Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"The behavior of UO2 powder from ADU, AUC,IDR AND modified adu processes during sintering using dilatometer. Research on the bahavior of UO2 powder during sintering has been performed. Observation of the powder bahavior is conducted on four types of UO2 powder prepared from ADU,AUC,IDR and modified ADU routes. The purpose is to determine UO2 powder that has good sinterability without pre-conditioning treatment on the powder...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Influence of oxidation temperature and time and ZrO2 concertration on density, surface area and O/U ratio of (U3O8+ZrO2) reduction product. Reduction process of uranium oxide and zicronium oxide (U3O8+ZrO2) by hydrogen gas at temperature of 850 oC for 2 hours in reduction furnace has been carried out. The material was obtained from oxidation product of (UO2 + ZrO2) pellet became (U3O8+ZrO) powder at temperature of 400oC and 500oC for0.5 - 2 hours with variation of ZrO2 concentration from 0-0.6%...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Maria S. Melania
"Penelitian ini membahas produksi karbon aktif berbahan baku bambu dengan metode aktivasi menggunakan larutan KOH pada suasana gas nitrogen untuk mengontrol pembentukan pori karbon aktif. Aktivasi kimia dilakukan dengan rasio massa KOH : massa karbon yaitu 3:1 pada suhu 600°C, 700°C, dan 800°C selama 30 menit dan 60 menit. Sebagai pembanding dilakukan aktivasi fisika tanpa penambahan activating agent pada suhu 700°C selama 60 menit. Luas permukaan paling tinggi sebesar 802,60 mg/g (sekitar 824,83 m2/g) diperoleh dari aktivasi kimia selama 30 menit pada suhu 800°C, sedangkan luas permukaan paling rendah sebesar 283,39 mg/g (sekitar 291,23 m2/g) diperoleh dari aktivasi fisika.

This research is about production of activated carbon made from raw bamboo with activation method using KOH as activating agent in an atmosphere of nitrogen gas to control pores formed in the activated carbon. Chemical activation was done with mass ratio of activating agent : carbon is 3:1 on 600°C, 700°C, and 800°C for 30 minutes and 60 minutes, and physical activation was done without using activating agent on 700°C for 60 minutes. The highest surface area, 802,60 mg/g (about 824,83 m2/g), was obtained by KOH activation on 800°C for 30 minutes, and the lowest, 283,39 mg/g (about 291,23 m2/g), was obtained by physical activation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43339
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
David Hartono Chendra
"Dewasa ini kebutuhan akan bahan bakar minyak di Indonesia semakin meningkat. Namun, hal ini tidak disertai dengan peningkatan produksi minyak. Salah satu cara untuk memproduksi minyak adalah dengan menggunakan batubara lignit dalam proses gasifikasi untuk membentuk syngas yang kemudian digunakan untuk mensintesis bahan bakar. Untuk mendapatkan rasio H2/CO yang sesuai pada proses gasifikasi, diperlukan char yang memiliki luas permukaan yang besar. Char yang memiliki luas permukaan besar dapat dihasilkan dari proses pirolisis batubara lignit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pirolisis yang terbaik untuk mendapatkan char dengan luas permukaan yang terbesar. Pada penelitian ini, pirolisis dilakukan dengan variasi suhu 700, 775, 800 °C dan laju pemanasan 3, 6, dan 9 °C.
Pada akhir penelitian, didapatkan bahwa laju pemanasan dan suhu akhir pirolisis memiliki korelasi positif dengan pengurangan massa char. Suhu akhir pirolisis memiliki korelasi positif dengan luas permukaan char dan laju pemanasan memiliki korelasi negatif dengan luas permukaan char. Akhirnya dihasilkan char dengan luas permukaan tertinggi yaitu 172 m2/gram dari pirolisis dengan suhu akhir 850 °C dan laju pemanasan 3 °C/menit.

Recently, Indonesia’s fossil fuels requirement is increasing. This increase is not accompanied by oil and gas production. One method to produce fuels is by gasifying lignite coal into synthetic gas and do a Fischer-Tropsch process on synthetic gas. To produce synthetic gas with convenient H2/CO ratio for Fischer-Tropsch process, the coal used must be has large surface area which can be achieved by pyrolysis process.
