Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 23 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andar Trianto
"[Lapangan “X” merupakan lapangan gas terbesar di delta mahakam dengan luas area permukaan yang mancapai 1350km2 dan total akumulasi gas terproduksi mencapai 8 tcf sejak tahun 1990 hingga saat ini. Penurunan produksi yang cukup tajam melatarbelakangi
pengembangan gas di zona dangkal (shallow gas). Sedimen pada zona dangkal ini tersusun oleh endapan deltaik berumur Miosen Atas – Pliosen dengan batupasir sebagai batuan reservoar utama. Keberadaan fluida gas pada batupasir akan berdampak pada penurunan kecepatan gelombang
P dan densitas batuan sehingga memberikan kontras impendansi akustik yang kuat terhadap
lapisan shale. Kontras impedansi akustik ini terlihat sebagai anomali amplitudo (brightspot)
pada seismik. Adanya kenaikan nilai amplitudo seiring dengan bertambah besarnya sudut
datang menjadi hal yang menarik dalam interpretasi shallow gas ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan shallow gas di lapangan “X”
menggunakan atribut AVO Sismofacies dengan 2 sumur yang dijadikan referensi untuk
pemodelan synthetic AVO. Penulis menggunakan 2 sumur lainnya sebagai kalibrasi terhadap
anomali AVO dari Sismofacies cube yang dihasilkan.
Metode AVO sismofacies ini tidak menggunakan parameter intercept (A) dan gradient (B)
untuk kalkulasi AVO melainkan menggunakan dua data substack yaitu Near dan Far stack.
Crossplot antara Near dan Far pada zona water bearing sand dan shale diambil untuk
mendapatkan background trend sehingga anomali yang berada diluar trend tersebut dapat
diinterpretasikan sebagai gas sand.
Hasil dari analisis AVO Sismofacies ini cukup baik dan menunjukkan kesesuaian dengan
interpretasi gas di beberapa sumur dan efek Coal berkurang jika dibandingkan Far stack.
Meskipun demikian interpretasi AVO ini sebaiknya diintergrasikan dengan analisis dari
atribut seismik lainnya untuk memperkuat interpretasi;Field “X” is a giant gas field in mahakam delta which cover 1350km2 of the area with total
cummulative gas production has reached 8 tcf since 1990 to recently. A significant
decreasing of gas production has led to produce gas accumulation in shallow zone as an
effort to fight againts this decline. Shallow zone is a deltaic sediments which deposited
during Upper Miocen to Pliocene with dominant reservoir is sandstone.
The presence of gas in sandstone has an impact on decreasing of velocity P as well as density
which giving a contrast of acoustic impedance to the overlaying shale. Contrast of
impedance can be observes in seismic as an amplitude anomaly or so called a brightspot. An
increase of amplitude along the offset become more interesting in shallow gas interpretation.
The aim of this study is to detect shallow gas accumulation di field “X” by using AVO
Sismofacies attribute with 2 wells as references to model respons of AVO. The result of
AVO sismofacies will be a cube and the interpreation will be calibrated with 2 existing wells
containing proven gas bearing sands.
AVO Sismofacies method will introduce Near and Far substack to be used in the calculation
instead of using common AVO paramter intecepth (A) and gradient (B). A crossplot between
substacks will create a background trend from water bearing zone and shale hence any
outliers can, then,be interpreted as gas anomaly.
AVO Sismofacies result is encouraging and some of AVO anomaly has been well calibrated
with existing wells. Coal effect which led to misintepretaion in shallow gas sand is
diminished compared to Far stack. Despite of this result, this anomaly interpretation need to
be intergrated with anothers seismic attribute to gain the level of confidence for shallow gas
interpretation., Field “X” is a giant gas field in mahakam delta which cover 1350km2 of the area with total
cummulative gas production has reached 8 tcf since 1990 to recently. A significant
decreasing of gas production has led to produce gas accumulation in shallow zone as an
effort to fight againts this decline. Shallow zone is a deltaic sediments which deposited
during Upper Miocen to Pliocene with dominant reservoir is sandstone.
