Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 30 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fadhil Muhammad
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pelaporan segmen operasi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), faktor-faktor dari karakteristik perusahaan yang mempengaruhi, dan dampaknya terhadap biaya modal ekuitas. Penelitian ini menganalisis tingkat pelaporan segmen operasi pada tahun 2010 dan 2011 dari sampel 100 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa rata-rata tingkat pengungkapan informasi segmen perusahaan di BEI pada tahun 2010 dan 2011 bernilai 65% dari total pengungkapan yang diwajibkan oleh PSAK 5.
Berdasarkan hasil penelitian ini, ditemukan adanya pengungkapan informasi segmen yang lebih luas dari perusahaan yang besar, diaudit oleh KAP Big-4, memiliki tingkat kepemilikan publik yang tinggi, serta tingkat leverage dan likuiditas yang tinggi. Akan tetapi, penelitian ini belum dapat membuktikan adanya pengaruh yang signifikan pengungkapan informasi segmen terhadap biaya modal ekuitas.

The purpose of this study is to analyze the level of operating segment disclosure for firms listed in Indonesia Stock Exchange (BEI), the factors of firm`s characteristic that can influence their disclosure level, and the implication of segment disclosure to firm`s cost of equity capital. This study analyzes firm`s segment disclosure in year 2010 and 2011 from 100 sample of manufacturing firms that listed in BEI.
The results show that the average level of segment disclosure in sample firms in 2010 and 2011 was 65% from total mandatory disclosures based on PSAK 5. This study also finds that there are greater segment disclosures from larger firms, as well as firms audited by Big-4 Audit firm, firms that have more public sharesholders, highly leverage and highly liquidity. However, this study cannot find the evidence that segment disclosures can significantly influence BEI-firm`s cost of equity capital."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2013
S44753
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nahdiya Rahmah
"Antibiotik sebagai terapi infeksi bakteri berperan sangat besar dalam meningkatkan hasil pengobatan pasien. Selain dampak positif, antibiotik juga dapat menimbulkan permasalahan baru yaitu resistensi antibiotik. Pemerintah Indonesia melakukan strategi pengendalian resistensi antimikroba dengan cara  penggunaan antibiotik secara bijak dan meningkatkan ketaatan terhadap prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi. Evaluasi penggunaan antibiotik dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. WHO merekomendasikan Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) dan Defined Daily Dose (DDD) sebagai bentuk evaluasi penggunaan obat, khususnya antibiotik secara kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan antibiotik periode Januari-Maret 2023 di RSUP Fatmawati dengan metode ATC/DDD dan segmen DU90%. Data diperoleh dari resep obat yang dikumpulkan oleh Instalasi Sistem Rumah Sakit (ISIRS) RSUP Fatmawati dan data lama rawat inap pasien didapatkan dari laporan Tata Usaha (TU) Farmasi RSUP Fatmawati. Data kemudian diolah untuk mendapatkan nilai DDD per 100 hari rawat dan DDD per 100 hari rawat tiap antibiotik yang diurutkan dari data terbesar hingga terkecil. Data kemudian dihitung % kumulatif dan diklasifikasikan antibiotik yang termasuk segmen 90%. Hasil penelitian diperoleh 28 antibiotik yang memiliki kode ATC dan DDD digunakan di RSUP Fatmawati periode Januari-Maret 2023.Nilai total DDD/ 100 hari rawat inap antibiotik di RSUP Fatmawati sebesar 63,112 dan  levofloxacin merupakan antibiotik dengan nilai DDD/ 100 hari rawat inap tertinggi yaitu  30,181. Antibiotik yang termasuk dalam segmen DU90% adalah levofloxacin, ampisilin-sulbaktam, ciprofloxacin, azithromisin, cefexime, cefoperazone, clindamisin, sulfomethoxazole dan trimethoprim.

Antibiotics as a therapy for bacterial infections play a very large role in improving patient treatment outcomes. In addition to the positive impact, antibiotics can also cause new problems, namely antibiotic resistance. The Indonesian government has a strategy to control antimicrobial resistance by using antibiotics wisely and increasing adherence to the principles of infection prevention and control. Evaluation of antibiotic use can be done quantitatively and qualitatively. WHO recommends Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) and Defined Daily Dose (DDD) as a form of quantitative evaluation of drug use, especially antibiotics. This study aims to analyze the use of antibiotics for the period January-March 2023 at Fatmawati General Hospital using the ATC/DDD method and the DU90% segment. Data obtained from prescription drugs collected by the Hospital System Installation (ISIRS) of Fatmawati General Hospital and data on the length of hospitalization of patients obtained from the report of Administration (TU) Pharmacy of Fatmawati General Hospital. The data were then processed to obtain the value of DDD per 100 days of care and DDD per 100 days of care for each antibiotic sorted from the largest to the smallest data. The data then calculated the cumulative % and classified antibiotics that included 90% segment. The results obtained 28 antibiotics that have ATC codes and DDD used in Fatmawati General Hospital for the period January-March 2023. The total value of DDD / 100 days of antibiotic hospitalization at Fatmawati General Hospital is 63,112 and levofloxacin is an antibiotic with the highest DDD / 100 days of hospitalization value of 30,181. Antibiotics included in the DU90% segment are levofloxacin, ampicillin-sulbactam, ciprofloxacin, azithromycin, cefexime, cefoperazone, clindamycin, sulfomethoxazole and trimethoprim.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Pahala Batara P.P.
"ABSTRAK
Perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual adalah bagian yang penting dalam
pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di semua negara. Banyak hal yang
membuktikan bahwa dengan adanya perlindungan yang balk terhadap hak kekayaan
intelektual dari negara maka industri perangkat lunak dapat berkembang dengan baik. Hal ini
dapat terlihat di dalam pengurangan angka pengangguran dan peningkatan kekayaan negara
yang didapat dari sektor pajak. Walaupun demikian tidak banyak negara yang telah
memberìkan perlindungan yang memadai kepada industri ini. Hal ini disebabkan oleh banyak
hal, antara lain oleh kegagalan banyak negara lain untuk mensosiaiisasi dan menegakan
peraturan perundang-undangan untuk dipatuhi oleh segenap pelaku bisnis di wilayahnya.
Walaupun perlindingan atas HAKI secara jelas memberikan banyak keuntungan kepada
perekonomian suatu bangsa.
Proteksi terhadap perangkat lunak adalah lebib penting untuk negara-negara
berkembang karena industri perangkat lunak adalah salah satu bidang dimana pemain Iokal
dapat bersaing dengan pemain luar. Industri perangkat lunak tidak memerlukan akuisisi modal
kerja yang besar dari luar negeri. Bahkan sering kali pengusaha lokal dapat lebìh mengetahui
kebutuhan pasar lebih baik daripada pemain asing. Walaupun demikian tanpa adanya
perlindungan yang memadai terhadap hak kekayaan intelektual, pemain lokal akan
menemukan bahwa produk mereka dibajak dan mengurangi insentif bagi mereka untuk terus
berkreasi.
Perusahaan dalam karya akhir ini adalah suatu perusahaan yang terlibat di dalam
industri keamanan perangkat lunak. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sering dengan
semakin luasnya penggunaan perangkat lunak sebagai alat pembantu dalam berbagai
kelancaran proses usaha maka semakin sering pula terjadi pencurian terhadap kekayaan
intelektual ini. Industri keamanan perangkat lunak berkembang dan berusaha menjawab
tantangan tersebut. Namun seperti juga industri perangkat Iunak adalah industri yang masuk
kepada industri teknologi dengan segala kesulitan penilaiannya maka demikian juga dengan
industri keamanan perangkat lunak tersebut. Industri ini menggunakan teknologi paling baru
yang ada dan sering kali juga belum pasti nilai ekonomisnya. Pemain di dalam industri ini
dapat dikatakan banyak tetapi dengan produk maupun solusi yang sangat bervariasi dan
menawarkan solusi dengan berbagai macam teknologi yang sering kali belum pernah di uji
coba.
Indonesia menurut data yang ada adalah salah satu negara dengan tingkat pencurian
hak kekayaan intelektuai khususnya perarigkat lunak yang paling tinggi di dunia. Walaupun
industri perangkat lunak di Indonesia sangat sulit untuk diprediksi namun dengan kondisi
tersebut di atas seyogyanya industri ini memberi angka penjualan yang baik di Indonesia.
Penelitian ini mencoba menganalisa lingkungan jauh teknologi, industri, internal dan
segmen konsumen produk kunci perangkat keras perusahaan dengan harapan dapat
menentukan kebijakan operasional dan pilihan jenis produk yang tepat untuk segmen bisnis
kunci perangkat keras di PT. ACP
Hasil-hasi! yang diharapkan dari penelitian ini akan menjadi masukan bagi perusahaan
untuk memperbaiki kebijakan-kebijakan operasi intemalnya berkenaan dengan pasar dan jenis
produk tersebut di segmen bisnis ini.
;ABSTRAK
Perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual adalah bagian yang penting dalam
pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di semua negara. Banyak hal yang
membuktikan bahwa dengan adanya perlindungan yang balk terhadap hak kekayaan
intelektual dari negara maka industri perangkat lunak dapat berkembang dengan baik. Hal ini
dapat terlihat di dalam pengurangan angka pengangguran dan peningkatan kekayaan negara
yang didapat dari sektor pajak. Walaupun demikian tidak banyak negara yang telah
memberìkan perlindungan yang memadai kepada industri ini. Hal ini disebabkan oleh banyak
hal, antara lain oleh kegagalan banyak negara lain untuk mensosiaiisasi dan menegakan
peraturan perundang-undangan untuk dipatuhi oleh segenap pelaku bisnis di wilayahnya.
Walaupun perlindingan atas HAKI secara jelas memberikan banyak keuntungan kepada
perekonomian suatu bangsa.
Proteksi terhadap perangkat lunak adalah lebib penting untuk negara-negara
berkembang karena industri perangkat lunak adalah salah satu bidang dimana pemain Iokal
dapat bersaing dengan pemain luar. Industri perangkat lunak tidak memerlukan akuisisi modal
kerja yang besar dari luar negeri. Bahkan sering kali pengusaha lokal dapat lebìh mengetahui
kebutuhan pasar lebih baik daripada pemain asing. Walaupun demikian tanpa adanya
perlindungan yang memadai terhadap hak kekayaan intelektual, pemain lokal akan
menemukan bahwa produk mereka dibajak dan mengurangi insentif bagi mereka untuk terus
berkreasi.
Perusahaan dalam karya akhir ini adalah suatu perusahaan yang terlibat di dalam
industri keamanan perangkat lunak. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sering dengan
semakin luasnya penggunaan perangkat lunak sebagai alat pembantu dalam berbagai
kelancaran proses usaha maka semakin sering pula terjadi pencurian terhadap kekayaan
intelektual ini. Industri keamanan perangkat lunak berkembang dan berusaha menjawab
tantangan tersebut. Namun seperti juga industri perangkat Iunak adalah industri yang masuk
kepada industri teknologi dengan segala kesulitan penilaiannya maka demikian juga dengan
industri keamanan perangkat lunak tersebut. Industri ini menggunakan teknologi paling baru
yang ada dan sering kali juga belum pasti nilai ekonomisnya. Pemain di dalam industri ini
dapat dikatakan banyak tetapi dengan produk maupun solusi yang sangat bervariasi dan
menawarkan solusi dengan berbagai macam teknologi yang sering kali belum pernah di uji
coba.
Indonesia menurut data yang ada adalah salah satu negara dengan tingkat pencurian
hak kekayaan intelektuai khususnya perarigkat lunak yang paling tinggi di dunia. Walaupun
industri perangkat lunak di Indonesia sangat sulit untuk diprediksi namun dengan kondisi
tersebut di atas seyogyanya industri ini memberi angka penjualan yang baik di Indonesia.
Penelitian ini mencoba menganalisa lingkungan jauh teknologi, industri, internal dan
segmen konsumen produk kunci perangkat keras perusahaan dengan harapan dapat
menentukan kebijakan operasional dan pilihan jenis produk yang tepat untuk segmen bisnis
kunci perangkat keras di PT. ACP
Hasil-hasi! yang diharapkan dari penelitian ini akan menjadi masukan bagi perusahaan
untuk memperbaiki kebijakan-kebijakan operasi intemalnya berkenaan dengan pasar dan jenis
produk tersebut di segmen bisnis ini.
"
2002
T1145
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sinta Marito
"Sektor jasa telah menjadi industri yang berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir, salah satunya industri penerbangan. Perkembangan tersebut ditandai dengan banyak bermunculannya maskapai penerbangan bam. Tiap maskapai penerbangan saling bersaing untuk mendapatkan penumpang dan memperebutkan market share terbesar. Ditengah-tengah persaingan tersebut, peningkatan dan perbaikan kualitas sangat penting dilakukan untuk bisa mempertahankan konsumen lama dan menarik konsumen baru. Garuda Indonesia sebagai salah satu maskapai penerbangan nasional juga merasakan pentingnya hal tersebut.
Untuk mengukur kualitas pelayanan di PT Garuda Indonesia digunakan metode SERVQUAL yang diciptakan oleh Parasuraman, et al. Penelitian ini hanya difokuskan pada sam rute yaitu Jakarta-Surabaya, yang merupakan rute penerbangan domestik tersibuk di PT Garuda Indonesia Dalam penelitian ini juga dilakukan segmentasi, berdasarkan puas atau ndaknya penumpang terhadap kualitas pelayanan yang mereka rasakan, menggunakan analisis diskriminan.
Hasil dari penelitian ini rnenunjukkan bahwa kualitas pelayanan yang masih berada di bawah ekspektasi penumpang adalah dimensi reliability responsiveness, dan rangibles, dengan gap sebesar -0,09, -0,08, dan -0,02. Sedangkan kualitas pelayanan pada dimensi empathy dan assurance memiliki gap positif yaitu 0,00 dan 0,07. Hasil segmentasi penumpang menunjukkan bahwa variabel yang paling membedakan (the most discriminates) antara penumpang yang puas dan tidak puas adalah variabel atribut pelayanan dan bukan demografi penumpang.

The service sector has become the major growth industry dining the last few decades, with the airline industry as one of them. The growth of airline industry was shown with the emergence of many new airlines. Each airline was competing to get as many passengers as possible and the biggest market share. To win the competition, those companies must also consider improving and developing the service quality, so they can retain their passengers and gain new passengers. As one of the national airlines in Indonesia, Garuda Indonesia has also regarded the sen/ice quality as an important aspect.
This paper uses SERVQUAL, which was created by Parasuraman, et. al-, to measure service quality of Garuda Indonesia. This research focused on one route, Jakarta-Surabaya, which is the busiest domestic route in Gamda Indonesia. Segmentation in this research is based on passengers’ satisfaction, concerning service quality that they had received, using discriminant analysis.
The results of this research show that the service quality perceptions in reliability, responsiveness and tangibles dimensions are lower that the expected service quality. The gaps are -0.09, -0.08, and -0.02. On the other side, service quality perceptions in empathy and assurance dimensions have positive gaps, which are 0,00 and 0.07. The segmentation results show that the most discriminating variable between satisfied and unsatisfied passengers is the service quality attribute, not the passengers’ demography.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pangkey, Ferni
"Saat ini telah terjadi perubahan paradigma di bidang kesebatan, yang berawal dari paradigma sakit menekankan pada aspek kuratif menjadi paradigma sehat dengan titik berat pada pelayanan promotif dan preventif. Unit Uji Kesehatan sebagai salah satu unit yang ada dalam Pelayanan Kesebatan St. Carolus adalah unit yang juga dipersiapkan untuk perubaban paradigma yang ada. Pelayanan Kesehatan St. Carolus (PKSC) yang telah lama berkecimpung di sektor jasa juga merasakan pengaruh tingkat kompetisi dalam melayani pasar pelayanan kesehatan. Hal ini mengbaruskan PKSC untuk jeli melibat pasar yang ada dengan tujuan menjawab situasi pasar. Salah satunya melaknkan analisis segmen, target dan positioning dari unit ujikes sehingga bisa diketabui segmen, target dan positioning deri unit Ujikes PKSC. Penelitian dilakukan terhadap responden yang berasal dari poli spesialis PKSC dengan asumsi behwa dari gamharan pelanggan poli spesialis bisa diketahui segmen yang menggunakan PKSC dan mrget pasar yang akan dibidik oleh unit Ujikes. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan kuesioner pada tahapan segmentasi dan kualitatif dengan wawancara mendalam dalam menentukan target dan positioning dari Ujikes.

There has been changing in paradigm of health, beganwith sick paradigm which curative aspects as focus, to health paradigm with promotion and preventive as focus.Medical check up is one of units in Pelayanan Kesehatan St. Carolus (PKSC) that bad been prepared to health paradigm. PKSC which has serve community health from long time ago, get the impact of high competition in health services.PKSC must aware of the market to answer this situation. One of the answer by doing analysis of segmentation, targeting and positioning private customer of PKSC medical check up unit to know the segment, target and positioning of this unit. This research takes respondent from visitors of PKSC specialist policlinics, with assume by knowing the segment of this unit we can have target of medical check unit. The research is quantitative by using questioner in segmentation and qualitative by doing depth interview to decide target and positioning of medical check up unit. From this research, we got segment of this uoit, by analysis demography, socioeconomic and psicography variables, are upper low and middle class of society. The positioning of PKSC medical unit is to give satisfaction by quality and good services. Advices for this unit are to make a product that focus to martenity and geriartri with competitive price, more active in promotion that can be doing by media such make consultation space in news paper. In the future} medical check up unit and the other support facility will focus in one service area to give easy access and comfortable for costumer."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2008
T21048
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Kurnia
"PT. Indonesia Comnets Plus sedang mencoba untuk berkecimpung di bisnis retail FTTH. Bisnis yang berjalan saat ini hanya fokus pada penjualan pelanggan segmen korporat. Dengan PT. Indonesia Comnets Plus terjun ke bisnis retail, diyakini dapat menjadi salah satu sumber pendapatan baru. Kabel fiber optik digelar melalui RoW tiang tumpu PLN menggunakan teknologi konvensional, dan banyak digunakan untuk pelanggan korporat. Sebagai alternatif dilakukan uji coba penggunaan teknologi GPON untuk pelanggan retail. Setelah dilakukan simulasi terhadap beberapa skenario model, diperoleh bahwa bisnis retail layak digunakan apabila dilakukan investasi pembangunan POP dan jaringan distribusi hingga tahun ke-4. Margin profit diperoleh pada tahun ke-5, dan NPV positif sebesar Rp 658,289,416,564. Dengan skenario instalasi dan material CPE dilakukan oleh operator lain dan set top box berasal dari subsidi pemerintah.

PT. Indonesia Comnets Plus is trying to engage in retail business FTTH. Businesses that run this time are only focus on selling at corporate customer segmen. With PT. Indonesia Comnets Plus plunge into the retail business, it is believed that it will be another source of new revenue. Fiber optic cable deployed through electrical pole Row PLN using conventional technology, and is widely used for corporate customers. GPON will be tested as an alternative technology and used for retail customers. After the simulation of several model scenarios, the result for the retail business fit for use if it worth for POP construction and distribution networks investment until the 4th year. Profit margin obtained in the 5th year and positive NPV amount Rp 658,289,416,564. With the installation scenarios and CPE material carried by other operators and set top box comes from government subsidies."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
T46737
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Astrid Larasati Gunarso
"ABSTRAK
Tujuan dari laporan ini adalah untuk secara kritis menganalisis tingkat kepatuhan terhadap AASB 8 Operating Segment di antara empat perusahaan, yaitu Computershare Limited CPU , Steadfast Group Limited SDF , Seven Group Holdings Limited SVW dan Slater Gordon Limited SGH , yang termasuk dalam industri bisnis yang berbeda dengan pendekatan mereka masing-masing terhadap peraturan tersebut.

ABSTRACT
The purpose of this report is to critically analyze the level of compliance towards AASB 8 Operating Segment among four companies, these being Computershare Limited CPU , Steadfast Group Limited SDF , Seven Group Holdings Limited SVW and Slater Gordon Limited SGH , as they belong to different business industries with different approach to the regulation. "
2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Kurnia
"PT. Indonesia Comnets Plus sedang mencoba untuk berkecimpung di bisnis retail FTTH. Bisnis yang berjalan saat ini hanya fokus pada penjualan pelanggan segmen korporat. Dengan PT. Indonesia Comnets Plus terjun ke bisnis retail, diyakini dapat menjadi salah satu sumber pendapatan baru. Kabel fiber optik digelar melalui RoW tiang tumpu PLN menggunakan teknologi konvensional, dan banyak digunakan untuk pelanggan korporat. Sebagai alternatif dilakukan uji coba penggunaan teknologi GPON untuk pelanggan retail. Setelah dilakukan simulasi terhadap beberapa skenario model, diperoleh bahwa bisnis retail layak digunakan apabila dilakukan investasi pembangunan POP dan jaringan distribusi hingga tahun ke-4. Margin profit diperoleh pada tahun ke-5, dan NPV positif sebesar Rp 658,289,416,564. Dengan skenario instalasi dan material CPE dilakukan oleh operator lain dan set top box berasal dari subsidi pemerintah.

PT. Indonesia Comnets Plus is trying to engage in retail business FTTH. Businesses that run this time are only focus on selling at corporate customer segmen. With PT. Indonesia Comnets Plus plunge into the retail business, it is believed that it will be another source of new revenue. Fiber optic cable deployed through electrical pole Row PLN using conventional technology, and is widely used for corporate customers. GPON will be tested as an alternative technology and used for retail customers. After the simulation of several model scenarios, the result for the retail business fit for use if it worth for POP construction and distribution networks investment until the 4th year. Profit margin obtained in the 5th year and positive NPV amount Rp 658,289,416,564. With the installation scenarios and CPE material carried by other operators and set top box comes from government subsidies"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Supardi
"RINGKASAN EKSEKUTIF
Ekspor mebel rotan mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama pada tahun 1986. Perkembangan tersebut disebabkan adanya larangan ekspor rotan asalan dan permintaan yang makin meningkat di luar negeri.
Berlimpahnya bahan baku rotan di Indonesia dan permintaan mebel-mebel rotan dari luar negeri yang semakin meningkat, telah mendorong PT BRIP untuk berpartisipasi dalam industri mebel rotan. Mebel rotan selain laku di luar negeri juga mempunyai nilai tambah yang sangat tinggi. Nilai tambah rotan yang dalam bentuk barang jadi mencapai 1900 % dari nilai rotan asalan.
Seiring dengan makin meningkatnya ekspor mebel rotan Indonesia, pabrik rotan juga mengalami perkembangan yang pesat dan telah mencapai ± 200 perusahaan pada saat ini.
Mebel rotan dianggap mempunyai potensi yang sangat besar di luar negeri karena meningkatnya konsumen yang menghendaki mebel yang terbuat dari bahan alamiah seperti kayu dan rotan. Permintaan barang rotan diproyeksi akan terus meningkat pada tahun-tahun yang akan datang dan diperkirakan mencapai US$ 645 juta pada tahun 1994.
Pasar utama mebel rotan Indonesia adalah Amerika, Jepang dan Eropa Barat. Pada tahun 1987 Jepang dan Amerika menyerap 67,8 % dari seluruh mebel rotan yang diekspor Indonesia.
Target Market PT BRIP adalah penduduk berumur setengah baya dan diatas 65 tahun di Jepang, Amerika dan Eropa. Mebel rotan yang dipasarkan ke negara tersebut diposisikan sebagai mebel rotan bermutu tinggi dengan harga relatif murah.
Perusahaan ini mendisain produknya menurut standar yang telah ditentukan atau menurut spesifikasi dari pembeli. Perubahan disain dapat dilakukan dengan cepat karena sifat industri mebel rotan yang padat karya. Perusahaan ini menerapkan strategi product adaptation.
Sasaran penentuan harga perusahaan ini ialah untuk mencapai pangsa pasar sebesar mungkin melalui harga yang bersaing. Metode penetapan harga yang diterapkan adalah Estimated Accounting Cost Method, sedangkan strateginya ialah Penetration pricing. Strategi ini dianggap tepat karena industri mebel rotan merupakan industri yang telah mature dan permintaannya bersifat inelastis.
Penawaran mebel rotan yang mampu menarik perhatian calon pembeli; penentuan saat dan target market yang tepat, sehingga mebel rotan dapat tersalurkan secara baik, cepat dan ekonomis, merupakan sasaran penyaluran/distribusi yang ingin dicapai.
Struktur distrbusi dari satu negara ke negara lainnya berbeda. Jepang mempunyai saluran distribusi yang sangat rumit. Struktur distribusi di Amerika, selain rumit juga fragmented. Oleh karena itu diperlukan saluran distribusi yang berbeda untuk kedua negara tersebut.
Hasil analisa menunjukkan bahwa strategi communication extension yang diterapkan sudah tidak sesuai lagi dengan kenyataan karena pasar berbeda dalam sifat sosial-budaya dan ekonomi. Masalah ini dapat diatasi dengan strategi communication adaptation. Konsekuensinya ialah diperlukannya pengetahuan pasar yang lebih mendalam dan koordinasi pasar yang lebih baik.
SWOT analisis menunjukkan perusahaan ini mempunyai peluang yang mampu mengatasi segala ancaman yang dihadapi. Selain itu segi-segi kekuatan yang dimiliki juga relatif lebih besar dibandingkan dengan segi-segi kelemahannya. Oleh karena itu, perusahaan dapat dibenarkan untuk menerapkan suatu strategi yang lebih agresif.
Strategi Marketing Mix yang diterapkan telah tepat dan telah mempertimbangkan target market serta product positioning. Keterkaitan antara variable marketing mix seperti produk, harga, saluran distribusi dan promosi sudah baik. Walaupun demikian upaya masih dapat ditingkatkan dengan lebih agresif degan menggunakan promosi secara selektif dan saluran distribusi yang lebih bervariasi dan disesuaikan dengan kondi.si setempat.
"
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yona Krisna Dewi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T25394
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>