Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ajarani Mangkujati Djandam
"Apa yang tergambar dalam benak kita ketika mendengar kata "orang Dayak"? Daun telinga yang panjang, tato, perburuan kepala manusia atau mengayau, rumah panjang, ukiran, tarian yang memakai bulu burung enggang, perisai, mandau? Bisa saja semuanya benar. Namun demikian apakah semua orang Dayak di masa sekarang ini benar-benar hadir persis seperti yang telah tergambar dalam benak kita seperti itu? Tesis ini akan mengungkapkan tentang persoalan rekonstruksi identitas lokal oleh orang Dayak dari generasi yang lebih muda atau mereka yang berusia remaja. Rekonstruksi identitas ini dapat dilihat melalui aktivitas kesenian tradisional yang mereka lakukan sampai hari ini.
Masalah rekonstruksi identitas Dayak melalui aktivitas kesenian tradisional ini ternyata bukan merupakan sebuah konsep sederhana, sebuah aktivitas yang ingin membangun kembali suatu konstruksi identitas masyarakat asli yang pernah ada di masa lampau. Ketika identitas tersebut direkonstruksi dan dihadirkan pada hari ini, tampaknya apa yang dilihat tidak sama dengan apa yang telah tergambarkan dalam benak kita ketika membayangkan orang Dayak. Perubahan-perubahan terjadi selama proses rekonstruksi identitas berlangsung. Dengan demikian isue identitas Dayak bukanlah sesuatu yang statis, ia seperti pendulum, bergerak dinamis dan bersentuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan berbagai kepentingan di sekitarnya.
Melalui pelajaran Kesenian Daerah di SMPN 1 Malinau Selatan ini, sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan memiliki peran dan kekuasaan dalam merekonstruksi sekaligus mereproduksi identitas lokal siswanya sebagai remaja Dayak Kenyan Uma Lung hari Mi. Nilai-nilai dan pengetahuan lokal masyarakat setempat yang ditransfer dalam bentuk formal melalui sebuah sistem pendidikan menunjukkan adanya proses interaksional dialogis antara masyarakat dan sekolah dalam membentuk identitas lokal mereka sesuai dengan gambaran ideal komunitas masyarakatnya. Sementara di sisi yang lain siswa SMP secara radar jugs turut membentuk identitas mereka sendiri menurut cara dan gayanya sendiri, sebagai bagian dari remaja lain pada umumnya. Dengan demikian identitas Dayak yang direpresentasikan melalui aktivitas kesenian tradisional oleh remaja Dayak Kenyah Uma Lung desa Setulang pada masa kini merupakan hasil dari strategi, negosiasi dan adaptasi yang dilakukan, baik oleh sekolah, siswa dan masyarakat di mana mereka berada."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T21509
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wensdy Tindaon
"Kedekatan antara negara dengan tindakan eksklusi sosial telah menjadi realitas yang dihadapi oleh agama lokal di Indonesia. Sebelum hadirnya negara telah terjadi eksklusi sosial oleh Belanda dan misionaris Kristen ke Tanah Batak dalam melemahkan dan memarginalkan kekuasaan tradisional Ugamo Malim. Kemudian, negara hadir memformalisasi defenisi agama dan mendiskriminasi kelompok agama lokal. Pada rezim orde baru justru agama lokal mengalami banyak pelanggaran HAM meliputi: represif, pelarangan ritual, pemaksaan afiliasi agama resmi dan eksklusi sosial. Keadaan ini mengindikasikan penganut agama lokal telah terbatas mengekspresikan identitasnya dan tidakberdaya memiliki identitasnya. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa kelompok yang dieksklusi dapat melakukan resistensi maupun pasif terhadap kelompok mayoritas (penguasa). Keleluasaan agar keluar dari eksklusi sosial telah dilakukan sejak awal reformasi. Kemudian, pasca keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) memberikan legitimasi dan memperkuat posisi agama lokal di Indonesia. Pada penelitian ini memberikan kebaruan bahwa kelompok minoritas justru memiliki kesadaran memanfaatkan peluang untuk beradaptasi terhadap negara dan agama mayoritas. Ugamo Malim beradaptasi dengan mereksontruksi identitas melalui ketentuan nilai dan kesamaan identitas dengan negara dan agama mayoritas. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan wawancara mendalam serta melakukan observasi di lokasi penelitian.

The closeness between countries and acts of social exclusion has become a reality faced by local religions in Indonesia. Before the presence of the state there had been a social exclusion by the Dutch and Christian missionaries to the Land of the Batak in weakening and marginalizing Ugamo Malim traditional power.Then, the state is present to formalize the definition of religion and discriminate against local religion groups. In the new order regime instead of local religious experience many human rights violations include: repressive, banning the ritual, the imposition of formal religious affiliation and social exclusion. This situation indicates local religions have limited express their identity and powerless to have their identities. The freedom to get out of social exclusion has been carried out since the beginning of the reform. Then, after the decision of the Constitutional Court (MK) gave legitimacy and strengthened the position of local religion in Indonesia. In this study provide novelty that minority groups have awareness utilize the opportunity to adapt to the state and majority religion. Ugamo Malim adapted to reconstructing identity through provisions of value and similarity of identity with the state and religion of the majority. In this study using qualitative methods and in-depth interviews and conducting observations at the study site.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
T52349
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library