Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Idecia Amely
"Reduksi selektif merupakan chemical treatment yang mereduksi nikel secara selektif dan mencegah konversi material penganggu. Banyak indikator yang mempengaruhi efektivitas reduksi, salah satunya adalah basisitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis reduktor yang tepat berdasarkan stoikiometri dan pengaruh basisitas dengan penambahan CaO berdasarkan basisitas ternary. Bijih nikel laterit jenis limonit, aditif Na2SO4, dan reduktor batu bara bituminous 0,71%S dengan variasi stoikiometri 0,1-0,5 digerus dan dibentuk menjadi pellet berukuran 10-15mm. Proses reduksi dilakukan pada suhu 1150℃ dengan waktu tahan 60 menit di muffle furnace. Selanjutnya dilakukan pemisahan magnetik dan karakterisasi dengan XRF, XRD, OM. Dilakukan pencampuran bahan baku dengan CaO berdasarkan basisitas ternary B 0,1-1,0. Metode dan karakterisasi yang diterapkan sama dengan uji stoikiometri reduktor. Hasil pengujian menunjukkan stoikiometri 0,1 merupakan stoikiometri optimal. Reduktor stoikiometri 0,1 menghasilkan nikel dengan kadar 5,88% dan recovery 88,71% sedangkan besi memiliki kadar 77,06% dan recovery 33,45%. Recovery besi yang rendah mengindikasikan selektifitas reduksi terhadap nikel. Seiring meningkatnya stoikiometri reduktor kadar nikel cenderung mengalami penurunan dan terbentuk senyawa fayalit. Basisitas 0,1 adalah basisitas optimal yang menghasilkan kadar nikel 6,082% dan recovery 88,83%, besi kadar 83,779% dan recovery 40,76%. Penambahan CaO yang berlebih mengakibatkan terbentuknya senyawa kalsium silikat.

Selective reduction is a chemical treatment that reduces nickel selectively and prevents transformation of confounding material. Many indicators affect the effectiveness of reduction, one of which is basicity. This study aims to decide the correct reducing agent dosage based on stoichiometry and the effect of basicity with the addition of CaO based on ternary basicity. Limonite nickel laterite ore, Na2SO4, and 0.71% S bituminous coal with stoichiometric variations of 0.1-0.5 are crushed and formed into 10-15mm pellets. The reduction process is carried out at a temperature of 1150 ℃ with a holding time of 60 minutes in the muffle furnace. Then the magnetic separation and characterization with XRF, XRD, OM were carried out. The raw material is mixed with CaO based on ternary basicity B 0.1-1.0. The method and characterization applied are the same as the reductor stoichiometry test. The results show that stoichiometry 0.1 is optimal stoichiometry and produces nickel with a grade of 5.88% and recovery of 88.71% while iron grade is 77.06% and recovery of 33.45% . Low iron recovery indicates nickel selective reduction, as stoichiometry increases the nickel grade tends to decrease and fayalite compounds are formed. Basicity 0.1 is the optimal basicity produces 6.082% nickel grade and 88.83% recovery, 83.777% iron grade and 40.76% recovery. Excessive addition of CaO results in the formation of calcium silicate compounds."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maryati
"Besi merupakan logam penting terutama karena perannya dalam
pengangkutan oksigen (hemoglobin). MobillsasI besi membutuhkan suatu
bentuk kompleks dengan molekul biologis seperti ferrltin, transferrin dan
asam sltrat. Keterlibatan asam sitrat dibuktikan pada tanaman Rhizospere
yang mengeiuarkan asam sitrat untuk mengekstrak besi dan pada E.coli
yang mempunyai protein membran yang mampu mengenali dan mentransfer
ferri-sitrat.
Pada penelitian ini disintesis kompleks ferri-sitrat dengan variasi
counter-ion (piridin dan 2,9 dimetil 1,10 fenantrolin atau neocuproine) dan
dikarakterisasi dengan spektroskopi IR dan UV-Vis. Sintesis dilakukan dalam
aquademin dengan perbandingan mol yang sama dari.ferri-nitrat, natriumsitrat
dan couter-ion. Sintesis menghasilkan kristal seeding berwarna kuning
kehijauan (83%) dan kristal residu berwarna coklat kekuningan (116%)
f
dengan counter-ion berturut-turut piridin dan neocuproine. Penentuan kadar
Fe pada kristal dengan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) menghasilkan
persen berat Fe-kristal 14,16 untuk kompleks ferri-sitrat-piridin dan 7,52
untuk kompleks ferri-sitrat-neocuproine. Analisis struktur kristal dengan
difraktometer sinar-X menyatakan keberadaan Fe304 dan NaNOa pada
kristal residu, sementara struktur yang lain (Fe202 dan FesOis) tidak bisa
disimpulkan keberadaannya dengan bank data mineral yang dipakai. Pembentukan kompleks pada spektra IR ditandai dengan pergeseran
vibrasi CO karboksilat dan alkohol dari sitrat. Pergeseran vibrasi C-0
karboksilat menyebabkan jarak pisah kedua uluran C-0 makin besar
sementara vibrasi C-0 alkohol bergeser ke bilangan gelombang yang lebih
, rendah. Selain itu, pada kompleks muncul vibrasi ulur Fe-0 dan Fe-0H2
pada daerah 300-600 cm"\ Counter-ion yang terprotonasi menampakkan
vibrasi ulur N-H pada 3400 cm"\
Spektra UV kompleks didominasi oleh serapan counter-ion dan
perpindahan muatan ferri atau Fe(lll). Spektra pada daerah Visible
memperlihatkan sebuah bahu pada 475 nm yang mengalami pergeseran
hipsokromik ke panjang gelombang (;.) yang lebih kecil dibanding pada
Fe(iil) bebas.
Nilai stoikiometri kompleks yang didapat dengan titrasi perbandingan
mol yaitu perbandingan mol Fe/sitrat 1,1 pada X 449,5 nm dan 490.4 nm
untuk kompleks ferri-sitrat-piridin dan 1,16 pada 467,3 nm dan 1,15 pada
449,5 nm untuk kompleks ferri-sitrat-neocuproine"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2003
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library