Hasil Pencarian

Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Indah Fauziah
"Selama ini kasus karsinoma ovarium yang datang ke RSCM ditangani oleh Subbagian Ginekologi Onkologi, dan telah membuat panduan tatalaksana karsinoma ovarium. Karsinoma ovarium stadium lanjut sejak tahun 1994. dilakukan pemberian neoadjuvant kemoterapi yang dilanjutkan dengan pembedahan sitoreduksi. Kurangnya data awal maupun kajian dalam bentuk penelitian mengenai perubahan metode pemberian kemoterapi, dari metode konvensional yaitu pembedahan sitoreduksi (tanpa neoadjuvant kemoterapi) yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian adjuvant kemoterapi, menjadi pemberian neoadjuvant kemoterapi tcrlcbih dahulu kemudian dilanjutkan pembedahan sitoreduksi menimbulkan pertanyaan, bagaimana efek pemberian neoadjin.ant kemoterapi pada karsinoma stadium lanjut di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Pada pasien karsinoma ovanium stadium lanjut yang dilakukan pengobatan kemoterapi selama kurun waktu tertentu di Subbagian Ginekologi Dnkologi, Bagian Obstetri dan Ginekologi RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.
1. Bagaimanakah praktek pemberian neoadjuvant kemoterapi pada karsinoma ovarium stadium lanjut?
2. Bagaimanakah efek pemberian neoadjuvant kemoterapi terhadap pencapaian sitoreduksi optimal?
3. Bagaimanakah efek pemberian neoadjuvant kemoterapi terhadap morbiditas pembedahan?
4. Bagaimanakah efek pemberian neoadjuvant kemoterapi terhadap kualitas hidup?"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18163
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Triono Adi Suroso
"Karsinoma endometrium merupakan keganasan ginekologi yang sering dijumpai dan keganasan ketiga yang paling sering pada wanita. Karsinoma endometrium juga merupakan penyebab kematian ketujuh dari keganasan pada wanita. The American Cancer Society melaporkan bahwa pada tahun 1999 terjadi 37.400 kasus baru dan 6.400 kematian. Tahun 2000 dilaporkan 36.100 kasus baru dengan 6.500 kasus kematian. Tahun 2001 terjadi 38.300 kasus baru dengan 6.600 kematian. Sedangkan tahun 2002 diperkirakan akan terjadi 39.000 kasus baru dengan 6.600 kematian pertahunnya di Amerika Serikat.
Data registrasi kanker berbasis rumah sakit di RSCM sepanjang tahun 1997-1998 terdapat 19 (1,41%) kasus baru dari 1346 keganasan pada wanita dan separuhnya datang sudah dengan derajat sedang dan berat serta sebagian besar dengan status pendidikanfsosiai ekonomi rendah. Beberapa peneliti mengajurkan untuk dilakukan evaluasi lebih jauh terhadap perdarahan uterus abnormal berdasarkan risiko terjadi polip endometrium, hiperplasia dan neoplasma endometrium.
Pengambiian contoh sediaan endometrium merupakan suatu analisis histologi yang sangat panting. Cara ini mudah dilakukan sehingga dapat dijadikan alat bantu diagnosis pada penderita dengan rawat jalan. Diagnosis histopatologi memegang peranan penting dalam penatalaksanaan penyakit kanker. Hasil pemeriksaan ini akan menentukan pengobatan selanjutnya dan prognosis penyakit. Terdapat beberapa cara potensial untuk penapisan antara lain pemeriksaan sitologi, pemeriksaan histologi dan pemeriksaan ultrasonografi transvagina.
Cara pengambilan dapat dilakukan dengan biopsi, histeroskopi atau dilatasi dan kuretase. Biopsi lebih murah bila dibandingkan dengan dilatasi dan kuretase, histeroskopi maupun observasi. Sebelumnya baku emas diagnosis histologi endometrium adalah dilatasi dan kuretase. Biopsi endometrium di poliklinik terbukti bermanfaat untuk penapisan penyakit endometrium karena tidak sakit, murah atau efek samping yang relatif rendah. Beberapa penelitian mendapatkan basil dari biopsi di poliklinik dengan nilai keakuratan yang hampir sama dengan dilatasi dan kuretase berkisar antara 90-95%.
Deteksi kelainan endometrium yang dilakukan dengan cara dilatasi kuretase memiliki kendala antara lain biaya yang tinggi dan tindakan yang invasif. Dipikirkan dilakukan cars lain yang kurang invasif dan biaya yang relatif lebih murah, diantaranya adalah biopsi endometrium. Biopsi endometrium memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi keganasan endometrium. Biopsi endometrium mempunyai sensitivitas 91-99%. Sedangkan spesifisitasnya sekitar 98-99%.
Teknik pengambilan contoh sediaan biopsi endometrium dengan menggunakan alat yang kecii, fleksibel dan sekali pakai cocok untuk mendapatkan jaringan endometrium. Kelebihan lain dari biopsi adalah biaya yang dikeluarkan lebih murah. Di RSCM diperkirakan biaya yang dikeluarkan untuk pemeriksaan biopsi endometrium dengan Endoram berkisar Rp. 150.000 dibandingkan dengan biaya untuk kuretase yang berkisar sebesar Rp. 1.500.000.
