Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 53 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eryon
"Translation is the activity of transferring the meaning of the source language into the target language. Transferring is done by going from the form of the source language into the form of the target language by way of semantic structure. It is the meaning which is being transferred and must held constant, but it is the form which is changed.
One of the translation activities is to translate the modal expressions of English into Indonesian. The meaning which is carried in the modal expressions of English is transferred into Indonesian. The meaning should be constant. The form may change.
Analyzing translation concentrates on the textual equivalent and formal correspondence. If the translation is not equivalent and does not correspond formally and is equivalent but does not correspond formally, there will be shifts. Shifts are the result of translation procedures: transposition and modulation. Transposition will make grammatical shifts such as unit, word-class, structure and intra-system, and modulation will make semantic shills such as point of view and scope of meaning.
Modality is the speaker's attitude toward the proposition of his utterance and the event of proposition which is ex-pressed in lexical forms such as words, phrases, or clauses. One of the modalities is epistemic which consists of epistemic possibility and epistemic necessity. Epistemic possibility is expressed in lexical forms such as may, can, perhaps, maybe, it is possible that (English), and mungkin, barangkali, bisa-jadi(Indonesian). Epistemic necessity is expressed in lexical forms such must, should, it is necessary that (English), and harus, mesti, tentu saja, saya yakin (Indonesian). Deontic is another modality. It contains of obligation and permission. Obligation is expressed in lexical forms such as must, should (English), and wajib, mesti, jangan (Indonesian). Permission is expressed in lexical forms such as might, can, could (English), and boleh, dapat, bisa (Indonesian). The other modality is dynamic, that is ability. It is expressed in lexical forms such as can, could, be able to, be capable of (Englsih), and bisa, dapat, ma?npu, sanggup (indonesian).
In translation of English modal expressions which are in The Old Man and the Sea into Lelaki Tua darn Laut, there are some problems. The ones that are found are the differences of unit and word-class of modal expressions, and subcategory of modality. The differences of unit and word-classes will make grammatical shifts unit and word-class shifts, and those of subcategory will make semantic shifts: shifts of point of view and shifts of scope of meaning.
The differences of unit between source text and target text cause unit shifts. For example, can as word is translated into boleh jadi as phrase. In other case, the unit differences will also cause semantic shifts : shift of scope of meaning and shift of point of view. Can mean 'bisa' whose scope of meaning is broader than masih bisa because bisa is emphasized by masih. Must which means 'kepastian' is translated into akan masih which means 'Keteramalan'. Kepastian and keteramalan have different point of view.
The shifts which occur in translation The Old Man and the Sea into Lelaki Tua dan Laut can be caused by the different systems of English and Indonesian or by the translator. From the number of shifts which are found, especially those which are caused by translator can be concluded that the translation of modal expressions in The Old Man and the Sea into Lelaki Tua dan Laut is not good enough."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2000
T1684
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irna Nirwani Djajadiningrat
"Penelitian ini bertolak dari permasalahan penguasaan kosakata, pemahaman membaca, dan kadar hubungan antara kedua variabel tersebut. Untuk menjawab permasalahan itu, penelitian ini menggunakan tes skala pengetahuan kosakata dan tes isi-rumpang.
Populasi penelitian berjumlah 260 mahasiswa yang berasal dari Universitas Darma Persada, Universitas Borobudur, dan Universitas Kertanegara. Populasi penelitian adalah mahasiswa pendidikan diploma tiga Jurusan Bahasa Inggris semester VI. Karena besarnya populasi, penelitian ini menggunakan percontoh yang ditarik dengan teknik purposive sampling, agar jumlah percontoh tiap Universitas sama. Jumlah percontoh ialah 90 mahasiswa.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa penguasaan kosakata, terutama sanding kata pemelajar berkategori baik. Pemahaman membaca pemelajar pun berada pada tingkat independen. Selain itu, uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara penguasaan kosakata dan pemahaman membaca dan kadar hubungan kedua variabel itu bersifat signifikan. Dengan begitu, faktor penguasaan leksis tidak dapat diabaikan dalam pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing.
