Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hardiono
"ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan memberi informasi mengenai pemakaian antiseptik khlorheksidin glukonat 4 % yang akan dibandingkan dengan antiseptik alkohol 70 %, yang dalam hal ini mempergunakan isopropil alkohol 70 %, mengingat penelitian ini belum ada di Indonesia terutama pada bidang ilmu bedah mulut. Infeksi seringkali terjadi paska operasi yang disebabkan oleh bakteri-bakteri yang terdapat pada kulit, meskipun pra operasi telah dilakukan sterilisasi dengan antiseptik. Salah satu faktor penyebaran mikroorganisme tersebut adalah tangan. Oleh karena itu diperlukan suatu usaha untuk memutuskan rantai infeksi tersebut antara lain dengan memperhatikan faktor prosedur persiapan operasi yaitu cuci tangan. Pada penelitian ini membandingkan antara dua buah antiseptik yaitu iso propil alkohol 70% dengan khlorheksidin glukonat 4% pada pencucian tangan pra operasi bedah mulut dengan kontrol menggunakan aquades steril. Jumlah sampel adalah 15, dengan p < 0,05 diperoleh hasil pada penelitian ini terdapat perbedaan yang nyata dalam pengurangan jumlah koloni kuman antara pencucian tangan menggunakan antiseptik isopropil alkohol 70% dengan khlorheksidin glukonat 4%. Tingkat kepercayaannya 95- 99%."
1993
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Ristek, 2007
R 607.2 KEM r
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Emanuel E. Setyo
"Toksopiasmosis yang disebabkan Toxoplasma gondii, merupakan parasit unisel Intraselular. Pada manusia khususnya wanita hamil dapat menyebabkan keguguran atau cacat bawaan, sedangkan pada penderita dengan gangguan sistem imun dapat menyebab kan kematian. Diagnosis toksoplasmosis pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan, karena berdasarkan gejala klinis saja sukar untuk di tegakkan. Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan ialah pemeriksaan serologi dengan ELISA. Namun kit Toxonostika untuk pemeriksaan ELISA masih diimpor dari luar. Saat ini laboratorium Parasitologi FKUI telah berhasil membuat sendiri antigen untuk ELISA lokal, dan kemampuan deteksi IgG Toxoplasma sama dengan Toxonostika. Tetapi cara ELISA masih kurang akurat dan menggunakan crude antigen serta tidak dapat membedakan orang yang sakit dan tidak sakit. Selanjutnya untuk mengembangkan tes diagnosis toksoplasmosis yang lehih akurat, perlu dilakukan analisis atau karakterisasi antigen Toxoplasma gondii strain RH buatan sendiri dengan teknik Western blot, untuk mempelajari komponen antigen Toxoplasma yang bersifat imunogen, yang bereaksi dengan IgG dan IgM serum penderita toksoplasmosis berasal dari orang Indonesia.
Hasil penelitian Western blot antigen Toxoplasma gondhi strain RH yang bereaksi terhadap IgG dan IgM penderita terinfeksi toksoplasmosis, menunjukkan 3 komponen antigen Toxoplasma utama yang bereaksi terhadap IgG Toxoplasma dan IgM Toxoplasma, masing-masing dengan BM 41 kDa., 26kDa. 6 kDa. Sedangkan IgG Toxoplasma sendiri mengenali atau bereaksi paling sedikit 19 komponen antigen Toxoplasma yang berbentuk pita (bands) dari berbagai BM, mulai dari yang tertinggi 90 Ma, sampai yang terendah 6 kDa. Relatif sama dengan penelitian Sharma (60). IgG Toxoplasma selain bereaksi terhadap 3 komponen antigen utama.