Dari penelitian ini diharapkan pemeriksaan biopsi endometrium dengan Endoram dapat dipergunakan sebagai cars untuk mendeteksi dini bagi penderita yang berisiko tinggi terhadap kelainan endometrium atau perdarahan uterus abnormal sebelum dilakukan dilatasi kuretase.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan suatu pertanyaan penelitian bagaimana sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan histologi biopsi Endoram dengan baku emas dilatasi kuretase endometrium untuk mendeteksi kelainan endometrium pada kasus perdarahan uterus abnormal."
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T21391
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shinta Pangestu
"Di Indonesia,kanker serviks merupakan keganasan ginekologi terbanyak yang terjadi pada wanita.Hal ini disebabkan kurangnya program skrining.Di Indonesia program deteksi dini dengan inspeksi visual asam asetat (IVA) telah dimulai,Kementerian Kesehatan memiliki program VIA untuk deteksi dini, dengan target 50% perempuan usia 30-50 tahun pada tahun 2019.Untuk mencapai target tersebut,Kementerian Kesehatan Indonesia telah melakukan pelatihan IVA untuk dokter dan bidan.Penelitian ini akan mengkaji evaluasi pelatihan IVA yang telah dilaksanakan pada bidan dan membandingkan antara bidan di Jakarta Pusat dan bidan di Tangerang Selatan.Dari 39 bidan di Jakarta Pusat dan 24 di Tangerang Selatan yang sudah dilatih IVA hingga tahun 2019,kami mengambil data jumlah pemeriksaan IVA,jumlah kasus positif dan jumlah kasus yang dirujuk bidan selama tahun 2017-2019.Dari penelitian ini didapatkan,bidan di Jakarta Pusat pada tahun 2019 melakukan pemeriksaan IVA 6.622 dari target 83.500 (7,9%) dan ditemukan 105 kasus positif dan seluruh kasus dirujuk untuk dilakukan krioterapi, sedangkan bidan di Tangerang Selatan melakukan 1805 pemeriksaan IVA dari target 113415 (1,59%) dan ditemukan 12 kasus positif dengan 4 kasus dilakukan krioterapi dan 8 kasus dirujuk ke RS.Dari keduanya ditemukan peningkatan kinerja pemeriksaan IVA dari tahun 2017 hingga 2019.Pelaksanaan IVA oleh bidan di Jakarta Pusat dan Tangerang Selatan masih rendah,meskipun meningkat dari tahun 2017 hingga 2019.
......In Indonesia,cervical cancer is the most gynecology malignancy that occurs in women.This is due to lack of a screening program.In Indonesia,an early detection program with visual inspection of acetic acid (VIA) has begun.The Ministry of Health has VIA for early detection program with target 50% women aged 30-50 years on 2019.To achieve this,The ministry of Health Indonesia has conducted VIA training for doctors and midwives.This study would examine the evaluation of the VIA training that has been conducted for midwives.This evaluation would also assess and compare the VIA training evaluation on midwives in Central Jakarta and midwives in South Tangerang.39 midwives in Central Jakarta and 24 in South Tangerang already trained for VIA until 2019.We took data on the number of VIA examinations,the number of positive cases and the number of cases referred by midwives during 2017-2019.From this study,we found that midwives at Central Jakarta on 2019 performed 6.622 VIA examination from 83.500 target (7.9%) and found 105 positive cases and all the cases were referred to performed cryotherapy.Meanwhile midwives at South Tangerang performed 1805 VIA examination from 113415 target population (1.59%) and found 12 positive cases:4 cases was already performed cryotherapy and 8 cases were referred to hospital.From both of them, we found increased of performance of VIA examination from 2017 until 2019. VIA implementation by midwives in Central Jakarta and South Tangerang still low, although increase from 2017 until 2019."
Lengkap +
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nuryani
"ABSTRAK
Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator penting dari derajat
kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita meninggal dari suatu
penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama
kehamilan, melahirkan dan selama nifas. Kasus perdarahan sebagai penyebab utama
kematian ibu dapat terjadi pada masa kehamilan, persalinan dan masa nifas. Salah
satu penyebab perdarahan diantaranya adalah plasenta previa. Plasenta previa
merupakan salah satu keadaan yang menjadi penyebab perdarahan yang memerlukan
tindakan segera tenaga kesehatan terkait dengan kondisi ibu dan janin yang
dikandungnya. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memberikan asuhan
keperawatan secara komprehensif berperan dalam melakukan pemantauan secara
berkesinambungan kondisi ibu dan janin serta proses persalinan yang akan dihadapi .