The presence of gas in sandstone has an impact on decreasing of velocity P as well as density
which giving a contrast of acoustic impedance to the overlaying shale. Contrast of
impedance can be observes in seismic as an amplitude anomaly or so called a brightspot. An
increase of amplitude along the offset become more interesting in shallow gas interpretation.
The aim of this study is to detect shallow gas accumulation di field “X” by using AVO
Sismofacies attribute with 2 wells as references to model respons of AVO. The result of
AVO sismofacies will be a cube and the interpreation will be calibrated with 2 existing wells
containing proven gas bearing sands.
AVO Sismofacies method will introduce Near and Far substack to be used in the calculation
instead of using common AVO paramter intecepth (A) and gradient (B). A crossplot between
substacks will create a background trend from water bearing zone and shale hence any
outliers can, then,be interpreted as gas anomaly.
AVO Sismofacies result is encouraging and some of AVO anomaly has been well calibrated
with existing wells. Coal effect which led to misintepretaion in shallow gas sand is
diminished compared to Far stack. Despite of this result, this anomaly interpretation need to
be intergrated with anothers seismic attribute to gain the level of confidence for shallow gas
interpretation.]"
Universitas Indonesia, 2015
T44237
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Sugeng Rahardjo
"Recharges simulation on groundwater in Depok : Paved areas extension were analysed by pricipal component analysis and canonical correlation analysis.The result indicated that urbanization, especially in the commercial region, are increasing in Depok. According to the simulation on dynamic model. It is known that the carrying capacity of shallow groundwater will besustain five up to 10 years letter, if urban land use could be controllied become 73.79 percent of the Depok's spatial palnning 2010"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
SAIN-7-1-2002-31
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nacorda, Hildie Maria
Leiden: CRC Press/Balkema, 2008
577.694 NAC b
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
"Komponen pasang surut (pasut) perairan dangkal sangat penting dalam meningkatkan
ketelitian prediksi yang digunakan bagi kepentingan pelabuhan, transportasi laut,
industri perikanan, rekayasa pantai (coastal engineering), dan lain-lain. Pada penelitian
ini, komponen pasut perairan dangkal diperoleh dari analisis harmonik hasil model
kanal 1 dimensi (12 grid) dengan menggunakan asimilasi data variasional (data pada
grid 3 dan 8). Dua komponen pasut dengan frekuensi σ1 = 1,4x10-4
dan σ2 = 1,6x10-4
rad/det sebagai gaya pembangkit domain model. Hasil analisis harmonik untuk
memisahkan amplitudo kecepatan komponen pasut parsial (σ1 dan σ2) dan komponen
pasut perairan dangkal yang dominan (over- dan compound tides σ3 = 2σ1-σ, dan σ4 =
3σ1), secara umum diperoleh solusi ?yang akan diperbaiki? dapat ditingkatkan secara
signifikan. Deviasi antara nilai solusi ?yang akan diperbaiki? dengan solusi ?acuan?
(Root mean square) komponen pasut σ1 antara hasil model ?yang akan diperbaiki?
dengan hasil model ?acuan? tanpa asimilasi adalah 0,1075 m/det dan σ2 adalah 0,0440
m/det. Akan tetapi, hasil root mean square setelah diterapkan asimilasi data untuk σ1
adalah 0,0000 m/det dan untuk σ2 adalah 0,0002 m/det. "
620 JITK 3:1 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Hamid
"Pembangunan kota Jakarta yang semakin pesat mengakibatkan kebutuhan air bersih menjadi semakin meningkat. Produksi Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya yang masih sangat terbatas (sekitar 60%) belum dapat memenuhi kebutuhan pengguna/pemakai air baik untuk dornestik maupun komersil. Hal ini menyebabkan pemanfaatan airtanah menjadi semakin besar dan tidak terkendali.
