Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 49 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eko Setiawan
"Sampai saat ini, etiologi simple bone cyst(SBC) masih belum jelas; terdapat sejumlah teori mengenai terbentuknya SBC. Salah satu teori yang paling populer adalah obstruksi vena yang berakibat pada akumulasi cairan. Cairan-cairan ini diketahui mengandung faktor resorptif tulang, diantaranya adalah interleukin-1b(IL-1b) dan prostaglandin E2 (PGE2). Selain itu, parameter rasio limfosit monosit (LMR) saat ini sering dipakai memprediksi prognosis suatu keganasan, namun belum ada data yang berhubungan dengan tumor jinak. Kortikosteroid diketahui memiliki efek inhibitorik pada resorpsi tulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar IL-1bdan PGE2 pada pasien SBC yang dilakukan injeksi steroid serial. Desain studi kohort prospektif dilakukan dengan menganalisis cairan kista pasien SBC yang datang ke RSCM pada bulan Januari 2018 sampai Juli 2019. Dilakukan dekompresi dan injeksi metilprednisolon asetat dosis 80-120mg tergantung dari usia dan berat badan subyek. Interval antar injeksi adalah satu bulan. Cairan dianalisis untuk mengukur kadar IL-1bdan PGE2 dengan menggunakan Quantikine ELISA(R&D System, Minnesota, Amerika Serikat), serta dinilai LMR nya. Kriteria penyembuhan tulang dinilai menggunakan kriteria radiologis Chang. Terdapat 4 subjek dalam penelitian kami, dengan median usia 12 (8-18) tahun. Seluruh subjek berjenis kelamin laki-laki. Dua subjek mengalami SBC pada humerus proksimal, dan dua subjek lainnya mengalami SBC pada femur proksimal. Seluruh kista bersifat aktif. Dua subjek sembuh, satu subjek sembuh dengan defek, dan satu subjek mengalami kista persisten. Didapatkan kadar IL-1bpada 3 subjek berada dibawah 3,9 pg/mlpada serial injeksi dan 1 subjek memiliki kadar 6,7, 13,31, dan 5,42 pg/ml.Sedangkan kadarbaselinePGE2 pada4 subjekadalah411, 122,5, 437,99dan 261,49pg/ml.Nilai LMR pada 4 subjek 6,2, 6,54, 5,4 dan 8,13.Terdapat perubahan kadar PGE2 dalam cairan SBC yang dilakukan pada injeksi steroid serial dengan kecenderungan meningkat paska injeksi yang pertama, lalu menurun paska serial injeksi berikutnya.Kadar interleukin IL-1βberada dibawah 3,9pg/mldalam cairan SBC yang dilakukan injeksi steroid serial.Tidak terdapat hubungan LMR dengan proses penyembuhan dan progresivitas lesi SBC

To date, the aetiology of simple bone cyst (SBC) remains controversial. Several theories regarding its pathogenesis exist, and one of the most popular ones is venous obstruction which leads to fluid accumulation. This fluid contains bone resorptive factor, such asinterleukin-1b(IL-1b) and prostaglandin E2 (PGE2). Corticosteroid is known to possess an inhibitory effect on bone resorption. The objective of this study is to analyze IL-1bdan PGE2 in patients with SBC who treated with serial steroid injection. This prospective study was conducted by analyzing cyst fluid of patients diagnosed with SBC who went to Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, Indonesia during the period between January 2018 and July 2019. The subjects underwent decompression, and subsequently they were injected with methylprednisolone acetate. The dose of the steroid varied from 80 to 160 mg according to the subject's age and weight. The interval of each injection was one month. The fluid was analyzed for its IL-1band PGE2 levels by means of Quantikine ELISA (R&D System, Minnesota, United States). Bone healing was evaluated using Chang criteria. A total of 4 subjects (median age: 12 [8-18] years of age) were included in our study. All subjects were male. Two subjects had SBC on the proximal humerus, and the other two had SBC on the proximal femur. All cysts were active. Two subjects healed, one healed with defect, and one had persistent cyst. We found that the IL-1bof3 subjects were below3.9 pg/mlin serial injection, and one subject had IL-1blevels of6.7, 13.31, and5,42 pg/ml.Whereas, the baseline PGE2 levels in four subjects were 411, 122.5, 437.99and261,49pg/ml.TheLMRin four subjects werepada 4 subjek 6.2, 6.54, 5.4 dan 8.13.We found change in PGE2 levels in SBC fluid that was treated with serial steroid injection. We found an increasing trend after the first injection, which was followed by a decreasing trend in the subsequent injection. The IL-1β levels in all timepoint were below3.9pg/ml."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tia Austin Bachtar
"[ABSTRAK
Promosi penjualan biasanya digunakan oleh perusahaan untuk merangsang perilaku pembelian konsumen terhadap produk atau jasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pengaruh promosi penjualan dalam bentuk online discount pricing terhadap online impulse buying pada produk fashion di Lazada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah 100 orang konsumen dengan syarat telah mengakses situs dan membeli produk fashion tanpa perencanaan sebelumnya di Lazada dengan menggunakan metode non-probability sampling serta teknik purposive. Instrumen penelitian ini menggunakan kuisioner dan dianalisis menggunakan simple regression. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa promosi penjualan dalam bentuk online discount pricing memiliki pengaruh yang signifikan terhadap online impulse buying. Promosi penjualan dalam bentuk online discount pricing mempengaruhi online impulse buying sebesar 28.5% dan sisanya sebesar 71.5% dipengaruhi oleh faktor lain
ABSTRACT
Sales promotion are generally used by companies to stimulate consumer buying behavior of a product or service. The objective of this research is to analyze how the effect of sales promotion in the form of online discount pricing toward online impulse buying on fashion product in Lazada. This research applied quantitative approach. The sample of this research are 100 fashion products consumers in Lazada provided that have purchased a product without prior planning and collected using non-probability sampling with purposive technique. This research used questionnaire as research instrument and analyzed with simple regression. The result of this research indicate that sales promotion in the form of online discount pricing have a significant effect toward online impulse buying. Sales promotion in the form online discount pricing effect online impulse buying equal to 28.5% an residue equal to 71.5% effected by some other factors.