Tujuan penulisan laporan KIA ini adalah menjelaskan tentang aplikasi konsep dan
teori keperawatan dalam pemberian asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan
plasenta previa totalis,serta menjelaskan peran perawat maternitas sebagai pemberi
asuhan keperawatan, educator, konselor, advokator, pengelola, kolaborator, agen
pembaharu (innovator), komunikator dan koordinator serta peneliti dalam
memberikan asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan plasenta previa. Pemilihan
konsep dan teori keperawatan berdasarkan kepada kontek klien yang dalam kondisi
mengalami komplikasi yang berakibat kecemasan, dibutuhkan pendekatan perawat
yang mampu memberikan asuhan secara komprehensif. Oleh karena itu konsep dan
teori need for help Wiedenbach dan teori of caring Swanson tepat digunakan dalam
pemberian asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan plasenta previa totalis.
Dengan harapan kondisi ibu hamil dengan plasenta previa totalis tetap optimal,
mampu beradaptasi secara fisik maupun pskologis serta siap terhadap proses persalinan yang akan dihadapi. ABSTRACT
The maternal mortality rate (MMR) is one of important indicators of the community
health. MMR describes the number of women death caused by problems associated
with pregnancy or the treatment during pregnancy, childbirth and postpartum period.
Hemorrhagic cases as the main cause of maternal death occur during pregnancy,
childbirth and postpartum period. One of hemorrhagic causes is placenta previa.
Placenta previa is a condition that causes bleeding which requires health
professionals? immediate interventions related to the maternal and fetal condition. A
nurse as one of health professionals who provides a comprehensive nursing care has a
role in monitoring continuously the maternal and fetal condition as well as the labor
and birth process. The purpose of this final scientific work was to explain about the
application of the nursing concepts and theories in providing nursing care to pregnant
women with placenta previa totalis, as well as to explain the role of maternity nurses
as a caregiver, an educator, a counselor, an advocate, a manager, a collaborator, an
innovator, a communicator and a coordinator as well as a researcher in providing
nursing care to pregnant women with placenta previa. The selection of nursing
concepts and theories was based on the context of the client experienced
complications causing anxiety, nurses? approach that can provide comprehensive care
was needed. Therefore, Wiedenbach need for help concept and theory and Swanson
theory of caring were appropriate to be used in the provision of nursing care to
pregnant women with placenta previa totalis. Hopefully the conditions of pregnant
women with placenta previa totalis remain optimal, able to adapt physically and psychologically and ready to face the labor process. ;The maternal mortality rate (MMR) is one of important indicators of the community
health. MMR describes the number of women death caused by problems associated
with pregnancy or the treatment during pregnancy, childbirth and postpartum period.
Hemorrhagic cases as the main cause of maternal death occur during pregnancy,
childbirth and postpartum period. One of hemorrhagic causes is placenta previa.
Placenta previa is a condition that causes bleeding which requires health
professionals? immediate interventions related to the maternal and fetal condition. A
nurse as one of health professionals who provides a comprehensive nursing care has a
role in monitoring continuously the maternal and fetal condition as well as the labor
and birth process. The purpose of this final scientific work was to explain about the
application of the nursing concepts and theories in providing nursing care to pregnant
women with placenta previa totalis, as well as to explain the role of maternity nurses
as a caregiver, an educator, a counselor, an advocate, a manager, a collaborator, an
innovator, a communicator and a coordinator as well as a researcher in providing
nursing care to pregnant women with placenta previa. The selection of nursing
concepts and theories was based on the context of the client experienced
complications causing anxiety, nurses? approach that can provide comprehensive care
was needed. Therefore, Wiedenbach need for help concept and theory and Swanson
theory of caring were appropriate to be used in the provision of nursing care to
pregnant women with placenta previa totalis. Hopefully the conditions of pregnant
women with placenta previa totalis remain optimal, able to adapt physically and psychologically and ready to face the labor process. "
Lengkap +
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Jonathan Raharjo Subekti
"ABSTRAK
Latar belakang. Infeksi human papillomavirus (HPV) pada genital laki-laki selain dapat
menyebabkan kutil kelamin dan kanker penis juga meningkatkan risiko infeksi HPV pada
pasangan. Walaupun saat ini telah terdapat banyak penelitian mengenai peran HPV risiko
tinggi terhadap karsinogenesis serviks dan semakin jelas peran laki-laki sebagai vektor virus
HPV, namun pemeriksaan HPV pada laki-laki belum rutin dilakukan. Penelitian ini bertujuan
mengetahui proporsi kepositivan, variasi genotipe HPV pada suami pasien kanker serviks
serta kesamaan genotipe HPV antara suami pasien kanker serviks yang HPV positif dengan
pasien kanker serviks di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo. Metode. Penelitian potong
lintang. Pemilihan SP dilakukan secara berurutan (consecutive sampling). Sampel diambil
dengan menggunakan kertas amplas dan dacron swab. Pada spesimen dilakukan pemeriksaan
menggunakan HPV express matrix Kalgen®. Hasil. Sebanyak 47 SP dilibatkan dalam
penelitian ini, dengan rerata usia 50,7+10,6 tahun. Dari analisis spesimen diidentifikasi HPV
genital pada 9 (19%) SP, terdiri atas genotipe risiko rendah (3 SP) dan risiko tinggi (6 SP).
