Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hadi Mulyadi
Abstrak :
Fatty Acid Methyl Ester (FAME) merupakan turunan minyak nabati yang memiliki karakterisasi pelumasan tetapi tidak dapat digunakan langsung karena tidak stabil dan mudah terdegradasi yang disebabkan memiliki banyak karbon ikatan rangkap sehingga mudah teroksidasi dan terpolimerisasi membentuk resin dan deposit yang dapat menyebabkan penyumbatan pada mesin. FAME perlu dimodifikasi untuk meningkatkan kestabilan oksidasi dan menurunkan nilai titik tuangnya agar dapat digunakan sebagai pelumas dasar bio. Pada penelitian ini, sintesis pelumas dasar bio dari FAME dilakukan melalui proses epoksidasi menggunakan hidrogen peroksida dan katalis asam formiat pada temperatur 65oC selama 1 jam serta reaksi pembukaan cincin dengan gliserol dan variasi monoalkohol (etanol, butanol, oktanol dan heksadekanol) menggunakan katalis Amberlyst-15 dengan variasi loading katalis sebesar 2% dan 3% pada temperatur 100oC selama 6 jam. Kedua tahapan tersebut dilakukan untuk meningkatkan karakteristik fisika dan kimia khususnya ketahanan oksidasi pelumas dasar bio. Berdasarkan beberapa produk hasil sintesis diperoleh pelumas dasar bio dengan konidisi optimum yaitu EFAME Gliserol 3% dengan nilai densitas sebesar 0,9080 g/cm3; nilai viskositas pada 40oC 12,150 cSt, dan viskositas pada 100oC 3,870 cSt; indeks viskositas 137, titik tuang (pour point) 9oC; stabilitas oksidasi 20,69 jam, scar diameter hasil uji fourball wear 557 µm, serta kandungan senyawa Hexadecanoid acid methyl ester sebesar 53,22% menggunakan GCMS, sehingga EFAME Gliserol 3% berpotensi dapat dijadikan sebagai minyak lumas dasar. ...... Fatty Acid Methyl Ester (FAME) is a vegetable oil derivative that has characterization as lubricant but can not be used directly because it is unstable and easily degraded due to having a lot of carbon double bonds so it is easily oxidized and polymerized to form resins and deposits that cause blockages to the engine. FAME needs to be modified to improve oxidation stability and reduce the pour point so that it can be used as bio baselubricant. In this study, the synthesis of biolubricant from FAME was carried out through the stages of the epoxidation process using hydrogen peroxide and formic acid catalyst at 65oC for 1 hour and the ring opening reaction stages with glycerol and monoalcohol variations (ethanol, butanol, octanol and hexadecanol) using the Amberlyst-15 catalysts with catalyst loading variations 2% and 3% at 100oC for 6 hours. Both stages are carried out to improve physical and chemical characteristics, especially the biolubricant oxidation resistance. Based on several synthesized products were obtained bio baselubricant with optimum conditions is EFAME Glycerol 3% with density value of 0,9080 g/cm3; viscosity value at 40oC 12,150 cSt and viscosity at 100oC 3,870 cSt; viscosity index 137; pour point 9oC; oxidation stability at 20,69 hours; scar diameter of the result of fourball weart test 557 µm; and the content of Hexadecanoid acid methyl ester compound was 53,22% using GCMS test, so EFAME Glycerol 3% can potentially be used as base oil.
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayudiani Atmanegara
Abstrak :
Perubahan kondisi alam yang semakin mengkhawatirkan, mendorong berkembangnya penelitian mengenai pelumas yang lebih ramah lingkungan yang disebut biopelumas. Biopelumas merupakan pelumas yang berbahan dasar minyak nabati yang dapat terdegradasi secara biologis dan dapat diperbaharui. Salah satu contohnya adalah pelumas berbahan dasar minyak jarak Ricinus communis L. (Castor oil). Pada penelitian ini, dilakukan reaksi modifikasi tiga tahap pada Castor oil untuk memperbaiki karakteristik fisiko - kimia, sehingga dapat dijadikan minyak lumas dasar yang berkualitas. Tahapan tersebut, yaitu transesterifikasi menggunakan metanol dan katalis KOH untuk menghasilkan Castor Oil Methyl Ester (COME), epoksidasi dengan hidrogen peroksida dan katalis asam format untuk menghasilkan Epoxidized Castor Oil Methyl Ester (ECOME), serta pembukaan cincin epoksida dengan senyawa diol (1,4-butanadiol dan 1,6-heksanadiol) dan katalis PTSA untuk menghasilkan Butanediol Modified Castor Oil (BuMCO) dan Hexanediol Modified Castor Oil (HeMCO). Kemudian dilakukan pencampuran produk hasil modifikasi dengan minyak mineral (HVI 160 dan Yubase), karena adanya kesamaan komposisi hidrokarbon yang dimiliki oleh keduanya, sehingga dapat dilihat tingkat kompatibilitasnya untuk menghasilkan biopelumas yang berkualitas. Dari hasil penelitian, didapat komposisi senyawa diol optimum, yaitu 70 mL (0,7900 mol) 1,4-butanadiol dan 90 g (0,7614 mol) 1,6-heksanadiol. Produk Pencampuran produk dengan Yubase lebih baik dibandingkan dengan HVI 160, hal ini dibuktikan dari pengamatan visual dan uji viskositas. ......Changes in the natural condition that increasingly alarming, encouraging the development of research on the lubricant more environmentally friendly, called biolubricant. Biolubricant is vegetable oil based lubricant which biodegradable and renewable resources. For example is biolubricant from Jatropha plant (Castor oil). In this research, Castor oil is modified by three-step reactions to improve the physico - chemical characteristics with the good quality base lubricating oil. These steps, namely transesterification using methanol and KOH catalyst to produce Castor Oil Methyl Ester (COME), epoxidation using hydrogen peroxide and formic acid catalyst to produce Epoxidized Castor Oil Methyl Ester (ECOME), and epoxide ring opening reaction using diol compounds (1,4- butanediol and 1,6-hexanediol) and PTSA catalyst to produce Butanediol Modified Castor Oil (BuMCO) dan Hexanediol Modified Castor Oil (HeMCO). Then, modification products are mixed with mineral oil (HVI 160 and Yubase), because of the similarity of hydrocarbon compositions owned by both, so the level of compatibility to produce a quality biolubricant can be monitored. The results shows that the optimum composition of diol compounds are 70 ml (0,7900 mol) of 1,4-butanediol and 90 g (0,7614 mol) of 1,6-hexanediol. Mixing ECOME diol with Yubase is better than the HVI 160, this is evident from visual observation and viscosity test.
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S30590
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library