;Sales promotion are generally used by companies to stimulate consumer buying behavior of a product or service. The objective of this research is to analyze how the effect of sales promotion in the form of online discount pricing toward online impulse buying on fashion product in Lazada. This research applied quantitative approach. The sample of this research are 100 fashion products consumers in Lazada provided that have purchased a product without prior planning and collected using non-probability sampling with purposive technique. This research used questionnaire as research instrument and analyzed with simple regression. The result of this research indicate that sales promotion in the form of online discount pricing have a significant effect toward online impulse buying. Sales promotion in the form online discount pricing effect online impulse buying equal to 28.5% an residue equal to 71.5% effected by some other factors.
, Sales promotion are generally used by companies to stimulate consumer buying behavior of a product or service. The objective of this research is to analyze how the effect of sales promotion in the form of online discount pricing toward online impulse buying on fashion product in Lazada. This research applied quantitative approach. The sample of this research are 100 fashion products consumers in Lazada provided that have purchased a product without prior planning and collected using non-probability sampling with purposive technique. This research used questionnaire as research instrument and analyzed with simple regression. The result of this research indicate that sales promotion in the form of online discount pricing have a significant effect toward online impulse buying. Sales promotion in the form online discount pricing effect online impulse buying equal to 28.5% an residue equal to 71.5% effected by some other factors.
]"
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016
S61908
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yoshi Pratama Djaja
"ABSTRAK
Pendahuluan: Dalam penanganan kasus fraktur pelvis dan asetabulum, berbagai macam approach telah diperkenalkan. Pada penelitian ini, kami mengembangkan teknik minimal invasive dengan menggabungkan teknik jendela pertama pada approach Ilioinguinal dan Modified Stoppa untuk meminimalisir resiko cedera neurovaskular, penyembuhan luka, jumlah perdarahan dan durasi operasi.Metode: Penelitian ini melibatkan 30 pasien dengan cedera cincin pelvis anterior dan/atau fraktur kolum anterior asetabulum yang menjalani operasi antara Januari 2011 ndash; Maret 2016. Kelompok Minimally Invasive Plate Osteosynthesis MIPO terdiri dari 15 pasien dan 15 lainnya diterapi dengan teknik Ilioinguinal. Parameter intraoperatif seperti jumlah perdarahan, durasi operasi, kualitas reduksi Matta dan luaran fungsional pasca-operasi Majeed dan Hannover 12 bulan pasca operasi dicatat dan dianalisis dengan membandingkan kedua kelompok tersebut.Hasil dan Diskusi: Rerata jumlah perdarahan pada kelompok MIPO 325 ? 225 mL sedangkan kelompok Ilioinguinal 710.67 ? 384.51 mL p=0.002 . Rerata durasi operasi pada kelompok MIPO 2.49 ? 1.53 jam dan 3.83 ? 0.96 jam di kelompok Ilioinguinal p=0.006 . Tidak ada perbedaan bermakna antara kedua kelompok dilihat dari kualitas reduksi, luaran fungsional. Tidak ada komplikasi yang ditemukan dalam periode 12 bulan pasca operasi. Teknik MIPO Modified Stoppa dan lateral window dapat digunakan sebagai alternatif yang aman dan efektif dalam tatalaksana cedera cincin pelvis anterior dan/atau fraktur kolum anterior asetabulum.
