Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 33 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nico Gamalliel
"Pendahuluan: Penelitian di beberapa negara menunjukkan tingkat penggunaan obat off-label yang tinggi pada pasien pediatrik. Penggunaan obat off-label sendiri berpotensi meningkatkan kejadian efek samping obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan obat off-label kategori usia pada pasien bangsal anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang belum pernah diteliti sebelumnya. Metode: Desain penelitian adalah observasional analitik cross sectional. Sampel merupakan data sekunder dari rekam medis pasien pediatrik yang dirawat di Bangsal Anak RSCM yang dipilih secara consecutive sampling. Kriteria inklusi adalah rekam medik pasien anak 0-18 tahun yang dirawat di Bangsal Anak RSCM periode Januari – Desember 2018, dan kriteria eksklusi berupa data pengobatan yang sulit dibaca, tidak lengkap, serta peresepan elektrolit, suplemen, dan obat luar. Obat yang diberikan dicatat dan ditabulasi. Status peresepan off-label ditentukan berdasarkan usia ketika obat diresepkan dan dicocokkan dengan ketentuan yang tertera pada label atau referensi yang relevan. Beda proporsi penggunaan obat off-label antar kelompok dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Dari 456 sampel peresepan, 12,5% (CI95 = [9,46%; 15,54%]) di antaranya diberikan secara off-label kategori usia. Berdasarkan klasifikasi ATC, golongan obat terbanyak yang diberikan secara off-label adalah agen antineoplastik dan imunomodulasi (61,2%) dan sistem muskuloskeletal (20,0%). Tidak didapatkan hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan penggunaan obat off-label (p = 0,571; PR= 1,19; CI95 = [0,732; 1,942]) serta antara kategori usia bayi, anak, dan remaja dengan penggunaan off-label (p = 0,392). Kesimpulan: Tingkat penggunaan obat off-label kategori usia di bangsal anak 12,5%. Dalam penelitian ini, jenis kelamin dan kelompok usia tidak berpengaruh terhadap prevalensi penggunaan obat off-label.

Introduction: Various studies conducted in many countries showed high level of off-label drug use in pediatric patients. Off-label drug use may increase the occurrence of adverse drug reactions. This study aims to evaluate off-label drug use in Dr. Cipto Mangunkusumo National Central General Hospital (RSCM) which has never been conducted. Methods: Samples were secondary data from medical records of pediatric patients admitted to RSCM Pediatric Ward and collected using consecutive sampling method. Inclusion criteria were medical records of patient of 0-18 years old admitted in the period of January-December 2018, and exclusion criteria were unreadable or incomplete medication record, and electrolyte, supplement, or external medicine. Collected data were recorded and tabulated. Off-label status was determined based on patients’ age when the drug was prescribed and then was matched with the information on the label of the drug or relevant references. Results: Of 456 evaluated prescriptions, 12,5% (CI95 = [9,46%; 15,54%]) were administered off-label according to age category. Based on Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) classification, the most frequent drugs prescribed off-label were anti-neoplastic and immunomodulating (61,2%) and musculoskeletal system drugs (20,0%). There was no association between gender and off-label drug use (p = 0,571; PR= 1,19; CI95 = [0.732; 1.942]), and also between infant, children, and adolescent age categories and off-label drug use (p = 0,392). Conclusion: The prevalence of off-label drug use according to age category in the pediatric ward was 12.5%. In this study, gender and also infant, children, and adolescent age categories had no effect on the prevalence of off-label drug use."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ni Nyoman Berlian Aryadevi Meylandari Putri
"Latar Belakang: Selama beberapa dekade, cisplatin menjadi kemoterapi paling aktif yang tersedia untuk kanker ovarium. Terlepas dari keunggulan hasilnya, cisplatin juga memiliki beberapa efek samping, salah satunya adalah hepatotoksisitas. Dalam perkembangan kedokteran, curcumin ditemukan memiliki efek hepatoprotektif dalam beberapa penelitian, tetapi ternyata memiliki bioavailabilitas yang rendah. Dengan demikian, nanocurcumin dibuat dan ditemukan untuk meningkatkan bioavailabilitasnya. Meskipun demikian, efek curcumin dan nanocurcumin dalam hepatotoksisitas yang disebabkan oleh terapi cisplatin pada kanker ovarium belum diamati. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kedua obat tersebut terhadap hepatotoksisitas yang diinduksi oleh cisplatin. Metode: Percobaan in vivo dilakukan pada tikus Wistar betina, dengan berat 150-200 gram, yang diinduksi oleh DMBA untuk mencapai model kanker ovarium. Kemudian, terapi cisplatin (4mg / kgBB / minggu) diberikan secara intraperitoneal pada tikus. Kemudian beberapa tikus juga diberi terapi kombinasi dengan curcumin (100 mg / kgBB / hari) dan nanocurcumin (100 mg / kgBB / hari). Tikus-tikus ini dibagi menjadi beberapa kelompok: tikus sehat, tidak ada pengobatan, terapi cisplatin, terapi cisplatin + curcumin, dan terapi cisplatin + nanocurcumin. Setelah sebulan, sampel darah diambil dan disentrifugasi untuk mendapatkan plasma. Tingkat AST, ALT, dan ALP diukur menggunakan spektrofotometer untuk menggambarkan fungsi hati. Hasilnya dianalisis menggunakan one-way ANOVA untuk ALT dan ALP dan Kruskall-Wallis untuk AST, menggunakan perangkat lunak SPSS24. Hasil: Tidak ada perbedaan statistik yang signifikan antara kelompok dalam AST plasma (p = 0,125), AlT (p = 0,154), dan ALP (p = 0,072). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan untuk kurkumin dan nanokurkumin dalam mengurangi efek hepatotoksisitas cisplatin

