Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 222 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Pane, Junjungan Edi Sudrajat Sitorus
"The Overreaction Hypothesis suggests that extreme movements in stock prices are followed by price movements in the opposite direction as investors realize that they have overreacted, and the greater the initial price movements, the greater the subsequent reversal. One way in which the overreaction hypothesis has been studied is by analyzing the behavior of stock returns following large stock price declines. While there is a preponderance research finding evidence of reversal in short-term after large declines, many of them argued that overreaction effect may be attributed to illiquidity, ex. Bremer & Sweeney (1991) and Cox & Peterson (1994). This research examines short-term overreaction in the sample that consist of stocks listed on LQ 45, which is classified the most liquid market in Indonesia.
The stock returns of every firm listed in the LQ 45 covering the period 2001 to 2007 were compared to specific trigger value, consistent with the prior research, -10%. If on any single day the return was equal to or less than the trigger value, the return was define as an event. For each stock, daily return are then examined both previous and following the event date (t-5 up to t+20), and compared with the stock's expected return, that estimated by mean-adjusted returns model.
The objectives of this study is to investigate security return behavior in the three-day period and also subsequent to three-day period immediately following large declines to determine whether the reversal process persists. The second objective is to investigate whether industry classification plays a different role on the reversal process. The Results of the research tend to support the overreaction hypothesis.
The results from the analysis reveal that, three-day period following the day of the large price declines, the liquid stocks earn positive and statistically significant abnormal returns. These positive and statistically significant abnormal return indicate that much of initial change in the price of these stocks was short-term overreaction. Furthermore, in the longer-term the analysis find that, beginning four days after the drop, securities tend to enter prolonged of relatively poor performance. The results from the analysis of the reversal patterns across industries reveal that magnitude and trend of the observed reversal do not differ substantially among industries.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Eko Prasetya
"Regulasi price limit seharusnya dapat mengurangi gejala volatilitas harga saham yang berlebihan ketika market dalam keadaan crash. Mengacu pada penelitian Kim (1997) dan Huang (2001) penelitian ini dimaksudkan untuk melihat efektifitas regulasi price limit yang diterapkan di Bursa Efek Indonesia selama periode 2007-2008. Jika memang price limit terbukti mengurangi volatilitas maka overreaction hypothesis yang dikemukakan oleh Huang (2001) akan terbukti. Tetapi jika tidak, penelitian ini kemudian dikembangkan mengacu pada penelitian Kim (1997) untuk menguji ketiga hipotesis masalah baru yang muncul akibat adanya regulasi price limit. Ketiga hipotesis tersebut adalah volatility spillover hypothesis, delayed price discovery hypothesis, dan trading interference hypothesis.

Daily price limits should reduce volatility of the stock price where market had crashed. Refers to research conducted by Kim (1997) and Huang (2001), this research is intended to see the effectiveness of price limits on the Indonesia Stock Exchange during the 2007-2008 period. If price limit is effective to reduce the volatility of the stock prices, then overreaction hypothesis stated by Huang (2001) will be proved. But if not, this research will be extended based on Kim?s (1997) to test the three new hypotheses of new issues that arise due to price limits. The three hypotheses are volatility spillover hypothesis, delayed price discovery hypothesis, dan trading interference hypothesis."
Depok: Fakultas Eknonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2009
T27230
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Brealey, Richard A.
Camridge, Mass.: MIT Press, 1972
332.67 BRE s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Oxenfeldt, Alfred R.
New York: Amacom , 1975
338.5 OXE p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Dorfman, Robert
Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1967, c.1972
338.52 DOR p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"The vast number of restaurant entrepeneur incite such an intense competitiveness which leads to diversity in practising marketing strategy, one factor that needs to be brought in to attention is pricing, which has become a sensitive subject in the time of global crisis. When something is overpriced, consumer will easily walk away , and when it is low-priced, a doubt about quality will aries . Price of a product or a service will, more often than not , affect consumer's buying decision. Thus it is important for company to be able to place an acceptable price. Yet so far only few researche evaluated"price acceptance" as consequence of customer satisfaction. This research aims to assess the relationship between price fairness, customer satisfaction, loyalty, and price acceptance in a service company. Questionnaires were distributed to respondents by the self-administered questionnaire method and total of 187 completed questionnaries were used in the analysis. The data was then analzed using structural equation modeling. Three of five hypotheses were supported and two others were not supported. This paper alson provides the implications for theoritical and managerial and offers directions for future research. "
JUEKBIS
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Yusuf Setiabudi
"Pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Listrik mengakibatkan kenaikan harga- kedua komoditas tersebut dan berdampak pada meningkatnya biaya produksi di banyak proses produksi sehingga memicu kenaikan harga jual barang-barang lain yang mengarah terjadinya inflasi. Naiknya harga'. barang secara umum tersebut juga disebabkan oleh naiknya biaya produksi yang dipicu oleh kenaikan upah pekerja yang tercermin dari naiknya Upah Minimum Regional (UMR).