ABSTRACT Introduction In performing surgery for fractures of the pelvis and acetabulum, various surgical approaches have been introduced. In this study, we developed a minimally invasive approach by combining the first window of ilioinguinal with Modified Stoppa to minimize the risk of neurovascular injury, wound healing problems, blood loss and duration of surgery.Methods This study involved 30 patients with anterior pelvic ring and or anterior column acetabulum fracture who underwent operation between January 2011 ndash March 2016. The minimally invasive plate osteosynthesis MIPO group consisted of 15 patients while the other 15 are ilioinguinal group. Intraoperative parameters such as blood loss, duration of surgery, quality of reduction Matta and postoperative functional outcome Majeed and Hannover score at twelve months period were recorded and evaluated.Result and Discussion The mean blood loss in the MIPO group were 325 225 mL versus 710.67 384.5 mL control p 0.002 . Duration of surgery were averaged at 2.49 1.53 hours in MIPO group versus 3.83 0.96 hours in ilioinguinal group p 0.006 . There were no significant differences noted between the two groups in the quality of reduction and postoperative functional outcome. No complications were found after a 12 months follow up period in the MIPO group. Modified Stoppa and lateral window technique can be used as a safe and effective alternative for anterior pelvic ring fracture and or anterior column acetabulum fracture. "
2017
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fita Rahmasari
"Latar belakang: Perubahan patologis pada anatomi kaki dapat terjadi akibat pemakaian sepatu hak tinggi dalam jangka waktu lama. Kondisi yang paling sering terjadi pada kaki wanita adalah Hallux valgus. Berbagai studi potong lintang menunjukkan penggunaan sepatu hak tinggi berhubungan dengan Hallux valgus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kejadian Hallux valgus pada pramuniaga pengguna sepatu hak tinggi dibandingkan dengan pengguna sepatu datar. Metode: Penelitian menggunakan desain potong lintang perbandingan dengan besar sampel minimal 92 orang per kelompok, diambil dengan teknik purposive sample. Pramuniaga yang bekerja minimal 1 tahun direkrut sebagai subjek penelitian, diberikan kuesioner, dilakukan pemeriksaan kaki secara klinis dan dengan pemeriksaan radiologi apabila terdapat kelainan bentuk kaki yang mengarah ke Hallux valgus. Pendekatan 7 Langkah Diagnosis Okupasi digunakan untuk menentukan kejadian Hallux valgus yang terjadi apakah akibat kerja atau tidak. Hasil: Angka kejadian Hallux valgus sebesar 71,4 25 dari 35 pada pengguna sepatu hak tinggi dan 28,6 10 dari 35 pada pengguna sepatu datar. Pramuniaga pengguna sepatu hak tinggi 2,77 kali IK 95 1,25-6,15; p 0,01 lebih berisiko mengalami Hallux valgus dibandingkan pengguna sepatu datar. Kejadian Hallux valgus semakin meningkat seiring peningkatan usia subjek p 4 tahun 5,2 kali IK 95 1,95-14,31 lebih berisiko dibandingkan masa kerja 4 tahun p 0,05 . Hallux valgus akibat kerja sebesar 54,3 , diperberat pekerjaan dan bukan akibat kerja masing-masing 22,85 . Kesimpulan dan saran: Terdapat perbedaan kejadian Hallux valgus pada pramuniaga pengguna sepatu hak tinggi dibandingkan pengguna sepatu datar. Hallux valgus yang terjadi sebagian besar merupakan penyakit akibat kerja. Penggunaan sepatu datar sangat disarankan untuk mencegah risiko terjadinya Hallux valgus.

Background Pathological anatomy changes of the foot may result from using high heels for long time and the most frequent pathological condition in woman 39 s foot is Hallux valgus. Cross sectional studies show that using high heels is associated with Hallux valgus. This study aims to evaluate the difference incidence of Hallux valgus between sales promotion girl using high heels compared with flat shoes. Method This study used comparative cross sectional design with minimal sample size 92 subjects for each group, taken with purposive sample technique. Sales promotion girl who work for at least 1 year recruited as subjects, given questionnaires, foot examination and radiology examination when there is a foot deformity that leads to Hallux valgus. 7 Step of Occupational Diagnosis is used to determine Hallux valgus as Occupational Disease or not. Result Incidence of Hallux valgus is 71.4 25 out of 35 among subjects using high heels and 28.6 10 out of 35 on flat shoes. Subjects using high heels are 2.77 times CI 95 1.25 6.15 p 0.01 more risk to develop Hallux valgus than who are using flat shoes. The incidence of Hallux valgus is increased with age p 4 years is 5.2 times CI 95 1.95 14.31 more risk than working 4 years p 0,05 . Occupational Hallux valgus is 54.3 , work related disease is 22.85 and non occupational disease is also 22.85 . Conclusion and recommendation There is a difference incidence of Hallux valgus among sales promotion girl using high heels compared with flat shoes. Most of the Hallux valgus is an occupational disease. Using flat shoes is strongly recommended to prevent the risk of Hallux valgus. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Latsarizul Alfariq Senja Belantara
"Parameter spinopelvic alignment (sagittal balance) merupakan salah satu etiologi yang dicuriga dalam menyebabkan spondilolisthesis degeneratif. Namun, hasil dari studi-studi sebelumnya menunjukkan hasil yang berlawanan; dimana beberapa studi menemukan hubungan yang signifikan dari beberapa parameter tersebut sedangkan yang lain tidak. Sebelumnya, belum terdapat meta-analisis mengenai hubungan spinopelvic alignment dengan terjadinya spondilolistesis degeneratif. Meta-analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan parameter spinopelvic alignment dengan terjadinya spondilolisthesis degeneratif. Systematic review dan meta-analisis yang dikerjakan berdasarkan metode Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA). Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, EMBASE, ScienceDirect, Cochrane, dan Google Scholar. Kualitas metodologis berdasarkan ceklis Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) cross-sectional study quality methodology checklis dan Newcastle-Ottawa Scale (NOS) untuk studi kohort. Analisis statistik dilakukan menggunakan Rev-Man 5.3. Kekuatan asosiasi diperkirakan menggunakan MD, RR, atau OR dan 95% IK nya. Data disajikan dalam bentuk tabel dan forest plot. Nilai P dibawah 0,05 dianggap sebagai bermakna secara statistik. Efek fixed-effect digunakan ketika tidak terdapat heterogenitas statistik signifikan (I2 < 50%, P > 0.10). Jika tidak, efek random-effects (metode Dersimonian dan Laird) digunakan. Grup disajikan antara lain usia, jenis kelamin, PI, PT, SS, LL, dan TK. Studi subgrup dilakukan berdasarkan area dan desain studi untuk memastikan hubungan area dan heterogenitas. Didapatkan total 3,236 artikel. Sejumlah 281 artikel penelitian didapatkan dari PubMed, 959 artikel dari ScienceDirect, 24 artikel dari Cochrane, 1820 artikel pada Google Scholar. Selain itu, dilakukan juga pencarian artikel secara hand searching dari daftar pustaka masing-masing artikel. Didapatkan sebanyak 10 artikel yang dianggap berhubungan dengan kata kunci penelitian. Ditemukan bahwa pelvic incidence (mean difference [MD] = 11,94 [1,81-22,08], P = 0,02), pelvic tilt (MD = 4,47 [0,81-8,14]), P = 0,02), dan usia (MD = 11,94 [1,81-22,08], P = 0,02) berhubungan terjadinya spondilolistesis degeneratif. Ditemukan pula perempuan memiliki risiko 2,86 kali lipat mengalami spondilolistesis degeneratif dibandingkan dengan laki-laki (OR = 2,86, IK95%=1,49-5,48; p = 0,002). Meta-analisis ini menunjukkan bahwa pelvic incidence, pelvic tilt, usia, dan jenis kelamin perempuan berhubungan terjadinya spondilolistesis degeneratif

Spinopelvic parameter may result in the development of degenerative spondylolisthesis. However, results from previous studies show conflicting results; some studies found significant relationship of some of these parameters with degenerative spondylolisthesis, while others did not. Previously, there was no meta-analysis regarding the association between spinopelvic alignment and degenerative spondylolisthesis. This meta-analysis aims to determine the association between spinopelvic alignment and degenerative spondylolisthesis. Systematic reviews and meta-analyzes are carried out based on the Selected Item Reporting method for Systematic Review and Meta Analysis (PRISMA). Literature search was performed using PubMed, EMBASE, ScienceDirect, Cochrane, and Google Scholar. Methodological quality based on the cross-sectional checklist of the Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) quality check methodology and the Newcastle-Ottawa Scale (NOS) for cohort studies. Statistical analysis was performed using Rev-Man 5.3. The strength of the association is estimated using MD, RR, or OR and 95% of its IK. Data is presented in table and forest plot form. P values below 0.05 are considered as statistically significant. Fixed-effect effects are used when there is no statistically significant heterogeneity (I2 <50%, P> 0.10). Otherwise, random-effects (the Dersimonian and Laird methods) are used. Groups presented include age, gender, PI, PT, SS, LL, and TK. Subgroup studies are conducted based on ethnic and study design to ascertain racial relations and heterogeneity.A total of 3,236 articles were obtained. Get 281 research articles from PubMed, 959 articles from ScienceDirect, 24 articles from Cochrane, 1820 articles on Google Scholar. In addition, a hand searching article was also conducted from the bibliography of each article. 10 articles related to research keywords were obtained. It was found that pelvic incidence (mean difference [MD] = 11.94 [1.81-22.08], P = 0.02), pelvic tilt (MD = 4.47 [0.81-8.14]), P = 0.02), and age (MD = 11.94 [1.81-22.08], P = 0.02) associated with degenerative spondylolisthesis. Compared with men (OR = 2.86, IK95% = 1.49-5.48; p = 0.002). This meta-analysis proves that pelvic incidence, pelvic tilt, age, and female sex are associated with degenerative spondylolisthesis."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ali Abdullah
"Isolasi sel punca mesenkimal (SPM) dari darah perifer (DP) menutupi kekurangan yang ditemukan pada isolasi dari sumsum tulang (ST). Jumlah darah yang banyak dapat diperoleh dari sirkulasi perifer dan teknik pengambilannya lebih tidak traumatik dibandingkan pengambilan dari sumsum tulang. Namun, jumlahnya sedikit di dalam darah. Diperlukan suatu kondisi untuk meningkatkan hasil isolasi dari darah perifer. Restriksi kalori meningkatkan kemampuan self-renewal dari sel punca intestinal, sel punca otot dan regenerasi saraf, menjaga kemampuan regenerasi jangka panjang pada sel punca hematopoetik. Belum terdapat penelitian yang mempelajari efek intermittent atau prolonged fasting pada SPM darah perifer dan sumsum tulang, maka diperlukan penelitian untuk mempelajari efek fasting terhadap kemampuan proliferasi dan diferensiasi SPM. Penelitian ini menggunakan kelinci (n=27) yang dibagi menjadi tiga kelompok; setiap kelompok terdiri dari 9 kelinci. Kelompok pertama sebagai kontrol diberikan makan dan minum ad lib. Kelompok kedua mendapat perlakuan intermittent fasting (7 siklus), dan kelompok ketiga mendapat perlakuan prolonged fasting (4 siklus). Sampel diambil dari darah perifer dan sumsum tulang femur. Dilakukan isolasi kultur untuk menilai kemampuan proliferasi (waktu konfluensi dan jumlah sel) dan diferensiasi (kualitatif dan kuantifikasi) dari masing-masing kelompok sampel. Sel punca mesenkimal pada ketiga kelompok penelitian mampu diisolasi, berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi osteoblas. Persentasi keberhasilan kultur primer dari kelompok kontrol: DP 14.28%, dan ST 28.57%; kelompok IF: DP 44.44% dan ST 33.33%; dan kelompok PF: DP 55.55%, dan ST 44.44%. Rerata waktu konfluensi kelompok kontrol: DP 17 hari dan ST 31 hari; kelompok IF: DP 15 hari dan ST 26 hari; dan kelompok PF: DP 15.6 hari dan ST 20 hari (DP p=0.592, dan ST p=0.408). Rerata jumlah sel konfluensi kelompok kontrol: DP 108 x103/mL dan ST 274 x103/mL; kelompok IF: DP 182 x103/mL dan ST 115.3 x103/mL ; dan kelompok PF: DP 65.6 x103/mL dan 139 x103/mL ST (DP p=0.282 dan ST p=0.502). Rerata kuantifikasi optik densitometri pada diferensiasi osteoblas kelompok kontrol: DP 0.154 OD dan ST 0.169 OD; kelompok IF: DP 0.240 OD dan ST 0.207 OD; dan, kelompok PF: DP 0.157 OD dan ST 0.167 OD (DP p=0.044 dan ST p=0.074). Uji posthoc kuantifikasi optik densitometri diferensiasi osteoblas didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok IF DP (p=0.046). Perlakuan intermittent dan prolonged fasting memiliki efek dalam meningkatkan ekspansi SPM ke darah perifer. Kuantifikasi diferensiasi osteoblas SPM-DP perlakuan IF lebih tinggi dibandingkan kontrol. Diharapkan ada penelitian lanjutan yang mengevaluasi efek intermittent fasting pada sampel darah perifer manusia terhadap kemampuan SPM dalam hal ekspansi, proliferasi dan diferensiasi menjadi osteoblas.