Introduction: For decades, cisplatin has remained the most active chemotherapy available for ovarian cancer. Despite the excellence of the outcome, cisplatin also has severe side effects, one of which is hepatotoxicity. In the development of medicine, curcumin was found to exert a hepatoprotective effect in several studies, but it was found to have low bioavailability. Thus, nanocurcumin was established and discovered to improve its bioavailability. Nonetheless, the effect of curcumin and nanocurcumin in hepatotoxicity caused by cisplatin therapy in ovarian cancer has not been observed. This study aims to examine the effect of both drugs on the cisplatin-induced hepatotoxicity. Method: An in vivo experiment was done on female Wistar rats, weighing from 150-200 grams, which was induced by DMBA to achieve ovarian cancer models. Then, cisplatin therapy (4mg/kgBW/week) was given intraperitoneally to the rats. Then some of the rats were also given combination therapy with curcumin (100 mg/kgBW/day) and nanocurcumin (100 mg/kgBW/day). They were divided into groups of: healthy rats, no treatment, cisplatin therapy, cisplatin+curcumin therapy, and cisplatin+nanocurcumin therapy. After a month, blood sample was taken and centrifuged to obtain plasma. The AST, ALT, and ALP level was measured using spectrophotometer to depict the liver function. The result was analysed using one-way ANOVA for ALT and ALP and Kruskall-Wallis for AST using SPSS24 software. Results: Theres no significant statistical difference between groups in plasma AST (p=0.125), AlT (p=0.154), and ALP (p=0.072). Conclusion: There was no significant differences for both curcumin and nanocurcumin in reducing hepatotoxic effect of cisplatin."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azis Muhammad Putera
"Latar Belakang: Cisplatin, agen kemoterapi pilihan untuk kanker ovarium, bersifat hepatotoksik dengan menginduksi stres oksidatif. Kurkumin adalah agonis jalur Nrf2/Keap1 yang penting dalam respons terhadap stres oksidatif, namun bioavailabilitasnya buruk. Pemberian kurkumin dalam bentuk nanopartikel meningkatkan bioavailabilitasnya dalam tubuh dan distribusinya ke organ target. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nanopartikel kurkumin terhadap hepatotoksisitas cisplatin melalui modulasi jalur Nrf2/Keap1 dilihat dari kadar MDA dan ekspresi gen jalur Nrf2/Keap1.
Metode: 25 ekor tikus Wistar betina dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu kelompok normal, 4 kelompok model kanker ovarium yang diinduksi DMBA yang dibagi menjadi kelompok tanpa terapi, monoterapi cisplatin 4 mg/KgBB intraperitoneal, ko-kemoterapi cisplatin dan kurkumin konvensional 100 mg/KgBB per oral, serta ko-kemoterapi cisplatin dan nanopartikel kurkumin dalam kitosan 100mg/KgBB per oral selama 1 bulan. Tikus dikorbankan dan hepar disimpan beku. Pengukuran MDA dilakukan dengan metode spektrofotometri, sementara analisis gen jalur Nrf2/Keap1 dilakukan dengan prosedur qRT-PCR.
Hasil: Uji parametrik ANOVA dan post-hoc Tukey menunjukkan adanya penurunan kadar MDA hepar secara bermakna antara kelompok ko-kemoterapi kurkumin konvensional dan ko-kemoterapi nanokurkumin dengan kelompok monoterapi cisplatin (p=0,000 dan p=0,005). Tidak ada perbedaan bermakna antarkelompok pada ekspresi relatif mRNA Keap1 (p=0,190). Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok ko-kemoterapi kurkumin konvensional dengan nanokurkumin terkait ekspresi relatif Nrf2 (p=0,990), HO-1 (p=0,513), dan NQO-1 (p=1,000).
Kesimpulan: Pemberian kurkumin menurunkan kadar MDA jaringan hepar dibanding kelompok monoterapi cisplatin. Tidak ada perbedaan bermakna antara kurkumin konvensional dan nanokurkumin dalam melemahkan hepatotoksisitas cisplatin dilihat dari MDA dan ekspresi gen jalur Nrf2/Keap1.

