without being dependant on their wives. With these criteria in mind, we can see a recent development in the American way of thinking on the topic of the 'ideal man'.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S14226
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rima Muryantina
"Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari tidak semata-mata digunakan hanya untuk menyampaikan makna tertentu pada pihak kawan bicara, tetapi juga untuk menunjukkan sikap kita terhadap kawan bicara dan topik pembicaraan. Tuturan yang mencerminkan tindakan pembicara terhadap seseorang atau sesuatu disebut "tindak tutur". Dalam tindak tutur manusia, terdapat daya pragmatik yang diharapkan terjadi setelah tuturan tersebut diujarkan. Daya pragmatik ini dapat disampaikan baik dengan cara langsung maupun tidak langsung. Dalam penuturan tidak langsung, sering terdapat implikasi makna yang sering kali tergantung pada elemen-elemen kontekstual. Salah satu konteks penting dalam memahami implikatur adalah kebudayaan.
Dalam film Everything is Illuminated (2005) terdapat banyak tindak tutur dan implikatur dalam dialog tokoh Alexander Perchov dan Jonathan Foer. Sering kali kedua tokoh ini saling tidak memahami tindak tutur dan implikatur yang mereka gunakan pada satu sama lain. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Temuan dari penelitian ini adalah perbedaan kebudayaan antara kedua tokoh sangat berpengaruh terhadap proses pemahaman dan penggunaan tindak tutur dan implikatur.

Language, in daily use, doesn't only function as a medium to communicate meanings to the addressee, but also to show the speaker_s attitudes toward the addressee and the discussed topic. Utterances that indicate the speaker's attitude towards something or someone are usually called 'speech acts'. Each of these speech acts has a pragmatic force that expects something to happen when the speech act is uttered. This pragmatic force could be expressed directly and indirectly. In implied speech acts, there are implications of meanings that often depend on contextual elements. One of the important contextual elements to understand the implicatures is culture.
In the movie Everything is Illuminated (2005), there are so many speech acts and implicatures in Alexander Perchov dan Jonathan Foer's dialogues. Both characters often don_t understand each others speech acts and implicatures. These misunderstandings happen because they have different cultural backgrounds. The finding of the research is that the different cultural background of the speakers really influences the comprehension and the using of speech acts and implicatures
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S13961
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Beffy Saskia
"Teks radio merupakan sejenis teks yang menggunakan bahasa percakapan dengan memakai bahasa sehari-hari. Teks radio harus diungkapkan dengan baik, disusun secara logis, dan mudah dimengerti. Penulis teks radio selalu membawa ideologi tersendiri yang dikemas dengan menarik dalam naskah radio. Tidak sedikit pembaca teks radio ataupun pendengar program radio yang terpengaruh dan terbentuk persepsinya atas representasi yang berhasil dibangun melalui teks radio tersebut. Penelitian ini membahas tentang strategi yang digunakan dalam teks radio Kang Guru Indonesia terhadap Australia dan Indonesia, dua negara yang dibahas dalam teks radio yang menjadi obyek penelitian. Penelitian dilakukan terhadap dua teks radio yang berbeda dengan menggunakan metode analisis wacana kritis dan analisis genre. Hasil penelitian menunjukkan adanya strategi penyandingan dalam merepresentasikan Australia dan Indonesia. Namun, terdapat ketimpangan dalam menyandingkan kedua negara dengan tendensi representasi Australia yang lebih positif dan representasi Indonesia yang lebih negatif karena terdapat ideologi orientalisme di dalam teks radio KGI. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan adanya persamaan-persamaan dalam fungsi bagian-bagian teks radio yang berbeda. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat membantu membantu masyarakat untuk menjadi lebih kritis dalam mendengar, mencerna, dan mengolah suatu program siaran radio sebelum memutuskan untuk membentuk persepsi sendiri.

