Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
A. Tutut Subadyo
"ABSTRAK
Pembangunan gedung berdinding kaca refleksi di Jakarta akhir-akhir ini semakin popular. Pertimbangan yang sering diketengahkan dalam penggunaan kaca refleksi untuk dinding luar gedung tersebut adalah beban stnrkturalnya lebih ringan, waktu pelaksanaan yang cepat, biaya yang relatit lebih murah den unsur-unsur arsitektural lainnya. Hal lain yang banyak dijadikan dasar oleh pengembang adalah makna respansif yang dimunculkan oleh daya tarik dinding kaca yang menampilkan kesan mewah sehingga menjadi penarik mined konsumen.
Keadaan ini merupakan fenomena yang menarik, karena semakin banyaknya gedung berdinding kaca tersebut mengundang beberapa permasalahan yang sating dipertanyakan yaitu dampaknya terhadap lingkungan sekitar gedung.
Penggunaan kaca reFleksi pada satu sisi dapat meminimisasikan beban panas dan silau ke dalam ruangan, namun di sisi lain pantulan radiasi matahari dari dinding kaca tersebut akan mempengaruhi tingkat kesilauan dan perilaku termal di sekitar gedung.
Berdasarkan hal tersebut di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk
1. Mengetahui besaran pantulan energi radlasi matahari dart gedung berdinding kaca refleksi di Jakarta.
2. Mengetahui apakah pantulan radiasi matahari dari gedung berdinding kaca refleksi mengakibatkan kesilauan dan perubahan keadaan termal (suhu) lingkungan sekitarnya.
3. Mengetahui bagaimana tanggapan/persepsi masyarakat di sekitar gedung terhadap dampak yang terjadi karena perubahan termal dan visual lingkungan sekitarnya.
Dari permasalahan tersebut, hipotesis yang diajukan adalah:
1. Pantulan radiasi matahari dari gedung berdinding kaca refleksi, dengan gelombang panjang akan memanaskan dan menyebabkan kenaikan suhu udara daerah di sekitar gedung.
2. Pantulan radiasi matahari dari gedung berdinding kaca refleksi, dengan gelombang pendek (cahaya dampak) akan mengakibatkan kesilauan.
3. Masyarakat di sekitar gedung kaca telah merasakan adanya dampak yang terjadi karena pantulan radiasi matahari dan gedung berdinding kaca refleksi
Obyek penelitian terdiri dari gedung berdinding kaca refleksi dan masyarakat sekitar gedung tersebut Lokasi penelitian di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Jenis peneitian ini adalah deskriptif eksploratif, dengan sampel yang ditentukan secara sengaja (purposif).
Gedung yang diteliti adalah Bank Bumi Daya Plaza Jalan Imam Bonjol No. 61, Kuningan Plaza Jalan H R. Rasuna Said Kav. C 11-14, Lippo Life Jalan H R. Rasuna Said Kav. B-10, Wisma BRI II Jalan Jenderal Sudrman Kav. 44-46, dan Wisma GKBI Jalan Jenderal Sudirman.
Sedangkan masyarakat yang djadkan responder adalah mereka yang berada dalam radius daerah pantul gedung kaca dan pada saat terjadnya peristiwa pantulan berada di lokasi.
Peneltian diaksanakan sejak bulan Juni 1996, sedangkan pengukuran fisik (suhu dan silau di lapangan dakukan pada tanggal 14 September 1996 sampai dengan 28 September 1996.
Penyebaran kuesioner, wawancara dan observasi diaksanakan pada bulan September dan Oktober 1996.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari: (1) data intensitas radiasi matahari global horisontal kota Jakarta selama 31 tahun, (2) suhu udara di sekitar gedung, (3) silau I luminasi gedung kaca, dan (4) respon I persepsi masyarakat sekitar gedung terhadap perubahan aspek termal dan visual akibat pantulan radiasi matahari dari gedung kaca.
Jumlah data intensitas radasi matahari global horisontal kota Jakarta yang diolah adalah 4. 176, suhu udara sekitar gedung yang diukur sebanyak 1.656, silau dari gedung kaca yang diukur sejumlah 960, dan masyarakat sekitar gedung sebanyak 60 responden. Analisis data dilakukan secara analitik matematik, deskriptif, uji statistik chi-square, anova dan grafik garis.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut
1. Intensitas pantulan radiasi matahari dari gedung berdinding kaca refleksi secara akumulatif sangat potensial dalam mempengaruhi energi panas karena konveksi dari Binding kaca dan kalor (bahang) yang diserap kaca untuk menaikkan suhu udara daerah yang terkena pantulannya. Besaran IR tersebut ditunjukkan oleh nilai maksimum dari Wisma GKBI (91.40 watt/m2), Wrsma BRI II (95.75 watt/m2), BBD Plaza (99.64 watt/m2), Kuningan Plaza (134.97 watt/m2), dan Lippo Life (140.47 watt/m2).
2. Pantulan radlasi atahari dari gedung berdinding kaca refleksi dengan gelombang panjang (infra marsh) memanaskan daerah sekitar gedung dan menyebabkan kenaikkan suhu udara. Pada daerah terkena pantulan terjadi kenaikan suhu yang ditunjukkan oleh selisih meratanya dengan daerah tidak terkena pantulan sebesar 1.4° C (c t 2.0° C). Hasil pengukuran juga memperahatkan adanya gradien horisontal dan vertikal. Pada jarak 15 m dari dinding gedung pengaruh pantulan terhadap suhu udara sangat nyata, sedangkan pada jarak 25 meter suhu udara sudah tidak memperfhatkan adanya pengaruh pantulan.