Introduction: Cisplatin induces hepatotoxicity by oxidative stress-related mechanism. Curcumin activates the Nrf2/Keap1 pathway, modulating cellular response to oxidative stress, but its bioavailability is poor. The administration of curcumin in nanoparticles may increase the bioavailability and distribution of curcumin into tissues. This research aimed to assess the attenuation of cisplatin- induced hepatotoxicity through the modulation of Nrf2/Keap1 pathway by nanocurcumin.
Methods: 25 female Wistar rats were divided into a normal group and four ovarian cancer models by DMBA induction (further classified into a no treatment group, cisplatin monotherapy [4 mg/KgBW i.p.], co-administration of cisplatin and conventional curcumin [100 mg/KgBW p.o.], and co-administration of cisplatin and curcumin-loaded chitosan nanoparticles [100mg/KgBW p.o.]) for a month. The livers of the sacrificed animals were frozen. MDA level was measured by spectrophotometry, while the analysis of Nrf2/Keap1 pathway was done using qRT-PCR.
Results: The ANOVA parametric test showed significant differences between groups in hepatic MDA level ((p<0,001). MDA level was markedly reduced in groups receiving conventional (p<0,001) and nanocurcumin (p=0,005), though there were no significant differences between the administration of conventional and nanocurcumin in MDA level (p=0,277). There were no significant differences between groups in Keap1 relative mRNA expression (p=0,190). No statistically significant differences were observed between groups receiving conventional curcumin and nanocurcumin in the relative gene expression Nrf2 (p=0,990), HO-1 (p=0,513), and NQO-1 (p=1,000) mRNAs.
Conclusion: Curcumin did attenuate cisplatin-induced hepatotoxicity, but no significant differences were observed in hepatic MDA level and relative expression of genes in the Nrf2/Keap1 pathway between conventional curcumin and nanocurcumin administration.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anita Rahmawati
"Tanaman mengkudu (Morinda citrifolia) merupakan salah satu tanaman obat tradisional Polinesia yang penting. Adanya kandungan fenol total ekstrak buah mengkudu memungkinkan penggunaan ekstrak buah mengkudu sebagai pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan menentukan kandungan fenol total ekstrak buah mengkudu yang diukur dengan metode kolorimetrik menggunakan larutan Folin-Ciocalteu dan dibandingkan dengan standar asam galat. Tahap pertama homogenat mengkudu diekstrak dengan menggunakan pelarut metanol 70%. Kemudian residu dilarutkan dengan metanol 50%, Tahap kedua dibuat serangkaian larutan standar asam galat dengan kadar 0; 0.1; 0.5; 1.0; 2.5; 5.0 µg/mL. Dengan metode Folin-Ciocalteu larutan-larutan tersebut diukur absorbansinya pada panjang gelombang 765 nm dengan menggunakan alat spektrofotometer.
Dari hasil analisis didapatkan kadar fenol total mengkudu adalah 35,60 mg ekuivalen asam galat per 100 g berat mengkudu segar. Terdapat perbedaan hasil dengan penelitian sebelumnya yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti varietas buah, penanaman, bagian buah, musim tumbuh, kondisi lingkungan, praktik hortikultura, asal geografi, kondisi penyimpanan pascapanen, dan prosedur pemprosesan.