Berdasarkan analisis butir tes, diketahui bahwa dari ketiga materi butir tes skala pengetahuan kosakata, materi kolokasi merupakan materi yang memiliki tingkat kesalahan pengerjaan tertinggi, disusul oleh materi idiom dan ungkapan. Hal itu disebabkan oleh perbedaan ciri dari ketiga materi tersebut. Kesalahan yang dilakukan pada materi kolokasi disebabkan oleh sifat kolokasi yang terbuka, terutama kolokasi lemah dan kolokasi setengah kuat dan kemungkinan terjadinya transfer negatif."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2002
T1453
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Krisanjaya
"Penelitian ini bertujuan memberikan runtunan pemarkah aspektualitas dan modalitas di dalam sintaksis bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Data diambil dari surat kabar, tabloid, majalah, novel, dan buku dengan jumlah 2394 korpus data. Temuan penelitian ini adalah terdapat 22 pola runtunan dan 76 formula runtunan pemarkah aspektualitas dan modalitas bahasa Indonesia. Pemarkah aspektualitas yang sering muncul adalah akan, sudah, dan telah. Pemarkah modalitas yang sering muncul adalah dapat dan bisa.
Pola runtunan yang muncul dari temuan penelitian adalah pemarkah aspektualitas imperfektif + aspektualitas perfektif maupun imperfektif; pemarkah aspektualitas perfektif + aspektualitas perfektif; pemarkah aspektualitas imperfektif + modalitas intensional, epistemik, deontik, maupun dinamik; pemarkah aspektualitas perfektif + modalitas intensional, epistemik, deontik, maupun dinamik; pemarkah modalitas epistemik + aspektualitas imperfektif maupun perfektif; pemarkah modalitas intensional + aspektualitas imperfektif; pemarkah modalitas dinamik + aspektualitas imperfektif; pemarkah modalitas epistemik + modalitas intensional, epistemik, deontik, maupun dinamik; pemarkah modalitas intensional + modalitas dinamik; pemarkah modalitas deontik + modalitas intensional; pemarkah modalitas dinamik + modalitas epistemik maupun intensional.
Pola runtunan yang tidak muncul dari temuan penelitian adalah pemarkah aspektualitas perfektif + aspektualitas perfektif, pemarkah modalitas intensional + aspektualitas perfektif, pemarkah modalitas deontik + aspektualitas perfektif, pemarkah modalitas deontik + aspektualitas imperfektif, pemarkah modalitas dinamik + aspektualitas perfektif, pemarkah modalitas intensional + modalitas epistemik, intensional, deontik, maupun dinamik, pemarkah modalitas deontik + modalitas epistemik, deontik maupun dinamik, pemarkah modalitas dinamik + modalitas deontik dan dinamik.

The purpose of this study is to describe the series of aspectuality dan modality markers in Indonesian syntax. The research method used in this study is descriptive qualitative.
The data was taken from daily, tabloid, weekly, and books by using 2394 occurrences of aspectuality and modality markers. This study reveals that there are 22 series of aspectuality dan modality markers with 76 formulas.
The series of aspectuality dan modality markers which appears are perfective aspectuality + perfective and imperfective aspectuality; perfective aspectuality + imperfective aspectuality; perfective aspectuality + epistemic, intentional, deontic, and dynamic modality; imperfective aspectuality + imperfective aspectuality; perfective aspectuality + epistemic, intentional, deontic, and dynamic modality: epistemic modality + Perfective and imperfective aspectuality; intentional modality + imperfective aspectuality; dynamic modality + imperfective aspectuality; epistemic modality + epistemic, intentional, deontic, and dynamic modality; intentional modality + dynamic modality; deontic modality + intentional modality; dynamic modality + epistemic and intentional modality.
The series of aspectuality dan modality markers which do not appear are perfective aspectuality + perfective aspectuality; intentional modality + perfective aspectuality; deontic modality + perfective aspectuality; deontic modality + imperfective modality; dynamic modality + perfective aspectuality; intentional modality + epistemic, intentional, deontic, and dynamic modality; deontic modality + epistemic, deontic and dynamic modality; dynamic modality + deontic and dynamic modality."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2000
T3680
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rofiudin ZA
"Tesis ini merupakan studi kasus di tiga perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah: Universitas Pancasakti, Universitas Pekalongan, dan Universitas Tujuh Belas Agustus. Tesis ini mengkaji pengajaran dan pemelajaran kosakata khusus untuk mahasiswa ekonomi. Tujuan kajian ini adalah 1) mengevaluasi implemenlasi pengajaran bahasa lnggris ilmu ekonomi: 2) mengadakan analisis kebutuhan; 3) mengajukan model pengajaran kosakata khusus.
