Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Adly Nanda Al Fattah
"Latar Belakang: Defisiensi vitamin D berhubungan dengan berbagai luaran kehamilan yang tidak baik seperti pre-eklamsia, diabetes melitus gestasional, bayi berat lahir rendah, dan kelahiran preterm. Vitamin D diduga berperan dalam patofisiologi terjadinya kelahiran preterm melalui mekanisme penekanan mediator inflamasi. 

Tujuan: Penelitian ini bertujuan membandingkan kadar 25 (OH) D serum ibu dan tali pusat pada kelahiran preterm dan cukup bulan. Selain itu juga dicarikorelasi antara kadar 25 (OH) D serum ibu dengan tali pusat.

Metode: Pada penelitian ini digunakan desain potong-lintang. Penelitian dilakukan di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RS Budi Kemuliaan Jakarta, mulai dari Januari 2017 sampai dengan Februari 2018. Kadar 25 (OH) D ibu dan tali pusat dibandingkan antara kelompok cukup bulan dan preterm.
Hasil: Didapatkan 81 subjek yang dapat dilakukan analisis, yaitu 36 subjek (44,4%) melahirkan cukup bulan dan 45 (55,6%) preterm. Median 25 (OH) D maternal pada kelompok preterm dan cukup bulan berturut-turut 15 ng/mL dan 13,95ng/mL, sedangkan tali pusat 13 ng/ml dan 11,85 ng/ml.Tidak terdapat perbedaan kadar 25 (OH) D serum maternal (p=0,96) dan tali pusat (p=0,80) antara kedua kelompok. Terdapat korelasi positif antara kadar 25(OH) ibu dengan tali pusat (r=0,59, p<0,001 untuk kelompok cukup bulan dan r=0,44, p<0,002 untuk kelompok preterm).
Kesimpulan: Kadar 25 (OH) D serum ibu dan tali pusat tidak berbeda bermakna antara kelompok kelahiran preterm dancukup bulan. Terdapat korelasi antara kadar 25 (OH) D ibu dengan tali pusat.

Background: Vitamin D deficiency is associated with poor outcomes of pregnancy such as pre-eclampsia, gestational diabetes mellitus, low birth weight infants, and preterm birth. Vitamin D is thought to play a role in the pathophysiology of preterm deliveries through the mechanism of inflammatory mediator suppression.
Objective: To compare maternal and umbilical serum 25 (OH) D levels between preterm and aterm deliveries group. In addition, the correlation between maternal and umbilical cord serum of 25 (OH) D were analyzed.
Method: This cross-sectional study was conducted at Cipto Mangunkusumo Hospital and Budi Kemuliaan Hospital Jakarta from January 2017 to February 2018. Pre-delivery maternal venous blood and umbilical cord vitamin D serum levels were measured for both of term and preterm deliveries group.
Result: Eighty one subjects were eligible for analysis, 36 subjects (44.4%) delivered term babies and 45 (55.6%) delivered preterm babies. Median level of maternal serum 25 (OH) D were resepectively 15 ng/mL and 13.95 ng/mL for preterm and term group. Umbilical cord serum 25 (OH) D levels were respectively 13 ng/ml and 11.85 ng/ml for preterm and term group. There was no statistically difference between pereterm and term group of both maternal and umbilical serum 25 (OH) D levels (respectively p = 0.96, p = 0.80). There was a positive correlation between the maternal and umbilical 25 (OH) D levels in both groups (r = 0.59, p <0.001 for term group and r = 0.44, p <0.002 for preterm group).
Conclusions: Maternal and umbilical serum 25 (OH) D levels were not significantly different between term and preterm groups. There was a correlation between maternal and umbilical serum levels of 25 (OH) D."
Depok: Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ria Margiana
"Latar belakang: Cedera saraf perifer merupakan komplikasi trauma ekstremitas pada 3-10 pasien yang menyebabkan kelainan fungsi normal saraf. Terapi sel punca mesenkimal MSC telah banyak dikembangkan untuk regenerasi sel dan jaringan. Conditioned medium CM yang berasal dari tali pusat MSC-TP manusia dalam regenerasi saraf perifer belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perbaikan fungsi dan struktur saraf perifer.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan 36 ekor tikus putih Rattus norvegicus berumur 2-3 bulan dengan berat badan berkisar 250-300 g. Penelitian dilakukan di laboratorium RSCM-FKUI dan Pusat Penelitian dan Pengembangan selama 3 tahun. Hewan coba dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol atau sham SH , terapi standar ST , dan perlakuan conditioned medium MSC-TP CM . Penelitian dibagi menjadi dua jangka waktu, yaitu jangka pendek 7 hari pasca operasi HPO dan jangka panjang 70 HPO . Pemeriksaan yang dilakukan adalah analisis berjalan, elektrofisiologi dan imunohistokimia.