Genotipe HPV yang ditemukan adalah 6, 18, 31, 39, 43, 53, dan 56, dengan tipe tersering
adalah 18 dan 43. Tidak didapatkan kesamaan tipe HPV di antara pasangan HPV yang
positif. Kesimpulan. Proporsi kepositivan HPV pada suami pasien kanker serviks sebesar
19% dengan tipe 18 dan 43 paling banyak didapatkan, namun tidak didapatkan kesamaan tipe
HPV antara SP dengan pasien kanker serviks pasangannya.ABSTRACT
Background. Human papillomavirus (HPV) infection on male genital could cause genital
warts, penile cancer, but also increase the risk of HPV infection in their spouse. Despite
many current researches on role of high-risk HPV in cervix carcinogenesis and male partner?s
role as HPV vector is well known, HPV examination on male is not yet routinely performed.
The aim of this study is to find the positivity proportion and genotype variant of HPV on
cervical cancer patient?s spouse, and also the genotype concordance between the spouse with
HPV positive and the cervical cancer patient at dr Cipto Mangunkusumo hospital. Method.
Cross-sectional design. Subject was chosen consecutively (consecutive sampling). Sample
was collected with emery paper and dacron swab. The specimen was then analyzed with HPV
express matrix Kalgen®. Result. Fourty seven subject enrolled in this studi with mean age
50,7+10,6 y.o. Specimen analysis identified genital HPV on 9 (19%) subject, with low risk (3
subject) and high risk (6 subject) genotype. HPV genotypes found in this study are 6, 18, 31,
39, 43, 53, dan 56, with 18 and 43 as the most frequent. No genotype concordance found
between the cervical cancer patient?s spouse with HPV positive and their partners. HPV
genotypes variation found on cervical cancer?s spouses are type 6, 18, 31, 39, 43, 53, dan 56.
Conclusion. The positivity proportion of HPV on cervical cancer patient?s spouse was 19%,
with genotype 18 and 43 as the most frequent with no HPV genotype concordance found between subjects and the spouse.;Background. Human papillomavirus (HPV) infection on male genital could cause genital
warts, penile cancer, but also increase the risk of HPV infection in their spouse. Despite
many current researches on role of high-risk HPV in cervix carcinogenesis and male partner?s
role as HPV vector is well known, HPV examination on male is not yet routinely performed.
The aim of this study is to find the positivity proportion and genotype variant of HPV on
cervical cancer patient?s spouse, and also the genotype concordance between the spouse with
HPV positive and the cervical cancer patient at dr Cipto Mangunkusumo hospital. Method.
Cross-sectional design. Subject was chosen consecutively (consecutive sampling). Sample
was collected with emery paper and dacron swab. The specimen was then analyzed with HPV
express matrix Kalgen®. Result. Fourty seven subject enrolled in this studi with mean age
50,7+10,6 y.o. Specimen analysis identified genital HPV on 9 (19%) subject, with low risk (3
subject) and high risk (6 subject) genotype. HPV genotypes found in this study are 6, 18, 31,
39, 43, 53, dan 56, with 18 and 43 as the most frequent. No genotype concordance found
between the cervical cancer patient?s spouse with HPV positive and their partners. HPV
genotypes variation found on cervical cancer?s spouses are type 6, 18, 31, 39, 43, 53, dan 56.
Conclusion. The positivity proportion of HPV on cervical cancer patient?s spouse was 19%,
with genotype 18 and 43 as the most frequent with no HPV genotype concordance found between subjects and the spouse.;Background. Human papillomavirus (HPV) infection on male genital could cause genital
warts, penile cancer, but also increase the risk of HPV infection in their spouse. Despite
many current researches on role of high-risk HPV in cervix carcinogenesis and male partner?s
role as HPV vector is well known, HPV examination on male is not yet routinely performed.
The aim of this study is to find the positivity proportion and genotype variant of HPV on
cervical cancer patient?s spouse, and also the genotype concordance between the spouse with
HPV positive and the cervical cancer patient at dr Cipto Mangunkusumo hospital. Method.
Cross-sectional design. Subject was chosen consecutively (consecutive sampling). Sample
was collected with emery paper and dacron swab. The specimen was then analyzed with HPV
express matrix Kalgen®. Result. Fourty seven subject enrolled in this studi with mean age
50,7+10,6 y.o. Specimen analysis identified genital HPV on 9 (19%) subject, with low risk (3
subject) and high risk (6 subject) genotype. HPV genotypes found in this study are 6, 18, 31,
39, 43, 53, dan 56, with 18 and 43 as the most frequent. No genotype concordance found
between the cervical cancer patient?s spouse with HPV positive and their partners. HPV
genotypes variation found on cervical cancer?s spouses are type 6, 18, 31, 39, 43, 53, dan 56.
Conclusion. The positivity proportion of HPV on cervical cancer patient?s spouse was 19%,
with genotype 18 and 43 as the most frequent with no HPV genotype concordance found between subjects and the spouse."