Abstract
Radio script is a text that uses conversational language as well as casual language that are used in daily life. It must be well-expressed, logically arranged, and easy to understand. A radio scriptwriter always brings his/her own ideology that is packed within an interesting radio script. As a result, many people who read the text or listen to the radio program are affected and form their perceptions due to the representations that are built within the radio script. This research focuses on what kind of strategies applied in Kang Guru's radio script toward Australia and Indonesia, two countries that are discussed in this research. The research analyzed two samples from different kinds of radio script by using the method of critical discourse analysis and genre analysis. The result of the research indicates that there is a comparative strategy in representing Australia and Indonesia. Nevertheless, there are imbalances in representing the two countries with a tendency of more positive representation about Australia and more negative representation about Indonesia because there is an ideology of orientalism within KGI?s radio script. In addition, the result of the research indicates that there are some similarities in the function of each part of the text among different radio scripts. By acknowledging the results of this research, it can help to improve the critical minds of the society in facing radio broadcast before deciding to form a particular perception."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S522
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Bernard Amadeus Jaya
"Pelajar Indonesia menghadapi banyak kesulitan dalam pelafalan bunyibunyi bahasa Inggris. Akan tetapi, dua segmen khususnya, memiliki tingkat kesilapan yang sangat tinggi. Beberapa studi oleh peneliti Indonesia telah memperlihatkan bahwa dental frikatif dalam bahasa Inggris /θ/ dan /ð/ adalah bunyi yang paling sulit dilafalkan oleh penutur asli bahasa Indonesia speakers (lihat Pardede 2007, Tiono & Yostanto 2008). Hal yang menarik adalah bahwa fenomenon yang sama terjadi untuk penutur asli bahasa lainnya (penutur bahasa Belanda, contohnya, lihat Wester, et al. 2007). Cara untuk mengatasi kesulitan ini salah satunya adalah untuk menggantikan segmen tersebut.
Penelitian ini menelusuri bagaimana pelajar Indonesia menggantikan dental frikatif bahasa Inggris dengan fonem lain, apa yang digunakan untuk menggantikannya, dan mengapa digantikan. Berbeda dengan publikasi lainnya yang menggunakan mahasiswa sebagai subyek, participan penelitian ini tidak memiliki kompetensi bahasa inggris yang tinggi dan berusaha untuk merepresentasi populasi Indonesia secara akurat. Ada limabelas (15) orang subyek yang diambil dari sebuah kelas General English. Participan memiliki perbedaan dalam umur, jenis kelamin, dan pekerjaan.
Eksperimen ini menggunakan tiga macam ujian untuk mengumpulkan data-mendeskripsikan gambar, membaca kalimat, dan membaca daftar kata. Tuturan direkam lalu dianalisis secara manual sebelum dikonfirmasi hasil transkripnya dengan sebuah program data analisis fonetik yang bernama PRAAT. Lalu hasil transkrip dianalisis dengan Optimality Theory untuk menjelaskan latar belakang penggunaan substitusi yang optimal.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa orang Indonesia secara umum menggunakan dua fonem yang berbeda untuk mensubstitusikan dental frikatif dalam bahasa Inggris, tetapi yang menarik adalah bahwa posisi segmen dental frikatif (voiced) dalam kata menentukan substitusinya.

While Indonesian students encounter plenty of difficulties in pronouncing English sounds, two segments, in particular, are notorious for its rate of error. Recent studies by Indonesian scholars have shown that the dental fricatives of English /θ/ and /ð/ have been rated as some of the most difficult segments to be pronounced by Indonesian speakers (see Pardede 2007, Tiono & Yostanto 2008). This is surprisingly true for speakers of several other languages as well (Dutch, for example, see Wester, et al. 2007). One of the ways to deal with a difficult segment is to replace them.
This research looks at how Indonesian learners of English replace dental fricatives with other phonemes, what they use to replace those segments, and why. Contrary to related publications on error analysis that utilizes university students as their subjects, the subjects here are not advanced in English and strive to represent the Indonesian population more accurately. The participants are fifteen (15) students in a General English class. Theyvary in age, gender, and occupation.
