Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Stefanie
"Penelitian ini menjelaskan bagaimana konsep diri yang dimiliki oleh perempuan yang di kesehariannya bergelut di bidang bisnis maskulin dari sudut pandang komunikasi. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode kasus dan paradigma post positivis.
Kasus dalam penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan konsep tentang pembentukkan konsep diri dari Joseph A. DeVito dan komunikasi gender. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi kepada tiga informan (perempuan) yang dipilih melalui rancangan sampling purposif sesuai dengan tujuan dari penelitian ini.
Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa ada berbagai alasan kuat yang dapat membuat seorang perempuan memutuskan untuk terjun menggeluti dunia bisnis maskulin. Selain itu "sisi feminin" yang dimiliki oleh perempuan justru memberikan keuntungan tersendiri bagi mereka untuk dapat sukses bertahan dan menyesuaikan diri dalam menggeluti bidang bisnis maskulin.

This study explains the women?s self concept in the field of masculine business from communication perspective. This study is using a qualitative approach with study case method and post positivist paradigm.
Cases in this study are analyzed descriptively by using the formation of self concept by Joseph A. DeVito and gender in communication. The data is collected through observation, depth interview, and documentations to the three informants (women), selected by purposive samping design as the objectives of this study.
From the research conducted, it is found that there are a variety of reasons that can make a woman decides to enter in the masculine business industry. Moreover, "feminine side" owned by women actually provides a distinct advantage for them to be able to successfully survive and adapt in the field of masculine business."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
T43746
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fransisca Kurnia Widyasari
"Penelitian ini membahas sikap konsumen milenial terhadap heritage luxury brand dan motivasi pembelian konsumen terhadap heritage luxury brand, dengan melakukan studi pada merek Louis Vuitton. Melalui pendekatan kualitatif dan wawancara mendalam dengan informan yang merupakan milenial sekaligus konsumen dari merek Louis Vuitton, peneliti ingin mengeksplorasi bagaimana sikap milenial terhadap heritage luxury brand dan bagaimana motivasi pembelian yang dimiliki milenial dalam mengonsumsi produk Louis Vuitton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, motivasi pembelian milenial terhadap produk heritage luxury brand didasari oleh karakteristik dari produk atau merek, terutama dari segi kualitas, ketahanan, dan value yang dimiliki produk, yang dinilai klasik serta timeless. Selain itu, kelompok sosial juga menjadi salah satu elemen yang mendorong adanya motivasi pada milenial dalam mengonsumsi heritage luxury brand. Secara umum, motivasi pembelian milenial terhadap heritage luxury brand sebagian besar didorong oleh karakteristik produk itu sendiri.

This research discusses millennials’ consumer attitudes and purchase motivation towards heritage luxury brands by conducting a study on Louis Vuitton. Through a qualitative approach and in-depth interviews with informants who are, as well, consumers of Louis Vuitton, this study explores millennials’ behavior towards heritage luxury brands and the motivation behind their purchase of Louis Vuitton products. The result shows that mostly, the purchase motivation is driven by the product value, especially in terms of quality, durability, and the inheritance value, which describes the sustainability and timelessness of the products. In addition, social group is also one of the elements that motivates millennials to consume heritage luxury brand. In general, millennials take hold of motivation towards heritage luxury brand heritage that mostly relies on the characteristics of the product"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kunti Puspitasari
"Pemanfaatan media sosial oleh organisasi publik tidak hanya untuk menyosialisasikan program atau kebijakan. Media sosial juga menjadi bagian dalam proses manajemen isu dari program yang dijalankan oleh organisasi publik. Manajemen isu melalui media sosial digunakan Humas Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memonitor dan merespon isu-isu yang berkembang terkait pelaksanaan Sensus Penduduk Online. Ini merupakan sensus online pertama di Indonesia yang bagian dari pelaksanaan Sensus Penduduk 2020, sehingga terdapat potensi isu yang berkembang selama pelaksanaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan post-positivist deskriptif eksploratif. Metode yang digunakan adalah analisis isi media sosial (Twitter) dan wawancara mendalam dengan pengelola media sosial BPS. Penelitian ini mengidentifikasi empat isu terkait Sensus Penduduk Online yang tercermin dalam topik yang diperbincangkan di Twitter, yaitu tentang partisipasi Sensus Penduduk Online, dukungan terhadap Sensus Penduduk Online, pengisian Sensus Penduduk Online, dan waktu Sensus Penduduk Online. Isu utama yang menjadi perhatian Humas BPS berkaitan dengan pengisian Sensus Penduduk Online yang terkendala karena adanya server down. Isu tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan harapan stakeholder (yang tercermin pada pengguna media sosial) terhadap operasional program, namun Humas BPS mampu mengantisipasi isu tidak meluas melalui manajemen isu, sehingga program diapresiasi positif. Humas BPS melakukan manajemen isu di media sosial melalui serangkaian tahapan, yaitu monitoring informasi, menganalisis informasi, memprioritaskan isu, dan mengimplementasikan respon. Penelitian ini menemukan dalam melakukan monitoring informasi, Humas BPS lebih mengandalkan pihak ketiga karena keterbatasan sumber daya. Dalam menganalisis informasi, tone perbincangan, kepopuleran akun, serta jenis isu menjadi temuan yang ditindaklanjuti. Humas BPS memprioritaskan isu berdasarkan eskalasi isu dan background akun, serta pengambilan keputusan di dalam organisasi secara berjenjang. Dalam implementasi respon, Humas BPS merespon melalui variasi konten di Twitter serta berkoordinasi dengan unit terkait untuk perbaikan internal.