Hasil: Hasil pemeriksaan fungsi motorik SFI, TFI, PFI, Q1-Q4 dan TOA , kelompok CM menunjukkan kesembuhan yang lebih cepat dibanding kelompok ST. Hasil gambaran elektrofisiologi, kelompok CM memiliki kecepatan konduksi saraf NCV lebih baik dibandingkan kelompok ST. Berdasarkan gambaran histologis, pewarnaan HE menunjukkan jumlah sel saraf yang lebih banyak pada kelompok CM dibanding kelompok ST pada hari ke-7 HPO dan 70 HPO. Pewarnaan TB menunjukkan diameter selubung mielin yang lebih tebal pada kelompok CM dibandingkan kelompok ST pada hari ke-7 HPO dan 70 HPO. Marker CD34 menunjukkan jumlah pembuluh darah memiliki hasil pada kelompok CM yang mendekati kelompok SH pada hari ke-7 HPO dan 70 HPO. Marker S100 menunjukkan persentase yang lebih banyak pada kelompok CM dibanding kelompok ST pada hari ke-7 HPO dan 70 HPO.
Kesimpulan: CM MSC-TP mampu memberikan pengaruh terhadap perbaikan struktur dan fungsi saraf perifer pascacedera saraf pada kelompok CM hari ke-7 HPO.

Background Peripheral nerve injury is a complication of extremities trauma in 3 10 of patients causing the dysfunction of nerve. Mesenchymal stem cell conditioned medium MSC CM is used as therapy to regenerate cells and tissues. However, the ability of human umbilical cord derived mesenchymal stem cell conditioned medium HU MSC CM in regenerating peripheral nerves has not been known. This research aimed to compare the functional and structural repairs of peripheral nerve.
Method This study is an experimental research using 36 rats of Sprague Dawley Rattus norvegicus strain aged 2 3 months with body weight ranging from 250 to 300 grams. The research was conducted in various laboratories at RSCM FKUI and the Center for Health Research and Development for three years. The experimental animals were divided into 3 groups, namely the control group SH , the standard therapy treatment group ST , and the conditioned medium treatment group CM . The research was divided into two stages consisting of a short term research of 7 days of post surgery PS and a long term research 70 PS . The examinations performed were in the form of motor function for the walking analysis, electrophysiology, and immunohistochemistry.
Result Based on the examination of motor function SFI, TFI, PFI, Q1 Q4, and TOA , the CM group showed faster recovery compared to the ST group. Based on the electrophysiological images, the CM group was able to have a better nerve conduction velocity NCV compared to the ST group. Based on the histological images, HE staining showed a higher amount of all nerve cells in the CM group compared to the amount in the ST group on the 7th day of PS and 70th day of PS. TB staining showed a thicker myelin sheath diameter in the CM group than that in the ST group on the 7th day of PS and 70th day of PS. CD34 marker showed that the number of blood vessels of the CM group was close to that of the SH group on the 7th day of PS and 70th day of PS. S100 marker had a higher percentage in the CM group compared to the ST group on the 7th day of PS and 70th day of PS.
Conclusion HU MSC CM is able to affect the functional and structural repairs of the peripheral nerve after nerve injury in the CM group on the 7th day of PS.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eko Ngadiono
"Pendahuluan: Ekspresi berlebih suatu molekul bernama survivin dapat mencegah terjadinya apoptosis dengan menghambat caspase 9 dan mempertahankan keganasan pada sel glioblastoma. Penggunaan secretome sel punca tali pusat dapat mencegah perkembangan glioblastoma meskipun penggunaanya masih kontroversial. Untuk menguji efektifitas apoptosis secretome sel punca tali pusat pada glioblastoma, dapat dilakukan pengukuran survivin dan caspase 9 yang merupakan komponen penting pada jalur apoptosis intrinsik. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sekretom sel punca tali pusat terhadap ekspresi survivin dan caspase9 sebagai molekul yang mempengaruhi pertumbuhan glioblastoma
Metode: Desain eksperimental in vitro dengan menggunakan galur sel glioblastoma T98G. Conditioned medium (CM) yang mengandung secretome sel punca tali pusat diperoleh dari medium sel punca  tali pusat yang dikultur selama 24 jam dengan  Î±MEM yang tidak mengandung serum. CM diencerkan 2 kali  dengan  medium tinggi glukosa Dulbecco's Modified Eagle Medium (DMEM) (50% konsentrasi). Perlakuan Sel glioblastoma T98G yang diberikan CM 50% dilakukan selama 24 jam, kemudian dilakukan ekstraksi RNA total dari sel T98G tersebut. RNA total digunakan untuk analisis ekspresi gen dengan menggunakan real-time quantitative reverse transcription polymerase chain reaction (qRT-PCR). Metode Livak dilakukan untuk menghitung ekspresi relatif  caspase 9 dan survivin dengan 18srRNA sebagai gen referensi.