Noni (Morinda citrifolia) is one of the important Polinesian traditional medicinal plant. The total phenol content of M. citrifolia makes it possible as functional food. This research aimed to determine the total phenol content of M. citrifolia using Folin-Ciocalteu colorimetry method. First, M. citrifolia homogenate was extracted using methanol 70% as a solvent. The residue was dissolved in methanol 50%. The second stage, series of gallic acid solution as a standard of measurement were made, with the concentration of 0; 0.1; 0.5; 1.0; 2.5; 5.0 µg/mL. Furthemore the solutions were analyzed by spectrometer and absorbance measured at 765 nm.
The results of the analysis was obtained the total phenol content of M. citrifolia is 35,60 mg gallic acid equivalent per 100 g fresh weight. There are differences between this result with other reseach before which can be affected by many factors, such as cultivar, fruit part, growing season, environmental conditions, horticultural practices, geographic origin, postharvest storage conditions, and processing procedures.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
S-pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ratna Widiyanti Kusumaningati
"Jahe (Zingiber officinale Roscoe), merupakan salah satu bahan alam yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka banyak penelitian yang telah membuktikan kemampuan jahe sebagai antioksidan alami. Aktivitas antioksidan suatu bahan alam tidak terlepas dari kadar komponen fenolik total yang terkandung di dalamnya. Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran kadar fenol total ekstrak jahe dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteau. Tahap pertama homogenat jahe diekstrak dua kali dengan menggunakan pelarut metanol 70%. Kemudian residu dilarutkan dengan metanol 50%, Tahap kedua dibuat serangkaian larutan standar asam galat dengan kadar ; 0.25; 0.5; 1.0; 2.5; 5.0; 7.5. µg/mL Dengan metode Folin-Ciocalteau kedua larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang 765 nm dengan menggunakan alat spektrofotometer. Dari hasil analisis didapatkan kadar fenol total jahe adalah 92,98 mg Equivalen Asam Galat per 100 g berat jahe segar. Dari hasil perbandingan dengan penelitian lain yang menganalisis kadar fenol total tomat dan mengkudu, dapat disimpulkan bahwa jahe memiliki kadar total fenol tertinggi.