KULA (1998) mengajukan metode untuk mengetahui perubahan tingkat harga yang rasional sesuai dengan kenaikan biaya input, yang disebut Input Output Costing Model. Penelitiannya di Turki berdasarkan data Statistical National Account (SNA) 1992 menunjukkan prediksi tingkat inflasi yang lebih rendah dibanding kondisi nil untuk tahun 1996 serta mengidentifikasi sektor-sektor yang memperoleh keuntungan ekstra atau sebaliknya.
Penelitian ini juga menggunakan metode 1-0 Costing Model untuk diterapkan pada perekonomian Jawa Tengah berdasar data tabel input-output tahun 2000. Untuk mengetahui sektor-sektor yang memperoleh keuntungan ekstra atau sebaliknya pada tahun 2001, dilakukan dengan membandingan indeks harga antara hasil analisis dengan IHPB dan IHK rill yang terjadi. Dengan mengasumsikan dan mensimulasikan tingkat harga yang terjadi tahun 2003, maka inflasi 2003 akan dapat diprediksikan. Prediksi infliasi tersebut dibandingkan dengan target inflasi sesuai dokumen perencanaan (Repetada), sehingga diperoleh kesimpulan berupa asumsi perubahan harga yang membatasi pencapaian target inflasi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa selama periode tahun 2000-2001 terjadi perubahan harga BBM (32,09%), TDL (18,71%), UMR (32,43%), dan harga Impor (2,0%). Perubahan harga tersebut mengakibatkan perubahan harga sektor lainnya. Sebanyak 29 sektor memperoleh keuntungan ekstra, dimana keuntungan terbesar diperoleh sektor Industri Gula (25,20%), Padi (17,86%), Industri ' Penggilingan - Padi (16,50%), Industri Rokok dan Pengolahan Tembakau (12,66%), dan Industri Alat Angkutan dan Perbaikannya sebesar 10,99%.
Sebanyak 4 sektor yang memperoleh keuntungan ekstra merupakan sektor pertanian 'dengan harga output yang masih dikendalikan Pemerintah melalui kebijakan tata niaga. Sehingga sampai pada batas ini, pemerintah dianggap terlalu tinggi menetapkan harga tersebut. Namun disisi lain, keuntungan ekstra yang diperoleh sektor pertanian clan industri pertanian tersebut, tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan petani penghasil. Sehingga diduga masih ada mata rantai distribusi yang menikmati laba ekstra antara Pedagang Besar Pertama dengan petani penghasil. Sedang sektor lainnya, harga yang tinggi tersebut disebabkan tingginya mark up yang diraih pengusaha.
Sebanyak 7 sektor menerima harga output dibawah harga yang wajar, dengan sektor Industri Mesin dan Perlengkapan Listrik menerima harga terendah sebesar 3,66% dibawah harga wajar. Namun dengan struktur produksi yang didominasi input produksi berasal clad out-put sektor perdagangan serta sepertiga total input berasal dari impor, maka selisih harga yang relatif tidak besar tersebut (dibanding rata-rata 36 sektor) dapat mengindikasikan perlunya pembenahan sektor perdagangan, khususnya pasar input industri tersebut.
Semakin banyak sektor yang memiliki selisih dengan rata-rata perbedaan harga tersebut, akan memicu pergerakan perusahaan dari sektor yang menerima harga dibawah harga yang wajar ke arah sektor yang memperoleh laba ekstra, sehingga dapat mengancam stabilitas perekonomian.
Akibat kenaikan harga tahun 2000 berupa BBM, TDL, Nilai Tukar, dan UMR, diperkirakan mengakibatkan inflasi 8,24% (berdasar Indeks Harga Perdagangan Besar/IHPB) yang lebih rendah 4,49% dari inflasi riil sebesar 12,73%. Sumbangan inflasi tahun 2001 yang terbesar adalah perubahan harga Upah Minimum Provinsi (UMP) yaitu sebesar 7,18%. Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), prediksi inflasi sebesar 7,89%, yang Iebih' rendah 4,74% dari inflasi Kota Semarang sebesar 12,63%.