Analisis kebutuhan dilaksanakan untuk mengetahui informasi tentang pengajaran bahasa Inggris di pendidikan tinggi. Analisis tersebut juga dimaksudkan untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap 1) manfaat dan tujuan mereka mempelajari bahasa Inggris, 2) Bahasa Inggris khusus untuk ilmu ekonomi, 3) keterampilan berbahasa yang mereka kehendaki dan kendalanya, 4) masalah kosakata, 5) frekuensi pengajaran, dan 6) kondisi kelas. Masukan dari responden yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan manajer diperoleh melalui kuesioner dan wawancara berstruktur.
Dari hasil analisis tersebut diketahui 89,53% responden berpandangan bahwa bahasa Inggris penting; 59,67 % menghendaki bahasa Inggris yang sesuai dengan kebutuhan ilmu ekonomi; 98,67% menghendaki materi belajar yang sesuai dengan topik dalam ilmu ekonomi; 89,33% menganggap penting dosen bahasa Inggris dan dosen ekonomi bekerja sama menyusun materi belajar; 64,67% berpandangan bahwa kendala utama untuk mengusai keterampilan berbahasa adalah pada lemahnya penguasaan dan pemahaman mereka terhadap kosakata; 79,33% beranggapan bahwa 3 kredit belumlah cukup untuk mata kuliah bahasa Inggris; dan 92,67% merasakan bahwa jumlah mahasiswa dalam satu kelas terlalu banyak.
Dari hasil analisis tersebut, selanjutnya dapat diidentifikasi kebutuhan nyata mahasiswa, yakni pentingnya pengayaan kosakata khusus ilmu ekonomi yang dianggap sebagai faktor utama untuk menguasai keterampilan membaca. Setelah mempertimbangkan kebutuhan nyata secara akurat, langkah berikutnya adalah merancang materi belajar, Materi tersebut meliputi: 1) bagian kata, 2) memilih kosakata, 3) parafrasa, 4) penyederhanaan, 5) pembubuhan catatan (glossing), dan 6) penggunaan kamus.
This research is a case study at three private universities: Universitas Pancasakti, Universitas Pekalongan, and Universitas Tujuh belas Agustus (UNTAG). It deals with the teaching and learning of the vocabulary component specific for the students of economics. The purposes of this research are 1) to evaluate the implementation of English teaching for economic students in the recent days: 2) to conduct the needs analysis; 3) to propose a model of teaching vocabulary of economics.
The needs analysis was conducted to know clearly the information about the real teaching of English at higher education. It was also proposed to know the students' perception on 1) their purposes of learning English, 2) English for economics, 3) the skills needed and the obstacles, 4) vocabulary component, 5) the frequency of the English teaching, and 6) class size. Responses from respondents covering the students, lecturers, managers, and other stake holders were collected through questionnaires and structured interview.
Based on the analysis it was known that 89.53% of the respondents perceived that English was important; 59.67% needed English specific for students of economics; 98.67% needed the learning materials accelerated to the topic of economics; 89.33% thought that any coordination between English and economics lecturers was very important; 64.67% thought that weakness in vocabulary mastery was the main obstacle to master language skills; 79.33% considered that 3 credits was not enough for English: and 92.67% felt that the number of students in an English class was too big.
From the results of the analysis, it could be then identified the specific needs of those students; that was the importance of specific vocabulary enrichment which was later considered to be the most factor determining the mastery of reading skills needed. Then, after considering accurately to the real needs, learning materials were constructed. The materials covered 1) word parts, 2) selecting vocabulary, 3) paraphrases, 4) simplification. 5) glossing, and 6) using dictionary.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2003
T11656
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meity Taqdir Qodratillah
"Kajian ini bertujuan memperoleh gambaran yang jelas tentang pemakaian istilah oleh kalangan profesional kedokteran dan profesional keuangan. Penelitian ini mencoba menggabungkan sosiolinguistik dan terminologi, yang disebut sosioterminologi. Data dijaring melalui penyebaran kuesioner ke kalangan dokter dan profesional keuangan. Kerangka teori yang diterapkan dalam penelitian ini ialah teori perencanaan bahasa, yakni tentang pembakuan istilah, dan pembentukan istilah.