Hasil: Ekspresi mRNA survivin meningkat 3.5 kali (p=0.002) dan ekspresi mRNA caspase 9 meningkat 1.6 kali (p=0.017) pada sel T98G yang diberikan CM50% dibandingkan sampel kontrol.
Kesimpulan : CM  sel punca pada tali pusat meningkatkan ekspresi survivin dan caspase 9 pada sel glioblastoma T98G. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk mengetahui pengaruh peningkatan ekspresi gen tersebut terhadap proliferasi sel glioblastoma serta mekanisme molekulernya.

Introduction: Aberrant expression of a molecule called survivin has been suspected to prevent apoptosis by indirectly inhibits a critical apoptosis enzyme called caspase 9, maintaining tumorigenicity of glioblastoma. Umbilical cord mesenchymal stem cells (UCMSC) has been discovered to inhibit glioblastoma growth but its usage is still controversial. To measure the apoptosis effectiveness of UCMSC-CM secretome against glioblastoma, measuring survivin and caspase 9, as essential components in intrinsic apoptosis pathway, are required. Therefore, this research aims to analyze the effect of UCMSC-CM against survivin and caspase 9 expression as the molecules that affect the growth of glioblastoma.
Method: In vitro experimental design by using glioblastoma cell line T98G. Conditioned medium (CM) which contain umbilical cord mesenchymal stem cell (UCMSC) secretome was obtained from UCMSC-CM that was cultured for 24 hours with αMEM that does not contain serum. CM was diluted twice with high glucose Dulbecco’s Modified Eagle Medium (DMEM) (50% concentration). The treatment of T98G glioblastoma cell, that had been exposed to 50% CM, was performed for 24 hours, then total RNA extraction was carried out from the T98G cells. Total RNA was used to analyze genetic expression by using real-time quantitative reverse transcription polymerase chain reaction (qRT-PCR). Livak’s method was used to calculate relative expression of Survivin and Caspase 9 expression with 18srRNA as reference gene.
Results: Survivin mRNA expression increased 3.5-fold (p=0.002) while caspase 9 mRNA expression increased 1.6-fold (p=0.017) in T98G cell that was given CM50% compared with control sample.
Conclusion: UCMSC-CM increases survivin and caspase 9 expression in glioblastoma T98G cells. Future researches are required to identify the effect of the elevated genetic expressions against glioblastoma cell proliferation as well as their molecular mechanisms.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Praja Wira Yudha Luthfi
"ABSTRAK
Pendahuluan: Defek tulang rawan memiliki kemampuan penyembuhan yang terbatas. Beberapa studi dengan hasil jangka panjang dalam upaya tatalaksana lesi ini terbukti belum memuaskan. Sel punca mesenkimal (SPM) banyak mendapatkan perhatian kemampuan dalam proses regenerasi sel. Namun, dibutuhkan investasi yang besar, sulitnya penanganan dan manufaktur sel, dan tindakan invasif untuk mendapatkannya. Sekretom yang diperoleh dari SPM dapat menjadi alternatif yang baik, karena sekretom memiliki komplikasi lebih sedikit, penanganan, manufaktur, dan transportasi sel yang lebih mudah. Saat ini, tidak ada penelitian terpublikasi mengenai penggunaan sekretom SPM asal jaringan tali pusat pada model domba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek sekretom yang didapatkan dari SPM jaringan tali pusat pada model domba dengan defek tulang rawan.
Metode: Defek tulang rawan dilakukan dengan tindakan operatif dengan membuat defek sebesar 5x5mm2 pada lutut kanan. Domba-domba (n=15) dibagi menjadi tiga kelompok; setiap kelompok terdiri dari lima domba. Kelompok pertama mendapatkan tindakan injeksi sekretom SPM tali pusat, dan kelompok ketiga mendapatkan tindakan kombinasi antara mikrofraktur dan injeksi sekretom SPM tali pusat. Enam bulan setelah tindakan, seluruh domba dikorbankan. Lutut dari ketiga kelompok dibandingkan secara makroskopik dengan sistem skor Goebel dan mikroskopik menggunakan sistem skor Pineda.
