Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Albert Ahmad
"Unalloyed titanium atau biasa disebut commercially pure (CP) titanium banyak dipakai pada aplikasi yang memerlukan tingkat ketahan korosi tinggi sedangkan dengan kekuatan tinggi tidak diperlukan. Pada aplikasinya, titanium membutuhkan pengelasan dengan kualitas baik. Pengelasan titanium dengan metode GTAW konvensional, yaitu constant current GTAW (C-GTAW) menghasilkan pengkasaran butir pada fusion zone dan daerah pengaruh panas (HAZ). Hal ini menyebabkan turunnya sifat mekanis dan juga mempengaruhi perilaku korosi. Pulsed current GTAW (P-GTAW) merupakan salah satu teknologi pengelasan yang menghasilkan kekuatan mekanik yang lebih baik dari pada C-GTAW.
Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh parameter P-GTAW, yaitu pulse current, background current, dan pulse-on-time pada perilaku korosi CP titanium grade 2. Uji korosi celup dengan 3,5 M HCl dan polarisasi dengan 1 M HCl dilakukan untuk mengukur laju korosi dan melihat perilaku sample hasil pengelasan. Uji kekerasan mikro (Vickers Hardness Test) dilakukan pada sample hasil pengelasan untuk melihat pengaruh parameter P-GTAW terhadap kekerasan. Pengamatan dengan menggunakan mikroskop optik untuk melihat pengaruh panas pada strukturmikro, yaitu pada logam dasar, daerah pengaruh panas (HAZ), dan fusion zone. Morfologi permukaan dan komposisi sample pasca uji korosi celup diamati dengan scanning electron microscope (SEM) dan energy dispersive x-ray (EDX).
Nilai open circuit potential (OCP) dan potensial korosi (Ecorr) hasil PGTAW lebih rendah dari C-GTAW, namun masih berada di daerah kesetimbangan TiO2. Perilaku elektrokimia hasil pengelasan P-GTAW, C-GTAW, dan parent material, menunjukan daerah aktif, passive dan transpassive. Uji korosi celup dan uji polarisasi potensiodinamik menunjukan terjadi preferential weld corrosion pada hasil pengelasan P-GTAW dan C-GTAW. Laju korosi hasil pengelasan P-GTAW lebih rendah dari pada C-GTAW. Hasil uji kekerasan mikro menunjukan kekerasan hasil P-GTAW lebih tinggi dari hasil C-GTAW.

Unalloyed titanium or commercially pure (CP) titanium is widely used in applications that require high corrosion resistant, while the high strength is not required. In its application, titanium weld with high quality is needed. To weld titanium with the conventional method, i.e. constant current GTAW (C-GTAW), produces grain coarsening at the fusion zone and heat affected zone (HAZ). This affects the mechanical properties and corrosion behavior of weldment. Pulsed current GTAW (P-GTAW) is one technology that produces better mechanical strength than the C-GTAW.
This study examines the effect of P-GTAW parameters, namely pulse current, background current, and pulse on-time on the corrosion behavior of CP titanium grade 2. Immersion corrosion testing with 3.5 M HCl and potentiodynamic polarization method with 1 M HCl were carried out to measure the corrosion rate and to observe the corrosion behavior of the weldment. Microhardness testing was performed to see the effect of P-GTAW parameters on hardness. The surface morphology and constituent compositions of the sample after immersion corrosion test, was characterized with scanning electron microscope (SEM) and energy dispersive x-ray (EDX).
The open circuit potential (OCP) and corrosion potential (Ecorr) produced by P-GTAW were lower than the C-GTAW, but still in area of TiO2 equilibrium. The electrochemical behavior of welds produced by P-GTAW, the C-GTAW, and also parent material, shows the active, passive and transpassive. Corrosion immersion testing and potentiodynamic polarization testing showed preferential weld corrosion was occurred. Corrosion rate of sample which are produced by the P-GTAW were lower than the C-GTAW. The microhardness testing showed PGTAW welds were higher than the C-GTAW weld.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
T42836
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Fatih
"Paduan magnesium dalam aplikasi implan biomedis menjadi salah satu pilihan material implan karena sifatnya yang biokompatibel, bioaktif dan mampu luruh. Penambahan lithium pada magnesium dapat meningkatkan sifat mekanik magnesium dan mengubah struktur kristalnya dari HCP menjadi BCC dan penambahan aluminium akan meningkatkan sifat mekanik dan korosinya. Akan tetapi litium memiliki efek yang kompleks dalam tubuh manusia sebagai penyebab calcium homeostasis dan kandungan aluminium yang berlebihan pada tubuh manusia dapat menyebabkan keracunan saraf dalam tubuh manusia, sehingga penambahan lithium dan aluminium sebagai paduan magnesium dalam penelitian ini hanya dibatasi pada 14wt% lithium dan 1wt% aluminium (LA141). Perlakuan panas homogenisasi dilakukan pada suhu 350OC sebelum karakterisasi dengan Mikroskop Optik, SEM, EDS dan XRD. Untuk mengetahui sifat-sifat LA141, digunakan metode imersi dan polarisasi dalam Simulated Body Fluid (SBF) untuk sifat korosi dan uji kekerasan serta uji tarik untuk sifat mekanik. Pada pengujian mekanik LA141 memiliki kekuatan tarik sebesar 127 MPa, kuat luluh sebesar 69, Elongasi 28,26%, dan kekerasan sebesar 52,66 VHN. Pada uji sifat korosi LA141dengan pengujian polarisasi dengan larutan SBF memiliki potensial korosi -1,6442, densitas arus korosi sebesar 178 μA/cm2, dan laju korosinya 4,20 mm/Tahun. Akan tetapi pada pengujian imersi dengan larutan SBF memiliki laju korosi 49,70 mm/Tahun dan laju evolusi hidrogen 23,70 ml/cm2/Hari.