Pembakuan istilah merupakan proses yang kompleks yang memerlukan sejumlah proses, seperti penyeragaman konsep dan istilah, definisi istilah, pengurangan kehomoniman dan kesinoniman, penetapan penyebutan (designation), termasuk singkatan dan lambang serta penciptaan istilah baru. Dari dasar tersebut, saya mencoba membandingkan pemakaian istilah di kalangan profesional kedokteran dan keuangan. Bagaimana tingkat keseragaman istilah yang digunakan oleh kedua kalangan itu, baik dengan orang seprofesi maupun dengan orang tak seprofesi? Bagaimana sikap kedua kalangan profesional tersebut terhadap istilah Indonesia? Istilah serapan atau terjemahankah yang lebih cenderung dipilih?
Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat keseragaman pemakaian istilah di kalangan dokter, baik dengan orang seprofesi maupun dengan orang tak seprofesi tinggi, yakni 97.50% dan 90%. Sementara itu, tingkat keseragaman pemakaian istilah di kalangan profesional keuangan dengan orang seprofesi dapat dikatakan rendah (60%) dan dengan orang tak seprofesi sangat rendah (45%). Sikap dokter dan profesional keuangan terhadap istilah Indonesia positif. Namun, dari tingkat kepositifannya, sikap dokter lebih positif daripada sikap profesional keuangan. Ihwal istilah serapan dan terjemahan, keduanya cenderung memilih istilah serapan daripada terjemahan.

The aim of this study is to obtain a description of the usage of terminology by medical and financial professionals. The research has tried to combine two disciplines, i.e. sociolinguistics and terminology and thus it could be named socioterminology. The theoretical framework for in this study is the theory of language planning, especially the standardization of terminology, and term formation.
Standardization of terms is a complex process that entails a number of operations, such as the unification of concepts, the definition of terms, the reduction of homonymy, the elimination of synonymy, the fixing of designations, including abbreviations and symbols, and also the coinage of new terms. For these reasons, I have tried to compare the usage of terminologies between medical and financial professionals. To what extent is the usage of terminologies by each professional uniform? How does she or he think about the Indonesian terminologies? Which terminology has he or she chosen? Does he or she prefer borrowed terms or translated terms?
The results indicate that the degree of uniformity in the usage of terminology by the professionals varies. The uniformity degree among the medical professionals is higher (97.50%) than that among the financial professionals (60%). A medical professional uses a different form when talking to his or her colleagues compared to the occasion when talking to someone who belongs to a different profession. The attitudes of both groups towards the Indonesian terms are positive, but the doctors' attitudes are more positive than those of the financial professionals. They prefer the borrowed terms to the translated terms.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2004
T11589
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moch. Syarif Hidayatullah
"Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan medan makna kepala negara dalam bahasa Arab, khususnya yang terdapat pada Alquran dan Hadis. Ada enam leksem yang diteliti pada penelitian ini: ?Uli al-?amr, ?amir al﷓ mu?minin, khalifah, ?imam, sultan, dan malik. Hubungan yang terjadi di antara keenam leksem itu adalah hubungan paradigmatik. Korpus data yang berhasil dikumpulkan 1265 data yang terdiri atas 76 data dari Alquran dan 1189 data dari hadis. Jumlah itu sudah termasuk infleksi yang berupa bentuk plural pada leksem khalifah, ?imam, dan malik.
Di dalam penelitian ini dibicarakan medan makna, makna leksem dalam konstruksi kalimat, taksonimi, dan meronimi keenam leksem itu. Pada pembicaraan mengenai medan makna, diketahui adanya hubungan kongruensi yang berupa hubungan inklusi, tumpang-tindih, dan disjungsi. Analisis masing-masing leksem ketika berada pada konstruksi kalimat menunjukkan makna masing-masing leksem bersinonim dengan yang lain pada satu waktu dan di waktu yang lain berbeda makna. Masing-masing leksem dapat berkonotasi negatif dan berkonotasi positif tergantung konteks dan kolokasinya. Analisis pada konstruksi kalimat juga menunjukkan terjadinya kepolisemian dan kehomoniman pada keenam leksem itu.