Lengkap +
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Syifa Mardhatillah Syafitri
"Kanker serviks merupakan kanker ketiga tersering di seluruh dunia dengan angka kasus baru, morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proporsi kesintasan lima tahun pasca radioterapi pasien KSS serviks stadium IIB-IIIB dan hubungannya dengan infeksi HPV serta faktor lain yang mempengaruhi. Penelitian ini merupakan penelitian kohort. Populasi terjangkau adalah pasien karsinoma serviks stadium IIB dan IIIB dengan hasil biopsi serviks KSS yang telah menjalani radioterapi di RSCM dan dilakukan pemeriksan DNA HPV pre dan pasca radiasi pada penelitian terdahulu. Analisis statistik digunakan dengan uji prognostik Kaplan Meier. Dari 31 sampel penelitian pendahuluan, hanya 27 subjek yang dapat didata. Angka kesintasan lima tahun adalah sebesar 35,5%. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara kesintasan dengan infeksi HPV, infeksi HPV yang menetap, lama radiasi, LVSI, stadium, diferensiasi, ukuran tumor dengan masing-masing nilai p 0,921, 0,586, 0,718, 0,65, 0,139, 0,78, dan 0,139. Terdapat hubungan yang bermakna antara respon radiasi dengan kesintasan, dengan median time survival 2 tahun (p 0,016).
......Cervical cancer is the third most common cancer in the world with high number of new cases, morbidity and mortality rates. The objective of this research is to know the proportion of five year survival rate after radiation of cervical cancer stage IIB-IIIB patient and its relationship with HPV infection and other influencing factors. This research method was cohort study. Research population was patients with biopsy result squamous cell carcinoma stage IIB-IIIB who underwent radiation therapy and have been examined for HPV DNA before and after radiation on previous study. Overall survival was assessed and the relationship between prognosis with HPV infection and other factors was calculated. Statistical analysis was calculated using Kaplan Meier to determine prognostic factors of cervical cancer, as well as the median survival rate. From 31 samples on previous study, only 27 patients has been documented. The five year overall survival rate was 35,5%. There were no statistically significant relationship between cervical cancer survival rate with HPV infection, HPV persistence after radiation, duration of radiation, LVSI, staging, grading, tumor size with p result 0,921, 0,586, 0,718, 0,65, 0,139, 0,78, and 0,139 respectively. There was significant relationship between radiation response and survival rate with median 2-year survival (p 0,016)"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Heru Prasetyo
"Latar belakang: Kanker ovarium khususnya jenis epitelial merupakan salah satu kanker tersering yang diderita oleh perempuan dengan angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Hingga saat ini, beberapa penelitian telah meneliti berbagai faktor prognostik pada kanker ovarium, khususnya trombosit yang secara patofisiologi memiliki hubungan dengan berbagai marker inflamasi pada kanker. Tujuan: (1) Membuktikan bahwa trombositosis sebagai faktor prognosis pada pasien kanker ovarium jenis epitelial (2) Membuktikan angka OS selama 3 tahun pada pasien kanker ovarium jenis epitelial dengan trombositosis lebih buruk dibandingkan tanpa trombositosis. Metode: Penelitian ini menggunakan studi kohort retrospektif menggunakan data rekam medis pasien kanker ovarium epitelial yang terdaftar pada cancer registry Departemen Obstetri dan Ginekologi Divisi Onkologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada tahun Januari 2014- Juli 2016. Pengamatan dilakukan saat subjek pertama kali didiagnosis kanker ovarium hingga terjadi peristiwa hidup, meninggal, atau hilang dari pengamatan dalam waktu 3 tahun. Hasil: Didapatkan 220 subjek penelitian yang merupakan populasi terjangkau dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari 220 subjek penelitian, 132 (60%) dari 220 subjek penelitian merupakan pasien dengan kanker ovarium stadium lanjut (Stadium II/III/IV). Trombositosis didapatkan pada 94 orang subjek penelitian (42,7%). Pasien dengan kanker stadium lanjut memiliki risiko trombositosis yang lebih tinggi dibandingkan subjek pada stadium awal (p=0,005;OR=2,329). Meski begitu, ada atau tidaknya trombositosis secara statistik tidak bermakna pada OS selama 3 tahun (p=0,555). Terdapat mean time survival yang lebih rendah pada pasien dengan trombositosis tetapi tidak ada perbedaan hazard ratio yang bermakna antara subjek dengan atau tanpa trombositosis (p=0,399). Pada penelitian ini, didapatkan faktor prognostik yang bermakna pada OS selama 3 tahun antara lain adalah ada tidaknya asites (HR=3,425; p=0,025), stadium (HR=9,523; p=0,029) dan residu tumor ≥ 1 cm (HR=4,137; p=0,015) dengan stadium kanker ovarium merupakan faktor independen (HR=9,162; p=0,033). Sensitivitas dan spesifisitas trombositosis terhadap kanker ovarium stadium lanjut didapatkan sebesar 50,75% dan 69,32%. Kesimpulan: Trombositosis sebagai faktor prognostik pada pasien kanker ovarium jenis epitelial tidak dapat dibuktikan dan angka OS selama 3 tahun pada pasien dengan trombositosis dibandingkan dengan pasien tanpa trombositosis tidak bermakna secara statistik.