Toxoplasma juga ditemukan sering bereaksi terhadap 4 komponen antigen Toxoplasma dengan BM masing-masing 90 kDa, 87 kDa, 82 kDa, 72 Ma. IgG Toxoplasma serum penderita bereaksi secara bervariasi terhadap komponen komponen antigen Toxoplasma diluar ke 7 komponen tersebut diatas (90 kDa, 87 kDa, 82 kDa, 72 kDa, 41 kDa, 26 kDa, 6 kDa), karena terdapat perbedaan pengenalan antibodi di antara serum penderita terhadap massa protein (BM) yang sama. Ditemukan adanya IgG Toxoplasma dengan titer tinggi ( 1:3200) pada orang yang diperiksa secara laboratorium tanpa gejala toksoplasmosis, menunjukan bahwa IgG Toxoplasma positif dapat dijumpai pada orang tergolong sehat tanpa gejala toksoplasmosis. Dalam pemeriksaan serologis kombinasi IgG Toxoplasma degan IgM Toxoplasma dalam satu serum dapat menimbulkan reaksi kompetitif inhibisi terhadap antigen Toxoplasma."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M.M.B. Sunarti
"Ruang lingkup dan cara penelitian : Dalam upaya mencari vaksin dengue yang aman, efisien dan ekonomis maka diperlukan peta epitop yang lengkap sehingga dapat diketahui fraksi virus yang bersifat imunogen kuat. Untuk keperluan tersebut dibutuhkan panel antibodi monoklonal. Karena dengue tipe 2 merupakan salah satu tipe yang banyak dihubungkan dengan kasus - kasus berat dan fatal di Indonesia maka dalam penelitian ini akan dicoba untuk membuat antibodi monoklonal terhadap virus dengue tipe 2 galur NGC dengan jalan memfusikan sel mieloma mencit P3U1 dengan splenosit mencit yang sebelumnya diimunisasi dengan virus dengue tersebut.
Proses fusi dibantu dengan penambahan polietilen glikol 4000 50 % dan sel disebar pada sumur mikrotiter. Seleksi sel hibrid dilakukan dengan cara menam bahkan medium yang mengandung hiposantin, aminopterin dan timidin. Selanjutnya dilakukan pemilahan antara hibrid yang mensekresi antibodi dan tidak dengan cara ELISA. Karakterisasi supematan hibrid terpilih dilakukan dengan cara ELISA dan HI dengan ke - 4 tipe virus dengue sedangkan reaktiiiasnya terhadap virus ensefalitis Jepang diuji dengan cara ELISA.
Hasil : Splenosit mencit Balb C betina yang sebelumnya diimunisasi dengan virus dengue tipe 2 galur NGC difusikan dengan 2,3 x 10 6 P3U1 dengan perbandingan 2 : 1. Seleksi dari 532 sumur mikrotiter yang berisi hasil fusi memperlihatkan pertumbuhan hibrid pada 383 sumur yang berisi 2 - 15 klon. Daripadanya hanya 201 sumur yang dapat ditapis dan setelah proses kloning - sub kloning dipilib 15 klon yang bereaksi kuat dengan D2 NGC.
Hasil uji dengan ke - 4 serotipe virus dengue dan virus ensefalitis Jepang menunjukkan adanya 1 klon yang bersifat spesifik tipe dan 6 klon yang Flavivirus sub group reactive. Dua klon tidak diuji secara lengkap karena jumlahnya kurang. Sebanyak 6 Mon tidak memenuhi kriteria penggolongan antibodi monoklonal yang diajukan oteh Henchal. Ditemukan juga 1 Mon yang merupakan sekretor labil.
Kesimpulan : Hasil yang didapatkan tidak memenuhi harapan. Adanya kontaminasi dihubungkan dengan sedikitnya jumlah antibodi monoklonal spesifik tipe yang dapat ditemukan. Klon yang berhasil ditemukan berupa Mon yang bersifat spesifik tipe, Flavivirus sub group reactive dan klon yang tidak dapat diklasifkasikan. Ditemukan pula klon yang termasuk sekretor labil .Rendahnya harga serapan yang didapatkan dari tampilan ELISA memerlukan beberapa cara untuk memperbaikinya."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anik Widajati
"Tujuan
Untuk mengetahui peran resistensi mikroba pada infeksi saluran kemih komplikata yang sembuh setelah diobati dengan siprofloksa sin atau levofloksasin.
Cara kerja
Pada 152 sampel urin dari penderita infeksi saluran kemih komplikata diidentifikasi mikroba dan resistensinya terhadap fluorokuionolon (siprofloksasin atau Ievofloksasin) dan dibandingkan dengan tingkat keberhasilan terapinya secara klinis.
Lokasi
Bagian Urologi dan Nefrologi RSCM Bagian Nefrologi Rumah Sakit Islam Jakarta Departemen Mikrobiologi FKUI.
Sampel penelitian
Penderita infeksi saluran kemih komplikata dari Bagian Urologi dan Nefrologi RSCM dan Bagian Nefrologi Rumah Sakit Islam Jakarta sejak bulan Juni 2003 sampai bulan September 2004.