The experiment uses three tests to gather data to ensure maximum validity- describing pictures, reading sentences, and reading from a word list. The speech data is recorded and then analyzed manually before it is confirmed using a computer phonetic data analysis program called PRAAT prior to an Optimality Theory to investigate the background of the optimal substitute.
Results show that Indonesians generally use two different phonemes to replace the English dental fricatives, but the interesting finding is that the position for the voiced dental fricative determines its substitute.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2012
S1837
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Meliala, Amanda Cornella
"Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, bahasa adalah sarana penting yang digunakan manusia - tidak hanya untuk berkomunikasi, melainkan juga untuk menjalin hubungan dengan orang lain di sekitarnya. Bahasa menjadi penting dalam kehidupan, karena bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk menuangkan gagasan, menyampaikan informasi, mengemukakan pendapat, dan mengungkapkan perasaan. Skripsi ini merupakan suatu penelitian mengenai salah satu fungsi bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan, yaitu fungsi ekspresif atau emotif, yang terdapat pada data tuturan yang diambil dari novel Breaking Dawn karya Stephenie Meyer.
Fokus penelitian ini adalah analisis terhadap fungsi dan bentuk tuturan ekspresif yang terdapat pada Buku Satu - dari tiga ‘buku’ - pada Breaking Dawn, yang diceritakan menurut perspektif Bella Swan. Untuk menganalisis korpus data ini, digunakan teori tindak tutur yang dikemukakan oleh John Austin dan John Searle, dan fungsi bahasa oleh Dell Hymes.
Dengan melakukan penelitian ini, penulis menemukan bahwa dari seluruh tuturan ekspresif yang dianalisis, fungsi tuturan yang paling sering muncul ialah fungsi pengungkap kegugupan dan fungsi penyampai perasaan menyesal. Selain itu, bentuk tuturan yang paling banyak digunakan ialah bentuk tindak tutur langsung literal, satu dari empat bentuk tindak tutur menurut kategori yang diutarakan Searle. Hasil temuan penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi bidang linguistik dan menambah referensi dalam penelitian selanjutnya, terutama mengenai fungsi ekspresif.

In interacting with other human beings, language is an important means used - not only to communicate, but also to make a relation with others around them. Language is important in one’s life because it is the device that one uses to deliver ideas, convey information, propose opinions and express feelings. This essay is a study about one of the language functions that is used to express feelings, called the expressive or emotive function, occurring in the novel Breaking Dawn written by Stephenie Meyer.
This study analyzes the functions and forms of expressive speech acts found in Book One - one of three ‘books’ - of Breaking Dawn, which is told from the perspective of Bella Swan, one of its main characters. The theory of speech acts by John Austin and John Searle, and the theory of language functions by Dell Hymes will be applied to analyze the data.
This study has found that the speech function that appears the most is the function to express nerve and the expressive speech to apologize. It is also found that the speech form most frequently used is the direct literal speech act, one of the four speech act forms categorized by Searle. The findings of this study are expected to contribute to the linguistics and could add on to the reference in further related studies, especially in the research about expressive function.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S45591
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eny Rahayu
"Dalam penelitian ini, penulis menjelaskan pelaksanaan strategi kesantunan oleh tokoh utama wanita melalui kajian pragmatik merupakan hal penting sebagai upaya untuk membangun relasi dengan pihak lain. Dengan menggunakan metode kualitatif, skripsi ini berfokus pada pemilihan tuturan dalam beberapa dialog dari pemeran utama wanita, Elizabeth dalam film Elizabeth: in the Golden Age. Teori FTA (Aksi Pengancaman Muka) dari Brown & Levinson (1987) dengan bentuk strategi kesantunan baik kesantunan positif maupun kesantunan negatif dan konsep power in discourse oleh Fairclough (1989) digunakan untuk membantu menganalisis pemilihan strategi kesantunan dengan tiga hal yang berusaha dijelaskan dalam penelitian ini: (1) penerapan bentuk strategi kesantunan oleh tokoh utama dalam berkomunikasi, (2) bentuk strategi kesantunan yang paling banyak digunakan oleh tokoh utama dalam berkomunikasi dengan tokoh lainnya, (3) faktor dan variabel yang mempengaruhi tokoh utama dalam memilih strategi kesantunan ketika berkomunikasi. Dengan hasil penelitian menunjukkan bentuk strategi kesantunan negatif paling banyak digunakan oleh tokoh utama yang dipengaruhi oleh status, konteks, situasi dan relasi kuasa antar peserta tutur yang terlibat dalam komunikasi.