Isolation of mesenchymal stem cells (MSC) from peripheral blood (PB) was considered giving more advantages compared to isolation from bone marrow (BM). Large amounts of blood can be taken from peripheral circulation by less invasive extraction technique than BM. However, MSC isolated from PB can only be achieved in a small amount. Some conditioning of the subjects are needed in order to improve the isolation products from PB. Calorie restriction increases the self-renewal ability of intestinal stem cells, muscle stem cells and nerve regeneration, and maintain the long-term regeneration ability of hematopoietic stem cells. There has not been any studies that explore the effects of intermittent or prolonged fasting on MSC of PB and BM. The aim of this study is investigating the effect of fasting on the ability of MSC proliferation and differentiation. This study used rabbits (n = 27) which were divided into three groups; each group consists of 9 rabbits. The first group as a control was given food and drink ad lib. The second group received intermittent fasting (7 cycles), and the third group received prolonged fasting (4 cycles). Samples were taken from the peripheral blood and femoral bone marrow. Culture isolation was performed to assess the proliferation (confluency time and cells number) and differentiation (qualitative and quantitative) abilities of each sample group. Mesenchymal stem cells in all groups were able to be isolated, proliferate and differentiate to osteoblast. The successful rate of primary culture from control group: PB 14.28% and BM 28.57%; IF group: PB 44.44% and BM 33.33%; and PF group: PB 55.55% and BM 44.44%. The mean of confluence time from control group: PB 17 days and BM 31 days; IF group: PB 15 days and BM 26 days; and PF group: DP 15.6 days and ST 20 days (PB p=0.592, and BM p=0.408). The mean of confluence cells number: PB 108 x103/mL and BM 274 x103/mL; IF group: PB 182 x103/mL and BM 115.3 x103/mL ; and PF group: PB 65.6 x103/mL and 139 x103/mL ST (PB p=0.282 and BM p=0.502). The mean of optical densitometry quantification from osteoblast differentiation in control group: : PB 0.154 OD and BM 0.169 OD; IF group: PB 0.240 OD and BM 0.207 OD; and, PF group: PB 0.157 OD and BM 0.167 OD (PB p=0.044 dan BM p=0.074). Posthoc analyis from optical densitometry quantification of osteoblast differentiation showed significant difference on IF PB group (p=0.046). Intermittent and prolonged fasting treatment gave increasing effect of MSC expansion into peripheral blood. MSC-PB osteoblast differentiation quantification was higher in IF treatment compared to control. It is hoped that further studies will evaluate the effect of intermittent fasting on human peripheral blood samples in the ability of SPM in terms of expansion, proliferation and differentiation into osteoblasts. We suggest that there will be further studies conducted to evaluate the effect of intermittent fasting on the ability of MSC's expansion, proliferation, and differentiation into osteoblasts from human peripheral blood samples."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Erwin Ardian Noor
"Pendahuluan: Rekonstruksi anatomi dan biomekanik panggul yang akurat sangat penting untuk mendapatkan luaran klinis yang optimal pasca THR. Kesejajaran stem femur yang sesuai berperan dalam mendapatkan luaran yang diharapkan, terutama mencegah terjadinya impingement dan loosening. Meski demikian, tilting stem femur pada bidang sagital belum banyak diteliti dan pengaruhnya pada luaran klinis dan radiologis masih belum jelas. Pada studiini, peneliti ingin mengevaluasi posisi stem femur pada bidang sagital pasca THR cementless dan menganalisis hubungannya dengan luaran klinis dan parameter radiologis pascaoperasi.