The use of social media by public organizations is not only to promote programs or policies. Social media is also a part of the issue management process of programs run by public organizations. Issue management through social media is used by Public Relations of Statistics Indonesia (BPS) to monitor and respond to developing issues related to the implementation of the Online Population Census. This is the first online census in Indonesia, which is part of the 2020 Population Census, so there are potential issues that develop during its implementation. This study uses an exploratory descriptive postpositivist approach. The method used is social media (Twitter) content analysis and indepth interviews with social media team of BPS. This study identifies four issues related to the Online Population Census which are reflected in the topics discussed on Twitter, namely the participation of the Online Population Census, support for the Online Population Census, the procedures of filling the Online Population Census, and the timing of the Online Population Census. The main issue that has become a concern for BPS Public Relations relates to procedures of filling the Online Population Census, which is constrained by server downtime. The issue shows that there is a gap in stakeholder expectations (which is reflected in social media users) regarding program operations, but BPS Public Relations is able to anticipate issues that are not widespread through issue management, so that the program is positively appreciated. Public Relations of BPS conducts issue management in social media through a stages, namely monitoring information, analyzing information, prioritizing issues, and implementing responses. This study found that at the monitoring information stage, BPS Public Relations relies on third parties due to limited resources. In analyzing the information, the tone of the conversation, the popularity of the account, and the types of issues became the findings that were followed up. Public Relations of BPS prioritizes issues based on escalation of issues and account background, as well as decision making within the organization in stages. In implementing the issue response, BPS Public Relations responds through variations of content on Twitter and coordinates with related units for internal improvements. "
Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fransisca Kurnia Widyasari
"Penelitian ini membahas sikap konsumen milenial terhadap heritage luxury brand dan motivasi pembelian konsumen terhadap heritage luxury brand, dengan melakukan studi pada merek Louis Vuitton. Melalui pendekatan kualitatif dan wawancara mendalam dengan informan yang merupakan milenial sekaligus konsumen dari merek Louis Vuitton, peneliti ingin mengeksplorasi bagaimana sikap milenial terhadap heritage luxury brand dan bagaimana motivasi pembelian yang dimiliki milenial dalam mengonsumsi produk Louis Vuitton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, motivasi pembelian milenial terhadap produk heritage luxury brand didasari oleh karakteristik dari produk atau merek, terutama dari segi kualitas, ketahanan, dan value yang dimiliki produk, yang dinilai klasik serta timeless. Selain itu, kelompok sosial juga menjadi salah satu elemen yang mendorong adanya motivasi pada milenial dalam mengonsumsi heritage luxury brand. Secara umum, motivasi pembelian milenial terhadap heritage luxury brand sebagian besar didorong oleh karakteristik produk itu sendiri.

This research discusses millennials’ consumer attitudes and purchase motivation towards heritage luxury brands by conducting a study on Louis Vuitton. Through a qualitative approach and in-depth interviews with informants who are, as well, consumers of Louis Vuitton, this study explores millennials’ behavior towards heritage luxury brands and the motivation behind their purchase of Louis Vuitton products. The result shows that mostly, the purchase motivation is driven by the product value, especially in terms of quality, durability, and the inheritance value, which describes the sustainability and timelessness of the products. In addition, social group is also one of the elements that motivates millennials to consume heritage luxury brand. In general, millennials take hold of motivation towards heritage luxury brand heritage that mostly relies on the characteristics of the product.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library