Pengobatan
Seratus lima puluh dua penderita ISK komplikata yang mikrobanya positif dibagi 2 secara acak, 76 penderita diberi terapi siprofloksasin, dan 76 diberi terapi levofloksasin.
Hasil Penelitian
Tujuh puluh enam pasien yang mendapat pengobatan dengan levofloksasin disebut kelompok levofloksasin dan 76 pasien yang diberi pengobatan dengan siprofloksasin disebut kelompok siprofloksasin. Rata-rata umur pasien pada kelompok siprofloksasin adalah 41,1 tahun dan pada kelompok levofloksasin adalah 45,3 tahun. Perbandingan pria dan wanita adalah satu banding tiga. Jervis mikroba utama yang diternukan pada penelitian ini adalah 33% Emil dan 20% Klebsiella sp, (66% didominasi oleh Klebsiella pneumonia) dan Staphylococus sejumlah 13%.Angka kesembuhan klinis yang didapat pada kelompok siprofloksasin dan levofloksasin adalah sama yaitu sebesar 77,6% , dengan angka perbaikan masing-masing 13,2% dan 19,7% serta angka kegagalan klinis masing-masing 9,2% dan 2,6%. Tetapi secara statistik kedua nilai tersebut tidak berbeda bennakna. Nilai eradikasi mikroba dari kelompok siprofloksasin 88,2% dan pada kelompok levofloksasin eradikasi sebesar 86,8%. Angka resistensi untuk siprofloksasin berkisar antara 20%-30% sedangkan untuk levofloksa sin berkisar antara 8%-15%. Pada pasien yang sembuh secara klinis dari kelompok siprofloksasin 19,2% kumannya resisters terhadap pengobatannya. Pada kolompok levofloksasin yang sembuh klinis tetapi mikrobanya resisten sebanyak 14,8%. Dari populasi yang mikrobanya resisten terhadap siprofloksasin terjadi kesembuhan klinis 83,3%, sedangkan pada populasi yang mikrobanya resisten terhadap levofloksasin terjadi kesembuhan klinis 88,9%.
Analisis Data
Pada kedua kolompok di ataa dilakukan uji atatistik untuk data nominal xi (2x2) jika tidak ada nilai ekspektasi <5 atau Fisher (2x2) bila ada nilai ekspektasi <5a dan untuk data ordinal digunakan uji 1t oimogorov-Smirnov.
Kesimpulan
Penderita ISK komplikata yang diobati dengan fluorokuinolon (siprofloksasin atau levofloksasin) yang dan secara klinis dinyatakan sembuh temyata 18,6% dan 13,8% bakteri penyebabnya resisten pada pengobatannya."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18150
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zuniar
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2001
T58978
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Lina Rosilawati, supervisor
"Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Salah satu alasan utama gagalnya pengendalian tuberkulosis di negara berkembang termasuk Indonesia, adalah karena kelemahan dalam diagnostik untuk mendeteksi kasus infeksi pada saat dini, di samping kegagalan terapi kasus tuberkulosis yang resisten terhadap beberapa obat anti tuberkulosis. Teknik PCR yang didasarkan pada amplifikasi DNA, merupakan salah satu cara diagnosis yang telah banyak diteliti dan dikembangkan untuk mendeteksi bakteri M. tuberculosis, penyebab penyakit TBC. Pada penelitian ini telah dilakukan uji PCR untuk mendeteksi M tuberculosis H 7Rv, isolat klinis M. tuberculosis dan mikobakteria atipik. Bakteri dibiakkan dalam medium Lowenstein-Jensen kemudian dilakukan ekstraksi DNA menggunakan metode fenol-kloroform. Untuk mengetahui senstivitas uji PCR, DNA basil ekstraksi diencerkan dalam beberapa pengenceran. Pada percobaan awal DNA M. tuberculosis H37Rv diamplifikasi menggunakan primer YNP5 & YNP6 yang disintesis dari sekwens DNA yang menyandi antigen b protein 38kDa. Amplifikasi DNA M. tuberculosis H37Rv, isolat klinis M. tuberculosis, dan mikobakteria atipik dilakukan dengan menggunakan primer Pt8 & Pt9 yang dirancang darn sekwens sisipan IS6110. Hasil amplifikasi dianalisis dengan elektroforesis gel agarosa. Gel kemudian diwarnai dengan larutan etidium bromida dan divisualisasi dengan `ultraviolet transilluminator". Pengambilan gambar gel agarosa dilakukan dengan menggunakan kamera Polaroid.