Metode: Studi analitik observasional dengan desain potong lintang dilakukan pada total 71 panggul (67 pasien, usia 18-85 tahun) yang telah dilakukan prosedur THR cementless di dua pusat orthopedi di Jakarta, Indonesia. Semua panggul dioperasi dengan teknik anterolateral atau posterior dan menggunakan implan dengan desain extended/full- coating wedge tapered stem (Corail, Depuy) atau proximal-coated wedge tapered stem (EcoFit, Implantcast; M/L Taper, Zimmer). Evaluasi dilakukan pada satu waktu dengan median 1,1 tahun (13,7 bulan). Luaran klinis dievaluasi menggunakan penilaian dengan kusioner mHHS, nilai VAS pada nyeripaha depan, dan penilaian derajat lingkup gerak sendi panggul. Kesejajaran sagital stem femurdan variabel radiologis lainnya diukur dari foto polos pelvis dan femur. Subjek dibagi ke dalam3 grup (anterior tilt, netral, dan posterior tilt) dan dilakukan analisis luaran pada ketiga grup tersebut. Pada studi ini, peneliti juga melakukan studi bivariat antara kesejajaran sagital stem femur dengan morfologi femur, approach, dan desain implan untuk melihat efeknya terhadapposisi stem.
Hasil: Nilai median kesejajaran sagital stem adalah 2o (-4,3o – 7.2o) dengan posisi stem netralditemukan lebih banyak dibandingkan stem yang mengalami tilting (54,9% vs. 45,1%). Tidakditemukan perbedaan bermakna antara skor mHHS, nilai VAS nyeri paha, dan derajat ROM diantara ketiga grup stem alignment. Nilai anteversi dan offset implan pasca prosedur juga tidakdipengaruhi oleh posisi stem femur. Studi ini menemukan beberapa faktor yang mempengaruhi kesejajaran sagital stem yang bermakna secara statistik. Uji regresi linier pada morfologi femurmendapatkan bahwa setiap penambahan sudut kelengkungan anterior femur (femoral tilt) 1o berpotensi meningkatkan tilting stem femur sebesar 0,69o ke posterior (Coeff. = 0,502). Posisistem netral lebih banyak ditemukan pada approach anterolateral dibandingkan posterior(56,9% berbanding 50%; p=0,000). Anterior tilt ditemukan hanya pada approach posterior dansebaliknya posterior tilt ditemukan lebih banyak pada approach anterolateral approach (43,1%berbanding 20%). Deviasi stem juga ditemukan lebih besar secara proporsi pada proximal- coated stem dibandingkan dengan fully-coated stem (66,6% berbanding 37,7%; p=0,000).
Kesimpulan: Perbedaan kesejajaran stem femur di bidang sagital tidak mempengaruhi luaran klinis maupun radiologis pasien pasca operasi. Meskipun demikian, dalam memposisikan stem, approach ̧anterolateral merupakan teknik terbaik untuk mendapatkan posisi stem netral. Sebaliknya, deviasi stem banyak ditemukan pada approach posterior maupun tipe implant proximal-coated. Terkait morfologi femur, setiap penambahan 1o anterior bowing, posterior tilting dapat bertambah 0,69o. Temuan ini akan sangat berguna bagi klinisi dalam melakukan perencanaan preoperasi THR cementless untuk medapatkan posisi stem femur yang ideal.

Introduction: Optimal stem alignment is essential after THR. However, stem sagittal tilting has not been sufficiently investigated and outcome is still unclear. We aimed to evaluate sagittal stem position following cementless THR and its relationship with functional and radiological outcomes.
Method: Seventy-one hips underwent primary cementless THR. Median follow up was 1,1 years. Postoperative clinical and radiological outcomes were evaluated. Subjects divided based on tilting degree and outcomes were compared between groups. Bivariate analysis was performed between sagittal alignment and several influencing factors for stem position.
Results: Median sagittal alignment was 2º (-4,3º – 7.2º) with neutral stem more frequent. There were no significant differences on clinical or radiological outcomes. Test result showed 0,69º increase of posterior tilt for every 1º anterior bowing. Anterior tilting found only in posterior approach. Conversely, more posterior tilting after anterolateral approach. Larger stem deviation were found on proximal-coated stem.
Conclusion: Stem tilting in sagittal plane did not affect patient’s functional or radiological outcome postoperatively. Although, in term of stem positioning, anterolateral is the best approach to obtain neutral stem. In addition, for every degree of increased anterior femoral bowing, 0,69º increase in posterior stem tilting can be expected.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ardiansyah
"Pendahuluan: Masih sedikit penelitian mengenai fraktur acetabulum dengan keterlibatan quadrilateral plate. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui luaran fungsional, radiologis, dan kualitas hidup pasien fraktur acetabulum dengan dan tanpa keterlibatan quadrilateral plate pasca operasi sehingga dapat memberikan data dasar sebagai pertimbangan dalam penatalaksanaan fraktur acetabulum. 
Metode: Penelitian kohort retrospektif dilakukan di RSUPN Cipto Mangunkusumo  dengan menganalisis rekam medis tahun 2010-2020 terhadap pasien fraktur asetabulum dengan atau tanpa keterlibatan quadrilateral plate. Penelitian ini mengevaluasi luaran fungsional (Harris Hip Score, Merle D’Aubigne, dan Oxford Hip Score), luaran radiologis (Matta Outcome Score), dan luaran fungsional (SF-36). 
Hasil: Terdapat perbedaan 53 subjek yang terlibat dalam penelitian ini. Sebanyak 28 (52,8%) mengalami fraktur asetabulum dengan keterlibatan quadrilateral plate sedangkan 23 (47,2%) lainnya mengalami fraktur asetabulum tanpa keterlibatan quadrilateral plate. Terdapat perbedaan luaran fungsional, radiologis, dan kualits hidup yang bermakna antara kelompok fraktur asetabulum dengan dan tanpa keterlibatan quadrilateral plate pada 1 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan berdasarkan Harris Hip Score, Merle D’Aubigne, Oxford Hip Score, Matta Outcome Grading, dan SF-36.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan luaran fungsional, radiologis, dan kualits hidup yang bermakna antara kelompok fraktur asetabulum dengan dan tanpa keterlibatan quadrilateral plate pada 1 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan postoperatif.