Hasil: Pada hasil makroskopis, kelompok yang mendapatkan terapi kombinasi antara mikrofraktur dan injeksi sekretom SPM tali pusat lebih rendah secara signifikan bila dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan tindakan mikrofraktur saja (p=0,006). Tidak ada perbaikan bermakna pada kelompok yang mendapatkan sekretom saja terhadap kedua kelompok lainnya. Dan pada hasil mikroskopis, tidak ada perbaikan bermakna pada ketiga kelompok perlakuan. Kesimpulan: Penggunaan terapi kombinasi antara mikrofraktur dan injeksi intraartikular sekretom SPM tali pusat memberikan potensi yang dapat menjadi alternatif terapi pada defek tulang rawan sendi lutut. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan sel punca mesenkimal dengan sekretom, dengan mengikutsertakan penilaian fungsional.

ABSTRACT
Introduction: Cartilages with defect have limited healing capacity. Previous long-term studies to evaluate the treatment for cartilage defects have not yielded satisfactory results. Mesenchymal stem cells (MSC) have attracted attention regarding its capacity to regenerate cells. However, massive investment, difficulties in cell manufacturing and handling, and invasiveness of the procedure often gets in the way. The secretome attained from MSC may serve as an alternative as it is correlated with lower complications; handling, manufacturing, and transport are also considered easier. Until now, there are no published article regarding the use of umbilical cord derived MSC secretome in sheep model. This study is conducted to investigate the effect of secretome derived from umbilical cord MSC in sheep models with cartilage defects.
Methods: Cartilage defect is made using operative procedures. 5x5mm2 defects are created on the right knee. 15 sheeps are divided into three groups: each group contains five sheeps. The first group was administered with umbilical cord MSC secretome, and the third group with microfacturing and umbilical cord MSC injection. Six months after the procedure, all sheeps were sacrified. Knees from the three groups are compared macroscopically using the Goebel score and microscopically using the Pineda score.
Results: Macroscopically, the group treated with combination therapy achieved lower compared to the group treated with microfacturing only (p=0,006). There was no significant difference in groups treated with secretome only and the other two groups. Microscopically, there was no significant difference between all groups.
Conclusions: The administration of combination therapy of microfacturing and intraarticular injection of umbilical cord MSC secretome gives potential results and may act as an alternative therapy in knee cartilage defect. However, further study is required to compare MSC and secretome, while also incorporating the functional measures."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jaanvi Manesh Gindwani
"Penyakit hati kronik telah menyerang sebagian besar populasi dunia, dengan kurang lebih 41,473 kematian pertahun di Amerika Serikat. Sirosis, sebagai tahap akhir dari penyakit ini menyebabkan kerusakan hati melalui proses neo-angiogenesis, penyusunan kembali sistem vaskular, dan pengendapan matriks selular tambahan. Hati adalah organ regeneratif yang dapat memperbaiki kerusakan. Pada kondisi hati sudah tidak dapat mengkompensasi kerusakan, transplan hati adalah pilihan pengobatan utama walaupun dianggap mahal dan tidak mudah tersedia. Terapi sel punca mesenkim asal tali pusat dengan dosis 1 x 106 pada pasien dengan penyakit hati kronik telah dilakukan dalam beberapa kajian, walaupun tidak cukup konklusif untuk digunakan secara klinis. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian ini pada kondisi cedera hati kronis pada hewan model dengan pemberian terapi suntik sel punca mesenkim asal tali pusat dengan dosis yang berbeda yakni 1 x 106 dan 3 x 106 sel. Bahan biologi tersimpan hati tikus diproses dan diwarnai dengan Masson Trichrome untuk digunakan pada penelitain ini. Terdapat empat kelompok sampel penelitian: kelompok sehat sebagai kelompok kontrol, kelompok induksi 2AAF/CCl4 tanpa sel punca mesenkimal, kelompok 2AAF/CCl4 dengan 1 x 106 sel punca mesenkimal, dan kelompok induksi 2AAF/CCl4 dengan 3 x 106 sel punca mesenkimal. Tahap fibrosis dianalisis menggunakan kriteria NASH dan cakupan area digunakan untuk melihat perbedaan antara tahap fibrosis dalam setiap kelompok. Hasil riset menunjukkan bahwa kelompok induksi 2AAF/CCl4 tanpa sel punca mesenkimal mempunyai tahap fibrosis yang paling tinggi, diikuti dengan kelompok induksi 2AAF/CCl4 yang disuntik dengan 1 x 106 sel punca mesenkimal,kelompok induksi 2AAF/CCl4 dengan 3 x 106 sel punca mesenkimal, dan terakhir kelompok kontrol. Kedua kelompok yang diinduksi dengan 1 x 106 dan 3 x 106 sel punca mesenkimal efektif dalam menurunkan area cakupan fibrosis dalam sampel. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan penambahan jumlah sampel, lebih banyak kriteria parameter yang diamati seperti nekrosis, inflamasi, dan sel swelling, dan induksi kimia lain untuk mendukung hasil penelitian tersebut.