......Background: Ovarian cancer, especially, epithelial ovarian cancer is one of the most common cancer in women with high rate of mortality and morbidity. Some studies have found that some biological factors that can be used as a prognostic factor for epithelial ovarian cancer, particularly, thrombocytes which pathophysiologically correlates with inflammation markers in cancer. Aim: (1) To determine thrombocytosis as a prognostic factor for epithelial ovarian cancer. (2) To determine that 3-year overall survival in epithelial ovarian cancer with thrombocytosis is significantly shorter than patients without thrombocytosis. Method: This study is a retrospective cohort study using medical record of patients with epithelial ovarian cancer which are registed in the cancer registry of Oncology Division in Obstetric and Gynecology Department, Cipto Mangunkusumo Hospital from January 2014 until July 2016. Datas were collected when subjects were first diagnosed with epithelial ovarian cancer until diseases outcomes (survive, death, or loss to follow up) were identified in 3 years. Result: Out of 220 subjects, 132 (60%) were patients with advanced stage epithelial ovarian cancer (stage II/III/IV). 94 (42,7%) subjects had thrombocytosis. Patients with advanced stage of disease had higher risk of having thrombocytosis than the ones with earlier stage (p=0,005;OR=2,329). Correlation between thrombocytosis and 3-year overall survival was known to be insignificant (p=0,555). There was shorter mean time survival between patients with thrombocytosis and the ones without but the there was no significant difference in hazard ratio between the two groups. In this study, several prognostic factors of epithelial ovarian cancer were identifed such as ascites (HR=3,425; p=0,025), stage of disease (HR=9,523; p=0,029), and post-operative residual tumor ≥ 1 cm (HR=4,137; p=0,015) with stage of disease being the independent prognostic factor (HR=9,162; p=0,033). Sensitivity and specificity of thrombocytosis to advance stage of epithelial ovarian cancer were found to be 50,75% and 69,32%, respectively. Conclusion: Thrombocytosis as a prognostic factor in patients with epithelial ovarian cancer cannot be proven statistically. There is also no significant difference of 3-year overall survival between patients with or without thrombocytosis."
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58866
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christin Wigin Hia
"Latar Belakang: Kanker ovarium menduduki peringkat ke-3 sebagai kanker tersering pada perempuan di Indonesia. Keganasan ovarium dianggap sebagai silent killer karena tidak memiliki gejala yang signifikan pada stadium awal sehingga hampir 50% pasien datang sudah pada stadium lanjut. Oleh karena itu, diperlukan alat skrining di pelayanan primer untuk mendeteksi keganasan ovarium dan salah satu modalitas pemeriksaan adalah ultrasonografi sederhana.
Tujuan: Mengetahui nilai diagnostik pemeriksaan ultrasonografi sederhana dalam menilai keganasan tumor ovarium dibandingkan hasil histopatologi pascaoperasi.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada pasien tumor ovarium di polikinik Ginekologi RSCM Jakarta yang dilakukan operasi pada bulan Maret hingga Juli 2015. Sampel penelitian diambil dengan metode consecutive sampling. Analisis menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik untuk mencari hubungan antara pola morfologi ultrasonografi dengan hasil histopatologi dimana terdapat hubungan bermakna apabila nilai p<0,05. Selain itu, dibuat model persamaan dari regresi logistik untuk menghitung probabilitas
Hasil: Terdapat 80 subjek penelitian dimana 58 subjek (72,5%) dengan tumor jinak dan 22 subjek (27,5%) dengan tumor ganas. Hasil ultrasonografi dengan pola morfologi ≥2 menunjukkan hasil ganas pada 53,8% subjek dengan nilai diagnostik sensitivitas 100%, spesifisitas 82,8%, nilai duga positif 68,8%, dan nilai duga negatif 100%. Pola morfologi yang paling berpengaruh terhadap keganasan tumor ovarium adalah permukaan dalam dinding kista ireguler, multilokular, terdapat penonjolan papiler, dan ada bagian padat dalam tumor. Probabilitas subjek mendapat tumor ganas apabila memiliki pola morfologi ≥3 adalah lebih dari 88,9%,
Kesimpulan: Pemeriksaan ultrasonografi sederhana dapat digunakan untuk mendeteksi keganasan tumor ovarium.
......Background: Ovarian cancer ranked 3rd most common cancer in Indonesian women. Ovarian malignancy is considered as silent killer because there is no significant symptom in early stage therefore almost 50% patients came in late stage. Thus, screening tool is needed in primary health care to detect ovarian malignancy and one of recommended modality is simple ultrasound examination.
Aim: To know diagnostic values of simple ultrasound examination to detect ovarian malignancy compared with post operative histopathologic findings.