Background. Studies on acetabular fracture with quadrilateral plate involvement are lacking. This study aims to determine the postoperative functional, radiological, and quality of life outcomes of acetabular fracture patients with and without quadrilateral plate involvement so it can becomes data of management of acetabular fractures.
Method. This retrospective cohort study was conducted at Cipto Mangunkusumo acquiring medical records of acetabular fracture patients from 2010-2020, with or without quadrilateral plate involvemen. This study analyzed functional outcomes (Harris Hip Score, Merle D'Aubigne, and Oxford Hip Score), radiological outcomes and quality of life of both study groups.
Results. There were 53 subjects; 28 (52.8%) had fractures of the acetabulum with involvement of the quadrilateral plate while 23 (47.2%) without involvement of the quadrilateral plate. There were significant differences in functional, radiological, and quality of life outcomes between the acetabular fracture groups with and without quadrilateral plate involvement at 1 month, 6 months, and 12 months based on Harris Hip Score, Merle D'Aubigne, Oxford Hip Score, Matta Outcome Grading, and SF-36. 
Conclusion. There were significant differences in functional, radiological, and quality of life outcomes between the acetabulum fracture groups with and without quadrilateral plate involvement at 1 month, 6 months, and 12 months postoperatively. 
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rian Septian
"Pendahuluan : Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS) adalah jenis skoliosis yang paling umum terjadi pada populasi pediatrik, mencakup 80% dari total kasus, dan seringkali mengakibatkan morbiditas serta hendaya kepada penderitanya. Parameter evaluasi Health Related Quality of Life (HRQL) menjadi penting karena AIS mempengaruhi kondisi klinis, sosial, dan psikologis penderitanya. Salah satu kuesioner evaluasi HRQL yang populer adalah Short Form-36 (SF-36), yang bersifat general dan telah diadaptasikan ke bahasa Indonesia. Namun, kuesioner ini tidak spesifik untuk skoliosis. Scoliosis Research Society (SRS) telah mengembangkan kuesioner HRQL spesifik untuk skoliosis, yaitu SRS-22r, yang terdiri dari 5 domain penilaian. Kuesioner ini telah diadaptasi ke berbagai bahasa, tetapi belum ada versi berbahasa Indonesia yang terdaftar di SRS. Oleh karena itu, peneliti berupaya melakukan adaptasi lintas budaya kuesioner SRS-22r agar dapat diaplikasikan pada praktik klinis di Indonesia.
Metode : Penelitian ini merupakan studi potong lintang untuk adaptasi lintas budaya, uji validitas dan reliabilitas kuesioner SRS-22r berbahasa Indonesia (SRS-22r INA) pada pasien dengan Adolescence Idiopathic Scoliosis. Penelitian ini menggunakan metode consecutive sampling hingga terpenuhinya kuota sampel, berdasarkan perhitungan besar sampel untuk adaptasi kuesioner menggunakan sampel minimal untuk uji pra final, uji validitas dan uji reliabilitas.
Hasil : Terdapat 50 responden perempuan (75.8%) dan 16 responden laki-laki (24.2%). Kurva utama yang paling umum adalah thorasic (75.8%), sedangkan yang paling jarang ditemukan adalah thoracolumbar (3.0%). Sebanyak 69.7% responden dikategorikan sebagai skoliosis dengan sudut berat (Cobb angle >450). Nilai rerata kurva utama adalah 57.33, dengan nilai minimum 10.7 dan maksimum 100.2. Standar deviasi yang relatif tinggi (22.73) menunjukkan besarnya variabilitas data. Kelima domain kuesioner SRS- 22r INA tidak terkena floor effect dan ceiling effect lebih dari 15%. Uji validitas konstruksi menunjukkan bahwa domain SRS-22r INA memiliki korelasi yang tinggi dengan domain SF-36 INA. Hasil Chronbach’s alpha menunjukkan bahwa butir pertanyaan pada domain SRS-22r INA sangat reliabel.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil adaptasi lintas budaya, uji validitas dan uji reliabilitas kuesioner, SRS-22r INA merupakan kuesioner yang valid dan reliabel. Kuesioner ini dapat digunakan sebagai parameter HRQL untuk evaluasi penderita AIS di Indonesia.

Introduction : Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS) is the predominant form of scoliosis observed in the pediatric patient, constituting approximately 80% of all reported cases, this condition frequently leads to adverse health outcomes and functional impairments among affected patient. The assessment of Health Related Quality of Life (HRQL) is paramount due to the impact of AIS on the clinical, social, and psychological aspects of affected patient. The Short Form-36 (SF-36) is a widely used questionnaire for evaluating HRQL. It is a comprehensive tool that has been developed for use in various populations, including the Indonesian population. Nevertheless, this questionnaire lacks specificity in relation to scoliosis. The Scoliosis Research Society (SRS) has devised a dedicated HRQL survey for scoliosis, known as the SRS-22r. This questionnaire encompasses five distinct domains for evaluation. The present questionnaire has been modified and translated into other languages; nevertheless, it is worth noting that an Indonesian version is not yet included in the SRS. This study aims to conduct a cross-cultural adaptation of the SRS- 22r questionnaire to facilitate its implementation in therapeutic settings within Indonesia. Method : This study aims to achieve cultural adaptation, validity and reliability evaluation of the SRS-22r INA questionnaire in patients with Adolescence Idiopathic Scoliosis through a cross-sectional design. The present study employs the consecutive sampling technique to achieve the desired sample size, as determined by sample size calculations. The questionnaire is adapted through a preliminary testing phase followed by validity and reliability test. In addition, inclusion and exclusion criteria are established to choose participants for the study.
