Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Latifa Hanum Lalasari
"Teknologi fotokatalitik dengan memanfaatkan katalis TiO2 cukup menjanjikan dalam mengatasi permasalahan energi dan lingkungan. Tujuan penelitian adalah melakukan sintesis Nanotube TiO2 menggunakan proses hydrothermal untuk penyisihan methyl orange. Tahapan penelitian adalah sintesis TiO2 dengan proses non-hydrolytic sol gel (NSG) dari prekursor TiCl4 dan dilanjutkan proses hydrothermal. Pada proses hydrothermal digunakan juga prekursor TiO2 P-25.
Hasil penelitian menunjukkan TiO2 dengan morfologi nanotube mempunyai luas permukaan spesifik lebih besar daripada TiO2 morfologi nanopartikel. Proses hydrothermal mengubah stuktur TiO2 dari kristalin menjadi amorf nanotube sehingga post treatment dilakukan untuk meningkatkan derajat kristalin nanotube TiO2. Dari hasil uji kinerja katalis didapatkan katalis nonotube TiO2 paling efektif menyisihan methyl orange sebesar 41, 6 % sedangkan katalis TiO2 P-25 dapat menyisihan methyl orange sebesar 93,8 % selama 90 menit.

Photocatalysis is currently accepted as one of the most promising technologies for overcoming problems of energy and environmental. The purpose of research is to the synthesis of nanotube TiO2 using hydrothermal method for dyes decolorization of methyl orange. The procedure of research was the synthesis of TiO2 catalyst from TiCl4 precursor using non-hydrolytic sol gel (NSG) and continued hydrothermal process.
The result of research showed that Nonotube TiO2 has specific surface area bigger than nanoparticle TiO2. Hydrothermal process can change TiO2 from crystalline becomes nanotube amorf. The result of photocatalytic process showed that nonotube TiO2 catalystis was the most effectively of methyl orange decolorization about 41, 6 % whereas nanoparticle TiO2 P-25 catalyst about 93,8 % for methyl orange decolorization during 90 minutes. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
T25901
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yasir Sulaeman Kuweir
"Minyak kelapa sawit berpotensi sebagai bahan baku pembuatan pelumas bio, selain renewable dan biodegradable, juga bersifat non-toxic, sehingga dapat digunakan sebagai pelumas bahan makan atau pelumas food-grade. Telah dilakukan pembuatan pelumas bio berbasisi minyak kelapa sawit melalui 3 tahap yaitu trans-esterifikasi, epoksidasi dan reaksi pembukaan cincin dengan gliserol. Terdapat kendala pada reaksi pembukaan cincin, yaitu dalam pemilihan katalis. Katalis PTSA (p-Toluenesulfonic acid) mempunyai keasaman tinggi, tetapi sulit dipisahkan karena katalis homogen. Digunakan H-zeolit dan alumina yang merupakan katalis heterogen, tetapi yield yang didapat cukup rendah, karena memiliki luas permukaan yang kecil.
Pada penelitian ini dilakukan reaksi pembukaan cincin dengan gliserol menggunakan amberlyst-15 yang merupakan katalis heterogen, memiliki keasaman yang tinggi dan luas permukaan yang cukup besar untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan katalis-katalis sebelumnya. Reaksi yang dilakukan adalah 2% dan 2,5% berat penambahan amberlyst-15 pada T=1000C dengan variasi waktu 12, 16, 20, dan 24 jam. Keberhasilan reaksi dilihat dari uji densitas, viskositas, FTIR, dan gliserol yang tersisa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa amberlyst-15 mampu membuka cincin lebih baik dibandingkan PTSA, H-zeolit dan alumina (dilihat dari besarnya densitas dan viskositas), dan mampu menghasilkan yield sebesar 94,88% (dilihat dari sisa gliserol yang tidak bereaksi). Dari uji yang dilakukan, spektrum FTIR memperlihatkan bahwa gugus gliserol teradisi ke dalam produk. Penambahan amberlyst-15 sebanyak 2% lebih efektif dibandingkan 2,5%.