3. Pantulan radlasi matahari dari gedung berdinding kaca refleksi dengan gelombang pendek (cahaya tampak) menimbulkan kesilauan. Nilai luminasi kaca reratanya mencapai 15.67 x 106 c d/m2 (23.16 % dari luminasi langit) minimumnya 4.37 x 10s cd/m2 (6.2 % dari luminasi langit) terjadi di gedung Bank Bumi Daya Plaza pada kaca miring saat periode pengukuran jam 09.30 - 12.00 dan maksimum 28.46 x 106 c d(m2 (40.21 % dari luminasi langit) terjadi di gedung Kuningan Plaza. Semua nilai luminasi ada diatas ambang nilai `borderline comfort and discomfort glare'. Pada saat kondesi matahari kelihatan (langit cerah -awan putih) daerah yang terkena pantulan merupakan daerah silau.
4. Masyarakat di sekitar gedung telah merasakan adanya dampak pantulan radiasi matahari dari gedung berdinding kaca refleksi. Hal ini dtunjukkan oleh tanggapannya terhadap semua aspek dampak yang dirasakan mengganggu dan mengurangi kenyamanan, ditinjau dari latar belakang pendidikan, lama tinggal, jenis kelamin dan umur. Prosentasi tanggapan terkecil adalah 28.6 % (lama tinggal < 1 tahun vs silau) dan terbesar 93.4 % (pendidikan S1 vs kenyamanan). Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil uji hubungan antara variabel bebas (tingkat pendidkan, lama tinggal, jenes kelamin dan umur) dengan variabei terikat (pantulan panas, gangguan silau, dan berkurangnya kenyamanan) dimana dari 12 hubungan, 9 hubungan menunjukkan signifikansi dan hanya 3 hubungan (pendidikn vs silau, lama tinggal vs pantulan panas dan umur vs pantulan panas) yang memperilihatkan tidak adanya hubungan. Hal tersebut sesuai dengan hasil pengukuran fisik (termal dan visual) yang dperoleh.

ABSTRACT
Construction of reflected curtain wall buildings in Jakarta recently is becoming popular. Consideration to use reflected curtain wall is primarly on its light structural load, quick implementation, cost eficiency, and other architectural elements. Curtain walls are non structured glass walls that are used mostly for facing tall buildings. Another important consideration in using the reflected curtain wall is related to its luxurious image which attract consumers.
This is very interesting phenomenon because the use of that material has produced impact to the surrounding environment On one aspect, the use of reflective glass (curtain wail) reduces the weight heat and minimizes sun glare in the budding. However, solar radiation reflection from curtain wall to surrounding area could change thermal and visual characteristics as well as pleasant environment based on the problems above, this research intend :
1. to determine the magnitude of energy of reflected solar radiation from curtain wall building in Jakarta.
2. to figure out whether reflected solar radiation from the curtain wall building could cause thermal change (air temperature) and sun glare to surrounding environment
3. to determine community perception surrounding the building about the impact of reflected solar radiation in relation to the changing in thermal, visual, and the pleasant of the environment
Hyphotesis used in this research included :
1. Reflection of long wave solar radiation (infra red) from curtain wall building increases surrounding air temperatur.
2. Reflection of short wave solar radiation (visible fight) from curtain wall building cause high glare.
3. Community surrounding the curtain wall building has felt the impacts of reflected solar radiation from the building.
The object of this research is curtain wall buildings and the community surround. The research is located in Jakarta Pusat and Jakarta Selatan. The type of research is descriptive explorative with purposive sampling.
The budding object to the research is Bank Bumi Daya Plaza, Jalan Imam Bonjol No. 61; Kuningan Plaza, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. C 11-14; Lippo Life Building, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. B-10; Wisma BRI II, Jahn Jenderal Sudirman Kav. 44-46 ; and Wisma GKBI, Jalan Jenderal Sudirman.
The research was carried out in June 1996, while the physics measurement (air temperature and luminance) was underway on 14 - 28 September 1996. The questionaire distribution, interview,and observation was taken in September and October 1996.
The data being collected included (1) 31 years serial data of intensity of global horizontal solar radiation of Jakarta; (2) air temperature surrounding the building; (3) lumination of curtain wall bung; and (4) response or community perception surrounding the budding towards change in thermal, visual, and pleasant aspect due to reflection of solar radiation.
The available number of data on global horizontal solar radiation intensities of Jakarta were used for the calculation is 4176, while the number of data on air temperature and lumination of budding is 1656 and 960 respectively. The number of respondent of community surrounding the building is 60. Data was analyzed using mathematical approach, descriptive analysis, chi-square test, anova and One graphics analysis.
The study reveals the following :
1. Intencity of reflected solar radiation from curtain wall the building accumulatively Is very potential In influencing convection heat energy from the curtain wall and calor absorbed by the glass Increased temperature of the area subject to reflection. The intencity of reflected solar radiation (IR) magnitude is shown by maximum value from Wisma GKBI (91.40 watt/rn2), Wisma BRI II (95.75 wattlm2), BBD Plaza (99.64 wattlm2), Kuningan Plaza (134.97 watt/m2), and L.ippo Life (140.47 watt/m2).
2. Reflection solar radiation from the curtain wall building with long wave improved temperature surrounding hence increases air temperatur. Increased in temperature has occured in area subject to reflection which is seen by the 1.4° C (°o ± 2.0° C) different from the area of non subject of reflection. The measurement also revealed horizontal and vertical gradient On 15 meter distance of the wall, the influence of reflection on air temperature is significant, but not from 25 meter distance.