This research provides that the selections of politeness strategies by the main female character through pragmatics analysis consider as essential points in maintaining the construction of relationship to other parties. Through qualitative method, this paper focuses on utterances’ selection in some conversations of main female character, Elizabeth in the movie Elizabeth: in the Golden Age. Theory of Brown & Levinson (1987) in FTAs (Face Threatening Acts) with the emphasize of positive and negative politeness and the concept of power in discourse by Fairclough (1987) is adopted to analyze the selections of politeness strategies with three major points that attempt to propose in this paper: (1) the implementation politeness strategies by the main female character in communication (2) the most politeness strategy that is used by main female character when communicate to other characters (3) the influences of some factors and variables in selecting politeness strategies in communication. It is concluded that the main female character choose negative politeness under the influences of social status, context, setting and power relation among participants who are involed in communication."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S45319
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dania Diniari
"Skripsi ini adalah penelitian mengenai gaya bahasa dan makna yang terkandung dalam sebelas lirik lagu karya Muse dalam album keempat mereka, Black Holes and Revelations. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan stilistika. Selain itu, digunakan juga teori semantik, serta penjelasan gaya bahasa atau majas, puisi, lirik, dan lagu untuk melengkapi interpretasi lirik dalam skripsi ini. Tujuan dituliskannya skripsi ini adalah untuk menjelaskan macam-macam gaya bahasa yang terkandung dalam lirik-lirik lagu Muse dalam album Black Holes and Revelations serta untuk mengilustrasikan korelasi gaya bahasa yang terdapat pada masing-masing lirik lagu dengan makna yang mungkin terbentuk. Temuan skripsi ini adalah: (1) Dalam setiap lirik lagu terdapat gaya bahasa semisal majas sebagai bentuk yang digunakan penyair untuk mengekspresikan keindahan estetika dari karya-karya yang dibuatnya, (2) Makna lirik lagu dapat dipahami dengan adanya pemahaman mengenai gaya bahasa yang dipilih atau digunakan penyair dalam menulis karyanya, (3) Sebagian besar lirik dalam album Black Holes and Revelations bertema politik serta mengkritik kebijakan pemerintah tentang perang. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami gaya bahasa yang digunakan pencipta lagu dalam menyuarakan opininya sekaligus menyampaikan pesan terhadap pembacanya atau pendengarnya.

The focus of this study is about the language style and the meaning behind those eleven song lyrics on Muse’s fourth album, Black Holes and Revelations. This study used qualitative method through stylistics approach and contains an explanation of semantic theory, figures of speech, poem, lyric, and song to complete the interpretation of the eleven lyrics. The purpose of this study is to show language style in the lyrics, and to illustrate the correlation between the language style and the meaning in the lyrics. The results of this study are: (1) every song lyris has its own language style chosen by the songwriter to express the aesthetic side of the lyric, (2) the meaning of each lyric can be understood with the understanding of language style that is chosen by the songwriter in his work, (3) Most lyrics in Black Holes and Revelations are political and criticize the government’s policy of war. This study is expected to be a contribution to understand language style used by the songwriter to express his opinions as well as to deliver a message to his readers or listeners."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S44884
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>