Palm oil has high potential as raw material for biolubricant product, beside of its tendency to be renewable, biodegradable, and non-toxic as well so it can be used as a lubricant for food ingredients or food-grade lubricants. Up until now, the making of lubricating oil based Palm oil can be done through three phases, such as trans-esterification, epoxidation and ring opening reaction with glycerol. However, there are constraints on the ring opening reaction, mostly in the selection of the catalyst. PTSA catalyst (p-Toluenesulfonic acid) has high acidity, but it is difficult to separate because of it charasteristic as homogeneous catalyst. H-zeolite and alumina are heterogeneous catalyst, but the yield obtained is low enough, because it has smaller surface area.
This research use ring opening reaction with glycerol phase by using amberlyst-15 as catalyst. Amberlyst-15 is a heterogeneous catalyst, has high acidity and surface area that large enough to fix the weaknesses of other catalysts. The reaction was performed with 2%w and 2.5%w amberlyst -15 additions at T = 1000ºC with varying time 12, 16, 20, and 24 hours. The success of the reaction can be seen from the density and viscosity test, FTIR, and the remaining glycerol.
The results showed that amberlyst-15 capable to open the ring better than the PTSA, H-zeolite and alumina (as seen from the high density and viscosity number), and capable to produce yield of 94.88% (as seen from the remaining glycerol wich didn?t react). FTIR spectra showed that the product has adsorb glycerol clusters. The result also showed that Amberlyst-15 additions as much as 2% is more effective than 2.5%.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
T27786
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Agustina A.Y.
"Provinsi Bangka Belitung memiliki potensi endapan kaolin yang cukup tinggi yaitu 13.781.446 ton. Pemanfaatan kaolin digunakan untuk berbagai industri seperti industri keramik, kertas, pelapis (coaster), pengisi (filler), isolator, dan industri lainnya. Selain itu, kaolin dapat diproduksi menjadi zeolite A sintetis. Proses kaolin menjadi zeolite A melalui tahapan metakaolinization dan zeolitization. Proses kaolin menjadi metakaolin pada suhu 750 ˚C selama 3 jam dan proses metakaolin menjadi zeolite A melalui pemanasan pada suhu 90 ˚C selama 8 jam dengan konsentrasi 3M. Untuk memproduksi zeolite A berbasis kaolin perlu dilakukan penilaian uji kelayakan untuk pengembangan produksi zeolite A dengan menggunakan beberapa aspek seperti aspek non finansial dan aspek finansial. Uji kelayakan menggunakan 4 skenario produksi yaitu 12 ton/hari, 16 ton/hari, 20 ton/hari, dan 24 ton hari.
Berdasarkan hasil analisis skenario produksi zeolite A yang paling optimum adalah 24 ton/hari dengan kriteria aspek finansial dengan nilai Payback Period (PP) adalah 2 tahun 7 bulan, Net Present Value (NPV) bernilai Rp 2.944.741.357, dan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 22% dengan nilai investasi sebesar Rp 17.524.623.494, Demikian juga hasil analisis non finansial terhadap aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial dan ekonomi, serta lingkungan menunjukkan layak untuk dilaksanakan. Sehingga produksi zeolite A berbasis kaolin ini layak untuk dilaksanakan dengan umur produksi 20 tahun.

Bangka Belitung Province has a high potential for kaolin deposits, which is 13,781,446 tons. The use of kaolin is used for various industries such as ceramics, paper, coatings (fillers), and other industries. In addition, kaolin can be produced into synthetic zeolite A. The process of kaolin becomes zeolite A through the stages of metakaolinization and zeolitization. The process of kaolin becomes metakaolin at temperature of 750 ˚C for 3 hours and the process of metakaolin becomes zeolite A by heating at temperature of 90 ˚C for 8 hours with NaOH 3M concentration. To produce zeolite A kaolin-based, it is necessary to evaluate the feasibility of developing zeolite A production using several aspects such as nonfinancial aspects and financial aspects. The feasibility test uses 4 production scenarios such as 12 tons/day, 16 tons/day, 20 tons/day, and 24 tons/day.
Based on the most optimal scenario analysis zeolite A production is 24 tons/day with criteria of financial aspects, payback period (PP) is 2 years 7 months, net present value (NPV) of IDR 2,944,741,357, and the internal rate of return (IRR) of 22% with an investment value IDR 17,524,623,494, The results of non-financial aspects of the market, technical, management, legal, social and economic, and environmental shows are feasible. So that the production of zeolite A based on kaolin is feasible with production period of 20 years.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
T52378
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library