Chronic liver disease affects a large majority of the world’s population globally, with approximately 41,473 deaths per year in the United States. Cirrhosis, being the final stage of this disease leads to several damaging processes such as neo-angiogenesis, vascular reorganization, and the deposition of extra cellular matrix. To an extent, the liver is a regenerative organ unless damaged to a point of no return. In such cases, liver transplant is the treatment of choice although it is considered to be expensive, shortage, and unavailability. The introduction of umbilical cord derived mesenchymal cells (1 x 106 stem cells) into the treatment of chronic liver disease has been implicated in several past studies, although not conclusive enough to be applied clinically. This study however aims to highlight the effectivity when chronically injured rat liver samples are injected with a dose of 3 x 106 stem cells. Archived biological material of rat liver was processed and stained with Masson Trichrome for this research. There are four experimental groups namely: the healthy group as a control, 2AAF/CCl4 induced group without stem cells, 2AAF/CCl4 induced group with 1 x 106 stem cells, and 2AAF/CCl4 induced group with 3 x 106 stem cells. The degree of fibrosis; analyzed using NASH criteria and the affected area will be used to investigate the difference between fibrosis levels in the four experimental groups. Results showed that the 2AAF/CCl4 induced group without stem cells had the highest level of fibrosis, followed by the 2AAF/CCl4 induced group injected with 1 x 106 stem cells, 2AAF/CCl4 induced group with 3 x 106 stem cells, followed by the control group. Both the groups induced with 1 x 106 and 3 x 106 stem cells were effective in lowering fibrosis affected area in samples. Further research could be carried out with a larger sample size, more criterions including necrosis, inflammation, and cell swelling, as well as other chemical inducers to support the results of this study."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gita Geofani
"Sel Punca Mesenkim (SPM) dianggap sebagai sel yang sangat menjanjikan untuk terapi penyakit berdasar inflamasi karena potensi proliferasi multilineagenya, imunogenisitas rendah, migrasi spesifik ke jaringan yang cedera, dan efek imunomodulator potensialnya. Diperlukan data pendukung mengenai potensi imunomodulasi SPM dalam menghadapi kondisi proinflamasi sebelum digunakan dalam uji klinis. Dilakukan desain penelitian eksperimental in vitro kultur sel untuk menilai potensi imunomodulasi SPM yang berasal dari tali pusat (SPM-TP) dan asal jaringan adiposa (SPM-AD). Untuk menciptakan kondisi inflamasi, menggunakan kultur PBMC yang distimulasi dengan mitogen PHA, diikuti oleh kokultur dengan dua jenis SPM. Pengujian proliferasi dengan Ki67 dilakukan dengan qRT-PCR, pengujian sitokin proinflamasi IFN-γ, IL-1β, dan antiinflamasi IL-10 dilakukan dengan metode Luminex dan pengujian sitokin TGF-β dan IDO dilakukan mnggunakan metode ELISA. Hasil studi menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok dengan perlakuan dan tanpa perlakuan, tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan diantara dua kelompok perlakuan (SPM- TP dan SPM-AD). Namun, berdasarkan kemampuan untuk menekan proliferasi PBMC terlihat bahwa SPM-TP menunjukkan kemampuan yang lebih baik dibandingkan SPM-AD.