This research aims to identify the best condition that produces char with the largest surface area. Final temperature variation used is 700, 775, 850 °C with heating rate variation of 3, 6, and 9 °C/minute. In this research it was found that increase of final temperature and heating rate would increase weight loss of the char. Increase of final temperature would increase char surface area. Increase of heating rate would decrease char surface area.
At the end of the research, char with the largest surface area produced is 172 m2/gram which is produced in final temperature of 850 °C and heating rate of 3 °/minute.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S53718
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elisabeth
"Pengembangan dan pengaplikasian microbial fuel cell (MFC) saat ini masih sangat dibatasi dengan hasil listrik berupa densitas daya yang masih rendah. Modifikasi pada beberapa faktor yang dapat meningkatkan densitas daya, salah satunya adalah luas permukaan dan jarak anoda dengan katoda. Penelitian ini menggunakan single chamber tubular air cathode dengan substrat limbah cair tempe yang ditambahkan dengan 1mL bakteri gram negatif. Sistem MFC ini, tidak menggunakan membran maupun separator. Variasi yang dilakukan adalah dengan mengatur jarak anoda terhadap katoda yaitu sebesar 2 cm, 4.5 cm, dan 8 cm dengan luas permukaan 2,062 x 10 -3m 2 dan 6,185 x 10 -3m 2. Voltase paling maksimum yaitu 24,86 mV dengan densitas daya sebesar 121,8 mW/m2 dihasilkan dengan luas permukaan anoda 6,185 x 10 -3m 2 dan jarak 8cm dari katoda. Sedangkan penurunan Chemical Oxygen Demand (COD) dan biochemical oxygen demand (BOD) terbesar berturut-turut yaitu 72% dan 47% diberikan oleh variasi dengan luas permukaan anoda 6,185 x 10 -3m 2 dengan jarak 2 cm.

Development and application of microbial fuel cell (MFC) is still very limited with the result of low electrical output. Modifications done on several factors that can increase power density which are anode suface and its distance to the cathode. This study uses a single tubular air-cathode chamber with tempe liquid waste as substrate, and will be added by 1 mLgram negative bacteria. This study do not use membran neither separator. Variations are done by adjusting the anode distance to the cathode of 2 cm, 4.5 cm, and 8 cm for each anode surface area of 2,062 x 10 -3m 2 dan 6,185 x 10 -3m 2. The maximum voltage of 24.86 mV with a power density of 121.8 mW/ m2 is produced with anode surface of 6,185 x 10 -3m 2 and distance of 8 cm from the cathode. While the largest decrease of Chemical Oxygen Demand (COD) and Biochemical Oxygen Demand (BOD) respectively were 72% and 47% were given by variation with anode surface of 6,185 x 10 -3m 2 with distance of 2 cm."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S69355
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rivelino Gardana
"Kegiatan industri menimbulkan air limbah yang dapat mencemari lingkungan. Sehingga kegiatan industri membutuhkan pengolahan air limbah yang khusus. Salah satu alternatif tersebut adalah Food Chain Reactor. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efisiensi Food Chain Reactor skala laboratorium dalam menyisihkan kandungan organik dari air limbah industri Kawasan Industri Jababeka di WWTP 1 Jababeka. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan volume kerja 44,25 L yang terbagi menjadi 6 reaktor. Pada permukaan reaktor ditanamkan tanaman berjenis Philodendron hastatum dengan serat wol menggantung di bawah pot tanaman sebagai media biomodul. Eksperimen dilakukan dengan variasi waktu tinggal 24, 16, dan 12 jam. Hasil penelitian menunjukan efisiensi penyisihan kandungan organik sebagai Chemical Oxygen Demand (COD) berada pada rentang 86,2 – 90,8% dengan penyisihan tertinggi pada waktu tinggal 24 jam. Pada parameter Surface Area Loading Rate didapatkan nilai tertinggi pada waktu tinggal 12 jam dengan 10,75 g/m2/hari. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Food Chain Reactor dapat diterapkan pada WWTP 1 Jababeka.