Ginger (Zingiber officinale Roscoe), one of the important natural sources in the life of Indonesian community. Along with science and technology andvancement, there are many recent studies have shown ginger properties as a natural antioxidant. Antioxidant activity of natural source related to its total phenolic content. In this study, total phenolic content was determined using Folin-Ciocalteau method. First ginger homogenate was extracted 2 times using methanol 70% as a solvent. The residue was dissolved in methanol 50%. The second stage, we made a series of gallic acid solution as a standard of measurement, with the level of; 0.25; 0.5; 1.0; 2.5; 5.0; 7.5. µg/mL Furthemore the two solutions were analyzed by spectrometry and absorbance measured at 765 nm. The results of the analysis was obtained the level of total phenol ginger is 92,98 mg Gallic Acid Equivalent per 100g fresh weight. Compare to the results of another total phenol research, tomato and noni, ginger has a highest result."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
S-pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Syah Abdaly
"Pisang Raja Sere (Musa AAB ?Pisang Raja Sere?) memiliki banyak kandungan gizi termasuk senyawa antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antioksidan pada ekstrak daging pisang Raja Sere dengan vitamin A, vitamin C dan katekin. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental melalui penghitungan bilangan peroksida. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bilangan peroksida sampel minyak yang ditambahkan ekstrak daging pisang Raja Sere, lebih kecil dibandingkan sampel minyak yang ditambahkan vitamin A maupun vitamin C, namun lebih besar dibandingkan dengan sampel minyak yang ditambahkan katekin. Secara statistik, perbedaan bilangan peroksida ini bermakna karena nilai p<0,05; sehingga dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak daging pisang Raja Sere terbukti lebih baik dibandingkan vitamin A dan vitamin C, tetapi tidak sebaik katekin.

Raja Sere banana (Musa AAB ?Pisang Raja Sere?) contains a lot of dietary components include antioxidant substances. This research was aimed to compare the antioxidant activity between Raja Sere banana pulp extract, vitamin A, vitamin C, and catechin. This research used experimental method through peroxide value counting. This research?s results showed that average peroxide value of the oil added with Raja Sere banana pulp extract sample was less than the oil sample which was added with either vitamin A or vitamin C, but bigger than the oil sample which was added with catechin. Statistically, this comparison is valuable because the ?p value? is <0,05. Thus, it could be concluded that Raja Sere banana pulp?s antioxidant activity is better than vitamin A and vitamin C, but not as good as catechin."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009
S-pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Zoya Marie Adyasa
"ABSTRAK
Walaupun publikasi mengenai endometriosis meningkat dalam lima tahun terakhir, penanganan dan terapi definitif untuk endometriosis masih belum ditemukan, menyebabkan 20 penurunan kualitas hidup pada pasien endometriosis. Asam galat telah digunakan pada sel kanker sehingga mendorong peneliti untuk menyelidiki potensi asam galat sebagai pemicu apoptosis pada sel endometriosis. Kultur primer didapatkan dengan teknik enzimatik dari pasien yang telah menjalani laparoskopi. Sel endometriosis in vitro diberi perlakukan dengan asam galat, heptil galat, dan oktil galat dengan dosis 25.6, 51.2, dan 102.4 selama 48 jam. Kuantifikasi dan penentuan kualitas sel dilakukan menggunakan mikroskop konfocal fluoresens dan pewarnaan Acridine Orange/Ethidium Bromide (AO/EB) dengan observasi sel yang mengalami apoptosis awal, apoptosis akhir,
nekrosis, dan sel hidup. Sampel kontrol menunjukkan 63.8 sel mengalami
apoptosis. Apoptosis setelah pemberian asam galat menurun dari 90,1 menjadi 79,2 dengan peningkatan dosis. Sebaliknya, 51,2 6 heptyl meningkatkan apoptosis menjadi 92.5, sedangkan oktil 51,2 6 menunjukkan apoptosis terbesar dengan 93.1 Penelitian ini menunjukkan efek apoptosis oktil galat diikuti oleh heptil galat dan asam galat dan potensi penggunaan oktil galat sebagai terapi endometriosis