The Mesenchymal Stem Cells (MSCs) are considered highly promising for inflammatory disease therapy due to their multilineage proliferation potential, low immunogenicity, specific migration to injured tissues, and potential immunomodulatory effects. Supporting data on the immunomodulatory potential of MSCs in facing proinflammatory conditions are required before their use in clinical trials. An experimental in vitro cell culture research design was conducted to assess the immunomodulatory potential of MSCs derived from umbilical cord (UC-MSCs) and adipose tissue (AD-MSCs). To induce inflammatory conditions, peripheral blood mononuclear cells (PBMCs) were stimulated with PHA mitogen, followed by co-culture with the two types of MSCs. Proliferation testing using Ki67 was performed with qRT-PCR, proinflammatory cytokine testing (IFN-γ, IL-1β) and anti-inflammatory cytokine (IL-10) were conducted using the Luminex method, and TGF-β and IDO cytokine testing were performed using the ELISA method. The study results indicated significant differences between the treated and untreated groups, although no significant differences were observed between the two treatment groups (UC-MSCs and AD-MSCs). However, based on the ability to suppress PBMC proliferation, it was evident that UC-MSCs exhibited superior capabilities compared to AD-MSCs."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Sumaryani
"Insiden kematian neonatal yang masih tinggi dan mencapai 20/1000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2002). Penyebab utama kematian bayi di Indonesia adalah penyakit infeksi, sedangkan penyebab utama kematian neonatal kelompok umur 8-28 hari adalah infeksi yang disebabkan oleh tetanus neonatorum, diare, pneumoni dan infeksi tali pusat yang mencapai 57,1% (Djaja, 2003).
Penelitian ini merupakan penelitian dengan disain deskriptif `comparative study' yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan waktu pelepasan tali pusat dan kejadian omphalitis pada perawatan tali pusat dengan ASI, alkohol 70%, dan perawatan keying terbuka. Populasi penelitian adalah bayi sehat yang lahir secara spontan di RB Sakina Idaman, RS PKU Muhammadiyah Kota Gede, dan RB Queen Latifa. Sampel daiam penelitian ini adalah 93 bayi baru lahir. PcngambiIan sampel dilakukan dengan quota sampling. Untuk menguji perbedaan rerata waktu pelepasan tali pusat digunakan uji Anova, dan untuk melihat perbedaan jumlah kasus omphalitis digunakan uji Fisher exact.
Hasil penelitian menunjukkan rerata waktu pelepasan tali pusat yang dirawat dengan ASI 5.32, alkohol 70% 6,87 hari, sedangkan kering terbuka 6,65. Waktu pelepasan tali pusat yang dirawat dengan alkohol 70% tidak ada perbedaan yang bermakna bila dibandingkan dengan kering terbuka (p=1,000) dan tidak ada perbedaan yang berrnakna kejadian infeksi lokal tali pusat atau omphalitis antara perawatan tali pusat dengan ASI, alkohol 70% maupun kering terbuka (p=1,000). Kesimpulan penelitian ini adalah waktu pelepasan tali pusat yang dirawat dengan ASI secara signifikan lebih cepat bila dibandingkan tali pusat yang dirawat dengan alkohol 70% maupun kering terbuka (p=4,001). Hasil penelitian ini hendaknya dapat dijadikan masukan untuk mengambil kebijakan dan memilih metode terbaik perawatan tali pusat yang aman, efektif dan efisien.

Incident of neonatal mortality in Indonesia is still high around 20/1000 life birth (Depkes, 2002). Infection disease leads to be the major cause of infants mortality in Indonesia, while infection due to tetanus neonatorum, diarrhea, pneumonia, and umbilical cord infection leads to be the major of neonatal mortality at the age between 8-28 days, which reaches about 57,1% (Djaja, 2003).
This study used `comparative study' descriptive design to identify the different time of umbilical cord separation, between umbilical cord care by using breast milk, alcohol 70%, and dry.care. Population of this study are healthy infants who were delivered spontaniously at Sakina Idaman hospital, PKU Muhammadiyah Kota Gede hospital, Queen Latifa hospital Yogyakarta. A total sample of 93 newborn were taken by quota sampling. The average time of umbilical cord separation was analyzed by Anova test, whereas, the different amount of omphalitis was analyzed by Fisher exact test.
The result of the study shown that the average time of umbilical core separation with breast milk care 5,32 days, alcohol 70% 6,87 days, and dry care is 6,65 days. There is significant different in time of umbilical cord separation between breast milk care and with alcohol 70% care (p=0,001), but there is no significant different in time of umbilical cord separation between alcohol 70% care and dry care (p=1,000). This study result is suggested to be one resource to decide the best umbilical care that very safe, effective and efficien. In another hand there is no significant different of the omphalitis incidens between three group (p=1,000). Conclusion of this study shown that the time of umbilical cord separation with breast milk is more faster than alcohol 70% and dry care.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2006
T17767
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anjani Larasati
"ABSTRAK
Latar Belakang: Sejak para ilmuwan telah sukses dalam mengekstraksi sel punca dari embrio manusia pada tahun 1998, riset mengenai sel punca menjadi sangat popular hingga sekarang. Kini, sel punca dapat dibedakan menjadi dua: Embryonic Stem Cells (ESC) dan Somatic Stem Cells dua tipe sel punca ini berbeda dalam kepuncaan mereka. Embryonic Stem Cell (ESC) adalah sel punca yang pluripoten, hal ini membuat ESC menjadi kandidat yang ideal untuk terapi regeneratif menggunakan sel punca. Akan tetapi, ESC jarang digunakan karena konsiderasi etis. Maka dari itu, kemungkinan menggunakan sel punca lainnya, termasuk Adipose Derived Stem Cells (ADSC) dan Umbilical Cord Derived Stem Cells (USC) sedang dipelajari. Sebab informasi mengenai pluripotency dari kedua sel punca ini masih terbatas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat pluripotency dari ADSC dan USC, melalui ekspresi gen Sox2, salah satu faktor transkripsi yang penting dalam menjaga pluripotency suatu sel.