Suatu perkiraan keseimbangan airtanah di Jakarta, oleh Bank Dunia (1990) menyebabkan bahwa konsumsi air dari sumur dangkal sebesar 200 juta m3 per tahun dan sumur bor sebesar 95 juta m3 per tahun, sedangkan resapan air hanya sebesar 114 juta m3 per tahun. Dengan demikian terjadi ketidakseimbangan antara pengambilan dengan ketersediaan air, yaitu terdapat kekurangan sebesar 181 juta m3 air resapan per tahun. Perhitungan ini mengindikasikan bila konsumsi air terus seperti sekarang, maka ketersediaan airtanah di Jakarta hanya cukup untuk 10 tahun lagi.
Pesatnya laju penggunaan airtanah yang berlebihan atau tidak terkendali ini, akan berdarnpak bagi kawasan Jakarta, seperti penurunan muka airtanah, intrusilpenyusupan air lautlasin, dan penurunan permukaan tanah atau amblesan. Instrusi/penyusupan air asin menyebabkan kualitas airtanah menjadi terkontaminasi sehingga berubah dari tawar menjadi payau sampai asin. Untuk itu perlu segera diantisipasi terjadinya perluasan wilayah sebaran intrusi air asin di Jakarta, antara lain dengan mengetahul kondisi lingkungan wilayah sebaran intrusi air asin tersebut baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka secara khusus dapat dirumuskan masalahnya, yaitu:
1. Di wilayah mana terdapat airtanah dangkal yang terintrusi air asin di wilayah Jakarta.
2. Bagaimana kondisi lingkungan pada wilayah airtanah dangkal yang terintrusi air asin di wilayah Jakarta.
Tujuan yang ingin dicapai dalam tesis ini adalah:
1. Untuk mengetahui wilayah airtanah dangkal yang terintrusi air asin di wilayah Jakarta
2. Untuk mengetahui kondisi lingkungan pada wilayah airtanah dangkal yang terintrusi air asin di wilayah Jakarta.
Hipotesis: Airtanah dangkal yang terintrusi air asin di Jakarta terdapat di wilayah dengan kondisi lingkungan (1) curah hujan yang kering, (2) sifat fisik tanah dan batuan yang lambat menyeraplmeiuluskan air, (3) letaknya dekat dengan pantai, (4) muka airtanah berada di bawah laut, (5) luas lahan terbangunnya tinggi, (6) penduduknya padat.
Metode Penefitian:
1. Kriteria Tingkat Keasinan Airtanah
Dalam menganalisis intrusi air asin dengan pendekatan kualitas airtanah digunakan klasifikasi keasinan airtanah Jakarta yang telah disepakati oleh Panitia Ad Hoc Intrusi Air Asin (PAHIAA) di Jakarta pada tahun 1986 oleh beberapa instansi terkait, seperti Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Lembaga Geoteknologi LIPI, PAM Jaya dan Puslitbang Pengairan. Adapun kriteria tersebut adalah Daya Hantar Listrik (DHL) air tawar (< 1500 umhos/cm), air agak payau (>1500 - < 5000 umhos/cm), air payau (> 5000 - < 15000 umhos/cm), air asin (> 15000 - < 50000 umhos/cm), brine (> 50000 umhos/cm), dan Klorida air tawar (< 500 mg/l), air agak payau (> 500 - < 2000 mg/l), air payau (> 2000 - 5000 mg/l), air asin (> 5000 - 19000 mg/l), brine (> 19000 mg/l).
2. Metode korelasi peta (Overlay peta) merupakan metode dengan melakukan pertampalan peta, dalam hal ini peta wilayah intrusi air asin dengan peta kondisi lingkungan di Jakarta. Hasil dari analisis tersebut dapat menjelaskan korelasi kondisi lingkungan yang ada pada wilayah airtanah dangkai yang terintrusi air asin.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah:
1. Wilayah airtanah dangkal yang terintrusi air asin tersebar di seluruh kecamatan pada bagian utara Jakarta, dan sebagian lagi berada di bagian barat dan timur Jakarta, serta di bagian tengah (pusat) Jakarta.