Industrial activities generate wastewater that can pollute the environment. So that industrial activities require special wastewater treatment. One of these alternatives is the Food Chain Reactor. The purpose of this study was to analyze the efficiency of laboratory-scale Food Chain Reactor in removing organic content from Jababeka Industrial Estate industrial wastewater in WWTP 1 Jababeka. The method used is an experiment with a working volume of 44.25 L which is divided into 6 reactors. On the surface of the reactor, Philodendron hastatum type plants are planted with wool fibers hanging under the plant pot as a biomodul media. Experiments were conducted with variations in residence time of 24, 16, and 12 hours. The results showed that the removal efficiency of organic content as Chemical Oxygen Demand (COD) was in the range of 86,2 – 90,8% with the highest removal at a residence time of 24 hours. In the Surface Area Loading Rate parameter, the highest value was obtained at a residence time of 12 hours with 10,75 g/m2/day. The results of this study indicate that the Food Chain Reactor can be applied to WWTP 1 Jababeka."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitria Yunita Dewi
"Insulin adalah hormon yang disekresi oleh pankreas dan berfungsi mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Gangguan pada sekresi insulin ataupun resistansi insulin dapat mengakibatkan diabetes. Bagi penderita diabetes yang memerlukan injeksi insulin, dosis yang tidak terpantau dapat berakibat fatal. Sehingga untuk memberikan diagnosis lebih akurat, pemantauan kadar gula darah dapat ditambah dengan pemantauan insulin. Dari beberapa metode analitik untuk deteksi insulin, elektrokimia adalah yang paling memungkinkan miniaturisasi perangkat dengan respon waktu cukup cepat dan biaya cenderung rendah. Sehingga dalam penelitian ini, sistem estimasi konsentrasi insulin akan dibangun dengan memanfaatkan perangkat analisis elektrokimia atau potensiostat yang bersifat portabel dan screen-printed carbon electrode (SPCE) termodifikasi multiwalled carbon nanotubes (MWCNT) sebagai sensor. Perangkat dioperasikan secara nirkabel melalui mobile device sedangkan seluruh pengolahan data dilakukan pada server komputer terpisah yang dapat diakses dengan komunikasi REST API (Representational State Transfer Application Program Interface). Skema ini yang memungkinkan deteksi beserta hasil estimasinya dapat diproses secara real-time. Sistem estimasinya sendiri dilakukan berdasarkan hubungan arus puncak reaksi elektrokimia yang terjadi pada saat menjalankan Cyclic Voltammetry (CV) dengan nilai konsentrasi insulin. Pada penelitian ini performa sistem ditingkatkan dengan menambahkan prediktor luas permukaan elektroaktif sensor, karena performa sensor secara elektrokimia sangat dipengaruhi oleh nilai luasan tersebut. Penambahan prediktor ini terbukti memberikan hasil estimasi dengan nilai R2 prediksi di atas 0,85 untuk ketiga data pengujian dari tiga sensor yang berbeda. Selain itu, prediktor luas permukaan juga diuji apakah memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan konsentrasi dan didapati p-value bernilai 0,006. Nilai yang lebih rendah dari 0,05 membuktikan bahwa prediktor luas elektroaktif tidak hanya meningkatkan R2 secara kebetulan melainkan memang adanya hubungan dengan konsentrasi dengan tingkat kepercayaan 95%.