Metode: RNA diekstraksi dari ADSC dan USC. One-Step Real-Time RT-PCR dilakukan untuk mendapatkan ekspresi relatif gen Sox2 yang menggambarkan tingkat pluripotency sel induk tersebut. Kemudian, electrophoresis dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil amplifikasi gen dari One-Step Real-Time RT-PCR.
Hasil: Ekspresi relatif gen Sox2 ditemukan 1.10 kali lebih tinggi pada USC dibandingkan ADSC, suatu perbedaan yang tidak cukup signifikan.
Konklusi: USC dan ADSC memiliki tingkat ekspresi gen Sox2 relatif yang serupa. Tidak ada perbedaan yang signifikan yang ditemukan diantara keduanya, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua sel ini memiliki tingkat pluripotency yang mirip, membuat keduanya sumber sel punca yang sesuai."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Mediana
"Pasase pada kultur menyebabkan penuaan sel. Sel punca yang mengalami penuaan menunjukkan penurunan kemampuan proliferasi, penurunan viabilitas, perubahan morfologi dan ukuran sel. Sel ini akan mengekspresikan senescenceassociated beta galactosidase (SA-β-Gal), yang merupakan biomarker penuaan sel. Peningkatan aktivitas SA-β-Gal sel punca mesenkimal asal tali pusat (SPMTP) dapat diamati mulai pada pasase yang lebih lanjut dibandingkan dengan asal sumsum tulang dan jaringan lemak.
Pada penelitian ini ingin diketahui pada pasase berapa sel punca asal tali pusat manusia yang diisolasi dengan cara eksplan multi panen mulai mengalami penuaan dan bagaimana efek pasase terhadap karakteristik penuaan khususnya morfologi dan ukuran sel. Penelitian diawali dengan isolasi dan propagasi sel punca dari satu buah tali pusat yang memenuhi kriteria dengan metode eksplan multi panen dan medium kultur α-MEM-PRP. Sel punca kemudian disubkultur mulai dari pasase 1 hingga 17.
Hasil penelitian menunjukkan SPM-TP mulai mengalami penuaan pada pasase 10, dan terdapat perbedaan morfologi dan luas sel secara bermakna pada kelompok sel dengan SA- β-Gal negatif dan SA-β-Gal positif (p= 0,000). Namun, sampai dengan pasase 17 masih menunjukkan viabilitas dan proliferasi yang baik. Sebagai kesimpulan, kriteria sel punca yang menua ditandai oleh luas sel membesar lebih dari 2601,98 μm2 dan bentuk sel melebar.

Passages in culture cause cellular senescence. Stem cell senescence shows a decrease in proliferation ability, viability, morphological and cell size changes. These cells will express senescence-associated beta-galactosidase (SA-β-Gal), which is a biomarker of cell senescence. Increased activity of SA-β-Gal can be observed in umbilical cord mesenchymal stem cells (UC-MSCs) in the higher passages compared to MSCs from bone marrow and adipose tissue.
In this study we wanted to know at which passage human UC-MSCs that were isolated by multiple harvest explant method began to undergo senescence, and how the passage affected morphology and cell size. This study began with the isolation and propagation of stem cells from one human umbilical cord that met the inclusion criteria using multiple harvest explant method in α-MEM-PRP medium. Stem cells were then subcultured in passage 1 ? 17.
The results showed that UCMSCs began to undergo senescence in passage 10, and there was a significant difference in the cell size between the group of SA-β-Gal negative and positive (p= 0.000). However, up to passage 17 the MSCs still showed good viability and proliferation rate.