Pada analisis taksonimi, diketahui leksem ?Uli al-?amr merupakan superordinat dari leksem `ulama ? dan leksem ?umara?, sementara leksem ?umara? menjadi superordinat dari leksem ?amir al-mu?minin dan leksem malik. Leksem ?amir al-mu?minin sendiri menjadi superordinat dari leksem khalifah, ?imam, dan leksem sultan. Analisis meronimi pada keenam leksem itu menunjukkan leksem ?uli al-?amr merupakan holonim dari leksem-leksem lain yang merupakan partonim dari leksem ?uli-al-?amr.

The research target is to explain semantic field of head of state in Arabic, especially, which is found in Alquran and Hadith. The lexemes which examined were ?uli al-?amr, ?amir al-mu?minin, khalifah, ?imam, sultan, and malik. The relationship among lexemes is paradigmatic. In this research, there are 1265 data. The amounts of 76 data were taken from Alquran and 1189 data from Hadith. Those data were including the inflection of plural form of khalifah, ?imam, and malik.
The research discusses the semantic field, lexeme meaning in sentences construction, taxonymy, and meronymy of those lexemes. On semantic field, there is congruence in the form of inclusion, overlap, and disjunction.
The analysis of each lexeme in the sentence construction shows the meaning of each lexeme has synonymous meaning with other at one time and has different meaning in other time. Each lexeme could have negative and positive connotation. The connotations are depending on its context and collocation. On the analysis of sentence construction, there are polysemy and homonymy tendency of those lexemes.
On the taxonymy analysis, ?uli al-?amr is the superordinate of `ulama? and ?umara?, while ?umara? the superordinate of ?amir al mu?minin and malik. Another finding shows ?amir' al-mu?minin as the superordinate of khalifah, ?imam, and sultan. In the analysis of metonymy relation, it was found that ?uli al-?amr is the holonym of other lexemes which are the partonym of ?uli al-?amr.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2004
T11605
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Novika Stri Wrihatni
"Penelitian ini berjudul Pengulangan Morfologis dan Morfosintaktis di dalam Bahasa Sunda. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang bentuk ulang dalam bahasa Sunda; untuk memastikan apakah bentuk ulang bahasa sunda merupakan proses derivasional dan / atau infleksional.
Kerangka teori di dalam penelitian ini menggunakan: (1) aksionalitas yang dikemukakan oleh Bache 1985 dan Saeed 1997; (2) aspektualitas oleh Bache 1985, Saeed 1997, dan Cruse 2000., (3) modalitas oleh Palmer 1981, Saeed 1997, dan Cruse 2000, dan (4) jumlah oleh Lyons 1968 dan Cruse 2000.
Metodologi di dalam penelitian ini menggunakan ancangan kualitatif. Dengan ancangan kualitatif itu data diidentifikasi, dideskripsi, dan diintepretasi berdasarkan unsur pembentuknya maupun konteks kalimat.
Penggunaan sumber data penelitian yang berasal dari penelitian terdahulu karena alasan efektifitas. Data yang diperoleh diperiksa ulangkan kepada informan sehingga menjadi data primer. Korpus data aksionalitas, aspektualitas, dan modalitas dalam bentuk kalimat karena dapat mengungkapkan ciri semantis kewaktuan yang berbeda, sedangkan korpus data jumlah dalam bentuk kata.
Hasil analisis data menunjukkan pengulangan sebagai pemarkah aksionalitas [±duratif], [± dinamis], [±telis]; aspektualitas meliputi awal mula, sedang berlangsung, dan sudah selesai; modalitas meliputi keharusan, kemampuan, dan keinginan; sedangkan jumlah meliputi ketaktunggalan dan ketunggalan. Ketaktunggalan terdiri atas keanekaan, kekolektifan, dan kepaukalan.
Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya. Perbedaan itu meliputi proses pembentukan, teori yang dipergunakan untuk menganalisis data, dan bentuk ulang yang berupa leksem baru atau bentukan kata dari leksem yang sama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipertimbangkan sebagai pengembangan keilmuan terutama untuk pengembangan buku ajar bahasa Sunda."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2004
T11704
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erwina Burhanuddin
"Idiomaticity has so far been identified mainly with noncompositionality. According to Nunberg et al (1994), the work that has inspired me iu undertaking this study, an definition of idioms which relies solely on uoncompositionality criterion will fail to recognize some important dimensions of idiomaticity, including, among other, conventionality and figuration.