3. Reflection solar radiation from the curtain wall building with short wave cause serious glare. The average value of glass Iuminatioon reached 15.67 x 106 cdlm2 (23.16 % from sky lumination) with minimum of 4.37 x 106 cdlm2 (6.2 % from sky lumination) occured in Bank Bumi Daya Plaza on slope glass during lime of measurement of 09.00 - 12.00 AM. The maximum 28.46 x 106 cdlrn2 (40.21 % from sky iuminatlon) occured in gedung Kuningan Plaza. Ai lumination values are above the standard of borderine comfort and discomfort glare. During clear sky, area being laminated is glare area. The size of glare area is depending upon the building tallness and orientation direction of building.
4. Community at surrounding the building has felt the impacts of reflection solar radiation on the local environment. This could be seen from the response in which most community felt that the reflection has heat reflection, glare and reduced their comfort (minimum procentage 28.6 %, length of stay < 1 year vs glare and maximum 93.4%, 51 education vs comfort). The analysis examines the relationship between Independent variables (education, length of stay, sex, and age) and dependent variables (heat reflection, glare, and a reduction of comfort). The result shows that from 12 relationship, 9 relationship showed significant relation, and only 3 relationship (education vs glare, length of stay vs heat reflection, and age vs heat) showed otherwise. That measurements supported by physics measurement (thermal dan visual).
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ari Setiyaningrum
"Music is one of physical surrounding which can affect shopping behavior in service settings. The state that music can be used to affect shopping behavior comes from the atmosphere concept and environmental psychology theory. Many studies provide some empirical evidence to support that music affect the amount of time and money which shoppers spend in service settings. Therefore, it is important for service providers, especially retailers to apply this musical effects to the development of more effective retail and service strategies regarding the selection of appropriate background music. Retailers can apply some guidances which proposed by Herrrington and Capella to determine the appropriate background music."
2006
MUIN-XXXV-7-Juli2006-38
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Ramadityo
"ABSTRAK
Kemunculan system kereta api Commuter Line mendorong masyarakat untuk mengakses stasiun dan naik kereta, alih-alih menggunakan kendaraan pribadi. Ini membuat stasiun menjadi titik di mana orang-orang dating dan pergi dan mendorong berkembangnya elemen-element perkotaan di kawasan sekitar stasiun seperti bangunan, halte bus, flyover, pagar stasiun, dan bahkan tiang listrik sebagai respon terhadap kehadiran stasiun. Orang-orang mulai membangun berbagai macam fasilitas yang mendukung para pengguna kereta, seperti toko, restoran, area parkir, titik transportasi lain, dan kawasan perumahan. Ketika orang-orang mengokupasi kawaan sekitar stasiun, mereka mulai mencari dan memakai titik-titik yang terbentuk dari elemen perkotaan untuk menunjang aktivitas mereka. Olehkarenaitu, skripsi ini berdasarkan pada fenomena perkembangan tempat-tempat di kawasan sekitar stasiun yang telah menjadi simpul baru di dalam kota. Selanjutnya, berangkat dari fenomena tersebut, observasi pada kawasan sekitar stasiun Commuter Line dilakukan untuk mengetahui bagaimana orang-orang memanfaatkan elemen perkotaan di kawasan tersebut.

ABSTRAK
The presence of the Commuter Line train system encourages people to access the station and catch the train, instead of drive their private vehicles. This makes the train stations become the nodes for people to come in and encourages a development of the urban elements around the station such as buildings, bus shelter, flyover, station rsquo s fence and even electrical poles as the response of the station. People start to build facilities which can support the users of the Commuter Line, such as shops, restaurants, parking area, another transportation nodes, and residential area. When the commuters occupy the station rsquo s surrounding area, they begin to look and utilize the spots that formed from the urban elements to support their activities. Thus, this undergraduate thesis is based on the phenomena of the place development around the station that already become a new nodes within the city. Then, based on the phenomena, an observation of the Commuter Line surrounding area is conducted to understand how people utilize the urban elements in the mentioned area. "
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Samuel Finley
"Rumah sakit adalah sarana pelayanan kesehatan penghasil berbagai jenis limbah khususnya limbah klinis infeksius, toksis, dan radioaktif. Limbah klinis yang tidak dikelola dengan benar akan menimbulkan dampak kesehatan langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
Menurut hasil pemeriksaan BTKL Depkes Jakarta tahun 2003, menunjukkan bahwa effluent limbah cair Rumah Sakit Pusat Infeksi Prof. DR. Sulianti Saroso (RSPI-SS) tidak memenuhi baku mutu BOD5 34 mg/l, TSS 80 mg/l, dan NH3 0,18 mg/l. Pembakaran limbah padat klinis di insenerator menunjukkan gejala adanya pembakaran yang kurang sempurna, dimana suhu pembakaran tidak mencapai 1000°C.
Dari latar belakang di atas, maka pertanyaan penelitian adalah: (1) Apakah IPAL RSPI-SS efektif menurunkan parameter BOD5, COD, TSS, NH3, PO4, dan bakteriologi serta berapakah efisiensinya? (2) Apakah suhu pembakaran limbah padat klinis sudah efektif? (3) Berapakah efisiensi pembakaran (EP) dan efisiensi pemusnahan (DRE) limbah padat klinis di insenerator? (4) Berapakah konsentrasi emisi udara untuk parameter NH3, C12, HCI, NO2, debu, S02, H2S, HF, CO1 dan CO2 dari insenerator?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Kualitas effluent dan efisiensi IPAL. (2) Suhu pembakaran di insenerator, efisiensi pembakaran , serta efisiensi pemusnahan, penghilangan (3) Kualitas emisi udara dari insenerator dengan parameter NH3, CI2, HC1, NO2, debu, SO2, H2S, HF, CO, dan CO2. (4) Pengelolaan limbah klinis dan upaya minimisasi .