2. Kondisi Lingkungan fisik pada wilayah airtanah dangkal yang terintrusi air asin di Jakarta adalah: muka airtanah berada di bawah muka laut (< 0 dml), curah hujan yang kering ( < 1600 mm -1800 mm), sifat fisik tanah dan batuan kurang/lambat menyerap/meluluskan air (lempung, permeabilitas lambat, drainase terhambat, tekstur flatus), letaknya dekat dari pantai Sedangkan kondisi lingkungan binaan dan Iingkungan sosiat pada wilayah airtanah dangkal yang terintrusi air asin sebagian besar luas lahan terbangunnya sangat luas (> 80%) dan penduduknya kurang padat (< 12.385 jiwa/km2) sampai sangat padat (> 41.117 jiwa/km2).
Berdasarkan data dan kesimpulan tersebut di atas, maka penggunaan airtanah di Jakarta khususnya airtanah dangkal yang sangat tinggi terutama di dalam menunjang aktivitas kehidupan penduduknya perlu dilakukan upaya-upaya pengendalian, penghematan dan pemantauan. Jika kondisi ini terus berlangsung akan memberikan dampak terhadap ketersediaan dan ketersinambungan sumberdaya air di Jakarta. Untuk perlu dilakukan beberapa langkah yang dapat menjaga kelestarian airtanah dan terpenuhinya kebutuhan penduduk akan air bersih, antara lain melalui :
1. Pengendalian penggunaan airtanah dengan melaksanakan penghematan atau membatasi penggunaan airtanah, seperti:
- Meningkatkan kemampuan PAM Jaya untuk dapat melayani kebutuhan air bersih penduduk dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat
- Menjadikan airtanah sebagai komoditi ekonomi yang bernilai tinggi, sehingga bukan lagi sebagai barang yang gratis.
2. Pemantauan terhadap penggunaan airtanah harus dilakukan oleh semua pihak yang terkait baik masyarkat, dunia usaha dan pemerintah, sehingga semuanya menyadari pentingnya fungsi, peran dan keberadaan airtanah.
3. Penetapan zona konservasi airtanah yang membagi Jakarta ke dalam wilayah-wilayah yang boleh, boleh tetapi dengan perlakuan khusus, dan tidak boleh dimanfaatkan airtanahnya, merupakan suatu yang sangat tepat, Tetapi dalam pelaksanaannya perlu dibarengi dengan disiplin, sanksi dan peraturan yang mengikat semua pihak dan aspek kehidupan.
4. Pemberlakuan yang lebih ketat dan tegas terhadap Keputusan Gubernur No. 17 Tahun 1992 tentang pembuatan sumur resapan. Walaupun pemberlakuan keputusan tersebut baru pada tahun 1992 dan ditujukan pada pemohon ijin Mendirikan Bangunan (IMB), tetapi hendaknya pada rumah-rumah yang telah dibangun sebelum tahun 1992 hendaknya terus dihimbau dan dipantau untuk dapat pula membuat sumur resapan atau melaksanakan penghijauan di halaman rumah atau daerah terbuka hijau dengan jenis tanaman yang mampu menyerap air.
5. Pengalihan fungsi lahan terbuka hijau atau lahan-lahan yang berfungsi sebagai daerah resapan air hendaknya tidak terjadi lagi, karena selain dapat menghambat proses peresapan air ke dalam tanah, juga dapat meningkatkan penguapan air dan memperbesar air larian.
6. Penyuluhan akan pentingnya arti dan peran keberadaan airtanah sebagai bagian dari siklus hidrologi, sehingga penggunaannya harus dihemat, efektif dan efisien dapat dilakukan meialui lembaga-lembaga sosial masyarakat, sekolah, Ulama, dan pertemuan-pertemuan yang sifatnya informal yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat.

The ever rapid development of Jakarta resulted in an ever Increasing water need. The limited product of Municipal Water Works (PAM) Jaya cannot fully meet the requirement of water users for domestic and commercial purposes only 60% is presently. That's why groundwater utility increase and became ever uncontrollable.