In conclusion, the criteria for stem cell senescence is characterized by enlarged cell size more than 2601,98 μm2 with wide shape."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T58930
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nasution, Yesy Marianna, author
"Latar Belakang: Aktivasi mediator inflamasi diketahui menyebabkan kelahiran preterm. Sitokin dan penanda inflamasi yang terbentuk berhubungan dengan imun tubuh. Vitamin D diketahui berperan pada modulasi respon sistem imunitas tubuh. Penelitian ini ingin mengetahui hubungan antara kadar vitamin D serum ibu dan tali pusat, dengan IL-6 tali pusat dan C Reactive Protein (CRP) darah bayi prematur.
Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain potong lintang pada subjek ibu hamil 28-34 minggu yang mengalami kelahiran prematur didahului KPD dan bayi yang dilahirkannya, di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta pada bulan Januari 2017 sampai Agustus 2018. Subjek diambil secara consecutive sampling. Variabel data adalah kadar serum vitamin D ibu dan tali pusat, kadar serum IL-6 tali pusat dan kadar CRP darah bayi. Dilakukan kategorisasi dikotomi dan polikotomi (tiga) kadar vitamin D dan dicari hubungannya dengan kadar IL-6 tali pusat dan CRP darah bayi, menggunakan uji Mann-Whitney dan Kruskal Wallis.
Hasil: Sebanyak 70 subjek telah memenuhi kriteria penelitian. Pada kategori dikotomi vitamin D ibu, kadar IL-6 tali pusat dan CRP bayi dari kelompok kadar vitamin D kurang, sedikit lebih tinggi (3,89 pg/ml dan 0,45 mg/dl) dibandingkan kelompok kadar vitamin D normal (3,29 pg/ml dan 0,30 mg/dl), tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna (IL-6 p=0,771 dan CRP p = 0,665). Pada kategori polikotomi vitamin D ibu, kadar IL-6 tali pusat dan CRP bayi dari kelompok ibu vitamin D defisiensi, lebih tinggi (20,31 pg/ml dan 0,50 mg/dl) dibandingkan kelompok ibu vitamin D insufisiensi (3,34 pg/mL dan 0,45 mg/dl) dan kelompok ibu vitamin D normal (3,29 pg/mL dan 0,30 mg/dl), tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna (IL-6 p=0,665 dan CRP p = 0,899). Pada kategori dikotomi maupun polikotomi vitamin D tali pusat, didapatkan perbedaan tidak bermakna yang terbalik dari kadar IL-6 tali pusat dan CRP bayi.
Simpulan: Tidak didapatkan hubungan antara kadar serum vitamin D ibu dan tali pusat dengan kadar serum IL-6 tali pusat dan CRP darah bayi prematur.

Background: Activation of inflammatory mediators is known to cause preterm birth. Cytokines and inflammatory markers formed are associated with the body's immune system. Vitamin D is known to play a role in modulating the body's immune system response. This study aimed to find out the relationship between the levels of serum of maternal and umbilical cord vitamin D, with umbilical cord IL-6 and C Reactive Protein (CRP) in premature infants.
Method: This research was an analytic study with a cross-sectional design on the subject of 28-34 weeks pregnant women who experience preterm birth preceded by premature rupture of membranes and their babies, at dr. Cipto Mangunkusumo and Persahabatan General Hospital, Jakarta, from January 2017 to August 2018. Data variables were the levels of serum of maternal and umbilical cord vitamin D, umbilical cord IL-6 and CRP in premature infants. Vitamin D levels were divided into dichotomy and polycotomy categories, and found out their relationship to the levels of IL-6 and CRP using the Mann Whitney and Kruskal Wallis tests.
Result: A total of 70 subjects met the research criteria. In the maternal vitamin D dichotomy category, the umbilical cord IL-6 and infants CRP levels from the group with low level were less slightly higher (3.89 pg/ml and 0.45 mg/dl) compared to the group with normal level (3.29 pg/ml and 0.30 mg/dl), but the difference was not significant (IL-6 p = 0.771 and CRP p = 0.665). In the maternal vitamin D polycotomy category, umbilical cord IL-6 and infants CRP levels from the deficiency group were higher (20.31 pg/ml and 0.50 mg/dl) compared to the insufficiency group (3.34 pg/mL and 0.45 mg/dl) and the normal group (3.29 pg/mL and 0.30 mg/dl), but the difference was not significant (IL-6 p = 0.665 and CRP p = 0.899). In both dichotomy and polycotomy categories of umbilical cord vitamin D, we found a non-significant difference inversely related to umbilical cord IL-6 and infants CRP levels.
Conclusion: There was no correlation between between the levels of serum of maternal and umbilical cord vitamin D, with umbilical cord IL-6 and C Reactive Protein (CRP) in premature infants."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>