Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Annisa Hanan
"Perilaku kesehatan merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan kesehatan, Munculnya infeksi COVID-19 yang meningkat memerlukan adanya tindakan pencegahan sehingga penting untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi COVID-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pada mahasiswa tingkat akhir S1 Reguler Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) tahun 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods. Disain cross sectional pada studi kuantitatif dilakukan pada 98 responden yang diambil dengan quota sampling serta dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Untuk memperkuat hasil penelitian dilakukan studi kualitatif dengan disain studi kasus pada 6 orang informan yang meliputi: mahasiswa, orang tua mahasiswa dan petugas K3L FKMUI. Hasil penelitian menunjukkan 51,2% responden berperilaku kurang baik dalam pencegahan COVID-19. COVID-19 dengan menyediakan sarana yang dibutuhkan, namun tidak menghimbau anaknya untuk berperilaku. K3L juga sudah membuat aturan dan himabaun bagi warga FKM UI tetapi sarana cuci tangan ada yang rusak dan tidak menyediakan masker bagi mahasiswa. Untuk itu, perlu adanya peningkatan fasilitas dan jadwal monitoring sarana prasarana pencegahan COVID-19 secara rutin oleh K3L FKM UI agar perilaku pencegahan COVID-19 Mahasiswa dapat meningkat.

Health behavior is an activity carried out to maintain or improve health. The emergence of an increased COVID-19 infection requires preventive measures so it is important to know the factors that influence COVID-19. The purpose of this study was to determine the factors associated with the behavior of preventing COVID-19 in final year Regular Undergraduate students at the Faculty of Public Health, University of Indonesia (FKM UI) in 2022. This study used a mixed methods approach. The cross-sectional design of the quantitative study was conducted on 98 respondents who were taken by quota sampling and analyzed using the Chi-Square test. To strengthen the research results, a qualitative study was carried out with a case study design on 6 informants which included: students, parents of students and K3L FKMUI officers. The results showed that 51.2% of respondents behaved badly in preventing COVID-19. COVID-19 by providing the necessary facilities, but not urging their children to behave. K3L has also made rules and appeals for FKM UI residents but there are hand washing facilities that are damaged and do not provide masks for students. For this reason, it is necessary to improve facilities and schedule regular monitoring of COVID-19 prevention infrastructure by K3L FKM UI so that students' COVID-19 prevention behavior can increase.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ajub Paddy
"Skripsi ini membahas tentang Evaluasi Pencegahan Kecelakaan Dengan Observasi Perilaku Kerja di PT. X Tahun2007 dan 2008. Hasli evaluasi menunjukan peningkatan jumlah observasi pada tahun 2007 ke tahun 2008 membawa dampak terhadap kenaikan tingkat kecenderungan perilaku pekerja yang dituangkan dalam Percentage of Safe pada periode yang sama. Tetapi Peningkatan jumlah observasi pada tahun 2007 ke tahun 2008, belum membawa penurunan angka TRIR. Hal tersebut karena peningkatan Observasi Perilaku Kerja dari tahun 2007 ke 2008 belum disertai dengan peningkatan kualitas dari observsi tersebut. Hal lain yang menyebabkan tidak terjadinya penurunan TRIR karena pencegahan kecelakaan dengan pendekatan yang berfokus pada perilaku pekerja belum didukung dengan pendekatan-pendekatan lain (Traditional Approach). Dengan kata lain, pendekatan Behavioral Safety mempunyai porsi tersendiri dalam mencegah terjadinya kecelakaan."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ridwan Ikob
"Data kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia hingga akhir 2001 sebanyak 2.575 kasus. Jumlah ini merupakan kasus yang dicatat dan dilaporkan oleh Ditjen PPM&PL. Sementara itu, masih banyak lagi kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi atau tidak terlaporkan oleh petugas kesehatan sehingga kasus HIV/AIDS ini merupakan fenomena gunung es di Indonesia.
Kasus tersebut diatas diperparah oleh terjangkitnya remaja oleh HIV/AIDS akibat pergaulan bebas, seperti narkoba, minuman keras dan seks pra nikah. Dari 2.575 kasus, sebanyak 861 kasus diantaranya dialami oleh remaja berusia 15-29 tahun yang sebagian diantaranya masih merupakan pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.
Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa siswa SLTA sangat rentan terkena penyakit HIV/AIDS. Dalam kaitan inilah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk memperoleh deksripsi sejumlah faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan HIV/AIDS siswa SMUN 13 Palembang 2002.
Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sampelnya adalah siswa-siswi kelas satu dan dua sebanyak 110 orang. Penelitian ini menggunakan data primer melalui kuesioner, yang dilaksanakan pada bulan Mei 2002.
Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa siswa yang berperilaku baik dalam usaha pencegahan HIV/AIDS sebesar 64,5%. Sedangkan dari hasil analisis bivariat didapat bahwa ada dua variabel yang berhubungan secara bermakna dengan perilaku pencegahan terhadap HIV/AIDS siswa SMUN 13 Palembang 2002 yaitu ekstra kurikuler dan peran guru. Dari hasil analisis multivariat regresi logistik ternyata variabel ekstra kurikuler merupakan variabel yang paling dominan secara statistik terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS siswa SMUN 13 Palembang 2002.
Dari hasil penelitian ini ada berbagai saran yang perlu ditindak lanjuti. Pertama, hendaknya pihak penyelenggara program kesehatan memanfatkan kelompok potensial di sekolah seperti OSIS, guru bimbingan konseling, maupun guru olahraga dan agama untuk mempromosikan program pencegahan HIV/AIDS serta dilakukan penyuluhan secara berkala dan berkesinambungan. Kedua, tim perencanaan kurikulum sekolah hendaknya memasukkan materi HIV/AIDS sebagai muatan lokal sesegera mungkin. Ketiga, pihak sekolah hendaknya lebih menggalakkan pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Keempat, pihak sekolah hendaknya lebih banyak memberikan kesempatan dan dukungan kepada OSIS dalam mengadakan seminar, diskusi maupun lomba karya ilmiah tentang HIV/AIDS. Aktivitas ekstra kurikuler seperti drama, bermain peran, kunjungan ke Rumah Sakit serta Palang Merah Remaja dapat meningkatkan perilaku pencegahan terhadap HIV/AIDS dapat lebih baik.

Factors Related to HIV/AIDS Prevention Behavior by Students of Senior High School 13 in Palembang 2002The cumulative data of HIV/AIDS cases in Indonesia up to the end of 2001 are 2,575. This fiture shows only recorded and reported cases by Ditjen PPM&PL. On the other hand, there still remain a lot of cases which are not detected and reported which form an iceberg phenomenon.
The situation is also affected worsened by youth who are infected by HIV/AIDS through the use of drug (narkoba), alcohol and premarital sexual intercourse. From 2,575 cases, there are 861 cases suffered by youth aged 15-29 years old in which some of them are senior high school students.
The above mentioned fact shows that senior high school students are proned to HIV/AIDS. In this respect, there should be research conducted to describe factors related to the behavior of preventing HIV/AIDS by students of Senior High School 13 Palembang in 2002.
This study used cross sectional design. The samples are 110 senior high school students from first and second year. Data was collected using questioner in May 2002. Three types of analiysis were used in this research. Univariat analysis result shows that students with good behavior on preventing H1V/AIDS are 64,5%. Bivariate analysis results found two variables related to the Behavior of Preventing HIV/AIDS by Students of Senior High School 13 in Palembang in 2002, i.e. extra curricular activities and teachers role. Multivariat analysis using logostic regression shows that extra curricular is the dominant variable related to the behavior of preventing HIVIAIDS by students of Senior High School 13 in Palembang in 2002.