Hasil dan KesimpuIan : Batas deteksi DNA M. tuberculosis H37Rv hasil amplifikasi dengan primer YNP5 & YNP6 adalah 5 pg setara dengan 1000 sel bakteri, sedangkan dengan primer Pt8 & Pt9 kemampuan uji PCR lebih tinggi dengan batas deteksi 10 fg setara dengan 2 sel bakteri. Uji PCR pada isolat klinis M tuberculosis yang mempunyai batas deteksi tertinggi adalah amplifikasi DNA basil ekstraksi isolat 9727. Batas deteksi uji tersebut adalah 100 fg setara dengan 20 sel bakteri. Primer Pt 8 & Pt9 spesifik untuk M. tuberculosis karena tidak terjadi amplifikasi DNA basil ekstraksi dari mikobakteria atipik."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hendrawati Utomo
"Indonesia sedang dilanda kehidupan modern, terutama kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan sebagainya yang menuntut tersedianya prasarana memadai, salah satu di antaranya gedung bertingkat, megah dan modern yang umumnya dilengkapi dengan sistem Air Condition (AC), untuk memberikan rasa nyaman.
Tahun 1976 L.pneu dikenal pertaana kali pada saat kejadian luar biasa (Oubreak) di American Legion Convention, Philadelphia. Tahun 1979 WHO berasumsi adanya hubungan antara kualitas udara ruangan (INDOOR AIR QUALITY) dengan transmisi suatu infeksi dan tahun 1986 WHO melaporkan adanya sekumpulan gejala yang dikenal dengan Sick Building Syndrome (SBS). Sampai saat ini belum diketahui secara tepat definisi SBS, sehingga sering digambarkan sebagai sekelompok keluhan; yang sering dijumpai adalah ngantuk, hidung tersumbat, pusing, tenggorokan kering, panas dingin dan sebagainya. Untuk menentukan salah satu faktor peayebab SBS sangat sulit karena SBS dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu di antaranya adalah faktor mikroorganisme. Kuman L.pneu mudah hidup dan berkembang biak pada suasana lingkungan lembab dan hangat, yang sesuai dengan penggunaan peralatan atau perangkat AC (misalaya cooling rower, evaporated condenser dsb). Sedangkan SBS memberikan suatu petunjuk tentang tidak sehatnya keadaan lingkungan kerja, yang dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap peningkatan produktivitas. Pada penelitian pendahuluan (Agustus 1993) ditemukan adanya SBS, sehingga penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi hubungan antara terjadinya SBS dengan adanya kuman L.pneu di P.T.Indosat Jakarta.
Tahun 1993 Departemen Tenaga Kerja Pusat PeIayanan Ergonomi, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, tidak cukup menemukan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi SBS, kecuali faktor microorganisme dan penerangan.
Penelitian terbagi menjadi dua bagian yaitu lingkungan dan tenaga kerja. Penelitian lingkungan dilakukan terhadap 33 sampel (sediaan usap perangkat AC) yang dinmamkan pada BCYE, ternyata belum dapat di deteksi adanya kuman L.pneu melalui test Legionella Agglutination Latex Kit . Penelitian tenaga kerja (sampel 110 orang), pada wawancara ditemukan adanya SBS dengan keluhan yang dominan baik saat sekarang maupun satu bulan terakhir adalah sering merasa cepat leiah, ngantuk, pegal linu, mulut kering, pusing-pening, leher kaku, tenggorokan kering sedangkan pada pemeriksaan antigen di urin dengan ratio ≥3 :15 orang(13,6 %), ratio ≥7,5: 2 orang (1,9%), ratio 0: 8 orang (7,3%), ratio ≤3 : 95 orang (86,4%). Sehingga diduga adanya keluhan utama cepat lelah dan sering ngantuk disertai keluhan tambahan pegal linu, mulut kering, tenggorokan kering (p ≥0,1) atau keluhan utama cepat lelah dan sering ngantuk disertai keluhan tambahan panas-dingin (p≥0,05).
Dalam penelitian ini ternyata SBS dijumpai, walaupun hubungan dengan kuman L.pneu belum dapat ditentukan dengan pasti, kemungkinan adanya kuman L.pneu belum dapat disingkirkan, karena waktu pengambilan kuman dan keterbatasan tes yang dipakai hanya pada kuman L.pneu serogrup 1 sampai serogrup 6 atau L.micdadei.