Magnesium alloy in biomedical application is a choice for implant materials because of its biocompatibility, bioactive and biodegradable. Addition of lithium in magnesium could improve mechanical properties of magnesium and change its crystal structure from HCP to BCC and addition of aluminum would improve its hardness and corrosion properties. Lithium has complex effect in human body as cause of calcium homeostasis and excess aluminum content on human body can cause nerve toxicity in human body, so addition of lithium and aluminum as alloy of magnesium in this research only limited to 14wt% lithium and 1wt% aluminum (LA141). Homogenization heat treatment in temperature 350oC had been done before characterization with Optical Microscope, Scanning Electron Microscope, Energy Dispersive Spectroscopy dan X-Ray Diffraction. To investigate the properties of LA141, we used immersion and polarization method in Simulated Body Fluid (SBF) for corrosion properties and hardness test and tensile test for mechanical properties. Mechanical testing shows that LA141 have 127 MPa tensile strength, 69 MPa yield strength, 28,26% elongation, and 52,66 VHN hardness. Polarizatiton test shows that LA141 have corrosion potensial at -1,6442 V, corrosion current density at 178 μA/cm2, and corrosion rate at 4,20 mm/Year. However, in immersion test LA141 have 49,70 mm/Year corrosion rate and 23,70 ml/cm2/Day hydrogen evolution rate."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Antonius Aditya Wisnu Indaryono
"Belum adanya standar yang mengatur jarak minimal antara lasan yang satu dengan lasan yang lain terhadap laju korosi yang dihasilkan menyebabkan perlunya suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh jarak antar lasan terhadap laju korosi pada hasil lasan. Penelitian ini, berfokus untuk melihat pengaruh jarak lasan GTAW dengan besaran 27mm, 36mm dan 45mm pada material karbon ASTM A106 Grade B, terhadap laju korosinya dengan menggunakan metode uji polarisasi. Pengamatan dengan mikroskop optik digunakan untuk mengetahui ukuran butir dan keberadaan fasa serta jenis korosi yang terbentuk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran butir yang semakin besar akan meningkatkan laju korosi, hal ini diakibatkan oleh pengaruh panas dari pengelasan kedua yang menyebabkan pertumbuhan butir ferrite halus pada butir pearlite di daerah HAZ halus hasil pengelasan pertama sehingga meningkatkan laju korosi akibat korosi mikrogalvanik. Ditemukan bahwa jarak lasan GTAW yang optimum untuk material karbon ASTM A106 Grade B adalah 45mm dengan laju korosi sebesar 0,041052 mm/tahun.

The absence of standards governing the minimum distance between one weld to another one will determine the corrosion rate. Therefore we need a study to determine the influence of the distance between the each weld towards the corrosion rate results. This study, focused to see the effect of the GTAW weld distance which are 27mm, 36mm and 45mm on the ASTM A106 Grade B carbon material, against the corrosion rate by using polarization test method. Observation with an optical microscope is used to determine the grain size and the presence of the phase as well as the type of corrosion formation.
The results showed that the coareser the grain, will increase the corrosion rate, this is caused by the influence of the heat of the second welding that cause ferrite grain to grow inside the fine pearlite grain at the first weld HAZ area which thereby increasing the rate of corrosion due to microgalvanic corrosion. It was found that the optimum distance for GTAW welding towards ASTM A106 Grade B carbon material is 45mm with the corrosion rate of 0.041052 mm / year.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
S58391
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library