The semantic characteristics of idioms introduced by Nunberg et al. are conventionality, which has something to do with transparency or opacity, and compositionality.
Nurnberg et al. divide idioms into two groups: phrasal idioms and idiomatic combination (or idiomatic expressions). This study, however, shows that idioms in Minangkabau need to be divided into three groups: complex-word idioms (following Moeliono, 1980), phrasal idioms and idiomatic combination.
Complex-word idioms in Minangkabau are formed either by means of affixation or by means of reduplication. Affixes used for this purposes are (1) prefixes ba-, ma-, and to-, (2) combining form Rasa-, and (3) contixes pa-...-an and ka-...-an. Reduplication of bases can be (1) complete and (2) partial.
Phrasal idioms, the meanings of which are indicated by the whole phrase rather than distributed to their respective constituents, consist of verbal idioms and nominal idioms. On the basis of the data analysed in this study, verbal idioms in Minangkabau belong to verbs of state. Verbal idioms may occur in (1) the construction VERB + NOUN as exemplified by malapeh as (free + air) 'to obtain no benifit', barxinyak aia (have oil + water) 'to make ends meet' etc. and (2) the construction ADVERB + VERB as exemplified by alah Hang (already + lost) 'to die', sadang sarek (being + full) 'pregnant' etc. On the basis of their constructions, nominal idioms iii Minangkabau are of two types: (I) NOUN + NOUN as exemplified by kacang iuiang (nut + plant hair) 'fink', induak bareh (mother + rice) 'wife' etc. and (2) NOUN + NOUN as exemplified by kudo itarn (horse + black) 'unexpected winner', aia gadang (water + big) 'flood'.
Idiomatic combinations refer to idioms whose constituents contain elements with identifiable idiomatic meanings. On the basis of their contents, idiomatic combinations in Minangkabau can be grouped into proverbs, aphorisms, maxims, slogans, similes, and satires.
Idioms in Minangkabau are usually used to refine expressions, to sharpen intentions, to ridicule, to advise, to slander, to praise and to express feelings such as happiness, disappointment, impatience, reluctance, anger, etc."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Ketut Darma Laksana
"ABSTRAK
Kajian terhadap tajuk bermajas dalam surat kabar berbahasa Indonesia dimaksudkan untuk menemukan hubungan antara struktur gramatikal dan semantik--pragmatik sebagai refleksi dari karakteristik tajuk. Sumber data berupa enam buah surat kabar: lima dari surat kabar yang berskala nasional yakni Kompas, Suara Pembaruan, Suara Karya, Berita Buana, dan Merdeka; dan satu dari surat kabar kota yakni Pas Kota. Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan segi stilistik dan gramatikal majas, cara pemahaman, dan fungsinya pada tajuk.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini merupakan perpaduan dari ancangan stilistik dan ancangan gramatika. Ancangan stilistik sendiri diperoleh dari perpaduan tiga macam teori: semantik, pragmatik, dan kognitif. Teori semantik dimanfaatkan untuk mengungkapkan bentuk majas yang dicirikan oleh kesamaan fitur semantik; teori pragmatik dimanfaatkan untuk mengungkapkan bentuk majas yang tidak dicirikan oleh kesamaan fitur semantik karena penciptaannya sudah keluar dari pola yang ada (sistem); dan teori kognitif dimanfaatkan untuk menjelaskan tema-tema ungkapan majasi. Selanjutnya, ancangan gramatika didasarkan pada teori gramatika fungsional. Teori gramatika fungsional --.tersebut dipandang dapat menjelaskan pola gramatikal tajuk karena tajuk hakikatnya adalah sebuah kalimat teks.
Perpaduan antara ancangan stilistik dan ancangan gramatika itu menghasilkan salah satu temuan yaitu bentuk majas, dalam hal ini metafora, yang salah satu unsurnya berfungsi sebagai pengekspresif makna. Temuan lainnya dapat dikemukakan berikut ini.