Hipotesis kerja: adalah (1) Efisiensi IPAL yang masih rendah menyebabkan parameter BOD5, COD, TSS, NH3, PO4. dan bakteriologi melampaui baku mutu. (2) Temperatur pembakaran limbah klinis yang rendah di insenerator, menyebabkan EP dan DRE rendah. Pendekatan penelitian dilakukan secara kuantitatif, metode penelitian deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Pengolahan data dengan tabulasi, komparasi, dan teknik sampling secara purposive sampling.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Konsumsi air bersih rata-rata tahun 2003 adalah 3810,4 m3/bulan. Rasio BOD5 dan COD dari influent IPAL adalah 0,52 berarti limbah bersifat organik dan metode pengolahannya proses biologi. (2) IPAL berfungsi tidak efektif, dan hasil analisis kualitas effluent tidak memenuhi syarat Kep.MenLH No.58 /1995 lampiran B, IPAL yang mengolah air limbah sebesar 75,5 - 107 m3 hanya mampu menurunkan konsentrasi hari 1 : BOD5 44,2 mg/l, TSS 82 mg/1, dan koliform 8x104. Hari 2 : TSS 74 dan mg/l, PO4 7,7 mg/l, koliform 22x104. Hari 3 TSS 86 mg/l, NH3 0,23 mg/l, dan koliform 4x104. (3).Efisiensi IPAL hanya mampu menurunkan BOD5 16-49%, COD 14-44%, TSS 4-19%, NH344-52, %, PO4 0 0 ? 8 % dan koliform 0%. (4) Suhu pembakaran limbah padat klinis adalah 342°C belum mencapai suhu optimum (1000°C). Hasil analisis kualitas emisi insenerator tidak memenuhi syarat NH3 yaitu 0,82 mg/m3 menurut SK Gubernur DKI Jakarta No. 670 Tahun 2000. Efisiensi pembakaran 95% dan efisiensi pemusnahan/penghilangan 96% belum memenuhi syarat menurut Kep. Ka.Bapedal No.03/Bapedal 09/1995 yaitu 99,999%. RSPI-SS menangani pembakaran limbah padat klinis dari rumah sakit selain dari sumber internal. Penggunaan air bersih yang berlebih merupakan salah satu obyek untuk minimisasi limbah cair. Limbah fixer, kemasan infus, botol alkohol, botol bayclin, dan betadin merupakan limbah padat yang dapat di daur ulang.
Kesimpulannya adalah bahwa pengelolaan limbah klinis di RSPI-SS baik limbah cair pada IPAL maupun penanganan limbah padat klinis di insenerator belum optimal. Demikian juga upaya minimisasi limbah belum optimal. Pengelolaan limbah klinis rumah sakit tersebut dapat ditingkatkan dengan menerapkan konsep minimisasi limbah dan kaidah dalam penanganan limbah B3 dan limbah non B3 sesuai dengan karakteristik limbah yang dihasilkan.
Sebagai saran: untuk meningkatkan pengelolaan limbah klinis di RSPISS adalah perbaikan dan pemeliharaan peralatan IPAL, operasi IPAL sesuai SOP, menambah waktu aerasi, segregasi dan pre-treatment limbah sebelum masuk ke IPAL, memasang meteran di IPAL dan Instalasi air bersih, efisiensi penggunaan air bersih, serta mengkaji syarat mikrobiologi limbah cair pada Kep.MenLH No.58/1995 Lampiran B.
Pengelolaan limbah padat klinis perlu upaya segregasi, mengendalikan suhu di insenerator, operasi insenerator sesuai dengan SOP, meningkatkan pengetahuan / ketrampilan petugas, dan uji TCLP abu hasil insenerasi serta penanganan abu sesuai prosedur limbah B3.

Management of Hospital Clinical Waste (A Case Study at National Medical Center for Infectious Disease Prof. Dr. Sulianti Saroso Hospital Jakarta)Hospital is a healthcare facility, which generates variety of waste particularly infectious, toxic, and radioactive clinical waste. The improper management of hospital clinical waste will cause direct health impacts on the surrounding community and on the environment.
Data from BTKL Department of Health Jakarta year 2003, obtained result analysis of effluent quality of RSPI-SS waste-water treatment plant (WWTP) was excessive compared to standard issued by Ministry of Environment regulation number 58 year 1995 attachment B on BOD5 34 mg/l, TSS 80 mg/l, NH3 0,18mg/l. Hospital clinical waste incineration was inadequate temperature which is less than 1000°C.
Therefore based on the above data, research questions were as follow: (1) was the WWTP of RSPI-SS effective to remove BOD5, COD, TSS, NH3, PO4, and bacteria and what was its efficiency? (2) Was the combustion temperature of clinical solid waste effective? (3) What were the combustion efficiency (CE) and destruction removal efficiency (DRE)? (4) What was the concentration of emission quality of incinerator such as NH3, Cl2, HCI, NO2, dust, SO2, H2S, HF, CO, C02?
This research aimed to assess management of hospital clinical waste on effluent quality of WWTP and its efficiency, combustion temperature in incinerator, CE, DRE, and also clinical waste management and minimization program. Working hypothesis are: (1) Low efficiency of WWTP caused excessive quality of effluent on BOD5, COD, TSS, NH3, PO4, and bacteria. (2) Low combustion temperature of clinical solid waste caused low on CE and DRE of incinerator. Research was conducted by quantitative approach and analytical descriptive research methodology. Research design was cross-sectional, purposive sampling technique, and data processing by tabulation and comparation.