Method: This study used cross-sectional design in Cipto Mangunkusumo Hospital gynecologic outpatients with ovarian tumor undergone operation between March to July 2015. Samples were taken using consecutive sampling. Analysis was done using Chi-square test and logistic regression to find the relationship between ultrasound morphologic patterns with histopathologic findings where there is a significant relationship when p value < 0.05. Furthermore, a model derived from logistic regression was made to calculate the probability having ovarian malignancy.
Result: There were 80 subjects which 58 subjects (72.5%) have benign tumor and 22 subjects (27.5%) have malignant tumor. Ultrasound examination result using ≥2 morphologic patterns gave malignant result in 53.8% subjects with diagnostic values of sensitivity of 100%, specificity 82.8%, positive predictive value of 68.8%, and negative predictive value of 100%. The most important patterns were irreguler internal cyst wall, multilocular, presence of pappilary projection, and presence of solid component. The probability of subject having ovarian malignancy if there were ≥3 morphologic patterns was more than 88.9%.
Conclusion: Simple ultrasound examination can be used to detect ovarian malignancy."
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Risa Risfiandi
"ABSTRAK
TUJUAN : Mengetahui insiden metastasis kanker ovarium epitelial yang dilakukan pembedahan primer pada kelenjar getah bening pelvik, paraaorta dan pelvik/paraaorta di RSCM periode Januari 2009 Desember 2015. LATAR BELAKANG : Tatalaksana mengenai limfedenektomi pada kanker ovarium masih merupakan kontroversi. Adanya kekurangan data penelitian prosfektif ataupun RCT tentang patologi antomi merupakan penyebab kontroversi tatalaksana limfedentomi. Namun sampai saat ini sejak 1998 FIGO mengatakan bahwa limfedenektomi pelvik dan paraaorta merupakaan bagian terintegrasi yang tidak dapat dipisahkan pada surgical staging kanker ovarium. Namun penelitian mengenai limfedenektomi masih terbatas, sampai saat belum menemukan adanya publikasi penelitian insiden metastasis kanker ovarium epitelial pada kelenjar getah bening di RSCM. METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang, data diambil dari rekam medis, dari data kanker register didapatkan 1584 daftar rekam medik, namun didapatkan 401 pasien kanker ovarium, dan 306 yang ekslusi, didapatkan 55 data yang masuk kriteria inklusi. HASIL Dari 55 sampel yang dilakukan pembedahan primer pada kanker ovarium tipe epitel. Penyebaran kelenjar getah bening pada kanker epitel ovarium yang dilakukan pembedahan primer pada KGB paraaorta adalah 20 , pelvik 9.1 dan pelvik/paraaorta 23,6 . KESIMPULAN : 1. Insiden metastasis KGB kanker epitel ovarium pada paraaorta sebanyak 20 , pelvik 9,1 dan pada pelvik/paraaorta 23,6 di RSCM dari tahun 2009-2015.. 2. Semakin tinggi stadium, maka semakin tinggi keterlibatan KGB pelvik dan paraaorta . 3. Pada subtipe serosum lebih banyak menyebabkan keterlibatan pada KGB pelvik dan paraaorta . 4. Semakin buruk derajat differensiasinya, maka semakin tinggi keterlibatan pada KGB paraaorta . 5. Pada stadium I subtipe musinosum derajat difensiasi baik dengan keterlibatan pada KGB yang minimal sehingga dapat lebih selektif dalam mempertimbangkan risk dan benefit dari limfedenektomi

ABSTRACT
AIM To evaluate the incidence of pelvic and paraaortic lymph node metastasis of epithelial ovarian cancer underwent primary surgery in Cipto Mangunkusumo Hospital from Januari 2009 to December 2015. BACKGROUND The definitive objective of lymphadenectomy in ovarian cancer is still controversial due to the lack of prospective research or randomized controlled trial. Since 1998, FIGO has stated that pelvic and paraaorta lymphadenectomy are part of ovarian cancer surgical staging. But, there is still limited research and still not published the incidence of pelvic and paraaortic lymph node metastasis of epithelial ovarian cancer underwent primary surgery in Cipto Mangunkusumo Hospital. METHODS This research is cross sectional from medical records, the INASGO cancer registry. A hundred fifty four medical records were included but we found only 401 ovarian cancer, 306 data were excluded and 55 data were included. RESULTS From 55 epithelial ovarian cancer patients underwent the primary surgery, there are 20 metastasis to paraortic lymph node, 9,1 metastasis to pelvic lymph node, and 23,6 metastasis to both. CONCLUSION 1. Lymph node metastases incident of ovarian epithelial cancer in paraorta amounts 20 , pelvic 9.1 and pelvic or paraortic 23.6 2. Higher the stadium, the lymph node involvements will be higher as well pelvic and paraortic 3. In serous subtype, there is more incidents of lymph node involvements pelvic and paraaortic 4. If the differentiation type is worse, there will be higher rate of pelvic and paraaortic lymph node involvement. 5. In stadium 1 of mucinous subtype with well differentation has minimal lymph node involvement so we can be more selective in considering the risk and benefit of lymphadenectomy. The suggestion is the advanced research needs to be done prospectively by increase the number of samples for finding the metastatic factors to lymph node more accurately. "