Balanced prediction of Jakarta groundwater by World Bank (1990) indicated that water consumption of shallow groundwater is 200 million m3 per year and deep well is 95 million m3 per year while water infiltration is only around 144 million per year. Hence, there is an imbalance between water consumption and water storage. There is a deficit of 181 million m3 of water that need to infiltrate and percolate per year. This calculation indicated that if water consumption continue to remain as it is to day, hence, the availability of groundwater storage in Jakarta will only be enough for ten more years.
The growth of groundwater uncontrolled use will have an impact on Jakarta area, like decreasing water table , salt water Intrusion, and subsidence of soil surface. Salt water intrusion contaminate groundwater and thus lowering the quality and change the taste of fresh water with the increase of groundwater usage therefore, the extent of salt water enrichment will grow.
Based on the above background, therefore the problem area of the research follows:
1. Which area contain salt water intrusion of shallow groundwater in Jakarta
2. How is the environmental condition in areas of shallow groundwater with intrusion by salt water.
Objectives of this study are:
1. To know the areas of shallow groundwater with intrusion by salt water in Jakarta
2. To know the environmental condition in areas of Jakarta with shallow groundwater where intrusion by salt water has occurred.
Hypothesis: Shallow groundwater intrusion by salt water in Jakarta was found in areas with the following environmental condition (1) dry rainfall, (2) physical characteristics of soil and rock that cannot absorb water, (3) situated near a beach, (4) the water table is below sea water level, (5) highest built up area, (6) high population density.
Research Methodology:
Groundwater salinity level criteria.
In analyzing salt water intrusion using groundwater quality as salt water classification as agreed by the ad hoc salt water intrusion committee (PAHIAA) in Jakarta 1986, such as The Directorate for Environment system geology, Institute of Geo technology (LIPI), Municipal Water Works (PAM) Jaya and Irrigation Research Center of the Public Work Department are: conductivity (DHL) fresh water (<1500 umhos/cm), fresh brackish (>1500 - <5000 umhos/cm), brackish (>5000 - <15000 umhoslcm), salty (>15000 - <50000 umhos/cm), brine (> 50000 umhos/cm), and chloride (CI) fresh water (< 500 mg/l), fresh brackish (> 500 - < 2000 mg/1), brackish (> 2000 - 5000 mg/l), salty (> 5000 - 19000 mg/l), brine (> 19000 mg/l).
Map correlation method (overlays) is a method that carry out map overlays which in this case is represented by a map of salt water intrusion area and a map of environmental condition in Jakarta. The result of analysis can clarify correlation of environmental condition in shallow groundwater area intrusion by salt water.
Conclusion : Based on the results and analysis therefore, the conclusions of this research are:
1. The Area of shallow groundwater intrusion by salt water covered all of the subdistric in north Jakarta, part of west and east Jakarta as well as central Jakarta.
2. The environmental condition of shallow groundwater intrusion by salt water is common around areas with physical environment containing water table below sea level (< 0 m), dry rainfall (< 1600 mm up to 1800 mm), physical characteristic of soil and rock that cannot absorbed water (clay, slow permeability, fine texture, poorly drainage), and near of the beach , human made environment: higher built up area (> 80%), and social environment : low population density (< 12.385 person! km2) to higher population density (> 41.117 person/ km2).
Based on the founding it could be concluded that groundwater use in Jakarta especially shallow groundwater to support peoples activity need to be controlled, economized and monitored. if this condition continue, then it would give an impact on storage and continued availability of Jakarta water resources. Therefore, several steps have to be taken to guard the preservation of groundwater and fulfillment of population water need, including:
1. Controlled, thrifty and efficient groundwater use or limited use such, as :
- To raise the ability of municipal water works (PAM) Jaya to expand the distribution networks to all people in Jakarta.