ABSTRACT
Research into endometriosis falls behind despite increasing publication for the last five years, contributing to lack of non-invasive treatments and 20% decrease in quality of life. Since gallic acid usage as anti-inflammatory agent has been elucidated in cancer cells, this study serves to investigate the potential of gallic acid as an apoptotic inducer in endometriosis cells. Primary culture of endometriosis was derived from patients who had laparascopy via enzymatic technique. In vitro endometriosis cells were treated with three dosages of 25.6, 51.2 and 102.4 of gallic acid, heptyl gallate, and octyl gallate for 48 hours. Determination of quality and quantification of early, late, viable, and necrotic cells was done using confocal fluorescence with acridine orange/ethidium bromide staining of at least 100 cells per sample. Control samples showed 63.8 cell underwent apoptosis. Gallic acid, heptyl gallate, and octyl gallate showed different
inhibition pattern. Apoptosis after gallic acid treatment decreased from 90.1 to 79.2 as the dose is increased. On the contrary, 51.2 heptyl induce 92.5
apoptosis, while octyl showed most apoptosis at 93.1 This study exhibited
apoptotic inductor effect of octyl gallate, followed by heptyl gallate and gallic acid and their potency as treatment for endometriosis."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Valentino Ryu Yudianto
"Pendahuluan: Pengobatan Kolitis Ulseratif (KU) hingga saat ini masih dilakukan dengan cara pemberian obat-obatan antiinflamasi, seperti 5-aminosalicylic acid (5-ASA), hingga pembedahan. Selain pengobatan konvensional, dikembangkan pula pengobatan alternatif yang memanfaatkan bahan-bahan dari alam seperti elagitanin. Elagitanin danderivatnya, yakni asam elagat, dapat ditemukan dalam jumlah yang banyak pada kulit buah delima dan diduga memiliki efek antiinflamasi yang bermanfaat untuk terapi alternatif kolitis. Oleh karena itu, penelitian ini hendak menelusuri lebih lanjut pengaruh ekstrak etanol kulit buah delima terhadap ekspresi NF-kB sebagai penanda inflamasi. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian ini menggunakan organ kolon mencit yang telah diberikan perlakuan di penelitian dan dikelompokkan ke dalam 6 kelompok sebagai berikut: kelompok tanpa perlakuan (KTP), kontrol negatif (KN) yang diberikan DSS2%, kontrol positif 1 (KP1) yang diberikan DSS2% dan aspirin 43 mg/kgBB/hari, kontrol positif 2 (KP2) yang diberikan DSS2% dan asam elagat 26 mg/kgBB/hari, serta kelompok dosis 1 (KD1) dan 2 (KD2) yang diberikan DSS2% dan ekstrak kulit delima dalam dosis 240 mg/kgBB/hari dan 480 mg/kgBB/hari. Hasil dan Pembahasan: Rerata H Score untuk KTP adalah 129,0946; untuk KN adalah 200.3989; untuk KP1 adalah 165,5808; untuk KP2 adalah 159,0553; untuk KD1 adalah 186,1655; dan untuk KD2 adalah 141,0696. Uji One Way ANOVA menunjukkan hasil yang signifikan. Uji posthoc Tukey menunjukkan perbedaan yang bermakna antara KD2 dan KN. Kesimpulan: Pemberian ekstrak etanol kulit delima dengan dosis 480 mg/kgBB/hari dapat menurunkan ekspresi NF-kB pada epitel kolon mencit yang diinduksi DSS.