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T58863
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Ginealdy
"ABSTRAK
LATAR BELAKANG: kanker serviks adalah keganasan ginekologi terbanya kedua pada perempuan yang menjadi salah satu masalah utama karena insidensnya yang tinggi dan penyebab kematian utama pada negara berkembang seperti Indonesia. The International Federation of Gynecology and Obstetrics FIGO merevisi terakhir pada tahun 2009, stadium IIA dibagi berdasarkan ukuran tumornya yaitu IIA1 Ukuran lesi primer le;4cm dan IIA2 Ukuran lesi primer >4cm . Revisi ini dilakukan setelah dilakukan analisis pada data, literature dan kasus pada stadium IB yang sudah direvisi sebelumnya pada tahun 1995. Menarik untuk diteliti, apakah perubahan penetapan stadium memperbaiki prognosis atau adakah perbedaan prognosis kanker serviks stadium IIA1 dengan stadium IIA2 secara tidak langsung dengan melihat faktor metastasis kelenjar getah bening. Seperti kita ketahui faktor prognosis yang dominan pada kanker serviks stadium awal adalah faktor metastasis ke kelenjar getah bening. TUJUAN: Membuktikan adanya perbedaan prognosis kanker servik stadium IIa1 dibanding stadium IIa2 berdasarkan kejadian metastasis ke kelenjar getah bening pelvik yang dilakukan histerektomi radikal. METODE: Dengan menggunakan metode potong lintang dilakukan pengambilan data 108 sampel pasien kanker serviks stadium IIA yang dilakukan pembedahan histerektomi radikal di bagian Onkologi Ginekologi RSCM Jakarta sejak tahun 2006 hingga tahun 2016. HASIL: Pasien kanker serviks stadium IIA1 sebanyak 80 74 pasien dan stadium IIA2 sebanyak 28 26 pasien. Pada stadium IIA2 47.79 tahun didapatkan rata rata usia pasien lebih muda dibandingkan IIA1 55.85 tahun . Pada stadium IIA1 juga didapatkan jumlah paritas yang lebih tinggi yaitu 4 sedangkan pada stadium IIA2 dengan jumlah paritas 2.Keterlibatan metastasis kelenjar getah bening pada pasien kanker serviks stadium IIA1 dan IIA2 berjumlah 51 63.75 dan 16 57.14 secara berurutan. Tidak terdapat perbedaan proporsi kejadian metastasis kelenjar getah bening pada kedua kelompok stadium kanker serviks pada stadium IIA dengan nilai p = 0,535. SIMPULAN: Faktor metastasis kelenjar getah bening pada kedua stadium memiliki hasil yang serupa. Tidak terdapat perbedaan proporsi kejadian metastasis kelenjar getah bening pada kedua kelompok stadium kanker serviks stadium IIA1 dan IIA2 yang ditatalaksna dengan histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis. Perubahan penetapan stadium sepertinya tidak memperbaiki prognosis.
ABSTRACT
BACKGROUND Cervical cancer is the second most common gynecologic cancer in women and become one of the main problem in developing country such as Indonesia due to its high incidence and the leading cause of death ini this country. The latest revision of The International Federation of Gynecology and Obstetrics FIGO in 2009 divides stage IIA into IIA1 primary lesion le 4cm and IIA2 primary lesion 4 cm based on the size of primary lesion. This revision was made after analysis of data, literature dan cases in IB stage that has been revised earlier ini 1995. It is interesting to observe whether the change in staging determination improves the prognosis or is there a difference in the prognosis of stage IIA1 cervical cancer with stage IIA2 indirectly by looking at the metastatic factor of lymph nodes. As we know one of the main prognostic factor in early stage of cervical cancer is metastatic factor to the lymph nodes. OBJECTIVES This study was designed to determine a difference in prognosis of stage IIA1 cervical cancer compared to stage IIA2 based on the incidence of metastasis to pelvic lymph nodes by radical hysterectomy.METHODS A cross sectional study was conducted among 108 stage II cervical cancer patient post radical hysterectomy in obstetric gynecologic department of cipto mangunkusumo hospital since 2006 2016.RESULTS From 108 patients with cervical cancer stage IIA, 80 74 patients are stage IIA1 and the remaining the remaining 28 26 patients are stage IIA2. The average age of patients at stage IIA2 47.79 years younger than IIA1 55.85 years and also patient at stage IIA1 having a higher parity number which is 4 compare to stage IIA2 with the number of parity 2. The Involvement of lymph node metastasis in patients with stage IIA1 and IIA2 cervical cancer were 51 63.75 and 16 57.14 respectively. There was no difference in the proportion of lymph node metastases occurring in both cervical cancer stage groups at stage IIA with p 0,535.CONCLUSION Metastatic factor to lymphnode in both stage have the same result. There was no difference in the proportion of lymph node metastasis occurring in both stage IIA1 and IIA2 cervical cancer stage which was corrected with radical hysterectomy and pelvic lymphadenectomy. Changing staging does not seem to improve the prognosis."
Lengkap +
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>