From the above result, some recommendations are suggested. First, health program provider should make use potential groups at school such as OSIS, counseling, sport and religion teacher in order to promote the prevention of HIV/AIDS and to provide routine and continuous counseling. Second, school curriculum planner should include HIV/AIDS topic as local material reproductive as soon as possible. Third, school should promote the educated of youth. School should give more chance and support OS1S to hold seminar, discussion and competition and popular scientific writing on HIV/AIDS. Extra curricular activities such as drama, role play, youth red cross club and visiting to hospital can improve the behavior of preventing HIV/AIDS."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T 10700
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rochani Istiawan
"Adanya pengawas minum obat seharusnya mampu meningkatkan klien TBC patuh tetapi angka konversi BTA negatip masih dibawah target Nasional (80%). Tujuan dari penelitian ini untuk menguji hubungan antara pengawas minum obat oleh keluarga dan petugas kesehatan dengan pengetahuan, perilaku pencegahan dan kepatuhan klien TBC di Kabupaten Wonosobo. Sedangkan desain yang digunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Total sampel yang memenuhi kriteria inklusi yang digunakan pada studi berjumlah 72 responden. Instrumen dibuat sendiri dan diuji validitas (r hitung > r tabel=0,361) dan reliabilitas dengan a=0,9298 (pertanyaan peran PMO), a = 0,9076 (pertanyaan pengetahuan), a = 0,8076 (pertanyaan perilaku pencegahan), a = 0,6631 (pertanyaan kepatuhan). Untuk menguji hubungan antara PMO oleh keluarga dan petugas kesehatan dengan pengetahuan, perilaku pencegahan dan kepatuhan klien TBC digunakan Product Moment Pearson's Correlation Coefficient. Selanjutnya hubungan tersebut akan dikontrol dengan karakteristik PMO maupun klien TBC.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan peran PMO oleh keluarga dengan pengetahuan klien TBC menunjukkan Hubungan peran PMO oleh keluarga dengan perilaku pencegahan klien TBC menunjukkan hubungan yang kuat (r=0,656) dan berpola positip. Ada hubungan yang signifikan antara PMO oleh keluarga dengan perilaku pencegahan klien TBC (p=0,0001 ). Hubungan peran PMO petugas dengan pengetahuan klien TBC menunjukkan hubungan kuat (r=0,706) dan berpola positip. Hubungan peran PMO petugas dengan perilaku pencegahan klien TBC menunjukkan hubungan kuat (r=0,673) dan berpola positip. Hubungan peran PMO petugas dengan kepatuhan klien TBC menunjukkan hubungan sedang (r=0,553) dan berpola positip. Ada hubungan yang signifikan antara peran PMO petugas dengan pengetahuan, perilaku pencegahan dan kepatuhan klien TBC. Variabel confounding (umur baik dari PMO oleh keluarga dan petugas kesehatan maupun klien TBC yang diawasi) tidak berpengaruh terhadap hubungan peran PMO keluarga dengan pengetahuan, perilaku pencegahan dan kepatuhan klien TBC.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang kuat antara peran PMO keluarga terhadap perilaku pencegahan klien TBC, dan ada hubungan yang kuat antara peran PMO petugas terhadap pengetahuan, perilaku pencegahan dan kepatuhan kIien TBC agar program penatalaksanaan TBC berhasil, harus ada kunjungan rumah dari petugas kesehatan (perawat kornunitas) untuk memantau perilaku pencegahan dan kepatuhan pengobatan klien TBC.

The program of TB drug observer should be increased the TB client in adherence, but the national number of the negative result of Tuberculosis diagnostic still below the national target (80%). The goal of this study was to know the correlation between TB Drug Observer by the Family and Health Worker with the Knowledge, Behavior and Adherence of TB patient. This study was used descriptive correlation design with cross sectional approach. The total sample of this study where that matches with the inclusive criteria was 72 TB patients. The instruments were self prepared by the researcher with validity test (counted r>tabled r 0.361) and the reliability test with a=0,9298 (TB drug observer role), a=0.9076 (knowledge), a=0.8067 (prevention behavior), a=0,6631 (adherence). Product Moment Pearson's Correlation Coefficient was used to analyze the correlation between TB Drug Observer by the Family and Health Worker with the Knowledge, Behavior and the Adherence of TB patient.
The result of this study showed a strong correlation between the family TB Drug Observer to the prevention Behavior (r=0,656) in positive pattern. The significant correlation family TB Drug Observer to the prevention TB behavior (p=0.0001). Another result showed a strong correlation between health workers TB Drug Observer to the knowledge of the patient (r=0.706) in positive pattern. Also the result showed a strong correlation between health workers TB Drug Observer to the prevention TB behavior (r=0.673) in positive pattern. And there was a mild correlation also between health workers TB Drug Observer to the adherence of TB medication (r=0.553) in positive pattern. There was also a significant correlation between health workers TB Drug Observer role to the knowledge, TB prevention behavior and TB medication adherence. Confounding variables were not having correlation to the family TB Drug control Adherence Observer role to the knowledge, TB prevention behavior and TB medication.
The conclusion from this study showed a strong correlation between family TB drug observer and the prevention behavior, and a strong correlation between health worker TB drug observer and the knowledge, prevention behavior and adherence of the patient. This study suggested that the community nurse should keep visit the family to observe and maintain the prevention behavior and adherence to the TB medication program.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2005
T18687
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library