Introduction: Up until now, Ulcerative Colitis (UC) treatment is mainly done conservatively by using antiinflammatory drugs, such as 5-aminosalicylic acid (5-ASA), or surgery. In addition to convensional treatment, alternative treatment that uses natural ingredient, such as elagitanin, is now under development. Elagitanin and its derivative, ellagic acid, can be found abundantly in pomegranate peel, and are expected to own an antiinflammatory property that can be considered to be an alternative choice for UC treatment. Therefore, this study is conducted with the intention of acknowledging the effect of pomegranate peel ethanol extract on NF-κB expression in mice’s colon tissue induced with DSS. Method: Study design used in this study is experimental. This study used the colonic tissue that was already prepared by the previous researcher and is divided into 6 groups: group without intervention (KTP), negative control (KN) with the administration of DSS 2%, positive control 1 (KP1) with the administration of DSS 2% and aspirin 43 mg/kgBW/day, positive control 2 (KP2) in which the mice are given DSS 2% and ellagic acid 26 mg/kgBW/day, and finally dose 1 and dose 2 group (KD1 and KD2) with the administration of DSS 2% and pomegranate peel extract with dose of 240 mg/kgBW/day and 480 mg/kgBW/day. Result and Discussion: Mean H Score for KTP is 129,0946; for KN is 200.3989; for KP1 is 165,5808; for KP2 is 159,0553; for KD1 is 186,1655; and for KD2 is 141,0696. Analysis using One Way ANOVA test shows a signicant result. Posthoc Tukey test shows a significant difference between KD2 and KN. Conclusion: pomegranate peel ethanol extract with dose of 480 mg/kgBW/day can decrease the NF-κB expression in mice’s colon epithelium induced with DSS."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kezia Alicia Theresia
"Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan kondisi dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG). Penurunan LFG mengaktivasi Sistem-Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAAS) dan menyebabkan penumpukan toksin uremik yang meningkatkan stres oksidatif. Irbesartan adalah obat yang berperan dalam inhibisi RAAS dan diduga memiliki peranan dalam menurunkan stres oksidatif.
Tujuan: Mengetahui efek antioksidan Irbesartan dan pengaruhnya terhadap stres oksidatif jantung dan serum tikus model PGK metode 5/6 nefrektomi melalui pengukuran kadar malondialdehid.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan jaringan jantung dan serum tikus tersimpan. Sampel terdiri atas 3 kelompok, yaitu sham (S, jantung dan serum: n=4), nefrektomi 5/6 (N, jantung: n=4; serum: n=3) dan nefrektomi 5/6 dengan pemberian Irbesartan 20 mg/kgBB/hari selama 4 minggu (N+I, jantung dan serum: n=4). Kemudian dilakukan pengukuran kadar malondialdehid melalui uji Thiobarbituric Acid Reactive Substance Assay (TBARS) pada jaringan tersimpan. Analisis statistik dilakukan dengan SPSS v25.0 menggunakan uji One-Way ANOVA.
Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik (p>0,05) antara ketiga kelompok pada pemeriksaan kadar malondialdehid jantung dan serum tikus (jantung: p=0,060; serum: p=0,162).
Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna pada kadar malondialdehid jantung dan serum tikus model PGK metode 5/6 nefrektomi dengan dan tanpa pemberian Irbesartan.

Background: Chronic kidney disease (CKD) is a condition that triggers a decrease in glomerular filtration rate. The reduction can activate Renin-Angiotensin-Aldosterone System (RAAS) and leads to an accumulation of oxidative stress. Irbesartan is a drug that functions to inhibit RAAS and is thought to have an effect on lowering the oxidative stress.
Objectives: To understand irbesartan’s antioxidant effects and its impact on oxidative stress in cardiac tissues and serum on rat models of 5/6 nephrectomy-induced CKD through the measurement of malondialdehyde levels.
Methods: This study is an experimental study utilizing stored heart and serum. The samples consists of three groups, which are Sham (S, heart and serum: n=4), 5/6 nephrectomy (N, heart: n=4; serum: n=3), and 5/6 nephrectomy administered with Irbesartan 20 mg/kgW/day for 4 weeks (N+I, heart and serum: n=4). Statistical analyses were done using SPSS v25.0 and examined using One-Way ANOVA.
Results: There were no significant results between the three groups based on the levels of heart and serum malondialdehyde (heart: p=0.060; serum: p=0.162).
Conclusion: There were no significant differences in the levels of heart and serum malondialdehyde on rat models of 5/6 nephrectomy-induced CKD with the administration of Irbesartan compared and without the administration of Irbesartan.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nafissa Amanda Safinati Yani
"