Administering incorrect dosage of insulin for diabetic patients can be fatal and result in severe health consequences. In addition to monitoring blood glucose levels, insulin detection can enhance diagnostic accuracy. Analytical methods, such as immunoassays and chromatography, although effective, are time-consuming and costly, making electrochemical methods more suitable for low-cost and portable applications. In this study, an insulin concentration estimation system was developed using a customized potentiostat that operates in real-time via Bluetooth Low Energy (BLE). Screen-printed carbon electrodes (SPCEs) modified with carboxyl-functionalized multiwalled carbon nanotubes (MWCNT-COOH) have been utilized because of their enhanced surface area and compact size, which make them suitable for portable applications. The estimation system was enhanced by incorporating multiple predictors: the peak currents from the second and third cycles of cyclic voltammetry analysis and the electroactive surface area of the. Through cross-validation, our method showed strong performance, achieving a determination coefficient (R2) greater than 0.90 for all combinations of training datasets and greater than 0.85 for all combinations of testing datasets. Additionally, hypothesis testing revealed that the surface area had a statistically significant relationship with concentration, with a p-value of 0.006, indicating that adding this predictor does not enhance R2 due to random chance."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hendri Erka Setya
"Superkapasitor fleksibel menjadi solusi menjanjikan untuk perangkat penyimpanan energi dengan keunggulan rapat daya tinggi, pengisian cepat, stabilitas mekanik yang unggul, dan masa pakai yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh penambahan mangan (Mn) pada material molybdenum disulfide (MoS2) yang ditumbuhkan di atas kain karbon (carbon cloth, CC), dengan motivasi kehadiran kation (intersisi) Mn yang melimpah dan menyisip pada lapisan MoS2 dapat meningkatkan kinerja elektrokimia MoS2 untuk aplikasi superkapasitor. Sintesis material dilakukan dengan metode hidrotermal (200°C, 8 jam), dengan variasi penambahan prekursor Mn sebesar 2%, 4%, 6%, dan 8% terhadap prekursor Mo dan S yang konstan. Karakterisasi struktur dan morfologi menunjukkan bahwa penambahan Mn meningkatkan ukuran nanoflowers MoS2, mengubah fase material dari 2H menjadi 1T/2H disertai kekosongan sulfur, terutama pada sampel 4%Mn-MoS2. Hasil pengujian elektrokimia 4%Mn-MoS2/CC memiliki kapasitansi spesifik tertinggi (326 F/g pada 5 mV/s (dari Cyclic Voltammetry), dan 2179 F/g pada 0,5 A/g (dari Galvanostatic Charge-Discharge (GCD)) masing-masing naik hingga 110% dan 62% dibandingkan MoS2 murni yang didukung dengan signifikasi peningkatan luas permukaan aktif elektrokimia (sekitar 200%) dan laju difusi ion, serta transisi ke fase 1T/2H. Stabilitas sampel dengan penambahan 4%Mn mencapai 95% setelah 1000 siklus GCD. Hasil analisis kinetika reaksi membuktikan Mn-MoS2 cenderung menyimpan muatan secara pseudocapacitor dengan mengandalkan penyisipan dan fisisorpsi ion Na+ pada permukaan nanoflowers MoS2 dan transfer muatan (reduksi-oksidasi) Faradaik, dengan koefisien difusi ion Na+ berada di 10-9 cm2/s, dan resistansi transfer muatan yang berkurang seiring kenaikan %Mn. Perangkat superkapasitor simetris 4%Mn-MoS2/CC dengan gel polimer-elektrolit PVA/Na2SO4 berhasil difabrikasi dan menunjukkan fleksibilitas unggul yang mana tidak ada perubahan ketika perangkat mengalami pembengkokkan pada berbagai sudut.