Hasil simulasi model untuk tahun 2003 menunjukkan bahwa target inflasi sesuai dengan dokumen Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (Repetada) ]awa Tengah 2003 sebesar 9,90% akan tercapai dengan asumsi : harga BBM sama dengan harga tahun 2002, nilai tukar US $ 1 sebesar Rp 8.500, TEL Iayak ekonomi sebesar US$ 7 sen/KWh (dengan asumsi nilai tukar US$ 1 = Rp 8.500, dan tercapai pada tahun 2003), UMR sebesar Rp. 400.000/bulan/pekerja, dan peningkatan perolehan pajak tidak Iangsung rata-rata 10%/tahun. Namun apabila mempertimbangkan hasil analisis tahun 2001 yang menunjukkan hasil prediksi lebih rendah dari inflasi riil dan selisihnya digunakan sebagai angka koreksi, maka tingkat inflasi yang terjadi berdasar harga konsumen akan melampaui target inflasi sebesar 0,32% (tingkat inflasi mencapai 10,42%), walaupun dengan pendekatan HPB masih tetap dibawah 2 digit. Berdasarkan pertimbangan data yang digunakan dalam analisis, maka perhitungan dengan menggunakan HPB lebih kecil biasnya. HPB hanya menggunakan sebagian data HPB Nasionai, sementara Harga Konsumen menggunakan pola pengeluaran RT sesuai SNSE Indonesia 1999."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
T12575
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Udjian Wahjusuprapto
"Pengaktifan kembali pasar modal di Indonesia dilakukan dengan deregulasi. Di tengah masyarakat yang umumnya masih awam terhadap saham, masalah yang segera muncul adalah seberapa jauh pasar modal Indonesia mampu melakukan koreksi terhadap harga perdana saham yang ditetapkan terlalu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Koreksi pasar adalah perubahan harga perdana sampai mencapai harga ekuilibrium, yang hanya dapat memberikan imbalan normal. Maka konsep-konsep yang relevan adalah efisiensi pasar dan nilai intrinsik saham. Berdasarkan hasil penelitian terhadap emisi-emisi pertama di pasar modal Amerika Serikat oleh Ibbotson [1975] dan Ritter [1984], koreksi pasar berlangsung dalam waktu kurang dari satu bulan dan berakhir setelah pemodal tidak lagi memperoleh imbalan abnormal. Latar belakangnya adalah kesengajaan emiten dan penjamin emisi melakukan under pricing.
Di pasar modal Indonesia gejala koreksi harga perdana tidak dapat dilihat pada perkembangan imbalan abnormal, karena tidak adanya indeks pasar untuk mengukur imbalan normal. Dalam penelitian ini gejala koreksi pasar terhadap harga perdana akan dilihat pada perkembangan imbalan saham perdana, yaitu imbalan bagi pemodal yang membeli saham di pasar perdana dan menjualnya lagi di pasar sekunder dengan premi saham perdana terhadap peluang-peluang investasi yang tersedia bagi pemodal yaitu saham-saham pendahuluan valuta asing, logam mulia dan deposito berjangka.
Hasil analisis data terhadap 50 saham perdana di Bursa Efek Jakarta mulai Juni 1989 sampai Agustus 1990 menunjukkan bahwa semakin lama saham baru dimiliki pemodal semakin berkurang rata-rata imbalan dan premi saham perdana yang dapat diharapkan pemodal. Namun penurunan rata-rata imbalan dan premi saham perdana itu tidak dapat ditafsirkan sebagai gejala koreksi pasar, karena di samping tidak menimbulkan perbedaan rata-rata yang signifikan, besarnya imbalan saham perdana ternyata tidak berkaitan dengan informasi yang relevan seperti bidang usaha emiten, agio saham dan peningkatan modal saham sebelum emisi, tetapi hanya berkaitan dengan tingkat kegiatan pasar yang diukur dengan perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama jangka waktu pemilikan (holding period) saham perdana.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat pemodal masih sangat awam terhadap saham. Diharapkan peran para pengamat, penulis, komentator, dan para pembentuk opini publik lainnya untuk ikut membina pemahaman masyarakat. Dengan deregulasi pasar modal, bentuk perlindungan terhadap pemodal yang didambakan adalah efisiensi pasar. Dan untuk mencapai efisiensi pasar modal salah satu syarat utamanya adalah kemampuan masyarakat pemodal mencernakan informasi relevan yang tersedia bagi mereka."
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Poegoeh Yoedo Roesmanto
"Penggunaan tenaga listrik untuk mempermudah segala kegiatan manusia sudah merupakan hal yang biasa. Hal itu juga berlaku bagi masyarakat Indonesia. Permintaan tenaga listrik untuk masyarakat Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya. Perkiraan permintaan tenaga listrik yang akurat akan memberikan kemudahan dalam memperkirakan besarnya suplai tenaga listrik yang berkaitan erat dengan jumlah dan kapasitas daya mampu pembangkit. Oleh karena itu diperlukan model permintaan tenaga listrik yang dapat dipakai memperkirakan besarnya permintaan tenaga listrik. Dengan menggunakan data-data seperti tarif listrik rerata, pendapatan, dan cakupan listrik memakai analisis regresi linier diperoleh model permintaan tenaga listrik yang terbaik.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tarif listrik, pendapatan dan cakupan listrik terhadap permintaan tenaga listrik. Se!ain itu penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis tingkat kekuatan pasar dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang hilang dengan adanya penetapan Tarif Dasar Listrik (TDL) oleh pemerintah.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tarif listrik berpengaruh negatif terhadap permintaan tenaga fistrik sehingga kenaikan tarif listrik akan menurunkan permintaan tenaga listrik. Selain itu dengan berlakunya TDL menyebabkan tingkat kekuatan pasar PT PLN (Persero) dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang hilang relatif rendah. Penerapan mekanisme diskriminasi tarif menyebabkan tingkat kekuatan pasar untuk pelanggan sektor rumah tangga, publik, bisnis, dan industri memiliki nilai yang berbeda. Secara umum, permintaan tenaga listrik bersifat inelastis yang berarti tenaga listrik telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Penelitian ini membuktikan bahwa telah terjadi defisit suplai tenaga listrik."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T17076
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>