Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fany Cahya Dewi
"ABSTRAK
Penelitian ini membahas kepatuhan dokter dalam penggunaan obat yang sesuai dengan formularium nasional di RSUP Fatmawati Tahun 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang menggunakan data primer dan data sekunder. Pada penelitian ini kepatuhan tinggi, informasi dan sosialisasi yang rendah, kepemimpinan yang kondusif, pengetahuan yang rendah, sikap yang baik, adanya peran KFT, pengaruh industri farmasi, serta lingkungan tempat kerja yang baik. Terdapat hubungan hubungan yang bermakna antara informasi dan sosialisasi serta pengetahuan dengan kepatuhan dokter dalam menggunakan obat sesuai formularium nasional.

ABSTRACT
This study discusses the compliance of doctors in the use of drugs in accordance with the national formulary in RSUP Fatmawati Year 2017. This research is a quantitative research with cross sectional approach using primary data and secondary data. In this study, high compliance, low information and socialization, conducive leadership, low knowledge, good attitude, the role of KFT, the influence of the pharmaceutical industry, and a good workplace environment. There is a significant relationship between information and socialization and knowledge with doctors 39 compliance in using drugs according to national formulary."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Husnul Azhimah
"Edukasi menggunakan video, kartu pengingat minum obat dan pesan singkat merupakan intervensi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan menuju keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi edukasi menggunakan video, kartu pengingat minum obat dan pesan singkat terhadap kepatuhan penggunaan antihipertensi pada pasien rawat jalan di Puskesmas Tangerang Selatan-Banten. Penelitian menggunakan rancangan Randomized Controlled Trial (RCT) dengan melibatkan 160 responden, terdiri dari kelompok kontrol (80 responden) dan intervensi (80 responden). Data Kepatuhan penggobatan dan tekanan darah terkontrol dinilai dari pengisian kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) dan rekam medik sebelum dan setelah intervensi. Sebelum Intervensi ada perbedaan signifikan antar kelompok mengenai karakteristik demografi responden, karakteristik klinis, dan gaya hidup. Intervesi apoteker melalui video, kartu pengingat minum obat dan pesan singkat berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kepatuhan pengobatan (p:0.000) dengan kategori kepatuhan tingkat tinggi sebesar 7,5%, kepatuhan sedang sebesar 77,5% dan kepatuhan rendah sebesar 15%. Intervensi ini juga secara signifikan menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik (p:0.000,TDS/TDD=-15,44 mmHg/-5,12 mmHg). Pasien hipertensi mengalami 3,75 % kejadian efek samping samping obat dengan level ringan (Mild). Manifestasi efek samping yaitu sakit perut dan kelelahan serta sakit kepala.