Results obtained from the research are as follows:
(1) Average water use at RSPI-SS year 2003 was 3810.4 m3/monthly, and BOD5/COD ratio of influent quality was 0.52 which meant organic loading and treatment method was biological process. (2) WWTP functioned ineffective, in which result analysis of effluent quality was exceeded standard, observed parameters on: Day I: BOD5 44.2 mg/l, TSS 82 mg/l, and coliform 6x104. Day 2: TSS 74 mg/l, PO4s 7.7mg/l and, coliform 22x104. Day 3: BOD5 86 mg/l, NH3 0.23 mg/l, and coliform 4x104. (3) Treatment efficiency of WWTP was only enable to remove observed parameters on: BOD5 16 - 49%, COD 14 - 44%, TSS 4 -19%, NH3 44 - 52%, and PO4' 0 - 8% and coliform 0%. (4) Combustion temperature in the incinerator was only 342 °C, which unreached optimum temperature (1000°C). Result analysis of the incinerator emission quality indicated excessive concentration on ammonia refer to stationary source of air quality standard issued by Governor of Jakarta Decree number 670 year 2000). CE of clinical waste incineration was 95% and DRE was 96%, which meant below the standard requirement by ministry of environment which is 99,999%. RSPI-SS hospital incinerated clinical solid waste from out side source. Inefficiency of water use was one of the waste water minimization objects. The hospital waste minimization program covers the following action such as efficiency of water use, effluent re-use, fixer recovery , re-use of infuse bottle, alcohol, detergent, and betadine.
Conclusions are as follows: Clinical waste management at RSPI-SS hospital which consisted of waste water on WWTP and clinical solid waste handling on incinerator were not optimum. Clinical waste management could be improved by application of minimization concept and method of hazardous waste and non hazardous waste handling based on generated waste characteristic.
Recommendations are: repairing and maintenance of WWTP instrument, WWTP operation based on SOP, extend the period of aeration, segregate the waste water, install the flow rate meter on the WWTP and water plant, water efficiency, evaluation of microbiology standard of hospital effluent issued by ministry of environment, segregation of clinical solid waste, operation of incinerator based on SOP, to improve knowledge and skill of operator, and residual TCLP test of incineration and residual handling based on hazardous waste handling procedure."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2004
T 11374
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Samuel
"ABSTRAK
Setiap orang penduduk Kotamadya Padang memproduksi sampah ± 4,4 liter/hari. Dengan jumlah penduduk 711 ribu jiwa, total volume sampah yang dihasilkan sekitar 2950 m3/hari. Dengan rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 2,76 % per tahun diperkirakan pada tahun-tahun mendatang jumlah penduduk akan mengalami peningkatan yang cukup besar.
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, jumlah sampah yang dihasilkan juga akan meningkat. Sedang lahan untuk pembuangan akhir sampah terbatas. Untuk mengatasi masalah tersebut khususnya menangani sampah kota, perlu dikembangkan teknologi pemusnahan yang tepat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah Sistem Sanitary Landfill.
Sistem sanitary landfill adalah pembuangan sampah ke daerah parit, daerah legok atau daerah lereng kemudian ditimbun dan dipadatkan dengan lapisan tanah secara berlapis-lapis dengan sampah tidak boleh terbuka selama lebih dari 24 Jam.
Penelitian dilaksanakan di LPA sampah sanitary landfill di Kotamadya Padang. Daerah digunakan adalah daerah dengan topografi bergelombang dengan Janis tanah podzolik merah kuning yang mempunyai kandungan fiat tinggi serta homogen sehingga penyaringan larutan akan lebih baik daripada jenis tanah yang banyak mengandung pasir. Sistem sanitary landfill di daerah ini masih tergolong sederhana karena pada lapisan bawah dari LPA Sampah belum dibuat lapisan kedap air.
Pelaksanaan sistem sanitary landfill tanpa lapisan kedap akan menimbulkan suatu masalah yaitu sampah yang tertimbun di LPA akan mengalami proses akumulasi dan degradasi (pemecahan). Hasil-hasil degradasi tersebut akan tersebar ke dalam tanah di sekitarnya melalui infiltrasi dan perkolasi.
Tujuan Penelitian adalah: 1) Mengetahui kualitas air kolam penampung air limbah (leachate); 2) mengetahui kualitas air sumur penduduk pada berbagai jarak dari pusat LPA sampah sanitary landfill sehingga dapat ditentukan wilayah aman pencemaran yang dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Padang guna menentukan kebijakan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) bagi daerah pemukiman; 3) Mengetahui dampak aspek sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Adanya LPA sampah sanitary landfill mempengaruhi kualitas air sumur di sekitarnya; 2) Tingkat pencemaran air tanah dipengaruhi oleh jarak dari pusat LPA sampah sanitary landfill.
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder yaitu jenis tanah di lokasi penelitian, jumlah, kandungan sampah dari PEMDA Tingkat II Padang; data iklim dari Stasiun Badan Meteorologi Taping Padang, serta data penelitian yang sama yang dilakukan oleh peneiiti terdahulu di tempat lain. Data primer, terdiri dari data hasil analisis kualitas kolam penampung air limbah, air sumur penduduk dan data sosial berupa daftar pertanyaan tentang persepsi masyarakat pada LPA yang ada di sekitar mereka.
Jenis penelitian ini adalah eksplanatori/penjelasan/ eksperimen yaitu penelitian pengujian hipotesa yang menguji hubungan sebab akibat di antara variabel yang diteliti.