- To make groundwater an economic commodity of high value,
2. Monitoring of groundwater use has to be carried out by all parties such as the people, industry and government so that all realized the important function, role and storage of groundwater.
3. Establish a conservation zone dividing Jakarta in zones of permitted, zone of permitted with special activity and zone of unpermitted use of groundwater. In its realization, sanctions have to be enforced.
4. In accord with the decision number 17, 1992 about the construction of reabsorption well, even though valid since 1992 for permit applications of construction (1 M B) but it is hoped that it would be also valid for constructions before 1992 for constructions. Beside that to construct well absorption or carry out greening in the garden of the house or in open space area with vegetation can function as water absorption.
5. Land conversion of open space area should not occur anymore, because it cannot function as water absorption in soil but increasing evaporation and runoff instead.
6. Communication information and education on the important role of groundwater storage as part the hydrology cycle so that its efficient and effective use can be carried out through social institution, school, formal and informal leader.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"The technical performance of shallow groundwater irrigation schemes (SGWIS) might be able to be increased, either by improvement of pump operation management, improvement of the conveyance system, or improvement in the technology of irrigation application. The objective of this research is to develop sub-unit hydraulics criteria for designing drip irrigation within SGWIS that can ensure a high level of irrigation efficiency. The sub-unit hydraulics design criteria of drip irrigation have been developed in from of table , nomogram, as well as computer program, with parameters of diameter and length of manifold and lateral pipelines...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Salma Hayati Inda Robbi
"

Kerentanan airtanah dapat memberikan ukuran seberapa mudah zat pencemar di permukaan tanah mencapai akuifer. Sebagian besar masyarakat DAS Cijurey masih menggunakan airtanah sebagai sumber air utama. Sementara itu, lokasi tempat tinggal penduduk berada dekat dengan sawah sehingga airtanah yang digunakan berpotensi tercemar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola spasial kerentanan airtanah dangkal dan mengetahui hubungannya dengan konsentrasi nitrat di wilayah penelitian. Penelitian ini menggunakan model DRASTIC-LU dan VLDA. Kerentanan model DRASTIC-LU terbesar adalah dengan kerentanan sedang sebesar 42,62%. Kelas kerentanan VLDA terbesar adalah dengan kerentanan sedang sebesar 55,98%. Wilayah dengan kerentanan tinggi dan sangat tinggi menurut kedua model berada di wilayah permukiman dengan lereng landai (<12%). Model kerentanan DRASTIC-LU dan VLDA memiliki kesesuaian kelas kerentanan seluas 840,77 ha atau 54,31%. Konsentrasi nitrat di DAS Cijurey memiliki konsentrasi nol sampai 29,7 mg/L. Airtanah dengan konsentrasi di atas standar baku mutu berada di wilayah permukiman dan sawah. yang berasal dari limbah kotoran, sistem septik, dan pemupukan. Berdasarkan analisis regresi dari indeks DRASTIC-LU dan VLDA dengan konsentrasi nitrat, terdapat pengaruh signifikan antara indeks kerentanan terhadap konsentrasi nitrat. Indeks DRASTIC-LU mempengaruhi konsentrasi nitrat sebesar 56,37% dan VLDA mempengaruhi konsentrasi nitrat sebesar dan 33,62%.


Groundwater vulnerability provides a measure of how easily contaminants at ground level reach aquifers. Most Cijurey watershed communities still use groundwater as the main water source. However, the location of residence is near to the rice fields so that the groundwater used is potentially polluted. This study aims to determine the spatial pattern of shallow groundwater vulnerability and determine its relationship to nitrate concentrations. This study uses the DRASTIC-LU and VLDA models. The highest vulnerability of the DRASTIC-LU model is with a moderate vulnerability of 42.62%. The highest VLDA vulnerability class is with a moderate vulnerability of 55,98%. Areas with high and very high vulnerability according to both models are in the northern part of the Cijurey watershed which is a residential area with slopes of less than 12%. The DRASTIC-LU and VLDA vulnerability models have suitable vulnerability class of 840.77 ha or 54.31%. Nitrate concentrations in the Cijurey watershed have concentrations of zero to 29.7 mg / L. Groundwater with concentrations above the quality standard is in the residential and rice fields, which comes from sewage, septic, and fertilization systems. Based on the regression analysis, there is a significant influence between the vulnerability index on nitrate concentrations. DRASTIC-LU index affects the nitrate concentration by 56.37% and VLDA affects the nitrate concentration by 33.62%.

"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andriansyah
"ABSTRAK
Kegagalan lereng terjadi karena adanya ketidakstabilan gaya yang berlaku pada
suatu massa tanah atau batuan karena perubahan internal kohesi dan juga tekanan
air-pori yang dapat dipicu oleh gaya eksternal seperti curah hujan yang tinggi dan
kejadian gempabumi yang mengakibatkan gaya penahan lereng menjadi
berkurang dan lebih kecil dibandingkan dengan gaya pendorong longsor.
Penelitian ini melakukan analisis kestabilan lereng untuk kejadian longsor
dangkal, kedalaman permukaan longsor 3 meter, di platform sistem informasi
geografis (SIG) untuk cakupan regional di area persegi 8 km x 6 km Kecamatan
Karangkobar, Banjarnegara. Penelitian ini bersifat deterministik dengan
menggunakan metode infinite slope Jibson (2000). Data parameter tanah
ditentukan dari studi jenis batuan pada peta geologi, peta dasar topografi yang
digunakan adalah digital elevation model SRTM 1 arc-second dan data derajat
saturasi tanah diasumsikan seragam untuk semua grid di area studi. Nilai faktor
keamanan dianalisis pada keadaan completely dry dan completely saturated. Pada
keadaan completely saturated, titik kejadian longsor Desember 2014 memiliki
nilai faktor keamanan 1.3, angka yang relatif stabil. Hasil ini mendukung hipotesis
bahwa ada kecenderungan over-estimated nilai faktor keamanan ketika
menggunakan data topografi berresolusi rendah. Analisis kestabilan lereng
dilanjutkan untuk pengaruh beban gempa dengan menggunakan dua data
percepatan tanah puncak dari skenario gempa patahan lokal di dekat Karangkobar
dan gempa zona subduksi di selatan Pulau Jawa. Dari kedua gempa ini, skenario
gempa patahan lokal memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi terhadap
kestabilan lereng karena dapat menghasilkan percepatan tanah puncak yang
melewati percepatan ambang lereng di area studi baik pada kondisi completely dry
dan completely saturated.

ABSTRACT
Slope failure occurred when the force equilibrium in the earth mass is unstable
due to the change in internal cohesion and pore water pressure triggerred by
rainfall or earthquake so the available shear strength for stability is less than shear
strength required. This thesis focused on shallow landslide or 3 meter maximum
depth landslide, analyzed on the geographical information system platform for
regional scope in the 8 km x 6 km rectangular in the Karangkobar, Banjarnegara.
The deterministic scenario used with implementation of infinite slope stability
method from Jibson (2000). The soil parameters determined from study on
geological formation, the topographical base map used was the digital elevation
model from SRTM 1 arc-second and the slope’s saturation level assumed
homogen for all the grid on the study area. The factor of safety analyzed for
complete dry and complete saturated condition. It was calculated that the factor of
safety value on the slope that failure in landslide event on December 2014 is 1.3,
relatively stable factor of safety. This result in-line with hypothesis that the low
resolution topographical data drive to over-estimated factor of safety resulted.
This thesis also conduct an analysis for slope stablity due to earthquake load. Two
set of peak ground acceleration (pga) data was generated for earthquake from
local fault near Karangkobar and for earthquake from subduction zone in the
south of Java. From the simulation, it was found that the slope on the study area
are more vulnerable due to effect from local earthquake compared to subduction
earthquake since the pga generated from local earthquake is higher than the yield
acceleration of the slope in both dry and saturated condition;"
2015
T43791
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>