Latar belakang: Riset Kesehatan Dasar 2018 menemukan bahwa 38/10.000 penduduk Indonesia berusia >15 tahun menderita penyakit ginjal kronis (PGK). Morbiditas dan mortalitas utama pada penderita PGK disebabkan karena sindrom kardiorenal tipe 4. Toksin urea pada penderita PGK dapat menyebabkan inflamasi sistemis serta perburukkan stres oksidatif, mengakibatkan disfungsi endotel dan aterosklerosis yang bisa berujung pada penyakit kardiovaskuler. Sejumlah studi menemukan bahwa simvastatin memiliki efek antiinflamasi dan antioksidan yang ditunjukkan dengan penurunan malondialdehid (MDA), penanda tidak langsung inflamasi dan stres oksidatif.  

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian simvastatin dan pengaruhnya terhadap stres oksidatif pada tikus model PGK melalui pengamatan kadar MDA di jantung dan serum.

Metode: Tikus Sprague-Dawley (n=12) dibagi secara acak menjadi 3 kelompok: kelompok sham (S), model PGK melalui metode 5/6 nefrektomi (N), dan model PGK dengan pemberian simvastatin 10 mg/kgBB selama 4 minggu (NS). Pengukuran kadar MDA jantung dan serum dilakukan melalui Thiobarbituric Acid Reactive Substance Assay. Data selanjutnya diolah melalui uji One-Way Anova.

Hasil: Ditemukan rerata kadar MDA jantung sebagai berikut: S=1,3708 nmol/mg protein; NS=1,2574 nmol/mg protein; dan N=0,4129 nmol/mg protein. Ditemukan rerata kadar MDA serum sebagai berikut: NS=1,5924 nmol/ml; N=1,2667 nmol/ml; dan S=1,2171 nmol/ml. Temuan pada penelitian ini bertentangan dengan teori yang sudah ada. Meski demikian, perbedaan kadar MDA antarkelompok pada penelitian ini tidak bermakna secara statistik (p>0,05).  

Simpulan: Tidak terdapat perbedaan kadar MDA yang bermakna secara statistik baik pada kelompok S, kelompok N, dan kelompok NS.


Introduction: Riset Kesehatan Dasar 2018 found that 38/10.000 Indonesian population aged >15 years were suffering from Chronic Kidney Disease (CKD). CKD patients’ morbidity and mortality are majorly caused by type 4 cardiorenal syndrome. Urea toxin in CKD patients can cause systemic inflammation and oxidative stress, causing endothelial dysfunction and atherosclerosis that can lead to cardiovascular diseases. Several studies found that simvastatin had antiinflammatory and antioxidant effects, shown by the reduction of malondyaldehyde (MDA), an indirect inflammatory and oxidative stress marker.

Objective: This research aims to determine the effects of simvastatin administration on oxidative stress in CKD rat model by measuring cardiac and serum MDA levels.

Method: Sprague-Dawley rats (n=12) were randomly divided into 3 groups: sham (S), CKD model by 5/6 nephrectomy (N), and CKD model with 10 mg/kgBB simvastatin administration for 4 weeks (NS). Cardiac and serum MDA levels were measured using Thiobarbituric Acid Reactive Substance Assay. Data collected were analyzed using One-Way Anova test.

Results: The average cardiac MDA levels found were as followed: S=1.3708 nmol/mg protein; NS=1.2754 nmol/mg protein; and N=0.4129 nmol/mg protein. The average serum MDA levels found were as followed: NS=1.5924 nmol/ml; N=1.2667 nmol/ml; and S=1.2171 nmol/ml. These findings contradict existing theories. However, the differences among treatments and MDA levels are not statistically significant (p>0.05).

Conclusion: There isn’t statistically significant difference among the MDA levels in the S, the N, and the NS group

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>