Penelitian terhadap lima ratus tajuk bermajas menghasilkan simpulan bahwa kategori majas perbandingan lebih tinggi frekuensi pemakaiannya dibandingkan dengan majas pertautan, yakni dalam perbandingan 420:80 (84%:15%). Di antara kategori majas perbandingan itu dapat diketahui pula bahwa subkategori metafora menempati posisi teratas, yakni 370 buah (74%); kemudian personifikasi dan perumpamaan masing-masing: 18 buah (3,60%) dan 32 buah (6,40%). Sementara itu, pada metafora, pola pemakaian Tb-Mt (metafora predikatif) menduduki posisi paling tinggi, yakni 220 buah (59,46%). Dua pola lain yaitu Tb-Pb (metafora nominal) dan gala Pb-Mt (metafora kalimat) masing-masing: 115 buah (31,08%) dan 35 buah (9,46%). POla Pb-Mt (metafora kalimat) tersebut'digolongkan dalam metafora inovatif. Pada metonirmia, pola Pu-OTu lebih tinggi frekuensinya daripada pola Tu-Pu; dalam perbandingan 42:18 (70%:30%).
Makna suatu ungkapan majasi--terutama yang tergolong dalam bentuk inovatif--hanya dapat dipahami berdasarkan prosedur rekonstruksi makna, baik dengan bantuan kebahasaan maupun bantuan luar kebahasaan. Berdasarkan rekonstruksi makna ungkapan majasi itu, secara garis besar, dapat dikelompokkan dua tipe makna, yaitu makna bahasa dan makna budaya dengan perbandingan frekuensi 370:130 (74%:26%).
Analisis fungsi majas pada tajuk menghasilkan simpulan yang berikut: pertama, majas sebagai penghemat ruang dalam Surat kabar; kedua, majas sebagai penarik minat pembaca; dan ketiga, majas dapat mengkongkretkan hal yang diungkapkan."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1994
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
E. Zaenal Arifin
"ABSTRAK
Wacana (discourse) yang merupakan tataran paling besar dalam hierarki kebahasaan--termasuk hierarki bahasa Sunda--bukanlah merupakan timbunan kalimat secara acak, melainkan merupakan satuan bahasa di atas kalimat, baik lisan maupun tulisan, yang tersusun secara berkesinambungan dan membentuk kepaduan (Halliday 1) dan Hasan (1976(1979:1} dan 1985(1989:10)); Stubbs 1983;15 ;Kridalaksana 1978:36; Moeliono et al. 1988:34; Bright 1992:356; Kartomihardjo 1992:1).
Di dunia linguistik Baratr analisis wacana mulai berkembang sejak diperkenalkannya makalah yang berjudul Discourse Analysis oleh Harris pada tahun 1952 (Bright 1992:357; Oetomo 1992:6 Marcellino 1992:1). Dalam makalahnya, Harris mulai mencari kaidah bahasa yang menjelaskan, 'bagaimana' kalimat dalam suatu teks dihubungkan oleh semacam tata bahasa yang diperluas, seperti pengacuan anaforis dan kataforis, substitusi, elipsis, hubungan konjungtif, serta hubungan leksikal (Malmkjaer 1991:100; Oetomo 1992:6). Di Indonesia analisis terhadap tataran paling besar dalam hierarki kebahasaan itu baru benar-benar berkembang pada tahun 1970-an (Kridalaksana 1978:34; Oetomo 1992:1)
Analisis wacana (discourse analysis) adalah analasis bahasa dalam penggunaan (the analysis of language in use) (Brown dan Yule 1987:1). Sejalan dengan itu, Halliday dan Hasan (1979:236 dan 1989:10) mengatakan bahwa analisis wacana, yang disebutnya analisis teks, adalah analisis bahasa dalam pemakaian yang merupakan unit semantis, dan bukan unit struktural atau gramatikal seperti klausa atau kalimat
Menurut Grice (1975:45----6), dalam komunikasi verbal, baik yang monolog maupun yang dialog, salah satu syarat panting yang harus diperhatikan adalah kesinambungan proposisi yang diajukan. Kesinambungan itu kadang-kadang mempunyai manifestasi fonetis yang ekeplisit, tetapi kadang-kadang juga hanya terwujudkan dalam suatu implikatur yang sifatnya tidak langsung atau hanya tersirat (cf. Dardjowidjojo 1988:93). Teori Grice tentang conversational implicature secara mendasar berasal dari prinsip umum percakapan, yang disebut cooperative principle.
"
1993
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>