Relationship of Legionella Pneumophila and Sick Building Syndrome in PT Indosat Building Jakarta 1994Indonesia is being struck by modern living, especially in big cities like Jakarta, Surabaya etc which claimed the presence of adequate infra-structure, one of them, is high-rise building, glorious and modern and equipped with an Air Condition (AC) system to provide comfortable feelings.
In 1976, L.pneu was recognized for the first time at an outbreak in the American Legion Convention, Philadelphia. In 1979 WHO assumed the presence of a relationship between indoor air quality and an infection transmission. In 1986, WHO reported the presence of a group of symptoms which was known as " Sick Building Syndrome" (SBS). Up to now the correct SBS definition is not yet known, so that often it is pictured as a group of complaints: most often met include sleepiness, nose obstruction, dizziness, dry throat, fever etc. To determine one of the SBS causal factor is very difficult because it is influenced by several factors, one of which is the microorganism factor. L.pneu live and bread easily in humid and warm environment, which is created by using equipment or AC set (like cooling tower, evaporated condenser etc). Whereas SBS provide an indication on the unhealthiness of the working environment condition, which in turn showed its direct or indirect impact towards productivity promotion. In the preliminary study (August 1993) the presence of SBS was found, so that this study aimed at carrying out the identification of relationship between the occurrence of SBS and the presence of L.pneu in P.T. Indosat Jakarta.
In 1993, The Ergonomic, Health and Work Safety Center of the Manpower Department has not found enough factors that could influenced SBS except microorganism and lighting factors.
The study was divided into two parts, namely environment and manpower. The environmental study was conducted towards 33 samples (swab preparation of AC set) that was planted on BCYE, turned out to be incapable of detecting the presence of L.pneu by way of testing Legionella Agglutination Latex Kit. The study of manpower (a sample of 110 people) disclosed the presence of SBS with dominant complaints both during the interview as well as the last one-month, namely tiredness feelings, sleepiness, stiff and painful feelings, dry mouth, dizziness, stiff neck, drythroat. Antigen examination of urine with a ratio ≥3 : 15 people (13,6%), ratio of ≥7,5: 2 people (1,9%), ratio 0: 8 people (7,3%), ratio ≤ 3: 95 people (86,4%). Thus, the presence of main complaint like suspected rapid tiredness and frequent sleepiness accompanied by muscle ache, dry mouth and throat (p ≥0.1) or main complaint of rapid tiredness and frequent sleepiness accompanied by additional fever (p ≥0.05).
This study found SBS, although the association with L.pneu cannot as yet be determinedunequivocally: the possibility of L.pneu presence cannot as yet be set aside, because of the isolation timing and test limitation in that only sero-group 1 to 6 of L.pneu or L.micdadei.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maksum Radji
"ABSTRAK
Ruang lingkup dan cara penelitian : Salah satu masalah utama dalam penanggulangan penyakit demam berdarah dengue adalah belum adanya cara diagnosis pemasti yang dapat diandalkan, terutama untuk pengelolaan penderita, walaupun berbagai cara diagnosis telah dikembangkan. Salah satu cara diagnosis pemasti yang saat ini sedang dikembangkan adalah penggunaan pelacak asam nukleat untuk mendeteksi RNA atau fragmen RNA virus dengue. Dalam penelitian ini akan dicoba teknik hibridisasi in situ menggunakan pelacak DNA yang komplementer terhadap fragmen RNA dari gen E, yaitu gen yang menyandi sintesis glikoprotein selubung virus dengue. Rekonstruksi pelacak cDNA dilakukan dengan mengklon plasmid pKS-DEN2 yaitu plasmid rekombinan yang mengandung cDNA yang spesifik terhadap virus dengue tipe 2, dan pKS-DEN3 yang mengandung cDNA yang spesifik terhadap virus dengue tipe 3, ke dalam E. coil DH5. Isolasi plasmid rekombinan dilakukan dengan cara "alkaline lysis method", setelah diamplifikasi dengan teknik "preparasi skala besar" dalam medium Luria Bertani cair yang mengandung ampisilin 50 ug/ml. Pelacak cDNA yang merupakan hasil pemotongan pKS-DEN2 dan pKS-DEN3 dengan enzim Hinc II dan BamHI, masing-masing sekitar 290 pasang basa, setelah dilabel dengan digoksigenin-11-dUTP, dipakai untuk mendeteksi virus dengue tipe 2 dan tipe 3, yang dibiakkan dalam sel Aedes albopictus klon C6/36.