Sampel air diambil dari kolam penampung air limbah dan juga diambil dari air sumur penduduk dengan jarak 300 m, 600 m, 900 m dan 1100 m dari pusat LPA Sampah. Untuk mengetahui kualitas air dilakukan dengan analisis di laboratorium PDAM dan Dinas Kesehatan Kotamadya Padang. Hasil analisis dibandingkan dengan baku mutu limbah KEP-51/MENLH/10/1995 dan PERMENKES R.I. No. 416/MENKES/ PER/IX/I990.
Analisis data fisika dan kimia dilakukan dengan menggunakan karelasi dan regresi linear. Sebagai variable babas digunakan data jarak dan sebagai variabel terikat digunakan data yang diukur. Kemudian data diuji melalui uji satu-arah (one tailed test) dari distribusi t-Student pada taraf nyata 0,05.
Berdasarkan analisis data, diperoleh kesimpulan penelitian sebagaiberikut:
1. Gambaran air kolam pembuangan limbah adalah:
Kualitas air kolam penampung air cucian (leachate) LPA sampah sanitary landfil Air dingin dari hasil analisis sifat fisika dan kimia kualitasnya cukup rendah, jika dibandingkan dengan parameter Baku Mutu Air Limbah Kep-51/ MENLH/10/1991.
2. Gambaran Iingkungan
a. Berdasarkan analisis sifat fisika dapat diketahui parameter yang melampaui baku mutu adalah kekeruhan untuk semua jarak, sedangkan parameter bau metampaui baku mutu untuk jarak 300 m dan 600 m dari LPA Sampah. Untuk parameter suhu masih di bawah ambang batas yang diperbolehkan. Berdasarkan analisis sifat kimia parameter yang melampaui baku mutu adalah pH, NH3, dan SO4 untuk semua jarak, parameter KMnO4 untuk jarak 300 m dan 600 m dari LPA Sampah, sedangkan N03 dan NO2 tidak melampaui baku mutu. Kandungan bakteriologi di daerah peneiltian cukup tinggi.
b. Adanya LPA sampah sanitary landfill menambah lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat yang bertempat tinggal di sekitarnya.
Hasil analisis regresi linear yang dilanjutkan dengan uji t menunjukkan bahwa, kualitas air di daerah penelitian dipengaruhi oleh jarak dari pusat LPA sampah sanitary landfill, yaitu semakin jauh jarak dan pusat LPA Sampah semakin baik kualitas air.
Berdasarkan data yang diperoleh dengan menggunakan analisis trend free hand method. Hasil rata-rata analisis memperlihatkan bahwa daerah aman pencemaran pada air tanah adalah daerah yang mempunyai jarak + 1,26 km dari LPA sampah sanitary landfill.

ABSTRACT
Garbage production per capita in the municipality of Padang is approximately ± 4.4 liter per day. With a population of 711.000 Its volume will be approximately 2950 m3/day. The average population growth is around 2.76% per year and It seems this population growth for the following year will Increase significantly.
Due to this significant population growth, the amount of rubbish will increase. Meanwhile the garbage disposal is limited. The problem Is how to deal with proper disposal technology such as sanitary landfill .
Sanitary landfill is a disposal system garbage to a hole, concave or slope area. Garbage is piled and compressed with soil layer by layer and this procedure should be performed at least for 24 hours.
This research was implemented at LPA Sanitary Landfill Garbage in municipality of Padang whose sanitary landfill is simple because the bottom layer of garbage LPA is not hermetically layer. The researched area is a wave topography area with podzolic types and yellowish red soil. Since the clay content of the researched soil is high and homogeneous, its the ability to filter will be better than that of the soil containing much sand.
The implementation of sanitary landfill without hermetically layer will cause a problem, garbage pilled in LPA will be accumulated and degraded. The effect of this degradation will spread to the soli surronding through infiltration dan percolation.
The objective of this research are : 1) to know the quality of leachate water; 2) to know the quality of well water of people living close, at different distance, to LPA center of sanitary landfill garbage in order to be able to know the safe area. This information can be use as a contribution for the government of municipality of Padang, particularly to decide any policy related to the permission of regional settlement development; 3) to know the socio-economic aspects of the people surrounding the area.
The hypotheses of this research are : 1) Sanitary landfill garbage at LPA influences well water quality at the surrounding of sanitary landfill garbage; 2) The level pollution of ground water is Influenced by distance between the location and sanitary landfill garbage center.
The data instruments used are primary and secondary data. Secondary data is the data about the kind of the soil, the amount of garbage, the content of the garbage, and the weather. The source of secondary data Is the research of municipality of Padang and the measurement of meteorology station In Tabing Padang.
Primary data consists of data from the analysis of water cesspool quality, well water of the people and social data, obtained through interview and questioner, about the perception of the people over the LPA surrounding their environment.
The type of this research Is explanatory or experiment research that perform hypothesis's test related to causal relationship among variables.
For this analysis, sample; water; was taken from water cesspool (leachate) and well water of the people within a distance of 300 m, 600 m, 900 m and 1100 m from LPA center. To know water quality, it was performed analysis at the laboratory of PRAM and the Branch Office of The Ministry of Health at Padang. The result of the analysis was compared with standard qualify of waste, KEP-51/MENLH/10/1995 and PERMENKES RI No. 416/MENKES/PER/IX/I990.
In physical and chemical data analysis, it was used correlation and regression linear. The independent variable of this analysis is the data about distance and dependent variable is the calculated data. Then, the data was tested with one test from distribution of t-student, level of significance 0.05.