Education using videos, medication reminder cards and text message reminder is an intervention that can be done to increase medication adherence to successful therapy. This study aims to evaluate education using videos, medication reminder cards and short messages on adherence to antihypertensive use in outpatients at the Tangerang Selatan Health Center, Banten. The study used a Randomized Controlled Trial (RCT) design involving 160 respondents, consisting of a control group (80 respondents) and an intervention group (80 respondents). Data on medication adherence and controlled blood pressure were assessed by completing the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) questionnaire and medical records before and after the intervention. Prior to the intervention there were significant differences between groups regarding the demographic characteristics of the respondents, clinical characteristics, and lifestyle. Pharmacist intervention through videos, medication reminder cards and short messages had a significant effect on increasing medication adherence (p: 0.000) with high adherence categories of 7.5%, moderate adherence of 77.5% and low adherence of 15%. This intervention also significantly reduced systolic and diastolic blood pressure (p:0.000, TDS/TDD=-15.44 mmHg/-5.12 mmHg). Hypertensive patients experienced 3.75% of side effects of drugs with mild levels (Mild). Manifestations of side effects are abdominal pain and fatigue as well as headaches. "
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alifia Fauziyyah Haifa
"Hipoglikemia merupakan komplikasi umum penderita diabetes melitus tipe 2 yang menerima sulfonilurea, dengan tingkat risiko yang bervariasi bergantung pada jenisnya. Data yang terkait dengan hipoglikemia di komunitas masih terbatas dan jarang dilaporkan, meskipun hal ini penting untuk keselamatan pasien. Di Indonesia, glimepirid dan glibenklamid adalah dua jenis sulfonilurea yang paling banyak digunakan dan tertera dalam Formularium Nasional untuk dapat disediakan di Puskesmas. Pola peresepan kedua obat di beberapa wilayah menunjukkan perbedaan, yang dipengaruhi oleh pertimbangan keamanan, terutama terkait risiko hipoglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi risiko hipoglikemia dari kedua obat secara aktual dalam konteks komunitas di Indonesia, dengan menilai proporsi dan menganalisis perbedaan kejadian hipoglikemia yang terkait dengan penggunaan glimepirid dan glibenklamid di Puskesmas terpilih di Kabupaten Majalengka tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain observasional multicenter dengan pendekatan cross sectional, dimana kejadian hipoglikemia dievaluasi berdasarkan data primer melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kejadian hipoglikemia pada kelompok glimepirid tercatat sebesar 27.9%, sementara pada kelompok glibenklamid lebih tinggi, yaitu 47.7%, dengan mayoritas berupa probable symptomatic hypoglycemia. Tidak ditemukan severe hypoglycemia dan documented asymptomatic hypoglycemia pada kelompok glibenklamid. Analisis bivariat chi-square menunjukkan bahwa penggunaan terapi glibenklamid meningkatkan risiko kejadian hipoglikemia 2.3 kali lebih besar dibandingkan dengan penggunaan glimepirid (OR 2.358; 95% CI 1.351-4.118; nilai p = 0.004). Setelah pengendalian variabel perancu, risiko meningkat hingga 3 kali lebih besar (OR 3.007; 95% CI 1.640-5.513; nilai p = 0.001). Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan glimepirid pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas terpilih di Kabupaten Majalengka tahun 2024 menunjukkan proporsi kejadian hipoglikemia yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan glibenklamid. Oleh karena itu, glimepirid lebih disarankan sebagai pilihan terapi dari golongan sulfonilurea untuk mengurangi risiko hipoglikemia.

Hypoglycemia is a common complication of type 2 diabetes mellitus patients receiving sulfonylureas, with varying degrees of risk depending on the type. Data related to hypoglycaemia in the community is limited and under-reported, despite its importance for patient safety. In Indonesia, glimepiride and glibenclamide are the most widely used types and are listed in the national formulary to be provided at health centers. The prescribing pattern of both drugs in some regions shows differences, which are influenced by safety considerations, especially related to the risk of hypoglycemia. This study aims to evaluate the actual risk of hypoglycemia from both drugs in a community context in Indonesia, by assessing the proportion and analyzing differences in the incidence of hypoglycemia associated with the use of glimepiride and glibenclamide in selected Puskesmas in Majalengka Regency in 2024. This study used a multicenter observational design with a cross sectional approach, where the incidence of hypoglycemia was evaluated based on primary data through interviews. The results showed that the proportion of hypoglycemia in the glimepirid group was 27.9%, while in the glibenclamide group it was higher, namely 47.7%, with the majority in the form of probable symptomatic hypoglycemia. There was no severe hypoglycemia and documented asymptomatic hypoglycemia in the glibenclamide group. Bivariate chi square analysis showed that the use of glibenclamide therapy increased the risk of hypoglycemia 2.3 times greater than the use of glimepiride (OR 2.358; 95% CI 1.351 4.118; p value = 0.004). After controlling for confounding variables, the risk increased to 3 times greater (OR 3.007; 95% CI 1.640-5.513; p value = 0.001). The conclusion of this study is that the use of glimepirid in patients with type 2 diabetes mellitus at selected health centers in Majalengka Regency in 2024 showed a significantly lower proportion of hypoglycemia events compared to glibenclamide. Therefore, glimepiride is more recommended as a therapeutic option from the sulfonylurea group to reduce the risk of hypoglycemia."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library