Result : There were 50 female respondents (75.8%) and 16 male respondents (24.2%). The most common main curve was thoracic (75.8%), while the least common was thoracolumbar (3.0%). A total of 69.7% of respondents were categorized as scoliosis with a severe angle. The average value of the main curve was 57.33, with a minimum value of 10.70 and a maximum value of 100.20. A relatively high standard deviation (22.73) indicates the amount of data variability. The five domains of the SRS-22r INA questionnaire were not affected by the floor effect and ceiling effect of more than 15%. The construct validity test showed that the SRS-22r INA domain had high correlation with the SF-36 INA domain. Chronbach’s alpha results showed that the question items in the SRS-22r INA domain were highly reliable.
Conclusion : Based cross cultural adaptation, validity testing and reliability testing, SRS- 22r INA questionnaire is valid and reliable. This questionnaire can be used as an HRQL parameter for AIS patient in Indonesia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yogi Ismail Gani
"Pendahuluan: Delayed union merupakan permasalahan yang dapat terjadi pasca penyembuhan fraktur yang secara signifikan mengganggu kualitas hidup pasien. Telah banyak penelitian yang dilakukan berdasarkan pendekatan konsep diamond untuk memecahkan masalah delayed union. Granulocyte-colony stimulating factor (G-CSF) merupakan salah satu dari berbagai zat yang diketahui mempunyai peranan positif dalam penyembuhan jaringan skeletal atau regenerasi ajuvan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat efek pemberian G-CSF dalam mempengaruhi penyembuhan fraktur delayed union.
Material dan Metode: Penelitian eksperimental dilakukan dengan randomized post test only control group design pada 24 hewan coba tikus putih Sprague-Dawley yang telah mengalami model delayed union. Penelitian membandingkan antara kelompok perlakuan yg diinjeksi subkutan G-CSF dengan kelompok kontrol dan dibagi menjadi empat kelompok (n=6). Harvest dan follow up histomorfometri dan imunohistokimia dilakukan pada dua kelompok di minggu kedua (KM2 dan PM2) dan dua kelompok lagi pada minggu keempat (KM4 dan PM4). Analisis histomorfometri terdiri dari presentase area tulang imatur, tulang rawan dan area fibrosa dengan pulasan Hematoxylin-Eosin (HE). Sedangkan evaluasi semikuantitatif imunohistokimia dengan ekspresi BMP-2 melalui skor imunoreaktif (IRS).
Hasil: Pada evaluasi parameter histomorfometri dan imunohistokimia didapatkan area fibrosis secara signifikan lebih sedikit (p<0,001) dan ekspresi BMP 2 lebih tinggi (p=0,008) pada kelompok perlakuan minggu kedua dibandingkan kontrol. Serta presentase area woven bone secara bermakna lebih besar (p=0,015), area fibrosis lebih sedikit (p=0,002) dan ekspresi BMP 2 lebih tinggi (p=0,004) pada perlakuan minggu keempat dibandingkan dengan kontrol.
Kesimpulan: G-CSF terbukti meningkatkan kecepatan penyembuhan pada tikus putih Sprague-Dawley pada model delayed union dievaluasi dari aspek histomorfometri dan imunohistokimia.

Introduction: Delayed union is a problem that can occur after fracture healing, which significantly impairs the patient's quality of life. Many studies were conducted based on the diamond concept approach to solve the problem of delayed union. Granulocyte-colony stimulating factor (G-CSF) is one of the various substances known to have a positive role in healing skeletal tissue or adjuvant regeneration. This study was conducted to see the effect of G-CSF in affecting delayed union fracture healing.
Methods: The experimental study was conducted by randomized posttest only control group design on 24 experimental animals Sprague-Dawley white rats that had experienced delayed union models. The study compared the treatment group injected with subcutaneous G-CSF with a control group and was divided into four groups (n=6). Harvest and follow-up histomorphometry and immunohistochemistry were performed in two groups in the second week (KM2 and PM2) and two more groups in the fourth week (KM4 and PM4). The histomorphometric analysis consisted of the percentage of immature bone area, cartilage, and fibrous area with Hematoxylin-Eosin (HE) streaks. Meanwhile, the semiquantitative evaluation of immunohistochemistry with the expression of BMP-2 through the immunoreactive score (IRS).
Results: In the evaluation of histomorphometric and immunohistochemical parameters, there were significantly differences less fibrosis area (p = 0,001) and higher BMP 2 expression (p = 0,008) in treatment week two compared to control. In addition, there were also significantly more woven bone area (p = 0,015), less fibrosis area (p = 0,002) and higher BMP 2 expression (p = 0,004) in treatment group week four compared to control.
Conclussion: G-CSF was shown to increase the speed of healing in Sprague- Dawley rats on delayed union models evaluated from histomorphometric and immunohistochemical aspects.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>