Considering the analysis of the data, it can take the conclusions as follows :
1. The condition of waste water
The quality of the waste water reservoir at the LPA sanitary landfill, from the analysis of physical and chemical, is lower than that of the Waste Product Water Quality Standard Parameter (KEP-51/MENLH/1995), except for the temperature and pH_
2. Environmental Condition
a. Based of the physical analysis, it is identified that the parameter turbidity for all distance (range) exceeds the quality standard for the scent (smell) parameter exceeds the quality standard for the distance of 300 m and 600 m from the center of sanitary landfill location but temperature parameter is lower than that of permitted. According to the chemical analysis, parameters that exceeds the quality standard are the pH, NH3-N and SO4 for all distance from the center of sanitary landfill location, parameters KMnO4 for the distance 300 m and 600 m from the center of sanitary landfill location, meanwhile NO. and NO2 do not exceed the standard of quality. Bacteriological contents at the research field area are reasonably high.
b. The presence of the center of sanitary landfill location could increase employment opportunity for the people living in the neighborhood.
The result of linear regression analysis following by t-test showed that water quality in this area researched is influenced by distance of LPA garbage center; farther the distance the better quality of water is.
Based on data analysis of trend of free hand method, it is Identified that the save area from any cesspool pollution to its ground water is the area whose distance from sanitary landfill LPA garbage center is + 1,26 km.
E Total of References : 59 (1969-1996)
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Auri, Nikanor
"Kemerosotan lingkungan hidup Etnik Amungme dan Kamoro dalam tiga dimensi lingkungan hidup manusia, yaitu kemerosotan Lingkungan AIam/Fisik, Kemerosotan Lingkungan Budaya, dan Kemerorosotan Lingkungan Sosial, mengindikasikan adanya distorsi pembangunan di Kabupaten Mimika Provinsi Papua.
Kemerosotan lingkungan alam/fisik suku Amungme dan Kamoro, berupa : Pertama, terlenyapkannya puncak-puncak gunung (ErtsAerg, dan Grasberg), perubahan bentangan alam, adanya terowongan di dalam beberapa puncak gunung. Kedua, terjadinya longsoran, pecahnya danau Wanagong dan tercemarnya air danau Wanagong oleh air asam tambang, serta tercemamya air permukaan maupun air tanah. Ketiga, tercemarnya air sungai Wanagong, Otomona, Ajkwa, Minajerwi dan kali Kopi oleh tailing penambangan bijih dari pabrik pengolahan dan dibuang Iangsung ke sungai-sungai tersebut. Dan Keempat, penyempitan lahan sebagai ruang hidup serta penyangga kehidupan warga suku Amungme dan Kamara masa kini, maupun generasi mereka masa depan.
Kemerosotan lingkungan budaya etnik Amungme dan Kamoro, terwujud dalam tiga hal, Pertama, goncangan Kosmologi suku Amungme dan Kamoro, Kedua, Kekaburan Penghayatan diri Amungme dan Kamorowe dengan Lingkungan Hidup, dan Ketiga, Kearifan Lokal (Local Wisdom) : Modal Pembangunan Altematif yang Terkacau-balaukan. Kawasan puncak-puncak gunung (ninggok), dijadikan kawasan proteksi dengan menjadikannya sebagai daerah keramat. Kawasan yang ramah untuk ditinggali dan dihuni serta kaya dengan sumber daya alam untuk kehidupan mereka (Menomarin) dijadikan kawasan ekonomi. Kawasan dataran rendah (Onisa), dimana mereka tidak terbiasa hidup dan menemukan banyak kesulitan dijadikan daerah penyangga antara kehidupan mereka dengan pihak luar. Local wisdom ini sangat sesuai dengan konsep pengelolaan lingkungan hidup modem yang kits pelajari saat ini, namun telah dikacaubalaukan, berkenaan dengan kehadiran PT. FIC. Penggambaran struktur, lingkungan dan tatanan sosial suku Amungme maupun Kamoro sebelum kehadiran PT. FIC dan setelah kehadirannya, memperlihatkan suatu fenomena perubahan sosial, yakni perubahan pada struktur sosial maupun fungsinya yang menata pola-pola interaksi antar individu dalam lingkungan sosial keluarga, individu dengan sesama anggota dan, dan individu dengan sesama anggota phratry, maupun individu dengan sesama anggota moiety. Perubahan dimaksud adalah perubahan yang tidak terarah, alias perubahan sosial dan budaya yang kacau-balau dan membawa petaka berkepanjangan dalam kehidupan mereka. Berhubung hasil-hasil penelitian dan diagnosis teoribsnya mengukuhkan asumsi yang mendasari penelitian ini, yakni "adanya distorsi pembangunan dan kemerosotan lingkungan hidup Etnik Amungme dan Kamoro di Kabupaten Mimika-Papua", maka saran-saran yang dikemukakan penulis dalam rangka mewujudkan pembangunan yang tidak menyimpang adalah sebagai berikut :
1. Transformasi Paradigma Pembangunan
Menyadari kelemahan paradigma Growth Centre , yang menempatkan pertumbuhan ekonomi di atas nilai manusia dan lingkungan, maka transformasi paradigma Growth Centre ke People Centre Development tidak dapat ditawar lagi.Transformasi paradigma pembangunan clan sberpugit pertumbuhan ke berpusat manusia menaruh perhatian penting pada model pembangunan yang mensinkronisasikan pembangunan yang memfokuskan perhatian kepada peningkatan kualitas hidup manusia, keberlanjutan ekologi, dan pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Dalam pembangunan yang terfokus pada manusia, didalamnya juga terkandung unsur partisipasi rakyat, lntegrasi sosial, otonomi personal serta komunitas, demokratisasi dan Ham, pemberdayaan dan multikultur.