Hasil dan kesimpulan : Hasil percobaan menunjukkan bahwa pelacak cDNA yang berasal dari pKS-DEN2 dapat mendeteksi virus dengue tipe 2, sedangkan pelacak cDNA yang berasal dari plasmid pKS-DEN3 dapat mendeteksi virus dengue tipe 3, dalam sel C6/36 yang terinfeksi. Tidak terdapat reaksi silang diantara kedua pelacak tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelacak cDNA yang merupakan fragmen restriksi Hinc II dan BamHI, yang masing-masing berasal dari pKS-DEN2 dan pKS-DEN3 secara spesifik dapat mendeteksi virus dengue yang sesuai dalam sel C6/36 yang terinfeksi, melalui hibridisasi DNA-RNA in situ.
"
1994.
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lia Waslia
"ABSTRAK
Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan bakteri yang resisten
terhadap antibiotik methicillin dan antibiotik golongan β-laktam lainnya. MRSA adalah
patogen umum di rumah sakit dan masyarakat. Isolasi MRSA tidak mudah dilakukan
karena seringkali bercampur atau terkontaminasi dengan flora normal seperti coagulase
negative Staphylococci (CoNS) yaitu Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus
haemolyticus. Studi ini menggunakan metode fenotipik berupa pengamatan morfologi,
pengecatan Gram, Uji biokimia, serta kepekaan antibiotik sedangkan uji genotipik
(metode molekular) berupa PCR gen nuc dan mec, SCCmec typing, MLST dan
sekuensing. Subyek penelitian sebanyak 48 isolat tersimpan di Laboratorium
Bakteriologi Molekular, Lembaga Eijkman Jakarta. Diperoleh sebanyak 33 sampel
(68.75) memiliki tipe 5 ccr, 9 sampel (18.75) tipe 2 ccr dan 6 sampel (12.5 )
nontypeable. Sequence type (ST) yang dominan pada penelitian ini adalah ST239 (2-3-
1-1-4-4-3) dan merupakan strain yang multidrug resistant dominan. Pada penelitian ini
semua isolat MRSA yang berjumlah 48 isolat telah dikonfirmasi memiliki ciri-ciri
fenotipik yang sesuai, yaitu Gram positif coccus menyerupai buah anggur, hemolisis,
oksidase negatif, katalase positif dan koagulase positif. Sifat bakteri MRSA secara
genotipik mempunyai gen nuc dan gen mecA positif. Hubungan antara sifat genotipe
dan sifat fenotipe MRSA yang terlihat dalam penelitian ini adalah semua isolat MRSA
yang multidrug resistant (uji secara fenotipik) juga merupakan sequence type yang
dominan di rumah sakit (uji genotipik).

ABSTRACT
Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) is a bacterium that is resistant to
the methicillin antibiotics and other β-lactam group antibiotics. MRSA is a common
pathogen in hospitals and communities. Isolation of MRSA is not easy to do because it
is often mixed or contaminated with normal flora such as coagulase negative
Staphylococci (CoNS), namely Staphylococcus epidermidis and Staphylococcus
haemolyticus. This study used phenotypic methods in the form of morphological
observations, Gram staining, biochemical tests, and antibiotic sensitivity while
genotypic tests (molecular methods) in the form of nuc and mec PCR, SCCmec typing,
MLST and sequencing. The research subjects were 48 isolates stored in the Molecular
Bacteriology Laboratory, Eijkman Institute Jakarta. Thirty three samples (68.75) had
type 5 ccr, 9 samples (18.75) type 2 ccr and 6 samples (12.5) nontypeable. The
dominant sequence type (ST) in this study is ST239 (2-3-1-1-4-4-3) and is a multidrug
resistant dominant strain. In this study, all isolates of MRSA, total of 48 isolates, were
confirmed to have appropriate phenotypic features, which are Gram positive cocci
resembling grapes,-hemolysis, negative oxidase, positive catalase and positive
coagulase. Genotypically all isolates have positive nuc gene and mecA gene. The
relationship between genotype features and MRSA phenotype seen in this study is that
MRSA isolates that are multidrug resistant (phenotypic test) are also the dominant
sequence types in the hospital (genotypic test)."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>