Flexible supercapacitors are a promising solution for energy storage devices, offering advantages such as high power density, fast charging, superior mechanical stability, and long lifespan. This study investigates the effect of manganese (Mn) incorporating on molybdenum disulfide (MoS2) grown on carbon cloth (CC) as a flexible electrode material motivated by the abundant presence of Mn cations intercalating into the MoS2 layers, which can enhance the electrochemical performance of MoS2 for supercapacitor applications. The synthesis was carried out via a hydrothermal method (200°C, 8 hours) with varying Mn precursor concentrations (2%, 4%, 6%, and 8%) relative to fixed Mo and S precursors. Structural and morphological characterization revealed that Mn doping increased the size of MoS2 nanoflowers and induced a phase transition from 2H to a mixed 1T/2H phase with sulfur vacancies, particularly in the 4%Mn-MoS2 sample. Electrochemical testing demonstrated that 4%Mn-MoS2/CC exhibited the highest specific capacitance (326 F/g at 5 mV/s from cyclic voltammetry and 2179 F/g at 0.5 A/g from galvanostatic charge-discharge (GCD)), representing a 110% and 62% improvement over pure MoS2, respectively. This enhancement was attributed to an ~200% increase in electrochemically active surface area (ECSA) and ion diffusion rate, as well as the phase transition to 1T/2H. The material also demonstrated excellent cycling stability, retaining 95% of its initial capacitance after 1000 GCD cycles. Kinetic analysis revealed that Mn-doped MoS2 predominantly stores charge via a pseudocapacitive mechanism, which involves Na+ ion intercalation and physisorption on the surface of MoS2 nanoflowers, coupled with Faradaic redox charge transfer. The Na+ ion diffusion coefficient was estimated to be on the order of 10-9 cm²/s, while the charge transfer resistance exhibited a decreasing trend with increasing Mn content. A symmetric supercapacitor device based on 4%Mn-MoS2/CC and a polyvinil alcohol (PVA)/Na2SO4 gel polymer electrolyte was success"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rainudy Deswanto Atmoko
"Kebakaran menghasilkan asap dan gas beracun, diantaranya gas CO, CO2, dan senyawa organic lainnya. Gas CO yang dihasilkan dari kasus kebakaran yang cukup tinggi masih menjadi salah satu permasalahan yang harus diselesaikan, mengingat seringnya terjadi peristiwa kebakaran. Potensi kematian akibat keracunan gas, termasuk CO, semakin meningkat. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu penelitian agar tingkat racun asap kebekaran dapat diminimalisasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi kadar CO dan menjernihkan asap kebakaran menggunakan karbon aktif batubara termodifikasi TiO2. Hasil uji BET menunjukan peningkatan luas pemukaan dari 932.04 m2/gram untuk karbon aktif menjadi 960.296 m2/gram setalah termodifikasi TiO2. Karbon aktif ? TiO2 dengan ukuran 200 mesh dan massa 3 gram memiliki penurunan konsentrasi CO sebesar 207 ppm, % adsorpsi CO yang paling tinggi ( 6.18 %) dan nilai t10 yang paling baik.

Fire produces smoke and toxic gases, including CO, CO2, and other organic compounds. CO gas that produced from the case of fire still become the one of the problems that should be completed, given the frequent occurrence of fire events. Death potential from gas poisoning, including CO, are increasing. Therefore it is necessary for a study that the toxicity of fire smoke can be minimized. The study was undertaken to reduce the levels of CO and smoke fire purification using coal activated carbon modified TiO2. The test results showed an increase in BET Surface area of activated carbon 932.04 m2/gram to be 960 296 m2/gram After modified TiO2. Activated carbon - TiO2 with 200 mesh size and mass of 3 grams have decreased concentrations of CO is 207 ppm, the highest % CO adsorption (6.18%) and the best value of t10.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43415
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Prasetyo
"Penelitian ini membuat karbon aktif dari limbah kulit kopi karena sampai saat ini pemanfaatan limbah kulit kopi belum maksimum. Aktivasi yang digunakan adalah aktivasi kimia menggunakan Kalium Karbonat karena berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, luas permukaan yang dihasilkan dapat bersaing dengan activating agent lain. Variasi yang dilakukan adalah variasi rasio massa activating agent/massa bahan baku 1/1, 3/2, dan 2/1 dan variasi suhu 600°C, 700°C, dan 800°C. Luas permukaan diperoleh dari konversi bilangan iod dengan hasil tertinggi adalah 891 m2/gram yang didapatkan dari suhu aktivasi 800°C dan rasio impregnasi 3/2. Sebagai pembanding, luas permukaan yang diperoleh dari aktivasi fisika menggunakan CO2 adalah 176 m2/gram.

This research aims to produce activated carbon from coffee shell waste due to utilization of coffee shell waste that far from maximum. Activation that will be used in this research is chemical activation using Potassium Carbonate because in previous researches show that surface area obtained by this activating agent can compete with other activating agent. The variation in this research is impregnation ratio and temperature. The impregnation ratio is 1/1, 3/2, and 2/1 while the temperature variation is 600°C, 700°C, and 800°C. The surface area is obtained by conversion of iod number with the highest result is 891 m2/gram which produced at temperature 800°C and impregnation ratio 3/2. Physical activation using CO2 is done for comparison and obtains surface area 176 m2/gram."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S54822
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>