2.Transformasi Arti "Pembangunan" Redefrnisi Pembangunan,
Menyadari adanya pendangkalan makna "pembangunan" yang sesungguhnya (meaningful!) sebagaimana yang berkembang dalam paradigma pertumbuhan ekonomi, maka definisi pembangunan yang lebih berorientasi kerakyatan, mengartikan pembangunan sebagai proses dimana anggota-anggota suatu masyarakat meningkatkan kapasitas perorangan dan institusional mereka untuk memobilisasi dan mengelola sumber-sumber daya untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan yang berkelanjutan dalam kualitas hidup yang sesual dengan aspirasi mereka, periu dianut dan diterapkan.
Berarti, perlu transformasi konsep pembangunan yang semata-mata memaknai "pembangunan" sebagai pertumbuhan ekonomi, atau lndustrialisasi, termasuk modernisasi bahkan westernisasi, menjadi suatu proses perubahan yang lebih berorientasi pada peningkatan Kapasitas perorangan dan institusional, atau yang lebih dikenal dengan konsep "people centre development?. Kapasitas perorangan yang dimaksud disini ialah kapasitas/kemampuan manusia, sedangkan institusional bukan organisasi atau lembaga, tetapi adanya pranata-pranata, nilai-nilai dan norma-norma budaya yang tahan lama dan menata sikap, perilaku dan hubungan-hubungan sosial dalam suatu masyarakat atau komunitas.
3. Transformasi Indikator Keberhasilan Pembangunan
Upaya terfokus pada pembangunan manusia memunculkan paradigma baru pembangunan manusia yang diukur dengan menggunakan Human Development Index (HDI). Munculnya index pembangunan manusia ini bukan berarti mengesampingkan peran indikator makro ekonomi seperti GNP/PDRB, tetapi justru sebagai upaya menterjemahkan peningkatan GNP/PDRB tersebut kedalam pembangunan manusia.
Pergeseran kebljaksanaan pembangunan provinsi Papua yang menempatkan pembangunan manusia Papua sebagai prioritas utama, sebagaimana tertera didalam tisi pembangunan provinsi Papua : "Mewujudkan Orang Papua Menjadi Tuhan di Negerinya , sangat membutuhkan alat ukur baru. HDI atau Index Pembangunan Manusia (IPM) merupakan jawaban untuk keperluan itu dengan konsep pembangunan manusianya. Apalagi telah muncul reaksi penolakan terhadap indikator keberhaslian pembangunan yang semata-mata didasarkan pada GNP/PDRB suatu wilayah karena indikator dimaksud sesungguhnya belum menggambarkan keadaan kualitas manusia yang telah dicapai melalui suatu proses pembangunan.
HDI/IPM mencakup tiga dimensi pembangunan manusia yang dianggap memiliki nilai strategis. Ketiga dimensi itu adalah (1) longevity/usia hidup, (2) knowledge (pengetahuan), dan (3) decent living (standard hidup layak). Tidak cukup disini, HDI/IPM terns menerus mengalami pergeseran seiring dengan tuntutan keadaan masyarakat yang disponsori oleh IJNDP, yaitu dengan adanya penambahan tiga dlmensi baru menurut model UNDP dalam Humman Development Report, 1993 (Britha Mikkelsen 2001), yakni (4) Human Freedom Index (Index Kebebasan Manusia) yang diukur dengan Political Freedom Index (Index kebebasan Politik) termasuk Kepekaan Gender, (5) Dimensi Nilai-Nilai Budaya, dan (6) Dimensi Kesinambungan Lingkungan.
Jelas bagi kita bahwa usaha terus-menerus untuk memperbaiki HDI agar iebih jelas menggambarkan situasi kehidupan yang nyata, yakni dipertimbangkannya kebebasan politik, faktorfaktor budaya dan kepekaan terhadap lingkungan merupakan upaya terfokus yang lebih peka dalam menggambarkan situasi pembangunan manusia yang lebih obyektif dan relevan dengan visi maupun prioritas program pembangunan di provinsi Papua."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T14044
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Auliana Khasana
"Pengembangan TOD Sawah Besar bertujuan sebagai pengembangan berbasis ‘community oriented development’. Tidak hanya berfokus untuk menarik komunitas pendatang dari luar kawasan  Sawah Besar, tetapi juga dapat merespon kebutuhan komunitas eksisting sekitar, sehingga dapat menarik  komunitas sekitar untuk datang ke kawasan perencanaan. Berbatasan langsung dengan area padat penduduk, beberapa area pada kawasan pengembangan TOD Sawah Besar memiliki peran sebagai ‘gerbang’ kawasan dengan peruntukan fungsi yang dapat menarik minat dan juga mewadahi kebutuhan masyarakat sekitar kawasan pengembangan, sehingga diperlukan fungsi yang bertugas menjadi ruang inklusif bagi masyarakat sekitar dan pendatang. Balai Edukasi dan Kreasi Komunitas Terpadu diharapkan dapat memberikan diharapkan dapat menjadi activity generator serta daya tarik bagi kawasan perancangan, agar dapat memenuhi konsep yang direncanakan.

The development of TOD Sawah Besar aims to be a community oriented based development. Not only does it focus on attracting communities from outside the Sawah Besar area, but it can also respond to the needs of the surrounding existing community, so that it can attract the surrounding community to come to the development area. Directly adjacent to a densely populated area, several areas in the Sawah Besar TOD development area have a role as a 'gateway' area with designated functions that can attract interest and also accommodate the needs of the community around the development area, so that a function is required to serve as an inclusive space for the surrounding community and comer. The Integrated Community Creative and Education Center is expected to be able to provide an activity generator and an attraction for the design area, so that it can fulfill the planned concept."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover