Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mohammad Arief Widagdo
"Pestisida adalah salah satu zat agrokimia yang paling banyak digunakan dalam bidang pertanian, residu pestisida yang tertinggal dan dikonsumsi oleh manusia dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Salah satu cara untuk mengurangi residu pestisida adalah dengan menggunakan menambahkan arang atau Arang pada media tanam. Arang adalah sisa hasil pertanian yang dibakar menggunakan teknik pirolisis dan memiliki potensi untuk mengurangi residu pestisida.
Penelitian dilakukan menggunakan desain studi quasi-experimental. Kelompok diberi enam perlakuan yang berbeda dengan satu kelompok kontrol dan diulangi sebanyak tiga kali. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 27 sampel. Arang yang digunakan dibakar dengan suhu 200-400oC. Sawi hijau ditumbuhkan menggunakan dua jenis Arang, Sekam Padi dan Tempurung kelapa, dengan masing-masing tiga konsentrasi yang berbeda (0.l%, 0.5%, dan 1% dari berat media tanam) dan satu kontrol. Setelah tanaman dipanen, tanaman ditimbang untuk mendapatkan berat dan dianalisis residu menggunakan alat Kromatografi Gas, teknik destruksi sampel menggunakan metode Quechers.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tanaman dengan penambahan Arang memiliki mean residu yang berbeda signifikan dibanding dengan kelompok kontrol (P=0.049). Untuk setiap kenaikan konsentrasi Arang jenis Sekam Padi, residu pestisida berkurang sebanyak 25%, sedangkan untuk setiap kenaikan konsentrasi Arang jenis tempurung kelapa, residu pestisdia berkurang sebanyak 20.5%. Arang jenis Sekam Padi lebih efektif dalam mengadsorbsi pestisida dibandingkan Arang jenis tempurung kelapa. Dapat disimpulkan bahwa penambahan Arang mampu mengurangi residu pestisida di tanaman sawi.

Pesticide is one of the most utilized agrochemical substance during farming, although farmer benefited from the use of pesticide, pesticide residue may pose hazard towards human health. An onsite farming approach is best suited to reduce the uptake of pesticide in plant. One of the proposed method is using Biochar as a pesticide adsorbtion. Biochar is byproduct of biomass using pirolisis.
This study was conducted using Quasi Experimental study. Sample was given six different treatment with one control and replicated three times, the total sample used in this study was 27. Sample was grown using two types of Biochar, Rice Husk and Coconut with three different concentration (0.1%, 0.5%, and 1% based on the growing soil). Biochar used in this experiment was pirolisis in 200-400oC. After the plant was harvested, sample was weighted and analyze using Gas Chromatography. Sample was destructed using Quechers method.
The result shows that there are differences in residue uptake between plant without Biochar and plant with Biochar (P=0.049). For each increase in Biochar concentration, residue was reduced by 25% for rice husk while for coconut it reduce residue by 20.5% for each increase. In this study, Biochar from rice husk was more effective than Biochar from coconut. It can be concluded by this study that Biochar has the potential to reduce pesticide uptake in Caisim.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
S65340
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oktovianus Rusmin
"The environmental degradation was a major problem for people who living in the coastal area of Paojepe village. Some previous efforts to address this problem were not successful due to top-down approach and lack of community participation. Learning from the experience, a partnership between University of Indonesia, an NGO, and local community was established to address coastal abrasion by replanting mangrove. Local institutions such as kinship relations and patron-client relationship (Punggawa-Sawi) were functioned as capital in implementing the program. Awareness rising on coastal rehabilitation through local institutions can encourage people to undertake mangrove conservation."
2005
PDF
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Taufik Hidayat
"Tesis ini membahas tentang pengaruh modernisasi perikanan dalam diferensiasi struktur komunitas pakkaja dan mekanisme kerja kapitalisme dalam struktur komunitas ponggawa-sawi hingga menyebabkan kemiskinan di Kabupaten Sinjai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan struktur ponggawa sawi dari feodalisme ke kapitalisme di Kabupaten Sinjai didasari oleh semakin modernnya teknologi dalam sektor usaha perikanan dan ketimpangan yang terjadi dalam struktur ponggawa sawi di Kabupaten Sinjai berawal dari kepemilikan /penguasaan sarana ekonomi dalam usaha perikanan dan aturan bagi hasil lokal dalam komunitas ponggawa-sawi di Kabupaten sinjai semakin memperkuat ketimpangan dalam struktur ponggawa-sawi.

This thesis discusses the influence of modernisation of fisheries in the differentiation of Pakkaja community structure and mechanism of capitalism in community structure of Ponggawa-Sawi  that cause poverty in Sinjai regency. This study found that changes in the structure of Ponggawa-Sawi from feudalism to capitalism in the Sinjai Regency based on the modern technology in fisheries and inequality in the structure of Ponggawa-Sawi in Sinjai regency started from the ownership / control of the economic facilities in fishing and the local rules of profit sharing inside the community of Ponggawa-Sawi in Sinjai Regency further strengthen the imbalance in the structure of Ponggawa-Sawi."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Danar Surya Wiranagara
"ABSTRAK
Sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutan telah menjadi isu penting dalam produksi dan rantai pasok minyak kelapa sawit di Indonesia. Sebagai pemasok minyak kelapa sawit terbesar dunia dan menjadi komoditas agroindustri terbesar yang diusahakan di Indonesia, penerapan aspek keberlanjutan memberikan dampak terhadap volume produksi dan penyerapan produk. Sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia merupakan upaya untuk memastikan aspek keberlanjutan tersebut. Pemodelan sistem dinamis digunakan dalam penelitian ini untuk menggambarkan pengaruh faktor pada sistem sertifikasi, produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan dan penyerapannya. Hasil simulasi menunjukkan bahwa target sertifikasi minyak sawit berkelanjutan tidak akan tercapai pada periode simulasi, yang sebenarnya lebih panjang dari target waktu yang ditetapkan oleh pemangku kepentingan. Selanjutnya, suatu upaya intervensi dicoba pada sistem model tersebut, sehingga dapat diketahui apakah intervensi kebijakan dapat mendorong pencapaian sertifikasi dari sisi volume produksi dan penyerapannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada sertifikasi wajib, aturan untuk hanya mengekspor minyak sawit berkelanjutan tersertifikasi dapat meningkatkan volume produksi dan penyerapannya secara signifikan. Pada sertifikasi sukarela, faktor pendorong berupa akses pasar dan harga cukup berperan, selain kebijakan ekspor tersebut. Kebijakan untuk hanya mengekspor minyak kelapa sawit berkelanjutan akan mendorong produksi dan penyerapannya, yang juga akan memberikan dampak sosial, ekonomi dan lingkungan karena pemenuhan persyaratannya.

ABSTRACT
Sustainable palm oil certification has become an important issue in the production and supply chain of palm oil in Indonesia. As the world 39 s largest supplier of palm oil and the largest agro industry commodity cultivated in Indonesia, the implementation of sustainability aspects has an impact on production volume and product absorption. Sustainable palm oil certification in Indonesia is an effort to ensure that aspect of sustainability. Dynamic system modeling is used in this study to illustrate the effect of factors on the certification system, sustainable palm oil production and its uptake. Simulation results show that sustainable palm certification targets will not be achieved in the simulation period, which is actually longer than the target time set by the stakeholders. Furthermore, an intervention effort is attempted on the model system, so it can be seen whether policy interventions can encourage certification achievement in terms of production volume and absorption. The results of the analysis show that in mandatory certification, the rule to only export certified sustainable palm oil can significantly increase production volume and absorption. On voluntary certification, drivers of market access and price play a significant role, in addition to the export policy. The policy to export only sustainable palm oil will encourage its production and absorption, which will also have social, economic and environmental impacts due to the fulfillment of its requirements."
2018
T50763
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Dyah Cahyarini
"Sawi hijau merupakan salah satu tanaman holtikultura yang banyak dikonsumsi di Indonesia dengan masa simpan yang singkat sehingga dibutuhkan adanya perlakuan khusus untuk menjaga kualitas sawi hijau bertahan lebih lama. Salah satu metode yang biasa digunakan adalah hydrocooling. Selain metode hydrocooling, ozon yang memiliki sifat sebagai disinfektan juga dapat diterapkan sebagai salah satu bahan untuk mengawetkan makanan dan berbagai produk pertanian. Pada penelitian ini, dilakukan penggabungan antara proses ozonasi dan hydrocooling untuk menjaga kualitas sawi hijau. Sebelum diberi perlakuan hydrocooling, sawi hijau diozonasi terlebih dahulu dengan variasi dosis dan durasi kontak gas ozon. Sawi hijau diozonasi dengan dosis 1 ppm, 3 ppm, dan 5 ppm; serta variasi durasi kontak selama 3 menit, 6 menit, dan 10 menit lalu diberi perlakuan hydrocooling selama 10 menit. Parameter yang dievaluasi adalah nilai Total Bakteri Mesofil Aerobik (TBMA), kandungan kalium, penurunan kadar air, dan uji organoleptik. Perlakuan ozonasi tambahan sebelum proses hydrocooling mampu membantu mengurangi jumlah bakteri TBMA menjadi 3,2 x 106 CFU/g (77% lebih rendah dibandingkan perlakuan hydrocooling saja dengan TBMA sebanyak 1,4 x 107 CFU/g) setelah 24 jam penyimpanan. Selain itu, kandungan kalium pada sawi hijau menjadi lebih stabil, warna, tekstur, serta bau pada sawi hijau pun menjadi lebih bertahan lama kesegarannya.

Green mustard is one of the horticultural plants that are widely consumed in Indonesia with a short shelf life so that special treatment is needed to maintain the quality of green mustard lasts longer. One method commonly used is hydrocooling. In addition to the hydrocooling method, ozone which has properties as a disinfectant can also be applied as an ingredient to preserve food and various agricultural products. In this study, a combination of ozonation and hydrocooling was carried out to maintain the quality of mustard greens. Before being given the hydrocooling treatment, the mustard greens were first ozonated with variations in the dose and duration of ozone gas contact. Green mustard was ozonated with doses of 1 ppm, 3 ppm, and 5 ppm; and variations in contact duration for 3 minutes, 6 minutes, and 10 minutes and then treated with hydrocooling for 10 minutes. Parameters evaluated were Total Aerobic Mesophyll Bacteria (TBMA), potassium content, decreased water content, and organoleptic tests. Additional ozonation treatment before the hydrocooling process was able to help reduce the number of TBMA bacteria to 3.2 x 106 CFU/g (77% lower than the hydrocooling treatment alone with TBMA as much as 1.4 x 107 CFU/g) after 24 hours of storage. In addition, the potassium content in mustard greens becomes more stable, the color, texture, and smell of mustard greens also last longer."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vennycia Johan
"Sawi hijau merupakan bahan pangan yang mengandung kadar air tinggi dan mudah rusak. Salah satu upaya untuk memperpanjang masa simpan sawi hijau yang singkat adalah dengan hydrocooling atau perlakuan ozonasi. Gabungan perlakuan ozonasi dan hydrocooling menghasilkan air terozonasi yang dapat menjadi disinfektan yang aman untuk dikontakkan dengan bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mempertahankan kualitas sawi hijau menggunakan air terozonasi dengan melihat pengaruh laju alir dan durasi bubbling gas ozon. Parameter kualitas sawi hijau yang dievaluasi berupa nilai Total Bakteri Mesofil Aerobik (TBMA), kandungan kalium, perubahan massa, dan uji organoleptik. Sawi hijau direndam di dalam air yang di-bubbling gas ozon dengan variasi laju alir 0,2 LPM; 0,4 LPM; dan 0,6 LPM, dan durasi bubbling gas selama 3 menit, 6 menit, dan 10 menit. Perlakuan ozonasi mampu mengeliminasi TBMA hingga 85,65 % dari 4,25 x 106 menjadi 6,1 x 105 dengan laju alir 0,4 LPM selama 5 menit dibandingkan perlakuan hydrocooling yang mengalami kenaikan TBMA pada jam ke-24. Perendaman dengan air yang terozonasi juga dapat meningkatkan tekstur dan tidak membuat perubahan warna pada sawi hijau.

Green mustard is a vegetable that contains high water content and easily damaged. One of the efforts to extend the shelf life of green mustard is by hydrocooling or ozone treatment. The combined use of ozonation and hydrocooling produces ozonated water that can be used as disinfectant that has been declared safe to contact with foods. This study is aimed to maintaining the quality of green mustard using ozonated water by looking at the influence of flow rate and the duration of ozone gas bubbling. The quality parameters of green mustard evaluated are Total Mesophilic Aerobic Bacteria (TBMA), potassium content, mass changes, and organoleptic tests. Green mustard is soaked in water which is given a variation in flow rate of 0.2 LPM; 0.4 LPM; and 0.6 LPM, and also variation of ozone bubbling duration for 3 minutes, 6 minutes, and 10 minutes. Ozone treatment is able to eliminate TBMA up to 85.65 % from 4,25 x 106 to 6,1 x 105 with a flow rate of 0.4 LPM for 5 minutes compared to hydrocooling treatment that experienced an increase in TBMA in the 24th hour. Immersion with ozonated water can also improve texture and make no discoloration of green mustard."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Aulia Ditami
"Sawi hijau merupakan sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia karena mengandung serat, vitamin, dan nutrisi. Namun, sawi hijau memiliki masa simpan yang singkat karena mengalami pelayuan akibat proses respirasi dan perusakan oleh bakteri. Hydrocooling merupakan cara untuk memperpanjang masa simpan hasil tanam namun tidak untuk mendisinfeksi bakteri, dan Ozon merupakan disinfektan untuk menghambat pertumbuhan bakteri sehingga penurunan kualitas akibat pembusukan dapat diperlambat. Pada penelitian ini sawi hijau diberikan perlakuan Hydrocooling kemudian sawi hijau dikontakkan dengan gas ozon dengan variasi dosis dan durasi kontak untuk memperpanjang masa simpannya. Sawi hijau direndam dengan air dingin (Hydrocooling) pada suhu ±7oC selama 10 menit, kemudian sawi hijau diozonasi dengan variasi dosis 1, 3, dan 5 ppm, durasi pengontakkan, 3, 6, dan 10 menit. Parameter kualitas yang telah diamati meliputi Total Bakteri Mesofil Aerobik, kandungan kalium, perubahan massa, dan sifat organoleptik sawi hijau. Gas ozon mampu mengeliminasi bakteri hingga 87,7% yaitu dari 4,2 x 106 menjadi 5,2 x 105 colony/g dengan ozon 3 ppm selama 10 menit, tidak mempengaruhi kandungan nutrisi terbesar pada sawi hijau yaitu kalium, menekan perubahan massa hingga 12,5%, dan menghambat perubahan sifat organoleptik secara signifikan dari sawi hijau.

Mustard greens is vegetable that widely consumed by Indonesian because it contains fiber, vitamins, and nutrients. However, mustard greens have short life because they wither due to the process of respiration and destruction by bacteria. Hydrocooling is a way to extend shelf life of crop products but not disinfect bacteria, and Ozone is a disinfectant to inhibit bacterial growth so that quality degradation due to decay can be slowed down. In this study, mustard greens were treated with Hydrocooling and then contacted with ozone gas with varying doses and duration of contact. Mustard greens soaked with cold water (Hydrocooling) at temperature of ± 7°C for 10 minutes, then ozonated with variations dose of 1, 3, and 5 ppm, the duration of contacting, 3, 6, and 10 minutes. Quality parameters that have been observed include Total Aerobic Mesophyll Bacteria, potassium content, changes in mass, and organoleptic properties of mustard greens. Ozone gas able to eliminate bacteria up to 87.7%, from 4.2 x 106 to 5.2 x 105 colony/g with 3 ppm ozone for 10 minutes, does not affect potassium content, suppresses mass changes up to 12.5%, and inhibits significant changes in organoleptic properties of mustard greens."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Setyowati
"ABSTRAK
Enzim peroksidase merupakan enzim oksidor~duktase, yang dapat mengkatalis reaksi oksidasi oleh senyawa hidrogen peroksida (H202) dari sejumlah substrat yang merupakan donor hidrogen. Pada penelitian ini telah diisolasi enzim peroksidase dari tanaman sawi hijau (Brassica juncea) yang ada di pasaran. Pemurnian enzim dilakukan dengan teknik pengendapan bertingkat menggunakan garam amonium sulfat. Enzim peroksidase dengan aktivitas spesifik paling tinggi diperoleh pada fraksi amonium sulfat dengan tingkat kejenuhan 55-75 %, yaitu sebesar 1 ,24 kali dibandingkan ekstrak enzim kasarnya. Kondisi optimum reaksi katalisis enzim peroksidase dengan menggunakan substrat guaiakol diperoleh pada suhu 30 oc dan pH 6,0. Pada uji kestabilan, enzim peroksidase yang disimpan pada suhu 4°C selama satu bulan mengalami penurunan yang relatif kecil, yaitu sebesar 2, 79 %. Apabila enzim disimpan pada suhu 30 °C, terjadi penurunan sebesar 10,35-70,42% pada tujuh hari pertama, dan setelah satu bulan penurunannya mencapai 81,73 %. Uji homogenitas enzim peroksidase hasil dialisis dengan SD?PAGE menghasilkan pita protein di sekitar 37-50 kDa."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 2006
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Wispriyono
"Karbamat merupakan salah satu jenis pestisida yang banyak digunakan untuk membasmi hama buah dan sayur. Untuk menentukan bahwa residu karbamat dalam sayuran masih aman dikonsumsi manusia, telah dilakukan analisis beberapa residu karbamat seperti metomil, karbaril, karbofuran, dan propoksur. Sampel-sampel tomat, apel, selada air, kubis, dan sawi hijau dikumpulkan dari tiga supermarket dan satu pasar tradisional di Depok, Jawa Barat. Analisis dilakukan serempak untuk ke empat residu karbamat menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi dengan pereaksi o-ftalaldehida dan 2-merkaptoetanol dalam reaktor pascakolom dengan detektor fluoresensi. Dari sampel-sampel buah dan sayur yang dianalisis, hanya sawi hijau asal pasar tradisional yang positif mengandung propoksur dengan kadar 1,2 mg/25 gram berat basah (0,048 mg/g berat basah). Dengan Acceptable Daily Intake (ADI) propoksur 0,005 mg/kg berat badan/hari, konsumsi sawi hijau harian seberat 20 g/hari masih cukup aman dari gangguan kesehatan akibat pajanan kronik propoksur dengan margin of safety 298,7 (> 100 sebagai batas aman).

Carbamat is a group of pesticides which is commonly used to control fruits and vegetables pests. To determine that carbamat residues in fruits and vegetables are safe for human consumption, carbamate residues such as methomyl, carbaryl, carbofuran, and propoxur in vegetables and fruits have been analyzed. Samples of tomato, apple, water lettuces, cabbage, and mustard greens were collected from three supermarkets and one traditional market in Depok, West Java. The analysis was carried out simultaneously for all four carbamate residues by high performance liquid chromatography using o-phtaladehyde and 2-mercaptoethanol reagents in post-column reactor with a fluorescence detector. Of fruits and vegetable samples analyzed, only mustard greens from traditional market positively containe-propoxur at 1.2 mg/ 25 gram wet weight (0,048 mg/gram wet weight). With Acceptable Daily Intake (ADI) of 0.005 mg/kg body weight/day, mustard greens consumption of 20 g/day is safe from adverse health effect from chronic exposure to propoxur with Margin of Safety of 298.7 (> 100 as safe limit)."
Depok: Universitas Indonesia, 2013
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library